Kebutaan dan Visi Iman

Minggu Keempat Prapaskah. 26 Maret 2017 [Yohanes 9: 1-41]

“karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (Yoh 9:3)”

jesus-heals-blind-manKebutaan adalah cacat yang paling mengerikan. Kita akan kehilangan penglihatan, hidup dalam kegelapan total untuk seluruh kehidupan kita. Ketidakmampuan untuk melihat keindahan dunia dan orang-orang yang kita cintai. Dalam Perjanjian Lama, kebutaan memberikan seseorang kelemahan besar. Kita tahu cerita Ishak yang ditipu oleh Yakub, anaknya sendiri sehingga ia bisa mendapatkan berkat, dan ini semua dimulai ketika Ishak kehilangan penglihatannya. Menjadi buta juga menghambat mereka untuk memenuhi kewajiban agama. Hukum Musa mengatur bahwa orang buta tidak bisa mempersembahkan korban kepada Tuhan, bahkan hewan kurban pun tidak boleh buta (lihat Im 21-22). Orang-orang berdosa juga dikaitkan dengan kebutaan (lihat Ul 28:29). Itulah sebabnya murid-murid Yesus bertanya apakah kebutaan seseorang disebabkan oleh dosanya sendiri atau orang tuanya.

Penyembuhan orang buta dalam Perjanjian Lama jarang terjadi, namun para nabi menubuatkan bahwa jaman Mesianik akan ditandai dengan penyembuhan orang buta dan lumpuh. Dengan demikian, dalam Injil, kita membaca banyak cerita dari orang buta disembuhkan Yesus, dan ini memberitahukan kita bahwa Yesus adalah Mesias yang telah lama diharapkan dan kerajaan-Nya telah dimulai. Dalam Injil Yohanes, kisah penyembuhan orang buta jarang terjadi, namun Yohanes mengabdikan seluruh bab 9 untuk satu orang buta yang tak bernama. Orang itu disembuhkan oleh Yesus pada hari Sabat. Sayangnya, penyembuhan dalam Sabbath dilarang oleh Hukum Taurat, dan orang-orang Farisi pun mencerca sang pria denga serangkaian pertanyaan, terutama mempertanyakan otoritas Yesus. Pria itu yakin bahwa meskipun melanggar Sabat, Yesus adalah orang kudus karena tidak ada orang yang berdosa dapat menyembuhkan. Cerita berakhir dengan dia diusir dari rumah ibadat. Sebuah ironi terjadi dalam cerita ini, dimana orang buta bisa melihat dan percaya kepada Yesus, tetapi beberapa orang Farisi terus hidup dalam kegelapan dan tidak percaya kepada Yesus.

Kisah orang buta ini mengingatkan saya akan Louis Braille. Louis kehilangan penglihatannya pada usia yang sangat muda karena sebuah kecelakaan dan benda tajam menusuk matanya. Namun, ia bertekad untuk terus belajar dengan indranya yang tersisa. Ayahnya membuatnya tongkat, saudaranya mengajarinya echolocation, pastor di desanya mengajarinya untuk mengenali pohon dengan sentuhan dan burung dengan suara mereka, dan ibunya mengajarkan dia untuk bermain domino dengan menghitung titik-titik dengan ujung jarinya. Dia ingin membaca dan belajar lebih banyak, tapi itu praktis tidak mungkin. Setelah beberapa waktu, ia menerima kabar bahwa Charles Barbier, seorang komandan militer menemukan kode komunikasi militer menggunakan pola titik-titik untuk mewakili suara. Louis mengadopsi sistem ini untuk dirinya sendiri, namun ia merasa kode itu terlalu lambat. Jadi, bukannya mewakili suara, ia merekayasa sistem titik ini untuk mewakili huruf. Dia menekan titik-titik di atas kertas dengan alat penusuk yang tajam dan kecil, seperti alat yang menyebabkan kebutaannya. Pada usia 15, ia menemukan abjad Braille. Tekadnya ini telah membantu banyak orang dengan kebutaan dan visibilitas rendah, untuk membaca dan melihat dunia.

Tentu saja, mata kita baik-baik saja karena kita mampu membaca refleksi ini! Tapi, pertanyaan sesungguhnya adalah, di Masa Pra-Paskah ini, apakah mata kita membantu kita untuk melihat apa yang paling penting dalam hidup. Apakah kita menghargai karunia penglihatan kita? Apakah visi kita membawa kita kepada iman yang lebih dalam? Apakah kita membantu orang lain untuk melihat Yesus?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Jesus and the Samaritan Woman

Third Sunday of Lent. John 4:5-42 [March 19, 2017]

“Many of the Samaritans of that town began to believe in him because of the word of the woman (Jn 4:39)”

samaritan-woman-at-the-wellMany of us will see Jesus’ conversation with the Samaritan woman as something ordinary, a chat between a man and a woman. But, if we go back to the time of Jesus, we will discover it as unthinkable. This Samaritan woman embodied what the Jews hated most. Firstly, despite their common ancestry, the Samaritans and the Jews were excommunicating each other. Despite worshipping the same God, they condemned one another as religious heretics and they proclaimed their own religion as the true one. No wonder, sometimes, the encounter between the two turned violent and the Romans had to quell the riots.

Secondly, this Samaritan is a woman. The ancient Jewish society, just like many ancient cultures, placed women as second class citizens. They were treated as objects, either owned by the patriarch or the husband. They could be easily divorced by their husbands if they could not bear a child. Despite some outstanding and exceptional women due to their noble birth and wealth, women generally were discriminated from the public and religious sphere. Many could neither study the Torah nor have a voice of their own. No wonder, many Jews praised the Lord because they were born not as a woman!

However, in today’s Gospel, Jesus talked to a Samaritan woman. Not only talking, He asked for water. Not only did he asked for water, He revealed Himself for the first time as the Living Water as well as the Messiah. The conversation transformed her.  While many Jews refused to believe in Jesus, the Samaritan woman believed. Not only did she become a believer, she turned to be a preacher of faith. She spread the Good News to her townsfolk and they came to Jesus because of her. The Gospel of John narrates to us that even a Samaritan and a woman can be chosen by Jesus to be His preacher. The effects of her preaching were unprecedented. The Samaritans began to make peace with other Jews, the disciples who also believe in Jesus.

We are living in a better world. Women can enjoy the same rights that men enjoy almost in all aspects. Indonesia, a country with the largest Muslim population in the world, used to have a woman president. In the Philippines, many major positions are occupied by women, like Chief Justice, Senators, and even military general. Yet, still many women are subject to various forms of exploitation: human trafficking, prostitution, domestic violence, and abuses. Following Jesus means standing up against injustice against women.

The Gospel also points out to us that women are capable of preaching the faith. Surely, women cannot preach in the pulpit, but many of them are responsible for faith growth in many Christ-centered communities. I still remember how my mother taught me the basic prayers and the rosary. She also encouraged me as an altar server to love the Eucharist. In Indonesia, it is a practice in many parishes for priests to receive their daily meals from the people, and many women are doing their best to provide for the priests. Some religious sisters and lay women have contributed to my philosophical and theological formation, and they were great professors. Over and above these, many women have generously supported the Church and her Evangelization mission, through their resources, time, effort and prayer. From the depth of our hearts, we thank them.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Perempuan Samaria

Minggu Prapaskah Ketiga. Yohanes 4: 5-42 [19 Maret 2017]

 “Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu (Yoh 4:39)”

 Banyak dari kita akan melihat percakapan antara Yesus dengan perempuan Samaria sebagai sesuatu yang biasa, percakapan antara seorang pria dan seorang wanita. Tapi, jika kita kembali ke zaman Yesus, kita akan menemukan hal ini sebagai hal yang tak terbayangkan. Perempuan Samaria ini menjadi symbol dari apa yang orang-orang Yahudi paling benci. Pertama, walaupun berasal dari nenek moyang yang sama, orang-orang Samaria dan Yahudi saling mengucilkan satu sama lain. Meskipun menyembah Tuhan yang sama, mereka mengutuk satu sama lain sebagai bidah dan mereka mengklaim bahwa agama mereka sendirilah sebagai yang benar. Tidak heran, kadang-kadang, pertemuan antara keduanya berubah menjadi kekerasan dan tentara Romawi harus turun tangan untuk menghentikan kerusuhan ini.

Kedua, orang Samaria ini adalah seorang wanita. Masyarakat Yahudi tempo dulu, seperti banyak kebudayaan kuno, menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Mereka diperlakukan sebagai objek, baik yang dimiliki oleh bapak keluarga atau suami. Mereka bisa dengan mudah diceraikan oleh suami mereka jika mereka tidak bisa memiliki anak. Meskipun ada beberapa pengecualian, wanita umumnya didiskriminasi dari ruang publik dan agama. Banyak perempuan tidak mempelajari Taurat atau memiliki suara mereka sendiri untuk menentukan masa depan mereka. Tak heran, banyak orang Yahudi tempo dulu memuji Tuhan karena mereka dilahirkan bukan sebagai seorang wanita!

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus berbicara dengan seorang perempuan Samaria. Tidak hanya berbicara, Dia meminta air. Tidak hanya dia meminta air, Ia menyatakan diri-Nya untuk pertama kalinya sebagai Air Kehidupan serta Mesias. Percakapan ini mengubah sang perempuan. Sementara banyak orang Yahudi menolak untuk percaya kepada Yesus, wanita Samaria percaya. Tidak hanya percaya, ia berubah menjadi seorang pewarta iman. Dia menyebarkan Kabar Baik kepada warga di desanya dan mereka datang kepada Yesus karena dia. Injil Yohanes menceritakan kepada kita bahwa bahkan seorang Samaria dan seorang wanita dapat dipilih oleh Yesus untuk menjadi pewarta iman-Nya. Buah dari pewartaanya pun luar biasa. Orang Samaria mulai berdamai dengan orang-orang Yahudi, secara khusus para murid yang juga percaya pada Yesus.

Kita hidup di dunia yang lebih baik. Perempuan dapat menikmati hak yang sama seperti laki-laki hampir dalam semua aspek kehidupan. Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, pernah memiliki seorang presiden perempuan. Di Filipina, banyak posisi utama diduduki oleh perempuan, seperti Ketua MA, Senator, dan bahkan jenderal militer. Namun, masih banyak wanita yang tunduk pada berbagai bentuk eksploitasi: perdagangan manusia, prostitusi, kekerasan dalam rumah tangga, dan kejahatan seksual. Mengikut Yesus berarti kita berdiri melawan ketidakadilan terhadap perempuan.

Injil juga menunjukkan kepada kita bahwa perempuan mampu memberitakan iman. Tentunya, perempuan tidak bisa berkhotbah di mimbar, tapi banyak dari mereka yang bertanggung jawab dalam pertumbuhan iman di banyak komunitas. Saya masih ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya doa-doa dasar dan rosario. Dia juga mendorong saya aktif di Gereja dan mencintai Ekaristi. Di Indonesia, di banyak paroki, para imam menerima ‘rantangan’ dari umat, dan banyak wanita yang terlibat dalam menyediakan makanan bagi para imam ini. Beberapa suster dan awam perempuan telah memberikan kontribusi bagi formasi filosofis dan teologis saya, dan mereka ada para guru yang handal. Akhirnya, banyak perempuan telah bermurah hati untuk mendukung Gereja dan misi Evangelisasi, melalui sumber daya mereka, waktu, tenaga dan doa. Dari kedalaman hati kita, kita berterima kasih kepada para perempuan ini.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The God of Transfiguration

Second Sunday of Lent (Year A). March 12, 2017 [Matthew 17:1-9]

“They were coming down from the mountain… (Mat 17:9)”

transfiguration-jesusmafa-438In the Bible, the mountain is the place where God meets His people. On Mount Horeb, Moses saw the burning bush and received his calling to lead Israel out of Egypt’s slavery (see Exo 3). On Mount Sinai, after the liberation of the Hebrews, Moses met the Lord and received the Law in the Mount Sinai (see Exo 19). Again on Mount Horeb, Elijah discovered the gentle presence of God (1 Kings 19:11-15).

Psalmists also considered the mountain as the Lord’s dwelling place (like Psa 3:5; 24:3). In fact, one of the titles of the Lord is El Shaddai, and one of its probable meaning is: the Lord, the strong mountain (Gen 17:1).

In today’s Gospel, Jesus led the three disciples up to the high mountain. There, he was transfigured. His face was shining like a sun and his cloth turned to be white as light. Then two great figures of Old Testament, Moses and Elijah appeared and conversed with Jesus. Finally, the bright cloud covered them and a voice was heard, “This is my beloved Son, with whom I am well pleased; listen to him.” The disciples were so terrified and overwhelmed. Turning back to the ordinary form, Jesus touched them and assured them, “Rise and do not be afraid.” Then they went down from the mountain and continued their journey to Jerusalem.

The Old Testament motif takes place once again in the New Testament, but looking closely, there are several striking differences. Firstly, people climb the Mountain to see God, but when the disciples were there, they saw Jesus transfigured instead. The episode becomes an early sign of Jesus’ divinity in the New Testament. Secondly, Moses and Elijah were representing the best of Old Testament: the Law and the Prophet. Yet, Moses and Elijah were also the very characters that encountered God on the mountain. They reappeared in the transfiguration because they wanted to tell us that Jesus was the God they had encountered in the mountains. Thirdly, Jesus did not stay forever on the mountain, but He went down and continued His life among His disciples and other Israelites. This is a life-changing revelation: our God does not stay and sit nicely on the high mountain, but He goes down and is staying with us, in our ordinariness of life.

Sometimes we are expecting to encounter the glorious God only on the high mountain. For some feel God in the charismatic worship meetings. Others encounter God in the great retreats and long recollections. Nothing’s wrong with these noble devotions and religious practices. Yet, the danger is that we begin to dichotomize the religious life that is limited to the church or rituals and our daily lives outside the church. We must not forget the point of transfiguration that our God is also dwelling among us. Jesus is with us in our family and our efforts in raising our children. The Lord is present in our workplaces as we toil for our daily bread. He embraces us in the moment of trials and pains. He is never far, and we are never alone. And He is our God.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Allah Transfigurasi

Minggu Prapaskah kedua (Tahun A). 12 Maret 2017 [Matius 17: 1-9]

tumblr_inline_njjg9wzNYO1qkqzlvDalam Alkitab, gunung adalah tempat di mana Allah bertemu umat-Nya. Musa melihat semak duri yang menyala dan menerima panggilannya untuk memimpin Israel keluar dari perbudakan Mesir di Gunung Horeb (lihat Kel 3). Setelah pembebasan, Musa bertemu dengan Tuhan dan menerima Hukum Taurat di Gunung Sinai (lihat Kel 19). Elia menemukan kehadiran Allah yang lembut di Gunung Horeb (1 Raja 19:11-15). Pemazmur juga melihat gunung sebagai tempat Tuhan bersemayam (seperti Mzm 3:5; 24:3). Bahkan, salah satu gelar Tuhan adalah El Shaddai, yang  mungkin berarti Tuhan adalah gunung yang kuat (Kej 17:1).

Dalam Injil hari ini, Yesus dan ketiga murid naik ke gunung yang tinggi. Di sana, ia berubah rupa. Wajahnya bersinar seperti matahari dan kain nya berubah menjadi putih seperti cahaya. Kemudian dua tokoh besar dari Perjanjian Lama, Musa dan Elia muncul dan berbicara dengan Yesus. Akhirnya, awan terang menaungi mereka dan suara berkata, Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Para murid sangat ketakutan. Beralih kembali ke bentuk biasa, Yesus menyentuh mereka dan meyakinkan mereka, Berdirilah, jangan takut.” Kemudian mereka turun dari gunung dan melanjutkan perjalanan ke Yerusalem.

Motif Perjanjian Lama berlangsung sekali lagi dalam Perjanjian Baru, tetapi jika kita mencermati lebih dekat, ada beberapa perbedaan mencolok di sini. Pertama, manusia mendaki gunung untuk melihat Allah, tapi ketika para rasul berada di sana, mereka melihat Yesus berubah. Episode menjadi salah satu tanda dari keilahian Yesus dalam Perjanjian Baru. Kedua, Musa dan Elia yang mewakili yang terbaik dari Perjanjian Lama: Hukum dan Nabi. Namun, Musa dan Elia adalah juga tokoh Perjanjian Lama yang ditemui Allah di gunung. Mereka muncul kembali di transfigurasi karena mereka ingin memberitahu kita bahwa Yesus adalah Tuhan yang mereka temui di gunung tinggi. Ketiga, Yesus tidak tinggal selamanya di gunung, tetapi Dia turun dan meneruskan hidup-Nya di antara para murid-Nya dan bangsa Israel. Ini adalah wahyu yang sejatinya menggegerkan: Allah kita tidak tinggal dan duduk manis di atas gunung yang tinggi, tetapi Dia turun dan tinggal bersama kita, di hiruk-pikuk hidup kita.

Kadang-kadang kita mengharapkan untuk menemukan Allah yang mulia hanya pada gunung yang tinggi. Beberapa dari kita merasakan Allah hanya dalam pertemuan ibadah karismatik, dengan musik yang kuat dan doa-doa yang sangat ekspresif. Lainnya berjumpa dengan Allah dalam retret agung dan rekoleksi yang panjang. Tidak ada yang salah dengan praktik-praktik keagamaan ini. Namun, bahayanya adalah bahwa kita mulai memisahkan kehidupan beragama yang terbatas di dalam gereja, dan kehidupan sehari-hari di luar gereja. Kita tidak boleh lupa makna dari transfigurasi adalah bahwa Allah kita juga tinggal di antara kita. Yesus bersama kita dalam keluarga kita dan upaya kita dalam membesarkan anak-anak kita. Tuhan hadir di tempat kerja kita saat kita bekerja keras untuk mencari sesuap nasi. Dia memeluk kita di saat kita mengalami penderitaan. Dia tidak pernah jauh, dan kita tidak pernah sendirian. Dan Dia adalah Allah kita, Allah transfigurasi.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Why Temptation?

First Sunday of Lent (Year A). March 5, 2017 [Matthew 4:1-11]

“Then Jesus was led by the Spirit into the desert to be tempted by the devil. (Mat 4:1)”

jesus-temptation-2The reality of temptation has taken place even since the dawn of time. In the book of Genesis, we read that our first parents were tempted by the serpent and unfortunately, they were tricked, fell and sinned. Then one after another a biblical character was put into temptation and fell. Cain committed the first murder and fratricide. David was involved in adultery. Solomon worshipped and built temples for other pagan gods. Fortunately, not all fell during the time of trials. Job was pounded by all kinds of woes, but he never sinned and in fact, praised the Lord in the most miserable situation. And we have Jesus who triumphed over Satan and his temptations in the desert. Yet, why are we tempted? Why are we susceptible to this reality that lures us to sin?

The book of Genesis narrates to us that we were created on the sixth day (see Gen 1:24ff). We were the summit of creation as we were made in the image of God. Yet, the Bible says that we were not alone on the sixth day. God also fashioned the animals in this day. We were situated between the animals and the image of God. This is a symbolic narrative that we have both the animal side and the spiritual side. Yet, I am not saying that animals are bad. The animal-lovers will rally against me! This means we share what are common to animals: our physical body, emotions, and instinct. A Greek Philosopher, Aristotle correctly defined human being as ‘rational animal’. The purpose of creation is that we nurture all our humanity, both physical and spiritual, so that we may enter into the rest with God on the seventh day.

Unfortunately, that is not the end of the story. The evil forces also will not let us enter God’s rest effortlessly. They will continue to feed the ‘animal’ in us to the point that our spiritual aspect is neglected and overcome. The temptation is an attempt by the Satan and his cohorts to drag us way below the situation of an animal.

In the Gospel, we learn that Satan tempted Jesus to use His divine power to produce bread; to wield his might to amaze the crowd and draw praise to Himself; to submit to Satan so that He receives all glory and honor. Satan was tempting Jesus to yield to His physical, emotional and psychological needs by manipulating His spiritual power. As Satan did to Jesus, he will do to us. We all need food, security, and recognition, and the devil and his army will make sure that we will sacrifice our spiritual identity for these basic needs.

How to counter temptation? Jesus gives us the answer: the Word of God. We need to continue to feed our spiritual life with His Word. I am elated that more and more people, even the laity, study the Sacred Scriptures. Yet, we should be cautious as well since Satan also uses the Bible to deceive us and achieve his end. Thus, Lenten season calls us to intensify our efforts to study the Word of God together and within the Church. In Jesus, the Word of God, we shake off the devil and all his works.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kenapa Pencobaan?

Minggu Prapaskah pertama (Tahun A). 5 Maret 2017 [Matius 4: 1-11]

“Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis (Mat 4:1)”

jesus-temptationPencobaan telah terjadi bahkan sejak awal sejarah umat manusia. Dalam kitab Kejadian, Adam dan Hawa tergoda oleh sang ular dan sayangnya, merekapun tertipu dan berdosa. Kemudian satu demi satu tokoh di Alkitab mengalami pencobaan dan akhirnya jatuh ke dalam dosa. Kain melakukan pembunuhan pertama dalam sejarah manusia saat dia menghabisi saudaranya sendiri. Daud terlibat dalam perzinahan. Salomo menyembah dan membangun kuil untuk berbagai berhala. Syukurlah, tidak semua jatuh pada pencobaan ini. Diterpa oleh segala jenis malapetaka, tapi Ayub tidak pernah berdosa dan memuji Tuhan bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan. Dan kita memiliki Yesus yang menang atas Iblis dan godaannya di padang gurun. Namun, mengapa kita terus masuk ke dalam pencobaan? Mengapa kita rentan terhadap godaan sang Jahat yang memikat kita untuk berbuat dosa?

Kitab Kejadian menceritakan bahwa kita diciptakan pada hari keenam (lihat Kej 1: 24-31). Kita adalah puncak dari segala ciptaan terutama karena kita diciptakan menurut citra Allah. Namun, Alkitab mengatakan bahwa kita tidak sendirian di hari keenam. Tuhan juga memciptakan berbagai binatang di hari ini. Kita terletak antara binatang dan citra Allah. Ini adalah narasi simbolik bahwa kita sebagai manusia memiliki sisi hewan dan sisi spiritual. Namun, saya tidak mengatakan bahwa hewan adalah buruk. Ini berarti kita sebagai manusia memiliki beberapa kesamaan dengan hewan seperti: tubuh jasmani kita, emosi dan insting. Tidak salah jika Filsuf Yunani Aristoteles mendefinisikan manusia sebagai ‘hewan rasional.’ Kedua sisi ini, jasmani dan rohani, perlu dikembangkan bersama-sama sehingga kita mencapai tujuan dari penciptaan adalah bahwa kita, dengan semua kemanusiaan kita, bisa masukkan ke dalam peristirahatan dengan Allah di hari ketujuh.

Namun, kekuatan jahat juga tidak akan membiarkan kita untuk masuk ke dalam peristirahatan Allah dengan mudah. Mereka akan terus memberi makan ‘hewan’ di dalam kita sampai pada titik bahwa aspek spiritual kita terabaikan. Godaan merupakan upaya oleh Setan dan para malaikatnya untuk menyeret kita ke dalam situasi yang lebih rendah dari binatang.

Dalam Injil, kita mengerti bahwa Setan mencobai Yesus untuk menyalahgunakan kuasa ilahi-Nya untuk menghasilkan roti; untuk menggunakan kekuasaan-Nya untuk memukau orang banyak dan menarik pujian bagi diri-Nya; untuk menyembah Setan sehingga Ia menerima semua kemuliaan dan hormat di dunia. Setan menggoda Yesus untuk mememunuhi kebutuhan fisik, emosional dan psikologis-Nya dengan memanipulasi kekuatan rohani-Nya. Dengan strategi yang sama, dia akan mencobai kita. Kita semua membutuhkan makanan, keamanan dan pengakuan, dan ia dan pasukannya akan memastikan bahwa kita akan mengorbankan identitas rohani kita untuk memenuhi kebutuhan dasar ini.

Bagaimana untuk menghadapi godaan? Yesus memberi jawabannya: Firman Allah. Kita perlu terus memberi nutrisi bagi kehidupan rohani kita dengan firman-Nya. Saya gembira bahwa semakin banyak orang, bahkan kaum awam, mempelajari Kitab Suci. Namun, kita perlu berhati-hati juga karena Setan juga menggunakan Alkitab untuk menipu kita dan mencapai tujuannya. Dengan demikian, masa Pra-paskah memanggil kita untuk mengintensifkan upaya kita untuk memdalami Firman Tuhan bersama-sama dan di dalam Gereja. Hanya dalam Yesus, Sang Firman Allah yang hidup, kita mengusir setan dan semua karya-karyanya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Christian Life, Authentic Life?

Palm Sunday of the Lord’s Passion. March 20, 2016 [Luke 19:28-40/Luke 23:1-49]

 “Blessed is the king who comes in the name of the Lord (Luk 19:38).”

palm sundayPalm Sunday or Jesus’ entrance to Jerusalem marks the beginning of the most important drama of the Gospel, the drama of the Holy Week. The memory was so significant to the early Christians that the episode was recorded in all four Gospels (Mat 21:1-11, Mark 11:1-11, and John 12:12-19), though with some different emphases. Why was Jesus’ entrance to the ancient city Jerusalem so significant?

His entrance was unusual and less triumphant because he preferred to ride a meek donkey rather than a combat-ready horse. Yet, his unique entrance was not unexpected by the Jewish people looking forward for the Messiah. By riding on the donkey, he was fulfilling the prophecy of Zechariah, “Rejoice heartily, O daughter Zion, shout for joy, O daughter Jerusalem! See, your king shall come to you; a just savior is he, Meek, and riding on an ass, on a colt, the foal of an ass.” (Zec 9:9). The people who gathered in Jerusalem for annual Jewish festival, could not hide their excitement to this Jesus who had been rumored as the expected Christ. Indeed, the people welcome Him as a king as they shouted, “Blessed is the King who comes in the name of the Lord! (Luk 19:38)” Through his action, Jesus no longer hid His true identity, but revealed publicly that He is the Messiah.

Unfortunately, the moment Jesus revealed who He was, both the Jewish authority and the Roman rulers were ready to pin him down. They did not care whether Jesus came as the peaceful and humble leader or war-freak king. Jesus was the potential troublemaker and the sooner they get rid of him, the better. True enough, lest than a week, Jesus was betrayed, deserted by his followers and condemned to death. The people who acclaimed Him king, now cried to the top of their voice, “Crucify him!” The entrance to Jerusalem is significant because Jesus made a firm decision to live and die to the fullest. Jesus knew this horrifying possibility would take place, but He did not run and look for safety. He freely embraced his identity and mission, and because of this, his death was not in vain. He has made a difference that mattered most.

We are called Christian because we indeed the follower of Jesus Christ, but our name is worthless if we fail to follow Him up to Jerusalem. For some of us, being Christian or Catholic is just a matter of social convenience or family tradition. Our family, our society is Christian then we should be Christians. Often we just remember that we are Christians during special events in our life. In the Philippines, there are KBL Catholics, those who attend the Mass only for ‘Kasal’ or marriage, ‘Biyag’ or baptism and ‘Libing’ or funeral mass. In Indonesia, we are familiar with ‘Na-Pas’ (literally means ‘breath’) Christians, those who only go to the Church during ‘Natal’ or Christmas and ‘Paskah’ or Easter.

But, we must not forget that for some being Christians means hardship, sufferings and death. Christians in war-zones like Syria and Iraq, or when the Christians were minority, live in constant danger and discriminations are so real. Just few weeks ago, four sisters of Missionaries of Charity were brutally executed by the terrorists in Yemen. While they were fully aware of the extent of the danger, they refused to live behind the people they served, the elderly and the disabled. They are the disciples of Christ who lived their authentic Christianity to the end. Both in death and life, their faith has made the world a better.

Philosopher Abraham Kaplan noted that if Socrates said ‘unexamined life is not worth living’, so ‘the unlived life is worth examining. As we are entering the most solemn week in our liturgy, we ask ourselves: have we live our lives to the fullest? Is our Christian faith making any difference? Are we willing to make the change that matters most in our lives?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menuju Hidup yang Otentik

Minggu Palma. 20 Maret 2016 [Lukas 19:28-40/Lukas 23:1-49]

 “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan (Luk 19:38).”

palm sunday 2Minggu Palma atau disaat Yesus memasuki kota Yerusalem menandai awal dari drama yang paling penting di Kitab Suci. Ini adalah drama Pekan Suci. Memori ini begitu signifikan bagi Gereja Perdana, sampai-sampai episode ini tercatat di keempat Injil (Matius 21:1-11, Markus 11:1-11, dan Yohanes 12:12-19). Pertanyaannya adalah: Mengapa Minggu Palma begitu penting bagi kita?

Yesus memasuki kota tua Yerusalem dengan cara yang tidak biasa dan tidak begitu meyakinkan karena ia lebih memilih menaiki keledai yang lembut daripada kuda kuat yang siap tempur. Namun, cara yang unik ini sebenarnya tidak dianggap aneh oleh orang-orang Yahudi yang menantikan Mesias. Dengan mengendarai keledai, Yesus memenuhi nubuat nabi Zakharia, Hai penduduk Sion, bergembiralah! Hai penduduk Yerusalem, bersoraklah! Lihatlah! Rajamu datang dengan kemenangan! Ia raja adil yang membawa keselamatan. Tetapi penuh kerendahan hati ia tiba mengendarai keledai, seekor keledai muda (Zak 9:9). Orang-orang yang berkumpul di Yerusalem untuk festival Yahudi tahunan, tidak bisa menyembunyikan kegembiraan mereka kepada Yesus yang telah dikabarkan sebagai Mesias yang diharapkan. Memang, orang-orang menyambut Dia sebagai raja dan merekapun berseru, Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi! (Luk 19:38)Melalui peristiwa ini, Yesus tidak lagi menyembunyikan identitas-Nya, tetapi mengungkapkannya secara terbuka bahwa Dia adalah Mesias bagi bangsa Israel.

Sayangnya, saat Yesus mengungkapkan identitasnya, baik otoritas Yahudi dan penguasa Romawi siap untuk menjatuhkan-Nya. Mereka tidak peduli apakah Yesus datang sebagai pemimpin damai dan rendah hati atau raja yang siap berperang. Yesus adalah sebuah potensi keonaran dan semakin cepat mereka menyingkirkan dia, semakin baik. Benar saja, kurang dari seminggu, Yesus dikhianati, ditinggalkan oleh para pengikutnya dan dihukum mati. Orang-orang yang menyambut-Nya sebagai raja, sekarang berteriak, “Salibkan Dia!” Minggu Palma adalah peristiwa penting karena Yesus membuat keputusan tegas untuk hidup dan mati secara total. Yesus sadar akan kemungkinan mengerikan ini, tetapi Dia tidak lari dan mencari keselamatan pribadi. Dia dengan bebas memeluk identitas dan misi-Nya, dan karena ini, kematian-Nya tidak sia-sia. Pilihan-Nya telah membuat perbedaan yang paling penting di dalam sejarah umat manusia.

Kita dipanggil sebagai Kristiani karena kita memang pengikut Yesus Kristus, tetapi nama kita tidak ada gunanya jika kita gagal untuk mengikuti-Nya ke Yerusalem. Bagi sebagian dari kita, menjadi Kristen atau Katolik hanyalah masalah kenyamanan sosial atau tradisi keluarga. Keluarga kita dan masyarakat kita adalah Kristiani maka kita harus menjadi Kristiani. Seringkali kita hanya ingat bahwa kita adalah Kristen atau Katolik saat acara penting dalam hidup kita. Di Filipina, ada namanya Katolik KBL, orang-orang yang hanya menghadiri Misa ketika ‘Kasal’ atau pernikahan, ‘Biyag’ atau baptisan dan ‘Libing’ atau misa arwah. Di Indonesia, kita mengeenal dengan Katolik ‘Na-Pas’, orang-orang yang hanya pergi ke Gereja saat ‘Natal’ dan ‘Paskah’.

Tapi, kita tidak boleh lupa bahwa untuk sebagian orang, menjadi Kristaini berarti kesulitan, penderitaan dan bahkan kematian. Umat Kristiani di dalam zona perang seperti Suriah dan Irak, atau ketika orang-orang Kristiani adalah minoritas, akan terus hidup dalam bahaya dan diskriminasi yang begitu nyata. Hanya beberapa minggu yang lalu, empat suster dari Missionaries of Charity secara brutal dieksekusi oleh teroris di Yemen. Sementara mereka sepenuhnya menyadari situasi yang membahayakan di Yemen, mereka menolak untuk meninggalkan orang-orang yang mereka layani, para lansia dan kaum difabel. Mereka adalah murid-murid Kristus yang meghidupi panggilan mereka secara otentik sampai akhir. Baik dalam kematian dan kehidupan, iman mereka telah membuat dunia menjadi lebih baik.

Filsuf Abraham Kaplan berpendapat, “Jika Socrates berkata unexamined life is not worth living maka the unlived life is worth examining.” Saat kita memasuki minggu paling kudus dalam liturgi Gereja, kita diajak berefleksi dan menjawab pertanyaan penting bagi hidup kita: Apakah kita telah menjalani hidup secara penuh? Apakah hidup kita sebagai orang Apakah kita bersedia untuk membuat perbedaan yang paling penting dalam hidup kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus and the Woman

Fifth Sunday of Lent. March 13, 2016 [John 8:1-11]

 “The woman replied, ‘No one, sir.’”

jesus and woman caught in adultery 3In time of Jesus, women were not standing at the same level with men. Crudely speaking, women were considered to be the property of men. Except for several outstanding female figures in the Bible like Deborah, the judge, and Judith, the warrior, the ancient Jewish women had to live under the patriarchal domination. The Bible is not loud at the stories of abused and battered women, but we can safely assume that the exploitations took place here and there.

Our today’s Gospel is rarely seen as the story of woman being exploited by the some group of Jewish and religious male, but this was what really happening. The Book of Leviticus has regulated that both the male and female adulterers shall be put to death (Lev 20:10), but the Pharisees only forcefully brought the woman. Their goal was crystal-clear: to trap Jesus, and the rest were means to it, including if they had to use and stone the woman. Here lies the fundamental reason why women always turn to be victims of abuses and violence: the objectification and depersonalization of women. The adulterous woman lost her personhood and became a tool of the Pharisees in achieving their objective. I guess the same underlying motive influence men of different generations. Heartless men change women into their sex objects, cheap labors, or step stone to success.

Jesus got to stop this. Not only He need to save the woman victim, but he had to challenge the corrupt mentality of male abusive domination. He then wrote on the ground. Now, this has been subject of debate and discussion for centuries, and nobody really knew what Jesus wrote. My wild imagination would tell me that he wrote, “Guys, where is the adulterous man?” Jesus read their evil intention not only to Him about to the lady. They were planning for the death for both Jesus and the woman, and the Law says that the murderers and those who pre-meditated on murder shall be put to the death (Lev 21:14). Surely, killing is graver evil than adultery. When Jesus said, Let the one among you who is without sin be the first to throw a stone at her,” Jesus exposed their malicious motivation to kill Him and the woman. The scribes and the Pharisees also deserved death and they should throw the stone to themselves. Losing the battle, they left Jesus and the woman.

Yet, the story does not end there. Jesus had one more mission. After being objectified and depersonalized by her sin and the violent men, Jesus restored her dignity by giving back her voice. Jesus did not unveil her name, but Jesus allowed her to speak for her own. She answered Jesus, “No one, sir.” Indeed, no men shall make her a mere object and no one shall degrade her anymore. She is the beautiful daughter of God and she will remain to be so.

We are living two millennia after Jesus, yet a lot of women still fall victim to this objectification and depersonalization effort of the Evil one. As Jesus fought for the woman, we shall to fight for the women around us. If Jesus was able to expose the subtle form of woman’s exploitation, we shall too expose the various forms of abuses around us. If Jesus restored the dignity of the woman, we shall too respect the dignity of woman around us.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP