Hidup Bakti

Hari Minggu ke-28 dalam Masa Biasa [B]

13 Oktober 2024

Markus 10:17-30

Gereja memahami kisah Yesus dan orang kaya ini sebagai salah satu dasar alkitabiah dari panggilan hidup bakti (consecrated life). Namun, apakah hidup bakti itu? Bagaimana kisah ini menjadi inspirasi bagi kita?

Hidup bakti adalah sebuah cara hidup yang radikal untuk mengikuti Yesus. Pada masa kini, kita dengan cepat mengenali pria dan wanita ini sebagai orang-orang yang mengenakan jubah khas, hidup selibat (tidak menikah), dan tinggal di dalam komunitas seperti pertapaan atau biara. Bentuk hidup ini disebut sebagai hidup bakti karena para pria dan wanita ‘membaktikan’ hidupnya untuk mencintai Tuhan secara lebih radikal. Namun, mengapa mereka harus menjalani kehidupan seperti ini? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat lebih dekat kisah Yesus dan orang kaya.

Ada seorang pria yang menyadari bahwa ada sesuatu yang mendasar yang kurang dalam hidupnya. Ketika Yesus datang, hatinya tahu bahwa Yesus tahu jawabannya. Ia bergegas mendatangi Yesus dan bertanya kepada-Nya bagaimana caranya untuk mendapatkan hidup yang kekal. Yesus menunjukkan perintah-perintah Allah, terutama yang berkaitan dengan mengasihi sesama (jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, dan hormatilah orang tuamu). Dengan segera, orang itu mengatakan kepada Yesus bahwa ia telah setia pada hukum-hukum ini. Yesus memandangnya dengan penuh perhatian dan mengasihinya karena keberaniannya untuk datang kepada-Nya. Yesus tahu bahwa orang ini tidak pernah melanggar perintah-perintah Allah, tetapi dia juga tidak memenuhi perintah pertama dan yang paling penting, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu (Ul 6:5).”

Namun, Yesus tidak hanya mengatakan kebenaran ini secara langsung, tetapi merumuskannya kembali menjadi sesuatu yang lebih konkret dan radikal: “Kasihilah Aku (Yesus) dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”  Panggilan ini bersifat radikal karena mengharuskan orang tersebut untuk meninggalkan segala sesuatu yang dimilikinya dan berjalan bersama Yesus dalam perjalanan menuju salib. Ini radikal karena undangan Yesus bertentangan dengan pemahaman umum pada masa itu bahwa menjadi kaya adalah tanda berkat Tuhan (lihat Ul. 28:1-14; Ams. 10:22). Ini adalah hal yang radikal karena seluruh waktu, tenaga, perhatian, bahkan hidup kita adalah untuk Yesus.

Pria ini tidak pernah merugikan orang lain, mencuri apalagi membunuh, mungkin juga pergi ke sinagoge setiap hari Sabat untuk beribadat, dan sesekali pergi ke Yerusalem untuk mempersembahkan kurban di Bait Allah. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ia terpanggil untuk mengasihi Allah secara total. Sayangnya, ketika Yesus menawarkan kesempatan itu kepadanya, ia menghindar karena ia memiliki banyak harta. Apakah orang ini akan dihukum? Tentu tidak! Dia tidak akan dihukum dan akan tetap menjadi pewaris hidup yang kekal. Tetapi ia juga tidak dapat memenuhi kerinduan terdalamnya untuk mengasihi Allah secara radikal.

Pada masa kini, mengikuti Yesus secara radikal ini termanifestasi dalam diri pria dan wanita yang secara total memberikan diri mereka kepada Yesus dan Gereja. Para pria dan wanita ini tidak menikah, sehingga mereka dapat mendedikasikan waktu mereka untuk berdoa dan melayani. Mereka bekerja atau menerima donasi bukan untuk menjadi kaya, melainkan untuk mendukung kehidupan dan pelayanan mereka. Akhirnya, mereka dengan bebas menyerahkan kebebasan mereka untuk mengasihi Allah dan umat-Nya lebih penuh. Namun, Gereja memahami bahwa panggilan ini bukan untuk semua orang.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Apakah kita mengasihi Allah secara total dan radikal? Apakah kita mengasihi Allah terlebih dahulu, atau kita mengasihi diri kita sendiri terlebih dahulu? Apakah yang menghalangi kita untuk mengasihi Allah? Uang, kekayaan, profesi, ketenaran, hobi, atau hal-hal lain? Apakah kita dipanggil ke dalam hidup bakti? Apakah kita siap untuk menjawab ya atas panggilan Yesus?

Mengapa Musa mengizinkan perceraian?

Hari Minggu ke-27 dalam Masa Biasa [B]
6 Oktober 2024
Markus 10:2-16

Orang-orang Farisi sekali lagi menguji Yesus. Kali ini, mereka mengajukan pertanyaan tentang perceraian. Namun, Yesus melakukan sesuatu yang tidak terduga. Dia ‘mengubah’ hukum perceraian. Mengapa Yesus “menghapus” hukum perceraian?

Yesus menjawab para Farisi dengan menanyakan dasar dari hukum perceraian ini. Orang-orang Farisi menunjuk Musa sebagai sumber hukum karena dia mengizinkan perceraian selama sang suami memberikan surat cerai kepada istri (lihat Ul. 24:1). Kemudian, Yesus membalas, “Karena kekerasan hatimu, maka Ia menuliskan perintah ini kepadamu. Tetapi sejak awal penciptaan, ‘Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan’.” (Mar 10:5-6) Yesus menegaskan bahwa perceraian bukanlah kehendak Allah, tetapi Musa terpaksa mengizinkannya karena “kekerasan hati” bangsa Israel. Namun, apakah kekerasan hati ini?

Kita perlu tahu bahwa bangsa Israel pada zaman Musa sangat terbiasa dengan praktik-praktik hidup Mesir kuno, termasuk perceraian. Di Mesir kuno, pernikahan pada dasarnya adalah acara pribadi, bukan agama. Pasangan itu sendiri yang mengatur pernikahan. Mereka akan menceraikan pasangan mereka jika mereka tidak lagi melihat pernikahan mereka menguntungkan. Tapi perceraian bukanlah satu-satunya solusi. Jika seorang pria merasa istri pertamanya tidak lagi menarik, ia dapat menikahi istri yang lain tanpa harus menceraikan istri pertamanya.

Ketika Tuhan membebaskan bangsa Israel dari Mesir, Tuhan memperkenalkan kembali kehendak-Nya bahwa pernikahan itu kudus dan merupakan bagian dari rencana Tuhan bagi pria dan wanita. Pernikahan tidak hanya didorong oleh faktor biologis atau budaya, tetapi juga didirikan oleh Allah sendiri. Oleh karena itu, Allah menetapkan bahwa pernikahan haruslah monogami dan tidak dapat diceraikan. Namun, memperkenalkan rencana awal Allah kepada bangsa Israel kuno terbukti sulit. Memang, bangsa Israel secara fisik telah dibebaskan dari Mesir, tetapi mentalitas mereka tetap diperbudak. Orang Israel mungkin dapat menerima pernikahan monogami, tetapi menambahkan persyaratan lain, yaitu ‘tidak boleh bercerai’ terlalu berlebihan dan terlalu cepat bagi mereka. Musa tahu bahwa jika dipaksakan, bangsa Israel akan melakukan lebih banyak pemberontakan, dan bahkan para pria akan membunuh istri mereka untuk menyingkirkan mereka. Oleh karena itu, Musa mentolerir perceraian selama hak-hak para wanita terlindungi melalui surat cerai.

Sekarang, ratusan tahun setelah Musa, Tuhan menganggap bahwa waktunya telah tiba untuk membawa kehendak asli Tuhan ke dalam pernikahan. Oleh karena itu, Yesus datang bukan untuk ‘mengubah’ hukum perceraian, melainkan untuk memperkenalkan kembali kehendak Allah yang asli. Selain itu, Yesus juga membawa Roh Kudus untuk menciptakan kembali hati manusia, dari hati batu menjadi hati yang lembut. Sekarang, pilihan ada di tangan kita. Akankah kita mengikuti kehendak Tuhan dalam hidup dan pernikahan kita dengan mengandalkan kasih karunia-Nya, atau sebaliknya, akankah kita menjadi keras kepala dan mengikuti rancangan kita sendiri?

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi
Apakah kita berhati keras dan menolak kehendak Allah dalam hidup kita? Bagaimana kita memahami pernikahan? Apakah pernikahan merupakan kebutuhan biologis, konvensi sosial, atau sesuatu yang dilembagakan secara ilahi? Bagaimana perasaan kita tentang pernikahan? Apakah itu sebuah beban, kewajiban, atau berkat? Apa yang ingin kita capai dalam pernikahan? Apakah kesenangan, kesejahteraan, kenyamanan, atau kekudusan? Apa yang kita lakukan ketika kita menghadapi kesulitan dalam pernikahan? Apakah kita melihat pernikahan tanpa perceraian sebagai sebuah kutukan atau jalan menuju surga?

Dosa dan Kasih Allah

Minggu ke-26 dalam Masa Biasa

29 September 2024

Markus 9:38-48

Beberapa orang tidak suka berbicara tentang dosa. Beberapa orang berpikir bahwa dosa tidak lagi relevan di dunia modern. Konsep ini merupakan pembatasan terhadap kebebasan dan kreativitas manusia. Sebagian orang lainnya melihatnya sebagai karangan Gereja untuk mengendalikan umatnya, terutama melalui rasa takut. Mereka yang berdosa akan dihukum di neraka! Yang lain menganggap bahwa berbicara tentang dosa tidak sesuai dengan Allah, yang adalah kasih. Bagi beberapa imam dan pengkhotbah, topik ini bahkan menjadi tabu untuk diwartakan. Namun, ini semua adalah kesalahpahaman. Pemahaman yang benar tentang dosa akan membawa kita pada penghargaan lebih penuh akan kasih Allah. Lalu bagaimana kita harus memahami konsep dosa?

Pertama, pemahaman dasar tentang dosa adalah pelanggaran terhadap hukum Allah, dan Allah membuat hukum-Nya bukan untuk membatasi kebebasan kita, tetapi justru sebaliknya. Hukum-hukum itu dibuat untuk melindungi kita dari bahaya, ancaman, dan bencana. Ini adalah tanda kasih Allah. Setiap pelanggaran terhadap hukum Allah membawa konsekuensi yang menghancurkan. Itu menghancurkan diri kita sendiri, orang lain, dan dunia. Aborsi membunuh bayi-bayi tak berdosa, menghancurkan panggilan kudus menjadi seorang ibu, dan memperlakukan tubuh perempuan yang suci sebagai alat belaka. Pornografi dan masturbasi tampaknya tidak terlalu menjadi masalah karena merupakan sesuatu yang ‘pribadi’. Tapi masturbasi menyebabkan masalah kesehatan mental karena kita semakin membutuhkan lebih banyak hormon dopamin (hormon kesenangan) untuk memuaskan kita. Kita tidak lagi bisa puas dengan hal-hal yang biasanya memuaskan kita, dan kita menjadi ketagihan. Sekali lagi, hal ini menyebabkan kita melihat tubuh kita dan orang lain hanya sebagai alat untuk memberikan kesenangan. Dengan mengikuti hukum-hukum Tuhan, kita tidak hanya menghindari bahaya dalam hidup kita tetapi juga berjalan di jalan kebahagiaan sejati.

Kedua, dosa adalah kontradiksi dari kasih Allah. Allah itu kasih, dan Dia mengasihi kita melebihi apa yang dapat kita bayangkan. Sebagai sang Kekasih Ilahi, Dia menghendaki hal-hal yang terbaik terjadi pada kita, dan Dia menghendaki kita untuk bersatu dengan-Nya sebagai satu-satunya yang dapat memuaskan hasrat kita yang tak terbatas. Namun, cinta sejati tidak memaksa dan memberikan kebebasan untuk memilih dan mengasihi Dia. Robot dapat mematuhi semua perintah kita, tetapi tidak ada kasih karena robot tidak memiliki kebebasan. Seekor anjing Labrador dapat mematuhi kita dan memberikan pelukan penuh emosi, tetapi ini bukanlah cinta sejati, melainkan insting seekor anjing untuk melekat pada pemiliknya untuk bertahan hidup. Kita memiliki kebebasan sejati. Sayangnya, kita menyalahgunakan kebebasan kita untuk memilih sesuatu yang lebih rendah dari Allah dan, dengan demikian, melanggar hukum-Nya. Oleh karena itu, dosa adalah pilihan radikal untuk berpaling dari Tuhan. Neraka bukanlah hukuman Allah, melainkan keputusan kita untuk terpisah dari Allah, kebahagiaan sejati kita.

Oleh karena itu, ketika membaca Injil, kita segera menyadari bahwa jika ada satu hal yang paling dibenci oleh Yesus, itu adalah dosa. Dia tahu betul apa itu dosa dan apa akibatnya bagi kita manusia. Adam dan Hawa berdosa, dan mereka membawa seluruh umat manusia ke dalam spiral kegilaan dan keputusasaan. Yesus datang ke dunia ini untuk menawarkan pengampunan dosa dan menunjukkan kasih Allah di kayu salib sehingga kita dapat tergerak untuk bertobat. Yesus mengasihi dan dekat dengan orang-orang berdosa karena Dia menghendaki mereka untuk menerima pengampunan Allah.

Oleh karena itu, mewartakan tentang dosa dan pertobatan serta berdoa bagi orang-orang berdosa adalah turut ambil bagian dalam misi Yesus dan kasih Allah. Namun, jika kita menghindar dari memberitakan pertobatan dan bahkan mempromosikan konsep yang salah tentang dosa, kita mungkin pantas untuk dilempar ke laut dengan batu kilangan.”

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk refleksi:

Bagaimana kita memahami konsep dosa? Apakah kita berbicara tentang dosa dan pertobatan, atau apakah kita berusaha menghindarinya? Apakah kita terus mengevaluasi dan mengoreksi diri kita sendiri? Apakah kita sering mengunjungi sakramen pengakuan dosa? Apakah kita mengundang orang lain untuk merefleksikan kasih dan pertobatan Allah?

Keagungan yang Sejati

Minggu ke-25 dalam Masa Biasa [B]

22 September 2024

Markus 9:30-37

Pertanyaan tentang menjadi besar atau agung adalah pertanyaan yang paling sering muncul di benak para murid dan juga di benak kita. Apakah yang dimaksud dengan menjadi besar? Apakah kebesaran yang sesungguhnya? Apa yang membuat kita menjadi hebat? Apakah Yesus mengajarkan kita untuk mengejar keagungan, atau apakah Dia menghindarinya?

Para murid berdebat di antara mereka sendiri, “Siapakah yang terbesar? Dan pertanyaan ini tidak muncul begitu saja, melainkan karena Yesus menyatakan jati diri-Nya. Dalam bab sebelumnya, Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia adalah Kristus atau Mesias yang dinanti-nantikan oleh bangsa Israel. Namun, Yesus menjelaskan lebih lanjut bahwa Mesias ini harus mengalami penolakan, penderitaan, dan kematian. Sayangnya, para murid tidak memahami kebenaran ini dan tetap bertahan dalam keyakinan lama mereka. Mereka mengira Yesus adalah Mesias seperti Raja Daud, yang akan memimpin Israel menuju kemenangan melawan musuh-musuh mereka. Mesias tidak hanya harus membebaskan Israel dari penindasan Romawi, tetapi juga membawa kemakmuran ekonomi, kebebasan beragama, dan pembaharuan. Berpikir bahwa seorang Mesias akan menderita dan kalah adalah hal yang tidak dapat dipahami dan tidak dapat diterima.

Namun, Yesus mengambil kesempatan ini untuk mengajarkan tentang arti keagungan yang sebenarnya. Yesus tidak menentang gagasan kebesaran atau memiliki otoritas atau kekuasaan. Sebaliknya, Yesus menjelaskan bahwa untuk mencapai kebesaran yang sejati, seseorang harus menggunakan kuasa dan otoritasnya untuk melayani dan menjadi yang terakhir. Namun, apa yang dimaksud dengan melayani? Apakah cukup dengan bergabung dan melibatkan diri kita dalam program-program amal atau kerasulan? Apakah melayani sekedar berarti memberikan sumbangan kepada orang miskin atau Gereja?

Setelah Yesus mengajar para murid tentang keagungan yang sejati, Dia melakukan sesuatu yang luar biasa. Dia menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah para murid-Nya dan memberkati anak itu. Dia berkata, “Barangsiapa menyambut seorang anak kecil seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia tidak menyambut Aku, melainkan Dia yang mengutus Aku.” Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa untuk menjadi besar adalah dengan menerima seorang anak kecil di dalam nama Yesus. Lalu, di manakah kita menerima seorang anak kecil di dalam nama Yesus? Jawabannya adalah di dalam keluarga.

Menjadi orang tua, ayah, dan ibu adalah panggilan keagungan sejati. Menerima anak-anak kecil yang lemah dalam sukacita, membesarkan mereka dalam iman, dan akhirnya mempersembahkan mereka kepada Tuhan, semua ini membutuhkan pengorbanan seumur hidup. Hal ini secara praktis mengubah kita menjadi hamba yang rendah hati. Kebesaran ini tidak membuat kita menjadi terkenal, kaya secara materi, berkuasa secara politik, atau cantik secara fisik. Bahkan, kita menjadi sebaliknya! Tetapi hal ini memungkinkan kita untuk menerima Yesus dan Bapa dalam hidup kita. Yesus tampaknya berbicara tentang masa depan di mana anak-anak kecil ditolak dan bahkan dibunuh.

Akhirnya, keagungan sejati tidak ada di bumi ini, melainkan di surga. Tidak heran jika dalam tradisi Katolik, orang-orang kudus terbesar di surga adalah Maria, ibu Yesus, dan Yusuf, ayah angkat Yesus. Baik Maria maupun Yusuf menerima bayi kecil Yesus dalam hidup mereka dan membesarkan-Nya dengan penuh kasih dan sukacita. Mereka menjadi contoh utama kebesaran sejati.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Bagaimana kita memahami keagungan sejati? Apakah kita berusaha untuk menjadi hebat? Apakah kita melayani orang lain? Bagaimana caranya? Apakah kita juga berkorban untuk orang lain? Apa saja yang kita korbankan? Apakah kita menyadari menjadi orang tua sebagai panggilan hebat? Bagi para orang tua, bagaimana kita menerima dan mengasihi anak-anak kita? Pengorbanan apa yang kita lakukan untuk anak-anak kita? Apakah kita sadar bahwa kita harus membawa anak-anak kita kepada Allah? Bagi mereka yang belum menikah, bagaimana kita menerima dan mengasihi anak-anak kecil dalam hidup kita?

Sola Fide dan Surat Yakobus

Hari Minggu ke-24 dalam Masa Biasa [B]

15 September 2024

Yakobus 2:14-18

Ketika Martin Luther memisahkan diri dari Gereja Katolik, ia mulai menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa asli Jerman. Namun, ia tidak hanya menerjemahkan tetapi juga memilah-milah kitab-kitab dalam Alkitab. Dia menempatkan beberapa kitab di bagian lampiran, bukan di tempat biasanya, dan salah satunya adalah Surat Yakobus. Ia menjuluki surat tersebut sebagai ‘surat jerami’.  Untungnya, orang-orang Kristen pada umumnya tidak mengikuti rekomendasi Luther ini, dan tetap melihat surat itu sebagai kanonik atau bagian dari Kitab Suci. Pertanyaannya: mengapa Luther ingin menghapus surat ini dari Alkitab?

Alasan Luther melihat surat St. Yakobus sebagai ‘jerami’ atau tidak berguna adalah karena surat tersebut tidak sesuai dengan teologinya atau pemikirannya. Dalam kata pengantar untuk terjemahan Perjanjian Baru yang dibuatnya pada tahun 1522, ia berkomentar bahwa surat tersebut ‘tidak memiliki sifat Injili sama sekali’. Ia menilai bahwa surat tersebut bertentangan dengan keyakinannya akan keselamatan hanya melalui iman (dalam bahasa Latin, sola fide). Salah satu ayat yang menentang ide sola fide adalah Yakobus 2:24. “Kamu tahu, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.”

Untuk memahami lebih jauh apa yang dimaksud oleh ayat ini, pertama-tama kita harus memahami ‘sola fide’. Martin Luther percaya bahwa manusia dibenarkan di hadapan Allah hanya karena iman. Ketika kita berdosa, bagi Luther, kodrat kita benar-benar hancur, dan kita ditakdirkan untuk masuk neraka. Namun, pengorbanan Yesus di salib menyembunyikan kodrat kita yang rusak ini, dan kita dibenarkan karena Allah tidak melihat kita, tetapi Yesus di salib yang menutupi kebobrokan kita. Yang perlu kita lakukan adalah memiliki iman atau percaya kepada janji keselamatan Allah melalui Yesus Kristus. Luther menyangkal bahwa perbuatan yang kita lakukan, tidak peduli seberapa baik perbuatan itu, akan bermanfaat bagi pembenaran kita.

Sementara itu, Yakobus, saudara Tuhan kita dan juga uskup Yerusalem, menulis suratnya sekitar 1500 tahun sebelum Luther. Memang, ia tidak secara khusus menulis untuk menentang Luther, tetapi secara kebetulan, ia menulis untuk menentang mereka yang memiliki mentalitas seperti Luther. Selain membahas beberapa masalah dalam komunitasnya, seperti diskriminasi terhadap orang miskin, terutama dalam perayaan Ekaristi (2:1-6) dan pelanggaran Sepuluh Perintah Allah (2:6-13), Yakobus juga mengkritik beberapa orang yang mengklaim beriman kepada Yesus Kristus tetapi mengabaikan perbuatan cinta kasih. Iman yang didasarkan pada akal budi dan keyakinan tidaklah cukup untuk keselamatan. Yakobus mengajarkan bahwa iman yang menyelamatkan akan terwujud dalam kasih. Di sini, Yakobus sependapat dengan Santo Paulus yang mengatakan bahwa keselamatan terjadi melalui “iman yang bekerja oleh kasih” (Gal. 5:6).

Akhirnya, Yakobus juga mengajarkan apa yang Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya. Dalam Injil hari ini, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Siapakah Aku?” Simon Petrus dengan tepat menjawab, “Engkau adalah Kristus.” Namun, pengakuan iman Petrus mengandung kebenaran yang lebih mendasar. Yesus mengajarkan bahwa mereka harus memikul salib mereka untuk mengikuti Kristus. Iman kepada Yesus mensyaratkan salib kita, yaitu pengorbanan kasih. Tidaklah cukup membiarkan Yesus memikul salib-Nya sementara kita duduk manis dan menyaksikan pengorbanan-Nya. Kita juga perlu mengambil bagian dalam salib-Nya.

Surat Yakobus adalah pengingat untuk tidak memilih ayat-ayat Alkitab yang sesuai dengan teologi kita, melainkan untuk hidup sesuai dengan ajaran Yesus, yang diturunkan kepada para rasul.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apakah kita beriman kepada Allah? Bagaimana kita memahami iman kita? Apakah kita menghidupi iman kita dalam karya kasih? Apa saja perbuatan kasih yang kita lakukan untuk mengekspresikan iman kita? Apakah kita mampu menjelaskan iman kita kepada orang-orang yang bertanya? Apakah kita membagikan iman kita? Bagaimanakah kita membagikan iman kita? Apakah orang-orang menjadi lebih dekat dengan Allah karena iman kita? Atau Apakah orang-orang menjauh dari Allah karena kita?

Melampaui Rekam Jejak

Minggu ke-19 dalam Masa Biasa [B]

11 Agustus 2024

Yohanes 6:41-51

Salah satu cara untuk menilai seseorang adalah dengan melihat rekam jejaknya. Rekam jejak ini bisa sesuatu yang positif seperti prestasi akademis, keterampilan yang dimiliki, atau pengalaman kerja yang baik, tetapi bisa juga negatif seperti kinerja yang buruk atau terlibat dalam perilaku yang tidak etis. Menilai seseorang dari rekam jejaknya adalah hal yang wajar dan sah-sah saja, namun ketika kita memperlakukan rekam jejak ini sebagai ukuran absolut, kita bisa menghancurkan hidup dan masa depan orang lain. Inilah yang juga yang dialami oleh Yesus.

Alasan mengapa banyak orang Yahudi menolak Yesus bukan hanya karena klaim-Nya bahwa Dia adalah roti hidup yang sulit diterima oleh akal budi, tetapi juga karena Dia adalah anak seorang tukang kayu yang miskin. Tentu saja, banyak yang bergumul dengan kebenaran tentang memakan daging Yesus, namun beberapa orang Yahudi mengenali latar belakang keluarga Yesus dan percaya bahwa mustahil bagi seorang tukang kayu miskin dari desa kecil di Nazaret untuk mengatakan hal-hal tersebut. 

Namun, ini hanyalah separuh dari cerita. Sebelum Yesus membuat klaim yang menakjubkan ini, Yesus membuktikan bahwa diri-Nya dapat dipercaya dengan melakukan mukjizat yang luar biasa, yaitu memberi makan lebih dari lima ribu orang. Namun, beberapa orang dengan mudah melupakan tanda itu karena mereka tidak dapat meninggalkan prasangka mereka dan menjadikan ‘rekam jejak’ Yesus yang terbatas sebagai satu-satunya alat ukur. Oleh karena itu, mereka menghakimi Yesus sebagai pembohong atau orang gila.

Meskipun benar bahwa rekam jejak dapat berbicara banyak, bukan berarti seseorang tidak dapat berubah. Jika seseorang miskin secara ekonomi, bukan berarti dia akan tetap miskin selamanya. Kita memiliki banyak kisah miliarder yang memulai dari nol. Sebut saja JK Rowling, Jan Koum, dan Steve Jobs. Kebenaran ini bahkan lebih nyata lagi dalam kehidupan iman. Orang-orang berdosa dan bahkan musuh-musuh Kristus yang tersentuh oleh rahmat dan kasih Allah berubah menjadi orang-orang kudus. Kita memiliki Santo Paulus yang dulunya menganiaya Gereja perdana, Santo Agustinus yang dulunya hidup dalam dosa, dan Beato Bartolo Longo yang dulunya adalah seorang pendeta setan.

Hal ini memberi kita pelajaran penting bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, dan bagi mereka yang terbuka pada rahmat dan kasih Tuhan. Ketika kita menghadapi orang-orang yang sulit dalam keluarga atau komunitas kita, apakah kita langsung menghakimi mereka sebagai orang yang tidak memiliki harapan, atau apakah kita mengerahkan lebih banyak usaha untuk membantu, mendengarkan atau setidaknya berdoa untuk mereka? Ketika kita melihat seseorang jatuh ke dalam dosa, apakah kita mengutuk mereka atau kita meluangkan lebih banyak waktu untuk mengoreksi mereka, atau setidaknya mendoakan pertobatan mereka? Ketika kita melihat diri kita sendiri tidak layak di hadapan Allah, apakah kita menyerah dalam keputusasaan, atau apakah kita berdoa lebih keras dan memohon belas kasihan Allah?

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita adalah Mukjizat

Minggu ke-17 dalam Masa Biasa

28 Juli 2024

Yohanes 6:1-15

Mukjizat penggandaan roti merupakan mukjizat yang istimewa karena mukjizat ini berbeda dengan mukjizat-mukjizat Yesus yang lain. Namun, apa yang membuatnya benar-benar unik dari mukjizat-mukjizat lainnya? Bagaimana mukjizat ini membentuk iman dan identitas kita?

Hal pertama yang dapat kita amati adalah bahwa mukjizat ini muncul dari inisiatif Yesus. Yesus melihat orang-orang yang mengikuti-Nya, Dia mengenali kebutuhan mereka dan kemudian, Dia datang membawa solusi. Dari perspektif ini, kita dapat menarik poin-poin yang indah tentang Allah kita. Dia bukanlah Tuhan yang jauh, menyendiri dan hanya menunggu orang-orang untuk datang kepada-Nya dan memohon sesuatu kepada-Nya. Allah kita adalah Allah yang penuh kasih yang tidak pernah gagal mengenali kebutuhan dan kondisi kita, dan bahkan menyediakan kebutuhan kita tanpa kita minta. Tuhan mengantisipasi kebutuhan kita dan memenuhinya bahkan tanpa kita sadari. Inilah kasih yang sejati dan ilahi, yang antisipatif, konsisten, dan sering kali terabaikan. Apakah kita bersyukur kepada Tuhan untuk setiap napas yang kita hirup? Apakah kita bersyukur atas air yang kita minum? Namun, Tuhan menyediakan semua itu untuk kita tanpa kita minta.

Namun, hal kedua dari mukjizat ini membuatnya semakin luar biasa dan unik. Sebelum Yesus melakukan mukjizat, Dia memaparkan situasi yang mereka hadapi kepada murid-murid-Nya, dan meminta mereka untuk menyelesaikannya. Filipus segera mereduksi situasi tersebut menjadi masalah ekonomi, dan menjawab Gurunya bahwa tidak mungkin memberi makan orang banyak tanpa mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Untungnya, Andreas menyadari maksud Yesus untuk menguji murid-murid-Nya. Ini bukan masalah uang, tetapi iman kepada Yesus. Dia kemudian membawa seorang anak kecil yang murah hati yang memberikan roti dan ikannya kepada Yesus untuk dibagikan. Kemudian, mukjizat mulai terjadi.

Jika kita mencoba membandingkan dengan mukjizat-mukjizat Yesus yang lain, kita akan menemukan bahwa Yesus menghendaki para murid dan pengikut-Nya untuk berpartisipasi dalam mukjizat tersebut. Dalam mukjizat-mukjizat lain seperti penyembuhan dan pengusiran setan, Yesus melakukannya sendiri. Dia tidak membutuhkan bantuan atau partisipasi dari murid-murid-Nya. Namun, ketika Yesus melakukan salah satu mukjizat terbesar (lima ribu orang kenyang!), Dia ingin para murid-Nya dengan murah hati memberikan apa yang mereka miliki, dan membiarkan Yesus memberkati persembahan mereka, dan dengan demikian menjadi berkat bagi banyak orang.

Inilah keindahan sejati dari mukjizat pelipatgandaan roti. Memang, Tuhan dapat dengan mudah bekerja tanpa kita, seperti yang sering Dia lakukan, tetapi Dia juga memilih untuk bekerja dan melakukan mukjizat-Nya melalui kita. Dan, ketika kita mempersembahkan apa yang kita miliki dan mengizinkan rahmat Allah bekerja di dalam diri kita, Allah menyempurnakan kita dan menjadikan kita sebagai mukjizat bagi banyak orang. Melalui partisipasi ini, martabat kita sebagai anak-anak Allah diangkat, disempurnakan dan semakin dimuliakan.

Sebagai seorang pewarta, saya mempersembahkan kepada Tuhan, waktu, kapasitas intelektual, dan pembelajaran saya akan Kitab Suci, dan sering kali, saya merasa semua itu tidak cukup untuk membuat sebuah khotbah atau homili yang baik. Namun, saya berdoa agar setiap kali saya berkhotbah, Tuhan berkenan melipatgandakan sumber daya yang saya miliki menjadi buah-buah rohani bagi mereka yang mendengarnya. Sebagai orang tua yang baik, kita mempersembahkan waktu, tenaga, dan berbagai sumber daya kepada Tuhan untuk kita membesarkan anak-anak kita. Seringkali, kita merasa semua itu tidak cukup, tetapi Tuhan memberkati kita dan anak-anak kita bertumbuh bagaikan mukjizat, menjadi pribadi-pribadi yang dewasa.

Bagaimana kamu berpartisipasi dalam karya dan mukjizat Tuhan?

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus, Damai Sejahtera Kita

Minggu ke-16 dalam Masa Biasa [B]

21 Juli 2024

Efesus 2:13-18

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Santo Paulus menyebut Yesus sebagai “Damai Sejahtera Kita”. Namun, mengapa Santo Paulus memberikan gelar yang aneh ini kepada Yesus? Apakah arti sebenarnya dari gelar ini? Dan, bagaimana gelar ini mempengaruhi iman kita?

Untuk memahami Paulus, kita juga harus memahami Perjanjian Lama. Bagaimanapun, Paulus pernah menjadi anggota kelompok Farisi, dan dengan demikian, bukan hanya seorang Yahudi yang taat tetapi juga terpelajar. Ketika Santo Paulus menyebut Yesus sebagai ‘damai sejahtera’, ia mengacu pada kurban atau persembahan perdamaian di Bait Allah Yerusalem. Persembahan perdamaian (dalam bahasa Ibrani, Shelomin) adalah salah satu kurban binatang yang diperintahkan oleh Tuhan kepada bangsa Israel melalui Musa (lihat Imamat 3). Ritual kurban yang dimulai dari zaman Musa ini terus berlangsung sampai bangsa Romawi menghancurkan Bait Suci Yerusalem pada tahun 70 Masehi, sekitar dua dekade setelah kemartiran Paulus. Sehingga Paulus sendiri tidak asing dengan kurban yang satu ini, dan bahkan pernah mempersembahkan kurban jenis ini.

Sesuai namanya, tujuan dari kurban ini adalah untuk perdamaian (rekonsiliasi) antara Tuhan, Allah Israel, dengan orang Israel yang telah bersalah kepada Tuhan. Namun, tidak seperti kurban jenis lain yang menekankan pada penghapusan dosa dan pelanggaran, seperti kurban penghapus dosa (Imamat 4) dan kurban penghapus salah (Imamat 5), kurban perdamaian berfokus pada hasil pengampunan Tuhan, yaitu perdamaian. Ketika manusia menyakiti hati Tuhan karena dosa-dosanya, manusia menjadi jauh dari Tuhan, bahkan seperti layaknya orang asing dan bahkan musuh. Ada permusuhan antara Tuhan dan manusia karena dosa, dan karena ada permusuhan, maka tidak ada damai. Namun, ketika orang tersebut diampuni, dan dosa-dosanya dihapuskan, persahabatannya dengan Tuhan dipulihkan, dan ada perdamaian antara Tuhan dan manusia. Kedamaian ini menyebabkan sukacita dan ucapan syukur. Persembahan perdamaian melambangkan sukacita pengampunan, ucapan syukur atas perdamaian yang telah dicapai.

Ketika Santo Paulus menyebut Yesus sebagai ‘damai sejahtera kita’, Santo Paulus mengenali bahwa Yesus mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban perdamaian di kayu salib. Yesus tidak hanya menghapus dosa-dosa kita, tetapi juga memperdamaikan kita dengan Bapa. Yesus adalah damai sejahtera karena Dia telah menghancurkan permusuhan kita dengan Allah, dan membawa kita kembali kepada Allah dalam persahabatan. Hanya di dalam Yesus, kita berdamai dengan Allah.

Namun, kurban perdamaian juga merupakan jenis kurban yang istimewa karena tidak dibakar seluruhnya (tidak seperti kurban bakaran, Imamat 1). Bagian yang berlemak dibakar karena itu untuk Tuhan, beberapa bagian lain dari hewan tersebut untuk dikonsumsi oleh para imam dan bagian lainnya untuk mereka yang mempersembahkan kurban. Dengan demikian, kurban perdamaian menjadi makanan yang dibagikan kepada semua orang. Kurban ini menjadi simbol perdamaian karena hanya orang-orang yang berdamai dengan satu sama lain yang dapat berbagi meja dan makanan yang sama.

Namun, yang lebih luar biasa lagi adalah Gereja Katolik memiliki kurban perdamaian ini. Sesungguhnya, persembahan perdamaian kita adalah Ekaristi. Dalam Ekaristi, Yesus dipersembahkan kepada Allah Bapa, dan kemudian, dikonsumsi tidak hanya oleh imam, tetapi juga oleh umat beriman yang berpartisipasi dalam perayaan tersebut. Yesus Kristus adalah damai sejahtera kita karena dalam Ekaristi, kita berpartisipasi dalam perjamuan yang sama dengan Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kuasa untuk Mengasihi 

Hari Minggu ke-15 dalam Masa Biasa

14 Juli 2024 

Markus 6:7-13

Dalam Injil hari ini, Yesus mempercayakan kuasa kepada para murid-Nya. Kuasa ini terdiri dari beberapa kuasa seperti mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, dan mewartakan pertobatan. Pertanyaan yang perlu direnungkan adalah mengapa Yesus memberikan otoritas seperti ini kepada murid-murid-Nya? Mengapa Yesus tidak memberikan kuasa yang lebih berguna seperti kuasa untuk mengendalikan orang, atau kuasa untuk menghasilkan uang?

Pertama, dari kisah ini, kita melihat bahwa Yesus mengasihi murid-murid-Nya dan sebagai bukti kasih-Nya, Ia berani mempercayakan otoritas-Nya kepada murid-murid yang lemah dan terkadang tidak dapat diandalkan. Yesus tidak menimbun segala sesuatu untuk diri-Nya sendiri, melainkan membagikan diri-Nya kepada murid-murid-Nya agar murid-murid-Nya dapat bertumbuh, bahkan melalui kegagalan dan kelemahan.

Kedua, otoritas yang Yesus berikan bukanlah sesuatu yang bertujuan untuk memanipulasi orang. Memang, Yesus bisa saja memberikan kuasa untuk mengendalikan pikiran orang kepada murid-murid-Nya, dan kuasa ini bisa sangat berguna untuk menarik lebih banyak orang kepada Yesus secara instan. Orang-orang akan melakukan segalanya untuk Yesus atau untuk murid-murid-Nya, tetapi ini bukanlah kuasa yang sesungguhnya karena hal ini hanya akan mengobjektifikasi (menjadikan benda mati) orang-orang dan ini tidak lebih dari sekadar manipulasi. Ya, Yesus dapat menciptakan otoritas untuk mengendalikan ekonomi bagi murid-murid-Nya, dan hal ini dapat menghasilkan kekayaan yang luar biasa bagi Yesus dan kelompok-Nya. Namun, pada akhirnya, pengendalian kekayaan melalui manipulasi hanyalah korupsi dan keserakahan.

Ketiga, jika kita perhatikan dengan saksama, kuasa yang dipercayakan Yesus kepada murid-murid-Nya adalah kuasa untuk melayani dan mengasihi. Menyembuhkan orang sakit tanpa meminta imbalan, mengusir setan yang menyiksa manusia, dan memberitakan pertobatan demi keselamatan jiwa-jiwa adalah kuasa yang membawa kekudusan bagi manusia, untuk membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan. Namun, yang luar biasa adalah bahwa otoritas untuk mengasihi ini melahirkan lebih banyak lagi kasih, kasih yang penuh kesabaran, gigih, antisipatif tetapi tersembunyi. Sebagai contoh, untuk mewartakan pertobatan, para murid harus berjalan bermil-mil jauhnya, menahan rasa lapar dan teriknya matahari, serta mempersiapkan apa yang harus mereka katakan. Mereka juga harus menghadapi rasa takut akan penolakan, dan pada akhirnya berdamai dengan hasil yang tidak memuaskan. Ini adalah langkah-langkah kecil dan tersembunyi untuk mencapai pemberitaan tentang pertobatan, dan langkah-langkah ini juga merupakan tindakan-tindakan kasih.

Kita, murid-murid Kristus, diberi otoritas untuk mengasihi. Sebagai suami, kita memiliki otoritas untuk mengasihi pasangan kita. Sebagai orang tua, kita memiliki otoritas untuk mendidik anak-anak kita. Sebagai imam, kita dipercayakan otoritas untuk melayani umat Allah. Namun, otoritas ini bahkan dibangun di atas tindakan-tindakan kasih yang kecil dan tersembunyi namun gigih. Untuk mengasihi anak mereka yang masih kecil, pasangan suami istri harus rela kurang tidur, menyiapkan dan menyediakan makanan bayi pada waktu yang tepat, membeli dan mengganti popok bayi, dan masih banyak lagi hal-hal kecil lainnya. Dan, ketika anak kita tumbuh besar, dia mungkin tidak akan menyadari apa yang telah dilakukan oleh orangtuanya. Apa yang dia sadari adalah bahwa dia sekarang adalah seorang gadis yang sehat dan percaya diri dengan masa depan yang cerah. 

Kasih tidak selalu megah dan sensasional, tetapi sering kali, kecil, konstan dan tidak dihargai. Namun, kasih seperti inilah yang memberdayakan kita untuk memenuhi misi kehidupan kita. Ini adalah otoritas kita untuk mengasihi.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Duri dalam Daging

Minggu ke-14 dalam Masa Biasa

7 Juli 2024

2 Korintus 12:7-10

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus mengungkapkan kepada kita bahwa ia bergumul dengan ‘duri dalam daging’ yang disebabkan oleh mailakat Setan. Namun, apa yang dimaksud dengan ‘duri dalam daging’ bagi Santo Paulus? Bagaimana Paulus menghadapi situasi ini?

Setidaknya ada tiga kemungkinan jawaban untuk duri dalam daging ini. Kemungkinan pertama adalah bahwa duri tersebut mengacu pada serangan rohani yang berasal dari roh-roh jahat. Entah dalam bentuk serangan fisik atau godaan batin yang terus menerus. Kemungkinan jawaban kedua merujuk pada kondisi kesehatannya, terutama masalah matanya. Suatu kali Santo Paulus mengeluh tentang kondisi kesehatan matanya. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus menulis, “Kamu tahu, bahwa oleh karena penyakit fisiklah aku mula-mula memberitakan Injil kepadamu, dan kamu tidak menunjukkan sikap meremehkan atau menghina karena pencobaan yang ditimbulkan oleh keadaan badanku… Sungguh, aku dapat memberi kesaksian tentang kamu, bahwa sekiranya boleh, kamu telah mencungkil matamu dan memberikannya kepada-Ku.” (Gal. 4:13-15). Kemungkinan ketiga, duri tersebut mungkin menunjuk pada pergumulan dan kesulitan yang dialaminya ketika St. Paulus berurusan dengan komunitas-komunitas Gereja lokal. Dia sering menceritakan bagaimana dia difitnah, ditikam dari belakang, dan dikhianati.

Manakah di antara ketiga kemungkinan tersebut yang paling mungkin terjadi? Paulus mungkin saja menghadapi ketiga kondisi tersebut dalam perjalanan pelayanannya, tetapi menurut saya pribadi, ‘duri’ ini berbicara mengenai pergumulan Paulus dengan komunitas Kristen yang dilayaninya. Pada akhirnya, kita tidak tahu pasti, tetapi yang penting adalah bagaimana Paulus menghadapi duri ini.

Pertama, Paulus mengakui bahwa Tuhan mengizinkan setan untuk menyebabkan duri ini. Ini sejatinya adalah teologi yang baik. Allah yang sempurna tidak secara langsung menyebabkan hal buruk karena hanya kebaikan yang berasal dari-Nya, tetapi Allah dapat mengizinkan hal buruk terjadi selama Dia memiliki alasan yang cukup, yaitu untuk memunculkan kebaikan yang lebih besar dari hal buruk ini. Kedua, Paulus meminta agar duri tersebut disingkirkan. Namun, doanya tidak dikabulkan karena Allah ingin duri itu tetap ada dan Dia akan menggunakannya untuk kemuliaan-Nya.

Paulus mengakui bahwa duri tersebut adalah untuk menjauhkan Paulus dari kesombongan. Paulus menerima banyak karunia rohani dari Tuhan, dan karunia-karunia ini dapat menimbulkan kesombongan rohani karena ia dapat membandingkan dirinya dengan orang-orang Kristen yang kurang dewasa. Dengan demikian, duri tersebut berfungsi sebagai pengingat bahwa ia juga bergumul seperti murid-murid Yesus yang lain.

Lebih jauh lagi, Santo Paulus menyadari bahwa Tuhan mengijinkan Paulus untuk menderita duri karena Dia menyediakan rahmat yang dibutuhkan oleh Paulus. Tuhan berkata kepada Paulus, “Cukuplah rahmat-Ku bagimu.” Rahmat Tuhanlah yang menopang Paulus dalam menghadapi penderitaan yang menyulitkan itu. Paulus menyadari bahwa ia dapat bertahan dan bahkan berkembang melalui penderitaan dan kelemahan karena rahmat Allah. Paulus tidak dapat memegahkan diri, kekuatannya, kepandaiannya, dan kefasihannya karena semua itu akan runtuh di hadapan beban penderitaan. Paulus hanya dapat membanggakan kelemahannya, penderitaannya, kesulitannya, duri yang dialaminya karena justru di dalam kelemahannya itulah, orang-orang dapat melihat bagaimana rahmat Allah bekerja dan menopang Paulus.

Apakah duri dalam hidup kita? Apakah kita marah karena Tuhan tidak mengambil duri-duri kita? Apakah kita hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri? Apakah kita memohon kasih karunia yang cukup untuk bertahan dan bertumbuh melalui penderitaan?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP