Stumbling Stone

22nd Sunday in Ordinary Time [A]

August 30, 2020

Matthew 16:21-27

first communion 1Last Sunday, we listen to the confession of Peter on the true identity of Jesus. Here, Simon received a new name, the keys of the kingdom and the authority to bind and to loosen. He became the prime minister of the kingdom, the first pope. However, today, we witness the dramatic turn around. When Jesus foretold about His incoming passion, Simon reactively put his Master aside, and rebuked Him. As a response, Jesus expressed harshly,
“Get away behind me, Satan! You are a stumbling stone to me!”

Last episode, Simon was Peter, and today, Simon is “Satan.” Last week, Simon was the foundational rock, and today, Simon is the stumbling stone. Previous story, Simon was inspired by the Holy Spirit, and now, he is thinking his self-interest.

To call Simon that he was “Satan” is unexpected, but not uncalled-for. Perhaps Jesus would like to point out that Peter’s action was influenced by the devil himself.  Often, we think that the evil spirits influence us in the case of diabolic possessions, but in reality, diabolic possessions are an extraordinary way of attacking us. There is an ordinary way: it is through temptations and inducing ideas that oppose to the plan of God. The real battle takes place not so much in the possession of our bodies, but of our minds and souls.

Peter is also called as the stumbling stone, and in Greek, it is “scandalon.” Last Sunday, he was given a new identity, Peter, the foundation rock, but now, he turns to be a stumbling stone. Both are stone, but two opposing purposes. The foundation rock is to support the Church and God’s will, but the stumbling stone is to stop or at least, to obstruct and slow down God’s will. Jesus has set his eyes on Jerusalem, to offer His life as sacrifice on the cross and gloriously rise from the death. Yet, Simon, the stumbling stone, tried to oppose and prevent Jesus from fulfilling His Father’s will. Interesting enough, the word “Satanas” in Greek, may mean ‘the adversary.’  Simon becomes the adversary against Jesus’ mission.

Last week, I reflect on the mission of Simon Peter and how we become little Peters as God calls us for particular vocation and service despite our unworthiness. However, Jesus tells us that the real hindrance to our mission is not our weakness and unworthiness, but our selfish interest and agenda. Instead saying, “Your will be done,” we shout, “My will be done.” This is the devil’s game plan, that we put ourselves first, rather than God. Some of us are ordained priests, yet instead serving the people with dedication, we are busy to seek comfort and amass fortune for ourselves. Some of us are parents, yet instead bringing our children to God, we are preoccupied in chasing our own ambitions and careers.

Thus, Jesus makes a bold reminder, “what is the point of gaining the whole world and yet losing our souls?” At the gate of heaven, St. Simon Peter will ask us, “Have you been a stumbling stone to God’s will or have your been a foundation rock to His plan?”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Batu Sandungan

Minggu ke-22 di Waktu Biasa [A]

30 Agustus 2020

Matius 16: 21-27

FILE PHOTO POPE FRANCIS BAPTIZES BABY VATICAN
 (CNS photo/Vatican Media)

Minggu lalu, kita mendengarkan pengakuan Petrus tentang identitas Yesus sebagai Kristus, Putra Allah yang hidup. Simon menerima nama baru dan kunci kerajaan surga. Ia menjadi perdana menteri kerajaan Allah, dan paus pertama. Namun, hari ini, kita menyaksikan perubahan dramatis. Ketika Yesus menubuatkan tentang sengsara-Nya, Simon secara reaktif menarik gurunya ke samping, dan menegur-Nya. Sebagai tanggapan, Yesus menyatakan dengan keras, “Enyahlah Setan. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku…! ”

Minggu lalu, Simon adalah Petrus, dan hari ini, Simon adalah “Setan”. Minggu lalu, Simon adalah batu fondasi, dan hari ini, Simon adalah batu sandungan. Minggu lalu, Simon diilhami oleh Roh Kudus, dan sekarang, dia memikirkan kepentingan dirinya sendiri.

Menyebut Simon  sebagai “Setan” adalah hal yang tidak terduga, tetapi juga sesuatu hal yang menarik di dalami. Mungkin Yesus ingin menunjukkan bahwa tindakan Petrus dipengaruhi oleh setan itu sendiri. Sering kali, kita berpikir bahwa roh jahat mempengaruhi kita dalam bentuk-bentuk kerasukan setan, tetapi kenyataannya, kerasukan setan adalah cara yang luar biasa untuk menyerang kita. Ada cara yang biasa: melalui godaan dan mendorong ide-ide yang bertentangan dengan rencana Tuhan. Pertempuran yang sebenarnya terjadi bukan dalam hal kepemilikan tubuh kita, tetapi dalam pikiran dan jiwa kita.

Petrus juga disebut sebagai batu sandungan, dan dalam bahasa Yunani “skandalon”. Minggu lalu, dia diberi identitas baru, Petrus, batu fondasi, tetapi sekarang, dia berubah menjadi batu sandungan. Keduanya adalah batu, tetapi dua tujuan yang berlawanan. Batu karang fondasi adalah untuk mendukung Gereja dan kehendak Tuhan, tetapi batu sandungan adalah untuk menghentikan atau setidaknya, untuk menghalangi dan memperlambat kehendak Tuhan. Yesus telah mengarahkan pandangannya pada Yerusalem, untuk mempersembahkan hidup-Nya sebagai korban di kayu salib dan dengan mulia, bangkit dari kematian. Namun, Simon, sang batu sandungan, mencoba melawan dan mencegah Yesus memenuhi kehendak Bapa-Nya. Kata “Satanas” dalam bahasa Yunani, dapat berarti ‘musuh’. Simon menjadi musuh yang melawan misi Yesus.

Minggu lalu, kita merenungkan misi Simon Petrus dan bagaimana kita menjadi Petrus-Petrus kecil saat Tuhan memanggil kita untuk sebuah panggilan dan pelayanan tertentu meskipun kita tidak layak. Namun, Yesus menyatakan bahwa hambatan sejati untuk misi kita bukanlah kelemahan dan ketidaklayakan kita, tetapi kepentingan dan agenda egois kita. Alih-alih berkata, “Terjadilah menurut kehendakmu,” kita berteriak, “terjadilah seturut kehendakku.” Ini adalah taktik besar setan, bahwa kita diajak mengutamakan diri kita sendiri, daripada Tuhan. Mungkin ada imam-imam yang tergoda dan sibuk mencari kenyamanan hidup dan mengumpulkan kekayaan untuk diri kita sendiri, daripada melayani umat dengan dedikasi. Mungkin ada orangtua-orangtua, yang alih-alih membawa anak-anak kita kepada Tuhan, malah disibukkan dengan mengejar ambisi dan karier kita pribadi.

Karena itu, Yesus mengingatkan dengan lantang, “apa gunanya mendapatkan seluruh dunia namun kehilangan jiwa kita?” Di gerbang surga, St. Simon Petrus akan bertanya kepada kita, “Apakah selama hidup, kamu menjadi batu sandungan bagi kehendak Tuhan atau telah menjadi batu fondasi bagi rencana-Nya?”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

We Are Peter

21st Sunday in Ordinary Time

August 23, 2020

Matthew 16:13-20

peter n crossToday’s Gospel speaks volume about the new identity and roles of St. Simon Peter as the leader of the college of the apostles, and thus, the leader of the Church. He is the chosen foundation rock upon which Jesus built His Church. He is the prime minister who holds the keys of the kingdom of God. He is the chief priest who is responsible for the Temple of God. He is the chief Rabbi whose teachings binds the entire faithful. These are the bigger-than-life privileges and one may wonder, “Among the disciples, why was he chosen? Did Jesus know that he would deny Him three times?”

Jesus’ choice is a huge mystery, yet in the final analysis, nobody is worthy to be the first pope. If we scan the Bible and try to see many vocation stories of the great leaders of Israel, we are going to see the same pattern: most of them are not worthy and great sinner. Abraham was a coward who hid behind his wife. Moses was involved in killing an Egyptian. David was committing adultery and plotting a murder of Uriah. God seems to have a penchant to choose unworthy sinner!

Yet, that is only half of the story. These great leaders possess their remarkable quality in relation to God’s mercy and love. Despite their weakness, they never lose hope in God’s grace working in them. When they fall, they learn to rise once again and allow God sustains them. This particular quality also that Simon has.

Through his life, Peter was struggling to love Jesus and to become a leader for Christ’s Church. He made few step on water, but doubted and distracted, he began to sink. He made divinely inspired statement on Jesus divinity, but right after, he prevented Jesus to accomplish His mission on the cross. Thus, Jesus called him “Satan!” He promised Jesus that he would lay down his life for Jesus, but less than twenty-four hour, he denied Jesus with curse, and ran away! Yet, despite so grave a sin, he repented, but does not despair. Compare to Judas who lost hope and killed himself in the process, Peter knew too well that there is nothing impossible for God. Indeed, the risen Christ restored his place as the leader and the shepherd of His flocks, after asking Simon’s confession of love thrice. Yet, that was not the end of the story. A tradition says that during the persecution of emperor Niro, Peter was trying to escape Rome. In his way out of the city, Peter encountered Jesus going to the opposite direction. He then asked Jesus, “Quo vadis, Domine? [where are you going, Lord?]” Jesus responded, “I am going to Rome, to be crucified again!” Hearing this, Peter ran back to Rome. True enough, he was arrested and crucified upside down.

The choice of Peter is a mystery, but also good news. We are like Simon Peter, we are chosen to be God’s people, chosen into particular role and mission, but deep in our hearts, we are not worthy and full of weaknesses. Why did God choose me to be His priest? Why did God want me to raise children for the kingdom? Why did God elect me to become His ministers? We are not sure the exact reason, but like Peter, we are also called to trust His providence, and never lose hope in midst of trials and failures, and to love even more.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita adalah Petrus

Minggu ke-21 di Masa Biasa

23 Agustus 2020

Matius 16: 13-20

peter crucifixion 1Injil hari ini berbicara banyak tentang identitas baru dan peran St. Simon Petrus sebagai pemimpin para rasul, dan dengan demikian, pemimpin Gereja. Dia adalah batu fondasi pilihan yang di atasnya Yesus membangun Gereja-Nya. Dia adalah perdana menteri yang memegang kunci kerajaan Tuhan. Dia adalah imam kepala yang bertanggung jawab atas Bait Allah yang baru. Dia adalah Rabi kepala yang ajarannya mengikat seluruh umat beriman. Ini adalah hak istimewa yang luar biasa dan orang mungkin bertanya-tanya, “Di antara para murid, mengapa dia yang dipilih? Apakah Yesus tahu bahwa dia akan menyangkal-Nya tiga kali? “

Pilihan Yesus adalah sebuah misteri besar, namun pada akhirnya, tidak ada yang layak menjadi paus pertama. Jika kita membaca Alkitab dan mencoba melihat banyak cerita panggilan dari para pemimpin besar Israel, kita akan melihat pola yang sama: kebanyakan dari mereka tidak layak dan pendosa besar. Abraham adalah seorang pengecut yang bersembunyi di belakang istrinya. Musa terlibat dalam pembunuhan seorang Mesir. Daud melakukan perzinaan dan merencanakan pembunuhan Uria. Tuhan tampaknya memiliki kecenderungan untuk memilih orang berdosa yang tidak layak!

Namun, itu baru setengah dari cerita. Para pemimpin hebat ini memiliki kualitas luar biasa dalam hubungannya dengan belas kasihan dan cinta Tuhan. Terlepas dari kelemahan mereka, mereka tidak pernah kehilangan harapan akan kasih karunia Tuhan yang bekerja di dalam diri mereka. Ketika mereka jatuh, mereka belajar untuk bangkit sekali lagi dan membiarkan Tuhan menopang mereka. Kualitas khusus ini juga yang dimiliki Simon.

Sepanjang hidupnya, Petrus berjuang untuk mencintai Yesus dan menjadi pemimpin Gereja Kristus. Dia berhasil berjalan beberapa langkah di atas air, tetapi ragu sehingga dia mulai tenggelam. Dia membuat pernyataan yang diilhami Roh kudus tentang keilahian Yesus, tetapi segera setelah itu, dia mencegah Yesus untuk menuntaskan misi-Nya di kayu salib. Tak ayal, Yesus menyebutnya “Setan!” Dia berjanji kepada Yesus bahwa dia akan menyerahkan nyawanya untuk Yesus, tetapi kurang dari dua puluh empat jam, dia menyangkal Yesus tiga kali, dan melarikan diri! Namun, meskipun begitu besar dosa, dia memilih bertobat, tetapi tidak putus asa. Bandingkan dengan Yudas yang kehilangan harapan dan bunuh diri, Petrus tahu betul bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Sungguh, Kristus yang bangkit memulihkan tempatnya sebagai pemimpin dan gembala kawanan domba-Nya, setelah meminta pengakuan kasih Simon tiga kali. Namun, itu bukanlah akhir cerita. Sebuah tradisi mengatakan bahwa selama penganiayaan kaisar Niro, Petrus berusaha melarikan diri dari Roma. Dalam perjalanannya ke luar kota itu, Petrus bertemu Yesus berjalan dengan arah berlawanan. Dia kemudian bertanya kepada Yesus, “Quo vadis, Domine? [Ke mana kamu pergi, Tuhan?]” Yesus menjawab, “Aku akan ke Roma, untuk disalibkan lagi!” Mendengar ini, Petrus lari kembali ke Roma. Benar saja, dia ditangkap dan disalibkan secara terbalik.

Pilihan kepada Petrus adalah sebuah misteri, tapi juga kabar baik. Kita seperti Simon Petrus, kita dipilih menjadi umat Tuhan, dipilih untuk peran dan misi tertentu, tetapi jauh di lubuk hati kita, kita tidak layak dan penuh kelemahan. Mengapa Tuhan memilih saya menjadi imam-Nya? Mengapa Tuhan ingin saya membesarkan anak-anak untuk kerajaan? Mengapa Tuhan memilih saya untuk menjadi pelayan-Nya? Kita tidak yakin alasan pastinya, tetapi seperti Petrus, kita juga dipanggil untuk memercayai rencana-Nya, dan tidak pernah kehilangan harapan di tengah pencobaan dan kegagalan, dan untuk lebih mengasihi.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Focus on Jesus

19th Sunday in Ordinary Time

August 9, 2020

Matthew 14:22-33

just walk on waterThe story of Jesus walking on water is a well-known account being shared by three gospels: Matthew 14:22-33, Mark 6:45–52 and John 6:15–21. However, unique to Matthew is the part of Peter who also walked on water, but sank after a few steps. Let us focus our attention on this unique moment in the life of Simon Peter.

The sudden and unusual appearance of Jesus startled the disciples who were still battling the strong wind. The disciples’ natural reaction was fear. They thought they saw a ghost. Matthew gives us a little interesting detail: the disciples were afraid not because of the raft sea, but because of Jesus’ presence. We remember that many of them were seasoned fishermen and dealing with unpredictable conditions in the lake of Galilee was their part of their job description.  Yet, to see someone walked on water was just unprecedented. Thus, Jesus took the initiative to calm the storms inside their hearts and assured them that He is the “I AM” who controlled the forces of nature.

Peter, the bold leader and yet impulsive man, wanted to prove what he saw and heard. He then challenged Jesus and himself by saying, “Lord, if it is you, command me to come to you on the water.” Jesus invited him to come. The miracle took place. Simon Peter was able to walk on water. Yet, his weak human nature once again set in. After a few miraculous steps, he got distracted by the wind, lost his focus on Jesus, and he began to sink. Jesus had to save him and told him, “O you of little faith, why did you doubt?” We notice that Jesus did not say, “You, who have no faith!” but rather, “little faith.” This shows that Peter possessed indeed faith, proven by his several miraculous steps, but it was still small, easily distracted, and doubt-ridden.

Many of us can easily relate to Simon Peter, our first Pope. We believe in Jesus, and we know that we have faith in Him. Yet, we are aware also that our faith is still small. We may go to the Church every Sunday or pray from time to time, believe that Jesus, our God and Savior, and accept the teachings of the Church, but our faith is just tiny part of our life, that can be set aside when other and bigger concerns like work, career, relationship and others. We give God our leftovers, our time and effort. Even in our prayer and worship, we are easily distracted. Rather than focusing ourselves in Jesus, we give our attention to our cellphones and all the excitement they offer. Then, when we face the storms of life, we begin to sink, and when we are drowning, that is that the time, we shout, like Peter, “Lord, save me!”

We are called to set our gaze on Him and to learn to have true eyes of faith. These are eyes to ponder the Eucharist not as mere bread and wine, not as monotonous repetition, but as the real presence of Jesus who has sacrificed His life for us. This is a faith that empowers us to see Jesus’ presence in our daily and ordinary events. Thus, not even the fiercest storms can sink us because we focus our eyes on Jesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Fokus pada Yesus

Minggu ke-19 di Masa Biasa [A]

9 Agustus 2020

Matius 14: 22-33

jesus walk water 2Kisah Yesus berjalan di atas air adalah kisah terkenal yang ditulis oleh tiga Injil: Matius 14: 22-33, Markus 6: 45–52 dan Yohanes 6: 15–21. Namun, yang unik dari Matius adalah bagian dari Petrus yang juga berjalan di atas air, namun tenggelam setelah beberapa langkah. Mari kita fokuskan perhatian kita pada momen unik dalam kehidupan Simon Petrus ini.

Kehadiran Yesus yang tiba-tiba dan tidak biasa mengejutkan para murid yang masih berjuang melawan angin kencang. Reaksi alami para murid adalah ketakutan. Mereka mengira mereka melihat hantu. Matius memberi kita sedikit detail yang menarik: para murid takut bukan karena badai laut, tetapi karena kehadiran Yesus. Kita ingat bahwa banyak dari mereka adalah nelayan berpengalaman dan berurusan dengan kondisi tak terduga di danau Galilea adalah bagian dari pekerjaan mereka. Namun, melihat seseorang berjalan di atas air belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi, Yesus mengambil inisiatif untuk menenangkan badai di dalam hati mereka dan meyakinkan mereka bahwa dialah Yesus yang mengendalikan kekuatan alam.

Petrus, pemimpin yang berani namun juga impulsif, ingin membuktikan apa yang dilihat dan didengarnya. Dia kemudian menantang Yesus dan dirinya sendiri dengan berkata, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”  Yesus mengundang dia untuk datang. Mujizat terjadi. Simon Petrus bisa berjalan di atas air! Namun, sifat kemanusiaannya yang lemah sekali lagi muncul. Setelah beberapa langkah mujizat, dia terganggu oleh angin, kehilangan fokusnya pada Yesus, dan dia mulai tenggelam. Yesus harus menyelamatkannya dan berkata kepadanya, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Kita memperhatikan bahwa Yesus tidak berkata, “Kamu, yang tidak memiliki iman!” melainkan, “kurang percaya!” Ini menunjukkan bahwa Petrus sebenarnya memiliki iman, dibuktikan dengan beberapa langkah mukjizatnya, tetapi iman itu masih kecil, mudah terganggu, dan sarat keraguan.

Banyak dari kita dapat dengan mudah melihat diri kita seperti Simon Petrus, Paus pertama kita. Kita percaya kepada Yesus namun, kita sadar juga bahwa iman kita masih kecil. Kita mungkin pergi ke Gereja setiap hari Minggu atau berdoa dari waktu ke waktu, percaya bahwa Yesus, Tuhan dan Juru selamat kita, dan menerima ajaran Gereja, tetapi iman kita hannyalah bagian kecil dari hidup kita, yang dapat dikesampingkan ketika hal-hal yang lebih besar seperti pekerjaan, karier, relasi, dan lainnya mulai memenuhi hati kita. Kita memberikan kepada Tuhan sisa-sisa kita, baik waktu maupun usaha kita. Bahkan dalam doa dan ibadah kita, kita mudah terganggu. Daripada memfokuskan diri kita pada Yesus, kita memberikan perhatian kita pada ponsel kita dan semua kegembiraan yang mereka tawarkan. Kemudian, saat kita menghadapi badai kehidupan, kita mulai tenggelam, dan saat itulah, kita berseru, seperti Petrus, “Tuhan, selamatkan aku!”

Kita dipanggil untuk mengarahkan pandangan kita pada-Nya dan untuk belajar memiliki mata iman yang sejati. Ini adalah mata untuk melihat Ekaristi bukan hanya sebagai roti dan anggur, bukan sebagai pengulangan yang monoton, tetapi sebagai kehadiran nyata Yesus yang telah mengorbankan hidup-Nya bagi kita. Ini adalah iman yang memberdayakan kita untuk melihat kehadiran Yesus dalam kegiatan sehari-hari dan biasa kita. Jika ini sungguh menjadi iman kita, badai yang paling dahsyat sekalipun tidak dapat menenggelamkan kita karena kita memusatkan perhatian pada Yesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

His Co-Workers

18th Sunday in Ordinary Time [A]

August 2, 2020

Matthew 14:13-21

multiplication of bread 1The miracle of the multiplication of the bread is one of the few stories that appear in the four Gospels. This may point to the veracity of the miracle itself that impressed and impacted the lives of the apostles. Though the general plot is the same, every Evangelist has presented their own emphasis. Today we are zeroing in the Gospel of Matthew and his particular emphases.

One of these particular emphases is the special role of the disciples. Certainly, without Jesus, there will be no miracle at all, but Jesus makes sure that His disciples also will participate in His miraculous work, and amazingly, the disciples respond well to Jesus’ invitation. Let us look into some details.

Firstly, the initiative is coming from the disciples. They are the ones who notice the condition of the people, exhausted and famished. They propose a practical solution to the situation: send them away to look for food. They may come up with such a plan because of a noble reason. They wanted their tired teacher as well as the people to find some rest after a long and grilling day of teaching and healing. Yet, they forget that Jesus is the rest Himself, as He once said, “come to me you who labor and are burdened, and I will give you rest [Mat 11:28].” For Jesus, the initiative is commendable, but He is not satisfied with the solution. Thus, He says to them, “You give them food yourselves.”

We can imagine the faces of the disciples as they are looking at each other and baffled. Yet, instead outrightly dismissing His demand as something absurd, they do even something extraordinary. They offer Jesus what they have. It is small and far from enough, yet a sincere offering nonetheless. From here, we can already detect that the disciples have somehow grown. They have followed their Master for some time and they have witnessed many miracles of Jesus, listened to countless of His teachings, and seen how Jesus tenderly loved the people. They have grown like Jesus. They have faith that Jesus can do the impossible, and they become more and more compassionate like Jesus.

It is no wonder that after Jesus blesses and breaks the bread, He chooses to give them to the disciples. He trusts now that the disciples will carry on His mission of caring and loving the people. Indeed, they faithfully bring the broken bread to the people. This miracle is the first yet crucial step for Jesus and His disciples because later, Jesus will entrust the same disciples to bring Jesus Himself to His people in the Eucharist.

Jesus surely can perform the miracle by Himself, and as God, He has no need of any man’s help. Yet, because His very nature is love, He wants people He loves to become the loves themselves. Jesus invites the disciples to participate in His miracle of love, and so that they may learn to love deeper. As Jesus shares His life to them, the disciples as the sharers of His mission will eventually love till the end.

That is how Jesus forms us as His disciples. He invites us to actively participate in His life and mission. This is a mission to feed, to care, and to love His people. This is the beauty of our faith and religion. It is not a passive and powerless faith, yet a faith that is truly alive, shared and enriching, a faith that grows into hope and hope perfected into love.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rekan Kerja Yesus

Minggu ke-18 dalam Waktu Biasa [A]

2 Agustus 2020

Matius 14: 13-21

five bread n two fishMukjizat penggandaan roti adalah salah satu dari sedikit kisah yang muncul dalam keempat Injil. Ini mungkin karena kebenaran mukjizat itu sendiri yang mengesankan dan membekas di hati para rasul. Meskipun alur ceritanya sama, setiap Penginjil telah memberikan penekanan mereka sendiri. Hari ini kita memusatkan perhatian pada Injil Matius dan penekanannya yang khas.

Salah satu penekanan ini adalah peran khusus para murid. Tentu saja, tanpa Yesus, tidak akan ada mukjizat sama sekali, tetapi Yesus memastikan bahwa murid-murid-Nya juga akan berpartisipasi dalam pekerjaan ajaib-Nya, tetapi yang luar biasa adalah para murid menanggapi dengan baik ajakan Yesus ini. Mari kita lihat beberapa detail penting dari cerita ini.

Pertama, inisiatif datang dari para murid. Para murid sebenarnya memperhatikan kondisi orang-orang yang mengikuti Yesus, dan mereka kelelahan dan kelaparan. Mereka mengusulkan solusi praktis untuk situasi ini: mengirim mereka pergi untuk mencari makanan. Mereka mungkin datang dengan rencana seperti itu karena alasan yang mulia. Mereka ingin guru mereka yang lelah serta orang-orang mendapatkan istirahat setelah hari mengajar dan penyembuhan yang panjang. Namun, mereka lupa bahwa Yesus sendirilah yang beristirahat, seperti yang pernah dikatakan-Nya, “datang kepadaku, kamu yang lesu dan berbeban berat,  Aku akan memberimu kelegaan [Mat 11:28].” Bagi Yesus, inisiatif itu patut dipuji, tetapi Dia tidak puas dengan solusinya. Karena itu, Dia berkata kepada mereka, “Kamu memberi mereka makan sendiri.”

Kita bisa membayangkan wajah para murid. Mereka saling memandang dan bingung. Namun, bukannya menolak permintaan Yesus sebagai sesuatu yang absurd, mereka malah melakukan sesuatu yang luar biasa. Mereka menawarkan kepada Yesus apa yang mereka miliki. Ini sedikit dan jauh dari cukup, namun tetap merupakan persembahan yang tulus. Dari sini, kita sudah dapat mendeteksi bahwa para murid telah berubah. Mereka telah mengikuti Guru mereka selama beberapa waktu dan mereka telah menyaksikan banyak mukjizat Yesus, mendengarkan banyak ajaran-Nya dan melihat betapa Yesus dengan sabar mengasihi orang-orang. Mereka telah tumbuh seperti Yesus. Mereka memiliki iman bahwa Yesus dapat melakukan hal yang mustahil, dan mereka menjadi lebih berbelas kasih seperti Yesus saat melihat orang yang menderita.

Tidak mengherankan bahwa setelah Yesus memberkati dan memecahkan roti, Dia memilih untuk memberikannya kepada para murid. Dia percaya sekarang bahwa para murid akan menjalankan misi-Nya untuk peduli dan mengasihi orang-orang. Memang, mereka dengan setia membawa roti tersebut kepada orang-orang. Mukjizat ini adalah langkah pertama namun penting bagi Yesus dan murid-murid-Nya, karena tak lama lagi, Yesus akan mempercayakan murid-murid ini untuk membawa Yesus sendiri kepada umat-Nya dalam Ekaristi.

Yesus pasti dapat melakukan mukjizat sendiri, dan sebagai Tuhan, Dia tidak membutuhkan bantuan siapa pun. Namun, karena kodrat-Nya adalah kasih, Dia ingin agar orang-orang yang Dia kasihi menjadi kasih sama seperti Dia. Yesus mengundang para murid untuk berpartisipasi dalam mukjizat kasih-Nya, dan agar mereka dapat belajar untuk mengasihi lebih dalam. Ketika Yesus membagikan hidup-Nya kepada mereka, para murid sebagai rekan kerja misi-Nya, pada akhirnya akan membagikan diri mereka dan mengasihi sampai akhir.

Itulah bagaimana Yesus membentuk kita sebagai murid-Nya. Dia mengundang kita untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan dan misi-Nya. Ini adalah misi untuk memberi makan, untuk peduli dan untuk mengasihi umat-Nya. Inilah keindahan iman dan agama kita. Ini bukan iman yang pasif dan tidak berdaya, namun iman yang benar-benar hidup, dibagikan dan memperkaya, iman yang tumbuh menjadi harapan dan harapan disempurnakan menjadi kasih.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The True Treasure

17th Sunday in Ordinary Time [A]

July 26, 2020

Matthew 13:44-52

parable of hidden treasureThe parables of the hidden treasure and of fine pearl are among the shortest yet loveliest parables of Jesus. Finding a fine pearl or a hidden treasure is surely an exciting discovery.  We can naturally share the joyful experience. Yet, the key to unlock the secrets of the parables is to spot the surprising twists. If we find a treasure, we instinctively grab it and bring it home.  If the treasure is exceedingly huge and many, we can grab some and use them to buy the land. It is a bit reckless to sell everything first and then buy the land. What if the owner of the land suddenly refused to give up the land? The same goes for the purchase of the fine pearl. Sometimes a businessman would make a risky investment to gain more profit. Yet, to throw everything for a pearl is a bit of foolishness. The merchant still needs money to sustain his daily life and business, and what if the investment fails?

Through two parables, Jesus teaches His disciples that His kingdom is immensely precious, and in order to achieve it, we have to give up everything. We cannot cheat or steal it. We have to merit it in the right way. The teaching itself is not something novel in the gospel of Matthew. Back in chapter 10, Jesus tells that those who love their parents more than Jesus, is not worthy of Jesus. It is all or nothing for Jesus. It is the same with His kingdom.

Is it possible to give up everything for Jesus and His Kingdom? The answer depends whether we consider the Kingdom as something truly precious for us. The merchant, for example, may recognize that it is a fine pearl, but if he does not see it as extremely precious, he will not sell everything he has to buy that pearl. To simply know is existentially different from accepting it as precious. One remains in the mind and the other goes down to the heart. We may recognize that Jesus is our Savior and Lord, but do we value Him and make Him as our top priority? We may be aware that the Church is the Kingdom of God, but do we hold her a precious? Do we give up everything for Jesus and His body, the Church?

How do we make something precious? When we love someone or something, we value them. When they are valuable, we treasure them. When they are our treasures, there our hearts are. We see a little child. She loves her toys. These become valuable to her. And as her valuables, she spends her time with them and takes care of them. When we love our work, we value it and we make it our priority. When we love our family, we treasure them, and we exert our time and effort to make them happy.

We may be baptized as a Catholic and our parents teach us that Jesus is our Lord. We may study in Catholic schools and go to the Church from time to time. But, do we love Jesus and His Church? Are Jesus is valuable and precious to us that we are willing to surrender everything for Him? Do we treasure Jesus and place our hearts in Him?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Harta Sejati

Minggu ke-17 dalam Masa Biasa [A]

26 Juli 2020

Matius 13: 44-52

parable of hidden treasure 2Perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang indah adalah salah satu dari perumpamaan Yesus yang paling pendek namun memikat. Menemukan mutiara yang sangat indah atau harta yang tersembunyi tentu saja merupakan penemuan yang luar biasa. Kita secara alami dapat merasakan kebahagiaan dari orang-orang menemukan hal yang berharga ini. Namun, kunci untuk membuka rahasia perumpamaan adalah untuk menemukan hal-hal yang mengejutkan dari cerita tersebut. Jika kita menemukan harta terpendem, kita secara naluriah langsung mengambilnya dan membawanya pulang. Jika harta itu sangat besar dan banyak, kita dapat mengambil sebagian dan menggunakannya untuk membeli tanah. Agak ceroboh rasanya untuk menjual semuanya dulu dan kemudian membeli tanah tersebut. Bagaimana jika pemilik tanah tiba-tiba menolak menyerahkan tanah itu? Hal yang sama berlaku untuk pembelian mutiara yang indah. Terkadang seorang pengusaha melakukan investasi berisiko untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan. Namun, menjual segalanya untuk mutiara tersebut adalah sebuah tindakan yang gegabah. Pedagang itu masih membutuhkan uang untuk mempertahankan kehidupan dan bisnisnya sehari-hari, dan bagaimana jika investasinya gagal?

Melalui dua perumpamaan ini, Yesus mengajar murid-murid-Nya bahwa kerajaan-Nya sangat berharga, dan untuk mencapainya, kita harus menyerahkan segalanya. Kita tidak bisa menipu atau mencurinya. Kita harus menerimanya dengan cara yang benar. Ajaran seperti ini sendiri bukanlah sesuatu yang baru dalam Injil Matius. Kembali pada bab 10, Yesus menyatakan bahwa mereka yang lebih mengasihi orang tua mereka daripada Yesus, tidak layak bagi Yesus. Semua atau tidak sama sekali bagi Yesus! Prinsip yang sama juga berlaku bagi kerajaan-Nya.

Apakah mungkin untuk menyerahkan segalanya untuk Yesus dan Kerajaan-Nya? Jawabannya tergantung apakah kita menganggap Kerajaan sebagai sesuatu yang benar-benar berharga bagi kita. Pedagang itu, misalnya, bisa saja melihat bahwa Mutiara itu adalah mutiara yang indah, tetapi jika ia tidak melihatnya sebagai sangat berharga, ia tidak akan menjual segala yang ia miliki untuk membeli mutiara itu. Sekedar mengetahui itu berbeda dari menerimanya sebagai sesuatu yang berharga. Yang satu tetap ada di pikiran dan yang lain bergerak di dalam hati. Kita mungkin menyadari bahwa Yesus adalah Juruselamat dan Tuhan kita, tetapi apakah kita menghargai Dia dan menjadikan Dia sebagai prioritas utama kita? Kita mungkin sadar bahwa Gereja adalah Kerajaan Allah, tetapi apakah kita menganggapnya berharga? Apakah kita menyerahkan segalanya untuk Yesus dan tubuh-Nya, Gereja?

Bagaimana kita membuat sesuatu yang berharga? Ketika kita mencintai seseorang atau sesuatu, kita menghargainya. Ketika mereka berharga, kita menjadikannya seperti harta kita. Ketika itu adalah harta kita, di sanalah hati kita berada. Kita melihat seorang anak kecil. Dia mencintai mainannya. Ini menjadi berharga baginya. Dan sebagai barang berharga, dia menghabiskan waktunya bersamanya dan merawatnya. Ketika kita mencintai pekerjaan kita, kita menghargainya dan menjadikannya sebagai prioritas kita. Ketika kita mencintai keluarga kita, kita menghargai mereka, dan kita mengerahkan waktu dan upaya kita untuk membuat mereka bahagia.

Kita dapat dibaptis sebagai seorang Katolik dan orang tua kita mengajar kita bahwa Yesus adalah Tuhan kita. Kita mungkin belajar di sekolah-sekolah Katolik dan pergi ke Gereja setiap Minggu. Tetapi, apakah kita mengasihi Yesus dan Gereja-Nya atau hal ini hanya sebatas pengetahuan di kepala? Apakah Yesus berharga dan berharga bagi kita sehingga kita rela menyerahkan segalanya untuk-Nya? Apakah kita menghargai Yesus dan menaruh hati kita di dalam Dia?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP