Pembaptisan Tuhan
10 Januari 2021
Markus 1: 7-11
Baptisan Tuhan adalah salah satu momen yang menentukan dalam hidup Yesus. Injil sinoptik [Matius, Markus dan Lukas] menulis peristiwa ini, meskipun dengan perspektif dan penekanan yang berbeda. Karena kita berada di tahun liturgi B, kita mendengarkan dari Injil Markus. Versi Markus memang terlihat paling pendek, tetapi bukan berarti tidak menyampaikan pesan yang mendalam. Pembaptisan Yesus di sungai Yordan adalah titik balik dalam kehidupan Yesus. Setelah ini Yesus akan berada di padang gurun selama 40 hari dan dicobai oleh iblis. Kemudian, dari sini, Yesus akan memulai pelayanan publik-Nya, dan bergerak menuju Yerusalem, menuju Salib, Kematian dan Kebangkitan.
Seringkali, kita bertanya, “mengapa Yohanes harus membaptis Yesus?” Kita menyadari bahwa baptisan Yohanes adalah tanda lahiriah dari pertobatan batiniah. Jika seseorang menerima pembaptisan Yohanes, itu berarti orang tersebut membutuhkan pertobatan, dan berarti dia orang berdosa. Apakah ini berarti bahwa Yesus adalah orang yang berdosa, karena Dia meminta baptisan Yohanes? Yesus yang adalah Allah, tidak berdosa. Lalu, “mengapa Yesus tetap dibaptis?” Markus tidak memberi jawaban eksplisit, namun Gereja memberi kita alasannya. Di dalam Katekismus Gereja Katolik tertulis, “Baptisan Yesus adalah penerimaan dan pengukuhan misinya sebagai Hamba Allah yang menderita. Dia membiarkan dirinya terhitung di antara orang-orang berdosa … Dia sudah mengantisipasi ‘baptisan’ dari kematiannya yang berdarah … [KGK 536]. ”
Sederhananya, baptisan Yesus berbicara tentang solidaritas dengan kita para pendosa, dan solidaritas ini tidak berhenti pada baptisan Yohanes, tetapi ini akan menemukan pemenuhannya di kayu salib. Sebagai orang berdosa, kita pantas mati, tetapi Tuhanlah yang mati untuk kita. Pengertian Gereja ini sungguh indah, tetapi apakah ini benar-benar ada di benak para penginjil, terutama Markus?
Ketika Yesus dibaptis, Markus menggambarkan langit ‘terbelah’ dan suara terdengar, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi , kepada-Mulah Aku berkenan.” Kata Yunani untuk ‘membelah’ adalah ‘schizo,’ dan kata yang sama digunakan lagi oleh Markus ketika dia menceritakan kejadian di Bait Allah ketika Yesus wafat di kayu salib: tirai raksasa yang memisahkan tempat suci dan tempat tersuci di dalam Bait Suci Yerusalem, terbelah [lih. 15:38]. Sementara itu, Markus juga menceritakan seorang perwira Romawi yang menyatakan bahwa Yesus adalah benar-benar Putra Allah setelah menyaksikan kejadian luar biasa saat kematian Yesus. Dengan pola dasar antara apa yang terjadi di saat pembaptisan dan di kayu salib, Markus ingin mengatakan kepada kita bahwa kedua peristiwa ini memang terkait. Baptisan menunjuk ke Salib, dan Salib adalah penggenapan dari Baptisan Yesus.
Dari sini, kita tahu kenapa Bapa ‘berkenan kepada Putra-Nya.’ Ini karena melalui pembaptisan-Nya, Yesus memberi tanda kepada kita semua bahwa Dia akan melakukan kehendak Bapa-Nya yakni menuju Salib dan Kebangkitan. Meskipun Yesus tidak berdosa, Dia memikul beban dosa kita dan mati untuk kita sebagai bukti kasih Bapa bagi kita.
Jika dalam baptisan-Nya, Yesus menerima salib, kita sebagai umat Kristiani yang telah dibaptis juga dipanggil untuk memikul salib kita. Saat kita berpartisipasi di salib Kristus dan memikulnya dengan setia, kita bisa berharap untuk mengasihi lebih dalam. Saat kita mengasihi lebih dalam, kita bisa berharap untuk keselamatan kita.
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

To be the subject of a king is a foreign experience for many of us. I was born in Indonesia, and our country is a republic, and we espouse democracy to elect our leader. Some of us are citizens of kingdoms like Great Britain, Belgium, Thailand, and Japan, but the kings or queens here are serving under the constitution. When we speak of absolute monarchs, we are reminded of the powerful ancient kingdoms like Assyrian, Babylonian, and Persian empires. Here, the king’s words are the highest law, and disobedient to the king’s wish is acts of treason. Surprisingly, we still have some existing absolute monarchs in our time, like Brunei, Saudi Arabia, and the Vatican!
Menjadi abdi seorang raja adalah pengalaman asing bagi banyak dari kita. Saya lahir di Indonesia, dan negara kita adalah republik dan kita menjunjung demokrasi sebagai cara untuk memilih pemimpin kita. Mungkin kita pernah ke negara kerajaan seperti Inggris, Belgia, Thailand, dan Jepang, tetapi raja atau ratu di sini juga berdasarkan konstitusi atau undang-undang dasar. Ketika kita berbicara tentang monarki absolut, kita diingatkan tentang kerajaan kuno yang kuat seperti kerajaan Asyur, Babel, dan Persia. Di sini perkataan raja adalah hukum tertinggi, dan tidak mematuhi keinginan raja adalah tindakan pengkhianatan. Sebenarnya, kita masih memiliki beberapa monarki absolut yang ada di zaman kita, seperti Kerajaan Brunei, Arab Saudi dan Vatikan!
The original meaning of talent is not God’s given ability, but a unit of weight and value, normally gold and silver. More importantly, talent is a huge amount of money. One talent is equal to around six thousand denarii. If one denarius is the wage of ordinary daily labor, one talent means six thousand days of works or approximately seventeen to twenty years of work.
Sejatinya talenta bukanlah bakat atau kemampuan yang diberikan Tuhan, tetapi sebuah unit bobot dan nilai, biasanya dari emas dan perak. Mudahnya, talenta adalah jumlah uang yang sangat besar. Satu talenta setara dengan sekitar enam ribu dinar. Jika satu dinar adalah upah kerja satu hari, satu talenta berarti enam ribu hari kerja atau sekitar tujuh belas hingga dua puluh tahun kerja.
A wedding ceremony is one of the most beautiful events in many cultures and societies. This includes the Jewish community in the first century AD Palestine. For the Hebrew people living in the time of Jesus, the wedding ceremony has two stages. The first one is the exchange of vows or betrothal. The couple is officially married, and they are recognized as husband and wife in the eyes of the Jewish community. Yet, they are going to wait for around one year before they are living together. The husband will prepare for the house as well as the reception celebration that may last for seven days.
Upacara pernikahan adalah salah satu acara terindah di banyak budaya dan masyarakat. Ini termasuk di masyarakat Yahudi di Palestina abad pertama Masehi. Bagi orang Ibrani yang hidup pada zaman Yesus tersebut, upacara pernikahan memiliki dua tahap. Yang pertama adalah pertukaran janji. Pasangan tersebut sudah menikah secara resmi, dan mereka diakui sebagai suami dan istri di mata komunitas Yahudi. Namun, mereka akan menunggu sekitar satu tahun sebelum mereka bisa hidup bersama. Sang suami akan mempersiapkan rumah mereka serta perayaan pesta nikah yang mungkin berlangsung selama 7 hari lamanya.
Today the Church is celebrating the Solemnity of all saints. This is one of the ancient feasts in the Church that commemorates and honors all holy people who had gone before us and received their eternal reward, God Himself. We may recognize some of them, like St. Ignatius, St. Dominic de Guzman, St. Francis of Assisi, and St. Catharine of Siena, but this is only a tiny fraction of the entire heavenly host. There are countless we are not aware of. The good news is that all of them are praying for us, and who knows, some of our departed beloved have been parts of this holy communion.
Hari ini Gereja merayakan hari raya semua orang kudus. Ini adalah salah satu pesta kuno di Gereja yang memperingati dan menghormati semua orang yang telah berpulang dan menerima pahala kekal mereka, Tuhan Sendiri. Kita mungkin mengenali beberapa dari mereka, seperti St. Dominikus de Guzman, St. Fransiskus dari Assisi, dan St. Catharine dari Siena, dan St. Ignatius, tetapi ini hanya sebagian kecil dari seluruh penghuni surgawi. Kabar baiknya adalah bahwa mereka semua berdoa untuk kita, dan siapa tahu, beberapa dari orang-orang yang kita kasihi yang telah meninggal telah menjadi bagian dari persekutuan kudus ini.
The question is, “what is the greatest law?” Once again, the historical and religious context is important. When Jesus and the Pharisees discuss the Law, they are speaking about particular Law. It is neither criminal law nor international law. It is the Law of Moses, the Torah, which points to Moses’s five books. According to the tradition of the Rabbis, the Torah contains 613 specific laws. Thus, the Pharisee is questioning Jesus on the most important among 613 commandments.