Belas Kasih: Jalan Kehidupan

Minggu ke-24 di Masa Biasa [A]

13 September 2020

Matius 18: 21-35

josue-escoto-UkpYNiJyx8A-unsplash

Minggu lalu, Injil berbicara tentang bagaimana perlu menegur saudara kita yang berdosa. Jika seorang saudara berdosa kepada kita, kita wajib memberikan koreksi dalam kasih. Minggu ini, Injil berbicara tentang apa yang harus kita lakukan jika seseorang yang telah menerima koreksi, bertobat dan meminta pengampunan. Jawabannya sederhana: kita memaafkannya, dan kita merangkulnya kembali ke dalam persekutuan.

Simon Petrus mencoba untuk mengesankan Guru-nya. Dia menyatakan bahwa dia bersedia memaafkan hingga tujuh kali. Simon Petrus ingin menunjukkan kepada Yesus bahwa dia juga mampu memiliki standar yang tinggi. Yang mengejutkan adalah Yesus tidak terkesan, dan pada kenyataannya, mengajarkan kepada para murid keutamaan lainnya yakni tentang keadilan, belas kasihan dan pengampunan.

Kali ini, Yesus mengajar dengan metode favorit-Nya: menceritakan sebuah perumpamaan, dan kita akan menghargai perumpamaan ini jika kita dapat mengenali konteks sejarah dan hal yang tidak terduga. Seorang hamba berhutang 10.000 talenta kepada seorang raja. Pada zaman Yesus, talenta adalah koin emas yang berharga, dan itu setara dengan 6.000 dinar. Satu dinar sendiri setara dengan upah satu hari kerja. Jadi, hamba ini berhutang 60.000.000 hari kerja kepada tuannya [atau sekitar 160.000 tahun kerja!]. Yang paling mengejutkan bukanlah jumlah hutang sang hamba, tetapi sikap sang raja yang dengan mudah mengampuni dan menghapus seluruh hutang ketika hamba memohon belas kasihan.

Oleh karena itu, ketika raja menerima berita bahwa hamba yang telah dimaafkan ini menolak untuk mengampuni sesama hamba yang memiliki hutang yang jauh lebih kecil [100 dinar], kemarahannya dapat dibenarkan, dan belas kasihannya berubah menjadi keadilan.

Dengan bercermin pada perumpamaan ini, kita memahami bahwa di hadapan Tuhan Allah, kita tidak berbeda dengan hamba ini. Kita tidak berhak mendapatkan apapun dari Tuhan kecuali satu hal: neraka! Dosa telah menghancurkan hubungan kita dengan Tuhan, dan kita menciptakan lubang yang sangat dalam. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menutup celah yang tidak terbatas ini. Hanya Tuhan yang mahakuasa yang memiliki kemampuan untuk membangun jembatan yang mustahil diseberangi ini. Syukurlah, Yesus telah meyakinkan kita bahwa Bapa-Nya juga adalah kerahiman itu sendiri. Meskipun kita tidak pantas mendapatkan apa-apa selain neraka, Tuhan telah membukakan pintu surga bagi kita.

Karena tidak ada yang bisa mendapatkan belas kasihan Tuhan, kerahiman-Nya selalu cuma-cuma, tetapi tidak berarti hal ini murahan. Tuhan ingin kita melakukan sesuatu juga untuk menerima belas kasihan-Nya. Dia mau kita untuk berbelas kasihan. Dia mengampuni kita, maka kita juga perlu mengampuni mereka yang telah menyakiti kita. Yesus sendiri mengingatkan kita bahwa kita harus berbelas kasihan seperti Bapa kita di surga yang penuh belas kasihan [Luk 6:36]. Berbelas kasihan bukanlah sekedar pilihan. Sesungguhnya, keadilanlah yang akan diterapkan pada kita di penghakiman terakhir.

Kita tahu bahwa mengampuni itu sulit, tetapi sekali lagi kita bisa belajar dari Yesus bagaimana cara mengampuni. Di kayu salib, Dia berkata, “Bapa, ampunilah mereka; karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan [Luk 23:34]. ” Langkah pertama adalah berdoa untuk orang-orang yang telah bersalah kepada kita. Dengan sering berdoa, kita melatih hati kita untuk melepaskan amarah dan kepahitan kita, dan bahkan belajar mengasihi seperti Tuhan mengasihi orang-orang yang memusuhi Dia.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mercy is the Option

24th Sunday in Ordinary Time [A]

September 13, 2020

Matthew 18:21-35

felix-koutchinski-QARM_X5HWyI-unsplash

 

Last Sunday, the Gospel spoke about the fraternal correction. If a brother has offended us, we are obliged to offer charitable correction. This Sunday, the Gospel tells us what to do if a person who has received a correction, is repenting and asking for forgiveness. The answer is simple: we forgive him, and we embrace him back into the communion.

Simon Peter, the spokesperson of the disciples, is trying to impress his Master. He offers that he is willing to forgive up to seven times. Simon Peter wants to show Jesus that he is also capable of having a high standard. To his surprise, Jesus is not impressed, and in fact, teaches the disciples another great lesson about justice, mercy and forgiveness.

This time, Jesus pulls out His favorite method: telling a parable, and we will appreciate the parable if we are able to recognize the historical context and its surprise. A servant owes 10,000 talents to a king. In Jesus’ time, talent is a precious gold coin, and it equals to 6,000 denarii. One denarius itself is equivalent to a wage of one day labor. Thus, this servant owes 60,000,000 days of work to His Master [or around 160,000 years of work!]. Yes, despite the unthinkably fantastic amount of debt, the king easily forgives and erases the entire debt when the servant begs for mercy. This king’s attitude is even more insane!

Therefore, when the king receives the news that this forgiven servant refuses to forgive another fellow servant with infinitely smaller debt [100 denarii], his anger is justifiable, and expectedly, his mercy turns to justice.

Reflecting this parable, we understand that before the Lord God, we are no different from this servant. We deserve nothing from the Lord except one thing: hell! Sin has destroyed our relationship with God, and we created an infinitely bottomless pit. Finite as we are, nothing we can do to close the infinite gap. Only the infinitely powerful God possesses the ability to build the impossible bridge. Fortunately, Jesus has assured us that His Father is also the Mercy Himself. Though we deserve nothing but hell, God has opened the gate of Paradise to us.

Since nobody can earn God’s mercy, His mercy is always free, but it does not mean it is cheap. God wants us to do something also to receive His mercy. He expects us to be merciful. If He forgives us, then we need to forgive those who have hurt us. Jesus Himself reminds us that we should be merciful as our Father in heaven is merciful [Luk 6:36]. Being merciful is not an option. In fact, it is the justice that will be applied to us in the final judgment.

We know that to forgive is tough, but again we may learn from Jesus how to forgive. At the cross, He said, “Father, forgive them; for they do not know what they are doing [Luk 23:34].” The first step is to pray for those people who have offended us. By praying often, we train our heart to let go of our anger and bitterness, and even to learn to love the way God loves even those people who wish Him not to exist at all.

Valentinus Bayuhadi Ruseno

Fraternal Correction

23rd Sunday in Ordinary Time [A]

September 6, 2020

Matthew 18:15-20

josh-applegate-_TgzNXPF9IM-unsplash

Today’s Gospel is well known as the fraternal correction or the way to correct our brothers. However, if we carefully read the text, we discover what being corrected is not simply about our appearance, mannerism, or etiquette. The concern of Jesus is about sin. Jesus does not teach us to correct someone who has a weird hairstyle, or someone who sleeps with a huge snore, or someone whose way of talking we do not like. If there is something that makes Jesus angry is none other than sin. Why so? Sin can destroy our relationship with God, and it closes the gate of heaven. Jesus’ mission is to bring forgiveness of sin and to undo the effects of sin, but if we refuse to repent and keep sinning, we throw insults to the sacrifice of Christ.

Jesus gives us the three stages of correcting a brother who lives in sin. The first level is a personal and compassionate reminder. We must not speak behind the person, but rather dare to confront and yet with charity. Just in case, the person is still obstinate, we activate the second level: calling two or three witnesses. The presence of witnesses will substantiate our claim. Yet, if the person remains stubborn, we shall appeal to the Church. We need to remember that the Church in Matthew 18 is not just an assembly of the believers, but the apostles, the authorities of the Church. If again, the person persists in his sin, then the Church has to treat him like gentiles and tax collectors.

Gentiles are non-Jewish nations and because they were not circumcised and worshiped idols, they are considered unclean and sinners. While the tax collectors were people who work for the Roman empire, and because their constant contact with the Romans and their corrupt practices, made them also unclean and sinners. The unclean people are not allowed to enter the Temple and synagogues to worship God. Thus, treating an obstinate brother like a pagan and tax collector means to separate him from the assembly in worship. This technical term for this is excommunication. This word is coming Latin words: “ex-” meaning outside, and “communion” meaning community or fellowship. Thus, being excommunicated is outside of the worshiping community. Thus, excommunicated persons are not allowed to receive the Holy communion, the sign of unity of the Body of Christ.

Excommunication seems to be too cruel, yet looking in a bigger perspective, it is a way of mercy, rather simply a tool of punishment. In fact, the Church rarely pronounced the sentence of excommunication. Most of the cases, it is the people who walk away from the Church and separate themselves from God and His people. We must also remember that Jesus is loving the gentiles and the tax collectors, calling them to repentance and performing many miracles for them. Our love for our brothers who are living sin remains and even gets intensified. The reason is that Jesus does not want them to perish, but live with God. We correct our erring brothers and sisters not because we hate them, but because we love them and because we are part of the same family of God. We are responsible for one another and we shall keep our brothers and sisters in our way toward heaven.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Fraterna Correctio

Minggu ke-23 dalam Waktu Biasa [A]

6 September 2020

Matius 18: 15-20

bundo-kim-KYRHKbcWdYM-unsplashInjil kita hari ini dikenal dalam Bahasa Latin sebagai fraterna correctio atau cara mengoreksi saudara kita. Namun, jika kita membaca teks dengan cermat, apa yang dikoreksi bukan hanya tentang penampilan, tingkah laku, atau etiket kita. Yesus berbicara tentang dosa. Yesus tidak mengajari kita untuk mengoreksi seseorang yang memiliki gaya rambut aneh, atau seseorang yang tidur mendengkur. Jika ada sesuatu yang membuat Yesus marah tidak lain adalah dosa. Kenapa begitu? Dosa bisa menghancurkan hubungan kita dengan Tuhan, dan menutup gerbang surga. Misi Yesus adalah untuk membawa pengampunan dosa dan untuk menghilangkan efek dosa, tetapi jika kita menolak untuk bertobat dan terus berbuat dosa, kita menghina pengorbanan Kristus.

Yesus memberi kita tiga tahap mengoreksi saudara yang hidup dalam dosa. Tingkat pertama adalah pengingatkan secara pribadi dan penuh kasih. Kita tidak boleh berbicara di belakang orang tersebut, tetapi dengan berani untuk berkonfrontasi namun dengan kasih. Jika orang tersebut masih keras kepala, kita berlanjut ke tingkat kedua: memanggil dua atau tiga saksi. Kehadiran saksi akan memperkuat klaim kita. Namun, jika orang itu tetap keras kepala, kita akan banding kepada Gereja. Perlu kita ingat bahwa Gereja dalam Matius 18 bukan hanya kumpulan orang-orang beriman, tetapi para rasul atau otoritas Gereja. Namun, jika orang itu tetap dalam dosanya, Gereja harus memperlakukan dia seperti orang kafir dan pemungut cukai.

Bangsa-bangsa bukan Yahudi tidak disunat dan menyembah berhala, oleh karena itu mereka dianggap najis dan berdosa. Sedangkan pemungut cukai adalah orang-orang yang bekerja untuk kekaisaran Romawi, dan karena kontak mereka yang terus-menerus dengan orang Romawi dan praktik korupsi mereka, mereka dianggap juga najis dan berdosa. Orang-orang najis tidak diizinkan masuk ke Bait Allah dan sinagoga untuk menyembah Tuhan. Jadi, memperlakukan saudara yang keras kepala seperti orang-orang non-Yahudi dan pemungut cukai berarti memisahkan dia dari peribadatan. Istilah teknis untuk ini adalah ekskomunikasi. Kata ini berasal dari kata Latin: “ex-” yang berarti di luar, dan “communio” yang berarti komunitas atau persekutuan. Jadi, ekskomunikasi berada di luar komunitas yang berdoa. Dengan demikian, orang-orang yang diekskomunikasi tidak diperbolehkan menerima Komuni Kudus, yang adalah tanda kesatuan Tubuh Kristus.

Ekskomunikasi tampaknya terlalu kejam, namun melihat dalam perspektif yang lebih besar, itu adalah cara belas kasih, bukan sekadar alat hukuman. Pada kenyataannya, Gereja sangat jarang menjatuhkan sanksi ekskomunikasi. Sebagian besar kasus, adalah pribadi-pribadi itu sendiri yang menjauh dari Gereja dan memisahkan diri mereka dari Tuhan dan umat-Nya. Kita juga harus ingat bahwa Yesus juga mengasihi orang-orang bukan Yahudi dan pemungut cukai, memanggil mereka untuk bertobat, dan melakukan banyak Mujizat bagi mereka. Kasih kita kepada saudara-saudara kita yang hidup dalam dosa tetap ada dan bahkan semakin kuat. Mengapa? karena Yesus tidak ingin mereka binasa, tetapi hidup bersama Tuhan. Kita mengoreksi saudara dan saudari kita bukan karena kita membenci mereka, tetapi karena kita mengasihi mereka dan karena kita adalah bagian dari keluarga Allah yang sama. Kita bertanggung jawab satu sama lain dan kita akan menjaga saudara-saudari kita tetap berjalan menuju surga.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Stumbling Stone

22nd Sunday in Ordinary Time [A]

August 30, 2020

Matthew 16:21-27

first communion 1Last Sunday, we listen to the confession of Peter on the true identity of Jesus. Here, Simon received a new name, the keys of the kingdom and the authority to bind and to loosen. He became the prime minister of the kingdom, the first pope. However, today, we witness the dramatic turn around. When Jesus foretold about His incoming passion, Simon reactively put his Master aside, and rebuked Him. As a response, Jesus expressed harshly,
“Get away behind me, Satan! You are a stumbling stone to me!”

Last episode, Simon was Peter, and today, Simon is “Satan.” Last week, Simon was the foundational rock, and today, Simon is the stumbling stone. Previous story, Simon was inspired by the Holy Spirit, and now, he is thinking his self-interest.

To call Simon that he was “Satan” is unexpected, but not uncalled-for. Perhaps Jesus would like to point out that Peter’s action was influenced by the devil himself.  Often, we think that the evil spirits influence us in the case of diabolic possessions, but in reality, diabolic possessions are an extraordinary way of attacking us. There is an ordinary way: it is through temptations and inducing ideas that oppose to the plan of God. The real battle takes place not so much in the possession of our bodies, but of our minds and souls.

Peter is also called as the stumbling stone, and in Greek, it is “scandalon.” Last Sunday, he was given a new identity, Peter, the foundation rock, but now, he turns to be a stumbling stone. Both are stone, but two opposing purposes. The foundation rock is to support the Church and God’s will, but the stumbling stone is to stop or at least, to obstruct and slow down God’s will. Jesus has set his eyes on Jerusalem, to offer His life as sacrifice on the cross and gloriously rise from the death. Yet, Simon, the stumbling stone, tried to oppose and prevent Jesus from fulfilling His Father’s will. Interesting enough, the word “Satanas” in Greek, may mean ‘the adversary.’  Simon becomes the adversary against Jesus’ mission.

Last week, I reflect on the mission of Simon Peter and how we become little Peters as God calls us for particular vocation and service despite our unworthiness. However, Jesus tells us that the real hindrance to our mission is not our weakness and unworthiness, but our selfish interest and agenda. Instead saying, “Your will be done,” we shout, “My will be done.” This is the devil’s game plan, that we put ourselves first, rather than God. Some of us are ordained priests, yet instead serving the people with dedication, we are busy to seek comfort and amass fortune for ourselves. Some of us are parents, yet instead bringing our children to God, we are preoccupied in chasing our own ambitions and careers.

Thus, Jesus makes a bold reminder, “what is the point of gaining the whole world and yet losing our souls?” At the gate of heaven, St. Simon Peter will ask us, “Have you been a stumbling stone to God’s will or have your been a foundation rock to His plan?”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Batu Sandungan

Minggu ke-22 di Waktu Biasa [A]

30 Agustus 2020

Matius 16: 21-27

FILE PHOTO POPE FRANCIS BAPTIZES BABY VATICAN
 (CNS photo/Vatican Media)

Minggu lalu, kita mendengarkan pengakuan Petrus tentang identitas Yesus sebagai Kristus, Putra Allah yang hidup. Simon menerima nama baru dan kunci kerajaan surga. Ia menjadi perdana menteri kerajaan Allah, dan paus pertama. Namun, hari ini, kita menyaksikan perubahan dramatis. Ketika Yesus menubuatkan tentang sengsara-Nya, Simon secara reaktif menarik gurunya ke samping, dan menegur-Nya. Sebagai tanggapan, Yesus menyatakan dengan keras, “Enyahlah Setan. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku…! ”

Minggu lalu, Simon adalah Petrus, dan hari ini, Simon adalah “Setan”. Minggu lalu, Simon adalah batu fondasi, dan hari ini, Simon adalah batu sandungan. Minggu lalu, Simon diilhami oleh Roh Kudus, dan sekarang, dia memikirkan kepentingan dirinya sendiri.

Menyebut Simon  sebagai “Setan” adalah hal yang tidak terduga, tetapi juga sesuatu hal yang menarik di dalami. Mungkin Yesus ingin menunjukkan bahwa tindakan Petrus dipengaruhi oleh setan itu sendiri. Sering kali, kita berpikir bahwa roh jahat mempengaruhi kita dalam bentuk-bentuk kerasukan setan, tetapi kenyataannya, kerasukan setan adalah cara yang luar biasa untuk menyerang kita. Ada cara yang biasa: melalui godaan dan mendorong ide-ide yang bertentangan dengan rencana Tuhan. Pertempuran yang sebenarnya terjadi bukan dalam hal kepemilikan tubuh kita, tetapi dalam pikiran dan jiwa kita.

Petrus juga disebut sebagai batu sandungan, dan dalam bahasa Yunani “skandalon”. Minggu lalu, dia diberi identitas baru, Petrus, batu fondasi, tetapi sekarang, dia berubah menjadi batu sandungan. Keduanya adalah batu, tetapi dua tujuan yang berlawanan. Batu karang fondasi adalah untuk mendukung Gereja dan kehendak Tuhan, tetapi batu sandungan adalah untuk menghentikan atau setidaknya, untuk menghalangi dan memperlambat kehendak Tuhan. Yesus telah mengarahkan pandangannya pada Yerusalem, untuk mempersembahkan hidup-Nya sebagai korban di kayu salib dan dengan mulia, bangkit dari kematian. Namun, Simon, sang batu sandungan, mencoba melawan dan mencegah Yesus memenuhi kehendak Bapa-Nya. Kata “Satanas” dalam bahasa Yunani, dapat berarti ‘musuh’. Simon menjadi musuh yang melawan misi Yesus.

Minggu lalu, kita merenungkan misi Simon Petrus dan bagaimana kita menjadi Petrus-Petrus kecil saat Tuhan memanggil kita untuk sebuah panggilan dan pelayanan tertentu meskipun kita tidak layak. Namun, Yesus menyatakan bahwa hambatan sejati untuk misi kita bukanlah kelemahan dan ketidaklayakan kita, tetapi kepentingan dan agenda egois kita. Alih-alih berkata, “Terjadilah menurut kehendakmu,” kita berteriak, “terjadilah seturut kehendakku.” Ini adalah taktik besar setan, bahwa kita diajak mengutamakan diri kita sendiri, daripada Tuhan. Mungkin ada imam-imam yang tergoda dan sibuk mencari kenyamanan hidup dan mengumpulkan kekayaan untuk diri kita sendiri, daripada melayani umat dengan dedikasi. Mungkin ada orangtua-orangtua, yang alih-alih membawa anak-anak kita kepada Tuhan, malah disibukkan dengan mengejar ambisi dan karier kita pribadi.

Karena itu, Yesus mengingatkan dengan lantang, “apa gunanya mendapatkan seluruh dunia namun kehilangan jiwa kita?” Di gerbang surga, St. Simon Petrus akan bertanya kepada kita, “Apakah selama hidup, kamu menjadi batu sandungan bagi kehendak Tuhan atau telah menjadi batu fondasi bagi rencana-Nya?”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

We Are Peter

21st Sunday in Ordinary Time

August 23, 2020

Matthew 16:13-20

peter n crossToday’s Gospel speaks volume about the new identity and roles of St. Simon Peter as the leader of the college of the apostles, and thus, the leader of the Church. He is the chosen foundation rock upon which Jesus built His Church. He is the prime minister who holds the keys of the kingdom of God. He is the chief priest who is responsible for the Temple of God. He is the chief Rabbi whose teachings binds the entire faithful. These are the bigger-than-life privileges and one may wonder, “Among the disciples, why was he chosen? Did Jesus know that he would deny Him three times?”

Jesus’ choice is a huge mystery, yet in the final analysis, nobody is worthy to be the first pope. If we scan the Bible and try to see many vocation stories of the great leaders of Israel, we are going to see the same pattern: most of them are not worthy and great sinner. Abraham was a coward who hid behind his wife. Moses was involved in killing an Egyptian. David was committing adultery and plotting a murder of Uriah. God seems to have a penchant to choose unworthy sinner!

Yet, that is only half of the story. These great leaders possess their remarkable quality in relation to God’s mercy and love. Despite their weakness, they never lose hope in God’s grace working in them. When they fall, they learn to rise once again and allow God sustains them. This particular quality also that Simon has.

Through his life, Peter was struggling to love Jesus and to become a leader for Christ’s Church. He made few step on water, but doubted and distracted, he began to sink. He made divinely inspired statement on Jesus divinity, but right after, he prevented Jesus to accomplish His mission on the cross. Thus, Jesus called him “Satan!” He promised Jesus that he would lay down his life for Jesus, but less than twenty-four hour, he denied Jesus with curse, and ran away! Yet, despite so grave a sin, he repented, but does not despair. Compare to Judas who lost hope and killed himself in the process, Peter knew too well that there is nothing impossible for God. Indeed, the risen Christ restored his place as the leader and the shepherd of His flocks, after asking Simon’s confession of love thrice. Yet, that was not the end of the story. A tradition says that during the persecution of emperor Niro, Peter was trying to escape Rome. In his way out of the city, Peter encountered Jesus going to the opposite direction. He then asked Jesus, “Quo vadis, Domine? [where are you going, Lord?]” Jesus responded, “I am going to Rome, to be crucified again!” Hearing this, Peter ran back to Rome. True enough, he was arrested and crucified upside down.

The choice of Peter is a mystery, but also good news. We are like Simon Peter, we are chosen to be God’s people, chosen into particular role and mission, but deep in our hearts, we are not worthy and full of weaknesses. Why did God choose me to be His priest? Why did God want me to raise children for the kingdom? Why did God elect me to become His ministers? We are not sure the exact reason, but like Peter, we are also called to trust His providence, and never lose hope in midst of trials and failures, and to love even more.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita adalah Petrus

Minggu ke-21 di Masa Biasa

23 Agustus 2020

Matius 16: 13-20

peter crucifixion 1Injil hari ini berbicara banyak tentang identitas baru dan peran St. Simon Petrus sebagai pemimpin para rasul, dan dengan demikian, pemimpin Gereja. Dia adalah batu fondasi pilihan yang di atasnya Yesus membangun Gereja-Nya. Dia adalah perdana menteri yang memegang kunci kerajaan Tuhan. Dia adalah imam kepala yang bertanggung jawab atas Bait Allah yang baru. Dia adalah Rabi kepala yang ajarannya mengikat seluruh umat beriman. Ini adalah hak istimewa yang luar biasa dan orang mungkin bertanya-tanya, “Di antara para murid, mengapa dia yang dipilih? Apakah Yesus tahu bahwa dia akan menyangkal-Nya tiga kali? “

Pilihan Yesus adalah sebuah misteri besar, namun pada akhirnya, tidak ada yang layak menjadi paus pertama. Jika kita membaca Alkitab dan mencoba melihat banyak cerita panggilan dari para pemimpin besar Israel, kita akan melihat pola yang sama: kebanyakan dari mereka tidak layak dan pendosa besar. Abraham adalah seorang pengecut yang bersembunyi di belakang istrinya. Musa terlibat dalam pembunuhan seorang Mesir. Daud melakukan perzinaan dan merencanakan pembunuhan Uria. Tuhan tampaknya memiliki kecenderungan untuk memilih orang berdosa yang tidak layak!

Namun, itu baru setengah dari cerita. Para pemimpin hebat ini memiliki kualitas luar biasa dalam hubungannya dengan belas kasihan dan cinta Tuhan. Terlepas dari kelemahan mereka, mereka tidak pernah kehilangan harapan akan kasih karunia Tuhan yang bekerja di dalam diri mereka. Ketika mereka jatuh, mereka belajar untuk bangkit sekali lagi dan membiarkan Tuhan menopang mereka. Kualitas khusus ini juga yang dimiliki Simon.

Sepanjang hidupnya, Petrus berjuang untuk mencintai Yesus dan menjadi pemimpin Gereja Kristus. Dia berhasil berjalan beberapa langkah di atas air, tetapi ragu sehingga dia mulai tenggelam. Dia membuat pernyataan yang diilhami Roh kudus tentang keilahian Yesus, tetapi segera setelah itu, dia mencegah Yesus untuk menuntaskan misi-Nya di kayu salib. Tak ayal, Yesus menyebutnya “Setan!” Dia berjanji kepada Yesus bahwa dia akan menyerahkan nyawanya untuk Yesus, tetapi kurang dari dua puluh empat jam, dia menyangkal Yesus tiga kali, dan melarikan diri! Namun, meskipun begitu besar dosa, dia memilih bertobat, tetapi tidak putus asa. Bandingkan dengan Yudas yang kehilangan harapan dan bunuh diri, Petrus tahu betul bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Sungguh, Kristus yang bangkit memulihkan tempatnya sebagai pemimpin dan gembala kawanan domba-Nya, setelah meminta pengakuan kasih Simon tiga kali. Namun, itu bukanlah akhir cerita. Sebuah tradisi mengatakan bahwa selama penganiayaan kaisar Niro, Petrus berusaha melarikan diri dari Roma. Dalam perjalanannya ke luar kota itu, Petrus bertemu Yesus berjalan dengan arah berlawanan. Dia kemudian bertanya kepada Yesus, “Quo vadis, Domine? [Ke mana kamu pergi, Tuhan?]” Yesus menjawab, “Aku akan ke Roma, untuk disalibkan lagi!” Mendengar ini, Petrus lari kembali ke Roma. Benar saja, dia ditangkap dan disalibkan secara terbalik.

Pilihan kepada Petrus adalah sebuah misteri, tapi juga kabar baik. Kita seperti Simon Petrus, kita dipilih menjadi umat Tuhan, dipilih untuk peran dan misi tertentu, tetapi jauh di lubuk hati kita, kita tidak layak dan penuh kelemahan. Mengapa Tuhan memilih saya menjadi imam-Nya? Mengapa Tuhan ingin saya membesarkan anak-anak untuk kerajaan? Mengapa Tuhan memilih saya untuk menjadi pelayan-Nya? Kita tidak yakin alasan pastinya, tetapi seperti Petrus, kita juga dipanggil untuk memercayai rencana-Nya, dan tidak pernah kehilangan harapan di tengah pencobaan dan kegagalan, dan untuk lebih mengasihi.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Focus on Jesus

19th Sunday in Ordinary Time

August 9, 2020

Matthew 14:22-33

just walk on waterThe story of Jesus walking on water is a well-known account being shared by three gospels: Matthew 14:22-33, Mark 6:45–52 and John 6:15–21. However, unique to Matthew is the part of Peter who also walked on water, but sank after a few steps. Let us focus our attention on this unique moment in the life of Simon Peter.

The sudden and unusual appearance of Jesus startled the disciples who were still battling the strong wind. The disciples’ natural reaction was fear. They thought they saw a ghost. Matthew gives us a little interesting detail: the disciples were afraid not because of the raft sea, but because of Jesus’ presence. We remember that many of them were seasoned fishermen and dealing with unpredictable conditions in the lake of Galilee was their part of their job description.  Yet, to see someone walked on water was just unprecedented. Thus, Jesus took the initiative to calm the storms inside their hearts and assured them that He is the “I AM” who controlled the forces of nature.

Peter, the bold leader and yet impulsive man, wanted to prove what he saw and heard. He then challenged Jesus and himself by saying, “Lord, if it is you, command me to come to you on the water.” Jesus invited him to come. The miracle took place. Simon Peter was able to walk on water. Yet, his weak human nature once again set in. After a few miraculous steps, he got distracted by the wind, lost his focus on Jesus, and he began to sink. Jesus had to save him and told him, “O you of little faith, why did you doubt?” We notice that Jesus did not say, “You, who have no faith!” but rather, “little faith.” This shows that Peter possessed indeed faith, proven by his several miraculous steps, but it was still small, easily distracted, and doubt-ridden.

Many of us can easily relate to Simon Peter, our first Pope. We believe in Jesus, and we know that we have faith in Him. Yet, we are aware also that our faith is still small. We may go to the Church every Sunday or pray from time to time, believe that Jesus, our God and Savior, and accept the teachings of the Church, but our faith is just tiny part of our life, that can be set aside when other and bigger concerns like work, career, relationship and others. We give God our leftovers, our time and effort. Even in our prayer and worship, we are easily distracted. Rather than focusing ourselves in Jesus, we give our attention to our cellphones and all the excitement they offer. Then, when we face the storms of life, we begin to sink, and when we are drowning, that is that the time, we shout, like Peter, “Lord, save me!”

We are called to set our gaze on Him and to learn to have true eyes of faith. These are eyes to ponder the Eucharist not as mere bread and wine, not as monotonous repetition, but as the real presence of Jesus who has sacrificed His life for us. This is a faith that empowers us to see Jesus’ presence in our daily and ordinary events. Thus, not even the fiercest storms can sink us because we focus our eyes on Jesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Fokus pada Yesus

Minggu ke-19 di Masa Biasa [A]

9 Agustus 2020

Matius 14: 22-33

jesus walk water 2Kisah Yesus berjalan di atas air adalah kisah terkenal yang ditulis oleh tiga Injil: Matius 14: 22-33, Markus 6: 45–52 dan Yohanes 6: 15–21. Namun, yang unik dari Matius adalah bagian dari Petrus yang juga berjalan di atas air, namun tenggelam setelah beberapa langkah. Mari kita fokuskan perhatian kita pada momen unik dalam kehidupan Simon Petrus ini.

Kehadiran Yesus yang tiba-tiba dan tidak biasa mengejutkan para murid yang masih berjuang melawan angin kencang. Reaksi alami para murid adalah ketakutan. Mereka mengira mereka melihat hantu. Matius memberi kita sedikit detail yang menarik: para murid takut bukan karena badai laut, tetapi karena kehadiran Yesus. Kita ingat bahwa banyak dari mereka adalah nelayan berpengalaman dan berurusan dengan kondisi tak terduga di danau Galilea adalah bagian dari pekerjaan mereka. Namun, melihat seseorang berjalan di atas air belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi, Yesus mengambil inisiatif untuk menenangkan badai di dalam hati mereka dan meyakinkan mereka bahwa dialah Yesus yang mengendalikan kekuatan alam.

Petrus, pemimpin yang berani namun juga impulsif, ingin membuktikan apa yang dilihat dan didengarnya. Dia kemudian menantang Yesus dan dirinya sendiri dengan berkata, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”  Yesus mengundang dia untuk datang. Mujizat terjadi. Simon Petrus bisa berjalan di atas air! Namun, sifat kemanusiaannya yang lemah sekali lagi muncul. Setelah beberapa langkah mujizat, dia terganggu oleh angin, kehilangan fokusnya pada Yesus, dan dia mulai tenggelam. Yesus harus menyelamatkannya dan berkata kepadanya, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Kita memperhatikan bahwa Yesus tidak berkata, “Kamu, yang tidak memiliki iman!” melainkan, “kurang percaya!” Ini menunjukkan bahwa Petrus sebenarnya memiliki iman, dibuktikan dengan beberapa langkah mukjizatnya, tetapi iman itu masih kecil, mudah terganggu, dan sarat keraguan.

Banyak dari kita dapat dengan mudah melihat diri kita seperti Simon Petrus, Paus pertama kita. Kita percaya kepada Yesus namun, kita sadar juga bahwa iman kita masih kecil. Kita mungkin pergi ke Gereja setiap hari Minggu atau berdoa dari waktu ke waktu, percaya bahwa Yesus, Tuhan dan Juru selamat kita, dan menerima ajaran Gereja, tetapi iman kita hannyalah bagian kecil dari hidup kita, yang dapat dikesampingkan ketika hal-hal yang lebih besar seperti pekerjaan, karier, relasi, dan lainnya mulai memenuhi hati kita. Kita memberikan kepada Tuhan sisa-sisa kita, baik waktu maupun usaha kita. Bahkan dalam doa dan ibadah kita, kita mudah terganggu. Daripada memfokuskan diri kita pada Yesus, kita memberikan perhatian kita pada ponsel kita dan semua kegembiraan yang mereka tawarkan. Kemudian, saat kita menghadapi badai kehidupan, kita mulai tenggelam, dan saat itulah, kita berseru, seperti Petrus, “Tuhan, selamatkan aku!”

Kita dipanggil untuk mengarahkan pandangan kita pada-Nya dan untuk belajar memiliki mata iman yang sejati. Ini adalah mata untuk melihat Ekaristi bukan hanya sebagai roti dan anggur, bukan sebagai pengulangan yang monoton, tetapi sebagai kehadiran nyata Yesus yang telah mengorbankan hidup-Nya bagi kita. Ini adalah iman yang memberdayakan kita untuk melihat kehadiran Yesus dalam kegiatan sehari-hari dan biasa kita. Jika ini sungguh menjadi iman kita, badai yang paling dahsyat sekalipun tidak dapat menenggelamkan kita karena kita memusatkan perhatian pada Yesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP