Caesar or God?

29th Sunday in Ordinary Time

October 18, 2020

Matthew 22:15-21

To understand today’s Gospel, we need to make time travel to the time of Jesus. The Jewish people in the first century AD Palestine were not free people, and they were subject to the Roman empire. Being subjects, they were required to submit heavy taxes. This money would eventually use to pay the army that maintained “the security” of Palestine. Naturally, paying taxes was one of the most irritating and politically charged issues. “Why should I pay for my own oppression?”

The issue of paying taxes is even more sensitive since the coin used for the transaction is bearing the image of Caesar. Not only having the graven face of Caesar, around the image, but there was also an inscription that said “Tiberivs Caesar Divi Avgvsti Filivs Avgvstvs (Caesar Augustus Tiberius, son of the Divine Augustus).” The coin was simply blasphemous for the Jews who recognized that there is no god, but the Lord God.

With this background, the Pharisees were plotting to trap Jesus with an extremely dilemmatic question: “should we pay tax to Caesar?” If Jesus nodded, He would be considered a traitor for many Jewish nationalists and an idol-worshipper to pious Israelites. But, if Jesus voted negatively, He would be immediately labeled as a rebel and face the wrath of the Romans. However, it was never wise to test Jesus, because it would never be successful. Again, Jesus did not only escape the dilemma wisely but also taught a profound lesson for everyone.

He took a Roman coin and showed that it has an image of Caesar. Then, He said, “render to Caesar what belongs to Caesar…” The basis of ownership is the presence of “image.” The coin belongs to Caesar because it has his image. Thus, paying tax is simply giving back to the coins that since the beginning belongs to Caesar and the Roman Empire.  Yet, Jesus did not stop there. He taught also, “render to God what belongs to God.” And what belongs to God? The answer is those who possess the image of God. Going back to the Genesis 1:26, we discover that we were created in the image of God, and therefore, we belong to God.

Here, Jesus was not dodging the Pharisees’ bullet, but teaching a fundamental truth about who we are and where we are going. We were created in the image of God, not in the image of cellular phone, not of money, not of trophies. While they may offer instant pleasure, not of these things will ever grant us true happiness. Only God can truly fulfill our deepest longing. While these things are naturally good and can be beneficial, they are mere means to achieve our true end, God Himself. We might be preoccupied with pursuing wealth, popularity, or influence, but what is the point when we lose our final purpose?

St. Ignatius of Loyola in his Spiritual Exercises reminds us that, “Man is created to praise, reverence, and serve God our Lord, and by this means to save his soul. The other things on the face of the earth are created for man to help him in attaining the end for which he is created…Therefore, we must make ourselves indifferent [detached] to all created things… Our one desire and choice should be what is more conducive to the end for which we are created”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk Kaisar atau Untuk Tuhan?

Minggu ke-29 di Masa Biasa

18 Oktober 2020

Matius 22: 15-21

Untuk memahami Injil hari ini, kita perlu melakukan perjalanan waktu ke zaman Tuhan Yesus. Orang-orang Yahudi pada abad pertama Masehi Palestina bukanlah orang-orang merdeka, dan mereka tunduk pada kekaisaran Romawi. Sebagai penduduk jajahan, mereka diharuskan membayar pajak yang cukup berat. Uang ini pada akhirnya akan digunakan untuk membayar tentara yang menjaga “keamanan” di Palestina. Tak ayal, membayar pajak adalah salah satu hal yang paling dibenci dan menimbulkan gejolak. “Mengapa saya harus membayar untuk penindasan saya sendiri?”

Masalah pembayaran pajak bahkan lebih sensitif karena koin yang digunakan untuk transaksi memiliki gambar atau citra Kaisar. Tidak hanya berukir wajah Caesar, di sekitar gambar, ada tulisan, “Tiberivs Caesar Divi Avgvsti Filivs Avgvstvs (Kaisar Augustus Tiberius, putra Augustus yang ilahi).” Koin itu menjadi semacam hujatan kepada orang-orang Yahudi yang mengakui bahwa tidak ada tuhan, selain Tuhan Allah.

Dengan latar belakang ini, orang Farisi berencana untuk menjebak Yesus dengan pertanyaan yang sangat dilematis: “haruskah kita membayar pajak kepada Kaisar?” Jika Yesus mengangguk, Dia akan dianggap sebagai pengkhianat bagi banyak nasionalis Yahudi dan penyembah berhala bagi orang Israel yang saleh. Tetapi, jika Yesus menggelengkan kepala, Dia akan segera dicap sebagai pemberontak dan menghadapi murka orang Romawi. Namun, tidak pernah bijaksana untuk menguji Yesus, karena itu tidak akan pernah berhasil. Sekali lagi, Yesus tidak hanya lolos dari dilema dengan bijaksana tetapi juga memberikan pelajaran yang mendalam bagi semua orang.

Dia mengambil koin Romawi dan menunjukkan bahwa koin itu memiliki citra Kaisar. Kemudian, Dia berkata, “berikan kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar …” Dasar kepemilikan adalah kehadiran “citra.” Koin itu milik Kaisar karena memiliki citra Kaisar. Jadi, membayar pajak sejatinya bentuk pengembalian koin yang sejak awal adalah milik Kaisar dan Kekaisaran Romawi. Namun, Yesus tidak berhenti sampai di situ. Dia juga mengajarkan, “berikan kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan.” Dan apakah yang menjadi milik Tuhan? Jawabannya adalah hal-hal yang memiliki citra Tuhan. Kembali ke Kejadian 1:26, kita menemukan bahwa kita diciptakan menurut citra Allah, dan oleh karena itu, Yesus ingin menunjukan bahwa kita adalah milik Allah.

Di sini, Yesus tidak hanya menghindari serangan orang Farisi, tetapi mengajarkan kebenaran mendasar tentang siapa kita dan ke mana kita akan pergi. Kita diciptakan menurut citra Tuhan, bukan citra HP, bukan uang, bukan juga piala. Meskipun mereka mungkin menawarkan kesenangan instan, hal-hal ini tidak bisa memberi kita kebahagiaan sejati. Hanya Tuhan yang benar-benar dapat memenuhi kerinduan kita yang terdalam. Meskipun hal-hal ini secara alami baik dan dapat bermanfaat, mereka hannyalah sarana untuk mencapai tujuan sejati kita, Tuhan sendiri. Kita mungkin sibuk mengejar kekayaan, popularitas atau pengaruh, tetapi apa gunanya kita kehilangan Tuhan?

St Ignatius dari Loyola dalam Latihan Rohaninya mengingatkan kita bahwa, “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, dan melayani Tuhan, dan dengan cara-cara inilah manusia menyelamatkan jiwanya. Hal-hal lain di muka bumi diciptakan bagi manusia untuk membantunya dalam mencapai tujuan penciptaannya… Oleh karena itu, kita harus membuat diri kita sendiri tak terikat terhadap semua ciptaan… Satu keinginan dan pilihan kita haruslah jatuh pada hal-hal yang lebih kondusif untuk mencapai tujuan penciptaan kita.”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

To Honor the King

28th Sunday in Ordinary Time

October 11, 2020

Matthew 22:1-14

To understand the parable, we need to see the surprising elements that Jesus offers. Firstly, this is no ordinary wedding, but the royal wedding of the king’s son. Surely, people in the royal list are honored and privileged guests, but they refuse to come, decline the invitation twice and even mistreat the king’s servants. What they do are unthinkable! They fail to see how precious the invitation and rather choose their own trivial business. They are like throwing insult to the king who has honored them. No wonder, the king punishes them.

Yet, this king is generous and merciful king, and he decides to invite all people who are not in his original guests of honor. He grants the royal invitation and honor to all. Many indeed come and fulfil the invitation. However, there is one guy who fails to wear a wedding dress. To dress properly in attending a wedding feast is not only expected, but it shows how we honor the one who invites us. This person is a guest of honor, but he fails to appreciate the honor he receives, fails to behave accordingly, and brings great dishonor to the king. Thus, the king throws him not to any place, but to the darkness.

We are all like these wedding guests, and we receive immeasurable honor because, in reality, we do not deserve to be called by God to enter into His kingdom. Yet, the invitation is free, but it does not mean cheap. We still need to do our part to honor the one who invites us and to show utmost thanksgiving to God. The question is what wedding garment symbolizes? If we move forward to Revelation 19, we will see another wedding. This is the wedding of the Lamb, and in Rev 19:8, “…for the fine linen is the righteous deeds of the saints.” Faith in Jesus is like accepting the invitation, but we must not stop there, we shall wear also the garment of the righteous deeds. Our initial faith has to grow into charity.

The basic principle is grace is free, but it is not cheap. In fact, it is the most precious thing we ever receive in our lives. Our righteous works are not meant to be a bargaining chip with the Lord, but rather token of our gratitude. We do holy deeds not because we want to be praised, but because we want to honor Him who has called us to the heavenly banquet. As priests, we are serving the people primarily because, despite our weaknesses, we are chosen to the instruments of grace. As spouses, we are building family not simply based on emotional attractions, biological needs, and economic stability, because we are grateful to the Lord who has united husband and wife in love and grace. As parents, we are raising our children not only to become successful, rich or influential but primarily to become holy men and women because we recognize that these children are blessing from the Lord. The world is definitely a better world with people filled with gratitude, and with the saints.

This reflection is dedicated to Carlo Acutis, who is beatified today [10 Oktober], a model of holiness for all of us.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menghormati Sang Raja

Minggu ke-28 di Masa Biasa

11 Oktober 2020

Matius 22: 1-14

Untuk memahami perumpamaan yang kita dengar Minggu ini, kita perlu melihat elemen-elemen yang mengejutkan. Pertama, perjamuan ini bukalah perjamuan pernikahan biasa, tapi pernikahan putra raja. Tentunya, orang-orang dalam daftar undangan adalah tamu terhormat dan istimewa, tetapi mereka menolak untuk datang sampai dua kali dan bahkan menganiaya para utusan raja. Apa yang mereka lakukan tidak terpikirkan! Mereka gagal untuk melihat betapa berharganya undangan tersebut dan malah memilih urusan-urusan sepele mereka sendiri. Mereka sama saja melontarkan hinaan kepada raja yang telah menghormati mereka. Tak heran, raja menghukum mereka.

Namun, raja ini adalah raja yang murah hati, dan dia memutuskan untuk mengundang semua orang yang bukan bagian dari tamu kehormatannya. Dia memberikan undangan kerajaan dan kehormatan bagi semua orang. Banyak yang memang datang dan memenuhi undangan tersebut. Namun, ada satu orang yang gagal mengenakan pakaian yang layak bagi perjamuan. Berpakaian pantas dalam menghadiri perjamuan pernikahan tidak hanya sesuatu yang wajar, tetapi juga menunjukkan bagaimana kita menghormati orang yang mengundang kita. Orang ini adalah tamu kehormatan, tetapi dia gagal menghargai kehormatan yang dia terima, gagal berperilaku sesuai harapan, dan membawa aib besar kepada raja. Karena itu, raja melemparkannya bukan ke sembarang tempat, melainkan ke kegelapan yang berkesudahan.

Kita sama seperti tamu perjamuan nikah ini karena kita menerima penghormatan yang tak terukur karena pada kenyataannya kita tidak pantas dipanggil oleh Tuhan untuk masuk ke dalam kerajaan-Nya. Pada sudah sepatutnya, kita perlu melakukan bagian kita untuk menghormati Dia yang mengundang kita, dan untuk menunjukkan rasa syukur yang terbaik kepada Tuhan. Pertanyaannya kemudian, apa yang dimaksudkan dengan pakaian yang layak untuk perjamuan pernikahan ini? Jika kita melihat Kitab Wahyu 19, kita akan melihat sebuah perjamuan pernikahan juga. Ini adalah perjamuan pernikahan Anak Domba, dan dalam Wahyu 19: 8, “… karena lenan halus itu adalah perbuatan benar orang-orang kudus.” Iman kepada Yesus itu seperti menerima undangan dan datang ke perjamuan, tetapi kita tidak boleh berhenti sampai di situ, kita juga akan mengenakan pakaian yang terbentuk dari perbuatan-perbuatan benar. Iman awal kita harus tumbuh menjadi kasih.

Prinsip dasarnya adalah rahmat itu cuma-cuma, tapi itu tidak murahan. Faktanya, rahmat bersatu dengan Tuhan ini adalah hal paling berharga yang pernah kita terima dalam hidup kita. Perbuatan-perbuatan benar kita tidak dimaksudkan sebagai alat tawar-menawar dengan Tuhan, melainkan sebagai tanda terima kasih kita. Kita melakukan perbuatan benar bukan karena kita ingin dipuji, tetapi karena kita ingin menghormati Dia yang telah memanggil kita ke perjamuan surgawi. Sebagai imam, kami melayani umat terutama karena meskipun memiliki kelemahan, kami dipilih untuk menjadi saran rahmatnya. Sebagai pasangan suami-istri, kita dipanggil untuk membangun keluarga tidak hanya berdasarkan ketertarikan emosional, kebutuhan biologis, dan stabilitas ekonomi, tetapi rasa syukur kepada Tuhan yang telah mempersatukan suami istri dalam kasih dan rahmat. Sebagai orang tua, kita membesarkan anak-anak kita tidak hanya untuk menjadi sukses, kaya atau berpengaruh, tetapi terutama untuk menjadi pria dan wanita yang kudus karena kita menyadari bahwa anak-anak ini adalah berkat dari Tuhan. Dunia akan menjadi dunia yang lebih baik dengan orang-orang yang dipenuhi rasa syukur, dan dengan orang-orang kudus.

Refleksi ini didedikasikan bagi Carlo Acutis yang pada hari ini [10 Oktober] menjadi seorang beato, seorang model kekudusan bagi kita semua.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

picture by : mateus campos filipe

Keeping the Gift

27th Sunday in Ordinary Time [A]

September 4, 2020

Matthew 21:33-43

The vineyard owner in today’s parable is extraordinary. He knows that the tenants are greedy and corrupt, and if I had been the owner, I would have expelled the tenants right away. Yet, this owner is doing the opposite. He keeps sending His envoys and pleading with them, to the point of giving his own son, the true heir. This vineyard owner must be crazy! Yet, that is how much merciful, and patient God is. However, that is not the end of the story. The thing is if we keep abusing God’s mercy, His justice will eventually prevail.

When Jesus was speaking about the vineyard, the context was Jesus was confronting the elders and chief priest. Instead of serving the people, they chose to seek their gains and thus, involved in various corrupt practices. Jesus reminded them that the vineyard would be taken away if they did not repent.  Unfortunately, they were too greedy and proud. Thus, they opted to get rid of Jesus, the Son of God. The history tells us that in 70 AD, around 40 years after Christ, Jerusalem was burned, and the Temple was razed to the ground.

Unfortunately, the story of the gift given and gift taken away is one of the basic patterns in the Bible. Adam and Eve given the privilege of the garden of Eden, yet they offended the Lord, and they lost the paradise. People of Israel were liberated from the land of Egypt, but in the wilderness, they kept complaining and even worshipping false gods. Therefore, they had to die in the desert, and only their children were allowed to enter. The Israelites have received the land and built a powerful kingdom under David, but they kept sinning and forgetting the Lord, and thus, the kingdom was destroyed, and the people were exiled.

God has given each of us, something special, a precious gift. And we should take care of and protect this gift, and we shall not test the Lord. Otherwise, this gift will be taken away from us.

Faith is a gift. Faith is our first step to heaven. Yet, we have to grow our faith, to nourish it with true teachings of the Church and growing relationship with the Lord. We must defend it not only from false teachings but also from our laziness and mediocrity. Otherwise, it will be taken away from us.

A vocation to priesthood and brotherhood is a gift. It is a gift to serve the people of God, to preach the Word of God, and to minister the sacraments through which we receive the grace and salvation. We need to nurture it daily with prayer, assiduous study, and faithfully living the vows. Otherwise, it will be taken away from us.

A vocation to married life and family is a gift. It is a gift to become co-creators and co-workers of God; to bring forth life and to nurture life. We need to protect it from sins and infidelity and selfishness, and nourish it with love, commitment, and even openness.  Otherwise, it will be taken away from us.

The Earth is a gift to us. It is our home, a stunning home to live, and among billions of planets in the galaxies, there is nothing like earth. We need to defend it from exploitation, over-mining, over-fishing and even from our lifestyle that gradually destroy nature. Otherwise, it will be taken away from us.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo credit: jodie-morgan

Menjaga Berkat

Minggu ke-27 di Masa Biasa [A]

4 September 2020

Matius 21: 33-43

Pemilik kebun anggur dalam perumpamaan hari ini luar biasa tak terduga. Dia tahu bahwa para penyewa adalah serakah dan korup, dan jika saya menjadi dia, saya akan segera mengusir para penyewa itu. Namun, pemilik ini melakukan yang sebaliknya. Dia terus mengirim utusannya dan sampai memberikan putranya sendiri, pewaris sejati. Pemilik kebun anggur ini pasti sudah gila! Dan, itulah citra Tuhan kita yang sangat penuh belas kasih dan sabar. Namun, itu bukanlah akhir dari cerita. Perumpamaan ditutup dengan sebuah penghakiman: jika kita terus menyalahgunakan belas kasihan Tuhan, keadilan-Nya pada akhirnya akan meraja.

Ketika Yesus berbicara tentang perumpamaan kebun anggur ini, konteksnya adalah Yesus menghadapi para penatua dan imam kepala. Alih-alih melayani umat Allah, mereka memilih mencari keuntungan pribadi dan terlibat dalam berbagai praktik korupsi. Yesus mengingatkan mereka bahwa kebun anggur akan diambil jika mereka tidak bertobat. Sayangnya, mereka terlalu rakus dan sombong. Jadi, mereka memilih untuk menyingkirkan Yesus, sang Putra Allah. Sejarah akhirnya menceritakan bahwa pada tahun 70 M, sekitar 40 tahun setelah Kristus, Yerusalem dibakar, dan Bait Suci diratakan dengan tanah.

Sebenarnya, cerita tentang berkat yang diberi dan kemudian diambil lagi, adalah salah satu pola dasar dalam Alkitab. Adam dan Hawa diberi hak istimewa di taman Eden, namun mereka melukai hati Tuhan, dan mereka kehilangan firdaus. Orang Israel dibebaskan dari tanah Mesir, tetapi di padang gurun, mereka terus bersungut-sungut dan bahkan menyembah dewa palsu. Oleh karena itu, mereka harus mati di gurun pasir, dan hanya anak-anak mereka yang diizinkan masuk ke Tanah Terjanji.

Tuhan telah memberi kita masing-masing, sesuatu anugerah yang istimewa, berkat yang berharga. Dan kita harus menjaga dan melindungi pemberian ini. Jika tidak, anugerah ini akan diambil dari kita.

Iman adalah anugerah. Iman adalah langkah pertama kita ke surga. Namun, kita harus menumbuhkan iman kita, memupuknya dengan ajaran Gereja yang benar dan menumbuhkan hubungan yang mesra dengan Tuhan. Kita harus menjaganya tidak hanya dari ajaran-ajaran yang menyesatkan tetapi juga dari kemalasan dan ketidakpeduliaan kita. Jika tidak, itu akan diambil dari kita.

Panggilan imamat dan sebagai seorang bruder dan suster adalah sebuah anugerah. Ini adalah sebuah kesempatan untuk melayani umat Tuhan, untuk memberitakan Firman Tuhan, dan untuk melayani sakramen kasih karunia dan keselamatan. Kita perlu memeliharanya setiap hari dengan tekun dalam doa, belajar dengan sungguh-sungguh, dan dengan setia menjalankan kaul kita. Jika tidak, itu akan diambil dari kita.

Panggilan untuk menjadi suami-istri dan keluarga adalah anugerah. Merupakan kesempatan untuk menjadi rekan pencipta dan rekan kerja Tuhan; untuk melahirkan kehidupan dan memelihara kehidupan. Kita perlu melindunginya dari dosa ketidaksetiaan dan keegoisan, dan memeliharanya dengan cinta, komitmen, dan bahkan keterbukaan. Jika tidak, itu akan diambil dari kita.

Bumi adalah anugerah bagi kita. Ini adalah rumah kita, rumah yang menakjubkan untuk ditinggali, dan di antara miliaran planet di galaksi, tidak ada yang seperti bumi. Kita perlu mempertahankannya dari eksploitasi, penambangan berlebihan, penangkapan ikan berlebihan, dan bahkan dari gaya hidup kita yang secara bertahap merusak alam. Jika tidak, itu akan diambil dari kita.

Dan kita harus menjaga dan melindungi semua pemberian ini. Jika tidak, hadiah ini akan diambil dari kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo credit: S. Danilo

Kerendahan Hati dan Kesombongan Rohani

Minggu ke-26 dalam Masa Biasa [A]

27 September 2020

Matius 21: 28-31

Untuk memahami perumpamaan tentang dua anak laki-laki pemilik kebun anggur ini, kita perlu membaca seluruh Matius pasal 21. Yesus baru saja memasuki kota Yerusalem dan disambut oleh orang-orang dengan teriakan “Hosana” dan ranting palem. Kemudian, Dia pergi ke area Bait Allah untuk menyucikannya dari malpraktek yang terjadi. Jadi, para penatua dan imam kepala, yang bertanggung jawab atas Bait Allah, mempertanyakan Yesus, “siapa kamu? Dengan wewenang apa Anda bertindak demikian? ”

Jadi, Yesus menjawab mereka melalui perumpamaan. Perumpamaan ini berbicara tentang dua anak laki-laki; yang pertama mewakili para penatua dan yang kedua mewakili para pemungut pajak dan pelacur. Namun, yang mengejutkan para tetua adalah mereka  menjadi antagonis dari cerita tersebut. Yang memperparah adalah para sesepuh praktis berada dalam kondisi yang lebih buruk dari para pemungut pajak, karena mereka masih jauh dari kebun anggur, dari keselamatan. Namun, alih-alih bertobat, para penatua menjadi marah dan memutuskan untuk menghabisi Yesus selamanya.

Pertanyaannya adalah “mengapa pemungut cukai bisa bertobat sedangkan yang penatua tidak?” Jawabannya ada hubungannya dengan dua kekuatan yang saling bertentangan: di satu sisi adalah kerendahan hati dan yang lainnya adalah kesombongan rohani. Kita mulai dengan kesombongan rohani. Berdasarkan tradisi Gereja, kesombongan adalah yang paling mematikan dari tujuh dosa maut. St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa kesombongan adalah “hasrat berlebihan atas keunggulan diri sendiri dan akhirnya menolak tunduk kepada Tuhan.” Singkatnya, manusia yang sombong menganggap diri mereka lebih baik daripada yang lain. Apa yang membuat kesombongan begitu berbahaya adalah kesombongan membuat orang berpikir bahwa mereka mandiri dan bahkan tidak membutuhkan Tuhan.

Kesombongan juga sangat susah dideteksi karena dapat mengakar bahkan dalam hal-hal rohani. Kita tidak bisa mengatakan bahwa saya bernafsu untuk berdoa, tetapi kita bisa sombong dengan kehidupan rohani kita. Kita melihat diri kita lebih suci dan lebih saleh daripada orang lain berdasarkan standar kita.

Lawan dari kesombongan adalah kerendahan hati. Menurut St. Thomas Aquinas, kerendahan hati adalah keutamaan yang “mengolah jiwa, sehingga tidak menghasratkan yang lebih dari kodratnya.” Singkatnya, kerendahan hati adalah penangkal kesombongan rohani. Kerendahan hati dalam bahasa Latin “humilitas” berakar dari kata “humus” yang berarti tanah. Orang yang rendah hati mengenali identitas mereka yang berasal dari debu, dan nafas kehidupan serta kesempurnaan adalah anugerah Tuhan. Kerendahan hati ini akan mendatangkan rasa syukur karena kita menyadari bahwa meskipun hanya debu, Tuhan sangat murah hati dan penuh belas kasihan kepada kita.

Namun, kadang kita membingungkan antara menjadi rendah hati dengan menjadi minder. Minder itu kurang percaya diri dan biasanya lari dari tanggung jawab, karena belum dewasa. Minder berakar pada citra diri yang tidak lengkap dan bahkan terdistorsi. Sementara kerendahan hati dimulai dengan pemahaman yang benar tentang diri kita sendiri, bahwa kita secara sempurna dikasihi oleh Tuhan. Orang yang rendah hati adalah orang yang kuat karena hanya yang kuat yang bisa mengakui dosa-dosanya. Orang yang rendah hati adalah orang yang dewasa karena hanya yang dewasa yang bisa mengakui kelemahannya, meminta maaf, dan meminta bantuan. Pria dan wanita yang rendah hati adalah orang yang tangguh karena mereka bisa memaafkan walaupun itu sangat sulit.

Tuhan, berikan aku kerendahan hati, agar aku mengikuti kehendak-Mu yang suci.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pride and Humility

26th Sunday in Ordinary Time [A]

September 27, 2020

Matthew 21:28-31

Reading the entire Matthew chapter 21, we will get the sense of the parable of the two sons of the vineyard owner. Jesus just entered the city of Jerusalem and was welcomed by the people with a shout of “Hosanna” and palm branches. Then, he proceeded to the Temple area to cleanse it from the malpractices plaguing the holy ground. Thus, the elders and chief priests, the one who was in charge of the Temple, questioned Jesus, “who are you? By what authority do you act and teach?”

Thus, Jesus answered them through a parable. This parable speaks of two sons; the first representing the elders and the second the tax collectors and prostitutes. Yet, to the surprise of the elders, far from being the protagonists of the story, they turn to be the villains. To add insult to the injury, the elders were practically in the worse condition than these tax collectors, because they are still far from the vineyard, from salvation. However, instead of repenting, the elders got infuriated and decided to finish Jesus once for all.

The question is “why were the tax collectors able to repent while the elders were not?” The answer is something to do with two opposing powers: at one side of the ring is humility and the other is pride. We begin with pride. Based on the Church’s tradition, pride is the deadliest of seven deadly sins. St. Thomas Aquinas explained that pride is “an excessive desire for one’s own excellence which rejects subjection to God.” In short, proud men regard themselves better than others to the point of contempt. What makes pride so dangerous, it may lead even people to think they are self-sufficient and has no need even of God.

Pride is extremely subtle because it can take root even in spiritual matters. We cannot say that I am lustful for prayer, but we can be proud of our spiritual life. We see ourselves holier and more pious than others based on our standards.

At the opposite corner is humility. According to St. Thomas Aquinas, humility is a virtue that “temper and restrain the mind, lest it tends to high things immoderately.” In short, humility is the antidote of pride. Humility is rooted in the Latin word “humus” meaning soil. Humble persons recognize their identity as coming from the dust, and the breath of life and perfections are gifts of God. This humility will bring gratitude because we realized that despite nothing but dust, God is boundlessly generous and merciful to us.

However, humility and cowardice are often confused. Cowardice manifests in low self-esteem, lack of confidence, and poor in responsibility. Cowardice is rooted in incomplete and even distorted self-image. While humility begins with the right understanding of the self, that we are gratuitously loved by God. Humble people are strong people because only strong ones can confess their sins. Humble persons are mature persons because only mature ones are able to own their weakness, say sorry, and ask for help. Humble men and women are tough people because it is hard to forgive.

 

Lord, grant us humility, that we may follow Your holy will.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Parable of Mercy

25th Week in Ordinary Time [A]

September 20, 2020

Matthew 20: 1-16

lambros-lyrarakis vineyard 2

Among the many parables of Jesus, this parable of the owner of the vineyard is one that I find difficult to understand. Every time I read this parable, I always felt that something was wrong. Perhaps, I easily associate myself with the first-coming workers, who work from morning to sunset. They are laborers who spend their time and energy under the heat of the sun and give their efforts to meet the demands of the vineyard owner. However, they receive the same wages as those who only offer one hour of work. Of course the owner of the vineyard did not break the contract, but there still seemed to be injustice.

Maybe, this experience is like when I was studying in Manila. I was studying hard to get the best that I could achieve. Indeed, I got good grades, but what I could not accept was when my classmates who did not spent much effort, got also the same grades as I did. For me, It was not fair, but I could drop my complaint because the final grade is the prerogative of the professor.

However, things started to look different when I became a teacher myself. At one point, I needed to give my students final grades. And this is the utmost dilemma for me because I realize that on the one hand, I need to provide justice, but on the other hand, I want all my students to pass and graduate. Finally, I often chose compassion and allowed my struggling students to pass. I am fully aware that some of my students will feel that I am unfair, and that is the burden I must bear as a lecturer who chooses to be compassionate.

If we try to look closely at what vineyard owner is doing, we will find it funny and even weird. He kept looking for and hiring new persons almost every three hours. To make matters worse, he gave the same daily wages for all. In the economy and business, overspending and excess labor are a recipe for bankruptcy! However, the owner of the vineyard did not seem to care and was constantly looking for laborers. Perhaps, he knew very well that if these people were without jobs, they would starve to death, but if they worked and received less than the minimum wage, they wouldn’t be able to survive either. He couldn’t satisfy everyone, but at least he would be able to save everyone.

Learning from this parable, rather than complaining to God, we need to rejoice because our Lord is full of mercy, who even takes the initiative and seeks to seek out those of us who need salvation, and who willingly give eternal life even to those who have not lived well, but at the last moment repent.

 We should rejoice because in God’s eyes, we are all the last workers to beg mercy. Who knows, the workers who come first are actually the angels, and we really are the last unworthy laborers. With our sin, we all deserve to go to hell, but God stretches out His hand and opens the Gates of Heaven. We should rejoice that heaven is not a lonely place where few righteous people deserve it, but it is full of grateful people who enjoy God’s mercy even if they are not worthy.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pic: lambros lyrarakis

Perumpamaan Kerahiman

Minggu ke-25 dalam Waktu Biasa [A]

20 September 2020

Matius 20: 1-16

Di antara banyak perumpamaan Yesus, perumpamaan tentang pemilik kebun anggur yang satu ini adalah perumpamaan yang sulit saya pahami. Setiap saya membaca perumpamaan ini, saya selalu merasa ada yang tidak beres. Mungkin, saya dengan mudah mengasosiasikan diri dengan pekerja yang pertama datang, yang bekerja dari pagi hingga matahari terbenam. Mereka adalah para buruh yang menghabiskan waktu dan energi mereka di bawah terik matahari dan mengerahkan upaya mereka untuk memenuhi tuntutan pemilik kebun anggur. Namun, mereka menerima upah yang sama dengan mereka yang hanya memberikan satu jam kerja. Tentunya pemilik kebun anggur tidak melanggar kontrak, tapi tetap sepertinya ada ketidakadilan.

Mungkin, pengalaman ini seperti saat saya masih kuliah di Manila. Saya belajar keras untuk mendapatkan yang terbaik yang bisa saya raih. Memang, saya mendapat nilai baik, tetapi yang membuat saya tidak terima adalah ketika teman-teman sekelas saya yang saya tahu bahwa mereka pas-pasan, mendapat nilai yang sama dengan saya. Bagi saya, itu tidak adil, tetapi saya tidak dapat melayangkan keluhan saya karena nilai akhir adalah hak prerogatif dosen.

Namun, hal ini mulai terlihat berbeda ketika saya menjadi dosen. Pada satu titik, saya perlu memberi nilai akhir kepada siswa saya. Dan ini adalah saat yang paling dilematis bagi saya karena saya menyadari bahwa di satu sisi, saya perlu memberikan keadilan, tetapi di sisi lain, saya ingin semua siswa saya lulus dan berhasil. Akhirnya, saya lebih sering memilih belas kasihan dan mengizinkan murid-murid saya yang pas-pasan untuk lulus. Saya sepenuhnya sadar bahwa beberapa siswa saya akan merasa bahwa saya tidak adil, dan itulah beban yang harus saya tanggung sebagai dosen yang memilih untuk berbelas kasihan.

Jika kita mencoba melihat dengan teliti apa yang dilakukan pemilik kebun anggur, kita akan menganggapnya lucu dan bahkan aneh. Dia terus mencari dan memperkerjakan orang baru hampir setiap tiga jam. Lebih parah lagi, dia memberikan upah harian yang sama untuk semua. Dalam ekonomi dan bisnis, pengeluaran berlebihan dan kelebihan tenaga kerja adalah resep kebangkrutan! Tapi, si pemilik kebun anggur sepertinya tidak peduli dan terus mencari tenaga kerja. Mungkin, dia tahu betul jika orang-orang ini tanpa pekerjaan, mereka akan mati kelaparan, namun jika mereka bekerja dan menerima kurang dari upah minimum, mereka juga tidak akan bisa bertahan hidup. Dia tidak bisa memuaskan semua orang, tapi setidaknya dia akan bisa menyelamatkan semuanya.

Belajar dari perumpamaan ini, daripada mengeluh kepada Tuhan, kita perlu bersukacita karena Tuhan kita penuh belas kasihan, yang bahkan Dialah berinisiatif dan berupaya untuk mencari kita yang membutuhkan keselamatan, dan yang dengan sedia memberikan kehidupan kekal bahkan bagi mereka yang selama hidupnya tidak baik, tetapi pada saat terakhir bertobat.

 Kita harus bersukacita karena dalam mata Tuhan, kita semua adalah pekerja terakhir yang memohon belas kasihan pemilik kebun anggur. Siapa tahu, pekerja yang datang pertama sebenarnya adalah para malaikat, dan kita benar-benar pendatang terakhir yang tidak layak. Dengan dosa kita, kita semua pantas masuk neraka, tapi Tuhan mengulurkan tangan-Nya dan membuka Gerbang Surga. Kita harus bersukacita bahwa surga bukanlah tempat yang sepi di mana hanya sedikit orang benar yang layak mendapatkannya, tetapi surga penuh dengan orang-orang yang bersyukur yang menikmati belas kasihan Tuhan walau tidak layak.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Picture: Maja Patric