King of Mercy

The Solemnity of Our Lord Jesus Christ, King of the Universe [A]

November 22, 2020

Matthew 25:31-46

To be the subject of a king is a foreign experience for many of us. I was born in Indonesia, and our country is a republic, and we espouse democracy to elect our leader. Some of us are citizens of kingdoms like Great Britain, Belgium, Thailand, and Japan, but the kings or queens here are serving under the constitution. When we speak of absolute monarchs, we are reminded of the powerful ancient kingdoms like Assyrian, Babylonian, and Persian empires. Here, the king’s words are the highest law, and disobedient to the king’s wish is acts of treason. Surprisingly, we still have some existing absolute monarchs in our time, like Brunei, Saudi Arabia, and the Vatican!

Today we are celebrating the solemnity of Jesus Christ, the King of the Universe. Yet, it is a bit difficult to imagine Christ as a king. He never wears a crown except for thorns. He never sat on the throne except for the cross. And, He never possessed an army except for a bunch of coward disciples.  Is Jesus truly a king? The answer is an absolute yes. Jesus, as the king, is one of the dominant topics in the Gospels. Angel Gabriel announces to Mary, “the Lord God will give to him [Jesus] the throne of his ancestor David. He will reign over the house of Jacob forever, and of his kingdom there will be no end. [Luk 1:32-33]” One of the criminals crucified with Jesus cries, “Jesus, remember me when you come into your kingdom. [Luk 23:42]” And throughout His public ministry, Jesus is tirelessly proclaiming and building the kingdom of God.

In today’s Gospel, Jesus reveals that he is not just an ordinary king, not just a king among many kings. He is the king of kings, and only He can bring people to eternal life and everlasting damnation. We are reminded that since Jesus is the king of the universe, we are all His subjects. However, whether we are good subjects or bad ones, we still have to choose. Like with other kingdoms, we still need to at least two basic things: acknowledging Jesus as our king and being His loyal servant.

The good news is that He does not require us, His subjects, to wage war against other countries or pay taxes! He is the king of mercy, and thus, His order is: do the Works of Mercy. In the Catholic tradition, there are seven corporal works of mercy. These are: to feed the hungry, give water to the thirsty, clothe the naked, shelter the homeless, visit the sick, visit the imprisoned, and bury the dead. The seven corporal works of mercy are not complete with the seven spiritual works of mercy. These are: to instruct the ignorant, counsel the doubtful, admonish the sinners, bear patiently those who wrong us, forgive offenses, comfort the afflicted, and pray for the living and the dead.

Doing these are not always easy, but it is necessary because it proves our loyalty to the great king. Negligence to do works of mercy brings a serious consequence: to be expelled from the kingdom. The choice is ours, and the time is now.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: robert nyman

Raja Belas Kasih

Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus, Raja Semesta Alam [A]

22 November 2020

Matius 25: 31-46

Menjadi abdi seorang raja adalah pengalaman asing bagi banyak dari kita. Saya lahir di Indonesia, dan negara kita adalah republik dan kita menjunjung demokrasi sebagai cara untuk memilih pemimpin kita. Mungkin kita pernah ke negara kerajaan seperti Inggris, Belgia, Thailand, dan Jepang, tetapi raja atau ratu di sini juga berdasarkan konstitusi atau undang-undang dasar. Ketika kita berbicara tentang monarki absolut, kita diingatkan tentang kerajaan kuno yang kuat seperti kerajaan Asyur, Babel, dan Persia. Di sini perkataan raja adalah hukum tertinggi, dan tidak mematuhi keinginan raja adalah tindakan pengkhianatan. Sebenarnya, kita masih memiliki beberapa monarki absolut yang ada di zaman kita, seperti Kerajaan Brunei, Arab Saudi dan Vatikan!

Hari ini kita merayakan Hari Raya Yesus Kristus, Raja Semesta Alam. Namun, agak sulit membayangkan Kristus sebagai seorang raja. Dia tidak pernah memakai mahkota kecuali dari duri. Dia tidak pernah duduk di singgasana kecuali salib. Dan, Dia tidak pernah memiliki pasukan kecuali sekelompok murid-murid yang pengecut. Apakah Yesus benar-benar seorang raja? Jawabannya ya! Faktanya, Yesus sebagai raja adalah salah satu topik dominan dalam Injil. Malaikat Gabriel menyatakan kepada Maria, “…Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,  dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan [Luk 1: 32-33].” Salah satu penjahat yang disalibkan bersama Yesus berseru, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja [Luk 23:42].” Dan sepanjang pelayanan publik-Nya, Yesus tanpa lelah mewartakan dan membangun kerajaan Allah.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengungkapkan bahwa dia bukan hanya raja biasa, bukan hanya raja di antara banyak raja. Dia adalah raja dari segala raja, dan hanya Dia yang dapat membawa orang ke kehidupan kekal atau maut yang abadi. Kita diingatkan bahwa karena Yesus adalah raja alam semesta, kita semua adalah abdi-Nya. Namun, kita tetap harus memilih, apakah kita abdi yang baik atau buruk. Seperti halnya kerajaan lainnya, kita masih melakukan setidaknya dua hal dasar: mengakui Yesus sebagai raja kita dan menjadi abdi-Nya yang setia.

Kabar baiknya adalah untuk menjadi abdi-Nya yang setia, Dia tidak menuntut kita untuk berperang melawan negara lain, atau bahkan membayar pajak! Dia adalah raja belas kasih, dan dengan demikian, perintah-Nya adalah: lakukan karya-karya Belas Kasih. Dalam tradisi Katolik, ada tujuh karya belas kasih jasmani. Ini adalah: memberi makan yang lapar, memberi air kepada yang haus, memberi pakaian bagi yang telanjang, melindungi para tunawisma, mengunjungi yang sakit, mengunjungi yang dipenjara, dan menguburkan yang meninggal. Tujuh karya belas kasih jasmani tidak lengkap tanpa tujuh karya belas kasih rohani. Ini adalah: Menasihati orang yang ragu-ragu, mengajar orang yang belum tahu, menegur pendosa, menghibur orang yang menderita, mengampuni orang yang menyakiti, menerima dengan sabar orang yang menyusahkan, dan berdoa untuk orang yang hidup dan mati.

Melakukan hal-hal ini tidak selalu mudah, tetapi perlu karena itu membuktikan kesetiaan kita kepada sang raja agung. Kelalaian melakukan perbuatan belas kasih membawa konsekuensi serius: diusir dari kerajaan. Pilihan ada di tangan kita dan waktunya sekarang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: Arturo Rey

The Master’s Trust

33rd Sunday in Ordinary Time

November 15, 2020

Matthew 25:14-30

The original meaning of talent is not God’s given ability, but a unit of weight and value, normally gold and silver. More importantly, talent is a huge amount of money. One talent is equal to around six thousand denarii. If one denarius is the wage of ordinary daily labor, one talent means six thousand days of works or approximately seventeen to twenty years of work.

To seek the value of this parable, we need to discover the surprising twists in the story. This time, I would like to invite you all to focus on the master of the servants. The master is giving a total of 8 talents to his three servants [literally slaves]. If we pause a moment, we begin to realize how fantastic amount of money they receive. The act of giving presupposes either two things: either the master is unimaginable rich that he does not care really about these talents, or he is utterly generous and trusting. I believe it is the second reason.

To entrust these talents entails grave risks. One possibility is that the servants may fail in their trading, and thus, the master may lose his money. Another chance is the servants may run away with talents, and therefore, the master may lose both his money and his servants. Yet, despite these nightmarish possibilities, the master is firm in his decision. He trusts his servants, and it pays off. Except for his lazy servant, the master earns double!

From this, we learn a precious lesson. The best way to expand our talent is by sharing it with others. The usual way to develop our talents is by practicing it often. However, this method does not bring us exponential growth. Yet, by sharing the talents, the possibility of growth is unimaginable. Yet again, the parable is not simply about talents, but the relationship between the master and the servants, on the trust and faith of the master and gratitude of the servants. Indeed, the ability to recognize the master’s trust produces gratitude, and gratitude propels the servants to do their best.

One probable reason that the servant becomes lazy is that he fails to recognize his master’s trust and focuses on the smallness of his talent. Ironically, one talent is still a huge amount of wealth! Thus, instead of gratitude, envy creeps in, and laziness prevails. We also notice that the servant is not losing the talent, but he still receives the punishment. Though the talent is not missing, the trust of the master has been lost. And when this trust’s lost, everything is lost.

Learning from this parable, we are called to have that ability to recognize God’s “trust” and love in us. Different talents we have are just a simple manifestation of this love. Slaves as we are, we do not deserve anything from God, but God has given us superabundantly. From this realization, only gratitude shall naturally flow. But, if we miss the point, we may fall into many other sins: envy, anger, slander, or simply laziness. Again, it is not about the talents we have, but the trust and love God has in us.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Di Balik Talenta

Minggu ke-33 di Masa Biasa

15 November 2020

Matius 25: 14-30

Sejatinya talenta bukanlah bakat atau kemampuan yang diberikan Tuhan, tetapi sebuah unit bobot dan nilai, biasanya dari emas dan perak. Mudahnya, talenta adalah jumlah uang yang sangat besar. Satu talenta setara dengan sekitar enam ribu dinar. Jika satu dinar adalah upah kerja satu hari, satu talenta berarti enam ribu hari kerja atau sekitar tujuh belas hingga dua puluh tahun kerja.

Untuk mencari makna dari perumpamaan ini, kita perlu menemukan bagian dari cerita yang mengejutkan. Kali ini, saya ingin mengajak kita semua fokus pada tuan para hamba ini. Tuannya memberikan total 8 talenta kepada hamba-hambanya [secara harfiah adalah budak]. Jika kita berhenti sejenak, kita mulai menyadari betapa fantastisnya jumlah uang yang mereka terima. Tindakan memberi mengandaikan salah satu dari dua hal: entah sang tuan adalah orang yang sangat kaya sehingga dia tidak benar-benar peduli dengan talenta-talenta ini, atau dia sangat murah hati dan percaya kepada para hambanya. Saya percaya dia adalah orang yang murah hati dan percaya kepada hambanya.

Mempercayakan talenta ini memiliki risiko besar. Salah satu kemungkinannya adalah bahwa para hamba bisa gagal dalam usaha mereka dan dengan demikian, tuannya bisa kehilangan uangnya. Kemungkinan lain adalah para hamba bisa saja kabur dengan membawa talenta, dan dengan demikian, tuannya bisa kehilangan uang dan para hambanya. Namun, terlepas dari kemungkinan sangat buruk ini, sang tuan teguh dalam keputusannya. Dia mempercayai para hambanya, dan kepercayaannya berbuah. Kecuali untuk hambanya yang malas, sang tuan mendapat dua kali lipat!

Dari sini, kita mendapat pelajaran berharga. Cara terbaik untuk mengembangkan talenta kita adalah dengan membagikannya kepada orang lain. Cara yang biasa untuk mengembangkan talenta kita adalah dengan menggunakannya. Namun, metode ini tidak membawa kita pertumbuhan eksponensial. Namun, dengan berbagi talenta, kemungkinan untuk berkembang tidak terbayangkan. Lebih dari itu, perumpamaan ini bukan hanya tentang talenta, tetapi tentang hubungan antara tuan dan hambanya, tentang kepercayaan dan kasih sang tuan dan rasa syukur para hamba. Memang, kemampuan untuk melihat kepercayaan sang tuan akan menghasilkan rasa syukur, dan rasa syukur mendorong para hamba untuk melakukan yang terbaik.

Salah satu kemungkinan alasan hamba menjadi malas adalah karena dia gagal mengenali kepercayaan tuannya dan berfokus pada kecilnya talenta yang ia terima. Ironisnya, satu talenta masih merupakan kekayaan yang sangat besar! Jadi, alih-alih bersyukur, iri hati menghancurkan jiwanya dan kemalasanlah yang menang. Kita juga memperhatikan bahwa hamba ketiga tidak kehilangan talenta, tetapi dia masih menerima hukuman. Meskipun talentanya tidak hilang, kepercayaan tuannya telah hilang. Dan saat kepercayaan ini hilang, semuanya akan hilang.

Belajar dari perumpamaan ini, kita dipanggil untuk memiliki kemampuan untuk mengenali kepercayaan dan kasih Tuhan kepada kita. Berbagai talenta yang kita miliki hanyalah perwujudan sederhana dari kasih ini. Sebagai hamba kita, kita tidak pantas mendapatkan apa pun dari Tuhan, tetapi Tuhan telah memberi kita secara berlebihan. Dari kesadaran ini, hanya rasa syukur yang mengalir dengan sendirinya. Tetapi, jika kita tidak bisa melihat hal ini, kita mungkin jatuh ke dalam banyak dosa lain: iri hati, kemarahan, fitnah, atau sekadar kemalasan. Sekali lagi, ini bukan tentang talenta yang kita miliki, tetapi kepercayaan dan kemurahan yang Tuhan berikan kepada kita.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Foolish Virgins

32nd Sunday in Ordinary Time

November 8, 2020

Matthew 25:1-13

A wedding ceremony is one of the most beautiful events in many cultures and societies. This includes the Jewish community in the first century AD Palestine. For the Hebrew people living in the time of Jesus, the wedding ceremony has two stages. The first one is the exchange of vows or betrothal. The couple is officially married, and they are recognized as husband and wife in the eyes of the Jewish community. Yet, they are going to wait for around one year before they are living together. The husband will prepare for the house as well as the reception celebration that may last for seven days.

The second stage is the wedding party. It begins with the groom fetch the bride from her ancestral house, and bring her to his home with a procession of dance and music. Since the procession usually takes place in the evening, fire and torches are indispensable. The ten virgins are part of the wedding ceremony which we may call today as the bridesmaids. They may be some of the close friends of the bride and even relatives of the couples. They are stationed not far from the wedding place to welcome the married couple. Since there is no internet and GPS, the ten virgins may not be able to locate precisely where the procession is, but they are expected to be ready.

It is interesting to see the attitude of the five foolish virgins. In Greek, the virgins are called as “moros” where we get the English word moron. It is undoubtedly a harsh word. Jesus applies the same word after His sermon on the Mount and points to people who listen to His preaching without practising them, “like a foolish man who built his house on sand [Mat 7:26].” Yet, if we observe, what we see that the virgins are doing foolish things. Not only they fail to prepare for the unexpected arrival of the groom, but they also look for the oil in the middle of the night. They are not living in the modern era where we can easily purchase it at the 24-hour convenient stores. The merchants are expectedly unavailable, and we can imagine how they rushingly search the vendors, and frantically knock their doors. This may cause unnecessary inconveniences and bring absolute shame to the couples. This may be the reason also why the wedding’s host refuses to admit these five foolish virgins.

This parable of Jesus gives us a potent reminder not to become foolish in living our lives as Christians. We are given a particular role and mission in our lives. Some of us are called to be married couples and parents.  Some of us are serving as priests or religious men and women. Some of us are teachers of the faith; some of us are leaders of the community, and others are servants. In whatever role we are, Jesus asks us to be wise in doing our ministries and demands us not to do foolish things as to scandalize others or even cause others unnecessary suffering.

If we, as Christians, act foolishly, we bring shame, not only to ourselves but Christ Himself. But, if we think and produce wise deeds, we bring glory to the Lord, and more people will praise our God.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kebodohan

Minggu ke-32 di Masa Biasa

8 November 2020

Matius 25: 1-13

Upacara pernikahan adalah salah satu acara terindah di banyak budaya dan masyarakat. Ini termasuk di masyarakat Yahudi di Palestina abad pertama Masehi. Bagi orang Ibrani yang hidup pada zaman Yesus tersebut, upacara pernikahan memiliki dua tahap. Yang pertama adalah pertukaran janji. Pasangan tersebut sudah menikah secara resmi, dan mereka diakui sebagai suami dan istri di mata komunitas Yahudi. Namun, mereka akan menunggu sekitar satu tahun sebelum mereka bisa hidup bersama. Sang suami akan mempersiapkan rumah mereka serta perayaan pesta nikah yang mungkin berlangsung selama 7 hari lamanya.

Tahap kedua adalah pesta pernikahan. Ini dimulai dengan pengantin pria menjemput sang istri dari rumah keluarganya, dan membawanya ke rumahnya dengan prosesi tarian dan musik. Karena prosesi biasanya berlangsung pada malam hari, api dan obor sangat diperlukan. Sepuluh gadis ini adalah mungkin beberapa teman dekat dari pengantin wanita dan bahkan kerabat dari pasangan tersebut. Mereka ditempatkan tidak jauh dari tempat pernikahan untuk menyambut pasangan suami istri tersebut. Karena tidak ada internet dan GPS, kesepuluh perawan mungkin tidak dapat mengetahui posisi prosesi tersebut dengan tepat, tetapi mereka diharapkan siap kapanpun pasangan ini datang.

Mari kita perhatikan sikap dari lima gadis yang bodoh ini. Dalam bahasa Yunani, kelima gadis ini disebut “moros” di mana kita mendapatkan kata dalam bahasa Inggris “moron”. Itu pasti kata yang keras. Namun, jika kita amati dengan seksama, apa yang dilakukan perawan ini sungguh bodoh dan ceroboh. Bukan hanya gagal mempersiapkan kedatangan pengantin, mereka juga mencari minyak di tengah malam. Mereka tidak hidup di era modern di mana kita dapat dengan mudah membeli barang-barang di toko seperti indomart atau alfamart. Kita bisa membayangkan bagaimana mereka dengan tergesa-gesa mencari pedagang, dan dengan panik mengetuk pintu toko atau rumah mereka. Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan bahkan kegaduhan yang tidak perlu dan menimbulkan rasa malu bagi sang pasangan. Ini mungkin juga menjadi alasan mengapa tuan rumah menolak untuk menerima lima gadis bodoh ini.

Perumpamaan Yesus ini memberi kita peringatan yang kuat untuk tidak menjadi bodoh dalam menjalani hidup kita sebagai orang Kristiani. Kita diberi peran dan misi tertentu dalam hidup kita. Beberapa dari kita dipanggil untuk menjadi pasangan suami-istri dan orang tua, dan beberapa dari kita melayani sebagai imam atau rohaniawan seperti para suster. Beberapa dari kita adalah pendidik iman, beberapa dari kita adalah pemimpin komunitas dan yang lainnya terlibat dalam berbagai pelayanan. Dalam peran apapun kita miliki, Yesus meminta kita untuk bijak dalam melakukan hidup dan pelayanan kita, dan menuntut kita untuk tidak melakukan hal-hal bodoh dan bahkan menyebabkan penderitaan yang tidak perlu bagi orang lain.

Jika kita, sebagai orang Kristiani, bertindak bodoh, kita tidak hanya mempermalukan diri kita sendiri, tetapi juga Kristus sendiri. Tapi, jika kita menghasilkan perbuatan bijak, kita membawa kemuliaan bagi Tuhan, dan lebih banyak orang akan memuji Tuhan kita.

St. Josemaria Escriva pernah berkata, “wajah murung, tidak sopan, tampil konyol, tidak ramah. Itukah caramu berharap untuk mengispirasi orang lain untuk mengikuti Kristus?”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Called for Holiness

All Saints’ Day

November 1, 2020

Matthew 5:1-12

Today the Church is celebrating the Solemnity of all saints. This is one of the ancient feasts in the Church that commemorates and honors all holy people who had gone before us and received their eternal reward, God Himself. We may recognize some of them, like St. Ignatius, St. Dominic de Guzman, St. Francis of Assisi, and St. Catharine of Siena, but this is only a tiny fraction of the entire heavenly host. There are countless we are not aware of. The good news is that all of them are praying for us, and who knows, some of our departed beloved have been parts of this holy communion.

Speaking of the saints, the first thing that often pops up in our mind is that these are giants of our faith. Many saints, like the majority of the apostles, are martyrs. They offered their lives for Christ in gruesome ways. Many saints are performing unparalleled miracles. St. Benedict of Nursia was reported to raise a young man killed in an accident during the building of his monastery. Not only miracles, but some saints are also performing unthinkable deeds. A tradition says that St. Anthony of Padua decided to preach to the fish when the heretics refused to listen to him, and the fishes were giving their attention to the preacher of truth. When St. Vincent Ferrer preached, his voice could be heard even as far as 3 KM away. St. Catharine of Siena received the gift of stigmata, the wounds of the crucified Christ. St. Padre Pio of Pietrelcina had the gift to penetrate the depth of human hearts so that people cannot hide anything before him during the confession.

Looking at the lives of the saints, we may wonder, “Is sainthood for me?” I am afraid to die, let alone as martyrs. I do not possess super abilities; not even I can speak with my pets. Worse, I continue to struggle with my sins. Holiness is far from many of us.

However, the truth is all of us are created to become saints. Yes, the purpose of why God created us is to be holy, to be part of heaven, and to share His divine life. In fact, we have only two fundamental options in the final analysis: for God or against God. If we are for God, then our destiny is heaven, and membership in eternal joy is for the saints. Yet, if we refuse to be with God, then we are doomed to hell. Thus, our choice is only two: to be saints or go to hell. Tough choice!

Yet, the saints with marvelous stories are the only tip of the iceberg. The majority of the saints are living a simple yet faithful life. St. Martin de Porres lived his entire life as a simple brother, cleaning and taking care of the convent. St. Therese of Lisieux did not do any extraordinary things during her life, but sincere prayer to the Lord. St. Louis and Azelie Martin, a simple couple yet faithful parents, raised 5 nuns, and one of them is St. Therese. And, Beato Carlo Acutis was young and liked to play Playstation, but he was also recognized as a blessed one. We are called to holiness, and we are designed for heaven. We need to be open to God’s grace to work in us.

All Saints pray for us!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: grant witty

 

Dipanggil Menjadi Orang Kudus

Hari Raya Semua Orang Kudus

1 November 2020

Matius 5: 1-12

Hari ini Gereja merayakan hari raya semua orang kudus. Ini adalah salah satu pesta kuno di Gereja yang memperingati dan menghormati semua orang yang telah berpulang dan menerima pahala kekal mereka, Tuhan Sendiri. Kita mungkin mengenali beberapa dari mereka, seperti St. Dominikus de Guzman, St. Fransiskus dari Assisi, dan St. Catharine dari Siena, dan St. Ignatius, tetapi ini hanya sebagian kecil dari seluruh penghuni surgawi. Kabar baiknya adalah bahwa mereka semua berdoa untuk kita, dan siapa tahu, beberapa dari orang-orang yang kita kasihi yang telah meninggal telah menjadi bagian dari persekutuan kudus ini.

Berbicara tentang orang-orang kudus, hal pertama yang sering muncul di benak kita adalah bahwa mereka adalah para raksasa iman kita. Banyak orang kudus adalah martir. Mereka mempersembahkan hidup mereka untuk Kristus dengan menghadapi kematian yang mengerikan. Banyak orang kudus melakukan mukjizat yang tak tertandingi. St. Benediktus dari Nursia pernah membangkitkan seorang pemuda yang tewas dalam kecelakaan saat membangun biaranya. Tidak hanya mukjizat, beberapa orang kudus juga melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak terpikirkan. Sebuah tradisi mengatakan bahwa Santo Antonius dari Padua memutuskan untuk berkhotbah kepada ikan ketika para bidaah menolak untuk mendengarkannya, dan ikan-ikan itu memberikan perhatian mereka kepada pengkhotbah kebenaran. Ketika St. Vincentius Ferrer berkhotbah, suaranya dapat didengar bahkan sejauh 3 KM. St. Katarina dari Siena menerima karunia stigmata, yakni luka-luka Kristus di salib. St Padre Pio dari Pietrelcina memiliki karunia untuk menembus kedalaman hati manusia, sehingga orang tidak dapat menyembunyikan apapun di hadapannya selama pengakuan dosa.

Melihat kehidupan orang-orang kudus, kita mungkin bertanya-tanya, “Apakah kekudusan ini untuk saya?” Saya takut mati apalagi sebagai martir. Saya tidak memiliki kemampuan super, bahkan saya tidak bisa berbicara dengan hewan peliharaan saya di rumah. Lebih buruk lagi, saya terus bergumul dengan dosa-dosa saya. Sepertinya, kekudusan jauh dari kebanyakan dari kita.

Namun, pada kenyataannya kita semua diciptakan untuk menjadi orang kudus. Ya, tujuan mengapa Tuhan menciptakan kita adalah untuk menjadi kudus, menjadi bagian dari surga, dan untuk berbagi kehidupan ilahi-Nya. Dalam analisis terakhir, kita hanya memiliki dua pilihan mendasar: untuk Tuhan atau melawan Tuhan. Jika kita untuk Tuhan, maka tujuan akhir kita adalah surga, dan keanggotaan dalam sukacita kekal ini adalah untuk orang-orang kudus. Namun, jika kita menolak untuk bersama Tuhan, maka neraka adalah tempat pembuangan akhir kita. Jadi, pilihan kita hanya dua sebenarnya: menjadi orang kudus atau pergi ke neraka. Pilihan yang sulit!

Namun, orang-orang kudus dengan cerita yang luar biasa hanyalah puncak gunung es. Mayoritas orang kudus menjalani kehidupan yang sederhana namun setia. St Martinus de Porres menjalani seluruh hidupnya sebagai seorang bruder yang sederhana, membersihkan dan merawat biara. St Theresia dari Lisieux tidak melakukan hal-hal luar biasa selama hidupnya, tetapi berdoa dengan tulus kepada Tuhan. St. Louis and Azelie Martin, pasangan sederhana, tetapi setia dalam iman, menjadi orang tua dari 5 orang biarawati, St. Theresia dari Lisieux satu di antaranya. Beato Carlo Acutis masih muda dan suka bermain Playstation, tetapi dia bisa menjadi kudus dengan mengikuti misa setiap hari, mengaku dosa seminggu sekali, dan berdoa rosario setiap hari. Kita dipanggil menuju kekudusan, dan kita dirancang untuk surga, kita hanya perlu terbuka pada kasih karunia Tuhan untuk bekerja di dalam kita.

Para kudus di surga, doakanlah kami!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: Lisandro Garcia

The Commandments

30th Sunday of the Ordinary Time [A]

October 25, 2020

Matthew 22:34-50

The question is, “what is the greatest law?” Once again, the historical and religious context is important. When Jesus and the Pharisees discuss the Law, they are speaking about particular Law. It is neither criminal law nor international law. It is the Law of Moses, the Torah, which points to Moses’s five books. According to the tradition of the Rabbis, the Torah contains 613 specific laws. Thus, the Pharisee is questioning Jesus on the most important among 613 commandments.

For the Jewish people, the answer is not difficult and even expected. The most fundamental law among the laws is the Ten Commandments. It is the first set of laws given to Israelites through Moses in Sinai. The traditional belief holds that the Ten Commandments are traditionally by order of importance, meaning the first is the most essential, and the last is the least essential. Therefore, the first among the Ten Commandments is the greatest among the 613. It says, “I am the Lord your God… there is no other God beside me [Exo 20:2-3].”

However, Jesus escapes the expectation and reconstructs His own answer that will be the moral foundation of Christianity. Jesus’ answer is, “You shall love the Lord, your God, with all your heart, with all your soul, and with all your mind…You shall love your neighbor as yourself.” Though the answer is unusual, it remains orthodox because the source is also the Law of Moses. To love the Lord with our all is rooted in the Jewish basic prayer “Shema” [see Deu 6:4-6], and to love our neighbors as ourselves is springing up from the book of Leviticus [19:18]. What Jesus does is He radically changes the orientation of the Law of Moses. Instead of limiting ourselves to the prohibitions of the Ten Commandments, Jesus sets love as its direction. Love is seeking the goodness of the beloved, and love never stops until we are united to our beloved. To obey the 10 Commandments is foundational, but that is the minimum, and Jesus teaches us not to stay at the boundaries but to go beyond till we are united with God and others in God.

Before, I thought the commandment of Jesus was nice and lovely words. I love God by going to the Church every Sunday, especially during Christmas and Easter, and I love others by occasionally helping them or giving a donation to the poor. But I realize something a bit off. Jesus never says, “this is my greatest recommendation or advice.” What Jesus tells us, “This is the greatest commandments!” Law is meant to be obeyed, and here, we are dealing with the biggest laws! To love the Lord with our all is not optional. It is a must, and to love our brothers and sisters is not based on our convenience, but it is a divine obligation. To love God, neither not a part-time job nor to love our neighbors is our pastime. It is either all or nothing. That is Jesus’ greatest commandments.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo: josh Appel

Perintah Terbesar Yesus

Minggu ke-30 di Waktu Biasa [A]

25 Oktober 2020

Matius 22: 34-50

Pertanyaannya adalah “Apakah Hukum yang terutama?” Sekali lagi, untuk mengerti pertanyaan ini konteks historis dan religius sangat penting. Ketika Yesus dan ahli Hukum Taurat membahas tentang Hukum yang terutama, mereka berbicara tentang Hukum Taurat yang paling utama. Hukum Taurat sendiri menunjuk pada lima kitab Musa [Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan] dan sangat banyak peraturan ada di sana. Menurut tradisi para rabi, Taurat berisi 613 hukum. Jadi, orang Farisi sedang menguji Yesus tentang yang paling penting di antara 613 perintah.

Bagi orang-orang yang mengerti Taurat, jawabannya sebenarnya tidak sulit, dan mungkin kita juga sudah tahu jawabannya. Hukum yang paling mendasar di antara hukum-hukum itu adalah Sepuluh Perintah Allah. Ini adalah hukum pertama yang diberikan kepada orang Israel melalui Musa di Gunung Sinai. Sepuluh Perintah Allah sendiri diurutkan berdasarkan tingkat keutamaannya, yang berarti yang pertama adalah yang paling esensial, dan yang terakhir adalah yang tidak terlalu esensial. Oleh karena itu, yang pertama di antara Sepuluh Perintah adalah yang terbesar di antara 613 hukum. Perintah pertama berbunyi, “Akulah Tuhan, Allahmu … tidak ada Allah lain selain Aku [Kel 20: 2-3].”

Namun, Yesus tidak ingin terkurung dari jawaban standar yang sudah ada, dan merekonstruksi jawaban-Nya sendiri yang akan menjadi dasar moral Gereja. Jawaban Yesus adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap pikiranmu … Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Meskipun jawabannya tidak biasa, tetapi tetap ortodoks karena sumbernya juga adalah Hukum Musa. Untuk mengasihi Tuhan dengan segala yang kita miliki, sebenarnya berakar pada doa dasar Yahudi “Shema” [lihat Ulangan 6: 4-6], dan untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri, juga mengalir dari kitab Imamat [19:18]. Apa yang Yesus lakukan adalah Dia secara radikal mengubah orientasi Hukum Musa. Alih-alih membatasi diri pada Sepuluh Perintah yang bersifat larangan, Yesus menetapkan kasih yang proaktif sebagai arahannya. Kasih mencari kebaikan yang dikasihi, dan kasih tidak pernah berhenti sampai kita bersatu dengan yang kita kasihi. Mematuhi 10 Perintah adalah dasar, tapi itu minimum. Yesus mengajarkan kita untuk tidak sekedar memenuhi yang minimum, tetapi untuk aktif memenuhi kehendak Allah sampai kita bersatu dengan Tuhan dan sesama di dalam Tuhan.

Sebelumnya, saya berpikir bahwa perintah Yesus adalah kata-kata yang indah dan imut. Saya mengasihi Tuhan dengan pergi ke Gereja setiap hari Minggu, terutama selama Natal dan Paskah, dan saya mengasihi sesama dengan sesekali membantu mereka atau memberi sumbangan kepada orang miskin. Tapi saya menyadari bahwa Yesus tidak pernah berkata, “ini adalah saran, anjuran atau nasihat terbesar saya.” Apa yang Yesus katakan kepada kita, “Ini adalah perintah yang terutama!” Hukum dimaksudkan untuk ditaati, dan di sini, kita berurusan dengan hukum terbesar! Untuk mengasihi Tuhan dengan segenap diri kita bukanlah pilihan, itu adalah suatu keharusan, dan untuk mengasihi saudara dan saudari kita tidak didasarkan pada kenyamanan kita, tetapi itu adalah kewajiban ilahi. Mengasihi Tuhan itu bukan pekerjaan paruh waktu atau mengasihi sesama kita bukanlah hobi. Ini adalah perintah terbesar Yesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo: Anna Earl