Tough Love

Reflection on the 28th Sunday in Ordinary Time [October 14, 2018] Mark 10:17-30

Jesus, looking at him, loved him and said to him, “You are lacking in one thing. Go…follow me.” (Mk. 10:21)

agape crossWe discover at least three instances in the Bible in which Jesus explicitly expresses that He loves someone. The first instance is that Jesus loves the young rich man who seeks the eternal life (Mrk 10:21). The second is Jesus loves Martha, Mary, and Lazarus (Jn 11:5). The third is Jesus’ love for His disciples, especially His beloved disciple (Jn 13:34).

In these three accounts, Jesus’ love is not simply an emotional kind of affection. It is not the love that causes an adrenalin rush, heart’s palpitation, and an explosion of imagination. It is not fickle love that comes in the morning but dies in the afternoon. The love of Jesus is a love rooted in free will and firm decision. No wonder the Greek word used to describe this love is “agape.” Neither it is “eros,” an emotional and sexual love, nor “philia,” an affection for friends. St. Thomas Aquinas succinctly yet powerfully describes “love” as willing the good of the others. When Jesus loves them, Jesus freely chooses that the good things may happen in their lives even though this means Jesus has to forgo His own goodness and benefits. It is the tough love that entails giving up oneself, sacrifice and even pain. It is the love that thrives even when life has turned sour, and feelings have become bitter.

Going back to the story of the rich young man who asks Jesus on how to inherit the eternal life, he is basically a good guy. He has done a lot of good deeds and been faithful to God and the Law of Moses. Jesus Himself gives him score nine out of ten. Only one thing is still lacking. When Jesus invites the young man to sell what he has, to give them to the poor, and follow Jesus, the man goes away sad. Why? The Evangelist gives us the answer: he has many “ ktemata ,” landed properties. This guy is not ordinarily rich, but super rich. Perhaps, the young man thinks that eternal life is something that can be added to his properties, something that is acquired by doing good and avoiding evil or something that can make him even richer. Yet, this is not eternal life, but a mere shopping in the mall.

Eternal life is a gratuitous gift from God given to those whom He loves. This young man is truly blessed because Jesus loves him. The eternal life is just a step away from this good young man. Yet, though the gift is free, it is never cheap. Jesus wants the young man to follow Him because He wishes to teach the young man how to love like Him. Jesus wants him to will the good of the others, and this begins with selling his precious properties and helping the poor. Here comes again the paradox of love: unless we give ourselves for others, we never have ourselves fully. In the words of St. Francis of Assisi, “For it is in giving that we receive, it is in pardoning that we are pardoned, and it’s in dying that we are born to eternal life.”

I have been in the formation for more than 16 years, more than half of my life. I used to get frustrated because I have done well and fulfilled the requirements, and yet the ordination never comes. However, I realize that I was thinking like the rich young man. I forget that the vocation, as well as ordination, are gifts, not reward. This perspective frees me from my pride and makes me humble and grateful. Jesus loves me, and He loves me tough .

Jesus loves us and yet, it is not an easy and pampering love. It is tough love. It is love that challenges us to grow beyond; it is love that dares us to remain in truth, it is love that propels us to love like Jesus.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

.

Kasih yang Tangguh

Renungan untuk Minggu ke-28 pada Masa Biasa [14 Oktober 2018] Markus 10: 17-30

“Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya…” (Markus 10:21)

agapeKita menemukan setidaknya tiga episode dalam Alkitab di mana Yesus secara eksplisit menyatakan bahwa Dia mengasihi seseorang. Yang pertama adalah Yesus yang mengasihi Marta, Maria, dan Lazarus (Yohanes 11: 5). Yang kedua adalah kasih Yesus bagi murid-murid-Nya (Yohanes 13:34). Yang ketiga dan menjadi fokus kita hari ini adalah Yesus yang mengasihi orang muda kaya yang mencari kehidupan kekal (Mrk 10:21).

Dalam ketiga kisah ini, kasih Yesus bukan sekadar kasih sayang yang emosional. Bukan cinta yang menyebabkan meningkatnya kadar adrenalin dan jantung yang berdebar-debar. Bukan cinta yang yang datang di pagi hari tetapi lenyap di sore hari. Kasih Yesus adalah kasih yang berakar dalam kehendak bebas dan keputusan yang tegas. Kata Yunani yang digunakan untuk menggambarkan kasih ini adalah “agape.” Bukan “eros”, cinta emosional dan seksual, ataupun “philia,” kasih sayang di antara sahabat. St. Thomas Aquinas secara ringkas dan tepat menjelaskan “kasih” sebagai menghendaki yang baik bagi sesama. Ketika Yesus mengasihi mereka, Yesus dengan bebas memilih bahwa hal-hal yang baik dapat terjadi dalam kehidupan mereka meskipun ini berarti Yesus harus melupakan diri-Nya sendiri. Ini adalah cinta kasih yang kuat yang memerlukan pengorbanan diri, komitmen dan bahkan rasa sakit. Ini adalah kasih yang tumbuh subur bahkan ketika hidup semakin hambar dan pahit.

Kembali lagi ke kisah pemuda kaya yang bertanya kepada Yesus tentang bagaimana cara mewarisi kehidupan kekal, pada dasarnya dia adalah pria yang baik. Dia telah melakukan banyak perbuatan baik dan setia kepada Tuhan dan Hukum Musa. Yesus sendiri memberinya nilai sembilan. Hanya satu hal yang masih kurang. Ketika Yesus mengajak pemuda itu untuk menjual apa yang dia miliki, memberikannya kepada orang miskin, dan mengikuti Yesus, sang pemuda pun meninggalkan Yesus dengan sedih. Mengapa? Penginjil memberi kita jawaban: ia memiliki banyak “ktemata,” atau properti. Pemuda ini tidak hanya kaya, tapi super kaya. Mungkin, sang pemuda itu berpikir bahwa kehidupan kekal adalah sesuatu yang dapat ditambahkan ke dalam barang-barang koleksinya, sesuatu yang bisa diperoleh dengan melakukan hal-hal baik dan menghindari kejahatan, atau sesuatu yang dapat membuatnya semakin kaya. Namun, ini bukanlah hidup yang kekal, tetapi hanya shopping di mal.

Kehidupan kekal adalah karunia dari Tuhan yang diberikan kepada mereka yang Dia kasihi. Sang pemuda ini sejatinya sungguh diberkati karena Yesus mengasihi dia. Hidup yang kekal sudah ada dalam jangkauannya. Namun, meskipun karunia itu cuma-cuma, itu tidak berarti murahan. Yesus ingin agar pemuda itu mengikuti Dia karena Dia ingin mengajarkan pria muda itu bagaimana mengasihi. Yesus ingin dia melakukan kebaikan bagi orang lain, dan ini dimulai dengan menjual properti berharganya dan membantu orang miskin. Di sinilah terletak paradoks kasih: kecuali kita memberikan diri kita untuk sesama, kita tidak pernah akan mendapatkan diri kita yang sepenuhnya. Dalam kata-kata Santo Fransiskus dari Asisi, “Karena dalam memberi yang kita menerima, dalam mengampuni, kita diampuni, dan  dalam kematian, kita dilahirkan kembalik dalam hidup yang kekal.”

Saya telah menjalani di formasi selama lebih dari 16 tahun, lebih dari separuh hidup saya! Saya sempat frustrasi karena saya telah memenuhi berbagai persyaratan dengan baik, namun tahbisan tidak kunjung datang. Namun, saya menyadari bahwa saya sebenarnya berpikir seperti orang muda yang kaya. Saya lupa bahwa panggilan, serta tahbisan, adalah karunia, bukan hak atau upah. Perspektif ini membebaskan saya dari keangkuhan dan membuat saya rendah hati dan selalu bersyukur. Yesus mengasihi saya, dan Dia mengasihi saya dengan tegar.

Yesus mengasihi kita namun, ini bukan kasih yang mudah dan memanjakan. Ini kasih yang tangguh dan tegar. Ini adalah kasih yang menantang kita untuk tumbuh; itu adalah kasih yang menantang kita untuk tetap hidup dalam kebenaran, itu adalah kasih yang mendorong kita untuk mengasihi seperti Yesus.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rosary and Family

Reflection on the 27th Sunday in Ordinary Time – Feast of the Holy Rosary [October 7, 2018] Mark 10:2-16

rosaryIf there is one prayer that can change the course of world history, it is the earnest recitation of the holy rosary.  In 1571, through the unceasing prayer of the rosary, a league of Christian nations called by Pope Pius V was able to stop the military advancement of the mighty Ottoman empire to western Europe in the Gulf of Patras, near Lepanto, Greece. In 1917, Our Lady appeared to three little children in Fatima, and one of her messages was to pray the rosary for the peace of the world. Through nation-wide recitation of the rosary, Austria was freed from the communist regime in 1955. In 1960, led by Catholic women marching the streets while praying the rosary, Brazil was also spared from communism.

For the Catholics in the Philippines, the recitation of the rosary has conquered the impossible. In 1646, the Dutch armada attempted to take over the Philippines from the weakened Spanish authority. With only three modified galleons, the combined Spanish and Filipino forces defended the country from Dutch warships in a series of sea battles. The eyewitness narrated how the soldiers prayed the rosary while the battle was being waged. The miracle took place. The three galleons were practically unharmed, while the enemy’s ships either were sunk or sustained heavy damages. The miracle was attributed to the intercession of Our Lady of the Rosary, La Naval de Manila. The rosary is believed to have made the People Power revolution in 1986 a peaceful event.

These are several among many historical events in which the recitation of the rosary has played a significant role in the lives of nations. However, the praying of the rosary does not only affect the nations but more meaningfully the lives of ordinary people and families.

Today’s Gospel speaks about the sanctity of marriage and family. In marriage, husband and wife promise each other something that they cannot fulfill, namely perfect happiness. We are imperfect creatures and wounded by sin, and it is just beyond our natural ability to achieve our genuine happiness. Left to our own strength, we are bound to fail or face meaninglessness. We are emotionally unstable, we want things for ourselves, and we just hurting each other. No wonder Bishop Fulton Sheen once said, “Marriage is not difficult. It is just humanly impossible.”

Jesus reminds us that man and woman are created for each other to be “one flesh,” and immediately Jesus teaches, “what God has joined together, no human being must separate.”  We often forget that the one who unites man and woman is God Himself. Marriage and family are primarily the work of God, not just human beings. God wants a true joy for us, and this can be achieved by the paradox of love. It is not by accumulating things for ourselves but giving up ourselves totally to others. Marriage becomes one way that God designs to achieve this self-giving. Husband gives himself totally to his wife, and the wife gives herself wholly to her husband. As they are losing themselves, they gain everything they cannot humanly gain, namely genuine self-growth, meaningful life, and true happiness. Thus, prayer together turns out to be an unassuming yet powerful way to remind the couples of this God’s work in their midst.

Fr. Patrick Payton once said, “A family that prays together stays together.” As the founder of Family Rosary Crusade, the prayer he means in this classic line is no other than the recitation of the rosary. At first, it sounds cliché, but on a personal note, I can say it is indeed a powerful prayer for the family. I still could remember how my parents taught me the rosary, and it was within the context of family and community prayer. I do believe that my family has survived a lot of storms because we do not forget to pray together. I also believe countless families, and communities have conquered the difficulties and challenges because they have prayed the rosary faithfully.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rosario dan Keluarga

Renungan untuk Minggu ke-27 dalam Masa Biasa – Pesta Bunda Rosario [7 Oktober 2018] Markus 10: 2-16

teaching rosaryJika ada satu doa yang mampu mengubah jalannya sejarah dunia, itu adalah pendarasan rosario. Pada 1571, melalui doa rosario tanpa henti, liga negara-negara Katolik yang dipanggil oleh Paus Pius V mampu menghentikan kemajuan militer dari kerajaan Ottoman ke Eropa Barat di perang Lepanto, dekat Yunani. Pada tahun 1917, Bunda Maria menampakkan diri kepada tiga anak kecil di Fatima, dan salah satu pesannya adalah berdoa rosario untuk kedamaian dunia. Melalui pendarasaan rosario secara nasional, Austria terbebas dari rezim komunis pada tahun 1955. Pada tahun 1960, dipimpin oleh wanita-wanita Katolik yang turun ke jalan sambil berdoa rosario, Brasil juga terhindar dari komunisme.

Bagi umat Katolik di Filipina, pendarasan rosario telah menaklukkan hal-hal yang mustahil. Pada 1646, pasukan Belanda yang datang dari Hindi Belanda berusaha mengambil alih Filipina dari otoritas Spanyol yang lemah. Dengan hanya galleon [kapal dagang], pasukan gabungan Spanyol dan Filipina menghadapi  kapal-kapal perang Belanda dalam serangkaian pertempuran laut. Saksi mata menceritakan bagaimana para prajurit berdoa rosario saat pertempuran berlangsung. Mujizat pun terjadi. Ketiga galleon praktis tidak mengalami kerusakan berarti, sementara kapal-kapal musuh tenggelam atau rusak berat. Mujizat ini terjadi karena perantaraan Bunda Maria Rosario, La Naval de Manila. Rosario diyakini juga menjadikan revolusi “People Power” pada tahun 1986 sebagai peristiwa yang berhasil dan damai.

Ini adalah beberapa dari banyak peristiwa sejarah di mana pendarasan rosario telah memainkan peran penting dalam kehidupan bangsa-bangsa. Namun, berdoa rosario tidak hanya mempengaruhi bangsa tetapi lebih berarti kehidupan orang biasa dan keluarga.

Injil hari ini berbicara tentang kekudusan pernikahan dan keluarga. Dalam pernikahan, suami dan istri saling berjanji memberi sesuatu yang tidak dapat mereka penuhi, yaitu kebahagiaan sempurna. Kita adalah makhluk yang tidak sempurna dan terluka oleh dosa, dan di luar kemampuan alami kita untuk mencapai kebahagiaan sejati. Berpegang pada kekuatan kita sendiri, kita pasti gagal atau kehilangan makna. Secara emosional kita tidak stabil, kita menginginkan hal-hal untuk diri kita sendiri, dan kita saling menyakiti. Tidak heran, Uskup Fulton Sheen pernah berkata, “Pernikahan tidaklah sulit, hanya saja mustahil secara manusiawi. ”

Yesus mengingatkan kita bahwa pria dan wanita diciptakan untuk satu sama lain untuk menjadi “satu daging,” dan segera Yesus mengajarkan, “apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kita sering lupa bahwa yang menyatukan pria dan wanita adalah Allah Sendiri. Pernikahan dan keluarga adalah karya Allah, bukan hanya manusia. Tuhan menginginkan sukacita sejati bagi kita, dan ini dapat dicapai dengan paradoks kasih. Bukan dengan mengumpulkan hal-hal untuk diri sendiri tetapi menyerahkan diri sepenuhnya kepada sesama. Pernikahan menjadi salah satu cara yang Tuhan rancang untuk mencapai pemberian diri ini. Suami memberikan dirinya sepenuhnya kepada istrinya, dan sang istri menyerahkan dirinya seutuhnya kepada suaminya. Ketika mereka kehilangan diri, mereka mendapatkan segala yang tidak bisa mereka dapatkan secara manusiawi, yakni pertumbuhan yang otentik, kehidupan yang bermakna, dan kebahagiaan sejati. Dengan demikian, doa bersama menjadi cara yang sederhana namun berdaya untuk mengingatkan para suami-istri akan karya Allah ini di tengah-tengah mereka.

Romo Patrick Payton pernah berkata, “Keluarga yang berdoa bersama tetap bersama.” Doa yang dia maksudkan tidak lain adalah pendarasan rosario. Pada awalnya, kedengarannya hal ini biasa-biasa saja, tetapi saya dapat mengatakan ini memang doa yang kuat bagi keluarga. Saya masih ingat bagaimana orang tua saya mengajari saya rosario, dan itu dalam konteks doa keluarga dan komunitas lingkungan. Saya percaya bahwa keluarga saya selamat dari banyak badai karena kami tidak lupa untuk berdoa bersama. Saya juga percaya banyak keluarga-keluarga, dan komunitas telah menaklukkan kesulitan dan tantangan karena mereka telah berdoa rosario dengan setia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Amputation

Reflection on the 26th Sunday in Ordinary Time [September 30, 2018] Mark 9:36-43, 45, 47-48

“If your hand causes you to sin, cut it off.  (Mk. 9:43 )”

confessionWhen I was assigned to the hospital to serve as a chaplain, I witnessed the rise of diabetic cases as well as its terrifying effects on the patients. In simple term, diabetes is a condition in a person who can no longer naturally manage their blood sugar. In more serious cases, the body loses its natural ability to heal its wounds. In the beginning, it was a small open wound, yet since the body no longer heals, the infections set in, and this leads into gangrene or the death of the body’s tissues. I accompanied some patients who were struggling with this situation and witnessed how their fingers or even foot were darkened and deformed. When the ordinary treatment no longer worked, the amputation became the only merciful option as to prevent the spread of infections. As a chaplain, accompanying these patients was one of my toughest missions in the hospital.

In today’s Gospel, Jesus’ words are pretty harsh, if not violent. He wants the one who causes the believers to sin to be thrown into the sea. He wants hands and feet cut, and eyes plugged. He even describes Gehenna in more vivid details, “where their worm does not die, and the fire is not quenched.” The image of Jesus seems to be far different from Jesus who is gentle and merciful. What is going on? Is Jesus promoting violence? Is Jesus a schizophrenic or having a split personality?

Jesus is perfectly sane. Yet, he becomes passionate because he is teaching a serious matter with a grave consequence. This is none other than sin. Jesus knows well that sin corrupts, and like growing roots, it corrupts to every side. Sin destroys our souls, our neighbors, our environment and even our holy relationship with God. What more sinister about sin is that deforms our conscience and makes us believe that we are just doing fine. In his book ‘The Name of God is Mercy, Pope Francis speaks of the effect of sinful corruption, “Corruption is not an act but a condition, a personal and social state we become accustomed to living in… The corrupt man always has the cheek to say, ‘It wasn’t me!”…He is the one who goes to Mass every Sunday but has no problem using his powerful position to demand kickbacks…then he boasts to his friends about his cunning ways.”

Like in the case of a person struggling with diabetes and having gangrene in his finger, it is better for him to amputate the affected finger as to prevent the spreading of infection, and thus, save his other organs, and life. So it is with sin. Jesus commands us to “amputate” those areas in our lives that are corrupted by sin, as to save our souls. But, this is not easy. Like some of the patients I ministered to, they refuse to give up the precious parts of their bodies. They deny, get angry and frustrated, and try to bargain with the doctors to avoid amputation. With the same mentality, we often deny that we nurture our vices. We get angry when people correct us and reveal us our sins. We also bargain with the Lord to keep our favorite sins and tell Him that we are going to be better in other aspects of our lives. However, these do not work. A radical “amputation” is necessary to save our ailing souls.

The good news, however, is that unlike the body which will never regain the lost limbs, our souls will, in fact, grow even holier after the “amputation.” The relationship between others will be purified, our attitude towards the environment will be filled with care and mercy, and our love for God will be deepened.

What are our sinful attitudes that harm ourselves, others and the environment ? Are we humble enough to receive corrections? Are we courageous enough to acknowledge them as sins? Do we ask God’s grace to prepare us for the sacrament of confession?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Amputasi

Renungan pada Minggu ke-26 pada Masa Biasa [30 September 2018] Markus 9: 36-43, 45, 47-48

“Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah. (Mk. 9:43) ”

francis hearing confessionKetika saya bertugas pelayanan di rumah sakit di Manila, saya menyadari bahwa kasus diabetes berkembang secara pesat, dan juga efeknya yang menakutkan bagi para pasien. Secara sederhana, diabetes adalah suatu kondisi pada seseorang yang tidak lagi dapat secara alami mengelola gula darahnya. Dalam kasus yang lebih serius, tubuh kehilangan kemampuan alami untuk menyembuhkan luka-lukanya. Pada awalnya adalah luka yang kecil, namun karena tubuh tidak lagi bisa meyembuhkan, infeksi-infeksi pun berkembang, dan ini mengarah pada gangren atau kematian jaringan-jaringan tubuh. Saya menemani beberapa pasien yang bergulat dengan situasi ini, dan menyaksikan bagaimana jari atau bahkan kaki mereka menghitam dan berubah bentuk. Ketika pengobatan biasa tidak lagi bekerja, amputasi menjadi satu-satunya pilihan untuk mencegah penyebaran infeksi. Sebagai seorang frater yang bertugas di rumah sakit, mendampingi pasien-pasien ini adalah salah satu misi terberat saya di rumah sakit.

Dalam Injil hari ini, kata-kata Yesus sangat keras. Dia ingin orang yang menyebabkan orang lain berbuat dosa, dibuang ke laut. Dia ingin tangan dan kaki dipotong, dan mata tercungkil. Dia bahkan menggambarkan Gehenna dengan detail yang lebih jelas, “di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam (Mk. 9:48).” Yesus kali ini tampaknya jauh berbeda dengan Yesus yang lembut dan penuh belas kasihan. Apa yang sedang terjadi? Apakah Yesus mempromosikan kekerasan? Apakah Yesus seorang penderita skizofrenia atau memiliki kepribadian ganda?

Tidak ada yang salah dengan Yesus. Namun, dia menjadi penuh semangat karena dia mengajar tentang hal yang serius dengan konsekuensi sangat berat. Ini tidak lain adalah dosa. Yesus tahu benar bahwa dosa merusak, dan seperti akar yang tumbuh, dosa merusak ke segala sisi. Dosa menghancurkan jiwa kita, sesama kita, lingkungan kita dan bahkan hubungan kudus kita dengan Tuhan. Apa yang lebih menyeramkan tentang dosa adalah dosa merusak hati nurani kita dan membuat kita percaya bahwa kita tidak melakukan sesuatu yang salah. Dalam bukunya ‘The Name of God is Mercy, Paus Fransiskus berbicara tentang efek dari korupsi dosa, “Korupsi jiwa bukanlah suatu tindakan tetapi suatu kondisi, keadaan pribadi dan sosial yang menjadi kebiasaan hidup… Orang yang korup selalu memiliki muka untuk mengatakan, ‘Bukan aku!’ … Dia adalah orang yang pergi ke Misa setiap Minggu tetapi tidak memiliki masalah menggunakan posisinya yang kuat untuk meminta suap … lalu dia memamerkan kepada teman-temannya tentang cara-cara liciknya tersebut.”

Seperti dalam kasus orang yang bergulat dengan diabetes dan memiliki gangren di jarinya, lebih baik baginya untuk mengamputasi jari untuk mencegah penyebaran infeksi, dan dengan demikian, menyelamatkan organ lain, dan hidupnya. Demikian juga dengan dosa. Yesus memerintahkan kita untuk “mengamputasi” area-area dalam hidup kita yang dirusak oleh dosa, untuk menyelamatkan jiwa kita. Tapi, ini tidak mudah. Seperti beberapa pasien yang saya layani, mereka menolak menyerahkan bagian-bagian berharga dari tubuh mereka. Mereka menolak, marah dan frustrasi, dan mencoba tawar-menawar dengan dokter untuk menghindari amputasi. Dengan mentalitas yang sama, kita sering menyangkal bahwa kita memelihara sifat buruk kita. Kita menjadi marah ketika orang mengoreksi kita dan mengungkapkan dosa-dosa kita. Kita juga tawar-menawar dengan Tuhan untuk tetap menyimpan dosa-dosa favorit kita, dan mengatakan kepada-Nya bahwa kita akan menjadi lebih baik dalam aspek-aspek lain dari kehidupan kita. Namun, ini tidak akan pernah berhasil. “Amputasi” radikal diperlukan untuk menyelamatkan jiwa kita yang sakit.

Namun, kabar baiknya adalah bahwa jiwa kita tidak seperti tubuh yang tidak akan mendapatkan kembali anggota badan yang hilang, jiwa kita bahkan akan tumbuh bahkan lebih kudus setelah “amputasi”. Hubungan antara orang lain akan dimurnikan, sikap kita terhadap lingkungan akan dipenuhi dengan perhatian dan belas kasihan, dan cinta kita kepada Tuhan akan diperdalam.

Apa dosa-dosa kita yang merugikan diri kita sendiri, orang lain dan lingkungan? Apakah kita cukup rendah hati untuk menerima koreksi? Apakah kita cukup berani untuk mengakui dosa-dosa kita? Apakah kita meminta rahmat Tuhan untuk mempersiapkan kita untuk sakramen pengakuan dosa?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

True Greatness

Reflection on the 25th Sunday in Ordinary Time [September 23, 2018] Mark 9:30-37

“Whoever wants to be first must be last of all and servant of all.” (Mk. 9:35)

ordination 1While I was reflecting on this Sunday’s Gospel, I was able to discover some news about our Church. Good News! The Catholic Church in the Philippines is preparing herself for the 500 years of the arrival of Christianity in this archipelago. The first baptism and Eucharist were taking place in 1521 as the Spanish missionaries began their evangelization mission. As part of this grand preparation, the Bishops of the Philippines have decided to celebrate this year as the year of the clergy and the consecrated persons. The major theme of this year is the renewed servant-leaders for the new evangelization. In view of this, many programs and activities are organized to help both the ordained ministers and the religious brothers and sisters to deepen their commitment to God and their service to the people.

Not so good news. It is also true, however, that today the Church is also facing a deep crisis. In many countries and places, the clergy, as well as the religious persons, are caught in scandals and shameful things. One among the worst is the sexual abuses involving the minors done by priests and even bishops, and the massive cover-up staged to tolerate this structural evil. Yet, this is not the only thing that plagues the Church. Some ordained ministers are dishonest and having double-standard lives. Some are secretly enriching themselves. Others may not commit any scandal, but are lacking in compassion and enthusiasm in serving the people of God. Many stories are circulating of priests refusing to hear confession or anointing the dying because they like to prioritize their scheduled hobbies or religious persons who are grumpy and easily irritated with others. These attitudes simply drive people away from the Church. The rest of us perhaps are just nothing but mediocre clergy or religious. This reminds me of Pope Francis who points that holiness as opposed to ‘bland and mediocre existence.’

Our Gospel narrates Jesus who in private teaches the disciples, who will be the first and models of Church’s leaders. The Gospel itself can be divided into two parts. The first part speaks of Jesus foretelling his impending suffering and death in Jerusalem. Here, reacting to Jesus’ words, the disciples drop silence. Perhaps, the memory of Jesus scolding Peter and calling him “Satan” is still fresh in the mind of the disciples and nobody wants to repeat the same embarrassment. The second part of the Gospel tells us of the topic of greatness. This time, the disciples have a different reaction. Not only do they initiate the discussion, but they are also passionately arguing among themselves. We can imagine Peter boasting himself as the leader among the apostles, or John telling everyone that he is the closest to Jesus, or Matthew being proud of his richness. After all, these are our first Pope and first bishops. Yet, when Jesus asks them, they once again fall silent.

The apostles seem to forget that Jesus’ disciples have to carry their cross and follow Jesus to Jerusalem. Jesus, however, understands that human desire for excellence is a gift from God. Jesus does not forbid His apostles to have dreams and strive for greatness, but He makes a radical twist. He directs this powerful energy from achieving one selfish interests into serving others. Thus, Jesus’ unforgettable line: “Whoever wants to be first must be last of all and servant of all.” (Mk. 9:35) Indeed, they need to excel, but not any worldly measures, but in serving and empowering others. In his exhortation, Gaudete et Exsultate, Pope Francis calls this “the Logic of the Cross.” True happiness is a paradox. If the clergy, the religious and all of us want to be genuinely happy, then it is not so much on the wealth and success we have gained, but from our service and sacrifice for others.

We continue to pray for our priests and bishops, as well as our religious brother and sisters. We pray not only that they may avoid scandals, but they may be holy. As Pope Benedict XVI puts it, “holiness is nothing other than charity lived to the full.”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kekudusan dalam Keagungan

Renungan untuk Minggu ke-25 dalam Masa Biasa [22 September 2018] Markus 9: 30-37

“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Mrk. 9:35)

ordination 2Ketika saya merenungkan Injil hari Minggu ini, saya membaca beberapa berita tentang Gereja. Ada Kabar baik. Gereja Katolik di Filipina mempersiapkan diri untuk perayaan 500 tahun kedatangan iman Kristiani di negara ini. Baptisan dan Ekaristi pertama terjadi pada tahun 1521 sewaktu para misionaris Spanyol memulai misi evangelisasi mereka. Sebagai bagian dari persiapan besar ini, para Uskup Filipina memutuskan untuk merayakan tahun ini sebagai tahun para klerus [daikon, imam, dan uskup] dan rohaniwan. Dengan demikian, banyak program dan kegiatan diselenggarakan di berbagai keuskupan di Filipina untuk membantu para klerus dan biarawan untuk memperdalam komitmen mereka pada Allah dan pelayanan mereka kepada umat dan bangsa.

Tetapi, ada juga berita yang tidak begitu baik. Saat ini, Gereja juga menghadapi krisis yang mendalam. Di banyak negara dan tempat, para klerus dan biarawan, terlibat dalam skandal dan hal-hal yang memalukan. Salah satu yang terburuk adalah pelecehan seksual yang melibatkan anak di bawah umur yang dilakukan oleh beberapa imam dan bahkan uskup, dan ada usaha untuk menutup-nutupi hal ini sehingga kejahatan struktural ini berkembang subur. Namun, ini bukan satu-satunya hal yang mengganggu Gereja. Beberapa klerus tidak jujur ​​dan memiliki kehidupan ganda. Beberapa diam-diam memperkaya diri mereka sendiri. Beberapa mungkin tidak melakukan skandal apa pun, tetapi kurang berbelas kasih dan tidak miliki semangat dalam melayani umat Allah. Banyak cerita yang beredar tentang pastor yang menolak untuk mendengar pengakuan dosa atau mengurapi orang yang sakit karena mereka memprioritaskan hobi mereka atau para biarawan yang gampang marah terhadap orang lain. Sikap-sikap ini hanya membuat umat menjauh dari Gereja.

Injil kita Minggu ini berkisah tentang Yesus yang mengajar para murid, yang kemudian akan menjadi pemimpin Gereja perdana. Injil ini sendiri dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berbicara tentang Yesus menubuatkan penderitaan dan kematian yang akan datang di Yerusalem. Di sini, para murid hanya terdiam. Mungkin, memori akan Yesus yang menegur Petrus dan memanggilnya “Setan” masih segar di pikiran para murid dan tidak ada yang ingin mengulangi peristiwa pemalukan yang sama. Bagian kedua dari Injil berbicara tentang tema kebesaran dan kepemimpinan. Kali ini, para murid memiliki reaksi yang berbeda. Tidak hanya mereka yang memulai diskusi, tetapi mereka juga dengan penuh semangat berdebat di antara mereka sendiri. Kita dapat membayangkan Petrus membanggakan dirinya sebagai pemimpin di antara para rasul, atau Yohanes mengatakan kepada semua orang bahwa ia adalah yang paling dekat dengan Yesus, atau Matius bangga akan kekayaannya. Bagaimanapun, mereka adalah Paus pertama dan para uskup pertama kita. Namun, ketika Yesus bertanya kepada mereka, mereka sekali lagi terdiam.

Para rasul sepertinya lupa bahwa murid-murid Yesus yang sejati harus memikul salib mereka dan mengikuti Yesus ke Yerusalem. Namun, Yesus memahami bahwa keinginan manusia untuk menjadi yang terbaik adalah karunia dari Allah juga. Yesus tidak melarang rasul-rasul-Nya untuk bermimpi dan berusaha untuk mencapai kebesaran, tetapi Dia membuat perubahan radikal. Dia mengarahkan energi yang kuat ini dari sekedar untuk mencapai kepentingan pribadi, berubah menjadi untuk melayani orang lain. Lalu, Yesus pun berkata, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Mrk. 9:35) Memang, mereka perlu menjadi unggul, tetapi tidak dala ukuran duniawi, tetapi dalam melayani dan memberdayakan sesama.

 Dalam dokumen terbarunya, Gaudete et Exsultate, Paus Fransiskus berbiacara tentang “Logika Salib.” Kebahagiaan sejati adalah sebuah paradoks. Jika para klerus, biarawan dan kita semua ingin bahagia, bukanlah kejayaan dan kesuksesan duniawi yang kita kejar, tetapi pelayanan dan pengorbanan kita untuk orang lain.

Kita terus berdoa bagi para imam dan uskup kita, serta para biarawan. Kita berdoa tidak hanya agar mereka dapat menghindari dosa, tetapi mereka mungkin menjadi kudus. Sebagaimana dikatakan Paus Benediktus XVI, “kekudusan tidak lain adalah kasih yang dihidupi sampai penuh.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Half Christ

Reflection on 24th Sunday in Ordinary Time [September 16, 2018] Mark 8:27-35

“Jesus asked them, ‘But who do you say that I am?’ (Mk. 8:29)”

carrying crossSeveral years ago, I gave a talk on the introduction to Christology to a group of young Filipino professionals who wished to deepen their spirituality. The first question I asked them as we commenced the short course was, “Who do you say that Jesus is?” The answers were varied. Some gave a dogmatic formula like Jesus is God, one quoted the Bible saying Jesus is the Word made flesh, one expressed boldly that Jesus is Savior and Lord, and the rest shared personal convictions like Jesus is their closest friend, or Jesus is their Shepherd. All these answers were right, but nobody claimed that Jesus is the Christ. Considering that our subject was Christology, we missed the basic Jesus’ title, in Greek, “Christos,” in Hebrew, “Messiah,” and translated into English, the Anointed One. Fortunately, around two thousand years ago, Simon Peter was able to spell the title when Jesus Himself asked the question.

Going deeper into our Gospel today, we are at chapter 8 of the Gospel of Mark. Since Mark has 16 chapters, we are literally in the middle of this second canonical Gospel. Yet, today’s reading does only happen to be in the middle of the Gospel, but it turns out to be the turning point of the Gospel. In the first eight chapters, Mark narrates Jesus’ ministry in Galilee and some other Gentile regions in the north of Israel. Jesus is doing wonders and teaching with authority. He can draw a lot of people, and some of them will be close followers called His disciples. Meanwhile, the last eight chapters, Jesus begins to journey down south and reaches His destination in Jerusalem. There, He will face his tormentors, and He will meet His passion, death and resurrection.

Peter gets the bulls-eye answer. After all, Peter’s profession is what Mark intends to convey to his readers, “The beginning of the gospel of Jesus Christ (Mk. 1:1).” Unfortunately, when Jesus reveals His suffering and death, it does not sit well with Peter’s idea of the Messiah. Perhaps Peter gets stuck with the concept of a powerful and conquering Christ that will lead Israel into victory.  Jesus has been preaching about the coming of the Kingdom, teaching unforgettable lessons, and performing unmatched miracles. Surely, nothing, not even the great Roman empire could beat this Messiah. However, Peter just desires the first half of the Gospel, and cannot be at peace with the other half of the Gospel. If Peter and other disciples want to accept Jesus fully, then they need to embrace the other half of the Gospel of Jesus Christ as well. Following Jesus does not stop in Galilee where things are just awesome, but it has to go down to Jerusalem, where the persecution and death lurk. Thus, Jesus declares, “Whoever wishes to come after me must deny himself, take up his cross, and follow me. (Mk. 8:34).”

Often we are like Peter. We call ourselves Jesus’ disciples and accept the Gospel of Jesus Christ, but in reality, we just want half of Jesus or parts of the Gospel. We go to the Church and worship God, but we do not want to soil our hands in helping our brothers and sisters in need. Married couples enjoy the benefits of marriage, yet refuse to see children as a gift of God. Religious men and women vow to serve the Lord and His Church, but often, we serve our own interests and desires. No wonder G. K. Chesterton once wrote, “The Christian ideal has not been tried and found wanting. It has been found difficult; and left untried.” As we try to answer Jesus’ question, “Who do you think that I am?”, we are invited to reflect and to accept Jesus and His Gospel, not half, but the whole of Him.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Setengah Kristus

Renungan untuk Minggu ke-24 dalam Masa Biasa [16 September 2018] Markus 8: 27-35

“Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mk. 8:29)

touching the crossBeberapa tahun yang lalu, saya memberikan ceramah pengantar Kristologi bagi sekelompok profesional muda Filipina yang ingin memperdalam spiritualitas mereka. Pertanyaan pertama yang saya tanyakan kepada mereka adalah, “Menurut kamu, siapakah Yesus itu?” Jawabannya beragam. Beberapa memberikan formula dogmatis seperti Yesus adalah Allah, ada yang mengutip Alkitab dan mengatakan Yesus adalah Firman yang menjadi daging, seseorang menyatakan dengan berani bahwa Yesus adalah Juruselamat dan Tuhan, dan sisanya berbagi keyakinan pribadi seperti Yesus adalah sahabat terdekat mereka, atau Yesus adalah Gembala mereka. Semua jawaban ini benar, tetapi tidak ada yang mengklaim bahwa Yesus adalah Kristus. Mempertimbangkan bahwa ceramah kami adalah Kristologi, kami sepertinya lupa akan identitas dasar Yesus, dalam bahasa Yunani, “Christos,” dalam bahasa Ibrani, “Mesias,” yang berarti “Yang Diurapi”. Untungnya, sekitar dua ribu tahun yang lalu, Simon Petrus mampu mengucapkan identitas dasar ini ketika Yesus Sendiri menanyakan pertanyaan ini.

Masuk lebih dalam ke dalam Injil kita hari ini, kita berada di bab 8 Injil Markus. Injil Markus memiliki 16 bab, kita secara harfiah berada di tengah-tengah Injil ini. Namun, bacaan hari ini hanya berada di tengah-tengah Injil, tetapi ternyata menjadi titik balik dari Injil. Delapan bab pertama, Markus menceritakan pelayanan Yesus di Galilea dan beberapa wilayah non Yahudi lainnya di utara Israel. Yesus melakukan mujizat dan mengajar dengan otoritas. Dia dapat menarik banyak orang, dan beberapa dari mereka akan menjadi pengikut dekat yang disebut sebagai murid-murid-Nya. Sedangkan, delapan bab terakhir, Yesus mulai melakukan perjalanan ke selatan dan mencapai tujuan-Nya di Yerusalem. Dia akan menghadapi para penyiksanya di sana dan Dia akan menjalani sengsara, kematian, dan kebangkitan-Nya.

Petrus mendapat jawaban dengan benar. Pengakuan Petrus tidak lain adalah apa yang Markus ingin sampaikan kepada para pembacanya, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah (Mk. 1:1).” Sayangnya, ketika Yesus mengungkapkan bahwa Anak Manusia akan menderita dan wafat, Petrus merasa tidak cocok dengan gagasan tentang Mesias tersebut. Mungkin Petrus terjebak dengan konsep Kristus yang kuat dan dapat memimpin Israel menuju kejayaan. Yesus telah mewartakan tentang kedatangan Kerajaan, mengajar pelajaran yang tak terlupakan, dan melakukan mujizat yang tak tertandingi. Tentunya, kerajaan Romawi yang besar pun tidak mampu mengalahkan Mesias ini. Namun, Petrus hanya menginginkan paruh pertama dari Injil, dan tidak dapat menerima Injil secara keseluruhan. Jika Petrus dan murid-murid lain ingin menerima Yesus sepenuhnya, maka mereka perlu menerima paruh kedua dari Injil Yesus Kristus juga. Mengikuti Yesus tidak berhenti di Galilea di mana hal-hal yang luar biasa terjadi, tetapi harus turun ke Yerusalem, di mana penganiayaan dan kematian mengintai. Dengan demikian, Yesus menyatakan, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Mk. 8:34).”

Seringkali kita seperti Petrus. Kita menyebut diri kita murid Yesus dan menerima Injil Yesus Kristus, tetapi dalam kenyataannya, kita hanya ingin separuh dari Yesus atau bagian dari Injil. Kita pergi ke Gereja dan menyembah Tuhan, tetapi kita tidak ingin membantu saudara-saudari kita yang membutuhkan. Kita aktif di Gereja, tetapi kita tetap saja membawa agenda pribadi dan mendapatkan keuntungan sendiri. Pria dan wanita yang hidup membiara juga tidak terhindar dari godaan ini. Kita berjanji untuk melayani Tuhan dan Gereja-Nya, tetapi seringkali, kita melayani kepentingan dan keinginan kita sendiri. Sewaktu kami mencoba menjawab pertanyaan Yesus, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”, Apakah Yesus kita adalah Yesus yang hanya setengah? Apakah Yesus kita hanya mengambarkan kepentingan-kepentingan pribadi kita? Apakah kita berani mengikuti Yesus secara utuh?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP