Minggu Keempat dalam Masa Biasa [3 Februari 2019] Lukas 4: 21-30
Yesus membandingkan diri-Nya dengan nabi-nabi besar Israel, Elia dan Elisa. Tetapi, siapakah kedua nabi ini? Bagi banyak orang Katolik, kita tidak begitu mengenal kedua tokoh terkemuka ini dalam Perjanjian Lama ini, dan karena itu, kita sering tidak menghargai mengapa Yesus dengan sengaja menyebut nama mereka.
Tujuh ratus tahun sebelum Yesus, kerajaan besar yang didirikan oleh Daud telah terpecah menjadi dua kerajaan yang lebih kecil, yakni Kerajaan Yehuda di selatan, dan Kerajaan Israel di utara. Para pemimpin baik Yehuda maupun Israel sama-sama melanggar perjanjian suci dengan Allah Israel, ketika mereka menyembah berhala-berhala, dan mendirikan kuil-kuil mereka. Tidak hanya dosa penyembahan berhala, para pemimpin Israel juga melakukan ketidakadilan yang besar kepada masyarakat yang lemah. Yang terburuk adalah penyembahan dengan mengorbankan anak kecil dan perbudakan orang miskin.
Di masa yang mengerikan dalam sejarah Israel ini, Allah telah memanggil para nabi. Dengan demikian, para nabi Allah bukanlah orang-orang aneh yang menubuatkan peristiwa masa depan, tetapi mereka adalah juru bicara Allah untuk mengingatkan orang-orang untuk kembali kepada Tuhan dan untuk melakukan keadilan. Seringkali, para nabi Allah juga diberikan kuasa untuk melakukan mukjizat sebagai tanda bahwa mereka benar-benar nabi yang datang dari Allah. Di antara mereka, ada dua nama besar: Elia dan muridnya, Elisa.
Elia adalah seorang nabi yang tak kenal takut yang menghadapi Ahab, raja Israel dan istrinya, Izebel. Salah satu peristiwa terkenal adalah ketika Elia menantang para nabi Baal di Gunung Karmel untuk menurunkan hujan dan membuktikan mereka sebagai palsu (1 Raj 18). Dia juga menegur Ahab yang mengizinkan Izebel membunuh Naboth dan merampas kebun anggurnya (1 Raj 21). Kisah mukjizat lainnya adalah Elia yang menyediakan makanan bagi janda miskin Sarfat, seperti yang disebutkan oleh Yesus dalam Injil (1 Raj 17). Pada akhir pelayanannya, ia mengendarai kereta api yang naik ke langit (2 Raj 2).
Elisa adalah seorang murid dan penerus Elia. Ketika Elia pergi, Elisa meminta “bagian ganda dari roh Elia” dan ini diberikan kepadanya. Jadi, sementara Elia dapat melakukan tujuh mukjizat, Elisa dapat menggandakan jumlahnya, empat belas mukjizat. Di antara mukjizat-mukjizatnya adalah penyembuhan Naaman, komandan tentara Aram (Suriah) tetapi juga penderita kusta (2 Raj 5), dan penggandaan roti (2 Raj 4: 42-44). Namun, terlepas dari nubuat dan mukjizat yang perkasa, orang Israel tidak mengubah hati mereka, dan mereka terus menyembah berhala dan melakukan ketidakadilan.
Seperti Elia dan Elisa, Yesus mewartakan Kerajaan Allah, mengutuk praktik-praktik yang ketidakadilan, dan melakukan mukjizat. Tentunya, Yesus jauh lebih besar daripada Elia dan Elisa. Namun, nasib Yesus tidak jauh berbeda dari Elia, Elisa dan nabi-nabi Israel lainnya: mereka ditolak oleh bangsanya sendiri.
Ketika kita dibaptis, kita diurapi sebagai seorang nabi, dan menjadi nabi tidaklah mudah. Orang tua yang melakukan yang terbaik untuk anak-anak mereka disalahartikan sebagai ‘mengendalikan’ oleh anak-anak mereka sendiri. Guru yang mencoba menanamkan nilai kehidupan dalam belajar dan budaya disiplin, dianggap sebagai ‘teror’. Namun, kadang-kadang, menjadi seorang nabi berarti pengorbanan total. Banyak imam, religius, dan awam bekerja tanpa lelah dan berani di tempat-tempat paling berbahaya di seluruh dunia, melayani yang paling miskin dan lemah. Beberapa dari mereka bahkan akhirnya diculik, disiksa dan dibunuh. Secara khusus, umat paroki Katedral Our Lady of Mount Carmel, Sulu, Filipina yang menjadi korban ketika bom meledak saat perayaan Misa berlangsung. Sangat sulit untuk menjadi seorang nabi, tetapi inilah panggilan dan misi kita untuk mengikuti Elia, Elisa, dan Yesus.
Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The synagogue is the place of prayer for the Jews. On the center during the service in the synagogue is the reading of the Hebrew Bible (or what we call the Old Testament) and the explanation of those readings. In the Gospel, we learn that Jesus stands as the leader of the service. First, He stands and reads the Scriptures, and the chosen portion is from the Prophet Isaiah. Then, He sits down, assuming the position of teacher. The Jews in the synagogue are eager to listen to Jesus. However, there is something different in Jesus’ teaching from other Jewish Rabbis. Jesus neither simply expounds the reading from Isaiah, nor makes commentaries on the text. He neither simply discusses the meaning of the readings, nor explains the context of the text. He fulfills what is written in the Scriptures. He says, “Today this scripture passage is fulfilled in your hearing.” (Lk. 4:14)
Sinagoga adalah tempat beribadah bagi orang Yahudi. Jantung dari peribadatan di sinagoga adalah pembacaan Alkitab Ibrani (yang kita sebut Perjanjian Lama) dan penjelasan bacaan-bacaan tersebut. Dalam Injil, kita belajar bahwa Yesus berdiri sebagai pewarta. Pertama, Dia berdiri dan membaca Kitab Suci, dan bagian yang dibaca adalah dari Nabi Yesaya. Kemudian, Dia duduk, yang adalah posisi guru. Orang-orang Yahudi di sinagoga ingin sekali mendengarkan Yesus. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari Yesus dari para guru Yahudi lainnya. Yesus tidak hanya menguraikan bacaan dari Yesaya, atau membuat komentar pada teks. Dia tidak hanya membahas makna bacaan, atau menjelaskan konteks teks. Ia menggenapi apa yang tertulis dalam Alkitab. Ia berkata, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Luk. 4:14)
Mary who was once a bride and has passed through the tiny-gritty of a Jewish wedding can sense immediately something goes wrong. The wine is running out. In the Jewish context, wine is an essential ingredient in every joyous occasion, as it is ordained by God to “gladden men’s hearts” (Ps 104:15) The lack of it can spell a disastrous result. It is the source of shame, and even a family dispute.
Maria yang pernah menjadi seorang pengantin dan mengerti detail pernikahan Yahudi dapat segera merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Anggur habis! Dalam konteks Yahudi, anggur adalah unsur penting dalam setiap acara yang menggembirakan, karena anggur telah dijadikan oleh Allah untuk “membuat hati manusia gembira” (Mzm 104: 15). Kekurangan anggur dapat menyebabkan konsekuensi buruk. Itu adalah sumber rasa malu, dan bahkan pertikaian antar keluarga.
One of the greatest joys of being a deacon is to baptize babies and little children. The joy is not simply springing from touching the cheeks of a cute little baby or be part of festive parents, but it is something deeper. In fact, my experiences with baptism are not always pleasant. I remember at my first baptism in Sto. Domingo Parish, Metro Manila, when I began pouring water upon the baby’s forehead, the little girl suddenly burst in tears and cried aloud. I realized the water has touched the baby girl’s eyes. I was shocked and almost paralyzed not knowing what to do next. The good thing is the parents were able to handle the situation well. As the little baby calmed down, I apologized and continued the rite. Traumatizing!
Salah satu sukacita terbesar menjadi seorang diakon adalah saat membaptis bayi dan anak. Kegembiraan tidak hanya hadir dari menyentuh pipi dari bayi kecil yang imut, tetapi ada sesuatu yang lebih dalam. Sebenarnya, pengalaman saya dengan pembaptisan tidak selalu menyenangkan. Saya ingat saat baptisan pertama saya di Paroki Sto. Domingo, Metro Manila, ketika saya mulai menuangkan air ke dahi sang bayi, sang gadis kecil itu tiba-tiba menangis dengan keras. Saya menyadari air telah menyentuh mata bayi perempuan itu. Saya terkejut dan tak bergerak karena tidak tahu apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Untungnya, sang orang tua mampu menangani situasi dengan baik. Ketika bayi kecil itu tenang kembali, saya meminta maaf dan melanjutkan perayaannya. Sungguh membuat trauma!

