Minggu ke-14 dalam Waktu Biasa [C] – 7 Juli 2019 – Lukas 10: 1-12, 17-20
Dalam Injil hari ini, Yesus mengirim tujuh puluh murid-Nya untuk bermisi. Bukan hanya dua belas murid, tetapi tujuh puluh. Sementara kita terbiasa dengan misi Dua Belas Rasul yang lebih terkenal, Lukas memberi tahu kita tentang misi tujuh puluh murid yang kurang terkenal. Kita tidak yakin siapa orang-orang ini, tetapi yang pasti, mereka adalah orang-orang yang memiliki komitmen, dedikasi, dan semangat yang sama seperti Petrus, Yohanes, Andreas dan Matius. Mereka mengikuti Yesus, meninggalkan segalanya dan bersedia dikirim ke misi yang sulit untuk memberitakan Kerajaan Allah, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan. Kisah tujuh puluh murid memberi kita petunjuk tentang murid Yesus yang berdedikasi dan lebih banyak secara jumlah, namun terlupakan. Sementara Dua Belas Rasul mewakili tokoh-tokoh terkenal dari Gereja seperti paus dan para uskup, tujuh puluh murid mengingatkan kita akan para imam, biarawan-biarawati, kaum awam yang tak terkenal namun tak terhitung jumlahnya, dan yang tanpa lelah membangun Tubuh Kristus.
Kita mungkin juga bertanya mengapa tujuh puluh? Jika Dua Belas rasul mewakili dua belas suku Israel, apa yang akan dilambangkan dengan tujuh puluh? Ketika kita kembali ke Perjanjian Lama, tujuh puluh juga merupakan angka penting. Ini adalah jumlah total keturunan Yakub atau Israel yang bermigrasi ke Mesir [Kej. 46:27]. Tujuh puluh adalah jumlah para penatua yang dipilih untuk membantu Musa dalam memimpin Israel dan untuk mempersembahkan korban saat mereka masih di padang gurun [Kel 24: 1]. Menurut tradisi Yahudi, tujuh puluh juga merupakan jumlah bangsa yang turun dari nabi Nuh [lihat Kej 11]. Dengan memilih dan menugaskan tujuh puluh murid-Nya, Yesus mengirimkan pesan-Nya kepada dunia bahwa Ia sedang membangun Israel yang Baru, lengkap dengan para pemimpinnya, dan Israel ini akan mencakup semua orang dari segala bangsa.
Satu pelajaran penting yang dapat kita dapat dari tujuh puluh murid ini adalah kerendahan hati. Ketika para murid kembali dengan sukacita karena misi mereka berhasil, Yesus memberi mereka kata-kata yang cukup aneh, “Saya melihat Setan jatuh seperti kilat dari langit!” Salah satu interpretasi adalah bahwa para murid telah menjadikan Setan dan kerajaannya tidak berdaya dalam nama Yesus. Keberhasilan murid adalah kegagalan Setan. Penjelasan kedua adalah godaan kesombongan. Menurut tradisi Bapa Gereja, Setan dulunya adalah malaikat tertinggi yang jatuh dari surga karena dia terlalu sombong untuk melayani Tuhan yang menjadi manusia. Dengan demikian, Yesus mengingatkan para murid bahwa misi mereka pada dasarnya adalah misi Yesus, dan mereka bukan apa-apa tanpa Kristus. Yang jauh lebih penting adalah nama-nama mereka dituliskan di surga daripada sekedar menyombongkan keberhasilan mereka.
Kerendahan hati adalah kebajikan utama dari identitas semua murid Yesus, sementara ambisi dan keangkuhan membunuh identitas kita sebagai murid. Lucifer dulunya adalah salah satu dari seraphim, malaikat tertinggi di surga, dan nama Lucifer sendiri berarti “pembawa Cahaya.” Tentunya, tidak ada masalah dengan melayani Tuhan, tetapi ketika Lucifer tahu tentang rencana Allah untuk menjadi manusia, dan dilahirkan dari seorang wanita, dan mati untuk keselamatan umat manusia, dia tidak bisa menerimanya. Bagaimana bisa Tuhan dan makhluk spiritual seperti malaikat melayani makhluk rendahan dan berdosa seperti manusia? Dalam kesombongannya, dia menolak rencana Tuhan; dia menolak untuk melayani Tuhan. “Non Serviam.” Dia dan para pengikutnya kemudian diusir dari surga, dan Lucifer berubah menjadi Setan, kepala para roh jahat.
Ketika kita melayani Tuhan dalam kerendahan hati, seringkali kita tidak mendapatkan penghargaan, kita tidak menerima kemuliaan, dan kita dilupakan, tetapi kita yakin bahwa nama kita tertulis di surga.
Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Today we listen to one of the most demanding and perhaps harsh teachings of Jesus. For those who follow Him, He demands total allegiance, and He shall become no less than their top priority in life. In both Jewish and Christian tradition, to honor our parents is one of the highest commandments. In fact, it is not a mere honoring, but it is to glorify [Hebrew word used is “kabad”] our parents. But, when a man asks Jesus to bury his father, Jesus tells him, “Let the dead bury the dead.” To one who requests to say goodbye to his family, Jesus says, “No one who sets a hand to the plow and looks to what was left behind is fit for the kingdom of God.” Very harsh. Is this truly Jesus whose heart is moved with pity towards the poor people? Is Jesus no longer observing the Ten Commandments?
Hari ini kita mendengarkan salah satu ajaran Yesus yang paling sulit dimengerti dan diikuti. Bagi mereka yang ingin mengikuti Yesus, Dia menuntut kesetiaan total, dan menjadi prioritas utama mereka dalam hidup. Baik dalam tradisi Yahudi maupun Kristiani, untuk menghormati orang tua kita adalah salah satu perintah tertinggi dalam Sepuluh Perintah Allah. Tetapi, ketika seseorang meminta Yesus untuk menguburkan ayahnya, Yesus mengatakan kepadanya, “Biarkan orang mati menguburkan orang mati.” Kepada orang yang meminta untuk mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya, Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Tidak terbayangkan! Apakah ini benar-benar Yesus yang hatinya tergerak oleh belas kasihan kepada orang-orang miskin? Apakah Yesus tidak lagi memperhatikan Sepuluh Perintah? Bagaimana kita bisa mengerti kata-kata Yesus yang keras ini?
Today the Church is celebrating the solemnity of the Body and Blood of Jesus Christ. In many countries like Indonesia, today is the best time for the children who are already prepared to receive their first Holy Communion. I still recall the day I partook of the sacred host and the holy wine. Many of us were around 10 years old, old enough to recognize the presence of Christ in the Eucharist and we were dressed in white. I was wearing long-sleeved white shirt with a tie and black pants. When the priest dipped the white bread into the chalice of wine and said, “the body and blood of Christ”, I said “Amen.” It was my first time to savor the sweetness of wine, and of course, alcoholic beverage!
Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Di banyak negara seperti Indonesia, hari ini adalah waktu terbaik bagi anak-anak yang sudah siap untuk menerima Komuni Suci pertama mereka. Saya masih ingat hari saya menerima hosti dan anggur suci. Banyak dari kami berusia sekitar 10 tahun, cukup dewasa untuk mengenali kehadiran Kristus dalam Ekaristi. Saya ingat bahwa saya mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan dasi kecil dan celana hitam. Ketika pastor mencelupkan hosti putih ke dalam piala anggur, dan berkata “tubuh dan darah Kristus”, saya berkata “Amin.” Ini adalah pertama kalinya saya menikmati manisnya anggur, dan tentu saja, minuman beralkohol!
The distinctive mark of being Christian is the Holy Trinity. We share the claim of monotheism [only one God] with other prominent religions, yet our belief in one God in three divine persons enables us to stand unique among others. Doubtless, our God is one, yet the same undoubtedly, there are three persons in this one God. The Father is different from the Son and the Holy Spirit. The Son is also unique. And, the Holy Spirit maintains His personal identity. Yet, they remain always one! How is this possible?!
Tanda khas menjadi Kristiani adalah iman kepada Tritunggal Mahakudus. Kita berbagi klaim monoteisme [hanya satu Tuhan] dengan agama-agama besar lainnya, namun kepercayaan kita pada satu Tuhan dalam tiga pribadi ilahi memungkinkan kita untuk berdiri secara unik di antara yang lain. Tidak diragukan lagi Allah kita adalah satu, namun tidak diragukan juga ada tiga persona dalam satu kodrat ilahi ini. Bapa berbeda dari Putra dan Roh Kudus. Sang Putra juga benar-benar unik. Dan, Roh Kudus menjaga identitas pribadi-Nya. Namun, mereka tetap selalu satu! Bagaimana ini mungkin?!
Tiga hari Minggu terakhir ini, kita telah mendengarkan serangkaian ajaran Yesus yang diberikan di Dataran [Luk 6]. Dua Minggu yang lalu, kita membaca tentang Sabda Bahagia. Ini adalah serangkaian kondisi yang menuntun kita menuju kebahagiaan dan berkat sejati. Minggu lalu kita mendapatkan beberapa langkah praktis untuk mencapai Sabda Bahagia ini. Dan hari Minggu ini, kita menemukan inti dari ajaran Yesus: ini adalah pembentukan hati manusia.