Minggu kedua dalam Masa Biasa [20 Januari 2019] Yohanes 2: 1-12
Maria yang pernah menjadi seorang pengantin dan mengerti detail pernikahan Yahudi dapat segera merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Anggur habis! Dalam konteks Yahudi, anggur adalah unsur penting dalam setiap acara yang menggembirakan, karena anggur telah dijadikan oleh Allah untuk “membuat hati manusia gembira” (Mzm 104: 15). Kekurangan anggur dapat menyebabkan konsekuensi buruk. Itu adalah sumber rasa malu, dan bahkan pertikaian antar keluarga.
Semua orang tahu bahwa mempelai laki-laki bertanggung jawab untuk menyediakan anggur, tetapi Maria melakukan sesuatu yang tidak terduga. Alih-alih memberi tahu sang pengantin pria, dia mendekati Yesus dan menunjukkan kepada-Nya betapa beratnya keadaan yang dihadapi keluarga di Kana. Namun, alih-alih mendapatkan respons yang positif dari Yesus, alur ceritanya malah semakin tak terduga. Dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan, Yesus berkata kepada ibunya, “Perempuan, apakah ini bagimu dan bagiku?” (Yoh 2: 4 – terjemahan sendiri). Pernyataan ini adalah ungkapan Semitik yang menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi bukan urusan Yesus. Dalam arti tertentu, Yesus benar karena ini adalah tugas mempelai laki-laki untuk menyelesaikan masalah yang ada, tetapi dalam arti yang lebih mendalam, Maria juga benar karena Yesus adalah Mempelai Pria yang sejati.
Yesus mengerti bahwa Dia adalah Mempelai Laki-laki, tetapi waktunya bukan di Kana, tetapi di Kayu Salib. Maka, Ia berkata, “Waktuku belum tiba.” (Yoh 2: 4) Namun, Maria sebagai seorang ibu mengenal Putranya dengan sangat baik. Dia memiliki iman kepada Yesus, bahwa Yesus bukan hanya Mempelai Pria di Kayu Salib yang memberikan hidup-Nya bagi Mempelai Perempuan-Nya, Gereja, tetapi Yesus juga Mempelai Laki-laki dalam setiap pernikahan, keluarga, komunitas yang mencerminkan Gereja ini. Jadi, ketika Yesus mengubah air menjadi anggur, itu tidak hanya terjadi dalam level sejarah, tetapi juga menjadi sebuah kenyataan simbolis. Ya, Yesus membantu pasangan di Kana menghindari musibah, tetapi lebih dari itu, Dia menyediakan apa yang secara mendasar kurang dalam setiap pernikahan: “anggur terbaik”, sukacita sejati kehidupan pernikahan.
Salah satu tugas saya sebagai diakon adalah untuk memeriksa apakah calon pasangan yang akan menikah secara kanonik dapat menikah Gereja. Untuk memenuhi ini, saya perlu mewawancarai pasangan tersebut dan mengajukan beberapa pertanyaan terkait. Namun, saya biasanya melangkah lebih jauh, dan saya mengingatkan mereka mengapa Gereja tidak mengakui pernikahan sipil. Jawabannya jelas namun sangat mendasar: Yesus, Mempelai Pria yang sejati, tidak ada di sana, atau tepatnya, kita melakukan upaya yang disengaja untuk mengecualikan-Nya dalam pernikahan kita. Persatuan antara pria dan wanita bukan hanya fenomena manusia, sosial dan budaya, tetapi kenyataan ilahi. Ketika seorang pria dan wanita mengikatkan diri dalam perkawinan, Tuhan sendirilah yang berkeinginan untuk menjadikan mereka satu. Karena itu, pernikahan pada dasarnya dan rahmat Tuhan bekerja dalam hubungan manusia. Dan jika Tuhan menyatukan mereka bersama, Dia juga akan menopang dan membawa kesempurnaan pada pernikahan tersebut. Inilah sebabnya mengapa pernikahan dinaikkan ke tingkat sakramen Gereja.
Namun, saya terus mengingatkan para pasangan bahwa pernikahan di Gereja tidak hanya berarti merayakan sakramen pernikahan tetapi untuk setia berada di dalam Gereja, Sang Mempelai Kristus, sepanjang hidup mereka: untuk menghadiri Ekaristi sebagai keluarga, untuk berpartisipasi aktif dalam Gereja, untuk berdoa bersama secara teratur. Karena anggur tidak mungkin terjadi tanpa kendi air, rahmat Allah tidak akan berhasil dalam pernikahan kita kecuali jika kita membuka diri terhadap rahmat Allah. Seperti Maria yang menunjukkan pada Yesus apa yang kurang dalam pernikahan di Kana, maka Gereja meminta Yesus untuk memenuhi setiap pernikahan dengan anggur terbaik.
Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

One of the greatest joys of being a deacon is to baptize babies and little children. The joy is not simply springing from touching the cheeks of a cute little baby or be part of festive parents, but it is something deeper. In fact, my experiences with baptism are not always pleasant. I remember at my first baptism in Sto. Domingo Parish, Metro Manila, when I began pouring water upon the baby’s forehead, the little girl suddenly burst in tears and cried aloud. I realized the water has touched the baby girl’s eyes. I was shocked and almost paralyzed not knowing what to do next. The good thing is the parents were able to handle the situation well. As the little baby calmed down, I apologized and continued the rite. Traumatizing!
Salah satu sukacita terbesar menjadi seorang diakon adalah saat membaptis bayi dan anak. Kegembiraan tidak hanya hadir dari menyentuh pipi dari bayi kecil yang imut, tetapi ada sesuatu yang lebih dalam. Sebenarnya, pengalaman saya dengan pembaptisan tidak selalu menyenangkan. Saya ingat saat baptisan pertama saya di Paroki Sto. Domingo, Metro Manila, ketika saya mulai menuangkan air ke dahi sang bayi, sang gadis kecil itu tiba-tiba menangis dengan keras. Saya menyadari air telah menyentuh mata bayi perempuan itu. Saya terkejut dan tak bergerak karena tidak tahu apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Untungnya, sang orang tua mampu menangani situasi dengan baik. Ketika bayi kecil itu tenang kembali, saya meminta maaf dan melanjutkan perayaannya. Sungguh membuat trauma!



In Jesus’ time, the scribes are the well-educated Jewish men who are expert in the Law of Moses. Some of them come from the wealthy families, and others hail from the priestly clan. Being able to teach and interpret the Law, they receive the respect and honor from the ancient Jewish society. Thus, ordinary Jews will greet them and prepare them the seats of honor in the synagogues and the banquets. Surely, there is no problem with receiving greetings and sitting as honor guests. Jesus Himself is often greeted as “Teacher” or “Rabbi”, and He attends the banquets as guest of honor (see Mar 14:3). The problem comes when some of the scribes possesses “narcissistic desire” and intentionally look for these privileges.
Pada masa Yesus hidup, para ahli Taurat adalah orang Yahudi terdidik dan menjadi ahli dalam Hukum Musa. Beberapa dari mereka berasal dari keluarga kaya, dan yang lain dibesarkan dari klan imam. Mampu mengajar dan menafsirkan Hukum, mereka menerima respek dan kehormatan dari masyarakat Yahudi. Dengan demikian, orang-orang Yahudi kebanyakan akan menyapa dengan hormat para ahli Taurat ini dan mempersiapkan bagi mereka kursi kehormatan di sinagoga dan perjamuan. Tentunya, tidak ada masalah dengan menerima salam dan duduk sebagai tamu kehormatan. Yesus sendiri sering disambut sebagai “Guru” atau “Rabi”, dan Dia menghadiri perjamuan sebagai tamu kehormatan (lihat Mar 14:3). Masalah muncul ketika beberapa ahli Taurat memiliki “hasrat narsistik”, menjadi gila hormat dan dengan sengaja mencari yang kehormatan dan semua hak-hak istimewa.
I am currently preparing for my ordination to the diaconate. It is a transitional stage before I become a priest of Jesus Christ. Despite the fact of being transitional, a deacon in itself is an important state in the life of the Church. Bishop Virgilio David, DD of Kalookan reminded the 15 newly-ordained Jesuit deacons in his homily last October that we shall not see a deacon as a mere stepping step toward higher states, like priests and bishops. It is the very core in the layers of concentric circles that make up the ordained ministries of the Church. The diaconate is not a lower rank but the core, without which both the offices of presbyters and bishops collapse. It is the foundation on which we build leadership in the Church. Yet, why do the deacons have to be placed at the core, and become the foundation?