Beyond Healing

Twenty-Third Sunday in Ordinary Time [September 9, 2018] Mark 7:31-37

“Jesus has done everything well; he even makes the deaf to hear and the mute to speak.” (Mk. 7:37)

jesus heals deaf muteThe deaf man whom Jesus heals is so blessed. He is able to see Jesus, and He finds healing. Inspired by this miracle, we wish that we will also meet Jesus and He will heal our sickness and solve our problems. Thus, we come to various places where we believe Jesus will heal us. We visit pilgrimage sites, we attend prayer and worship meetings, we recite various novenas, and we become actively involved in the Church’s organizations. We believe that our faith in Jesus will save us. However, what if our prayers are not granted? What if our problems are not solved but rather grow in number? What if our sickness is not healed, but gets worse? What if we do not feel that we are saved? One time, I visited Flora [not her real name], a colon-cancer patient, and she asked me, “Brother, I have faith in God, and I faithfully serve the Church, but why am I suffering from this terrible sickness?” Surely, it was a tough question.

In today’s Gospel, Mark, the evangelist, seems to present Jesus as the traditional faith-healer. Just like other healers, Jesus touches the affected body parts of the sick person, namely his ears and tongue. Jesus also spits because, in ancient times, saliva is believed to have therapeutic effects. The act of spitting itself is also considered to drive away evil spirits, and some diseases are thought to come from these evil spirits. Then, Jesus groans to heaven and says a word, “Ephphatha!” This is like other faith-healers who utter certain formula of magic words or incantation as to affect the healing desired. What the people need is to have faith in the faith-healer, and viola, they are healed.

Inspired by this kind of model, we begin to treat Jesus as a faith-healer. We just need to have faith in Him, and the rest will be just perfect. We believe in Him, and we will be saved. That’s all! This image of Jesus is, however, distorted and even dangerous. We reduce Jesus as mere instant problem-solver and an ultimate trouble-shooter. Again, what if we do not get what we expect despite our effort to trust in Him?

Mark is inviting us to read his Gospel more profoundly.  There is something more remarkable that we, ordinary readers of the Bible, miss. In original Greek, the term for speech impediment or mute in the Gospel of Mark is “mogilalos.” This very term is also used in the book of Isaiah when the prophet prophesied, “…, and the mute tongue – “mogilalos” – sing for joy (Isa. 35:6 – our first reading)”. But, the prophecy is not only about healing the diseases, but it is about the holistic restoration of both the land and the people of God (see Isa 35:1-10). Mark does not only want to present Jesus as someone more powerful than faith-healers, but he points to us that Isaiah’s prophecy is being fulfilled. In Jesus, God has come to His people and redeemed us. Yet, what does it mean in our daily lives?

This means our faith in Jesus has to be bigger than ourselves, our personal problems and concerns. It is true that we may not have immediate healing to our sickness and solution to our problems, but our lives and our capacity to live and love are enlarged. And, as we become more loving, we begin to change also people around us. As people change, our world will become a better place.

Going back to Flora. After reflecting for a while, I answered Flora, “Well, I do not exactly know why God allows this sickness. But, as you can see, your family is doing their best to help you recover because they love you. Now, you are doing your best to get healed because you love them. See, God has made you bigger than yourself before. I believe faith is working in you.”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lebih dari Penyembuhan

Minggu ke-23 dalam Masa Biasa [9 September 2018] Markus 7: 31-37

“Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Markus 7:37)

ephphathaMinggu ini kita mendengar tentang Yesus yang menyembuhkan seorang tuli dan bisu. Terinspirasi oleh mukjizat ini, kita berharap bahwa Yesus akan menyembuhkan penyakit kita dan memecahkan segala masalah kita. Jadi, kita pergi ke berbagai tempat ataupun kegiatan di mana kita percaya Yesus akan menyembuhkan kita. Kita pergi ke situs ziarah, kita menghadiri pertemuan doa, dan kita menjadi aktif terlibat di Gereja. Kita percaya bahwa iman kita kepada Yesus akan menyelamatkan kita. Namun, bagaimana jika doa kita tidak dikabulkan? Bagaimana jika masalah kita tidak selesai tetapi bertambah jumlahnya? Bagaimana jika penyakit kita tidak sembuh, tetapi semakin parah? Suatu kali, saya mengunjungi Flora [bukan nama sebenarnya], pasien kanker usus besar, dan dia bertanya kepada saya, “Frater, saya memiliki iman kepada Tuhan Yesus, dan saya dengan setia melayani di Gereja, tetapi mengapa saya menderita penyakit yang mengerikan ini? “Tentunya, ini pertanyaan yang sulit dijawab.

Dalam Injil hari ini, Markus, penginjil, tampaknya menampilkan Yesus sebagai seorang penyembuh iman tradisional. Sama seperti penyembuh lainnya, Yesus menyentuh bagian tubuh yang yang bermasalah, yaitu telinga dan lidah. Yesus juga meludah karena, pada zaman itu, air liur diyakini memiliki efek terapeutik. Tindakan meludah sendiri juga dianggap bisa mengusir roh jahat, dan beberapa penyakit diduga berasal dari roh jahat ini. Kemudian, Yesus mengucapkan sepatah kata, “Efata!” Ini seperti para penyembuh lainnya yang mendaraskan mantra atau doa, untuk mempengaruhi penyembuhan yang diinginkan.

Terinspirasi oleh citra semacam ini, kita mulai memperlakukan Yesus sebagai seorang penyembuh iman. Kita hanya perlu memiliki iman kepada-Nya, dan semuanya akan menjadi baik. Kita percaya kepada-Nya, dan kita akan diselamatkan. Namun, citra Yesus yang seperti ini adalah sebuah distorsi dan bahkan berbahaya. Kita menjadikan Yesus sebagai pemecah masalah instan, dan ini tidak selalu benar. Sekali lagi, bagaimana jika kita tidak mendapatkan apa yang kita harapkan meskipun kita sudah beriman kepada-Nya?

Markus mengundang kita untuk membaca Injilnya lebih dalam. Ada sesuatu yang luar biasa yang biasanya luput dari perhatian kita. Dalam bahasa Yunani, istilah untuk bisu atau sulit berbicara dalam Injil Markus adalah “mogilalos.” Istilah ini juga sebenarnya digunakan dalam kitab Yesaya ketika sang nabi bernubuat, “Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu – mogilalos – akan bersorak-sorai (Yes. 35:6, dari bacaan pertama kita)”. Namun, nubuatan ini bukan hanya tentang penyembuhkan penyakit, tetapi juga tentang pemulihan yang menyeluruh akan umat Allah (lihat Yes 35: 1-10). Markus tidak hanya ingin menampilkan Yesus sebagai seseorang penyembuh iman, tetapi ia menunjukkan kepada kita bahwa nubuatan Yesaya telah digenapi. Di dalam Yesus, Tuhan telah datang kepada umat-Nya dan menebus kita. Namun, apa maksud pengenapan ini dalam kehidupan kita sehari-hari?

Ini berarti iman kita kepada Yesus lebih besar dari diri kita sendiri, masalah dan kecemasan pribadi kita. Memang benar bahwa kita mungkin tidak segera disembuhkan kita dan tidak mendapatkan solusi untuk masalah kita, namun dengan iman, hidup kita dan kemampuan kita untuk mengasihi semakin luas. Dan, saat kita mampu lebih mengasihi, kita mulai mengubah juga orang-orang di sekitar kita. Seperti ketika orang berubah, dunia kita akan menjadi tempat yang lebih baik.

Kembali ke Flora. Setelah merenung sejenak, saya menjawab Flora, “Saya tidak tahu mengapa Tuhan mengijinkan hal-hal ini terjadi. Tapi, lihatlah, keluarga ibu melakukan yang terbaik untuk membantu ibu pulih karena mereka mengasihi ibu. Sekarang, ibu juga melakukan yang terbaik untuk sembuh karena ibu mengasihi mereka. Lihat Tuhan telah membuat ibu lebih besar dari diri ibu sebelumnya, dan ini adalah iman.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tradition

Twenty Second Sunday in Ordinary Time [September 2, 2018] Mark 7:1-8, 14-15, 21-23

“You disregard God’s commandment but cling to human tradition.” (Mk. 7:8)

mano poIn today’s Gospel, Jesus seems to denounce all traditions. However, this position is rather simplistic and unattainable. The reason is that human beings are the creatures of traditions. Tradition comes from Latin word, “tradere”, meaning “to hand down”. Thus, crudely put, tradition is anything that has been handed down from our predecessors. Traditions range from something tangible like technologies and fashions, to something intangible like values, languages, sciences and many more. I remember how my mother taught me basic Christian prayers, like Our Father, Hail Mary, and the Rosary, and how my father would regularly bring us to the Church every Sunday. This is my family’s religious traditions. As an Indonesian living in the Philippines, I appreciate the “Mano Po” tradition among the Filipinos. This is a simple gesture of respect and blessing. The younger Filipinos are to hold a hand of older Filipino, and place it on their forehead.

Had Jesus renounced all the traditions, He should have stopped speaking Aramaic, refrained from teaching the people, begun removing all His Jewish clothes, and walking naked! Yet, Jesus did not do those things. Jesus respects traditions and acknowledges their importance. However, Jesus also recognizes that there are some traditions that are problematic and bring more problems rather than solutions. Immersed in the stream of traditions, Jesus invites us to discern well on what traditions that bring us true worship of God and genuine progress for human society.

Going back to the time of Jesus, the Jews are particular with ritual purity because they can only worship God when they are ritually clean. In view of this worship, they carefully avoid contamination from blood, dead body and unclean animals, or any objects that are in contact with these things. Since they are not sure whether their hands and utensils are ritually clean, especially if they come from the marketplace or the fields, they make it a habit to purify their hands and utensils to evade contamination from uncleanliness. Thus, various purification rituals develop into traditions for the Jews. The intention of these traditions is good because they assist people to worship God. However, some of the Pharisees put excessive emphasis on these traditions and make them absolute as if failure to observe these rituals means they fail to revere God. They confuse between the genuine worship that brings true honor for God, and other traditional practices that assist people in achieving this worship.

Jesus does not only invite us to discern carefully various traditions we have, but Jesus also offers us a more fundamental tradition in worshiping God. Instead of “handing down” practices or things, Jesus hands down something most important, namely His own life for God and us. Jesus gives up His Body and Blood, His total self, in the Last Supper, and this sacrifice reaches its summit at the Cross. His self-offering becomes the most pleasing worship to God, and procures the gift of salvation for all of us. Because of His Tradition, the world is no longer the same. Jesus hands over this great Tradition to His Disciples and throughout the generations, the Christians are faithfully offering this sacrifice of Jesus Christ in the Eucharist. As we partake Jesus’ self-offering, we are also empowered to hand down ourselves to others. This means we are invited to make our daily sacrifices, to persevere in doing good, and to be faithful to our commitments either as spouse, parents, priests, religious, or professionals. As we live this greatest tradition daily, we do not only make the world a better place, but to offer a pleasing worship to God.

Br. Valentinus Bayuahadi Ruseno, OP

Tradisi

Minggu ke-22 pada Masa Biasa [2 September 2018] Markus 7: 1-8, 14-15, 21-23

“Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Markus 7: 8)

burning candleDalam Injil hari ini, Yesus tampaknya menolak semua tradisi. Namun, pernyataan ini terlalu disederhanakan. Alasannya adalah bahwa manusia adalah makhluk tradisi. Tradisi berasal dari kata Latin, “tradere”, yang berarti “menurunkan”. Jadi, secara sederhana, tradisi adalah segala sesuatu yang telah diturunkan atau diwariskan dari para pendahulu kita. Tradisi berkisar dari sesuatu yang berwujud seperti teknologi, hingga sesuatu yang tidak berwujud seperti bahasa, ilmu pengetahuan, dan banyak lagi. Saya ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya doa-doa dasar, seperti Bapa Kami, Salam Maria, dan Rosario, dan bagaimana ayah saya secara teratur membawa kami ke Gereja setiap Minggu. Ini adalah tradisi agama keluarga saya. Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Filipina, saya mengapresiasi tradisi “Pano Po” di antara orang Filipina. Ini adalah sikap menghormati orang yang lebih tua dan juga memberi berkat kepada yang lebih muda. Orang Filipina yang lebih muda akan memegang tangan mereka yang lebih tua, dan meletakkannya di dahi mereka.

Seandainya Yesus meninggalkan semua tradisi, Dia seharusnya berhenti berbicara bahasa Aram, menahan diri untuk mengajar orang-orang, dan mulai melepas semua pakaian Yahudi-Nya. Namun, Yesus tidak melakukan hal-hal itu. Yesus menghormati tradisi dan mengakui pentingnya hal-hal ini. Namun, Yesus juga mengakui bahwa ada beberapa tradisi yang bermasalah dan perlu ditinggalkan. Menjadi bagian dalam arus tradisi, Yesus mengajak kita untuk memahami dengan baik tradisi apa yang membawa kita kepada ibadat sejati kepada Allah dan kemajuan sejati bagi komunitas manusia.

Lebih dekat dengan Injil hari ini, orang-orang Yahudi memiliki ritual-ritual pemurnian karena mereka hanya bisa menyembah Tuhan ketika mereka bersih secara ritual atau tidak najis. Mereka pun dengan hati-hati menghindari benda-benda yang dapat membuat mereka najis seperti darah dan binatang-binatang najis, termasuk juga benda apa pun yang bersentuhan dengan hal-hal najis ini. Karena mereka tidak yakin apakah tangan dan peralatan makan mereka tidak bersentuhan dengan hal-hal najis, terutama jika mereka datang dari pasar atau ladang, mereka membuat kebiasaan untuk memurnikan tangan dan peralatan mereka untuk menghindari hal ini. Dengan demikian, berbagai ritual pemurnian berkembang menjadi tradisi bagi orang Yahudi. Ujud dari tradisi-tradisi ini baik karena mereka membantu orang-orang Yahudi bersih dari kenajisan dan dapat menyembah Tuhan. Namun, beberapa orang Farisi memberi penekanan berlebihan pada tradisi-tradisi ini dan menjadikannya absolut seolah-olah kegagalan untuk menjalankan ritual-ritual ini berarti mereka gagal untuk menghormati Tuhan. Mereka tidak bisa membedakan antara ibadat sejati yang mendatangkan kehormatan sejati bagi Tuhan, dan praktik-praktik tradisional lainnya yang membantu orang dalam mencapai ibadah ini.

Yesus tidak hanya mengundang kita untuk membedakan dengan seksama berbagai tradisi yang kita miliki, tetapi Yesus juga memberikan kepada kita sebuah tradisi yang lebih mendasar dalam menyembah Allah. Alih-alih “menurunkan” sebuah praktik atau hal, Yesus “menurunkan” sesuatu yang paling penting, yakni hidup-Nya sendiri untuk Allah dan kita semua. Yesus menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya, diri-Nya yang sepenuhnya, dalam Perjamuan Terakhir, dan pengorbanan ini mencapai puncaknya di Salib. Persembahan diri-Nya menjadi ibadah yang paling sempurna bagi Allah, dan memenangkan rahmat keselamatan bagi kita semua. Yesus menyerahkan Tradisi besar ini kepada para murid-murid-Nya dan sepanjang zaman, kita dengan setia menjalan Tradisi ini dan mempersembahkan pengorbanan Yesus Kristus dalam Ekaristi. Sewaktu kita mengambil bagian dari persembahan diri Yesus, kita juga diberdayakan untuk “menurunkan” dan menyerahkan diri kita kepada orang lain. Ini berarti kita diundang untuk melakukan pengorbanan kita sehari-hari, bertekun dalam melakukan kebaikan, dan setia pada komitmen kita baik sebagai suami-istri, orang tua, imam, kaum religius, atau seorang profesional. Ketika kita menjalani tradisi terbesar ini setiap hari, kita tidak hanya membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, tetapi menawarkan ibadah yang sempurna kepada Tuhan.

Frater Valentinus Bayuahadi Ruseno, OP

Faith and Suffering

Twenty-First Sunday in Ordinary Time [August 26, 2018] John 6:60-69

“Master, to whom shall we go? You have the words of eternal life (Jn. 6:67).”

nazareno
photo by Harry SJ

In our today’s Gospel, Simon Peter and other disciples are facing a major crossroad: whether they will believe in Jesus’ words and they need to consume Jesus’ flesh and blood as to gain eternal life, or they will consider Jesus as insane and leave Him. They are dealing with hard and even outrageously unbelievable truth, and the easiest way is to leave Jesus. Yet, amidst doubt and lack of understanding, Peter’s faith prevails, “Master, to whom shall we go? You have the words of eternal life (Jn. 6:67).” It is faith that triumphs over the greatest doubt, a faith that we need also.

 

I am ending my clinical pastoral education at one of the busiest hospitals in Metro Manila. It has been a truly faith-enriching and heart-warming experience. I am blessed and privileged to minister to many patients in this hospital. One of the most memorable and perhaps faith-challenging encounter is with Christian [not his real name].

When I visited the pediatric ward, I saw a little boy, around six years old, lying on the bed. He was covered by a thin blanket and seemed in pain. Then I talked to the watcher who happened to his mother, Christina [not her real name]. She told me that the dialysis did not go well and he had a little fever. As the conversation went on, I discovered that Christian was not that young. He was actually 16 years old. I did not believe my eyes, but the mother explained that it was because his kidneys shrank to the point of disappearing, and because of this terrible condition, his growth stopped, and his body also shrank. Christian has undergone dialysis for several years, and due to recurrent infections, the hospital has been his second home. Christina herself lost his husband when he died several years ago, and stopped working to take care of Christian. The older sister of Christian had to stop schooling and worked to support the family.

Looking at Christian, and listening to Christina, I was hurt, and I was almost shedding tears. Despite my long theological formation, I cannot but question God. “Why do You allow this kind of terrible suffering to an innocent little man? Why do you allow his life and future be robbed by this illness?” My faith was shaken. Then, I was asking Christina how she was able to deal with the situation. She shared that it was really difficult, but she has accepted the condition, and she continues to struggle to the end because she loved Christian. I was also asking her what made her strong, and I cannot forget her answer. She said that she was strong when she saw little Christian’s smiles, and she felt his simple happiness.

Right there and then, through Christina, I felt God has answered my questions and doubts. It is true that terrible things happen, but God never leaves us. He was there in Christian’s simple smiles. He was there in little acts of love from Christina for her son. It is true that life is full of incomprehensive sufferings and heart-breaking moments, like the loss of loved ones, the broken relationships, the health and financial problems, and perhaps the recent revelation of sexual abuses done by many Catholic priests in the US. These can trigger our anger and disappointment towards God. We shall remain angry, confused and lost if we focus on the painful reality, but God is inviting us to see Him in simple and ordinary things that bring us comfort, strength, and joy. If Jesus calls us to have faith the size of mustard seed, it is because this kind of faith empowers us to recognize God in simple and ordinary things of our lives.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman dan Penderitaan

Minggu ke-21 pada Masa Biasa [26 Agustus 2018] Yohanes 6: 60-69

“Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal (Yoh. 6:68).”

prayer in church
photo by Harry SJ

Dalam Injil kita Minggu ini, Simon Petrus dan murid-murid lain menghadapi pertanyaan penting: apakah mereka akan percaya pada kata-kata Yesus bahwa mereka perlu mengkonsumsi darah dan daging-Nya untuk mendapatkan kehidupan yang kekal, atau mereka akan menganggap Yesus sebagai orang gila dan meninggalkan Dia. Mereka berurusan dengan kebenaran yang sangat sulit dipercaya, dan hal paling termudah untuk dilakukan adalah meninggalkan Yesus. Namun, di tengah keraguan dan kurangnya pemahaman, Petrus menyatakan, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal (Yoh 6:68).” Adalah iman yang menang atas keraguan terbesar, iman yang kita butuhkan juga.

 

Saya mengakhiri karya pastoral saya di salah satu rumah sakit tersibuk di Metro Manila. Pengalaman ini benar-benar memperkaya iman dan membentuk hati saya. Untuk melayani banyak pasien di rumah sakit ini adalah sebuah berkat bagi saya. Salah satu pertemuan yang paling mengesankan adalah dengan Christian [bukan nama sebenarnya].

Ketika saya mengunjungi bangsal anak, saya melihat seorang anak lelaki mungil, mungkin sekitar enam tahun, terbaring di tempat tidurnya. Dia ditutupi oleh selimut tipis dan tampak kesakitan. Kemudian saya berbincang dengan ibunya, Maria [bukan nama sebenarnya]. Dia mengatakan kepada saya bahwa proses dialisis tidak berjalan dengan baik dan dia sedikit demam sekarang. Ketika percakapan berlanjut, saya terkejut bahwa orang Christian tidaklah semuda yang saya kira. Dia sebenarnya berusia 16 tahun. Saya tidak mempercayai mata saya, tetapi sang ibu menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena ginjalnya menyusut dan bahkan hilang, dan karena kondisi yang mengerikan ini, pertumbuhannya berhenti, dan tubuhnya juga menyusut. Christian telah menjalani dialisis selama beberapa tahun, dan karena infeksi yang berulang, rumah sakit telah menjadi rumah keduanya. Maria sendiri kehilangan suaminya yang meninggal beberapa tahun yang lalu, dan berhenti bekerja untuk merawat Christian. Kakak perempuan Christian harus berhenti sekolah dan bekerja untuk mendukung keluarga.

Menyaksika Christian dan mendengarkan Maria, saya hampir mencucurkan air mata saya. Terlepas dari formasi teologis dan filsafat saya yang panjang, saya tetap mempertanyakan Tuhan, “Mengapa Tuhan membiarkan penderitaan mengerikan semacam ini terjadi pada lelaki kecil yang tidak berdosa? Mengapa Tuhan membiarkan hidupnya dan masa depan dirampas oleh penyakit ini?” Iman saya terguncang. Kemudian, saya bertanya kepada Maria bagaimana dia bisa menghadapi situasi itu. Dia menceritakan bahwa hal ini benar-benar sulit, tetapi dia telah menerima kondisinya, dan dia terus berjuang sampai akhir karena dia mengasihi Christian. Saya juga bertanya padanya apa yang membuatnya kuat, dan saya tidak akan pernah melupakan jawabannya. Dia mengatakan bahwa dia kuat ketika dia bisa melihat senyum kecilnya, dan ketika dia merasakan kebahagiaan yang sederhana yang terpancar dari wajah Christian.

Melalui Maria, saya merasa Tuhan telah menjawab pertanyaan dan keraguan saya. Memang benar hal-hal buruk terjadi, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia ada di dalam senyum sederhana Christian. Dia ada di dalam tindakan-tindakan kecil kasih dari Maria untuk putranya. Memang benar bahwa hidup penuh dengan penderitaan yang tidak dapat dimengerti dan momen-momen yang memilukan, seperti kehilangan orang yang dicintai, relasi yang berantakan, masalah kesehatan dan keuangan. Ini dapat memicu kemarahan dan kekecewaan kita terhadap Tuhan. Kita akan tetap marah, bingung dan tersesat jika kita fokus pada realitas yang menyakitkan ini, tetapi Tuhan mengundang kita untuk melihat-Nya dalam hal-hal sederhana yang tanpa diduga memberi kita kenyamanan, kekuatan, dan sukacita. Jika Yesus memanggil kita untuk memiliki iman sebesar biji sesawi, itu karena iman ini memberdayakan kita untuk mengenali Tuhan dalam hal-hal sederhana dalam hidup kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Body of Christ in Our Lives

Twentieth Sunday in Ordinary Time [August 19, 2018] John 6:51-58

“Whoever eats my flesh and drinks my blood has eternal life…(Jn. 6:54)”

consecration 1
photo by Harry Setianto SJ

From Jesus’ time until the present, the Eucharist is one of Jesus’ most difficult teachings to understand, less to believe. People can easily agree with Jesus when He says that we need to love our neighbors as ourselves. People may have a difficult time to forgive and to love one’s enemy, but they will accept that vengeance and violence will not solve any issue. Perhaps, it is easier if we are simply to accept Jesus with our whole heart and believe that we are saved. However, Jesus does not only teach those beautiful things. Jesus goes to the very length of the Truth about our salvation. He is the Bread of Life, and this Bread of Life is His flesh and blood. Jesus does not only ask us to believe but to eat His flesh and drink His blood so that we may have eternal life.

For the Jews during that time, to eat human flesh is a total abomination and to drink blood, even the blood of an animal, is forbidden. Thus, when Jesus tells them to consume His Flesh and Blood, many Jews would think that He must be out of His mind. The people are following Jesus because they witnessed Jesus’ power in multiplying the bread, and they want to make him their leader. Yet, Jesus reminds them that they miss the mark if they simply follow Him because he feeds them with the ordinary bread. They should work for the Bread of Life that is Jesus Himself. Many of Jesus’ initial followers murmur, and eventually, they leave Him, because of this very hard teaching.

Going to our time, Eucharist remains the most difficult to understand. Are this small white tasteless bread and a drop of wine truly the Body and Blood of Christ? How can this ordinary food contain the fullness of Jesus’ divinity and humanity? Why should we bend our knee in adoration before an ordinary thing? The greatest minds ever born, from St. Paul to our contemporary scholars, have tried to explain the mystery, but none of their explanation is adequate. St. Thomas Aquinas who was able to write one of the most profound explanations of the Eucharist, eventually had to admit that this is the mystery of faith. He wrote in his hymn to the Blessed Sacrament, Tantum Ergo, “Præstet fides supplementum, Sensuum defectu (Let faith provide a supplement, for the failure of the senses).”

Indeed, the greatest faith is needed to accept the greatest mystery, because the humblest form of food brings us to the eternal life. Yet, this becomes one of the most beautiful Good News Jesus brings. The eternal life is not something we only gain afterlife, but Jesus makes this life available here and now.  If God is truly present in this small bread, then He is also present in our daily life, no matter ordinary it is. If Jesus is broken in the Eucharist, so He is embracing us in our darkest and broken moments of life. If Jesus who is the Wisdom of God, is contained in this little host, this Wisdom provides us with true meaning in our seemingly senseless lives.

What I am ending my pastoral work in the hospital, and one thing I most grateful is that I am given an opportunity to walk together with many patients, and to minister the Holy Communion to them. The Eucharist as the real presence of Christ becomes their consolation and strength. It becomes the greatest sign that God does not abandon them despite unsurmountable problems they need to face. Through the Body of Christ in the Eucharist and the Word of God in the Bible, we together journey to find meaning in the midst of painful and broken reality of sickness and death. In the Eucharist, our life is not just a bubble of intelligence in the endless stream of meaningless events, but participation in the eternal life of God.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tubuh Kristus dalam Kehidupan Kita

Minggu ke-20 dalam Masa Biasa
19 Agustus 2018
Yohanes 6: 51-58

“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal… (Yoh. 6:54)”

consecration 2
foto oleh Fr. Harry SJ

Ekaristi adalah salah satu ajaran Yesus yang paling sulit untuk dipahami apalagi di dipercayai. Orang-orang dapat dengan mudah setuju dengan Yesus ketika Dia mengatakan bahwa kita perlu mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Orang-orang mungkin kesulitan untuk memaafkan dan mengasihi musuh, tetapi mereka akan menerima bahwa pembalasan dan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Namun, Yesus tidak hanya mengajarkan hal-hal yang indah ini. Yesus mewartakan kebenaran yang total tentang keselamatan kita. Dia adalah Roti Kehidupan, dan Roti Hidup ini adalah darah dan daging-Nya sendiri. Yesus tidak hanya meminta kita untuk percaya tetapi untuk memakan daging-Nya dan minum darah-Nya sehingga kita dapat memiliki hidup yang kekal.

Bagi orang Yahudi waktu itu, makan daging manusia adalah sebuah kekejian dan minum darah, bahkan darah hewan, adalah hal terlarang. Jadi, ketika Yesus mengatakan kepada mereka untuk mengkonsumsi Daging dan Darah-Nya, banyak orang Yahudi berpikir bahwa Yesus itu gila. Orang-orang mengikuti Yesus karena mereka menyaksikan kuasa Yesus dalam melipatgandakan roti, dan mereka ingin menjadikan-Nya pemimpin mereka. Namun, Yesus mengingatkan mereka bahwa tidak tepat jika mereka hanya mengikuti Dia karena dia memberi mereka makan dengan roti biasa. Mereka perlu bekerja untuk Roti Hidup yakni Yesus sendiri. Banyak pengikut awal Yesus bersungut-sungut, dan akhirnya, mereka meninggalkan Dia, karena pengajaran yang sangat sulit ini.

Di zaman sekarang, Ekaristi tetap sulit untuk dipahami. Apakah roti tawar kecil putih dan setetes anggur ini benar-benar Tubuh dan Darah Kristus? Bagaimana makanan biasa ini mengandung kepenuhan keilahian dan kemanusiaan Yesus? Mengapa kita harus menekuk lutut kita dihadapan hosti kecil? Pemikir-pemikir besar telah mencoba menjelaskan misteri itu, tetapi tidak satu pun dari penjelasan mereka yang cukup memadai. Santo Thomas Aquinas yang mampu menulis salah satu penjelasan paling mendalam tentang Ekaristi, akhirnya harus mengakui bahwa ini adalah misteri iman. Dia menulis dalam nyanyiannya kepada Sakramen Mahakudus, Tantum Ergo, “Præstet fides supplementum, Sensuum defectu (Biarkan iman melengkapi, saat indera gagal).”

Sungguh, iman terbesar diperlukan untuk menerima misteri terbesar, karena bentuk makanan yang paling sederhana membawa kita ke kehidupan kekal. Namun, ini menjadi salah satu Kabar Baik yang Yesus bawa. Kehidupan kekal bukanlah sesuatu yang hanya kita peroleh di akhirat, tetapi Yesus menjadikan kehidupan ini tersedia di sini dan saat ini. Jika Tuhan bisa benar-benar hadir dalam roti kecil ini, Dia juga hadir dalam kehidupan kita sehari-hari, bahkan di dalam hal paling sederhana sekalipun. Jika Yesus dipecah dan dibagikan dalam Ekaristi, Iapun mampu memeluk kita di saat-saat yang paling gelap dan pahit dalam hidup. Jika Yesus yang adalah sang Kebijaksanaan Allah, terkandung dalam hosti kecil ini, Kebijaksanaan ini memberi kita makna yang sejati dalam kehidupan kita yang sederhana.

Saya akan mengakhiri karya pastoral saya di rumah sakit, dan satu hal yang paling saya syukuri adalah bahwa saya diberi kesempatan untuk menemani banyak pasien, dan melayani Komuni Kudus bagi mereka. Ekaristi sebagai kehadiran Kristus yang nyata menjadi penghiburan dan kekuatan mereka. Ini menjadi tanda terbesar bahwa Tuhan tidak meninggalkan mereka meskipun ada banyak masalah yang harus mereka hadapi. Melalui Tubuh Kristus dalam Ekaristi dan Firman-Nya di dalam Alkitab, kita bersama-sama melakukan perjalanan untuk menemukan makna di tengah-tengah realitas sakit dan kematian. Dalam Ekaristi, hidup kita bukan sekedar serentetan peristiwa-peristiwa tanpa arti, tetapi partisipasi kita dalam kehidupan kekal Allah.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Preaching Faith

Nineteenth Sunday in Ordinary Time [August 12, 2018] John 6:41-51

Amen, amen, I say to you, whoever believes has eternal life. I am the bread of life.  (Jn 6:47-48)

I am currently having my pastoral clinical education in one of the hospitals in the Metro Manila. Aside from visiting the patients and attending to their spiritual needs, we also have processing sessions guided by our supervisor.  During one of the sessions, our supervisor asked me, “Where is the ultimate source of your preaching?” As a member of the Order of Preachers, I was caught off guard. My initial reaction was to say our deeply revered motto, “Contemplare, at contemplata aliis tradere (to contemplate, and to share the fruits of one’s contemplation).” He pressed further and asked what is behind this contemplation. I began scrambling for answers. “Is it study? Community? Or prayer? He said that those were right answers, but there is something more basic. I admitted I am clueless. While he was smiling, he said “It is faith.”

His answer is very simple and yet makes a lot of sense. We pray because we have faith in God. We go to the Church because we have faith in the merciful God who calls us to be His chosen people. As for myself, I entered the Dominican Order because I have faith that generous God invites me to this kind of life. We preach because we trust in the loving God and we want to share this God with others.

I have spent years studying philosophy and theology at one of the top universities in the Philippines, but when I meet the patients with so much pain and problems, I realize that all my achievements, knowledge and pride are coming to naught. How am I going to help patients having troubles to settle hospital bills with astronomical amount?  How am I going to help persons in their dying moments? How am I going to help patients who are angry with God or disappointed with their lives? However, as a chaplain, I need to be there for them, and the best preaching is in fact, the most basic one. It is not preaching in the forms of theological discourse, philosophical discussion, and a long sermon or advice. To preach here is to sharing my faith and to receive their faith. I am there to be with them, to listen to their stories and struggles, to share a little humor and laughter, and to pray together with them. To pray for them is the rare moments that I pray with all my faith because I know that only my faith I can offer to them.

In our Gospel today, we read that some Jews are murmuring because they have no faith in Jesus. Yet, Jesus does not only call them to simply trust in Him, but also to literally eat Him because He is the Bread of Life. The faith in the Eucharist is indeed a tipping point. It is either the craziest of the crazy or the greatest faith that can move even a mountain. As Christians who believe in the Eucharist and receive Jesus in every Mass, we are tremendously privilege and challenged to have and express this faith. However, when we fail to appreciate this meaning and beauty of this faith, and only receive the Bread of Life in a routinely and mechanical fashion, we may lose altogether this faith.

As people who go to Church every Sunday and receive the Eucharist on a regular basis, do we truly believe in Jesus the Bread of Life? Does our faith empower us to see God in the midst of our daily struggles and challenges? Do we have faith that we can share when it matters most?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mewartakan Iman

Minggu ke-19 dalam Masa Biasa [12 Agustus 2018] Yohanes 6: 41-51

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal. 48 Akulah roti hidup. (Yoh 6: 47-48)

faith1Saat ini saya sedang menjalani pelayanan pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Selain mengunjungi pasien dan melayani kebutuhan rohani mereka, kami juga mengikuti sesi pengolahan yang dipandu oleh seorang pengawas. Dalam salah satu sesi, pengawas kami bertanya kepada saya, “Di mana sumber utama pewartaanmu?” Sebagai anggota Ordo Pengkhotbah, saya terperangah. Reaksi awal saya adalah mengucapkan motto kami, “Contemplare, di contemplata aliis tradere (untuk berkontemplasi dan membagikan buah dari kontemplasi).”

Dia menekan lebih jauh dan bertanya apa yang ada di balik kontemplasi itu. Saya mulai bingung mencari jawaban. “Apakah ini studi? Hidup komunistas? Atau doa? Dia mengatakan bahwa semua jawaban saya adalah benar, tetapi ada sesuatu yang lebih mendasar. Saya akui saya tidak tahu. Dia pun tersenyum dan dia mengatakan, ini adalah iman.

Jawabannya sangat sederhana namun sangat masuk akal. Kita berdoa karena kita memiliki iman kepada Tuhan. Kita pergi ke Gereja karena kita memiliki iman kepada Allah yang penuh belas kasih yang memanggil kita untuk menjadi umat pilihan-Nya. Sedangkan, saya sendiri memasuki Ordo Dominikan karena saya memiliki iman bahwa Allah yang murah hati memanggil saya untuk hidup membiara. Kita mewartakan karena kita memiliki iman pada Tuhan yang pengasih dan kita ingin berbagi Tuhan dengan sesama.

Saya telah menghabiskan bertahun-tahun belajar filsafat dan teologi di salah satu universitas ternama di Filipina, tetapi ketika saya bertemu pasien dengan penyakit dan masalah yang sanget berat, saya menyadari bahwa semua pencapaian, pengetahuan, dan kebanggaan saya itu sia-sia. Bagaimana saya akan membantu pasien untuk membayar tagihan rumah sakit dengan jumlah yang sangat besar? Bagaimana saya akan membantu pasien-pasien di saat-saat terakhir mereka? Bagaimana saya akan membantu pasien yang marah pada Tuhan atau kecewa dengan hidup mereka? Namun, saya harus ada di sana untuk mereka menjadi pewartaan yang terbaik dan paling mendasar. Ini bukan pewartaan dalam bentuk diskursus teologis, diskusi filosofis, dan khotbah atau nasihat yang panjang. Untuk mewartakan di sini adalah untuk membagikan iman saya dan untuk menerima iman mereka. Saya ada di sana untuk bersama mereka, untuk mendengarkan kisah dan pergulatan mereka, untuk berbagi sedikit canda dan tawa serta berdoa bersama dengan mereka. Berdoa untuk mereka adalah saat-saat langka, di mana saya berdoa dengan semua iman saya sebab saya tahu bahwa hanya iman ini yang dapat saya berikan kepada mereka.

Dalam Injil kita hari ini, kita membaca bahwa beberapa orang Yahudi bersungut-sungut karena mereka tidak memiliki iman kepada Yesus. Namun, Yesus tidak hanya memanggil mereka untuk hanya percaya kepada-Nya, tetapi juga untuk benar-benar memakan-Nya karena Dia adalah Roti Kehidupan. Iman dalam Ekaristi sungguh menjadi penentu. Hanya dua kemungkinan: sebuah kegilaan atau iman terbesar. Sebagai umat Kristiani yang percaya pada Ekaristi dan menerima Yesus di setiap misa, kita menerima rahmat dan ditantang luar biasa untuk memiliki dan menyatakan iman ini. Namun, ketika kita gagal untuk menghargai arti dan keindahan dari iman ini dan hanya menerima Roti Hidup secara rutin, kita akan kehilangan iman ini.

Sebagai orang yang pergi ke Gereja setiap Minggu dan menerima Ekaristi secara teratur, apakah kita benar-benar percaya kepada Yesus, Sang Roti Hidup? Apakah iman kita mampu memberdayakan kita untuk melihat Tuhan di tengah-tengah perjuangan dan tantangan hidup kita sehari-hari? Apakah kita memiliki iman yang dapat kita bagikan di saat yang paling penting?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP