Tax

29th Sunday in Ordinary Time. October 22, 2017 [Matthew 22:15-22]

“…repay to Caesar what belongs to Caesar and to God what belongs to God.” (Mat 22:21)

caesar and god“In this world nothing can be said to be certain, except death and taxes.”  Benjamin Franklin once said. Indeed, tax is an unpleasant and unavoidable fact in our lives as ordinary citizen. A portion of our hard-earned wage is suddenly taken away from us, and only God knows where it goes. In modern society, almost all we have, we gain, and we use are taxed. The practice of taxing people goes back to first known organized human societies. The basic idea is that tax will provide a common resource for the improvement of the community, like building roads, free education and quality health care. Yet, the ideal is often met with abuses. In olden time, the kings and chieftains taxed people so they could build their grand palaces and feed their wives. Unfortunately, the situation does not change much in our time.

In the time of Jesus, taxation is a burning issue. Ordinary Jews like Jesus himself are taxed heavily by the Roman colonizers, and for those who are not able to pay, they are dealt with severity. Their properties are confiscated, they are put to jail and even face capital punishment.  Not only that the Jews need to pay tax to the Romans, but they need also to pay the religious tax to support the Temple. These leave simple Jewish farmers or laborers with almost nothing, and the poor become even poorer. Both Jesus and the Pharisees are also victims of this unjust system.

Any Jew would abhor paying tax to the Romans and lament his obligation to support the Temple, but majority of the Jews will prefer to abide with the rules and pay the tax because they do not want to court problems. The Pharisees and other pious Jews detest using the Roman coins because there is engraved the image of Caesar as god. The entire system is simply idolatrous for them. Yet, even many Pharisees pay their share as to maintain peace and order. The usual impression of this Gospel episode is that wise Jesus outwits a team of Pharisees and Herodians, who plan to trap Him with a tricky yet politically charged question. Yet, going deeper, there are so much at stake. Though the question is directly addressed to Jesus, the same question is applicable to all Jews who are forced to pay tax to the Romans. Thus, condemning Jesus as idolatrous means they also condemn the majority of fellow Jews for paying tax.

Jesus’ answer is not a categorical yes or no, rather he formulates it in such a way that does not only save Him from the trap, but saves everyone who are forced to pay tax from the idolatry charge. Ordinary Jews are working extremely hard for their lives and families, and it is simply a merciless act to condemn them as idol worshipers simply because they need to pay tax and avoid severe punishment. Jesus’ answer removes this guilt from poor Jews struggling to feed their family as the same time enables them to be holy in the sight of the Lord. From here, to give what belongs to God does not simply mean to pay the religious tax or to offer sacrifices in the Temple, but it is primarily to help others getting closer to God. What belongs to God? It is His people.

In our own time and situation, we may pay our taxes to the governments and live as good and law-abiding citizen, but do we give what belongs to God? Do we, like the Pharisees, place unnecessary burdens on others’ shoulders? Do we ridicule other who are not able to go the Church because they need to feed their family? Do feel holy simply because we are active in the Church and donate a big amount of money? What have we done to bring people closer to God?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pajak

Hari Minggu Biasa ke-29 [22 Oktober 2017] Matius 22: 15-22

“… Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:21)

ceasar coinBenjamin Franklin pernah berkata, “Di dunia ini tidak ada yang pasti, kecuali kematian dan pajak.” Sungguh, pajak adalah fakta yang tidak menyenangkan dan juga tidak dapat dihindari dalam hidup kita sebagai warga negara. Sebagian dari penghasilan yang diperoleh dari jerih payah kita tiba-tiba diambil, dan hanya Tuhan yang tahu ke mana itu pergi. Praktek perpajakan sebenarnya sudah terjadi sejak komunitas manusia pertama di bumi. Ide dasarnya adalah bahwa pajak akan menyediakan sumber daya yang untuk kemajuan bersama, seperti membangun jalan, pendidikan dan perawatan kesehatan berkualitas. Namun, hal ini sering disalahgunakan. Di zaman dulu, para raja dan kepala suku menarik pajak agar mereka bisa membangun istana megah mereka dari pada membangun rakyatnya. Sayangnya, situasi tersebut tidak banyak berubah di zaman sekarang. Para pejabat korup menarik pajak hanya untuk membangun “istana” mereka yang megah, dan bukannya membangun rakyat.

Pada masa Yesus, pajak adalah isu yang sangat sensitif. Orang-orang Yahudi sederhana dikenai pajak oleh penjajah Romawi, dan bagi mereka yang tidak mampu membayar, mereka akan dipenjara, harta-benda mereka akan disita dan bahkan menghadapi hukuman mati. Ini membuat para petani dan pekerja Yahudi sederhana semakin miskin dan tak berdaya. Baik Yesus maupun orang Farisi juga menjadi korban dari sistem perpajakan yang menindas dan tidak adil ini.

Tidak ada yang suka membayar pajak kepada penjajah Romawi, namun sebagian besar orang Yahudi akan memilih untuk mematuhi peraturan dan membayar pajak karena mereka tidak menginginkan masalah datang. Orang-orang Farisi dan orang-orang Yahudi saleh lainnya membenci menggunakan koin Romawi karena di dalamnya, ada gambar Kaisar yang diukir sebagai dewa. Seluruh sistem perpajakan adalah penyembahan berhala. Namun, banyak orang Farisi tetap membayar pajak agar mereka tetap hidup.

Pesan yang biasanya kita dengar dari Injil hari ini adalah Yesus yang cerdik mengalahkan para Farisi dan Herodian yang ingin menjebak Dia dengan pertanyaan yang rumit. Namun, sebenarnya, ada banyak hal yang dipertaruhkan di sini. Meskipun pertanyaan itu ditujukan kepada Yesus, pertanyaan yang sama berlaku untuk semua orang Yahudi yang terpaksa membayar pajak kepada bangsa Romawi. Dengan demikian, jika mereka menuduh Yesus sebagai penyembah berhala, mereka juga menuduh mayoritas orang Yahudi untuk membayar pajak.

Jawaban Yesus bukanlah jawaban kategoris ya atau tidak, tetapi ini dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak hanya menyelamatkan-Nya dari perangkap, tapi juga menyelamatkan setiap orang yang terpaksa membayar pajak dari tuduhan sebagai penyembah berhala. Orang-orang Yahudi yang sederhana harus bekerja sangat keras bagi keluarga mereka, dan terpaksa membayar pajak demi keselamatan diri mereka. Tidak cukup, para Farisi menuduh mereka sebagai penyembah berhala karena membayar pajak. Ini sungguh kejam karena para Farisi ini yang seharusnya menjadi contoh kekudusan, justru menjauhkan banyak orang jadi Tuhan. Syukurlah, jawaban Yesus menyingkirkan rasa bersalah ini dari orang-orang Yahudi yang berjuang untuk memberi makan keluarga mereka. Ini bukanlah sekedar membayar pajak, tetapi sungguh menjadi kudus di hadapan Tuhan.

Dalam hidup kita sehari-hari, kita mungkin taat membayar pajak kita kepada pemerintah dan hidup sebagai warga negara yang patuh hukum, tetapi sekali lagi Injil hari ini bukanlah sekedar tentang membayar pajak. Apakah kita, seperti orang-orang Farisi, hanya mau menjadi suci sendiri dengan menjadi sangat aktif di Gereja dan memberi kolekte besar, tetapi malah menghalangi sesama yang ingin menjadi kudus? Apakah kita sekedar menghakimi dan mencibir mereka yang tidak bisa aktif di Gereja karena harus bekerja keras menghidupi keluarga mereka? Apakah kita membawa orang lain lebih dekat kepada Tuhan atau malah melakukan hal yang sebaliknya?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Challenging Our Image of God

28th Sunday in Ordinary Time. October 15, 2017 [Matthew 22:1-14]

“Go out, therefore, into the main roads and invite to the feast whomever you find!” (Mat 22:1)

made-in-the-image-of-godJesus is already in Jerusalem. The confrontations between Jesus and the Jewish authorities have turned bitter, and Jesus is approaching His final days on earth. With this context, the parable may be understood easily. The invited guests stand for some elite Israelites who refuse Jesus, and thus, reject God Himself. The burning of their towns and cities may point to the invasion of the Roman Empire and the destruction of Jerusalem in 70 AD. The commoners who are later invited represent the people from all nations who accept Christ. Yet, some people who are already at the Wedding banquet do not wear the expected wedding garment. This proper dress decorum is a basic sign that the guests are honoring the host, and also becomes the symbol of our faith, our good works and our holy lives. For those who fail to honor the King through their garment are thrown out from the banquet.

At that level, the parable is indeed easy to comprehend. We are called not to imitate the example of some elite Israelites but to receive eagerly God’s invitation. As to the wedding garment, we are also expected to live out our faith to the fullest. However, something continues to bother me within this interpretation. It presents a conflicting image of a king that is authoritarian and vengeful and a king who is exceptionally generous, seen in his persistence to invite his first set of guests, and his openness to accept the ordinary people. As to the first image, he exacts his justice in violent ways. Like any king in ancient times, he will destroy the people who dishonor him, to the point of burning their towns or throwing them into darkness. If we are not careful enough, we may identify this king with our image of God. We may believe that our God is a God who rewards the good and punishes the wrongdoers even with severe and violent ways. He is easily offended by simple mistakes, and is not compassionate enough as to give a second chance.

We remember that we are created in the image of God. Now if we have this kind of vindictive and unforgiving God, then we gradually behave like that image of violent God. In the Philippines, where the majority are Christians, the killings of alleged criminals are in steady rise. Surprisingly, some people seem to approve it and even happy with this bloody happenings. This attitude might be a reflection of our image of God that is vengeful and violent.

This kind of God’s image may manifest also in more subtle ways. Despite their sincere apology, it is difficult to forgive a friend who has hurt us, a husband who has betrayed us, or a boss who has acted unjustly. As husband and father, we act like a supreme leader, and refuse to listen to our wives and other family members. As priests, religious sisters, or lay leaders, we think that we are always right and do not accept any correction. We focus on the weakness of others, rather than their struggles to become better. Instead helping them to rise from their failures, we ridicule them and enjoy gossiping about them. These are some instances that we are influenced by the false image of God. This kind of image is only preventing our growth in faith, but also destroying our healthy relationship with others.

I believe that some asects of the parable remain true and relevant, like God’s radical openness to all people, and our faith that has to be lived fully. Yet, in more profound level, the parable challenges our false image of god, the god who is vindictive and violent. It invites us to rediscover God’s image in the person of Jesus who loves us to the end, and dies so that we may live.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sang Raja dan Citra Allah

Hari Minggu Biasa ke-28 [15 Oktober 2017] Matius 22: 1-14

Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu!” (Mat 22:9)

king's banquetYesus sudah berada di Yerusalem. Konfrontasi antara Yesus dan pemimpin bangsa Yahudi semakin memanas. Yesus pun mendekati hari-hari terakhir-Nya. Dengan konteks ini, perumpamaan hari ini tidak terlalu sulit untuk kita pahami. Tamu yang diundang mewakili elit Israel yang menolak Yesus, dan dengan demikian, menolak Allah sendiri. Pembakaran kota mungkin mengarah pada invasi Kekaisaran Romawi dan penghancuran Yerusalem pada tahun 70 Masehi. Orang-orang biasa yang kemudian diundang dan datang, mewakili orang-orang dari semua bangsa yang menerima Kristus. Namun, beberapa orang yang sudah ada di pesta pernikahan tidak memakai baju pernikahan yang diharapkan.  Pakaian yang tepat menjadi pertanda bahwa para tamu menghormati sang tuan rumah, dan juga ini menjadi simbol iman, perbuatan baik dan kehidupan kudus kita. Bagi mereka yang gagal menghormati Raja melalui pakaian mereka akan diusir dari perjamuan.

Pada tahapan ini, perumpamaan ini memang mudah untuk dipahami. Kita dipanggil untuk tidak meniru beberapa elit Israel yang menolak Yesus, tapi untuk menerima undangan Allah dengan penuh suka cita. Mengenai pakaian yang layak, kita juga diharapkan bisa menghidupi iman kita sepenuhnya. Namun, ada sesuatu yang terus mengganjal dalam hati saya. Apakah itu? Penafsiran ini menyajikan dua citra Raja yang bertentangan. Di satu sisi, sang raja sangat murah hati, gigih untuk mengundang para tamunya, dan terbuka untuk menerima orang-orang biasa. Tapi, di sisi lain, dia adalah raja yang otoriter dan menuntut keadilannya dengan cara-cara kekerasan. Seperti raja di zaman dahulu, dia akan menghancurkan orang-orang yang mencemarkan nama baiknya, sampai-sampai membakar kota mereka atau melemparkan mereka ke dalam kegelapan. Jika kita tidak cukup hati-hati, kita bisa mengidentifikasi raja ini dengan citra Allah yang kita miliki. Kita mungkin mulai percaya bahwa Allah kita adalah Allah yang suka menghukum orang-orang yang jahat bahkan dengan cara-cara yang keras. Dia adalah Allah mudah tersinggung oleh kesalahan-kesalahan sederhana, dan tidak berbelas kasih untuk memaafkan.

Kita ingat bahwa kita diciptakan menurut citra Allah. Sekarang jika kita memiliki Allah yang pendendam dan tak kenal ampun, kita secara tidak sadar berperilaku seperti citra Allah yang penuh kekerasan ini. Di Filipina, di mana mayoritas adalah orang Katolik dan Kristen, pembunuhan tanpa proses hukum terhadap para terduga kriminal meningkat dengan tajam. Anehnya, beberapa orang tampaknya menyetujui dan bahkan senang dengan kejadian berdarah ini. Sikap ini mungkin merupakan cerminan dari citra Allah yang penuh dendam dan kekerasan.

Citra Allah semacam ini bisa mempengaruhi kita juga dengan cara yang lebih halus. Meskipun sudah minta maaf secara tulus, sulit bagi kita untuk memaafkan seorang teman yang telah menyakiti kita, suami yang telah mengkhianati kita, atau atasan yang telah bertindak tidak adil. Sebagai seorang ayah dan suami, kita bertindak otoriter dan bahkan tak mau mendengarkan pendapat anggota keluarga lain. Sama halnya dengan pastor, suster, atau atasan yang bertindak sendiri tanpa mau menerima koreksi. Terkadang, Kita fokus pada kelemahan orang lain, dan bukan pada usaha mereka untuk menjadi lebih baik. Dari pada membantu mereka bangkit dari kegagalan mereka, kita memilih untuk menertawakan mereka dan membuat gosip. Citra Allah seperti ini hanya menghambat pertumbuhan iman kita, tapi juga merusak hubungan kita yang sehat dengan sesama.

Saya percaya bahwa beberapa aspek perumpamaan tetap benar dan relevan, seperti keterbukaan radikal Allah bagi semua orang, dan iman kita yang harus dihidupi sepenuhnya. Namun, dalam tahapan yang lebih mendalam, perumpamaan ini menantang citra Allah kita yang tidak benar, seperti Allah yang penuh dendam dan kekerasan. Injil mengundang kita untuk menemukan kembali citra Allah di dalam pribadi Yesus yang mengasihi kita sampai akhir, dan mati agar kita bisa hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

God’s Co-Workers

27th Sunday in Ordinary Time. October 8, 2017 [Matthew 21:33-43]

 There was a landowner who planted a vineyard… (Mat 21:33).”

Red-Vineyard-croppedThe image of a vineyard is close to Israelites’ hearts because this springs from their prophetic tradition. Isaiah uses this metaphor to describe Israel and God (see Isa 5:1-8).  Consistent with this great prophet, Jesus crafts His parable of the vineyard to describe the relation between God and His people. God is the just and generous vineyard owner, and we are His workers. Now, it is up to us to work hard for the Lord in His vineyard and receive abundant harvest, or be lazy, and expelled from the vineyard.

However, there is another way of looking at this parable. For three consecutive Sundays, we have listened to parables that feature a vineyard and people who are involved in this vineyard. If there is one common denominator in these three parables, it is about the difficult and often problematic relationship between the landowner and the workers.

In ancient Israel, big landowners were hiring workers or leasing their land to farmer-tenants. At the end of the day, the workers received their wage, or at the harvest, tenants got their share of their labor. Here the situation became very thorny and conflict-ridden. The owners wanted the highest profit from their land, while the workers desired the greatest income from their labor. At times, the Israelite laborers received very little wage or very small share from the harvest. With very little income, they had to pay high taxes to the Roman colonizers and contributions to the Temple. Thus, what remained was barely enough to feed the family. Disgruntled and hungry workers were very prone to violent actions. However, it was true also that some good landowners gave more than enough wages, but some workers tended to be lazy, abusive to fellow workers, and are even involved in stealing the harvest.

In our time, we seem to face more complex issues in relation to employer, employees and employment. With global networking and communication, an American company may hire Filipino workers working in Manila serving European customers. With almost unrestricted mobility, millions of workers from Indonesia or the Philippines try their luck in Middle East countries. With steady increase of automation, many manual works are gradually replaced by robots. More and more people prefer to buy things or avail service online. One of the hottest debates now in the United Nations is the usage of Artificial Intelligence (AI) to “judge” human right cases in the International Tribunal. The AI has become so sophisticated that it can predict the verdicts of human judges. Now, highly skilled human profession like a judge can even be replaced by an AI. Many professions that were trending years ago have become extinct now, and more seem to follow. Yet, despite these advancements and complexity, the fundamental issue remains: whether both the employers and the employees give what is expected and receive with are due to them?

Jesus’ parable is not only relevant for our time, but it continues to challenge our fundamental understanding of our dignity as God’s co-workers in His vineyard. As workers, do our attitudes in the workplaces reflect the good attitudes of Jesus’ followers? As owners or superiors, do we manifest that delicate balance between God’s justice and His generosity? Finally, as God’s co-workers, do we work for a better world for us and future generations, or we simply aim for our selfish interest and greed?

(Note: today is the feast day of Our Lady of the Holy Rosary of La Naval de Manila, before whom I kneel down every morning and pray for inspiration guiding my Sunday reflections. May she continue to guide us in our journey of faith. Happy Fiesta!)

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Rekan Kerja Allah

Minggu Biasa ke-27 [8 Oktober 2017] Matius 21: 33-43

 Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur…  (Mat 21:33)”

m20-mafaKebun anggur merupakan citra yang dekat dengan hati orang Israel. Nabi Yesaya menggunakan metafora ini untuk menggambarkan relasi Israel dan Allah mereka (lihat Yesaya 5: 1-8). Konsisten dengan nabi agung ini, Yesus menceritakan perumpamaan tentang kebun anggur versi-Nya sendiri untuk menggambarkan hubungan antara Allah dan umat-Nya. Tuhan adalah pemilik kebun anggur yang adil dan juga murah hati, dan kita adalah para pekerja-Nya. Sekarang, terserah kepada kita untuk bekerja keras untuk Tuhan di kebun anggur-Nya dan menerima panen berlimpah, atau bermalas-malasan, dan akhirnya diusir dari kebun anggur.

Namun, ada cara lain untuk membaca perumpamaan ini. Selama tiga hari Minggu berturut-turut, kita mendengarkan perumpamaan yang menampilkan kebun anggur dan orang-orang yang terlibat dalam kebun anggur ini. Jika ada satu kesamaan dari ketiga perumpamaan tersebut, ini adalah hubungan yang sulit dan sering kali bermasalah antara pemilik kebun dan para pekerja.

Di Israel masa lalu, pemilik tanah yang besar mempekerjakan para buruh atau menyewakan tanah mereka kepada petani. Pada akhir hari, para pekerja menerima upah mereka, atau saat panen, penyewa mendapatkan bagian dari panen tersebut. Di sinilah situasi sering menjadi sangat sulit dan penuh konflik. Sang pemilik menginginkan keuntungan tertinggi dari tanah mereka, sementara para pekerja menginginkan penghasilan terbesar dari usaha mereka. sering kali, buruh tani Israel menerima upah yang kecil atau bagian yang sangat kecil dari panen. Dengan pendapatan yang sangat kecil, mereka masih harus membayar pajak yang tinggi kepada penjajah Romawi dan juga sumbangan ke Bait Allah. Apa yang tersisa hampir tidak cukup untuk memberi makan keluarga mereka. Tentunya, pekerja yang tidak puas dan lapar sangat rentan terhadap aksi kekerasan terhadap sesama dan pemilik tanah. Namun, tidak semua pemilik lahan adalah buruk. Mereka yang baik akan memberi upah yang lebih dari cukup, namun mereka juga harus menghadapi masalah seperti beberapa pekerja yang cenderung malas, kasar terhadap rekan kerja, dan bahkan terlibat dalam pencurian panen.

Di zaman ini, kita tampaknya menghadapi masalah yang lebih kompleks dalam kaitannya dengan pemilik modal, pekerja dan pekerjaan. Dengan jaringan dan komunikasi global, perusahaan Amerika dapat mempekerjakan tenaga kerja Filipina yang bekerja di Manila yang melayani pelanggan dari Eropa. Dengan mobilitas yang hampir tidak terbatas, jutaan pekerja dari Indonesia atau Filipina mencoba peruntungannya di negara-negara Timur Tengah. Dengan pengembangan teknologi otomasi, banyak kerja manual secara bertahap digantikan oleh robot. Semakin banyak orang lebih memilih untuk membeli barang atau layanan secara Online. Salah satu perdebatan terpanas yang sekarang ada di Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah penggunaan intelletualitas buatan (Artificial Intellegence) untuk memberi keputusan bagi kasus-kasus hak asasi manusia di Pengadilan Internasional.  Artificial Intellegence telah menjadi begitu canggih sehingga bisa memprediksi putusan hakim manusia. Kini, profesi manusia yang membutuhkan keahlian yang kompleks seperti hakim bahkan bisa digantikan oleh Artificial Intellegence. Banyak profesi yang tren di masa lalu telah punah, dan banyak profesi baru pun bermunculan. Namun, terlepas dari kemajuan dan kompleksitas ini, kita tetap menghadapi masalah mendasar: apakah yang memperkerjakan dan yang diperkerjakan memberikan apa yang diharapkan dan menerima  apa yang menjadi hak mereka?

Oleh karena itu, perumpamaan Yesus tidak hanya relevan untuk masa ini, tetapi juga terus menantang pemahaman mendasar tentang martabat kita sebagai rekan kerja Allah di kebun anggur-Nya. Sebagai pekerja, apakah sikap kita di tempat kerja mencerminkan sikap yang baik para pengikut Yesus? Sebagai pemilik atau atasan, apakah kita mewujudkan keseimbangan antara keadilan Allah dan kemurahan hati-Nya? Akhirnya, sebagai rekan kerja Tuhan, apakah kita bekerja untuk dunia yang lebih baik bagi kita dan generasi masa depan, atau kita hanya ingin mencapai kepentingan egois dan keserakahan kita?

(Catatan: hari ini adalah hari raya Bunda Maria Ratu Rosario La Naval de Manila, dan setiap pagi saya berdoa dihadapannya memohon inspirasi yang membimbing saya dalam menulis refleksi Mingguan ini. Semoga Sang Bunda terus membimbing dan menemani kita dalam perjalanan iman kita.)

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Good Intention

26th Sunday in Ordinary Time. October 1, 2017 [Matthew 21:28-32]

“Which of the two did his father’s will?”  (Mat 21:31)

two_sonsThe road to hell is paved with good intentions. This old proverb attributed to St. Bernard of Clairvaux may sound rather morbid and threatening, but the truth remains. If we have only good intentions, marvelous plans, or great designs, but we never lift a finger to begin the first step, nothing will happen. We want to focus on our study, yet we are distracted by Facebook’s status and newsfeeds, our online chatting, or endless videos in YouTube, we will not make any progress. We wish to accomplish a lot of works, but our attentions and energy are consumed by so many other concerns. Then, our wish stays a wish.

The parable Jesus shares this Sunday speaks of a good intention or ‘yes’ that can be completely useless if it does not materialize in concrete actions. Yet, more than achieving the highest productivity, the parable teaches us some more primordial truth. At the end of the parable, Jesus asks the Jewish elders, “Which of the two did his father’s will?” The parable teaches us about doing the Father’s will.

From the two sons, we learn that doing God’s will can be tough and demanding. Once I had an exposure with poor farmers in Indonesia. I was staying with a family who tilled their own small and almost barren land, and every morning, they went to the field and make sure that their plants were still alive. Part of my exposure was that I had to help them. Used to the comfort of seminary life, I barely lasted for an hour working under the scorching summer heat, and then rested the entire day while looking at the family working so hard. I imagine that the two sons in the parable are aware of the challenges that they will endure working at the vineyard, and it is expected that the resistance will build up. The first son immediately declines his father’s wish, while the second son says yes.

We might wonder why the second son changes his mind. Perhaps, he has no plan to work there, and what he says is utter lie and deception. Yet, I tend to believe that he has actually a good intention to fulfill his duty, but he is discouraged by the looming hardship he will face in vineyard, and ends up doing nothing at all. Perhaps many of us are like this second son. We intend to help more our Church, yet we are always late going to the Mass, complaining about the priest’s homily, and not participating in the various activities or organizations in the parish. We wish to give glory to God, yet our lives do not manifest a good Christian life as we indulge in gossiping, are envious with other members of the Church, and become choosy in our services. No wonder for some, the Church feels like hell!

We remember that these two men are the sons of the vineyard’s owner and thus, the vineyard essentially belongs to them. If they refuse to work, they will lose their vineyard. The poor family where I stayed for exposure, were working extremely hard despite many difficulties. I realize that all this they did because their small land was what gave them life. Doing God’s will is often challenging, yet in the end, it is for our good. I believe it is not too late to act on our good intentions, and from the second son, we transform into the first son. We are working in the Lord’s vineyard because the vineyard is also ours.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Niat baik

Minggu Biasa ke-26 [1 Oktober 2017] Matius 21: 28-32

Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” (Mat 21:31)

working-landSt. Bernardus dari Clarivaux pernah berpendapat bahwa Jalan menuju neraka dibuat dengan niat baik. Ucapannya mungkin terdengar agak mengerikan, tapi dia berbicara sebuah kebenaran. Jika kita hanya memiliki niat baik atau rencana yang luar, tapi kita tidak pernah bergerak untuk memulai langkah pertama, tidak akan terjadi apa-apa. Kita ingin fokus pada pendidikan kita, namun kita terus terganggu oleh status di Facebook, Online chat, atau menonton ribuan video di YouTube, maka kita tidak akan membuat kemajuan. Kita ingin menyelesaikan banyak pekerjaan di tempat kerja, tapi perhatian dan energi kita terkonsumsi oleh begitu banyak hal-hal lain. Maka, niat baik kita tetaplah sebuah niat.

Perumpamaan pada hari Minggu ini berbicara tentang niat baik yang sama sekali tidak berguna jika tidak terwujud dalam tindakan nyata. Namun, lebih dari sekedar mencapai produktivitas, perumpamaan tersebut mengajarkan kita sebuah kebenaran yang lebih primordial. Di akhir perumpamaan ini, Yesus bertanya kepada para penatua bangsa Yahudi, Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Perumpamaan ini mengajarkan kita tentang melakukan kehendak Bapa.

Dari kedua anak tersebut, kita belajar bahwa melakukan kehendak Tuhan bisa menjadi sangat sulit dan penuh tuntutan. Saya pernah menjalani program “live-in” dengan keluarga petani di Wonosari, Yogyakarta. Saya tinggal dengan keluarga yang menggarap tanah mereka yang kecil dan terkesan tandus. Setiap pagi, mereka pergi ke ladang dan memastikan tanaman mereka masih hidup. Tugas saya adalah membantu mereka di ladang. Namun, karena terbiasa dengan kehidupan seminari, saya hanya mampu bertahan selama satu jam bekerja di bawah terik matahari, dan kemudian hanya beristirahat sambil melihat keluarga ini bekerja sangat keras. Saya membayangkan bahwa kedua anak dalam perumpamaan ini mengetahui bekerja di kebun anggur tidaklah mudah, dan mereka tidak menyukai hal ini. Anak pertama segera menolak keinginan ayahnya, sementara anak kedua mengatakan ya, namun tidak jadi berangkat.

Kita mungkin bertanya-tanya mengapa anak kedua berubah pikiran. Mungkin, dia tidak punya rencana untuk bekerja di sana, dan apa yang dia katakan adalah kebohongan belaka. Namun, saya cenderung percaya bahwa sebenarnya dia memiliki niat baik untuk memenuhi tugasnya, namun dia berkecil hati setelah membayangkan kesulitan yang akan dia hadapi di kebun anggur, dan akhirnya tidak melakukan apa-apa. Mungkin banyak dari kita yang seperti anak kedua ini. Kita ingin membantu lebih banyak Gereja kita, namun kita selalu terlambat menghadiri misa, mengeluh tentang homili pastor, dan tidak berpartisipasi dalam berbagai kegiatan atau organisasi di paroki. Kita ingin memuliakan Tuhan, namun hidup kita tidak mencerminkan kehidupan seorang Kristiani yang baik karena kita menikmati gosip, iri dengan anggota Gereja lainnya, dan  pilih-pilih dalam pelayanan kita. Tak heran bagi beberapa orang, Gereja terasa seperti neraka!

Kita ingat bahwa kedua orang ini adalah anak dari pemilik kebun anggur dan dengan demikian, kebun anggur itu sejatinya adalah milik mereka. Jika mereka menolak bekerja, mereka akan kehilangan kebun anggur mereka. Keluarga petani tempat saya tinggal beberapa waktu, bekerja sangat keras meski mengalami banyak kesulitan. Saya menyadari bahwa semua ini mereka lakukan karena tanah mereka yang kecil memberi mereka kehidupan. Melakukan kehendak Tuhan sering kali penuh kesulitan, namun pada akhirnya, semua untuk kebaikan kita. Saya percaya tidak terlambat untuk mewujud nyatakan niat baik kita, dan dari anak kedua, kita bisa berubah menjadi anak pertama. Kita bekerja di kebun anggur Tuhan karena kebun anggur itu adalah milik kita juga.

Frater. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Unworthy, yet Called

25th Sunday in Ordinary Time. September 24, 2017 [Matthew 20:1-16a]

They answered, ‘Because no one has hired us.’ He said to them, ‘You too go into my vineyard.’ (Mat 20:1-16)

vineyard ownerJesus is the storyteller genius. The parable he shares to us today does not only surprise us with its unexpected ending, but it also creates a sense of puzzlement and wonder. We expect that the workers who labored the whole day would get the better wage compared to those who came late. Yet, it did not happen. All got the same wage regardless of their working hours. The vineyard owner was right to explain that he did not violate the agreement with his laborers, but deep inside us, there is something quite off. If we were militant enough, we would stage a rally to protest the vineyard owner’s decision.

This sense of puzzlement and perhaps discontent are born because we can easily identify ourselves with the laborers who came early and worked the whole day, perhaps under the scourging sun and bearing heavy load. Many of us are workers who spend 8 hours or more in the workplace, working hard, just to get something to eat and little to save. Or some of us are students who have to study hard for hours just to pass a subject. Surely, we will feel resentment and even anger when we know that some unqualified workers with less work hours or productivity, receive the same and even higher amount of salary. We, students, will get totally disappointed knowing some lazy students, with their substandard, “copy-paste” assignments, get higher grade than us. It just violates our sense of justice.

However, do we really have to identify ourselves with the laborers who worked the whole day? Who knows they are actually not representing us. In God’s eyes, all of us may be like those people who were standing idle the whole day perhaps because no other vineyard owners think that we deserve the job. Indeed, in the final analysis, we are all but unworthy sinners. Pope Francis is loved by many and working hard for the Church. In his visit to Colombia, when he greeted the people on the streets, he got tripped, his eyebrow was slightly cut, and blood came out. Yet, instead calling off the activity, he proceeded. After receiving quick medical treatment, he insisted to continue greeting the people. Despite the pain, he met the people of God even with brighter smile. Pope Francis is like one of the laborers who came early in vineyard. Once he was asked by reporters to describe himself in one word, he answered he was a sinner! If this loving and holy Pope considers himself a sinner, who are we to think that we are the righteous?

Too much focus on ourselves, we often miss the obvious actions of the vineyard owner. He exerts effort to look for laborers, not just once, but four times. This defies the business logic. Why would you hire more if you have enough workers for the day? Why would you spend much for those worked only for one hour? That’s perfect recipe for bankruptcy! The point is not really about business and profit, but about seeking diligently and embracing those who are the lost, the less and the last. It is about us sinners, unworthy of Him, yet God remains faithful in looking for us.

It is truly humbling experience to know that we are “the people idle on the streets” yet God wants us to be part of His family. Now, it is our duty to respond to his Mercy with commitment and love for others. Like the last workers, we have only “one hour”, and it is time to make the best of it for He who has been very merciful.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Tidak layak, namun Terpanggil

Minggu Biasa ke-25 [24 September 2017] Matius 20: 1-16a

Kata mereka kepadanya, “Karena tidak ada orang mengupah kami”. Katanya kepada mereka, “Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.” (Mat 20:7)

francis-bruised-woundedYesus adalah seorang pencerita yang luar biasa. Perumpamaan Yesus hari ini tidak hanya mengejutkan kita dengan akhir yang tak terduga, tapi juga membuat kita bertanya-tanya. Kita berharap para pekerja yang bekerja sepanjang hari akan mendapatkan upah yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang terlambat datang. Namun, itu tidak terjadi. Semua mendapat upah yang sama. Pemilik kebun anggur menjelaskan bahwa dia tidak melanggar kesepakatan dengan para pekerja, tapi di dalam lubuk hati kita, kita merasa ada sesuatu yang salah.

Rasa bingung dan mungkin ketidakpuasan ini lahir karena kita dapat dengan mudah mengidentifikasi diri kita dengan pekerja yang datang lebih awal dan bekerja sepanjang hari, mungkin di bawah panas matahari dan membawa beban berat. Banyak dari kita adalah pekerja yang bekerja keras selama 8 jam atau lebih di tempat kerja hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Atau beberapa dari kita adalah siswa yang harus belajar berjam-jam agar bisa lulus. Atau kita kita sangat aktif selama bertahun-tahun membantu di paroki. Tentunya, kita akan marah saat mengetahui bahwa beberapa pekerja dengan jam kerja atau produktivitas rendah, menerima gaji yang lebih tinggi dari kita. Sebagai pelajar, kita akan benar-benar kecewa saat mengetahui beberapa siswa yang malas mendapatkan nilai lebih tinggi dari kita. Kita kecewa saat tidak diperhatikan sementara mereka yang baru datang dipuji oleh Romo paroki Itu melanggar rasa keadilan kita.

Namun, apakah kita benar-benar harus mengidentifikasi diri kita dengan para pekerja yang bekerja sepanjang hari? Di mata Tuhan, kita semua mungkin seperti halnya orang-orang yang menganggur sepanjang hari, mungkin karena sebenarnya kita tidak layak mendapat pekerjaan. Kenyataannya, kita semua adalah orang berdosa yang tidak pantas. Paus Fransiskus bekerja keras untuk Gereja. Dalam kunjungannya ke Kolombia, saat dia menyapa umat di jalanan, dia terjatuh, bagian mata kirinya membentur mobil kepausan, dan alisnya pun mengeluarkan darah. Namun, alih-alih menghentikan aktivitasnya, dia melanjutkan. Setelah menerima perawatan medis yang cepat, dia tak berhenti menyapa umatnya. Meski sakit, ia menemui umat Tuhan bahkan dengan senyuman yang lebih cerah. Paus Fransiskus tampak seperti buruh yang bekerja keras. Namun, suatu ketika dia diwawancara dan dia diminta untuk menjelaskan dirinya dalam satu kata. Dia menjawab bahwa dia adalah seorang berdosa! Jika Paus yang penuh kasih dan kudus ini menganggap dirinya berdosa, siapakah kita untuk berpikir bahwa kita adalah orang paling benar?

Terlalu fokus pada diri kita sendiri, kita sering tidak melihat apa yang sebenarnya sang pemilik kebun anggur lakukan di dalam perumpamaan ini. Dia berusaha untuk mencari pekerja, bukan hanya sekali, tapi empat kali. Ini bertentangan dengan logika bisnis. Mengapa kamu mempekerjakan lebih banyak jika kamu memiliki cukup banyak pekerja untuk hari ini? Mengapa kamu menghamburkan uang bagi mereka yang bekerja hanya selama satu jam? Ini adalah resep sempurna untuk kebangkrutan usahamu! Namun, inti perumpamaan ini bukanlah tentang bisnis dan keuntungan, tapi tentang mencari dengan tekun dan merangkul mereka yang tersesat dan hilang. Ini tentang kita orang berdosa, yang tidak layak untuk Dia, namun Tuhan tetap setia dalam mencari dan memanggil kita.

Sungguh sesuatu yang membahagiakan mengetahui bahwa kita adalah “orang-orang yang menganggur di jalanan”, tetapi Tuhan tetap ingin kita menjadi bagian dari keluarga-Nya. Sekarang, tugas kita untuk menanggapi rahmat-Nya dengan komitmen dan kasih bagi sesama. Seperti pekerja yang datang terakhir, kita hanya memiliki “satu jam”, dan sekarang saatnya untuk membuat yang terbaik bagi Dia yang telah sangat berbelaskasihan kepada kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP