Minggu ke-18 Pada Masa Biasa [5 Agustus 2018] Yohanes 6: 24-35
“Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29)
Mengatakan “Amin” adalah sesuatu yang biasanya kita lakukan dalam doa. Kata ini biasanya digunakan untuk mengakhiri doa. Doa alkitabiah seperti Bapa Kami dan Salam Maria biasanya disimpulkan oleh kata amin. Namun, dalam beberapa kesempatan, amin disebut lebih sering. Salah satu tugas pastoral saya di rumah sakit adalah memimpin doa penyembuhan bagi yang sakit. Saya selalu meminta keluarga dan mereka yang menemani pasien untuk berdoa bersama. Biasanya, mereka akan mengatakan amin di akhir doa. Namun, ada juga beberapa orang akan mengucapkan beberapa amin dalam doa, dan bahkan, ada beberapa orang mengucapkan lebih banyak amin dari pada doa yang saya ucapkan! Dalam beberapa kesempatan, amin digunakan di luar konteks doa. Pengkhotbah karismatik akan mengajak pendengar mereka untuk mengatakan amin sebagai bentuk penegasan. Tentunya, ini adalah juga teknik yang bagus untuk membuat pendengar tidak tertidur!
Amin adalah kata yang sederhana namun sangat kuat. Amin menunjukkan penegasan dan persetujuan kita yang kuat terhadap sesuatu. Ini adalah manifesto paling ringkas dari iman kita. Amin adalah bahasa alkitabiah, dan sebenarnya, ini berasal dari kata Ibrani, yang berarti “Sungguh!” Atau “Terjadilah!”. Sangat menarik untuk dicatat bahwa penggunaan awal kata amin dalam Alkitab adalah untuk menegaskan kutukan dan hukuman (lihat Bil 5:22; Ul 27:15). Syukurlah, Kitab Mazmur mengajarkan kita untuk menggunakan amin untuk menegaskan berkat Tuhan. Yesus sendiri suka mengatakan Amin [walaupun dalam alkitab Bahasa Indonesia kata ‘Amin’ diganti dengan kata ‘sesungguhnya’). Ia menggunakan amin untuk menegaskan kebenaran dan kuasa firman-Nya (lihat Mat 5:18; Mat 8: 5). Ada pergeseran radikal di sini. Berbeda dengan praktik biasa untuk menegaskan berkat Tuhan, Yesus mengatakan amin pada kata-kata-Nya sendiri. Ini karena kata-kata Yesus adalah berkat Tuhan. Dengan demikian, belajar dari tradisi Alkitab, kita mengatakan amin untuk menegaskan berkat-berkat Tuhan. Lebih dari itu, belajar dari Yesus, kita mengatakan amin untuk mengekspresikan iman kita dalam Firman-Nya, dan akhirnya kepada Yesus sendiri. Tak mengejutkan bahwa orang pertama dalam Perjanjian Baru yang menyatakan amin kepada Yesus tidak lain adalah ibu-Nya, Maria. Di hapadapan malaikat Gabriel, dia berkata, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu,” singkatnya, “Amin!” (Lihat Luk 1:38)
Salah satu amin terbesar yang kita nyatakan adalah ketika kita menerima Ekaristi. Bagi ratusan juta umat Katolik yang menerima Komuni Suci setiap hari Minggu, mengatakan amin tampaknya biasa-biasa saja. Namun, ini sebenarnya menjadi amin yang paling sulit yang kita katakan. Untuk percaya dan menegaskan bahwa hosti kecil putih adalah Tubuh Kristus yang mengandung kepenuhan keilahian dan kemanusiaan Yesus adalah tanda iman yang luar biasa besar. Saya percaya ini adalah ajakan Yesus untuk percaya kepada-Nya dalam Ekaristi. Berkaitan dengan Injil hari Minggu ini, Yesus mengatakan bahwa pekerjaan yang dikehendaki Allah adalah percaya kepada Yesus, yang diutus oleh Bapa (lihat Yoh 6:29). Membaca bab 6 dari Injil Yohanes ini, kita menemukan bahwa percaya kepada Yesus berarti menerima bahwa Dia adalah Roti Kehidupan, dan mereka yang memakan Roti ini akan memiliki hidup yang kekal (lihat Yoh 6:51). Jadi, untuk mengatakan amin yang dipenuhi oleh iman kepada Ekaristi adalah pemenuhan kata-kata Yesus, dan menuntun kita pada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Sebagai umat yang pergi ke Gereja setiap Minggu dan menerima Ekaristi secara teratur, apakah kita mengatakan Amin dalam kepenuhan iman atau ini hanya sebuah kata yang diulang-ulang? Apakah Amin kita memungkinkan kita untuk mengenali berkat harian yang kita terima? Seperti Maria, apakah iman kita terwujud dalam tindakan sehari-hari kita, dan membuat perbedaan dalam kehidupan kita?
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Unlike the other Gospels, the Gospel of John does not have the story of the Institution of the Eucharist on the Last Supper. However, it does not mean John the evangelist does not write anything about the Eucharist. In fact, John includes the most sublime discourse on the bread of life in his chapter 6. The chapter itself is relatively long, and the Church has distributed it into several Sunday Gospel readings (from today up to August 26). This discourse on the Bread of Life begins with the lovely story of Jesus feeding the multitude.
Tidak seperti Injil lainnya, Injil Yohanes tidak memiliki kisah tentang penetapan Ekaristi dalam Perjamuan Terakhir. Namun, ini tidak berarti Yohanes penginjil tidak menulis apa pun tentang Ekaristi. Nyatanya, Yohanes menulis tulisan yang paling luhur tentang roti hidup dalam bab 6 Injilnya. Bab itu sendiri relatif panjang, dan Gereja telah distribusikannya ke beberapa bacaan Injil hari Minggu (dari hari ini hingga 26 Agustus). Penjelasan tentang Roti Hidup ini dimulai dengan kisah Yesus yang memberi makan banyak orang.
I am currently having my clinical pastoral education at one of the hospitals in Metro Manila. It has been one month since I started my pastoral visits. Since then, I have encountered people in different stages of illness. Many of them are fast recovering, some are taking more time to get cured, but some others have to face serious conditions. It is my ministry as a chaplain to accompany them in their journey of healing. I feel immense joy when I can witness their healing process, from one who is weak on the bed, to one who is standing and ready to leave the hospital.
Saat ini saya menjalani pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Sudah satu bulan sejak saya melakukan kunjungan pastoral pertama saya. Saya telah bertemu banyak pasien yang bergulat dengan berbagai jenis penyakit. Tugas pelayanan saya sebagai pekerja pastoral adalah untuk menemani mereka dalam perjalanan penyembuhan mereka. Saya merasakan sukacita yang luar biasa ketika saya dapat menjadi saksi dalam proses penyembuhan mereka, dari seseorang yang terbaring lemah di tempat tidur, sampai menjadi seseorang yang berdiri tegak dan siap untuk meninggalkan rumah sakit.
Our Gospel today speaks of the mission of the Twelve. They are sent to perform the threefold task: to exorcise the evil spirits, to heal the sick and to preach repentance. This threefold missionary duty reflects Jesus’ mission also in the Gospel according to Mark. To facilitate their preaching ministry, they need to travel light. No extra baggage, no extra burden. They need to travel two by two as a sign of communal and ecclesial dimension of the mission. They shall depend also their sustenance on the generosity of the people. And, when they face rejection, they shall shake the dust off their feet as a symbolic judgment against those who reject them. In ancient time, the Jews shake the dust off their feet when they reenter the Israel soil from the Gentile territories, as a sign of disowning and disapproval of the Gentiles nations.
Injil hari ini berbicara tentang misi dua belas rasul. Mereka dikirim untuk melakukan tiga tugas pokok: mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit dan memberitakan pertobatan. Misi ini mencerminkan misi Yesus dalam Injil Markus. Untuk memfasilitasi misi mereka, mereka perlu melakukan perjalanan dengan ringan. Mereka perlu melakukan perjalanan berdua-dua yang menandakan dimensi komunal dan eklesial misi Yesus. Mereka akan bergantung juga pada kemurahan hati orang-orang yang mereka layani. Ketika mereka menghadapi penolakan, mereka akan mengebaskan debu dari kaki mereka sebagai peringatan simbolis terhadap mereka yang menolaknya. Pada zaman itu, orang-orang Yahudi mengebaskan debu dari kaki mereka ketika mereka masuk kembali ke tanah Israel dari wilayah non-Yahudi, sebagai tanda penolakan dan ketidaksetujuan mereka terhadap bangsa-bangsa non-Yahudi.
When Jesus teaches in the synagogue in Nazareth, the listeners are amazed by his wisdom. Jesus speaks like a mighty prophet. However, the people soon make a background check on Jesus, and they realize Jesus’ identity and his family background. Nazareth is a small rural town in Galilee, and everyone knows everyone in this kind of setting. The people of Nazareth know Jesus as a son of a carpenter, and himself a carpenter. They are familiar also with Jesus’ family and relatives.
Ketika Yesus mengajar di sinagoga di Nazaret, para pendengar kagum dengan kebijaksanaan-Nya. Yesus berbicara seperti seorang nabi yang perkasa. Namun, orang-orang segera melakukan pemeriksaan latar belakang pada Yesus, dan mereka menyadari identitas Yesus dan latar belakang keluarganya. Nazaret adalah desa kecil di Galilea, dan semua penduduk saling mengenal satu sama lain di lingkungan seperti ini. Orang-orang Nazaret mengenal Yesus sebagai putra seorang tukang kayu, dan dirinya sendiri adalah tukang kayu. Mereka juga akrab dengan keluarga dan kerabat Yesus.
Today’s Gospel seems to be just another healing miracles of Jesus, but if we read it closely, the story of the healing of the woman with hemorrhage is extraordinary tale of faith. We are not sure what kind of hemorrhage she suffers, but the fact that she bears the sickness for 12 years, spends a lot for the medication, and does not get any better, means it is pretty serious, if not terminal. During this time, the physicians are extremely rare, and expectedly, the patients need to spend a lot of money. The woman may come from a wealthy family, but she is impoverished because her prolong sickness. The woman is losing her life and facing despair. I am currently assigned as an associate chaplain in one of the hospitals in Metro Manila, and my duty is to make pastoral visit to these patients. I encounter some patients who are suffering from certain health conditions that drain all their resources, and it seems the situation does not get any better. I realize the story of the woman with hemorrhage is not only her story happened in the far past, but it is also our stories here and now.