Minggu ke-23 dalam Masa Biasa [9 September 2018] Markus 7: 31-37
“Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Markus 7:37)
Minggu ini kita mendengar tentang Yesus yang menyembuhkan seorang tuli dan bisu. Terinspirasi oleh mukjizat ini, kita berharap bahwa Yesus akan menyembuhkan penyakit kita dan memecahkan segala masalah kita. Jadi, kita pergi ke berbagai tempat ataupun kegiatan di mana kita percaya Yesus akan menyembuhkan kita. Kita pergi ke situs ziarah, kita menghadiri pertemuan doa, dan kita menjadi aktif terlibat di Gereja. Kita percaya bahwa iman kita kepada Yesus akan menyelamatkan kita. Namun, bagaimana jika doa kita tidak dikabulkan? Bagaimana jika masalah kita tidak selesai tetapi bertambah jumlahnya? Bagaimana jika penyakit kita tidak sembuh, tetapi semakin parah? Suatu kali, saya mengunjungi Flora [bukan nama sebenarnya], pasien kanker usus besar, dan dia bertanya kepada saya, “Frater, saya memiliki iman kepada Tuhan Yesus, dan saya dengan setia melayani di Gereja, tetapi mengapa saya menderita penyakit yang mengerikan ini? “Tentunya, ini pertanyaan yang sulit dijawab.
Dalam Injil hari ini, Markus, penginjil, tampaknya menampilkan Yesus sebagai seorang penyembuh iman tradisional. Sama seperti penyembuh lainnya, Yesus menyentuh bagian tubuh yang yang bermasalah, yaitu telinga dan lidah. Yesus juga meludah karena, pada zaman itu, air liur diyakini memiliki efek terapeutik. Tindakan meludah sendiri juga dianggap bisa mengusir roh jahat, dan beberapa penyakit diduga berasal dari roh jahat ini. Kemudian, Yesus mengucapkan sepatah kata, “Efata!” Ini seperti para penyembuh lainnya yang mendaraskan mantra atau doa, untuk mempengaruhi penyembuhan yang diinginkan.
Terinspirasi oleh citra semacam ini, kita mulai memperlakukan Yesus sebagai seorang penyembuh iman. Kita hanya perlu memiliki iman kepada-Nya, dan semuanya akan menjadi baik. Kita percaya kepada-Nya, dan kita akan diselamatkan. Namun, citra Yesus yang seperti ini adalah sebuah distorsi dan bahkan berbahaya. Kita menjadikan Yesus sebagai pemecah masalah instan, dan ini tidak selalu benar. Sekali lagi, bagaimana jika kita tidak mendapatkan apa yang kita harapkan meskipun kita sudah beriman kepada-Nya?
Markus mengundang kita untuk membaca Injilnya lebih dalam. Ada sesuatu yang luar biasa yang biasanya luput dari perhatian kita. Dalam bahasa Yunani, istilah untuk bisu atau sulit berbicara dalam Injil Markus adalah “mogilalos.” Istilah ini juga sebenarnya digunakan dalam kitab Yesaya ketika sang nabi bernubuat, “Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu – mogilalos – akan bersorak-sorai (Yes. 35:6, dari bacaan pertama kita)”. Namun, nubuatan ini bukan hanya tentang penyembuhkan penyakit, tetapi juga tentang pemulihan yang menyeluruh akan umat Allah (lihat Yes 35: 1-10). Markus tidak hanya ingin menampilkan Yesus sebagai seseorang penyembuh iman, tetapi ia menunjukkan kepada kita bahwa nubuatan Yesaya telah digenapi. Di dalam Yesus, Tuhan telah datang kepada umat-Nya dan menebus kita. Namun, apa maksud pengenapan ini dalam kehidupan kita sehari-hari?
Ini berarti iman kita kepada Yesus lebih besar dari diri kita sendiri, masalah dan kecemasan pribadi kita. Memang benar bahwa kita mungkin tidak segera disembuhkan kita dan tidak mendapatkan solusi untuk masalah kita, namun dengan iman, hidup kita dan kemampuan kita untuk mengasihi semakin luas. Dan, saat kita mampu lebih mengasihi, kita mulai mengubah juga orang-orang di sekitar kita. Seperti ketika orang berubah, dunia kita akan menjadi tempat yang lebih baik.
Kembali ke Flora. Setelah merenung sejenak, saya menjawab Flora, “Saya tidak tahu mengapa Tuhan mengijinkan hal-hal ini terjadi. Tapi, lihatlah, keluarga ibu melakukan yang terbaik untuk membantu ibu pulih karena mereka mengasihi ibu. Sekarang, ibu juga melakukan yang terbaik untuk sembuh karena ibu mengasihi mereka. Lihat Tuhan telah membuat ibu lebih besar dari diri ibu sebelumnya, dan ini adalah iman.”
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

In today’s Gospel, Jesus seems to denounce all traditions. However, this position is rather simplistic and unattainable. The reason is that human beings are the creatures of traditions. Tradition comes from Latin word, “tradere”, meaning “to hand down”. Thus, crudely put, tradition is anything that has been handed down from our predecessors. Traditions range from something tangible like technologies and fashions, to something intangible like values, languages, sciences and many more. I remember how my mother taught me basic Christian prayers, like Our Father, Hail Mary, and the Rosary, and how my father would regularly bring us to the Church every Sunday. This is my family’s religious traditions. As an Indonesian living in the Philippines, I appreciate the “Mano Po” tradition among the Filipinos. This is a simple gesture of respect and blessing. The younger Filipinos are to hold a hand of older Filipino, and place it on their forehead.
Dalam Injil hari ini, Yesus tampaknya menolak semua tradisi. Namun, pernyataan ini terlalu disederhanakan. Alasannya adalah bahwa manusia adalah makhluk tradisi. Tradisi berasal dari kata Latin, “tradere”, yang berarti “menurunkan”. Jadi, secara sederhana, tradisi adalah segala sesuatu yang telah diturunkan atau diwariskan dari para pendahulu kita. Tradisi berkisar dari sesuatu yang berwujud seperti teknologi, hingga sesuatu yang tidak berwujud seperti bahasa, ilmu pengetahuan, dan banyak lagi. Saya ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya doa-doa dasar, seperti Bapa Kami, Salam Maria, dan Rosario, dan bagaimana ayah saya secara teratur membawa kami ke Gereja setiap Minggu. Ini adalah tradisi agama keluarga saya. Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Filipina, saya mengapresiasi tradisi “Pano Po” di antara orang Filipina. Ini adalah sikap menghormati orang yang lebih tua dan juga memberi berkat kepada yang lebih muda. Orang Filipina yang lebih muda akan memegang tangan mereka yang lebih tua, dan meletakkannya di dahi mereka.



Saat ini saya sedang menjalani pelayanan pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Selain mengunjungi pasien dan melayani kebutuhan rohani mereka, kami juga mengikuti sesi pengolahan yang dipandu oleh seorang pengawas. Dalam salah satu sesi, pengawas kami bertanya kepada saya, “Di mana sumber utama pewartaanmu?” Sebagai anggota Ordo Pengkhotbah, saya terperangah. Reaksi awal saya adalah mengucapkan motto kami, “Contemplare, di contemplata aliis tradere (untuk berkontemplasi dan membagikan buah dari kontemplasi).”
To say “Amen” is something usually we do in prayer. Commonly it is used to end a prayer. Our biblical prayers like Our Father and Hail Mary are usually concluded by amen. In several occasions, amen is mentioned more often. One of my duties as a hospital chaplain is to lead a prayer of healing for the sick. I always ask the family and friends who accompany the patients to pray together. Sometimes, they will say amen at the end of the prayer. However, some others will utter several amens within the prayer, and in fact, some people will say more amens than my prayer! In several occasions, amen is utilized outside the context of prayer. Preachers with a charismatic gift will invite their listeners to say amen. Surely, it is a good technique to keep the listeners awake!