Justice of God and Forgiveness

24th Sunday in Ordinary Time. September 17, 2017 [Matthew 18:21-35]

“Moved with compassion the master of that servant let him go and forgave him the loan. (Mat 18:27)”

justice-law-scaleWhy is it difficult to forgive? One of the reasons is that after we are wronged, the immediate reaction is to seek justice or even revenge. We want that the pain and the loss we experienced are also felt by those who inflicted them on us. We want “a tooth for a tooth, an eye for an eye”. Unfortunately, consumed by anger and hatred, our cry for justice can easily turn into an intense desire of revenge. If justice seeks to balance scale, revenge seeks to inflict a greater punishment, or even to destroy those who have harmed us. Unless we get what is due, unless they receive what they deserve, there is no forgiveness.

Despite this intense desire for vengeance, the good news is that the longing for justice is something that is embedded in every human soul. This sense of justice we have and we embrace is what we call human justice. This kind of justice is essential for our daily life because it propels us to reward good works and punish wrong doings. If we work hard for our companies, we deserve a good wage, but if we do not our job, the company has the right to fire us. If we study hard, we expect a good grade and learning, but if we are lazy, we expect no less that a failing mark. If we pay our taxes, we want the government to provide a dependable public service. This sense of justice regulates our daily lives, the school system, work policies and government conducts. Therefore, we are angered by the violence of this justice system. We are angered knowing our officemate who does little, gets the same salary like us. Though I do not want to focus on grade, I am usually pissed off knowing that after exerting much effort, I get a lower grade compared to those who did not study. We will be indignant if our taxes go to the corrupt and incompetent government officials. With this sense of justice, there is no place for forgiveness.

Thus, Peter’s proposal to forgive seven times sounds extraordinary. Yet, Jesus invites us to understand another sense of justice, the justice of God. The human justice begins with us, what we deserve, what is due to us, but the justice of God starts with God. Like the King in the parable, he demands the servant to pay his debt of astronomical amount. This is human justice. Yet, the king knows that he is so rich that the payment of his servant’s debt would not add much to his treasury. Thus, when the servant begs for mercy, the king could easily forgive him. The servant’s debt now turns to be his richness, and from being extremely poor because of the massive debt, he becomes instantly rich. The servant then is expected to perform his master’s justice and to forgive also his fellow servants who owe him a little. Unfortunately, he remains governed by human justice and even consumed by revenge. This brings about his own doom.

We owe God everything, our lives, all what we have, and even our redemption, yet nothing we do for Him can add to his glory. In His mercy, God forgives us. Our massive debt to God has been erased and in fact, transformed into our own richness. Mercy and forgiveness is not only possible but also the hallmark of God’s justice. As we become rich in His justice, we should forgive our brothers and sisters so that they may be also enriched. We forgive because we have been forgiven. We forgive because we are rich in His mercy. We forgive because God’s justice demands it.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keadilan Tuhan dan Pengampunan

Minggu Biasa ke-24 [17 September 2017] Matius 18: 21-35

“Bergerak dengan belas kasihan tuan hamba itu membiarkannya pergi dan memaafkannya pinjaman. (Mat 18:27) “

unforgiving_servantMengapa sulit untuk memaafkan? Salah satu alasannya adalah bahwa setelah kita disakiti, reaksi kita adalah untuk mencari keadilan. Kita ingin apa rasa sakit yang kita alami juga dirasakan oleh orang-orang yang melakukannya pada kita. Kita ingin “gigi ganti gigi, mata ganti mata”. Terkadang, termakan oleh kemarahan dan kebencian, usaha kita untuk mencari keadilan dapat dengan mudah berubah menjadi keinginan membalas dendam. Jika rasa keadilan berusaha untuk menyeimbangkan skala, balas dendam berusaha untuk memberi hukuman yang lebih besar, atau bahkan untuk menghancurkan orang-orang yang telah merugikan kita. Jika kita tidak mendapatkan apa yang semestinya, jika mereka tidak menerima apa yang layak mereka dapatkan, tidak ada pengampunan.

Meskipun terkadang bercampur dengan keinginan untuk membalas dendam, kabar baiknya adalah bahwa rasa keadilan adalah sesuatu yang tertanam dalam setiap jiwa manusia. Rasa keadilan yang kita miliki adalah apa yang kita sebut keadilan manusia. Keadilan semacam ini sangat penting untuk kehidupan kita sehari-hari karena ini mendorong kita untuk menghargai perbuatan baik dan menghukum perbuatan salah. Jika kita bekerja keras untuk perusahaan kita, kita layak mendapatkan upah yang baik, tapi jika kita tidak melakukan pekerjaan kita, perusahaan memiliki hak untuk memecat kita. Jika kita belajar dengan giat, kita mengharapkan nilai bagus, tapi jika kita malas, jangan berharap kita berhasil. Jika kita membayar pajak, kita ingin pemerintah menyediakan layanan publik yang andal. Rasa keadilan ini mengatur kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, kita marah jika ada pelanggaran keadilan ini. Kita marah saat mengetahui rekan kerja kita yang tidak banyak bekerja, mendapat gaji yang sama. Meskipun saya tidak ingin fokus pada nilai, saya biasanya kesal mengetahui bahwa setelah mengerahkan banyak usaha, saya mendapat nilai yang lebih rendah daripada teman sekelas yang tidak belajar. Kita akan marah jika pajak kita masuk ke saku pejabat pemerintah yang korup dan tidak kompeten.

Dengan rasa keadilan ini, tidak ada tempat untuk pengampunan. Dengan demikian, usulan Petrus untuk mengampuni tujuh kali terdengar luar biasa. Namun, Yesus mengundang kita untuk memahami rasa keadilan yang berbeda, keadilan Tuhan. Keadilan manusia dimulai dengan kita, apa yang kita layak dapatkan, tapi keadilan Tuhan dimulai dengan Tuhan. Seperti raja dalam perumpamaan hari ini, dia menuntut hambanya untuk membayar hutangnya yang sangat besar. Ini adalah keadilan manusia. Namun, sang raja tahu bahwa dia begitu kaya sehingga pembayaran hutang hambanya tidak akan menambah banyak perbendaharaannya. Jadi, saat sang hamba memohon belas kasihan, raja bisa dengan mudah memaafkannya. Toh, ia tidak kehilangan apa-apa. Hutang sang hamba sekarang berubah menjadi kekayaannya, dan dari orang yang sangat miskin karena hutangnya yang besar, dia menjadi kaya secara instan. Si hamba kemudian diharapkan bisa melakukan keadilan yang sama seperti sang raja, dan juga memaafkan sesama hamba yang berutang padanya. Sayangnya, dia tetap diperintah oleh keadilan manusia dan bahkan termakan oleh dendam. Hal ini membawa malapetaka baginya.

Kita berutang kepada Tuhan segalanya, hidup kita, semua yang kita miliki, dan bahkan penebusan kita, namun segala yang kita lakukan tak akan sanggup untuk membayar-Nya atau menambah kemuliaan-Nya karena Dia itu sempurna. Dalam rahmat dan kesempurnaan-Nya, Tuhan mengampuni kita. Utang kita yang besar kepada Tuhan telah terhapus, dan faktanya, berubah menjadi kekayaan kita. Rahmat dan pengampunan tidak hanya mungkin tapi juga ciri keadilan Tuhan. Seperti sang hamba, kita harus mengampuni saudara dan saudari kita karena kita telah menjadi kaya karena keadilan-Nya. Kita memaafkan karena kita telah dimaafkan. Kita memaafkan karena kita kaya akan rahmat-Nya. Kita memaafkan karena keadilan Tuhan menuntutnya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Fraternal Correction

23rd Sunday in Ordinary Time. September 10, 2017 [Matthew 18:15-20]

“If your brother sins (against you), go and tell him his fault between you and him alone. If he listens to you, you have won over your brother.  (Mat 18:15)”

fraternalcorrectJesus understands that in any human community, including His own community of disciples, or the Church, there are always members affected by human weakness and sinfulness. Even in the Christ-oriented communities like the religious convents, the parishes, and various ministries and groups in the Church, inevitably we are hurting each other. Thus, Jesus, the Just God and merciful man, outlines a procedure or ‘fraternal correction’ to deal with misunderstanding, quarrels, and conflicts. It begins with the individual and personal encounter, then when it does not work, we ask the help of a witness or mediator, and lastly it goes up to the community level.

Every stage is important, but the first step is always decisive. The first level is challenging because it requires both humility to accept one’s weakness as well as prudence to express the message of reconciliation in a charitable manner. Yet, the temptation is that either we skip this preliminary level or we execute it without charity. Without mercy, things will just get worse, and the individual encounter will collapse or even turn violent. Often also, to avoid direct confrontation, we jump to the next level. Instead talking personally and privately to the person, we expose them to the public. Either we talk behind them, even creating gossips, or we shame and humiliate them in public. I myself are struggling with this process of fraternal correction. I am basically introvert, and I have tendency to keep things to myself and avoid direct confrontation. Things may seem peaceful, but I know I do not resolve the problems.

The first step is fundamental because after all, we all are members the same community, the same Church. We are all children of God, and thus, brothers and sisters to one another. As our Father in heaven deals mercifully with us, we are also learning to deal with others in mercy. Being merciful means willing to talk and try to understand the other side of the corner. Often, after being offended, we just do nothing but harbor prejudices, then fueling more anger and grudges, but perhaps, they have their own stories that need to be heard. Once in my Postulancy, I got annoyed with an outspoken brother who often criticized me. Later, I discovered also many brothers had the same sentiment. Sometimes, things got escalated, and some brothers refused to talk to him anymore. Till one day, we had a faith sharing, and we learned that he came from a dysfunctional family. His father left the family, and as the oldest son, he had to work and assume the responsibilities for his younger siblings. He had a hard life and he had to be tough also to discipline his younger siblings. Then, we understood why he was also tough with us, his younger brothers.

Often we understand the stages of fraternal correction ends with things settled by the community or Church, but actually Jesus offers one final step. We need to pray. Before we begin the entire process, we should pray. When we bring things to God in prayer, we are no longer controlled by emotions, we start to suspect the good in others, and we have more serenity to forgive. At the end of the process, we pray together asking for forgiveness and healing. My friend and brother in the Order, John Paul, does not agree that time heals. For him, time does not heal, but only God heals. We remember that when two or three people, especially those are in conflict, gather together in prayer, Jesus is there.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Proses Rekonsiliasi

Minggu Biasa ke-23 [10 September 2017] Matius 18: 15-20

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. (Mat 18:15)”

bhfraternal-correctionYesus mengerti bahwa komunitas manusia, termasuk komunitas murid-murid-Nya sendiri, atau Gereja, akan selalu dipengaruhi oleh kelemahan manusia dan dosa. Bahkan di dalam komunitas yang berorientasi pada Kristus, seperti biara, paroki, dan berbagai pelayanan dan kelompok di Gereja, tak dapat dihindari bahwa kita saling menyakiti. Dengan demikian, Yesus menguraikan sebuah prosedur rekonsiliasi untuk mengatasi kesalahpahaman, pertengkaran, dan konflik. Ini dimulai dengan dialog pribadi atau empat mata, kemudian ketika hal itu tidak berhasil, kita meminta bantuan seorang saksi atau mediator, dan masih belum berhasil, kita naik ke tingkat komunitas.

Setiap tahap itu penting, tapi langkah pertama selalu krusial. Tahap pertama membutuhkan kerendahan hati untuk menerima kelemahan kita dan juga kebijaksanaan untuk mengungkapkan pesan rekonsiliasi dengan cara yang tepat. Namun, godaannya adalah bahwa kita tidak melakukannya dengan belas kasih atau meloncati langkah awal ini. Tanpa belas kasih, pertemuan empat mata akan runtuh atau bahkan berubah menjadi kekerasan. Sering kali juga, untuk menghindari konfrontasi langsung, kita langsung terjun ke langkah berikutnya. Daripada berbicara secara pribadi kepada sesama, kita mengekspos mereka ke publik. Entah kita berbicara di belakang mereka, bahkan menciptakan gosip, atau kita mempermalukan mereka di depan umum. Saya sendiri sedang bergulat dengan proses rekonsiliasi dan koreksi ini. Saya pribadi introvert, dan saya memiliki kecenderungan menyimpan banyak hal, dan menghindari konfrontasi langsung. Hal-hal mungkin tampak tenang, tapi saya tahu saya tidak menyelesaikan masalah.

Langkah pertama adalah fundamental karena bagaimanapun juga, kita semua adalah anggota komunitas yang sama, Gereja yang sama. Kita semua adalah anak-anak Allah, dan dengan demikian, kita adalah saudara. Sebagaimana Bapa kita di surga mengasihi kita, kita juga belajar untuk mengasihi sesama. Belas kasih berarti bersedia untuk berbicara dan mencoba memahami sisi mereka yang telah menyakiti kita. Sering kali, setelah disakiti, kita segara memiliki prasangka buruk yang memicu lebih banyak kemarahan dan dendam, tapi mungkin, mereka memiliki cerita yang perlu kita dengarkan. Sekali waktu dalam masa postulansi, saya merasa tidak nyaman dengan seorang frater yang blak-blakan dan sering mengkritik saya. Frater-frater lain juga memiliki sentimen yang sama. Sampai-sampai, beberapa frater menolak untuk berbicara dengannya lagi. Sampai suatu hari, kami mengadakan ‘sharing’, dan kami mulai mengetahui bahwa dia berasal dari keluarga disfungsional. Ayahnya meninggalkan keluarga, dan sebagai anak tertua, dia harus bekerja dan bertanggung jawab atas adik-adiknya. Dia memiliki kehidupan yang sulit dan dia harus tegas juga untuk mendisiplinkan adik-adiknya. Kamipun mulai mengerti mengapa dia juga tegas dengan kami yang tanpa sadar ia anggap sebagai adik-adiknya.

Biasanya, tahap rekonsiliasi berakhir dengan konflik diselesaikan oleh komunitas atau Gereja, namun sebenarnya Yesus menawarkan satu langkah terakhir. Kita perlu berdoa. Sebelum kita memulai seluruh proses, kita perlu berdoa. Saat kita membawa sesuatu kepada Tuhan dalam doa, kita tidak lagi dikendalikan oleh emosi, kita mulai melihat kebaikan orang lain, dan kita memiliki lebih banyak ketenangan untuk memaafkan. Di akhir proses, kita berdoa bersama dengan mereka yang telah menyakiti atau kita sakiti, untuk meminta pengampunan dan penyembuhan. Kita ingat bahwa ketika dua atau tiga orang, terutama mereka yang dalam konflik, berkumpul bersama dalam doa, Yesus ada di sana.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Enemy

22nd Sunday in Ordinary Time. September 3, 2017 [Matthew 16:21-27]

“Get behind me, Satan!” (Mat 16:23)

ignatius n francisWe come to one of the most heated exchange of words in the Gospel, and this occurs no less than between Jesus and Simon Peter. The apostle rebukes Jesus for revealing to the disciples that he has to go Jerusalem, suffer and die, but be raised on third day. In return, Jesus reproofs him and calls him Satan. Why does this harsh quarrel take place between Jesus, the most merciful Lord, and his trusted disciple, Simon whom he has just declared as the Rock?

If we try to enter the shoes of Peter, we will understand that what Peter does is something very human. Peter loves his Master and he does not want something bad to happen to Jesus. As a friend, he is ready to prevent Jesus do silly things that will harm Him.  Often, we act like Peter.  We disagree with our good friend who wants to help the street children in a notorious depressed area in Manila. Parents often dismiss their young children’s wish to enter the seminary or convent. Despite being in need of financial stability, any family will lodge opposition against its member who wish to go and work abroad. To wish for safety and wellbeing of our loved ones is just part of our human psychological makeup.

It is just Peter’s human tendency to keep Jesus safe. Yet, why does Jesus need to harshly rebuke Peter and call him ‘Satan’? In the Bible, the word ‘Satan’ has several meanings. The first common understanding is that Satan is the chief evil spirit that wages war against God and humanity. Yet, ‘Satan’ may also mean a man, woman or entity who acts as an adversary or an enemy. In ancient court setting, ‘Satan’ plays the role of the fierce accuser. Literally, Peter may fall under Satan’s temptation in delaying the plan of God, but it may also mean that calling Peter ‘Satan’ Jesus perceives Peter as acting like ‘Satan’, an adversary to Jesus’ mission, and one who accuses Jesus of doing stupid things. By following human tendency, Peter is in opposition to God’s saving plan.

However, how do we know that we begin to act as an enemy to God’s will? Like Simon Peter, we must wrestle to discover God’s will in our lives. Perhaps, encouraging our friend to work with the poor is the right decision. Perhaps, supporting our children to enter seminary is the best option. Perhaps, staying behind with the family rather than going abroad is a better choice. We never know what the future brings. Yet, Jesus gives us a guideline. When we cling too much to our own lives, are obsessed to keep our space small, and gain the world just for ourselves, we must know that we have become ‘Satan’ to God’s ever-expanding love.

Ignatius of Loyola and Francis Xavier were among the first Jesuits. Both were close friends since they met in Paris as they shared the same room, table and books. As the general of the Society of Jesus, Ignatius had the authority to assign his friend close to him, yet this means to curtail Francis’ gift to love enormously. Ignatius eventually sent Francis as a missionary, and allowed him to spread the faith and expand his love for people of the Far East. Francis Xavier would be always remembered as one the greatest missionaries in the Church. It is when we deny ourselves, our selfish desires, and carry the cross of love, that we genuinely follow Jesus as His disciples.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sang Musuh

Minggu ke-22 di Masa Biasa. 3 September 2017 [Matius 16: 21-27]

“Pergilah, Setan!” (Mat 16:23)

get behind me satanKita mendengar sebuah pertukaran kata-kata yang paling panas dalam Injil, dan ini tidak tanggung-tanggung karena melibatkan Yesus dan Simon Petrus. Sang Rasul menegur Yesus karena telah menyatakan kepada murid-murid bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem, menderita dan dibunuh, tetapi bangkit pada hari ketiga. Sebaliknya, Yesus menegur Petrus dan memanggilnya “Setan”. Mengapa pertengkaran yang hebat ini terjadi antara Yesus, yang adalah Tuhan yang maha pengasih, dan muridnya yang terpuji, Simon yang baru saja dinyatakan sebagai batu karang Gereja?

Sebenarnya apa yang Petrus lakukan adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Petrus mencintai Gurunya dan dia tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi pada Yesus. Sebagai teman, dia siap mencegah Yesus melakukan hal-hal konyol yang akan merugikan-Nya. Sering kali, kita bertindak seperti Petrus. Kita tidak setuju dengan teman baik kita yang ingin membantu anak-anak miskin di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Sebagai orang tua, kita sering menolak permintaan anak-anak kita yang ingin masuk seminari atau biara karena kita melihat masa depan yang lebih cerah bagi mereka. Seorang provinsial Dominikan tidak mengizinkan seorang anggotanya untuk bekerja di PBB karena provinsinya masih sangat membutuhkan tenaga kerja.

 Ini adalah tendensi manusiawi Petrus untuk menjaga agar Yesus tetap selamat. Namun, mengapa Yesus perlu dengan keras menegur Petrus dan memanggilnya ‘Setan’? Dalam Alkitab, kata ‘Setan’ atau ‘Satanas’ memiliki beberapa arti. Pemahaman umum yang pertama adalah bahwa Setan adalah kepala roh jahat yang berperang melawan Tuhan dan manusia. Namun, ‘Setan’ juga bisa berarti pria, wanita atau entitas yang bertindak sebagai sang musuh. ‘Setan’ juga memainkan peran sebagai sang penuduh yang ganas. Secara harfiah, Petrus mungkin jatuh di bawah godaan Setan dalam menunda rencana Allah, tapi mungkin juga berarti bahwa Yesus telah menganggap Petrus bertindak seperti ‘Setan’, sang musuh yang menghambat misi Yesus, dan seseorang yang menuduh Yesus melakukan hal bodoh. Dengan mengikuti tendensi manusiawinya, Petrus telah menjadi oposisi terhadap rencana penyelamatan Allah.

Namun, bagaimana kita tahu bahwa kita mulai bertindak sebagai sang musuh dari kehendak Tuhan? Seperti Simon Petrus, kita harus bergumul untuk menemukan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Mungkin, mendorong teman kita untuk bekerja dengan orang miskin adalah keputusan yang tepat. Mungkin, mengizinkan anak-anak kita untuk masuk seminari adalah pilihan terbaik. Mungkin, keputusan provinsial yang akhirnya mengizinkan seorang anggotanya bekerja di PBB adalah lebih baik. Kita tidak tahu dengan pasti, namun, Yesus memberi kita sebuah petunjuk. Ketika kita terlalu banyak bergantung pada kehidupan kita sendiri, dan terobsesi untuk memperoleh dunia hanya untuk diri kita sendiri, kita harus tahu bahwa kita telah menjadi ‘Setan’ terhadap cinta kasih Allah yang menyapa setiap manusia.

Ignatius dari Loyola dan Fransiskus Xavier adalah bagian dari Yesuit pertama. Keduanya berteman dekat sejak mereka bertemu di Paris saat mereka berbagi kamar, meja dan buku yang sama. Sebagai jenderal Serikat Yesus, Ignatius memiliki wewenang untuk menugaskan teman di tempat-tempat yang tidak jauh darinya, namun hal ini berarti membatasi panggilan Fransiskus untuk mengasihi. Ignatius akhirnya mengirim Fransiskus sebagai misionaris, dan mengizinkannya menyebarkan iman dan memperluas kasihnya kepada orang-orang di Timur. Fransiskus Xavier akan selalu diingat sebagai salah satu misionaris terbesar di Gereja. Pada saat kita menyangkal diri kita sendiri, keinginan egois kita, dan membawa salib kasih, kita dapat mengikuti Yesus sebagai murid-murid-Nya dan bukan musuh-Nya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Name and Story

21st Sunday in Ordinary Time. August 27, 2017 [Matthew 16:13-20]

“You are the Christ, the Son of the living God (Mat 16:16)”

happy chilren 2Today’s Gospel is well known as the Confession of Peter. Jesus asks the disciples who He is, and Simon confesses that Jesus is the Christ, the Son of the living God. He gets it right, and Jesus Himself reveals that his answer does not come from his human weakness, but from the heavenly Father. I used to think that this revelation is an instant inception of divine idea inside Simon’s mind. Right there and then, like Archimedes who discovered the Law of Hydrostatic, Simon also shouts “Eureka! I have found it!”

However, I realize there is a different understanding of revelation. It is not an instant one, but a revelation that involves Simon’s entire life as well as his active participation. Simon is able to formulate his answer because God has led him to meet Jesus, and on his part, Simon decides to follow him and live as his disciple. The revelation comes through a long process of listening, witnessing and sometimes, misunderstanding his Master. Simon sees Jesus’ miracles. He hears Jesus’ teachings. He feels Jesus’ compassion for the poor and the afflicted. Simon gradually recognizes Jesus personally and intimately. Simon’s confession is born of this intimate knowledge and friendship. He knows Jesus’ story, and at the right moment, he is ready to share his story of Jesus with others.

This is not far from our daily experiences. When we address our loved ones and close friends, we do not just call them with ordinary names, but names imbued with our intimate stories. My mother simply calls me Bayu, but I know that it is a lot different from a stranger who calls my name. Often, we also have terms of endearment. Among close friends in the Philippines, we call each other as “Friend”, “Friendship”, “Best”, “Bessy” among other. These names are beautiful because we hold each other’s stories dearly. Indeed, our humanity is conceived because our ability to gather our common stories and to share them confidently.

Therefore, it is a serious offense to our humanity when we suppress other people’ stories, and address them with improper words. Our refusal to recognize the others’ stories is in fact, the root of many discriminations, like racism, sexism, and fundamentalism. The worst is when we erase all together the names and the stories behind them. Victor Frankl, the author of “Man’s Search for Meaning” was once a prisoner at Nazi’s camps. He narrated how prisoners were called by set of number as their identity, like prisoner 1234, and gradually they also lost their humanity, as they were treated, tortured and disposed as mere numbers.

The war on drug in the Philippines has been one of the bloodiest in the Philippine history. Thousands have been killed, the suspects, the law-enforcers, and even innocent civilians. Yet, many do not care, “Anyway, it is just number and statistics.” Till Kian, a teenager student, was mercilessly killed allegedly by the law-enforcers, and the event recorded in CCTV camera awakens the nation’s conscience. The investigation was held by the Senate and Kian’s parents faced the alleged killers of their son. During this hearing, the parents narrated Kian’s stories as an ordinary boy who aspired to become a policeman himself. Kian began to emerge to be a human person with stories, hopes and dreams, not just a faceless number. And the mother ended her statement by saying to the alleged perpetrators, “Ama ka rin (You are also a father).” It was not only a call to their conscience, but also reminder to all of us that we fail as humanity if we no longer listen to and share our stories.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Nama dan Cerita

Minggu Biasa ke-21 [27 Agustus 2017] Matius 16:13-20

“Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat 16:16)”

happy chilrenYesus bertanya kepada murid-murid siapakah Dia, dan Simon menjawab bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup. Simon Petrus menjawab dengan benar, dan Yesus sendiri mengungkapkan bahwa jawabannya tidak berasal dari kelemahan manusiawi, namun dari Bapa di surga. Dulu saya berpikir bahwa pewahyuan ini terjadi secara instan di dalam pikiran Simon. Seperti Archimedes yang menemukan Hukum Hidrostatis, Simon juga berteriak “Eureka! Aku telah menemukannya!”

Namun, ada juga bentuk pewahyuan yang berbeda. Ini bukan sekedar ide instan, tapi sebuah pewahyuan yang melibatkan seluruh hidup Simon Petrus dan juga partisipasi aktifnya. Simon mampu merumuskan jawabannya karena Tuhan telah menuntunnya untuk bertemu dengan Yesus, dan Simon sendiri memutuskan untuk mengikuti-Nya dan hidup sebagai murid-Nya. Wahyu datang melalui proses panjang untuk mendengarkan, menyaksikan dan memahami sang guru. Simon Petrus melihat mukjizat Yesus. Dia mendengar ajaran Yesus. Dia merasakan belas kasih Yesus bagi orang miskin dan orang-orang yang menderita. Simon secara bertahap mengenali Yesus secara pribadi dan mendalam. Pengakuan Simon terlahir dari pengenalan dan persahabatan yang mendalam. Dia tahu kisah Yesus, dan pada saat yang tepat, dia siap untuk membagikan kisahnya tentang Yesus kepada sesama.

Ini tidak jauh dari pengalaman sehari-hari kita. Ketika kita berbicara kepada orang yang kita cintai atau sahabat dekat, kita tidak hanya memanggil mereka dengan nama biasa, tapi juga nama-nama yang dijiwai oleh cerita kita yang mendalam. Ibu saya memanggil saya “Bayu”, tapi saya tahu ini sangat berbeda dari orang asing yang memanggil nama saya. Sering kali, kita juga memiliki panggilan khas yang hanya orang-orang terdekat kita yang tahu. Nama-nama ini indah karena terlahir dari sebuah cerita mendalam. Sungguh, kemanusiaan kita terlahir karena kemampuan kita untuk mengumpulkan cerita kita bersama dan untuk membagikannya dengan percaya diri.

Oleh karena itu, ini adalah sebuah pelanggaran serius terhadap kemanusiaan kita saat kita tidak memperdulikan kisah-kisah hidup sesama, dan menamai mereka dengan kata-kata yang tidak pantas. Penolakan kita untuk mengenali cerita sesama sebenarnya adalah akar dari banyak diskriminasi, seperti rasisme, seksisme, dan fundamentalisme. Yang terburuk adalah saat kita menghapus semua nama dan cerita di baliknya. Victor Frankl, penulis buku “Man’s Search for Meaning” pernah menjadi narapidana di kamp-kamp Nazi. Dia meriwayatkan bagaimana para napi kehilangan nama mereka dan angka menjadi identitas mereka, seperti tahanan 1234, dan lambat laun mereka juga kehilangan kemanusiaan mereka, karena mereka diperlakukan, disiksa dan dieksekusi sebagai angka belaka.

Perang melawan narkoba di Filipina telah menjadi salah satu yang paling berdarah dalam sejarah Filipina. Ribuan orang terbunuh, baik tersangka, aparat penegak hukum, dan bahkan warga sipil yang tidak berdosa. Namun, banyak yang tidak peduli, “Ini hanya angka dan statistik.” Sampai Kian, seorang siswa remaja, dibunuh tanpa belas kasihan oleh petugas penegak hukum, dan kejadian yang terekam di kamera CCTV membangunkan hati nurani bangsa ini. Investigasi pun diadakan oleh DPR Filipina, dan orang tua Kian bertemu para terduga pembunuh putra mereka. Dalam pertemuan ini, orang tua menceritakan kisah Kian sebagai anak laki-laki biasa dan bercita-cita menjadi polisi. Kian mulai muncul menjadi manusia dengan kisah, harapan dan impiannya, bukan hanya sekedar angka tak berwajah yang bisa dihapus kapan saja. Dan, sang ibu mengakhiri kisahnya dengan mengatakan kepada para tersangka dalam bahasa tagalog, “Ama ka rin (Anda juga seorang ayah).” Ini bukan hanya ketukan bagi hati nurani mereka, tapi juga mengingatkan kita bahwa setiap kali kita gagal mendengarkan kisah sesama, kita gagal sebagai manusia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Canaanite Woman and Mother

20th Sunday in Ordinary Time. August 20, 2017 [Matthew 15:21-28]

“Please, Lord, for even the dogs eat the scraps that fall from the table of their masters (Mat 15:27)”

canaanite woman 2Why does Jesus, the compassionate man and just God, have to “humiliate” the Canaanite woman? If we put ourselves in the context of Jesus’ time and culture, we will understand that what Jesus does is just expected of him. Jesus is dealing with a woman of gentile origin. Generally, Jews avoid contacts with the non-Jews, and a Jewish man does not engage in dialogue with a woman who is not his wife or family in public. Jesus does what every Jewish man has to do. However, in the end, Jesus praises the woman’s faith and heals her daughter. Eventually, mercy overcomes differences and love conquers all.

How big is this woman’s faith? If we carefully read the dialogue between Jesus and the Canaanite woman, there are three stages of humiliation. Firstly, the woman cries out loudly to Jesus, addressing him as Lord, Son of David, and asks for pity for her daughter. Jesus ignores her.  Secondly, the woman keeps crying out, and Jesus refuses her with a reason that he is sent only to the Jews. Thirdly, the woman touches the ground and worships Jesus, begging for the life of her daughter. Jesus associates her with a dog, perhaps because the relationship between the Jews and the Gentile in this region has become so sour that they call each other as dogs. Yet, despite these series of humiliation, the woman perseveres and wittily answers that even dogs receive mercy from their master. There is a progression of humiliation, yet there is also progression of humility and faith. From someone outside the group, she persistently makes her way inside to the point of ‘under the table’ of her master.

What inspires such great humility and faith? I believe that it is her far greater love. She is not just a woman and a Canaanite, she is also a mother. We know good parents, especially a mother, would do practically anything for their children. There is a natural bond between a mother and the child of her womb, a bond that empowers a woman to even sacrifice her life. Jesus allows this humiliation because He knows well the capacity of this mother to love. God allows things to get messy in our lives, because He knows well our capacity to love which can grow exponentially.

Let me end this little reflection with a story. on the day of graduation in one of the top universities in the Philippines, a young man, top of his batch, gave his valedictory remarks. He narrated a story of a young woman who was expecting a child. Yet, she was diagnosed with a dangerous illness that required aggressive treatments. The medication may cure her, but it will be too strong for the infant inside her womb.  So, she was left with a choice either to choose her life or her baby’s. Many encouraged her to let the baby die since she has a bright future, a promising career. Yet, to the surprise of all, she decided not to take the medication, and allowed her baby live. Trusting to her baby to her husband, she died after giving birth to a healthy little Babyboy. Then, with teary eyes, the young valedictorian revealed to all that he was that little baby. He is able to live, to grow, and achieve his dream because his mother loved him so much to the point of giving her own life for him.

We remember and thank our mothers who have loved and sacrificed a lot for us. And just like them, God calls us to have faith and love that make us bigger than our small lives.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Perempuan Kanaan

Minggu Biasa ke-20 [20 Agustus 2017] Matius 15: 21-28

“Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” (Mat 15:27)”

KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA

Mengapa Yesus, yang penuh kasih, harus “mempermalukan” perempuan Kanaan? Jika kita menempatkan diri kita dalam konteks dan budaya pada zaman Yesus, kita akan mengerti bahwa apa yang Yesus lakukan adalah sesuai dengan apa yang diharapkan. Ingat Yesus sedang berhadapan dengan perempuan yang bukan Yahudi. Umumnya, orang Yahudi pada zaman itu menghindari kontak dengan orang-orang bukan Yahudi, dan seorang pria Yahudi tidak berdialog dengan perempuan yang bukan istri atau keluarganya di ruang publik. Yesus melakukan apa yang setiap orang Yahudi harus lakukan. Namun, pada akhirnya, Yesus memuji iman sang perempuan tersebut dan menyembuhkan putrinya. Akhirnya, belas kasihan mengatasi perbedaan, dan kasih menaklukkan semuanya.

Seberapa besar iman perempuan Kanaan ini? Jika kita membaca dengan saksama dialog antara Yesus dan perempuan Kanaan, ada tiga tahap “penghinaan”. Tahap pertama: perempuan itu berseru dengan lantang kepada Yesus, memaggil-Nya sebagai Tuhan, Anak Daud, dan mohon belas kasihan bagi putrinya. Yesus mengabaikannya. Tahap kedua: perempuan itu terus berteriak-teriak, dan Yesus menolaknya dengan alasan bahwa Dia dikirim hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Tahap ketiga: perempuan itu bersujud dekat Yesus dan menyembah-Nya, memohon untuk kehidupan putrinya. Yesus mengumpamakan ia seperti seekor anjing, mungkin karena hubungan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi di wilayah ini telah menjadi sangat buruk sehingga mereka saling memanggil sebagai binatang. Namun, terlepas dari serangkaian penghinaan ini, perempuan tersebut bertekun dan dengan pintar membalikkan keadaan dengan menjawab bahkan anjing pun mendapat belas kasihan dari tuannya. Benar, ada tahapan “penghinaan”, tetapi ada juga perkembangan kerendahan hati dan iman. Dari seseorang yang di luar kelompok, sang perempuan perlahan-lahan mendekati Yesus. Dari seseorang yang di luar pikiran Yesus, iapun berada di hati-Nya.

Apa yang mengilhami kerendahan hati dan imannya yang begitu besar? Saya percaya bahwa itu adalah kasih. Ingat bahwa dia bukan hanya perempuan Kanaan, dia juga seorang ibu. Kita tahu orang tua yang baik, terutama seorang ibu, akan melakukan segala hal untuk anak mereka. Ada ikatan mendalam antara sang ibu dengan anak buah rahimnya, ikatan yang memberdayakan perempuan bahkan untuk mengorbankan hidupnya. Yesus membiarkan “penghinaan” ini karena Dia mengetahui dengan baik kemampuan sang ibu untuk mencintai. Tuhan terkadang membiarkan segala sesuatunya menjadi sulit dalam hidup kita, karena Dia tahu dengan baik kemampuan kita untuk mengasihi dapat berkembang secara luar biasa.

Pada sebuah acara wisuda di salah satu universitas terkemuka di Filipina, seorang pemuda, yang adalah mahasiswa teladan, menyampaikan pidato sambutannya. Dia menceritakan sebuah kisah tentang seorang perempuan muda yang sedang hamil. Namun, beberapa bulan sebelum melahirkan, dia didiagnosa menderita penyakit berbahaya. Obat-obatan bisa menyembuhkannya, tapi akan terlalu berbahaya bagi bayi di dalam rahimnya. Jadi, dia harus memilih: hidupnya atau bayinya. Banyak yang mendorongnya untuk membiarkan bayinya meninggal karena ia memiliki masa depan yang cerah dan karir yang menjanjikan. Namun, akhirnya dia memutuskan untuk menyelamatkan bayinya. Mempercayai bayinya kepada sang suami, diapun meninggal setelah melahirkan bayi laki-laki mungil yang sehat. Kemudian, mengakhiri pidotanya, dengan mata berkaca-kaca, sang pemuda mengungkapkan kepada semua yang hadir bahwa dia adalah sang bayi kecil tersebut. Dia hidup, tumbuh, dan mencapai mimpinya karena ibunya yang sangat mencintainya dan tidak takut untuk memberi hidupnya untuknya.

Mari kita mengingat dan berterima kasih ibu kita yang telah mencintai dan berkorban bagi kita. Dan sama seperti mereka, Tuhan memanggil kita untuk memiliki iman dan cinta kasih yang membuat kita jauh lebih besar dari diri kita yang kecil.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP