Ocean

 19th Sunday in Ordinary Time. August 13, 2017 [Matthew 14:22-33]

 “O you of little faith, why did you doubt?”  (Mat 14:31)

jesus rescues peter - korea Ocean is a gift to humanity. For many of us, ocean means a great variety of seafood, a place to spend our vacation. When we imagine a vast sea with beautiful beach, we are ready to enjoy swimming, snorkeling or diving. However, for millions of fishermen and seafarers, sea simply means life as they depend their lives and their families on the generosity of the sea, the resources it offers, and the works it generates. Unfortunately, the sea is not always merciful. The sea is home to powerful storms and with its giant waves that can even engulf the biggest of ships. With the effects of global warming, massive sea pollution and destructive ways of fishing, it is getting hard to get a good catch. Novelist Ernest Hemingway in his book “The Old Man and the Sea” narrates a life of fisherman who after risking his life to catch a giant fish, brings home nothing but a fishbone as his catch was consumed by other fishes. Majority of fishermen who continue struggling with lingering debt and difficulty to get fuel for their boats, become poorer by the day. These make fishermen and seafarers a perilous profession.

The Sea of Galilee is not a sea at all, but technically a lake. Certainly, it is a lot safer than the open sea, but the Gospels constantly tell us that the lake can be deadly sometimes even to seasoned fishermen like Peter and other apostles. Like Peter and the apostles, Filipino Dominican missionaries to Babuyan group of islands at the northern tip of the Philippines know well what it means to be at the mercy of the ocean. To go to their mission stations, they have to cross a sea strait by a small boat for around 4 to 8 hours. It might be a tiny strait, but it is a wild and dangerous one because it connects to two great seas, the Pacific Ocean on the east and South China Sea or West Philippine Sea on the west. When the sea is rough and the boat is hit and tossed by the giant waves, it is the time when our missionaries and all others in the boat to pray, and perhaps it is their sincerest prayer ever. When at the mercy of the ocean, we begin to realize that what matters most in life is actually life itself, and as only this life that we hold dear, everything else seems to be trivial and passing.

However, there comes the paradox. In the midst of raging ocean, holding on to fragile life, we begin to be closest to the creator of life Himself. The mighty sea washes away those things that stand between us and God. All those things that add layers upon layers to our lives are swept away. As we achieve wealth, physical beauties, educational attainments, physical beauties, possessions and honor, we tend to be full of ourselves, and become more independent from God who grants us those blessings. Like Peter, our faith becomes little, relying too much on ourselves. Then, when the storm comes and we begin to sink, we realize that all those achievements will not save us.

What are those things in our lives that stand between us and God? Are we like Peter, a man of little faith? What are the stormy sea experiences in our lives? How do you encounter God in these stormy sea experience?

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Lautan

Minggu Biasa ke-19  [13 Agustus 2017] Matius 14: 22-33

“Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Mat 14:31)

jesus rescues peter 2Laut adalah anugerah bagi umat manusia. Bagi banyak dari kita, laut berarti berbagai macam seafood, dan tempat untuk menikmati liburan. Bila kita membayangkan lautan luas dengan pantai yang indah, kita siap untuk berenang, snorkeling atau menyelam. Namun, ini jauh berbeda bagi jutaan nelayan dan pelaut. Laut berarti kehidupan karena mereka menggantungkan hidup mereka dan keluarga mereka pada laut, baik sumber daya yang dimiliki dan perkerjaan yang dihasilkan. Sayangnya, laut tidak selalu berarti kehidupan. Laut adalah tempat bagi badai-badai dahsyat dan gelombang-gelombang raksasa yang bahkan bisa menelan kapal-kapal terbesar yang pernah dibangun manusia. Dengan efek pemanasan global, polusi laut yang masif dan cara-cara penangkapan ikan yang merusak alam, sekarang semakin sulit bagi nelayan sederhana untuk mendapatkan tangkapan yang baik. Penulis Ernest Hemingway dalam bukunya “The Old Man and the Sea” menceritakan tentang kehidupan nelayan tua yang setelah mempertaruhkan nyawanya untuk menangkap ikan raksasa, tidak membawa pulang apapun kecuali tulang ikan karena tangkapannya dihabisi oleh ikan-ikan lain. Mayoritas para nelayan terus berjuang dengan hutang dan sulitnya mendapatkan bahan bakar untuk perahu mereka. Merekapun menjadi semakin miskin dari hari ke hari. Hal ini membuat nelayan dan pelaut adalah profesi yang berbahaya.

Danau Galilea bukanlah lautan. Tentunya, ini jauh lebih aman daripada laut terbuka, namun Injil mengatakan bahwa danau ini bisa mematikan bahkan bagi nelayan berpengalaman seperti Petrus dan rasul lainnya. Seperti Petrus dan para rasul di tengah badai, para Dominikan Filipina yang menjadi misionaris ke kepulauan Babuyan di ujung utara Filipina tahu betul apa artinya berada pada belas kasihan lautan. Untuk menuju ke tempat misi mereka, mereka harus menyeberangi selat dengan perahu sekitar 4 sampai 8 jam perjalanan. Ini mungkin sebuah selat kecil, tapi ini adalah selat yang ganas dan berbahaya karena menghubungkan Samudra Pasifik ke timur dan Laut Cina Selatan ke barat. Saat laut di selat ini dalam kondisi yang tidak baik, maka perahu-perahu dihantam dan dipermainkan oleh ombak-ombak raksasa. Inilah saat misionaris kita dan semua yang ada perahu tersebut tidak dapat melakukan apapun kecuali berdoa, dan mungkin ini adalah doanya yang paling tulus yang pernah mereka daraskan dalam hidup mereka. Ketika berada pada belas kasihan samudera, kita mulai menyadari bahwa apa yang paling penting dalam hidup adalah hidup itu sendiri, dan karena hanya hidup ini yang paling penting, segala sesuatu yang lain sepertinya sepele dan tidak banyak artinya.

Namun, di sinilah muncul sebuah paradoks. Di tengah laut yang ganas, berpegangan pada hidup yang rapuh, kita menjadi paling dekat dengan pencipta kehidupan sendiri. Laut yang dasyat menyapu bersih segala hal yang berdiri di antara kita dan Tuhan. Semua hal yang menambahkan berbagai lapisan pada kehidupan kita tersapu bersih. Seiring semakin banyaknya pencapaian kita, kekayaan, pencapaian pendidikan, keindahan fisik, berbagai barang dan kehormatan, kita cenderung semakin penuh dengan diri kita sendiri, dan menjadi lebih mandiri dari Tuhan yang memberi berkat-berkat itu. Seperti Petrus, iman kita menjadi kecil, terlalu bergantung pada diri kita sendiri. Kemudian, saat badai datang, ketika kita mulai tenggelam, kita menyadari bahwa semua pencapaian kita ini tidak akan menyelamatkan kita.

Apakah di dalam hidup kita yang berdiri di antara kita dan Tuhan? Apakah kita seperti Petrus, orang yang iman kecil? Apa pengalaman badai laut dalam hidup kita? Bagaimana kita menjumpai Tuhan dalam pengalaman laut yang penuh badai ini?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Metamorphosis

The Feast of Transfiguration. August 6, 2017 [Matthew 17:1-9]

 “He was transfigured before them; his face shone like the sun and his clothes became white as light (Mat 17:2).”

transfiguration 2This Sunday, the Church is celebrating the feast of Transfiguration.  The word ‘transfiguration’ comes from Matthew who writes Jesus transfigures before the three disciples, Peter, James and John, his face shines like the sun and his clothes become white as light (17:2). The word “transfigure” is the direct transliteration of the Latin Vulgate Bible “transfigurare”. It is a combination of two words “trans” meaning to across, and “figura” meaning figure.  Thus, transfiguration literally means the change of figure. It is a fitting word to describe what happens to Jesus.

However, if we look at the original Greek, Matthew used the word “metamorphos” which is actually the root of the English word metamorphosis. Many of us understand metamorphosis as a biological term. It is a marked and more or less abrupt developmental change in the form or structure of an animal. The classical examples are the transformation from a leaf-eating caterpillar into a beautiful butterfly, or an aquatic tadpole into a land-dwelling frog. Metamorphosis is surely a radical change, but we do not use this term to describe what happens to Jesus in Mount Tabor perhaps because we do not want to limit Jesus’ transformation to the biological sphere only. It is something more fundamental, spiritual and even divine.

In our time, the medical technologies have advanced considerably, and this enables us also to undergo a metamorphosis. We can look young despite our age. We can reduce our excess fat in no time. We can make even our face bright and vibrant, even ‘shining like the sun’. I have to admit that often I do not pay much attention to my physical and facial improvement, but I believe that our efforts to care for our bodies and improve our beauty are part of appreciating God’s creations. The problem sets in when we become excessive and even obsessive. Spending huge amount of money just for beauty products and cosmetic surgery while our neighbors are dying of hunger is simply unchristian. Spending our fortune for the companies that cause environmental damages or sufferings to people is also our participation in this injustice.

However, we are called not simply to metamorphosize but to transfigure. While the change and improvement in our body can be good and beautiful, transfiguration is not only a matter of physical alteration. We need to change in a more fundamental, spiritual and even divine way. It is a change that pleases the Father because we become like Jesus, we become His sons and daughters. Through the sacrament of baptism, we have been made God’s children, and now it is our mission to act and behave like His worthy children. Like Jesus, we need to be more aware of the sufferings around us and be compassionate to our poor brothers and sisters. Like Jesus, we fight against the injustices and abuses that take place around us. Like Jesus, we instruct and educate our family, friends and neighbors in truth.

Finally, Matthew places the event of the Transfiguration just before Jesus goes to Jerusalem as He offers His life for our salvation. The true transfiguration enables us to become less and less self-centered and empowers us to do sacrifices for our loves ones. We are called to make the world a better place for us and all children of God. Like Jesus, we are called to be transfigured and be pleasing to the Father.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Metamorfosis

Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya. 6 Agustus 2017 [Matius 17: 1-9]

“Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. (Mat 17:2)”

transfiguration 1Minggu ini, Gereja merayakan Pesta Yesus yang menampakkan kemulian-Nya yang juga dikenal sebagai Transfigurasi. Kata “transfigurasi” adalah transliterasi dari kata Latin “transfigurare” yang digunakan oleh Alkitab Latin Vulgata. Ini adalah kombinasi dua kata “trans” yang berarti melintasi, dan “figura” yang berarti bentuk atau figur. Dengan demikian, transfigurasi secara harfiah berarti bahwa perubahan bentuk atau figur. Ini adalah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi pada Yesus di Gunung tinggi.

Namun, jika kita menyimak bahasa Yunani yang digunakan Matius, kata yang dipilih adalah “metamorphos” yang sejatinya merupakan akar kata dari metamorfosis. Banyak dari kita memahami metamorfosis sebagai istilah biologis. Ini adalah perubahan dan perkembangan drastis yang terjadi dalam bentuk atau struktur anatomi hewan. Contohnya adalah transformasi dari ulat pemakan daun menjadi kupu-kupu yang indah, atau kecebong yang hidup di air menjadi katak yang mampu hidup di daratan. Metamorfosis merupakan perubahan yang radikal, namun kita tidak menggunakan istilah ini untuk menggambarkan apa yang terjadi pada Yesus di Gunung Tabor mungkin karena kita tidak ingin membatasi transformasi Yesus pada sisi biologis saja. Ini adalah sesuatu yang lebih mendasar, spiritual dan bahkan ilahi.

Di zaman modern ini, teknologi medis telah berkembang pesat, dan ini memungkinkan kita juga mengalami “metamorphosis”. Kita bisa terlihat lebih muda meski sudah berusia. Kita bisa mengurangi kelebihan lemak kita dalam waktu singkat. Kita bahkan bisa membuat wajah kita cerah dan bahkan bersinar seperti matahari. Saya harus mengakui bahwa seringkali saya tidak terlalu memperhatikan perbaikan fisik dan wajah saya, namun saya percaya bahwa usaha kita untuk merawat tubuh kita adalah bagian dari menghargai ciptaan Tuhan. Masalah terjadi saat kita menjadi berlebihan dan bahkan obsesif. Menghabiskan sejumlah besar uang hanya untuk produk kecantikan dan bedah kosmetik sementara sesama kita kelaparan karena tidak ada makanan adalah sikap yang sama sekali tidak kristiani. Menghabiskan kekayaan kita untuk perusahaan yang menyebabkan kerusakan lingkungan atau penderitaan orang banyak juga membuat kita turut berpartisipasi dalam ketidakadilan.

Namun, kita dipanggil tidak hanya untuk bermetamorfosis tapi juga ber-transfigurasi. Sementara perubahan dan perbaikan dalam tubuh kita adalah baik dan indah, transfigurasi bukan hanya soal perubahan fisik. Kita perlu berubah dengan cara yang lebih mendasar, spiritual dan bahkan ilahi. Ini adalah perubahan yang menyenangkan hati Allah Bapa karena kita menjadi seperti Yesus, kita menjadi putra dan putri-Nya. Melalui sakramen pembaptisan, kita telah dijadikan anak-anak Allah, dan sekarang misi kita adalah untuk bertindak dan berperilaku seperti anak-anak-Nya. Seperti Yesus, kita perlu lebih sadar akan penderitaan di sekitar kita dan berbelas kasihan kepada saudara dan saudari kita yang miskin. Seperti Yesus, kita berjuang melawan ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita. Seperti Yesus, kita mendidik keluarga, teman dan sesama kita dalam iman dan kebenaran.

Akhirnya, Matius menempatkan peristiwa Transfigurasi sebelum Yesus pergi ke Yerusalem dan mempersembahkan hidup-Nya bagi keselamatan kita. Transfigurasi yang sejati memungkinkan kita untuk menjadi tidak egois dan memberdayakan kita untuk berkorban bagi orang-orang yang kita cintai. Kita dipanggil untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik bagi kita dan semua anak-anak Allah. Seperti Yesus, kita dipanggil untuk ber-transfigurasi dan berkenan kepada Bapa.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus, We and Human Work

17th Sunday in Ordinary Time. July 30, 2017 [Matthew 13:44-52]

“…out of joy he goes and sells all that he has and buys that field (Mat 13:44).”

parable of hidden treasureFrom today’s parables, we learn that Jesus appreciates human labor, the use of technology, and economic activities. The parables speak of men buying and selling land, merchants making transactions, and fisher folk catching and selecting the fish. Yet, the appreciation comes with a particular condition: the activities have to be honest and just.

I used to question why the man in the parable has to buy the land first before he takes the hidden treasure.  He could have taken the treasure away even without buying the land. I realize that the buried treasure might be in a massive quantity that to unearth it requires a lot of effort, but it is also something to do with a right ownership. In ancient times, burying or hiding one’s wealth is not uncommon, especially in time of war and chaos. The treasure must have been hidden for a long period of time and the original owners are no longer alive to claim it. It also does not belong to the current landowner because he is oblivious to its presence in his land. Thus, by selling everything he has, and buying the field, he wants to make sure that he becomes the rightful owner of the land and all that is in it.

The second parable speaks of a merchant, and being a merchant is a profession that many people hate in ancient Israel. They do not like merchants because this work is susceptible to deceit and dishonesty. Yet, today’s parable gives us a merchant who is willing to sell everything he has, just to buy the fine pearl. It is a risky and even dangerous move since he is left with nothing and a serious possibility that he will not profit from the rare pearl, but instead employing some illegal tricks, he makes sure that he will become a true owner of that precious gem.

To be involved in various kinds of economic activities and works is not only necessary for human survival but also part of God’s plan for our flourishing. Our intellectual capacity that God gives empowers us to create professions that do not only sustain our lives, but also build up human society and even the Kingdom of God. With the advances of science and technology, new occupations that did not exist ten years ago now are part of our daily lives. IT experts, software developers and men and women working in robotic industries are few examples of these. Yet, traditional works remain essential. Teachers, farmers, fishermen, business men and women, and many others are still the backbone of healthy society. Jesus appreciates all of this.

One thing, however, that corrupts this human capacity to work is greed, an inordinate passion to gain more profit at the expense of others. One of the basic economic laws is the principle of efficiency, that is to get the maximum benefit with minimum amount of resources. This law is balanced by the principle of equity, that is to distribute the economic prosperity fairly among the members of the society. Unfortunately, greed destroys this balance and corrupts people to sacrifice other people and nature just to gain more profit. Jesus calls us not only to be involved in the economic activities, but also to uphold honesty and justice. Only with these two virtues, do we find true satisfaction in labor and contribute to the greater good of society, and in fact, give glory God.

Br. Valentinus  Bayuhadi Ruseno, OP

 

Yesus, Kita dan Kerja

Minggu Biasa ke-17 [30 Juli 2017] Matius 13: 44-52

“Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.(Mat 13:44).”

parable of merchantDari perumpamaan-perumpamaan hari ini, kita menyadari bahwa Yesus sejatinya menghargai kerja, kemampuan mengunakan teknologi dan kegiatan ekonomi manusia. Perumpamaan-perumpamaan tersebut berbicara tentang seseorang yang membeli dan menjual tanah, pedagang melakukan transaksi, dan nelayan menangkap dan memilih ikan mengunakan jaring. Namun, apresiasi Yesus hadir dengan sebuah kondisi: aktivitas manusia ini harus jujur ​​dan juga adil.

Dulu saya sempat bertanya mengapa pria dalam perumpamaan ini harus membeli tanah terlebih dahulu sebelum dia mengambil harta karunnya. Dia bisa saja mengambil harta karun itu pada malam hari, tanpa harus membeli tanah tersebut. Kemudian saya menyadari bahwa ia ingin menjadi pemilik yang sah dari harta tersebut dan bukan pencuri. Dahulu kala, mengubur atau menyembunyikan kekayaan di dalam tanah bukanlah hal yang jarang terjadi, terutama pada masa perang dan kekacauan. Harta tersebut sepertinya telah disembunyikan dalam jangka waktu yang lama dan sang pemilik aslinya dan keturunannya tidak lagi hidup untuk mengklaimnya. Harta ini juga bukan milik pemilik tanah sebelumnya karena dia tidak menyadari keberadaan harta tersebut di tanahnya. Jadi, dengan menjual semua yang dimilikinya, dan membeli ladang tersebut, dia ingin memastikan bahwa dia menjadi pemilik tanah yang sah dan semua yang ada di dalamnya.

Perumpamaan kedua berbicara tentang seorang pedagang, dan menjadi pedagang adalah profesi yang dibenci banyak orang Israel di zaman Yesus. Mereka tidak menyukai profesi ini karena pekerjaan ini rentan terhadap penipuan dan ketidakjujuran. Namun, perumpamaan hari ini berbicara tentang seorang pedagang yang bersedia menjual semua yang dimilikinya, hanya untuk membeli mutiara yang indah. Ini adalah tindakan berisiko dan berbahaya karena dia kehilangan segalanya dan menghadapi kemungkinan besar bahwa dia tidak akan mendapatkan keuntungan dari mutiara langka itu. Namun, dia memastikan bahwa dia akan menjadi pemilik sah permata berharga itu tanpa mengunakan trik-trik licik.

Terlibat dalam berbagai kegiatan ekonomi dan pekerjaan tidak hanya diperlukan untuk kelangsungan hidup kita tapi juga bagian dari rencana Tuhan untuk kemajuan umat manusia. Kemampuan intelektual yang Tuhan berikan memberdayakan kita untuk menciptakan profesi yang tidak hanya menopang hidup kita, tapi juga membangun masyarakat manusia dan bahkan Kerajaan Allah di dunia. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, profesi-profesi baru yang tidak ada sepuluh tahun yang lalu, kini merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Pakar TI, pengembang perangkat lunak dan para pekerja di industri robotik adalah beberapa contohnya. Namun, profesi tradisional tetap penting. Guru, petani, nelayan, pelaku bisnis, dan masih banyak lagi menjadi tulang punggung masyarakat yang sehat. Yesus menghargai dan memberkati semua ini.

Namun, jika ada satu hal yang merusak kemampuan manusia untuk bekerja, ini adalah keserakahan. Salah satu dasar hukum ekonomi adalah prinsip efisiensi, yaitu mendapatkan keuntungan maksimal dengan jumlah sumber daya minimum. Hukum ini diimbangi dengan prinsip keadilan, yaitu untuk mendistribusikan kemakmuran ekonomi secara adil di antara anggota masyarakat. Sayangnya, keserakahan menghancurkan keseimbangan ini dan merusak orang untuk mengorbankan orang lain dan alam lingkungan hidup hanya untuk mendapatkan keuntungan lebih banyak. Yesus memanggil kita tidak hanya untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi, tetapi juga untuk menegakkan kejujuran dan keadilan. Hanya dengan dua keutamaan ini, kita menemukan kebahagian sejati dalam usaha dan pekerjaan kita. Kita juga berkontribusi pada kebaikan masyarakat yang lebih besar dan memuliakan Tuhan.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus, Nature and Us

16th Sunday in Ordinary Time. July 23, 2017 [Matthew 13:24-43]

“The kingdom of heaven is like a mustard seed that a person took and sowed in a field. (Mat 13:31)”

 parable mustard seedFrom the several parables that Jesus tells us in today’s Gospel, we learn that Jesus is keen on how nature works. He observes how seeds of wheat and weed grow, and how the yeast would affect the dough in the process of baking. Jesus also is observant of human ingenuity in working with nature for the benefit of the human community. Men and women till the land, are observant to the cycle of nature, sow the well-prepared seeds, take care of the growth and then harvest the result for the good of community. The use of yeast for baking is a very ancient method of cooking. Women would place yeast in dough, and the microorganism would interact with the carbohydrate in the flour, creating carbon dioxide, and as an effect, the leaven dough would expand. Though unleavened bread will last longer, this yeast would make the bread softer and tastier, making it more enjoyable for human consumption.

By mentioning the beauty of nature and the human creativity, Jesus acknowledges the greatness of God, the creator of all as well as the goodness of creation. He sees harmony between nature and human, and when both work together, all will manifest the beauty of creation. Yet, Jesus also reminds that the evil one is working to destroy this harmony, by planting the seed of greed, hatred and injustice in our hearts. Instead of using our God-given talent and reason to nurture nature, we choose to manipulate it and exploit it for our own benefits and pleasures.

We are proud with our cellular phone. It has become a modern lifestyle, and we often keep changing for the latest and more advanced models. Yet, we are not aware that men, women and even children are working under terrible conditions somewhere in long chain of production. A single cellular phone is a complex combination of metals, and extracting these minerals from earth seems easy yet at the same time most problematic. For example, the greater part of a cellphone’s battery is made of cobalt, and the mining of cobalt does not only cause massive environmental problems, but also fuel arm conflicts in Congo, causing loss of human lives, and great refugee problems. Other materials are coming from developing countries like Indonesia, Chile and the Philippines. That is just a cellular phone; other gadgets like laptop, personal computers, and other electronic devices, require even more of these raw materials.

I myself am participating in this environmental problems, as I am writing this reflection in my old laptop, and sending this reflection through my cellphone. I do believe that many of us want to follow Jesus in preserving the harmony between nature and human creativity, and we are just caught up in this global web of disharmony. Yet, we must not be hopeless. We do not have to throw away our gadgets, but at least, we should be aware of the massive injustice done to nature and fellow human. We are also invited to be more conscious with what we have, like cloths, food and electricity, and how their creation often has upset nature. To have Jesus as our God, means following His example of being observant to nature’s work and appreciative of human ingenuity. Moreover, we are following His footsteps in caring for the creations which have been beautifully created by His Father as well as our Father.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Yesus, Alam dan Kita

Minggu Biasa ke-16. 23 Juli 2017 [Matius 13: 24-43]

“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya (Mat 13:31).”

parable yeastDari beberapa perumpamaan yang Yesus katakan kepada kita di dalam Injil hari ini, kita belajar bahwa Yesus sangat peka dengan bagaimana alam bekerja. Dia mengamati bagaimana biji gandum, lalang dan sesawi tumbuh, dan bagaimana ragi akan mempengaruhi adonan roti. Yesus juga memperhatikan kecerdasan manusia dalam bekerja dengan alam bagi kepentingan dan kebaikan komunitas manusia. Pria dan wanita mengolah tanah, mematuhi siklus alam, menabur benih yang disiapkan dengan baik, menjaga pertumbuhan dan kemudian memanen hasilnya untuk kebaikan komunitas. Penggunaan ragi adalah metode masak yang sangat kuno. Wanita akan menempatkan ragi dalam adonan, dan mikroorganisme ini akan berinteraksi dengan karbohidrat dalam tepung, menciptakan karbon dioksida, dan sebagai akibatnya, adonan ragi akan berkembang. Meski roti tidak beragi akan bertahan lebih lama, ragi ini akan membuat roti lebih lembut dan lebih nikmat untuk dikonsumsi.

Dengan menyebutkan keindahan alam dan kreativitas manusia, Yesus mengakui kehebatan Tuhan, sang pencipta dan juga kebaikan dari ciptaan-Nya. Dia melihat harmoni antara alam dan manusia, dan ketika keduanya bekerja sama, semua akan mewujudkan keindahan dan kemuliaan Tuhan. Namun, Yesus juga mengingatkan bahwa sang jahat bekerja untuk menghancurkan keselarasan ini, dengan menanam benih keserakahan, kebencian dan ketidakadilan di dalam hati kita. Alih-alih menggunakan bakat dan akal yang diberikan Tuhan untuk memelihara alam, kita memilih untuk memanipulasinya dan memanfaatkan alam untuk keuntungan dan kesenangan kita sendiri.

Sebagai contoh, kita bangga dengan telepon selular kita. HP telah menjadi gaya hidup modern, dan kita terus memburu model terbaru yang lebih canggih. Namun, kita tidak sadar bahwa ada pria, wanita dan bahkan anak-anak bekerja dalam kondisi mengerikan di dalam rantai produksi yang panjang ini. Sebuah ponsel adalah kombinasi logam yang kompleks, dan salah penambangan adalah cara mudah namun pada saat bersamaan paling bermasalah untuk mengambil mineral-mineral ini dari perut bumi. Misalnya, sebagian besar baterai ponsel terbuat dari kobalt, dan penambangan kobalt tidak hanya menyebabkan masalah lingkungan yang besar, tapi juga memicu konflik bersenjata di Kongo, menyebabkan hilangnya nyawa manusia, dan masalah pengungsi yang hebat. Bahan lainnya seperti tembaga dan alumunium berasal dari negara berkembang seperti Indonesia, Chile dan Filipina, dan menyebabkan permasalahan lingkungan hidup. Itu hanya sebuah HP; Gadget lain seperti laptop, komputer, dan perangkat elektronik lainnya, memerlukan lebih banyak lagi bahan-bahan baku ini.

Saya sendiri ikut serta dalam masalah lingkungan ini, karena saya menulis refleksi ini di laptop tua saya, dan mengirimkannya melalui komputer atau ponsel saya. Saya percaya bahwa banyak dari kita ingin mengikuti Yesus dalam melestarikan keharmonisan antara alam dan kreativitas manusia, tetapi kita terjebak dalam jaring ketidakharmonisan global ini. Namun, kita tidak boleh putus asa. Kita tidak perlu membuang gadget kita, tapi setidaknya kita harus sadar akan ketidakadilan besar yang dilakukan terhadap alam dan sesama manusia. Kita juga diajak untuk lebih sadar dengan apa yang kita miliki, seperti pakaian, makanan dan listrik, dan bagaimana proses pengolahan mereka seringkali telah merusak alam. Untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan kita, berarti mengikuti teladan-Nya untuk memperhatikan bagaimana alam bekerja dan menghargai kecerdasan manusia. Selain itu, kita diajak untuk mengikuti jejak-Nya dalam merawat ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan dengan indah oleh Bapa-Nya dan juga Bapa kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Sower

15th Sunday in Ordinary Time. July 16, 2017 [Matthew 13:1-23]

 “Hear then the parable of the sower. (Mat 13:18)”

parable sower 2Looking carefully into the parable, we find something strange. The agrarian land in Palestine was not as fertile and arable like many other countries like Indonesia and Philippines. It was expected that some seeds would fall into stony grounds, or be outgrown by the thorny plans. Yet, the Israelite farmers knew very well that seeds were their lifeline and wasting three-quarter of their seeds was just unthinkable. To add to this oddity, Jesus assured that this waste of seeds would be compensated with super abundant result of thirty to hundredfold harvest.  A seasoned farmer recognized that an ordinary wheat seed planted in the Palestinian soil would yield just enough for the family. Thus, many of Jesus’ listeners would wonder, “What is he talking about? He is just a carpenter, and now he is talking to us from a boat about agriculture?” Even His disciples were puzzled and approached Him for clarification.

Jesus rarely explained His parables, yet this time, Jesus went to considerable length to reveal the meaning behind His parable. The seed was the metaphor of the Word of God, the sower stood for the preacher or the worker of the Word, and the land symbolized the different recipients. From then on, both the disciples and us, begin to understand the dynamism of preaching. The preaching of the Word has to be done generously and even abundantly for practically all people, even for those who would reject it. The generosity of sowing the Word flows from God who is the Father of all and wants all to come to Him.

Yet, Jesus did not only explain the parable, He gave also the title “Parable of the Sower”. Thus, immediately our attention is called to the sower. Who is this sower? It is all of us. We are called to become the preachers or the co-workers of the Word. Thus we are to spread the Word to all kinds of grounds or people, including those we do not like us, or those who hate us. A parish priest has to keep preaching and serving all his parishioners, not only those who support him, but also those who criticize and reject him. A religious sister who takes care of orphans shall care for all, not only those children who are cute and obedient. A government leader shall work for the betterment of all people in the society, regardless of whether they voted for him or not. The modern-day spouses who often focus more on careers need to be generous in building up the Church and the society through their offspring; parents need to love and educate all their children, regardless of whether the child is their favorite one or not.

The mission of preaching the Word of God is tough because it reflects the generosity and mercy of God. Jesus Himself had to endure this difficulty as His preaching and ministry got misunderstood, rejected, and He himself got persecuted and executed, yet He continued to preach because it was His Father’s will to draw all His children closer to Himself. We are called to be God’s co-workers in sowing God’s word, in contributing in our little yet unique way in the preaching ministry of the Church. Doubtless, to be a sower of the Word is a tough one, yet it is our way of participating in the abundant harvest of God.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Penabur

Minggu Biasa ke-15. 16 Juli 2017 [Matius 13: 1-23]

“Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu (Mat 13:18).”

The Sower - Luke 8:4-15
The Sower

Membaca dengan cermat perumpamaan hari ini, kita menemukan sesuatu yang tidak lazim. Tanah di Palestina tidaklah sesubur negara-negara lain seperti Indonesia dan Filipina, dan oleh karena ini, saat penaburan benih, beberapa akan jatuh ke tanah berbatu, atau semak berduri. Namun, para petani Israel tahu betul bahwa pada benih inilah tergantung hidup mereka, dan menghabiskan tiga perempat benih mereka pada tanah yang tidak subur sama saja dengan bunuh diri. Lebih mencengangkan lagi adalah Yesus meyakinkan bahwa walaupun menaburkan seperempat benih, hasil panen akan mencapai tiga puluh hingga seratus kali lipat. Seorang petani berpengalaman tentu tahu bahwa benih gandum biasa yang ditanam di tanah Palestina akan hanya menghasilkan cukup untuk keluarga dan musim tanam berikutnya, tetapi sampai berkelimpahan tidaklah wajar. Dengan demikian, banyak pendengar Yesus bertanya-tanya, “Apa yang dia bicarakan? Sulit dimengerti oleh nalar sehat.” Bahkan murid-murid-Nya pun bingung dan mendekati Dia untuk mencari klarifikasi.

Yesus jarang menjelaskan perumpamaan-perumpamaan-Nya, namun kali ini, Yesus melakukan hal yang berbeda, dan Diapun mengungkapkan makna di balik perumpamaan-Nya tersebut. Benih adalah metafora bagi Firman Tuhan, penabur adalah pewarta atau pekerja Firman, dan tanah melambangkan penerima Firman yang berbeda-beda. Dari sini, kita mulai memahami dinamika pewartaan. Pemberitaan Firman harus dilakukan dengan murah hati dan bahkan melimpah bagi semua orang, bahkan bagi mereka yang akan menolaknya. Kemurahan hati dari pewartaan Firman ini mengalir dari Allah sendiri yang adalah Bapa dari semua dan menginginkan semua untuk datang kepada-Nya.

Namun, Yesus tidak hanya menjelaskan perumpamaannya, Dia bahkan memberikan judul “Perumpamaan Penabur”. Jadi, Yesus dengan segera memusatkan perhatian kita kepada sang penabur. Siapakah penabur ini? Jawabanya adalah kita semua. Kita dipanggil untuk menjadi pewarta dan rekan kerja Allah dalam pewartaan Firman. Dengan demikian kita harus menebarkan Firman kepada semua orang, termasuk mereka yang tidak menyukai kita, dan mereka yang membenci kita. Seorang pastor paroki harus terus berkhotbah, merayakan sakramen dan melayani semua umat parokinya, tidak hanya mereka yang mendukungnya, tetapi juga orang-orang yang mengkritik dan menolaknya. Seorang suster yang merawat anak yatim harus merawat semua, tidak hanya anak-anak yang imut dan taat. Seorang pejabat pemerintahan harus bekerja untuk kemajuan semua orang di masyarakat, terlepas dari apakah mereka memilihnya atau tidak. Pasangan suami-istri yang sering lebih fokus pada karier harus bermurah hati dalam membangun Gereja dan masyarakat dengan menjadi orangtua, dan orangtua perlu mencintai dan mendidik semua anak mereka, terlepas dari siapakah yang menjadi anak kesayangan mereka.

Misi pewartaan Firman Tuhan itu sulit karena ini mencerminkan kemurahan hati dan belas kasih Allah yang tanpa batas. Yesus sendiri harus menanggung kesulitan ini karena pewartaan dan pelayanan-Nya disalahpahami dan ditolak, dan Dia sendiri dianiaya dan dihukum mati, namun Dia terus mewartakan karena Dia mengerti kehendak Bapa-Nya untuk membawa semua anak-anak-Nya lebih dekat kepada diri-Nya. Kita dipanggil untuk menjadi rekan kerja Allah dalam menabur Firman-Nya dan memberikan kontribusi kecil namun unik kita dalam pelayanan pewartaan Gereja. Tak diragukan lagi, menjadi penabur Firman adalah hal yang sulit, namun ini adalah cara kita untuk berpartisipasi dalam mewujudkan panen berlimpah Tuhan.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP