Fire of Jesus

20th Sunday in Ordinary Time. August 14, 2016 [Luke 12:49-53]

“I have come to set the earth on fire, and how I wish it were already blazing! (Luk 12:49)”

pentecost 1In the midst of all super-advanced digital gadgets and nano technologies, making fire seems rather archaic and a bit useless. Why will we set a fire and cause pollution, if we have energy-saving LED lamp in our house? However, making fire is the earliest and one of the most significant human invention. Fire revolutionized the lives of our ancestors and gave us substantial advantages over other creatures. Fire brings warm and comfort in chilling and unforgiving weathers. Fire protects us from bigger and fiercer predators. Fire provides light that shed off the darkness. Fire also is needed to forge other inventions and technologies, like various tools and weapons.

Yet, fire also may cause us serious headaches. Almost every year, fire sets ablaze parts of Borneo rain forest and emits global-scale smoke. Fire also is a serious problem in densely populated cities like Manila. A firefighter once conducted a seminar in our seminary. He said that it just takes less than one minute for fire to burn an entire body of a little kid. Thus, fire has become the symbol of both powerful force of nature and human ingenuity. It may bring heavy destructions as fire burns and consumes almost everything. Yet, it also gives creativity, hope and future to humanity.

When Jesus said he brought fire to the world, Luke used the Greek word ‘phur’, meaning ‘wild fire’. Now, we may understand that Jesus came to the world to bring not a warming and delightful fire, but massive transformative energy and power. This fire can consume our past and wicked ways. Yet, more importantly, this fire energizes and empowers us to be creative in our preaching and in Christian life. On the day of Pentecost, the Holy Spirit came into the form of tongues of fire. This same fire emboldened the fearful disciples in the Upper room and moved them to preach the Good News with freshness. They made a creative breakthrough as they began to speak in the different languages of their hearers.

Saints are people who are blazed by Christ’ fire. Their lives exemplify the ever-fresh and transformative Spirit. When St. Dominic de Guzman saw the need to preach the Gospel to bring back the Albigensian heretics in Southern France, he established the first preaching religious Order in the Church. When the first Spanish Missionaries came to the Philippine Islands, one of their main preoccupations was how to understand the local languages and cultures, so that their preaching may be easily understood by the native Filipinos. As early as the 16th century, the Dominican friars had produced grammar books and dictionaries of Philippine languages like Tagalog, Bisaya, and Ivatan.

It is His desire to set the world in fire, but has the fire of Christ touched our lives? Have the Eucharist and Sacrament of reconciliation renewed us? Do we feel that energy to engage in the proclamation of the Good News, or we are just fine with Sunday masses? Do we have the perseverance amidst trials of life? Do we allow the Spirit to animate our lives?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Api Yesus

 Minggu Biasa ke-20 [14 Agustus 2016] Lukas 12:49-53

 “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! (Luk 12:49)”

pentecost 2Hidup di antara gadget-gadget digital super-canggih dan berbagai teknologi nano, kegiatan membuat api tampak seperti sangat primitif dan sia-sia. Mengapa kita harus membuat api dan menyebabkan polusi jika kita memiliki lampu LED yang hemat energi di rumah kita? Namun, membuat api sebenarnya adalah salah satu penemuan manusia yang paling awal dan signifikan. Api merevolusi kehidupan nenek moyang kita dan memberi kita keuntungan besar atas makhluk lainnya. Api membawa kehangatan dan kenyamanan dalam cuaca dingin. Api melindungi kita dari predator yang lebih besar dan ganas. Api memberikan cahaya yang menghapus kegelapan. Api juga diperlukan untuk menempa penemuan dan teknologi lain, seperti berbagai alat dan senjata.

Namun, api juga dapat menimbulkan masalah serius. Hampir setiap tahun, api membakar ribuan hektar hutan Kalimantan dan menghasilkan asap berskala global. Api juga merupakan masalah serius di kota-kota padat penduduk seperti Manila. Seorang petugas pemadam kebakaran pernah melakukan seminar di seminari. Dia mengatakan bahwa api hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit untuk membakar seluruh tubuh anak kecil. Karena ini, api telah menjadi simbol baik dari kekuatan yang dahsyat dari alam dan juga kecerdasan manusia. Api dapat membawa kehancuran berat seperti api membakar dan mengkonsumsi hampir segala sesuatu. Namun, hal itu juga memberikan kreativitas, harapan dan masa depan kemanusiaan.

Ketika Yesus berkata ia membawa api untuk dunia, Lukas menggunakan kata Yunani ‘phur’. Jika diterjemahkan kata ini berarti api besar yang membara, bukan sekedar api yang kecil. Jadi, Yesus datang ke dunia untuk membawa energi dan kekuatan transformatif yang dahsyat. Api ini dapat menghancurkan dosa-dosa dan kebiasaan buruk kita. Namun, jauh lebih penting adalah api ini memberikan energi dan memberdayakan kita untuk menjadi kreatif dalam karya dan pewartaan dan dalam kehidupan Kristiani kita. Pada hari Pentakosta, Roh Kudus datang dalam bentuk lidah-lidah api. Api yang sama ini memberanikan para murid yang masih ketakutan, dan menggerakan mereka untuk memberitakan Kabar Baik dengan kesegaran yang baru. Mereka membuat terobosan kreatif saat mereka mulai berbicara dalam banyak bahasa, sesuai kebutuhan pendengar mereka.

Orang-orang kudus adalah orang-orang yang terbakar api Kristus. Kehidupan mereka memberikan contoh karya Roh Kudus yang selalu segar dan transformatif. Ketika St. Dominikus de Guzman melihat kebutuhan untuk memberitakan Injil dan membawa kembali para bidaah Albigensian di Perancis Selatan, iapun  mendirikan Ordo religius yang tugas utamanya adalah berkhotbah. Dan ini menjadi ordo pertama yang memiliki ke khasan ini di Gereja Katolik. Ketika para Misionaris Spanyol pertama kali datang ke Kepulauan Filipina, salah satu prioritas utama mereka adalah bagaimana memahami bahasa dan budaya lokal, sehingga pewartaan mereka dapat dengan mudah dipahami oleh orang-orang Filipina. Bahkan sejak abad ke-16, para misionaris Dominikan telah menghasilkan buku tata bahasa dan kamus berbagai bahasa di Filipina seperti Tagalog, Bisaya, dan Ivatan.

Ini adalah keinginan-Nya untuk membakar dunia dalam api, tetapi apakah api Kristus telah menyentuh kehidupan kita? Apakah Ekaristi dan Sakramen rekonsiliasi memperbaharui kita? Apakah kita merasakan energi untuk terlibat dalam pewartaan kabar baik, atau kita sudah merasa cukup dengan Misa Mingguan? Apakah kita memiliki ketekunan ditengah cobaan hidup? Apakah kita memungkinkan Roh untuk menghidupkan kehidupan kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Giving Up All

 19th Sunday in Ordinary Time. August 7, 2016 [Luke 12:32-48]

 “For where your treasure is, there also will your heart be (Luk 12:34).”

jesus-hands-holesAre we ready to sell everything we have and follow Jesus? Are we prepared to give up our dreams and ambitions for the Kingdom? Are we willing to place our hearts, our treasures where no moth can destroy and no thief can steal?

St. Dominic de Guzman whose feast day we will celebrate tomorrow, is a shining example for us to emulate. When he was a canon regular in the Cathedral of Osma, Spain, he was actually a rising star. He was elected sub-prior at a very young age. To be a sub-prior means he was next to the leader of the Cathedral and was groomed to the position of the Bishop. Osma was a fortified city and had a beautiful Church. Osma provided Dominic tranquility and comfort when wars and famine ravaged portions of Spain. He was also prepared to take the coveted position in Osma as its bishop. Yet, Dominic decided to abandon all of these. Facing overwhelming difficulties and life-threating dangers, he went to preach the Gospel in Southern France where the heretic group, Albigentians, took its root.

St. Dominic and many other saints are indeed illustrious models of this evangelical self-giving, but how many among us are doing what the saints did? In all honesty, many of us are not ready to do what Jesus commanded in today’s Gospel. Some of us cannot simply sell everything we have because we need to feed our children and send them to school. Some cannot just give up their studies because they need to prepare for a better future. Some of us have to run our businesses because we are responsible for the lives of our workers and their families. I myself have to admit that it is difficult for me even to let go of my book collections.

We are entangled with so many complexity of life. Yet, deep inside us, we always feel that yearning to surrender everything for the sake of the Kingdom. Sometimes, the best thing we can do is to do simple sacrifices everyday.

A mother who wakes up early morning, prepares the breakfast for the family, brings her children to school, go to work to earn a living, cooks dinner for her husband, and basically puts aside her dream to work with the urban poor, is truly giving herself to the Lord. I have a friend who is young, intelligent and very determined to become a priest. I am sure that he can become a good priest someday. But, his father is old and sickly, his siblings are still studying, and his mother earns very little. With a heavy heart, he decided to leave the seminary and work to help his family. He sacrificed his hope to serve the Lord as a priest, yet he surrenders his life to serve the Lord, through his family.

I do believe that God is very compassionate and merciful. He understands our daily struggles to follow Him. Thus, God does not leave us alone. He empowers us in our struggles and His grace enables us to give our lives despite the complexity of our lives.

St. Dominic de Guzman, pray for us!

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menyerahkan Semuanya

Minggu Biasa ke-19 [7 Agustus 2016] Lukas 12: 32-48

 “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.(Luk 12:34).”

giving handsApakah kita siap untuk menjual semua yang kita miliki dan mengikuti Yesus? Apakah kita siap untuk menyerah mimpi dan cita-cita kita untuk Kerajaan Allah? Apakah kita bersedia untuk menaruh hati kita pada harta yang tidak akan dirusak ngengat dan tidak akan dicuri?

St. Dominikus de Guzman yang hari rayanya akan kita sambut besok, adalah contoh untuk diteladani. Ketika ia menjadi kanon regular di Katedral Osma, Spanyol, dia sejatinya adalah seorang yang dipersiapkan sebagai pemimpin. Dia terpilih sub-prior pada usia yang sangat muda. Menjadi sub-prior berarti ia adalah wakil dari pemimpin utama Katedral dan dipersiapkan untuk menjadi Uskup. Osma adalah kota tua berbenteng, makmur dan memiliki Gereja yang indah. Osma menyediakan ketenangan dan kenyamanan bagi Dominikus saat perang dan kelaparan melanda Spanyol di abad pertengahan. Dia juga dipersiapkan untuk mengemban posisi Uskup di Osma. Namun, Dominikus memutuskan untuk meninggalkan semua ini. Menghadapi kesulitan besar dan bahaya yang mengancam hidupnya, ia pergi untuk memberitakan Injil di Perancis Selatan di mana kelompok sesat, Albigentians, telah berakar.

St. Dominikus dan banyak orang kudus lainnya menjadi teladan pemberian diri yang total, tapi berapa banyak dari kita yang bisa melakukan apa St. Dominikus telah lakukan? Sejujurnya, banyak dari kita yang tidak siap untuk melakukan apa yang Yesus perintahkan dalam Injil hari ini. Kita tidak bisa begitu saja menjual segala yang kita miliki karena kita perlu untuk membesarkan anak-anak kita dan mengirim mereka ke sekolah. Kita tidak bisa begitu saja meninggalkan studi kita karena kita perlu mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih baik. Kita harus menjalankan bisnis kita karena kita bertanggung jawab atas kehidupan para pekerja dan keluarga mereka. Saya sendiri harus mengakui bahwa sulit bagi saya untuk melepaskan koleksi buku-buku saya.

Kita terjerat dalam kompleksitas kehidupan. Namun, di dalam hati kita, kita selalu merasakan kerinduan untuk menyerahkan segalanya demi Kerajaan Allah. Kadang-kadang, hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah melakukan pengorbanan sederhana setiap hari.

Seorang ibu yang bangun pagi, mempersiapkan sarapan untuk keluarga, membawa anak-anaknya ke sekolah, pergi bekerja untuk mencari nafkah, memasak makan malam untuk suaminya, dan pada dasarnya menyisihkan mimpinya untuk bekerja dengan kaum miskin, benar-benar memberikan dirinya kepada Tuhan. Saya punya teman frater yang cerdas dan sangat bertekad untuk menjadi seorang imam. Saya yakin bahwa dia bisa menjadi seorang imam yang baik suatu hari nanti. Tapi, ayahnya sudah tua dan sakit-sakitan, saudara-saudaranya yang masih belajar, dan ibunya berpenghasilan sangat pas-pasan. Dengan berat hati, ia memutuskan untuk meninggalkan seminari dan bekerja untuk membantu keluarganya. Dia mengorbankan harapannya untuk melayani Tuhan sebagai imam, namun ia menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan, dengan merawat keluarganya.

Saya percaya bahwa Tuhan penuh belas kasih. Dia mengerti pergulatan kita sehari-hari untuk mengikuti-Nya. Dengan demikian, Allah tidak meninggalkan kita sendirian. Ia memberdayakan kita dalam pergulatan kita dan kasih karunia-Nya memungkinkan kita untuk menyerahkan hidup kita secara total ditengah-tengah kompleksitas kehidupan di dunia ini.

St. Dominikus de Guzman, doakanlah kita!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Conquering Greed

18th Sunday in Ordinary Time. July 31, 2016 [Luke 12:13-21]

 “…is not rich in what matters to God (Luk 12:21).”

rich foolGreed is one of the most sickening sins. It can plague practically anyone, rich and poor, young and old, lay people and even the leaders of the Church. Greed as the inordinate desire for wealth or money. Greed breeds corruption, stealing, cheating and violence. Greed produces injustice and poverty. And injustice and poverty cause nothing but suffering of countless people and permanent destruction to our mother earth.

Sometimes, we can easily accuse some persons in government and in business world as the greedy ones. Indeed, with their positions of power and intellectual capacity, they can suck a massive amount of money just for themselves. Instead using the money of the tax payers for building up the nations, the big portion of it goes to their individual pockets. But, we need to remember that greed does not only affect the affluent, but also the poor.

Movie Slumdog Millionaire (2008) tells us a story of Salim and Jamal Malik who are victims of this injustice and greed. After the killing of their mother because of religious hatred in slam area in India, they were forced to stay in a sanitary landfill. Then, they were adopted by ‘professional beggars’ syndicate. One particular scene that reveals the gruesome manifestation of greed is one little boy with sweet voice, Arwind, was blinded. Jamal later remarks, “Blind singers earn double.” The worst part of the movie is that the movie is not totally fiction, but many events are true to life.

Greed is even more sickening because it is not only about wealth or material possession. It is a vice that consumes our identity as human person, created as the image of God, with the capacity to love and share. In the parable of the rich fool, we discover the rich man only cares for himself, his harvest, his possessions, his life and his future. There is no place for other people, let alone God in his heart. Greed destroys our humanity to its core. We cling to our lives and our possession, and fail to see that all we have is blessings to share.

Just few days ago, Fr. Jacques Hamel was murdered inside the Church by the armed terrorists. The church Saint Etienne-du-Rouvray in Northern French was stormed during the morning mass. He and a mass-goer finally died after their throats were slit. While the world was shocked by this heinous cowardly act, we are once again invited to examine the life of this simple priest who gave his very life to the end. We may believe that life is stripped of him, but we forgot that actually he had given his life even before the day of his martyrdom. He lived a simple life and at age of 84, and he remained faithful to celebrate the sacraments and serve the people all the day of his life. He gave his life for God and the Church. His death is no longer loss but a moment of confirmation of his generosity that inspires the world. As St. Tertulian once said, the blood of the martyrs is the seed of Christians.

This utter generosity is a reflection of our deepest calling as human person, created in the image of God. And only in this true charity and abundant generosity, we may fight the greed that plague our souls.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menaklukan Ketamakan

Minggu Biasa kedelapan belas. 31 Juli 2016 [Lukas 12:13-21]

“…jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah (Luk 12:21)”

Fr Jacques hamelKeserakahan dan ketamakan adalah dosa yang sangat menhancurkan. Ketamakan dapat menjangkiti praktis siapa pun, kaya dan miskin, tua dan muda, awam dan bahkan para pemimpin Gereja. Ketamakan dapat dimengerti sebagai hasrat yang tak terkendali untuk memiliki kekayaan atau harta benda. Keserakahan melahirkan berbagai bentuk korupsi, pencurian, penipuan dan kekerasan. Keserakahan menghasilkan ketidakadilan dan kemiskinan. Dan ketidakadilan dan kemiskinan menyebabkan penderitaan bagi jutaan orang dan kerusakan permanen pada bumi ini.

Kadang-kadang, kita dapat dengan mudah menuduh beberapa orang di pemerintahan dan dunia bisnis sebagai serakah. Memang, dengan posisi kekuasaan dan kapasitas intelektual, mereka dapat menyedot sejumlah besar uang hanya untuk diri mereka sendiri. Dana dari para masyarakat pembayar pajak yang seharusnya digunakan untuk membangun bangsa, malah masuk ke kantong pribadi mereka. Tapi, kita harus ingat bahwa keserakahan tidak hanya mempengaruhi mereka yang kaya tetapi semua orang, termasuk juga orang miskin.

Film Slumdog Millionaire (2008) mengkisahkan Salim dan Jamal Malik yang menjadi korban ketidakadilan dan keserakahan. Setelah pembunuhan ibu mereka karena kebencian agama di daerah kumuh di India, mereka dipaksa untuk tinggal di tempat pembuangan sampah. Kemudian, mereka diadopsi oleh sindikat ‘pengemis profesional’. Salah satu adegan yang mengungkapkan bentuk keserakahan yang mengerikan adalah salah satu anak laki-laki dengan suara merdu, Arwind, dibutakan. Jamal berkomentar kemudian, “penyanyi buta berpenghasilan ganda.” Bagian terburuk dari film ini adalah bahwa film ini tidak sekedar fiksi belaka, tetapi banyak peristiwa seperti ini terjadi dalam kehidupan kita.

Ketamakan bahkan lebih menghacurkan karena dosa ini tidak hanya tentang kekayaan. Ketamakan adalah dosa yang menghancurkan identitas kita sebagai manusia, diciptakan sebagai citra Allah, dengan kapasitas untuk mengasihi dan berbagi. Dalam perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh Minggu ini, kita menemukan orang kaya hanya peduli dirinya sendiri, panenanya, hartanya, hidupnya dan masa depannya sendiri. Tidak ada tempat bagi orang lain, apalagi Tuhan di dalam hatinya. Keserakahan menghancurkan kemanusiaan kita sampai keintinya. Kita menggemgam erat kehidupan kita dan apa yang kita miliki, dan gagal untuk melihat bahwa semua yang kita miliki adalah berkat untuk dibagikan.

Hanya beberapa hari yang lalu, Romo Jacques Hamel dibunuh di dalam Gereja oleh teroris bersenjata. Gereja Saint Etienne-du-Rouvray di Perancis utara diserbu saat misa pagi. Dia dan seorang umat akhirnya meninggal setelah leher mereka digorok. Sementara dunia terkejut dengan tindakan pengecut keji ini, kita sekali lagi diundang untuk melihat lebih dalam kehidupan imam yang sederhana ini yang memberi hidupnya sampai akhir. Kita mungkin percaya bahwa hidup dirampas darinya, tapi kita lupa bahwa sebenarnya dia telah memberikan hidupnya jauh sebelum hari kemartirannya. Dia hidup sederhana dan pada usia 84, dia tetap setia merayakan sakramen dan melayani umat Tuhan setiap hari dalam hidupnya. Dia memberikan hidupnya bagi Tuhan dan Gereja. Kematiannya bukanlah suatu kerugian, tapi sebuah peneguhan atas kemurahan hatinya yang menginspirasi dunia. Sebagaimana St. Tertulian pernah berkata, Darah para martir adalah benih umat Kristiani.

Kemurahan hati dari Rm. Hamel ini adalah refleksi dari panggilan terdalam kita sebagai manusia, sebagai citra Allah. Dan hanya dalam kasih yang sejati dan kemurahan hati yang melimpah, kita dapat melawan keserakahan dan ketamakan yang menjangkiti jiwa kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Prayer to Our Father

17th Sunday in Ordinary Time [July 24, 2016] Luke 11:1-13

 “Father, hallowed be your name, your kingdom come.  Give us each day our daily bread (Luk 11:2-3)”

jesus teach prayerWhen we begin to pray, we acknowledge the presence of God. Not only that, we also recognize that we are dependent on Him. No wonder that the most basic and common prayer is a prayer of petition. We pray to ask favor from God. We beg for good health, success in career, passing examination, protection from dangers, and more. Several times, I wrote that God is not a spiritual ATM and that our prayer is an ATM card. After ‘inserting our prayer’ and ‘inputting a correct amount of request’, God will produce what we wish. But, I have realized that every morning, when I pray before the Blessed Sacrament and the image of our Lady of La Naval de Manila, my prayer is a prayer of petition. I ask God for so many things, for good breakfast, for easy quiz, sometimes for suspension of classes. Certainly, I also pray for people I love and people I promised to pray for.

In today’s Gospel, Jesus taught the disciples how to pray. He taught them the most beautiful prayer, the ‘Our Father’. Though Luke’s version is shorter than Matthew’s version, both contain the same basic attitude. This is the prayer of petition. We ask that His Kingdom come. We ask for our daily bread. We ask for forgiveness and deliverance from evil. We ask God for the most essential needs in our daily life.

Jesus did not only teach us to pray humbly, but also to pray confidently. We pray confidently because Jesus introduced us to a God who is a caring and loving Father. I am aware that not every one of us has a very pleasant experience with our own fathers. Some, just like myself, are fortunate to have dependable fathers. But, others have to deal with abusive and violent fathers. Others have no idea who their fathers are. Thus, Jesus assured us that Our Father in heaven is the most caring, most loving and best father of all. “What father among you would hand his son a snake when he asks for a fish? Or hand him a scorpion when he asks for an egg? If you then, who are wicked, know how to give good gifts to your children, how much more will the Father in heaven give the Holy Spirit to those who ask him? (Luk 11:11-13)”

Sometimes, we wonder why God does not answer our prayer of petition. This is precisely because God is our Father. He knows what best for us, and sometimes, what we want is not really the best for us. There is something better in store for us. He always answers our prayers, but often, we do not listen to His answer.

The highest form of prayer in the Catholic tradition is the Holy Eucharist. By its name, Eucharist means thanksgiving (from Greek ‘eucharistein’, to give thanks), yet it is also true that Eucharist is a prayer of petition. In fact, in the Eucharist, we ask God for something we need most, our salvation and the salvation of the world. In order to achieve this, we offer the most pleasing sacrifice, Jesus Christ Himself to the Father, the source of salvation. The heavenly Father could not resist this most perfect offering. God then abundantly showers us with His grace. Our salvation is hinged in prayer.

We pray because this is who we are. We are nothing apart from God. We are dependent on God. We kneel and humble ourselves before Him. Yet, we pray because we are confident that He will listen to our prayer. We are assured that God will take care of us. We pray because God is our Father.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Doa kepada Bapa Kita

Minggu Biasa ke-17. [24 Juli 2016] Lukas 11:1-13

 “Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. 3 Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya (Luk 11: 2-3)”

dominican rosaryKetika kita mulai berdoa, kita mengakui bahwa kita bergantung pada-Nya. Tidak heran jika salah satu bentuk doa yang paling mendasar dan umum adalah doa permohonan. Kita berdoa untuk meminta sesuatu dari Allah. Kita mohon untuk kesehatan, kesembuhan, sukses dalam karir, lulus ujian, perlindungan dari bahaya, dan banyak lagi. Saya pernah menulis bahwa Tuhan bukanlah ATM spiritual dan doa kita adalah kartu ATM. Setelah memasukan ‘kartu ATM doa’ dan mengetikan ‘password Amin’, Allah akan serta-merta menghasilkan apa yang kita inginkan. Tapi, saya menyadari bahwa setiap pagi, ketika saya berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus dan bunda Maria La Naval, doa-doa saya adalah doa permohonan. Saya meminta Tuhan banyak hal, seperti sarapan yang enak, kemudahan dalam ujian, kadang-kadang berharap bisa dapat cuti lebih awal dan panjang. Tentu saja, saya berdoa juga bagi orang-orang yang saya kasihi dan mereka yang telah saya janjikan untuk didoakan.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan para murid bagaimana berdoa. Ia mengajar mereka doa yang paling indah, ‘Doa Bapa Kami.’ Meskipun versi Lukas lebih pendek dari versi Matius, keduanya mengandung sikap dasar yang sama. Ini adalah doa permohonan. Kita meminta Kerajaan-Nya datang. Kita meminta rejeki yang cukup. Kita memohon pengampunan dan pembebasan dari yang jahat. Kita memohon Tuhan memberikan kebutuhan yang paling mendasar dalam kehidupan kita sehari-hari.

Yesus tidak hanya mengajarkan kita untuk berdoa dengan rendah hati, tetapi juga berdoa dengan penuh keyakinan. Kita berdoa dengan yakin karena bagi Yesus, Tuhan adalah Bapa yang peduli dan penuh kasih. Saya sadar bahwa tidak semua memiliki pengalaman yang menyenangkan dengan ayah kita. Banyak dari kita, seperti saya sendiri, beruntung memiliki ayah yang bias diandalkan. Tapi, beberapa dari kita harus berurusan dengan ayah kasar dan keras. Dan beberapa dari kita tidak tahu siapa ayah kita sebenarnya. Tetapi, Yesus meyakinkan kita bahwa Bapa kita di surga adalah bapa yang paling peduli, paling penuh kasih dan terbaik. Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya? (Luk 11: 11-13)”

Kadang-kadang, kita bertanya-tanya mengapa Tuhan tidak menjawab doa permohonan kita. Kita perlu ingat bahwa Dia adalah Bapa yang baik dan Dia tahu apa yang terbaik bagi kita. Jika Ia tidak menjawab doa kita mungkin apa yang kita inginkan bukanlah yang terbaik bagi kita. Ada sesuatu yang lebih baik telah disiapkan bagi kita. Dia selalu menjawab doa-doa kita, tetapi seringkali, kita tidak mendengarkan jawaban terbaik-Nya.

Bentuk doa paling agung dalam tradisi Katolik adalah Ekaristi Kudus. Ekaristi sebenarnya berarti doa syukur (dari bahasa Yunani ‘eucharistein’, untuk bersyukur), namun Ekaristi juga bisa diartikan sebagai doa permohonan. Bahkan, dalam Ekaristi, kita memohon Tuhan sesuatu yang paling kita butuhkan, keselamatan kita dan keselamatan dunia. Untuk mencapai hal ini, kita mempersembahkan sebuah kurban yang paling baik kepada Bapa, yakni Yesus Kristus sendiri. Tentunya, Bapa akan bahagia menerima kurban yang paling sempurna ini. Bapa pun melimpahi kita dengan rahmat-Nya. Tidak salah jika kita mengatakan bahwa keselamatan kita bergantung dalam doa.

Kita berdoa karena ini adalah siapa kita. Kita bukanlah apa-apa tanpa Tuhan. Kita bergantung seluruhnya pada Allah. Kita berlutut di hadapan-Nya. Namun juga, kita berdoa karena kita yakin Dia akan mendengarkan doa kita. Kita yakin bahwa Tuhan akan memperhatikan dan memberikan yang terbaik. Kita berdoa karena Allah adalah Bapa kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Introvert or Extrovert?

16th Sunday in Ordinary Time. July 17, 2016 [Luke 10:38-42]

 “There is need of only one thing. Mary has chosen the better part and it will not be taken from her (Luk 10:42).”

Martha and MaryFew weeks ago, I participated in a seminar-workshop on personality recognition and development. The activity was organized by the ministry of Lectors of Santo Domingo Parish and facilitated by seasoned speaker Sr. Leticia Garcia, DC. As I expected, the test result told me that I was dominantly introvert, meaning I was silent and more reserved guy. I found strength in solitude. I shared this treats with many of the participants. Yet, not few were actually our opposite. They were extrovert, meaning they were people-oriented and action-driven. They were recharged in interaction with others. Sr. Garcia made a point that the difference must not bring us into animosity. When properly developed, our personalities shall complete each other and contribute in the service of God.

Reading today’s Gospel, we encounter two lovely protagonists, Martha and Mary. Doubtless, Martha was dominantly extrovert. She did all the chores. She was very mobile and action-driven. In fact, she did all talk. Mary, meanwhile, was predominantly introvert. She did nothing but listened to Jesus. She was not even moving at the foot of Jesus. No single word was uttered from her mouth.

In the story, when Martha complained to Jesus about her sister’s inactivity, Jesus defended Mary. It seems that Jesus was favoring Mary over Martha. Does it mean that Jesus preferred introvert people than extrovert one? Not really. Looking deeper into the life of Jesus, we may justifiably say that Jesus himself was predominantly extrovert. He was action-oriented, He did a lot of things: healing, exorcising, feeding, doing miracles, and teaching. He involved in people’s lives. He attended many parties, and even accused as a glutton and a drunkard, a friend of tax collectors and sinners (Mat 11:19)!

So, why is it that Jesus said to Martha, There is need of only one thing. Mary has chosen the better part (Luk 10:42)?” I believe Jesus was not playing favoritism. Rather, Jesus intended to remind Martha that she has missed the point of serving. Not that being extrovert and energetic were wrong, but she began to compare herself with her sister. Worse, she imposed her way as the best option to serve the Lord. As she was immersed in herself, Martha was losing Jesus.

Mary chose a better part because she allowed Martha to be Martha, and to serve Jesus through her unique personalities. She did not complain when Martha did something different from her, because her focus was on Jesus not herself. Mary refused the temptation to make herself as the center of activities and life, create a little god out of herself. Thus, not only she allowed Martha to be Martha, she allowed Jesus to be God. This is the best part.

Every one of us, with our different unique personalities and talents, are called to become Jesus’s disciple, and to contribute in building His Church. The Church needs both the introvert and the extrovert. In fact, when we are working together, we may contribute even significantly larger than our individual contribution. Some of my brothers in the community are truly outgoing and enjoy to do missions and preaching in many places. I admit I have to exert extra effort to go out seminary, and a lot easier for me to spend hours reading and writing. We then work together as I provide them with preaching modules and my friends do the actual preaching.

The danger is when we only think that our ways are the only way and begin to complain about those who are different from us. We no longer think of Christ, but ourselves, and make ourselves as little gods. We pray that we may choose the better part as we work together to serve God and in our works and lives, God is truly glorified.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Introvert atau Ekstrovert?

Minggu Biasa ke-16. [17 Juli 2016] Lukas 10: 38-42

 Hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya (Luk 10:42).”

Beberapa minggu yang lalu, saya mengikMartha and Mary by He Qiuti seminar dan lokakarya tentang pengenalan dan pengembangan kepribadian di Manila, Filipina. Seperti yang saya duga, hasil tes menyatakan bahwa saya secara dominan adalah introvert, yang berarti saya kepribadian yang tenang dan pendiam. Saya menemukan kekuatan dalam keheningan. Saya tidak sendirian karena banyak juga peserta adalah introvert. Namun, tidak sedikit yang memiliki kepribadian yang berlawanan dengan kami. Mereka adalah ekstrovert, yang berarti mereka menyukai banyak aktivitas dan senang berinteraksi dengan orang lain. Sang pembicara mengingatkan bahwa perbedaan tidak boleh membawa kita ke permusuhan. Jika dikembangkan dengan baik, kepribadian kita yang unik akan saling melengkapi dan berkontribusi dalam pelayanan di Gereja dan kemuliaan Tuhan.

Membaca Injil hari ini, kita menemukan dua protagonis, Marta dan Maria. Tak diragukan lagi, Marta secara dominin adalah ekstrovert. Dia melakukan semua pekerjaan. Dia sangat aktif. Bahkan, dia tidak segan-segan terlibat pembicaraan dengan Yesus. Sementara Maria adalah tipikal introvert. Dia bisa tenang, diam dan hanya mendengarkan Yesus. Dia bahkan tidak bergerak di kaki Yesus. Tidak ada satupun kata yang terucap dari mulutnya.

Dalam cerita, ketika Marta mengeluh kepada Yesus karena saudaranya yang diam saja, Yesus membela Maria. Apakah ini berarti bahwa Yesus lebih meyukai pribadi introvert daripada ekstrovert? Saya rasa tidak. Jika kita melihat kehidupan Yesus, kita dapat mengatakan bahwa Yesus secara dominan adalah ekstrovert. Ia melakukan banyak hal: penyembuhan, mengusir roh jahat, memberi makan, melakukan mujizat, dan mengajar. Dia terlibat dalam kehidupan banyak orang. Dia menghadiri banyak pesta dan perayaan, dan bahkan dituduh sebagai pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang-orang berdosa (lit. Mat 11:19)!

Jadi, mengapa Yesus berkata kepada Marta, Tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik (Luk 10:42)?” Saya percaya Yesus tidak pilih kasih. Sebaliknya, Yesus  bermaksud mengingatkan Marta bahwa ia telah kehilangan tujuan utama dari pelayanannya. Yesus tidak alergi dengan Marta yang adalah ekstrovert, tapi Marta membandingkan dirinya dengan saudaranya. Lebih buruk lagi, ia memaksakan caranya sebagai cara terbaik terbaik untuk melayani Tuhan. Saat ia terhanyut di dalam dirinya sendiri, Marta kehilangan Yesus.

Maria memilih bagian yang lebih baik karena ia tidak memaksakan kehendaknya dan membiarkan Marta menjadi Marta. Dia tidak mengeluh ketika Marta melakukan sesuatu yang berbeda darinya, karena ia fokus pada Yesus. Maria menolak godaan untuk membuat dirinya sebagai pusat pelayanan dan kehidupannya, dan menjadikan dirinya sabagai tuhan kecil. Jadi, tidak hanya dia membolehkan Marta menjadi Marta, ia juga membolehkan Yesus menjadi Tuhan. Ini adalah bagian yang terbaik.

Kita semua, dengan kepribadian yang unik dan bakat yang berbeda, dipanggil untuk menjadi murid Yesus, dan untuk berkontribusi dalam membangun Gereja-Nya. Gereja membutuhkan baik introvert dan ekstrovert. Bahkan, ketika kita bekerja bersama-sama, kita dapat berkontribusi secara signifikan lebih besar dari kontribusi individu kita masing-masing. Beberapa frater-frater saya di komunitas menikmati bermisi dan berkhotbah di banyak tempat. Saya mengakui bahwa saya harus mengerahkan usaha ekstra untuk sekedar pergi keluar seminari, dan jauh lebih mudah bagi saya untuk menghabiskan berjam-jam membaca dan menulis. Kami kemudian bekerja sama. Saya menawarkan berbagai materi pewartaan dan frater-frater saya melakukan aksi pewartaan yang sebenarnya.

Bahayanya adalah ketika kita hanya berpikir bahwa cara kita adalah satu-satunya cara dan mulai mengeluh tentang orang-orang yang berbeda dari kita. Kita tidak lagi memikirkan Kristus, tetapi diri kita sendiri, dan membuat diri kita sebagai tuhan-tuhan kecil. Kita berdoa agar kita dapat memilih bagian yang lebih baik karena kita bekerja bersama-sama untuk melayani Tuhan, dan di dalam karya dan kehidupan kita, Tuhan benar-benar dimuliakan.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP