Disciples not Crowds

Fourth Sunday in the Ordinary Time. January 29, 2017 [Mat 5:1-12]

“When Jesus saw the crowds, he went up the mountain; and after he sat down, his disciples came to him (Mat 5:1).”

sermon-on-the-mountMatthew chapters 5 to 7 are well known as the Jesus’ sermons in the Mount. The section contains classic teachings and parables of Jesus like Beatitudes, the love for one’s enemy and the golden rule. Before Jesus began his sermon, He was sitting down. This gesture actually symbolizes the teaching authority of Jesus. On the Mount, Jesus was the teacher, and as a good teacher, He would expect people to listen attentively to His words. Thus, before Jesus commenced His sermon, He went up to the Mount to separate Himself from the crowd. Jesus knew that being part of the crowd was practically effortless and usually motivated selfishly: to be cured, to be fed and to be entertained. It could turn out to be very superficial, as a mass of people is drawn to one charismatic and powerful leader like Jesus, yet the moment its need is served or its leader is no longer satisfactory, it would be naturally disbanded.

The Sermon on the Mount was intended not for the crowd, but for a small group of people who would sit around Jesus and listen to Him carefully. These were the disciples.  Indeed, the teacher-disciples relationship is one of the most fundamental for us Christians. If we seek Jesus merely to be emotionally satisfied and economically profitable, we are just part of the crowd. And this is not our vocation. Jesus calls us into a more rooted and mature relationship with Him. He wants us to be His disciples, to listen to His teachings and follow Him.

However, to become a disciple in our time is seriously challenging. We are now part of the digital generation. We are people who hold latest iPhone or Android on our hands, access internet 24/7 and are exposed to countless TV channels. We move from one TV program to another, jump from one web to another, use one app to another, go from one entertainment to another. As a consequence, the span of attention of many people especially the young people is sharply declining. I am teaching Theology and Scriptures to young people, and I have to be always engaging and using various methods and multimedia. The moment these young ones lose their interest, they will not listen and immediately be busy with something else. Thus, no wonder that people cannot stand the boring and tedious homilies. Some choose another mass with a better preacher, some opt to look for another parish, others decide to attend worship service in other churches, and the rest find it altogether meaningless going to the mass.

Certainly, it is a challenge for preachers like myself to improve our preaching, to be more engaging and sensitive to the needs of the contemporary listeners. Yet, it is also true that we, the disciples of Christ, are invited to regain that humility and listening ears. Jesus and His Church are not a global amusement park. We come to Jesus not as crowd looking for instant happiness. Otherwise, we treat Jesus as a mere drug, and we are a kind of religious drug-addict! We pray that we continue to listen to Him even in times that we do not feel it as fun. We pray that we go beyond the crowd mentality and become Jesus’ true disciples.

Br. Valentinus Bayuhadi RUseno, OP

Bukan Keramaian tetapi Menjadi Murid

Minggu Ke-4 pada Masa Biasa. 29 Januari 2017 [Matius 5: 1-12]

“Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya (Mat 5:1).”

sermon-on-the-mount-2Injil Matius bab 5 sampai 7 dikenal sebagai khotbah Yesus di Bukit. Bagian ini berisi ajaran-ajaran dan perumpamaan Yesus yang sangat terkenal seperti 8 Sabda Bahagia, dan tentang mengasihi musuh kita. Sebelum Yesus memulai ajaran-Nya, Diapun duduk. Posisi ini sebenarnya melambangkan otoritas Yesus untuk mengajar. Di Bukit, Yesus adalah guru, dan sebagai guru yang baik, Dia akan mengharapkan mereka yang datang kepada-Nya untuk mendengarkan-Nya dengan penuh perhatian. Maka, sebelum Yesus memulai ajaran-Nya, Diapun naik ke bukit untuk memisahkan diri dari kerumunan. Yesus tahu bahwa menjadi bagian dari kerumunan adalah sangat mudah dan biasanya terdorong oleh motif-motif egois seperti ingin segera disembuhkan, untuk diberi makan dan dihibur. Alasannya sangat dangkal, mereka menjadi kerumunan karena tertarik dengan pemimpin karismatik seperti Yesus, namun saat kebutuhan mereka terpenuhi atau sang pemimpin tidak lagi memuaskan, kerumunan pun akan secara alami membubarkan diri.

Khotbah di Bukit dimaksudkan bukan untuk kerumunan, tapi untuk sekelompok kecil orang yang akan duduk di sekitar Yesus dan mendengarkan Dia dengan penuh perhatian. Ini adalah para murid. Memang, hubungan guru-murid adalah salah satu yang paling mendasar bagi kita, umat Kristiani. Jika kita mencari Yesus hanya untuk kepuasaan emosional dan keuntungan ekonomis, kita hanya bagian dari kerumunan. Dan ini bukan panggilan kita. Yesus memanggil kita ke dalam hubungan yang lebih berakar dan dewasa dengan-Nya. Dia ingin kita menjadi murid-Nya, untuk mendengarkan-Nya dan mengikuti-Nya.

Namun, untuk menjadi murid di zaman ini adalah sungguh menantang. Kita adalah bagian dari generasi digital. Kita adalah orang-orang yang memegang iPhone atau Android terbaru di tangan kita, mengakses internet 24 jam dan terekspos pada saluran TV yang tak terhitung jumlahnya. Kita bergerak dari satu program TV ke yang lain, mengunjungi dari satu website ke yang lain, menggunakan satu aplikasi ke yang lain, pergi dari satu hiburan ke yang lainnya dengan cepat dan mudah. Akibatnya, rentang perhatian banyak orang terutama orang-orang muda menurun secara tajam. Saya sendiri mengajar Teologi dan Kitab Suci kepada rekan-rekan muda di Filipina, dan saya harus selalu kreatif, menarik dan menggunakan berbagai metode dan multimedia. Saat orang-orang muda ini kehilangan minat mereka, mereka tidak akan mendengarkan dan segera sibuk dengan hal lain. Jadi, tak heran jika orang zaman ini tidak tahan homili yang panjang dan membosankan. Beberapa memilih misa dengan pengkhotbah yang lebih baik, beberapa memilih untuk mencari paroki lain, orang lain memutuskan untuk pindah ke gereja-gereja lainnya, dan sisanya merasa misa tidak lagi berarti.

Tentu saja itu adalah tantangan bagi para pewarta seperti saya sendiri untuk meningkatkan kemampuan dalam berkhotbah, menjadi lebih menarik dan peka terhadap kebutuhan pendengar kontemporer. Namun, benar juga bahwa kita semua adalah para murid Kristus, dan kita diundang untuk memiliki kerendahan hati dan telinga yang mendengarkan. Yesus dan Gereja-Nya bukan taman hiburan global. Kita datang kepada Yesus bukan sebagai orang mencari kebahagiaan instan. Jika tidak, kita memperlakukan Yesus sebagai narkoba belaka, dan kita adalah pecandu! Kita berdoa agar kita terus mendengarkan Dia bahkan di saat kita tidak merasa menyenangkan. Kita berdoa agar kita melampaui mentalitas kerumunan dan menjadi benar murid-murid Yesus.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Capernaum

Third Sunday in Ordinary Time. January 22, 2017 [Matthew 4:12-23]

“He left Nazareth and went to live in Capernaum by the sea, in the region of Zebulun and Naphtali (Mat 4:13)”

journeyJesus began His public ministry by moving to another town in Galilee. From his hometown Nazareth to a bigger and more dense Capernaum. It was an ancient urbanization! Nazareth was small and scarcely populated, while Capernaum was one of the fishing centers in the Sea of Galilee. It was where people came, gathered, and interacted with each other. Had Jesus commenced His mission in Nazareth, probably, it would have taken more time to grow. Capernaum gave critical advantages for Jesus. It was easier to gather people, preach and attract followers. As a port city, it eased up Jesus mobility to other places in Galilee. And, Capernaum provided Jesus with shelter and other resources for His preaching. The reason for migrating was practical and yet decisive.

When St. Dominic started his Order, one of the first things he did was to send his small and fragile group of friars to big university cities like Paris and Bologna. His move was criticized as careless and dangerous. It could have swept away the infant community of Dominic. But, He insisted. “Stored seeds rot!” Dominic was actually able to think like Jesus. In bigger cities, it was much manageable not only to study, but also to preach and invite generous souls to be part of the community. Thus, Dominic made a clear instruction as he sent his brothers: “to study, preach and build community.

Our time is characterized with mega migration. Countless people move from town to another, from one country to another, and from one continent to another with ease and speed. And like Jesus, we migrate for practical cause as well as survival. We go places because of our works, our family, or our dreams. My life as a seminarian and a Dominican is also marked with constant movement. As early as fourteen years old, I left my hometown Bandung to enter the seminary in Magelang. Then, from Indonesia to Manila in the Philippines.

Going back to today’s Gospel, St. Matthew does not only see Jesus’ migration as practical solutions to His ministry, but as fulfillment of God’s promise: “the people who sits in darkness have seen a great light.” As Jesus travelled from one place to another, He brought light to others that they may see God whose Kingdom has come. Jesus immediately preached the Good News and called Andrew, Peter, James and John to His disciples. Jesus accommodated the practical and temporal things in His disposal for His mission. And He was faithful to this to the end. He used the cross, the practical means of torture and humiliation as means of presenting God’s love and salvation.

The same mission is given to us. As we move from one place to another, we bring also the light of Christ with us. Like newly-wed persons, we are called to enlighten our new families. As workers, we are to denounce what is evil in our new workplaces. As people who live on this earth, we shall take care of the creations in every land we step.   

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Kapernaum

Minggu ketiga di Masa Biasa. 22 Januari 2017 [Matius 4: 12-23]

“Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali (Mat 4:13).

capernaum

Yesus memulai karya-Nya saat Ia pindah ke kota lain di Galilea. Dari kampung halamannya Nazareth ke Kapernaum yang lebih besar dan lebih padat penduduk. Yesus pun melakukan urbanizasi! Nazaret adalah kecil dan sedikit penghuni, sementara Kapernaum adalah salah satu pusat industri perikanan di Danau Galilea. Di kota ini, orang-orang datang, berkumpul, dan berinteraksi satu sama lain. Jika Yesus memulai misi-Nya di Nazaret, mungkin, Ia akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengembangkan misi-Nya. Kapernaum memberi keuntungan penting bagi Yesus. Di kota ini, Yesus lebih mudah untuk mengumpulkan orang-orang, berkhotbah dan menarik pengikut. Sebagai kota pelabuhan, Kapernaum memberikan mobilitas kepada Yesus untuk pergi ke tempat-tempat lain di sekitar Galilea. Dan, Kapernaum juga menyediakan Yesus tempat tinggal dan sumber daya lain untuk karya-Nya. Alasan Yesus untuk bermigrasi adalah hal praktis namun sangat menentukan.

Ketika St. Dominikus memulai ordonya, salah satu hal pertama yang ia lakukan adalah mengirim kelompok saudara-saudaranya yang kecil dan rapuh ke kota-kota universitas besar seperti Paris dan Bologna. Keputusannya dikritik sebagai tindakan yang ceroboh dan berbahaya. Tapi, dia berteguh karena ia percaya,  “Biji yang tersimpan akan membusuk!” Dominikus benar-benar mampu berpikir seperti Yesus. Di kota-kota besar inilah, para saudara tidak hanya mampu untuk belajar, tetapi juga untuk berkhotbah dan mengundang orang-orang untuk menjadi bagian dari komunitas. Dominikus pun memberi instruksi yang sangat jelas sebelum ia mengirim saudara-saudaranya: “untuk belajar, berkhotbah dan membangun komunitas.”

Masa kita ditandai dengan mega migrasi. Banyak orang pindah dari satu kota ke kota yang lain, dari satu negara ke negara yang lain, dan dari satu benua ke benua lain dengan kemudahan dan kecepatan. Dan seperti Yesus, kita bermigrasi untuk tujuan praktis dan manusiawi. Kita pergi ke berbagai tempat karena pekerjaan kita, keluarga kita, belajar atau untuk mencapai impian kita. hidup saya sebagai seorang seminaris dan Dominikan juga ditandai dengan gerakan yang konstan. Sejak usia empat belas tahun, saya meninggalkan kota saya Bandung untuk masuk seminari menengah di Magelang. Kemudian, dari Indonesia ke Manila di Filipina. Saat saya adik saya menikah beberapa pekan lalu, saya menyaksikan bahwa dia memutuskan untuk meninggalkan rumah dan pindah bersama istrinya.

Kembali ke Injil hari ini, Matius tidak hanya melihat migrasi Yesus sebagai solusi praktis untuk pelayanan-Nya, tetapi sebagai pemenuhan janji Allah: “orang-orang yang duduk dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.” Ketika Yesus melakukan perjalanan dari satu tempat ke yang lain, Ia membawa cahaya dan mereka dapat melihat Allah yang telah datang. Setelah pindah, Yesus segera memberitakan Kabar Baik dan memanggil Andreas, Petrus, Yakobus dan Yohanes sebagai murid-murid-Nya. Yesus menggunakan hal-hal praktis dan temporal bukan untuk diri-Nya sendiri tetapi untuk misi. Dan Dia setia pada hal ini sampai akhir. Diapun akhirnya menggunakan salib, sebuah sarana praktis penyiksaan dan penghinaan, sebagai sarana untuk  menunjukan kasih dan keselamatan Allah.

Misi yang sama telah diberikan kepada kita. Ketika kita bergerak dari satu tempat ke tempat lain, kita membawa juga terang Kristus. Sebagai pasangan yang baru menikah, kita dipanggil untuk mencerahkan keluarga baru kita. Sebagai pekerja, kita bertugas untuk menolak apa yang jahat di tempat kerja. Sebagai orang yang hidup di bumi ini, kita akan bertanggung jawab terhadap ciptaan di tanah kita berdiri. Kita dipanggil untuk mengunakan sarana yang temporal untuk Tuhan bukan sekedar memuaskan diri kita sendiri.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Little Lambs of God

Second Sunday in Ordinary Time. January 15, 2017 [John 1:29-34]

“Behold, the Lamb of God, who takes away the sin of the world (Jn 1:29).”

the-lamb-of-god

John the Baptist calls Jesus the Lamb of God who takes away the sin of the world. This very phrase eventually became part of the Eucharist and we faithfully recite or sing ‘the Lamb of God’ just before we receive holy communion. But, what does it mean? Why does it have to be a lamb? Not an orangutan, a giraffe or a komodo dragon? Why an animal, not a plant, a fruit or a mobile phone? To make it more intelligible, we have to go back to the Jewish ritual meal of Passover.

The first Passover meal took place before the Hebrews escaped their slavery in Egypt. Every family has to slaughter an unblemished lamb, put its blood on the doorpost and lintel, and roast the lamb before the entire family consumes it. The story goes that the angel of God came to take every firstborn of the Egyptians, but, he passes over the houses of the Hebrew families because of this blood of the Lamb (see Exo 12). This historic event then was institutionalized and became an annual celebration for the Jewish people, even up this day.

Now, John the Baptist announced a new revelation: Jesus is the Lamb, not only any ceremonial lamb, but of God. This Lamb of God has much superior mission than the first Passover lambs: to take away the sin of the world. This lamb would be sacrificed on the cross and His blood will be poured for our salvation. Like the lamb of Passover which is consumed by the Jews, so the Lamb of God would be partaken by the Christians in the Eucharist. Thus, it is proper for us to remember Jesus as the Lamb of God right before we take the Body of Christ in the Mass.

However, it is true as well that for many of us, a lamb has not much meaning. How many among us have a first-hand experience with this four-legged animal? I myself have no immediately encounter with this mammal, except when I eat it at a restaurant! Yet, we know what it means to sacrifice for the persons we love. A wife faithfully taking care of his aging and sickly husband. Parents giving all their effort, time and money so their children may get the best education and life. A woman abandoning her promising career, entering religious life and serving the poor and homeless. Sacrifice entails pain, it gives away the best of us, our time, life and future, and yet, all sacrifice might not be fully appreciated. But, we continue to sacrifice because we know that is for the best of our loved ones. If we are empowered to give ourselves as a sacrifice, we have become the little lambs of God. We sacrifice ourselves because Jesus has sacrificed Himself for us and made our own sacrifices meaningful and fruitful.

Every time, we participate in the Eucharist, we remember someone has loved us so much and sacrificed Himself for us, and we still receive the fruits up to this day. Now, we are also called to be the little lambs of God for others.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Anak Domba-Domba Allah

Kedua Minggu dalam Masa Biasa. 15 Januari 2017 [Yohanes 1: 29-34]

“Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia (Yoh 1:29).”

buffet-lamb-of-godYohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Gelar ini akhirnya menjadi bagian dari Ekaristi dan kita setia mendaraskan atau menyanyikan ‘Anak Domba Allah’ sebelum kita menerima komuni. Tapi, apa artinya? Mengapa harus anak domba? Bukan orangutan, jerapah atau komodo? Mengapa hewan, bukan tanaman, buah atau ponsel? Untuk membuatnya lebih dimengerti, kita harus kembali ke ritual perjamuan Paskah bangsa Yahudi.

Perjamuan Paskah pertama terjadi sebelum bangsa Ibrani melepaskan diri dari perbudakan Mesir. Setiap keluarga harus menyembelih domba yang tak bercacat, mengoleskan darahnya di palang pintu, dan memanggang domba itu sebelum seluruh keluarga mengkonsumsinya. Cerita berlanjut bahwa malaikat Allah datang untuk mengambil anak sulung bangsa Mesir, namun, ia melewati rumah keluarga Ibrani karena darah Anak Domba ini (lihat Kel 12). Peristiwa bersejarah ini kemudian dilembagakan dan menjadi perayaan tahunan bagi orang-orang Yahudi, bahkan sampai hari ini.

Sekarang, Yohanes Pembaptis mewartakan wahyu baru: Yesus adalah Anak Domba, tidak hanya setiap domba seremonial, melainkan dari Allah. Domba Allah ini memiliki misi yang lebih unggul yang pertama domba Paskah: untuk menghapus dosa dunia. Domba ini akan dikorbankan di kayu salib dan darah-Nya akan dicurahkan untuk keselamatan kita. Seperti domba Paskah dikonsumsi oleh orang-orang Yahudi, Anak Domba Allah juga disantap dalam Ekaristi. Dengan demikian, sudah selayaknya bagi kita untuk mengingat Yesus sebagai Anak Domba Allah tepat sebelum kita menyantap Tubuh-Nya dalam Misa.

Namun, benar juga bahwa bagi banyak dari kita, domba tidak memiliki makna yang mendalam. Siapa di antara kita memiliki pengalaman menyentuh hewan berkaki empat ini? Saya sendiri harus mengakui tidak memiliki pengalaman langsung dengan mamalia imut ini, kecuali ketika saya memakannya di restoran! Namun, kita semua tahu apa artinya berkorban untuk orang-orang yang kita cintai. Seorang istri setia merawat suaminya yang semakin tua dan sakit-sakitan. Orang tua memberikan semua usaha, waktu dan uang mereka agar anak-anak mereka bisa mendapatkan pendidikan terbaik. Seorang wanita meninggalkan karir yang menjanjikan, memasuki biara dan melayani orang miskin dan tunawisma sepanjang hidupnya. Pengorbanan mendatangkan rasa sakit, itu melepaskan hal-hal terbaik yang kita miliki, waktu, hidup dan masa depan kita. Namun, tidak ada jaminan semua pengorbanan akan dihargai sepenuhnya. Tapi, kita terus berkorban karena kita tahu bahwa ini adalah untuk yang terbaik dari orang yang kita cintai. Jika kita diberdayakan untuk memberikan diri kita sebagai korban, kita telah menjadi anak domba kecil Allah. Kita mengorbankan diri kita sendiri karena Yesus telah mengorbankan diri-Nya bagi kita dan membuat pengorbanan kita sendiri bermakna dan berbuah.

Setiap kali, kita berpartisipasi dalam Ekaristi, kita ingat Seseorang telah mengasihi kita begitu besar dan mengorbankan diri-Nya bagi kita, dan kita masih menerima buah-buahnya sampai hari ini. Sekarang, kita juga dipanggil untuk menjadi anak domba kecil Allah untuk orang lain.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Raja di kayu Salib

Hari Raya Kristus Raja [November 20, 2016] Lukas 23: 35-43

 Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus. (Luk 23:43)”

king-on-the-crossPerayaan liturgi Kristus Raja merupakan perkembangan baru dalam Gereja. Paus Pius XI menetapkan hari raya ini pada tahun 1925 di bulan Oktober. Paus Paulus VI pada tahun 1969 kemudian mendedikasikan hari Minggu terakhir dari Masa Biasa dalam kalender liturgi Gereja bagi Kristus Raja Semesta Alam. Meskipun perayaan ini tergolong baru di Gereja, kebenaran ini sungguh berakar di dalam Kitab Suci.

Yesus memulai karya-Nya dengan mewartakan Kerajaan Allah. Jika Allah adalah Raja dan Yesus adalah Anak Tunggal Allah, Yesus adalah pewaris sah tahta Kerajaan ini. Namun, Yesus Kristus sebagai raja lebih jelas terlihat dalam kisah sengsara dan wafat-Nya. Para pemimpin agama Yahudi menuduh Yesus menistaan agama Yahudi karena Yesus mengaku sebagai Mesias, Anak Allah, bahkan Allah sendiri (lih. Yoh 8:58). Namun, para pemimpin ini tidak ingin sekedar merajam Yesus. Mereka menginginkan kematian lebih menyakitkan dan memalukan bagi Yesus. Mereka memutuskan untuk membawa-Nya ke Pontius Pilatus, pemimpin Romawi, agar Yesus disalib. Karena Pilatus tidak mau mengurusi permasalahan agama, para pemimpin Yahudi menuduh Yesus memproklamirkan diri-Nya Raja orang-orang Yahudi. Untuk menjadi seorang raja dan memimpin pemberontakan melawan Kaisar Romawi adalah pengkhianatan dan makar, dan pantas dihukum mati. Yesus pun akhirnya dijatuhi  hukuman mati di kayu salib. Alasan Yesus disalib inipun dipaku di kayu yang sama: Yesus dari Nazaret, Raja orang Yahudi, dalam bahasa Latin, Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum atau INRI.

Dalam Injil hari ini, kita membaca dari St. Lukas yang menulis dengan indah. Bagi para musuh Yesus, penyaliban adalah kekalahan telak bagi Yesus sang raja dan Mesias. Salah satu tugas utama seorang raja dan Mesias adalah untuk menyelamatkan umat-Nya, tetapi Yesus dipaku di kayu salib, dan bahkan tidak mampu menyelamatkan diri-Nya sendiri. Orang-orang Yahudi yang membenci-Nya mengejek dia sebagai Mesias tidak berguna, sementara tentara Romawi mencemooh dia sebagai raja yang lemah. Bahkan salah satu penjahat yang tersalib ikut menghujat Yesus. Sungguh, Yesus tidak berdaya, sangat lemah dan menahan rasa sakit yang luar biasa dan berkepanjangan. Teman dan murid-murid-Nya meninggalkan dia. Pengikutnya lari dari-Nya. Kematian menunggu-Nya. Salib adalah momen kegagalan total bagi Yesus.

Namun, di saat kegelapan ini, ketika semua orang berpikir bahwa salib adalah akhir dari Kerajaan Yesus, Ia melakukan tindakan terbesar sebagai seorang raja. Dia mengampuni dan menyelamatkan sang penjahat yang bertobat di kayu salib. Daripada mengeluh atau mengutuk, dia mengucapkan berkat. Alih-alih membalas dendam, Dia menyembuhkan. Bukannya jatuh dalam keputusasaan, Dia justru memberi harapan. Kerajaan-Nya tidak berdasarkan kekerasan dan paksaan, tetapi pada keadilan dan belas kasih. Ini adalah Raja yang sejati, Yesus adalah Raja kita.

Jika kita menyambut Yesus sebagai Raja kita dan kita berbagi kerajaan-Nya dalam pembaptisan, sudah selayaknya bagi kita untuk menjalankan hidup kita seperti Yesus. Pada saat kita menghadapi banyak kesulitan, ketika kita terluka, dan ketika kita merasa begitu lemah, kita diberdayakan untuk bertindak seperti Kristus Raja: untuk memberkati, menyembuhkan, dan memberikan harapan. Ya, tentunya sangat sulit, tetapi jika kita memiliki seorang raja yang mampu mengasihi dihadapan semua keburukan, kita juga bisa mengasihi di tengah-tengah permasalahan hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Temple

33rd Sunday in Ordinary Time [November 13, 2016] Luke 21:5-19

 “All that you see here– the days will come when there will not be left a stone upon another stone that will not be thrown down. (Luk 21:6)”

jesus-teaching-at-the-temple In many other ancient religions, temple was a sacred place. It is holy because their gods or goddesses chose to make their dwelling place and they may serve and worship their gods there. Thus, many cultic rituals in honor of their gods like animal sacrifices and prayers took place in the temples. The temple became the visible signs of the divine presence among the people. Zeus was felt alive in his temple in Mount Olympus, or the gods of Rome were present in the Pantheon.

The Israelites incorporated the mindset and they built their own temples for the God of Israel. Initially, they had several major temples like in Bethel (see Gen 35:1), Shiloh (see Jos 18:1), and Shechem (see Gen 12:6). Yet, when David and Solomon tried to consolidate tribes of Israel into one unified nation, the worship of Yahweh then was centralized at the temple of Jerusalem. Eventually, the Temple of Jerusalem became the only temple in land of Israel.

In the center of this temple, there was the most sacred ground called the Holy of Holiest. One day a year, only a high priest may enter this space and offer the sacrifice. Jesus himself called the Temple as His Father’s place. It is the house of the Lord and there, the tribes have come, the tribes of the LORD (Psa 122:4). In the time of Jesus, the Temple had been structurally enhanced and richly adorned by King Herod the Great. Not only the holiest site for the Jewish, but perhaps it was the most beautiful edifice in Jerusalem. Because of its beauty, importance and sacredness, people of Israel thought it was indestructible.

However, Jesus prophesied that this magnificent Temple would be destroyed. Jews who honored the Temple would be shocked and scandalized. To say bad against the Temple meant to say bad against the Lord who dwelt in it. No wonder Jesus was accused of blasphemy and indeed this was one of the accusations against Jesus during His persecution. Jesus was then crucified, and in 70 AD, forty years after Christ died, the Temple would follow the same fate. The Roman soldiers under Titus captured Jerusalem and destroyed the Temple. Jesus’ prophesy turned to be a reality. What remains to the present day is the West Wall of the Temple, known also as the Wailing Wall.

Then we may ask ourselves: What is our Temple? What becomes the symbol of the presence and blessing of God in our lives? What part of our lives that we think so important and indestructible? Are these our achievements, success, wealth or status and title in life? Are these our families, friendships and even our religious practices?  Yet, all these things are not indestructible.

Indeed, the Temple of Jerusalem was destroyed, but it did not mean God was lost also. True that sacred Temple was associated with the Most High, but temple was not God. When Jesus was murdered, the disciples thought it was the end, but they were wrong. It was rather the end of their false expectations and ideas of Jesus. Even God would allow the greatest symbol of our God in our lives to be destroyed, it does not mean our God is lost. It means that He calls us to reorient our lives not to ourselves but to Him, to come into a truer and deeper relationship with Him.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bait Allah

Minggu dalam Pekan Biasa ke-33 [13 November  2016] Lukas 21:5-19

 “Apa yang kamu lihat di situ akan datang harinya di mana tidak ada satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan (Luk 21:6)”

jesus-teaching-at-the-temple-2Dalam banyak agama-agama kuno, kuil adalah tempat suci.  Hal ini karena dewa atau dewi mereka dianggap tinggal di sana dan orang-orang pun bisa melayani dan menyembah dewa-dewa mereka di kuil-kuil ini. Dengan demikian, banyak ritual kultus untuk menghormati dewa-dewa mereka berlangsung di kuil-kuil ini. Kuil ini menjadi tanda yang kasat mata dari kehadiran ilahi di antara manusia. Zeus terasa hidup di kuilnya di Gunung Olympus, atau dewa-dewi Roma terasa hadir di Pantheon.

Israel mengadopsi pola pikir yang hampir sama dan mereka membangun kuil-kuil mereka sendiri untuk Allah Israel. Bedanya tentunya adalah mereka tidak menyembah berhala, tetapi Allah yang benar. Awalnya, mereka memiliki beberapa kuil besar seperti di Bethel (lih. Kej 35: 1), Shiloh (lih. Yos 18: 1), dan Sikhem (lih. Kej 12:6). Namun, ketika Daud dan Salomo mencoba untuk mengkonsolidasikan suku-suku Israel menjadi satu bangsa yang bersatu, penyembahan Yahweh kemudian dipusatkan di kuil atau Bait Allah di Yerusalem. Akhirnya, Bait Yerusalem menjadi satu-satunya kuil di tanah Israel.

Di pusat Bait ini, ada tempat yang paling sakral bagi bangsa Yahudi yakni tempat Maha Kudus. Sekali setahun, hanya imam besar dapat masuk ke tempat ini dan mempersembahkan korban perdamaian bagi bangsa Israel. Yesus sendiri menyebut Bait Allah sebagai tempat Bapa-Nya. Tidak salah jika sang pemazmur bermadah bahwa ini adalah rumah Tuhan dan ke sana, suku-suku Israel datang, suku-suku-Nya Tuhan (Mzm 122: 4). Di zaman Yesus, Bait Allah telah secara struktural direnovasi dan dihiasi oleh Raja Herodes Agung. Tidak hanya ini menjadi situs paling suci bagi orang Yahudi, tapi mungkin ini adalah bangunan paling indah di Yerusalem. Karena keindahannya, pentingnya dan kesuciannya, orang Israel selalu berpikir bahwa Bait Allah tidak terhancurkan.

Namun, Yesus bernubuat bahwa Bait Allah yang megah inipun akan dihancurkan. Orang-orang Yahudi yang menghormati Bait Allah tentunya terkejut. Untuk mengatakan sesuatu yang buruk terhadap Bait Allah sama saja dengan mengatakan hal buruk terhadap Tuhan sendiri yang tinggal di dalamnya. Tidak heran Yesus pun dituduh telah menghujat Allah, dan memang ini adalah salah satu tuduhan terhadap Yesus saat Ia dianiaya oleh penguasa Yahudi. Yesus kemudian disalibkan, dan pada tahun 70 Masehi, empat puluh tahun setelah Kristus meninggal, Bait Allah pun mengikuti nasib yang serupa dengan Yesus. Para prajurit Romawi di bawah jendral Titus merebut Yerusalem dan menghancurkan Bait Allah. Nubuat Yesus berubah menjadi kenyataan. Apa yang masih hari ini adalah Tembok  bagian Barat dari Bait Allah, yang dikenal juga sebagai Tembok Ratapan.

Maka kita mungkin bertanya pada diri sendiri: Apakah kuil atau bait suci kita? Apa yang menjadi simbol kehadiran dan berkat Allah dalam hidup kita? Apa bagian dari hidup kita, yang kita berpikir, sangat penting dan tidak bisa dihancurkan? Apakah ini prestasi, kesuksesan, kekayaan kita atau status dan gelar dalam hidup kita? Apakah ini kita keluarga, persahabatan dan bahkan praktik-praktik keagamaan kita? Namun, semua hal ini bisa dihancurkan dalam seketika.

Memang, Bait Allah Yerusalem telah dihancurkan, tapi itu tidak berarti Tuhan juga hilang. Benar, Bait Allah selalu dikaitkan dengan Yang Mahatinggi, tetapi sebuah kuil atau Bait Allah ini bukanlah Allah itu sendiri. Ketika Yesus disalibkan, para murid berpikir bahwa ini adalah akhir dari segalanya, tetapi mereka salah. Yang berakhir adalah ekspektasi-ekspektasi semu mereka dan ide-ide yang salah tentang Yesus. Sungguh, Tuhan akan membiarkan simbol terbesar dari diri-Nya dalam hidup kita untuk dihancurkan, itu tidak berarti Tuhan kita hilang. Ini berarti bahwa Dia memanggil kita untuk mengatur kembali kehidupan kita, mencari sekali lagi yang paling penting dalam hidup, untuk tidak memuja diri kita sendiri tetapi Dia, Allah yang hidup, dan untuk menjalin hubungan yang lebih benar dan lebih dalam dengan-Nya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP