Faith the Size of a Mustard Seed

27th Sunday in Ordinary Time. October 2, 2016 [Luke 17:5-10]

“If you have faith the size of a mustard seed, you would say to this mulberry tree, ‘Be uprooted and planted in the sea,’ and it would obey you (Luk 15:6).

mustard-seedReading through today’s Gospel, it seems to have faith is to perform some sort of magical power. If I have faith, I can create rice field on the seabed. If I have faith, I can made a Lamborghini car out of pile of garbage. If I have faith, I can transform my voice like Ed Sheeran. But, faith is not like that. It is not a magical show to entertain us. It is neither an instant answer to our wishes. Yet, it remains true that even the smallest of faith can make the difference.

Jesus spoke of faith as like the size of a mustard seed, that symbolizes our little faith. Yet even, this little faith can make a significant difference in our life, even to do the impossible. True, our lives practically do not change. We are still struggling with financial difficulties. We still need to deal with demanding bosses or terror professors. We are facing horrendous traffic everyday especially in big cities like Manila and Jakarta. We are battling various sickness plaguing our bodies and not knowing how to pay the medical bills. Yes, our lives do not change, yet at the same time, our little faith will make our lives never the same again. How is this possible?

With faith, we are empowered to believe in the unseen God. If we are able to see the unseen God, then we are also able to discover His unseen love and mercy working in our lives. God is not asleep and does not let us struggle alone with myriads of problems and stresses. We remember Peter, the man of little faith, who attempted to walk on the waters, but failed and began to sink. In his little faith, he saw Jesus holding his hand and thus saving him. Like Peter, we are falling into the ocean of difficulties, but we do not drown, because through our little faith, we see Jesus holding our hands.

We learn from many saints. Their faith does not make their lives any better. Many, like St. Francis of Assisi and St. Martin de Porres, remained poor through their lives like. Many still dealt with a lot of problems. Mother Teresa struggled to sustain her charity works and her young Congregation. St. Bernadette Soubirous endured severe pain due to tuberculosis of the bone. Martyrs were cruelly tortured and executed for this faith. But, this little faith have made them more generous, more persevering,  even more joyful in the midst of trials. As St. Lorenzo Ruiz, the Filipino proto-martyr, proclaimed when he was about to be executed, “I am a Catholic and wholeheartedly do accept death for God; had I a thousand lives, all these to Him shall I offer.” Faith does not take away our suffering, but it empowers us to see God. This is enough to change us.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Imam Sebesar Biji Sesawi

Minggu dalam Pekan Biasa ke-27 [2 Oktober 2016] Lukas 17: 5-10

“Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja…(Luk 17:6)”

mustard-seed-in-bottleMembaca Injil hari ini, tampaknya memiliki iman itu membuat kita memiliki kekuatan super. Jika saya memiliki iman, saya dapat menanam padi di dasar laut. Jika saya memiliki iman, saya bisa membuat mobil Lamborghini dari tumpukan sampah. Jika saya memiliki iman, saya bisa mengubah suara saya seindah Ed Sheeran. Tapi, iman tidak seperti itu. Iman bukanlah pertunjukan sulap untuk menghibur kita. Iman bukanlah jawaban instan bagi keinginan-keinginan kita. Namun, benar adanya bahwa bahkan iman terkecil pun dapat membuat berbedaan yang berarti dalam hidup kita.

Yesus berbicara tentang iman dalam ukuran biji sesawi, dan ini melambangkan iman kita yang kecil. Namun walaupun kecil, iman kita dapat membuat perbedaan yang signifikan dalam hidup kita, bahkan melakukan hal-hal yang mustahil. Benar, hidup kita praktis tidak berubah. Kita masih berjuang dengan kesulitan keuangan. Kita masih harus berurusan dengan bos yang buat stres atau dosen teror. Kita tetep harus melalui kemacetan luarbiasa setiap hari, terutama di kota-kota besar seperti Manila dan Jakarta. Kita bergulat dengan berbagai penyakit yang menjangkiti tubuh kita, dan kita tidak tahu bagaimana untuk membayar obat dan biaya perawatan. Ya, hidup kita tidak berubah, namun pada saat yang sama, iman kecil kita akan membuat hidup kita menjadi baru. Bagaimana ini mungkin?

Dengan iman, kita diberdayakan untuk percaya pada Tuhan yang tak terlihat. Jika kita mampu melihat Tuhan yang tidak terlihat, kita juga bisa menemukan kasih dan rahmat-Nya yang tak terlihat dan bekerja dalam hidup kita. Tuhan tidak tidur dan tidak membiarkan kita berjuang sendirian dengan berbagai permasalah hidup. Kita mengingat Petrus, orang yang imannya kecil, yang berusaha untuk berjalan di atas air, tapi gagal dan mulai tenggelam. Dalam iman kecilnya, ia melihat Yesus memegang tangannya dan ia diselamatkan. Seperti Petrus, kita jatuh ke samudra permasalahan dan kesulitan, tapi kita tidak tenggelam karena dengan iman kecil kita, kita melihat Yesus memegang tangan kita.

Kita belajar dari banyak orang kudus. Iman mereka tidak membuat hidup mereka lebih baik. Banyak, seperti St. Fransiskus dari Assisi dan St. Martin de Porres, tetap miskin sepanjang hidup mereka. Banyak yang masih berurusan dengan berbagai masalah, seperti Bunda Teresa Kalkuta yang berjuang untuk mempertahankan karya amal dan Kongregasi mudanya, atau St. Bernadette Soubirous yang menanggung sakit luar biasa akibat TBC tulang. Bahkan tidak sedikit juga dengan kejam disiksa dan dieksekusi karena iman ini. Tapi, iman kecil yang mereka memiliki justru membuat mereka lebih murah hati, lebih tekun, dan bahkan bahagia di tengah-tengah ini pencobaan. Sebagai St. Lorenzo Ruiz, martyr pertama Filipina dan juga Dominikan awam, berseru ketika ia hendak dieksekusi di Jepang, “Saya seorang Katolik dan sepenuh hati menerima kematian bagi Allah; jika saya memiliki seribu nyawa, semua ini akan saya persembahkan kepada-Nya. Iman tidak menghapus penderitaan kita, tetapi memberdayakan kita untuk melihat Allah yang bekerja dan ini cukup untuk mengubah siapa kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lazarus and Us

26th Sunday in Ordinary Time. September 25, 2016 [Luke 16:19-31]

“Lazarus, covered with sores, who would gladly have eaten his fill of the scraps that fell from the rich man’s table (Luk 16:20-21).”

richman-n-lazarusWhen Abraham said to the tormented rich man, “My child, you have received what was good during your life,” does it mean I will be thrown to the netherworld as well? I admit I have received so many good things in my life. I enjoy three good meals a day. I am studying in one of the best schools in the country. I do not have to worry about the security and future of my life. Many of us are enjoying the good things in this world, and we may ask ourselves, “are we going to have the same fate with this rich man in the parable?”

Reading closely on the Gospel, the rich man was sent to the netherworld not because of the good things he received in life. In fact, it would be unfair for him and for us. Many of us are working diligently and we deserve to enjoy our lives after all the backbreaking jobs. He was there because he did not care for Lazarus, his poor brother. If we pay attention to the proximity between the rich man and Lazarus, there is something unusual. Initially, Lazarus was outside the door, but then when he ate the food scraps that fell from the rich man’s table, he was actually inside the house. In fact, Lazarus was under the table of the rich guy. With this extreme closeness the rich man acted as if Lazarus did not exist. What sent him to the netherworld is not because of the good things he received, but his gross neglect and grave ignorance of his own poor brother.

We may have the same fate as the rich man if we do not care for our poor brothers and sisters around us. In fact, our ignorance may be the cause of their poverty and misery. Sometimes, we just feel good after donating some coins to the beggars, but is that enough? Indeed, we cannot do much to help the thousands of refugees in war-torn Syria, but do we do something for those who are close to us? Are we too busy working and earning, so much so that we forget to share? Do we close our eyes to our relatives who are struggling with their children’s education? Do we shield ourselves from the social issues in our society, like the increasing number of poor people being killed simply because they are thought to be small-time drug addicts?

We give thanks to God for the blessings and good things we receive in this life. Yet, we should remember also our brothers and sisters who are just outside our doors, those who are just under our table, waiting for our food scraps.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lazarus dan Kita

Minggu pada Pekan Biasa ke-26 [25 September 2016] Lukas 16: 19-31

 “Lazarus, menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. (Luk 16: 20-21).”

lazarusKetika Abraham berkata kepada orang kaya yang tersiksa di alam maut, Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu. Apakah saya juga akan berakhir di alam maut? Saya mengakui bahwa saya telah menerima begitu banyak hal baik dalam hidup. Saya makan tiga kali sehari. Saya belajar di salah satu sekolah terbaik di Filipina. Saya tidak perlu khawatir tentang keamanan dan masa depan hidup saya. Banyak dari kita yang menikmati hal-hal baik di dunia ini, dan kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, “Apakah kita akan memiliki nasib yang sama dengan pria kaya dalam perumpamaan ini?”

Membaca lebih teliti Injil hari ini, orang kaya dikirim ke alam maut bukan karena hal-hal baik yang ia terima dalam hidup. Bahkan, jika ini sungguh alasannya, ini akan menjadi tidak adil bagi dia dan kita. Banyak dari kita bekerja dengan tekun, dan kita layak untuk menikmati hasil kerja keras kita. Dia ada di sana bukan karena hal-hal baik yang ia terima, tetapi karena dia tidak peduli kepada Lazarus, saudaranya yang miskin dan menderita.

Jika kita memperhatikan jarak antara orang kaya dan Lazarus, ada sesuatu yang tidak biasa. Awalnya, Lazarus ada di luar pintu, tapi kemudian ketika ia makan sisa makanan yang jatuh dari meja orang kaya itu, dia benar-benar berada di dalam rumah. Bahkan, Lazarus sebenarnya berada di bawah meja orang kaya tersebut. Kita bisa menduga bahwa Lazarus sebenarnya adalah anggota keluarga sang kaya. Dengan kedekatan yang ekstrim ini, sang kaya tetap bertindak seolah-olah Lazarus tidak pernah ada. Apa yang mengirimnya ke akhirat bukanlah hal-hal baik yang ia terima, tetapi ia tega mengabaikan dan masa bodoh dengan saudaranya sendiri yang miskin.

Kita mungkin memiliki nasib yang sama dengan orang kaya ini jika kita tidak peduli terhadap saudara-saudara kita yang miskin di sekitar kita. Bahkan, ketidakpedulian kita mungkin menjadi penyebab kemiskinan dan penderitaan mereka. Kadang-kadang, kita merasa puas setelah menyumbangkan uang bagi para pengemis, tetapi apakah ini cukup? Memang, kita tidak bisa berbuat banyak untuk membantu ribuan pengungsi di Suriah yang dilanda perang, tetapi apakah kita melakukan sesuatu bagi mereka yang dekat dengan kita? Mungkin kita terlalu sibuk bekerja dan mencari uang, sehingga kitapun lupa untuk berbagi? Apakah kita menutup mata kita terhadap anggota keluarga kita yang bergulat dengan pendidikan anak-anak mereka? Apakah kita diam saja terhadap berbagai masalah sosial di masyarakat kita?

Kita bersyukur kepada Tuhan atas berkat dan hal-hal baik yang kita terima dalam hidup ini. Namun, kita ingat juga saudara-saudara kita yang berada di luar pintu kita, mereka yang hanya di bawah meja kita, menunggu sisa-sisa makanan kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Becoming Whole

25th Sunday in Ordinary Time. September 18, 2016 [Luke 16:1-13]

“Make friends for yourselves with dishonest wealth, so that when it fails, you will be welcomed into eternal dwellings (Luk 16:9).”

unjust-steward1We were created in the image of God. Thus, our true happiness is only in God. As St. Augustine would say, “You have created us for Yourself, O God, and our hearts are restless until they rest in You.” St. Teresa of the Avilla would echo the same truth when she simply said, “God alone suffices.” But, we were also born into the real human body within a complex and concrete world. As we journey toward God, we cannot totally separate our soul from the various mundane concerns. Even the monks and nuns living in monasteries will still work hard to fulfill their daily and basic needs.

Our humanity and temporal aspects of our life are integral part of who we are. They are blessing and gift of God. We must not be enslaved by money, wealth and other material possessions. Certainly, easier said than done. Who among us are concerned with the latest version of our cellular phone? Who among us spending hours just to choose most fashionable dress? In a bigger scale, corruption, injustice and exploitation are the offshoots of this attachment to this temporal aspect of our lives. Thus, the proper and prudent thing to do is to place the gift of our body and temporal dimension of our life in the service of God and others. I do believe that in order to preach well, it is imperative for the preachers to take care of their health. As an ancient Latin proverbs goes, ‘Mens sana in corpore sano’ (healthy mind in healthy body).

Learning from the parable of the dishonest steward, Jesus taught us to be like the steward in dealing with worldly things. In ancient Israel, for a master entrusting the business to his steward was a common practice. Some stewards would manipulate their position and raise wealth by practice of usury. They charged the borrowers of his masters’ property with high interest. Unfortunately, the steward was caught with this usurious practice as well as squandering his master’s wealth. To save his life, he chose to be smart. He met the debtors and to ask them to rewrite the debt’s notes. He decided to erase the interest that would go to him and let them pay the original amount. The borrowers would be indebted to him, and he might save himself. Like the steward, we need to know what truly matters for our happiness and salvation, as well as well aware of the place of worldly goods in the totality of our lives.

Jesus becomes a splendid example for all us. He is divine and spiritual being. He controlled the forces of nature, He overpowered the evil spirits, and He forgave sins. Though, He was divine, He did not disregard his humanity as useless. He, in fact, was humanly practical and respectful of His own Jewish culture. He observed Jewish traditions and customs, He worshipped God in the synagogues and He taught using the language that His original listeners would understand. Thus, He is truly God and truly man.  Indeed, our salvation rest in this balance and unity of this spiritual and bodily aspects of our humanity.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Manusia yang Utuh

Minggu Biasa dalam Pekan ke-25 [18 September 2016] Lukas 16: 1-13

 Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi (Luk 16:9).

dishonest-stewardKita diciptakan menurut citra Allah, dan dengan demikian, kebahagiaan sejati kita hanya pada Allah. Seperti yang St. Agustinus katakan, Engkau menciptakan kami untuk untuk diri-Mu, ya Allah, dan hati kami gelisah sampai mereka menemukan-Mu.” St. Teresa dari Avilla mengemakan kebenaran yang sama ketika ia mengatakan, Allah mencukupi.” Tapi, kita juga lahir sebagai manusia yang memiliki tubuh dan ke dalam dunia yang kompleks. Saat kita berziarah menuju Allah, kita tidak bisa benar-benar memisahkan jiwa kita dari berbagai urusan duniawi. Bahkan para Rahim yang tinggal di pertapaan tetap bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan dasar mereka.

Kemanusiaan dan aspek temporal kehidupan kita adalah bagian integral dari siapa kita. Ini semua adalah berkat dan karunia Allah juga. Hal yang tepat dan bijaksana adalah untuk mengunakan tubuh dan dimensi temporal kehidupan kita dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama. Saya percaya bahwa untuk bisa mewartakan dengan efektif dan efisien, sangat penting bagi para pewarta untuk menjaga kesehatan mereka. Sebagai peribahasa Latin kuno berkata, ‘Mens sana in corpore sano’ (pikiran yang sehat dalam tubuh yang sehat).

Kita tidak boleh diperbudak oleh uang, kekayaan dan harta benda lainnya. Tentu saja, lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Siapa di antara kita yang mengejar-ngejar HP versi terbaru? Siapa di antara kita menghabiskan berjam-jam hanya untuk memilih pakaian yang paling modis? Dalam skala yang lebih besar, korupsi, ketidakadilan dan eksploitasi adalah bentuk-bentuk dari ektreme keterikatan kita pada hal-hal duniawi.

Dari perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur, Yesus mengajarkan kita untuk menjadi cerdas dalam menangani hal-hal duniawi. Di Israel, bagi tuan rumah untuk mempercayakan bisnis kepada bendaranya adalah praktek yang umum. Beberapa bendahara memang memanipulasi posisi mereka dan mencari keuntungan sendiri dengan praktek riba. Mereka memberi bunga yang besar kepada para peminjam dari tuan mereka. Sayangnya, ada satu bendahara yang tertangkap tangan dengan praktik riba ini, dan juga menghambur-hamburkan kekayaan tuannya. Lalu, untuk menyelamatkan dirinya, sang bendahara melalukan hal yang cerdik. Ia bertemu dengan debitur dan meminta mereka untuk menulis ulang catatan utang mereka. Dia memutuskan untuk menghapus bunga yang akan menjadi keuntungan pribadinya, dan membiarkan mereka membayar sesuai jumlah aslinya. Peminjam akan berhutang budi kepadanya, dan ia menyelamatkan dirinya sendiri. Seperti bendahara dalam perumpamaan hari ini, kita perlu tahu apa yang benar-benar penting untuk kebahagiaan dan keselamatan kita, serta menyadari letak kemanusian dan berbagai aspek temporal dalam totalitas kehidupan kita.

Yesus menjadi contoh yang tepat bagi kita. Dia adalah ilahi dan spiritual. Dia mengendalikan kekuatan alam, dia menaklukkan roh-roh jahat, dan Dia juga memiliki kuasa untuk mengampuni dosa. Meskipun, Dia adalah ilahi, Dia tidak mengabaikan kemanusiaan. Dia, pada kenyataannya, sangatlah manusiawi, praktis dan menghormati budaya Yahudi-Nya sendiri. Dia menghidupi tradisi dan adat istiadat Yahudi, ia menyembah Allah dalam rumah-rumah ibadat Yahudi, dan ia mengajar menggunakan bahasa Aram yang mudah dimengerti oleh orang-orang Yahudi pada zaman-Nya. Tidak salah jika Dia adalah benar-benar Allah dan benar-benar manusia. Sungguh, keselamatan dan kebahagian kita berada pada keseimbangan dan kesatuan berbagai aspek spiritual dan duniawi yang kita miliki.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

One Shepherd

24th Sunday in Ordinary Time. September 11, 2016 [Luke 15:1-10]

“Rejoice with me because I have found my lost sheep (Luk 15:6).”

parable-lost-sheep-good-shepherdThe parable of the lost sheep subtly speaks of who we are fundamentally to Jesus. We are all His sheep and He is our shepherd. Whether we faithfully remain inside the sheepfold or go astray, we are still His sheep.

From this truth, we may ask ourselves. Why is it that some of us are going astray? Why are some of us no longer going to the Church or not active in the parish? Why are some abandoning the Church? Why do some turn to be our enemies and haters? We might be easily tempted to say that that is their fault. But, we are sheep of the same flock, sharers of the same pasture and have the same Shepherd. In one way or another, we might be responsible for our brothers and sisters who stray.

It is easy to pass the blame on others, but do we ever bother to ask why they fail? We tend to see them as problems to be solved, objects to dissect into logical parts. We no longer see them as our brothers and sisters, our co-sheep in Jesus’ sheepfold. Our brothers are no longer going to Church perhaps because we no longer care to help them. Our sisters are leaving the Church perhaps because we are living like hypocrites.

 The war on drugs in the Philippines has caused more than two thousand lives in just two months. As one national news outlet remarks ‘the bodies continues pilling up’. Indeed, many of them are small-time drug-pushers and addicts, and if we look at them as mere problems and pests to the society, death seems the fastest and easy answer. But, if we have headache, do we cut the head? Do we ever wonder why they fall victims of that deadly narcotics? A Lion share of those who got killed were actually poor people. Do we ever lift a finger to alleviate their poverty? Our ignorance and negligence may have indirectly led them into poverty and misery.

Fr. Gerard Timoner III, OP, our provincial, used to teach an idea of brothers shepherding brothers in the seminary. This means that the responsibility of taking care of our brothers in formation does not only rest only on the formators, but also on every brother. We need to become shepherds to one another, especially when the shepherds seem to stray away. Recently, he met us and shared what he gained from the Dominican General Chapter in Bologna last August. He emphasized that to promote vocation is not only about recruiting new members, but also nurturing and safeguarding the vocation of our own brothers in the Order.

To become a sheep of Christ means that we are also part of a bigger sheepfold. As Jesus takes care of each one of us, so we need to take care of one another. As the Good Shepherd reaches out to the lost sheep, we shall stretch ourselves to meet those who are lost in their journey. Surely, it is difficult, but they are still our brothers and sisters, fellow-sheep of Christ.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Satu Gembala, Satu Kawanan Domba

Minggu ke-24 pada Pekan Biasa. 11 September 2016 [Lukas 15: 1-10]

“Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan (Luk 15:6).”

lost-sheepPerumpamaan tentang domba yang hilang sebenarnya berbicara tentang siapa diri kita dan relasi mendasar kita dengan Yesus dan sesama. Kita semua domba-Nya dan Dia adalah gembala kita. Apakah kita domba yang setia berada di dalam gembalaan, atau domba yang tersesat, kita tetap domba-domba-Nya.

Dari kebenaran ini, kita bertanya: Mengapa sebagian dari kita sesat? Mengapa sebagian dari kita tidak lagi pergi ke Gereja atau aktif di paroki? Mengapa beberapa meninggalkan Gereja? Mengapa beberapa akhirnya menjadi musuh dan pembenci Gereja? Biasanya kita akan dengan mudah menyatakan bahwa ini adalah kesalahan mereka. Namun, bukankah kita semua adalah domba dari kawanan yang sama, berbagi padang rumput yang sama dan memiliki Gembala yang sama? Jika ada saudara kita yang tersesat, kita juga ikut bertanggung jawab.

Sangat mudah untuk menyalahkan orang lain, tapi apakah kita pernah bertanya mengapa mereka gagal dan hilang. Kita cenderung melihat mereka sebagai masalah untuk diselesaikan, objek rusak siap untuk dibuang. Kita tidak lagi melihat mereka sebagai saudara-saudari kita, domba-domba gembalaan Yesus. Mungkin, saudara-saudari kita tidak lagi pergi ke Gereja karena kita tidak lagi peduli dengan kesulitan mereka. Mungkin, mereka meninggalkan Gereja karena hidup kita tidak lagi menjadi kesaksian iman dalam Yesus.

Kebijakan pemerintahan baru di Filipina untuk memerangi narkoba telah mencapai titik yang memprihatinkan. Lebih dari dua ribu jiwa telah melayang hanya dalam waktu dua bulan. Memang, banyak dari mereka yang terbunuh adalah pengedar skala kecil dan pengguna, dan jika kita melihat mereka hanya sebagai masalah dan hama bagi masyarakat, kematian tampaknya jawaban tercepat dan mudah. Tapi, jika kita sakit kepala, apakah kita akan memotong kepala kita? Apakah kita pernah bertanya mengapa mereka menjadi korban dari jerat narkoba? Sebagain besar dari mereka yang tewas sebenarnya adalah orang miskin. Narkoba menjadi solusi instan mencari uang atau menghilangkan lapar. Apakah kita pernah berusaha untuk mengentaskan kemiskinan mereka? Ketidakpedualian kita secara tidak langsung telah menyebabkan mereka jatuh ke dalam kemiskinan, kesengsaraan dan narkoba.

Rm. Gerard Timoner III, OP, provincial kami di Filipnia, selalu mengajarkan kami bahwa  ‘brothers shepherding brothers’ atau menjadi pengembala bagi sesama frater di seminari. Ini berarti bahwa tanggung jawab untuk menjaga dan merawat frater-frater di formasi tidak hanya terletak pada formator, tetapi juga pada setiap frater. Kita perlu menjadi gembala bagi sesama, terutama ketika para gembala utama tampak jauh. Baru-baru ini, ia juga berbagi dengan kami apa yang ia peroleh dari Kapitel Umum Dominikan di Bologna, Italia, bulan Agustus lalu. Dia menekankan bahwa untuk mempromosikan panggilan Dominikan tidak hanya berarti sibuk merekrut anggota baru, tetapi lebih penting adalah memperhatikan dan menjaga panggilan dari saudara-saudara kita sendiri di dalam Ordo.

Untuk menjadi domba-domba Kristus berarti bahwa kita juga adalah bagian dari kawanan domba yang lebih besar. Seperti halnya Yesus menjaga setiap dari kita, kita juga perlu untuk menjaga satu sama lain. Sebagai Gembala yang Baik mencari domba yang hilang, kita juga akan mencari saudara-saudari kita yang hilang dalam perjalanan mereka. Tentunya, tidak mudah, tapi kita akan selalu ingat bahwa mereka juga masih saudara-saudara kita, domba-domba Kristus, seperti kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus’ Disciples

Twenty-third Sunday in Ordinary Time. September 4, 2016 [Luke 14:25-33]

“If any one comes to me without hating his father and mother, wife and children, brothers and sisters, and even his own life, he cannot be my disciple (Luk 14:26).

carry crossBeing a disciple is an essential character of Jesus’ followers. In our time, a disciple may mean a student of particular teachers or schools. Like Br. Bayu is a student of the University of Santo Tomas, Manila. In ancient time, especially in Eastern and Jewish tradition, being a disciple has a different understanding. A disciple would not only accept his master’s teachings, but literally follow his Master wherever he would go and stay. Disciples would not only learn on various insight, but also witness and imitate how their master lived his life. They shared their master’s meal, and they were part of their teachers’ joy and sadness. Thus, being a disciple is not only about an intellectual education, but also a holistic formation. It is fundamentally sharing the very life of the master himself.

Therefore, it makes sense for us now, when Jesus demanded that his disciples ‘hate’ their family as well as their own lives. To follow Jesus wherever he goes literally meant the disciples had to leave behind the family and the lives and works they used to have. ‘Hating’ did not mean that they should harbor enmity to their family, but rather place them as secondary priority. Jesus was their new family, their first priority and their real life.

Jesus Himself gave us a fitting imagery of discipleship: following Him is like carrying a cross.  To be a disciple of Christ is indeed difficult, tough; it demands a radical re-orientation of one’s life. Yet, the good news is that to be Jesus’ disciples is not impossible. A good number of young men and women, leaving behind their promising careers, enter the monastery and dedicate themselves for the Lord in constant prayer. Lay Men and women offer themselves as missionaries and are sent to far corners of the globe to share the joy of the Gospel. The evangelization of the Philippines were nearly impossible if not for zealous Spanish friars who travelled for months, risked their lives and many never returned to their homeland. These generous people literally left everything behind to follow Christ.

However, being Jesus’ disciple does not mean for many that they have to abandon our families. Following Christ may take place within the family. When a man and a woman decide to leave their families of origin, and build their own Christian family, then they have become the community of Christ’ disciples. When parents commit themselves to the demanding task of raising their children to be God-fearing and honest Christians, they are following Christ. More fundamentally, our discipleship manifests clearly in the sacraments, especially the Eucharist. In the Eucharist, we become disciples who listen to His teachings and partake in His very life in the sacred host. Then, finally we are sent to preach what we have learned and lived in the Eucharist.

We continue to pray that we may become His true disciples and many will be also inspired to follow Him and share His life.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Murid Yesus

Minggu pada Pekan Biasa ke-23. [4 September 2016] Lukas 14:25-33

Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku (Luk 14:26).

ISRAEL-PALESTINIAN-RELIGION-CHRISTIANTY-EASTER

Menjadi seorang murid adalah jati diri penting dari pengikut Yesus. Pada masa kini, seorang murid dapat berarti seorang siswa sebuah sekolah tertentu. Seperti Frater Bayu adalah mahasiswa University of Santo Tomas, Manila. Namun, di zaman dahulu, terutama dalam tradisi Timur dan Yahudi, menjadi murid memiliki pemahaman yang berbeda. Seorang murid tidak hanya akan menerima ajaran gurunya, tapi benar-benar mengikuti sang guru kemanapun dia akan pergi dan tinggal. Murid tidak hanya akan belajar tentang berbagai ilmu pengetahuan, tetapi juga menyaksikan dan meniru bagaimana sang guru menjalani hidupnya. Mereka berbagi makan yang sama, dan mereka adalah bagian dari sukacita dan pergulatan sang guru. Dengan demikian, menjadi murid tidak hanya tentang pendidikan intelektual, tetapi merupakan formasi holistik. Pada dasarnya sang murid akan menjadi bagian hidup sang guru.

Oleh karena itu, masuk akal bagi kita sekarang, ketika Yesus menuntut agar para murid harus ‘membenci’ keluarga mereka serta kehidupan mereka. Untuk mengikuti Yesus kemanapun dia pergi berarti para murid harus meninggalkan keluarga, kehidupan dan pekerjaan yang mereka memiliki. ‘Membenci’ tidak berarti bahwa mereka membuat permusuhan dengan keluarga mereka, melainkan menjadikan mereka sebagai prioritas sekunder. Yesus adalah keluarga baru mereka, prioritas pertama mereka dan kehidupan nyata mereka sekarang.

Yesus sendiri memberi kita citra pemuridan: mengikuti Dia adalah seperti membawa salib. Untuk menjadi murid Kristus memang sulit dan menuntut radikal re-orientasi hidup kita. Namun, kabar baiknya adalah bahwa untuk menjadi murid Yesus bukanlah hal yang mustahil. Tidak sedikit pria dan wanita muda meninggalkan karir yang menjanjikan, masuk ke biara dan membaktikan diri bagi Tuhan dalam doa. Pria dan wanita awam mempersembahkan diri mereka sebagai misionaris dan dikirim ke penjuru dunia untuk berbagi sukacita Injil. Evangelizasi Filipina 400 tahun lalu hampir tidak mungkin kalau bukan karena imam-imam Spanyol yang bersemangat yang selama berbulan-bulan berlayar, mempertaruhkan nyawa mereka dan banyak yang tidak pernah kembali ke tanah air mereka. Ini adalah saudara dan saudari kita secara nyata meninggalkan segalanya untuk mengikuti Kristus.

Namun, menjadi murid Yesus tidak berarti bahwa kita harus meninggalkan keluarga kita. Mengikuti Kristus dapat terjadi dalam keluarga. Ketika seorang pria dan seorang wanita memutuskan untuk meninggalkan keluarga asal mereka, dan membangun keluarga Kristiani mereka sendiri, maka mereka telah menjadi komunitas para murid Kristus. Ketika orang tua berkomitmen dalam tugas sulit untuk membesarkan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang jujur dan beriman, mereka mengikuti Kristus. Lebih mendasar, menjadi murid Kristus terlihat jelas di dalam sakramen, terutama Ekaristi. Dalam Ekaristi, kita menjadi murid yang mendengarkan ajaran-Nya dan mengambil bagian dalam kehidupan-Nya di hosti suci. Akhirnya, kita diutus untuk memberitakan apa yang telah kita pelajari dan hidupi dalam Ekaristi.

Kita terus berdoa agar kita dapat menjadi murid-Nya sejati dan banyak juga akan terinspirasi untuk mengikuti-Nya dan berbagi kehidupan-Nya.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP