Minggu Biasa ke-12. 25 Juni 2017 [Matius 10: 26-33]
“Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang (Mat 10:27).”
Santo Fransiskus dari Asisi pernah berkata, “Wartakanlah Injil sepanjang waktu. Bila perlu, gunakan kata-kata.” Dia menunjukkan bahwa pewartaan bukan hanya tugas para imam di mimbar, atau pengkhotbah awam dalam pertemuan doa. Pewartaan Injil adalah misi kita semua. Pewartaan bisa terjadi dalam keluarga saat kita menunjukkan kepada anak-anak kita arti kasih sejati, kesetiaan dan hormat. Pewartaan dapat berlangsung di tempat kerja saat kita menjunjung tinggi kejujuran, kerja keras, dan dedikasi. Pewartaan dapat terwujud dalam kehidupan kita sehari-hari saat kita berlaku adil, melayani saudara dan saudari kita yang kekurangan, dan berbuat kebaikan kepada sesama.
Namun, untuk mewartakan Yesus Kristus tidak selalu mudah. Saya sendiri telah terlibat dalam kerasulan Sabda selama beberapa tahun, dan terkadang, saya harus menghadapi saat-saat sulit. Ada yang mengatakan pewartaan saya membosankan, dan juga ada yang bilang terlalu bertele-tele atau susah dimengerti. Ada kalanya orang tidak mendengarkan atau membaca renungan saya. Terkadang, saya merasa lelah, frustrasi dan bosan. Perasaan yang sama juga bisa menimpa kita yang mengalami masalah dalam keluarga, tempat kerja, paroki, atau masyarakat. Sebuah frustrasi saat kita berusaha jujur, tapi yang lain tidak. Sangat melelahkan saat kita tahu bahwa kita satu-satunya yang bekerja keras. Sangat menyakitkan saat kita diserang dari belakang setelah semua pelayanan kita kepada sesama.
Namun, hidup kita sebagai pewarta sebenarnya jauh lebih baik dan lebih aman daripada saudara-saudari kita di tempat lain. Suster-suster St. Catharine of Siena di Irak memilih untuk tinggal meskipun perang dan kekacauan yang terus bekecamuk di negeri itu, dan melayani para pengungsi tanpa diskriminasi. Pada tahun 2003, ketika koalisi pimpinan AS menginvasi Irak, para suster terus membuka rumah sakit di tengah pertempuran sengit dan penjarahan di Baghdad. Pada tahun 2014, ketika IS menguasai kota Mosul, para suster tersebut berjalan bersama dengan para pengungsi, dan terdepan dalam membantu dan mengelola beberapa pusat pengungsian. Bagi beberapa pewarta lain, untuk memberitakan Kristus berarti kekerasan dan kematian. Bulan Mei lalu, Pastor Miguel Angel Machorro berada dalam kondisi kritis setelah ditikam di leher beberapa saat setelah misa di Katedral Kota Meksiko. Pastor Teresito Suganob dan beberapa umatnya yang bekerja di antara umat Islam di Kota Marawi, Filipina, diculik ketika kelompok ekstrimis menduduki kota tersebut. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada mereka sampai saat ini.
Apa yang membuat mereka berani memberitakan Injil meski terus-menerus menghadapi bahaya dalam hidup mereka? Alasannya cukup sederhana. Ini karena mereka sangat mengasihi Tuhan. Seperti yang ditulis oleh penyair Romawi Virgil, kasih ini menaklukkan semua. Kasih mereka melenyapkan rasa takut akan kematian, memberdayakan mereka dalam cobaan, dan mendorong mereka menghadapi frustrasi dan kegagalan. St. Paulus pun berkata, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang… Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. (Rm 8:35-37).” Pewartaan yang benar adalah yang didorong oleh cinta kasih sejati bagi Tuhan dan bukan sekedar mencari kemuliaan bagi diri kita sendiri. Tanpa kasih ini, kita akan mundur saat pewartaan kita nampaknya gagal, atau kita akan menjadi sombong saat pelayanan sukses. Apakah kita memiliki kasih sejati ini bagi Yesus? Apakah pewartaan kita dimotivasi oleh kasih yang sejati? Apakah kita membiarkan kasih Tuhan memenuhi pelayanan kita?
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Eating is essential to our life. Nobody would deny that eating is a matter of life and death, but there is always significant different between a beggar sitting by the gate of St. Domingo church and most of us who can enjoy a full meal three times a day. The beggar will ask himself, “How can I eat today?” While, we will inquire ourselves, “Where am I going to eat today? Is the ambience of the restaurant welcoming? Is the food as tasty as Filipino delicacy? Is the food safe from any cancer-causing substance?” For some, eating is about survival, but for some other, this phenomenon has evolved into something mechanically sophisticated. The society provides us with almost unlimited options of what we are going to eat, and seemingly we are masters of these foods as we possess the authority to choose what we like and shun what we don’t. But, we actually are slowly turning to be slaves of our appetite as we shift our focus not on the essential but on the trivial, like how we satisfy our fickle cravings.
Tidak ada yang menyangkal bahwa makan adalah masalah hidup dan mati, tapi selalu ada perbedaan yang signifikan antara seorang pengemis yang duduk di gerbang gereja dan kebanyakan dari kita yang dapat menikmati makanan lengkap tiga kali sehari. Pengemis itu akan bertanya pada dirinya sendiri, “Bagaimana saya bisa makan hari ini?” Sementara, kita akan bertanya kepada diri sendiri, “Ke mana saya akan makan hari ini? Apakah suasana restoran nyaman? Apakah makanannya lezat sesuai cita rasa Indonsia? Apakah makanannya aman dari zat penyebab kanker?” Bagi sebagian orang, makan adalah tentang kelangsungan hidup, namun untuk beberapa dari kita, fenomena ini telah berkembang menjadi sesuatu rumit. Pasar memberi kita pilihan yang hampir tak terbatas tentang apa yang akan kita makan, dan tampaknya kita adalah raja dari makanan ini karena kita memiliki kekuasaan untuk memilih apa yang kita sukai. Tapi, kita sebenarnya perlahan berubah menjadi budak nafsu makan kita saat kita mengalihkan fokus bukan pada hal yang esensial tapi pada hal-hal sepele seperti bagaimana kita memuaskan hasrat kita yang terus berubah-ubah.
Today, we are celebrating the Mystery of the Most Holy Trinity. This Mystery is rightly called the mystery of all the mysteries because the Holy Trinity is at the core of our Christian faith. Yet, the fundamental truth we believe is not only extremely difficult to understand, but in fact, it goes beyond our natural reasoning. How is it possible that we believe in three distinct Divine Persons, the Father, the Son and the Holy Spirit, and yet they remain One God? Many great minds have tried to explain, but at the face of such immense truth, the best explanations would seem like a drop of water in the infinite ocean. Yet, we believe it precisely because the mystery is not coming from the human mind, but is revealed to us by God Himself.
Hari ini, kita merayakan Misteri Tritunggal Mahakudus. Misteri ini disebut sebagai misteri dari semua misteri karena Tritunggal Mahakudus merupakan inti dari iman Kristiani kita. Namun, kebenaran mendasar yang kita percaya ini tidak hanya sangat sulit untuk dipahami, namun pada kenyataannya, melampaui penalaran alamiah kita. Bagaimana mungkin kita mempercayai tiga Pribadi Ilahi yang berbeda, Bapa, Putra dan Roh Kudus, namun tetap satu Tuhan? Banyak pemikir besar seperti St. Agustinus dan St. Thomas Aquinas telah mencoba menjelaskan, namun saat berhadapan dengan kebenaran yang begitu besar, penjelasan terbaik pun sepertinya setetes air di samudera raya. Namun, kita percaya justru karena misteri itu tidak berasal dari manusia, namun diwahyukan kepada kita oleh Tuhan sendiri.
Mammon in Aramaic, the native language of Jesus, means riches, money or even properties. And nobody can serve both the true God and Mammon. In original Greek, Mathhew chose a stronger word than “to serve” Mammon, but it is to ‘become slave’ of Mammon. A slave is someone who no longer possesses freedom of his or her own; the lives are dependent on their master’s whim. Interesting to note is that the Mammon is not even a living being, and yet, people are freely laying their freedom to be its slave. It is irrational and in fact, unthinkable, but the reality narrates countless stories of people being possessed by riches and do inhuman things.
Mamon dalam bahasa Aram, bahasa asli Yesus, berarti kekayaan, uang atau bahkan properti. Dan tidak ada yang dapat melayani Allah yang benar dan Mamon bersamaan. Dalam bahasa Yunani, Matius memilih kata yang lebih kuat dari “melayani” Mamon, tapi ia mengunakan untuk ‘menjadi budak’ Mamon. Seorang budak adalah seseorang yang tidak lagi memiliki kebebasan dan kehidupannya tergantung pada kemauan tuannya. Menarik untuk dicatat adalah bahwa Mamon itu bukan makhluk hidup, namun, banyak orang mau meletakkan kebebasan mereka untuk menjadi budaknya. Hal ini tidak rasional dan pada kenyataannya, tak terpikirkan, tetapi kenyataannya banyak orang yang memilih kekayaan dan melakukan hal-hal yang tidak manusiawi demi Mamon.
Love is not for the fainthearted. It is difficult to love, even those whom we are supposed to love naturally and easily. At times, we feel regret in having committed ourselves in marriage to someone who turns out to be moody, demanding and no longer attractive. Sometimes, we want to kick out our children who become too stubborn and rebellious. Sometimes, we also think that we enter the wrong Congregation or convent.

Cinta kasih bukanlah untuk orang yang lemah hatinya. Mengasihi itu sulit, bahkan bagi mereka yang seharusnya kita cintai secara alami dan mudah. Kadang-kadang, kita menyesal telah mengikat diri dalam pernikahan dengan seseorang yang moody, banyak tuntutan dan tidak lagi menarik. Kadang-kadang, kita ingin menendang keluar anak-anak yang menjadi keras kepala dan susah diatur. Kadang-kadang, kita, kaum berjubah, juga berpikir bahwa kita telah memasuki Kongregasi atau biara yang salah.
The word ‘Pharisee’ has a rather negative connotation for us. In the Gospels, they are the bad guys. They often argued with Jesus and Jesus challenged their way of life. Even some planned to get rid of Jesus (see Mat 12:14). In our time, the term ‘Pharisaic’ simply means hypocrite.