Minggu ketiga di Masa Biasa. 22 Januari 2017 [Matius 4: 12-23]
“Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali (Mat 4:13).”

Yesus memulai karya-Nya saat Ia pindah ke kota lain di Galilea. Dari kampung halamannya Nazareth ke Kapernaum yang lebih besar dan lebih padat penduduk. Yesus pun melakukan urbanizasi! Nazaret adalah kecil dan sedikit penghuni, sementara Kapernaum adalah salah satu pusat industri perikanan di Danau Galilea. Di kota ini, orang-orang datang, berkumpul, dan berinteraksi satu sama lain. Jika Yesus memulai misi-Nya di Nazaret, mungkin, Ia akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengembangkan misi-Nya. Kapernaum memberi keuntungan penting bagi Yesus. Di kota ini, Yesus lebih mudah untuk mengumpulkan orang-orang, berkhotbah dan menarik pengikut. Sebagai kota pelabuhan, Kapernaum memberikan mobilitas kepada Yesus untuk pergi ke tempat-tempat lain di sekitar Galilea. Dan, Kapernaum juga menyediakan Yesus tempat tinggal dan sumber daya lain untuk karya-Nya. Alasan Yesus untuk bermigrasi adalah hal praktis namun sangat menentukan.
Ketika St. Dominikus memulai ordonya, salah satu hal pertama yang ia lakukan adalah mengirim kelompok saudara-saudaranya yang kecil dan rapuh ke kota-kota universitas besar seperti Paris dan Bologna. Keputusannya dikritik sebagai tindakan yang ceroboh dan berbahaya. Tapi, dia berteguh karena ia percaya, “Biji yang tersimpan akan membusuk!” Dominikus benar-benar mampu berpikir seperti Yesus. Di kota-kota besar inilah, para saudara tidak hanya mampu untuk belajar, tetapi juga untuk berkhotbah dan mengundang orang-orang untuk menjadi bagian dari komunitas. Dominikus pun memberi instruksi yang sangat jelas sebelum ia mengirim saudara-saudaranya: “untuk belajar, berkhotbah dan membangun komunitas.”
Masa kita ditandai dengan mega migrasi. Banyak orang pindah dari satu kota ke kota yang lain, dari satu negara ke negara yang lain, dan dari satu benua ke benua lain dengan kemudahan dan kecepatan. Dan seperti Yesus, kita bermigrasi untuk tujuan praktis dan manusiawi. Kita pergi ke berbagai tempat karena pekerjaan kita, keluarga kita, belajar atau untuk mencapai impian kita. hidup saya sebagai seorang seminaris dan Dominikan juga ditandai dengan gerakan yang konstan. Sejak usia empat belas tahun, saya meninggalkan kota saya Bandung untuk masuk seminari menengah di Magelang. Kemudian, dari Indonesia ke Manila di Filipina. Saat saya adik saya menikah beberapa pekan lalu, saya menyaksikan bahwa dia memutuskan untuk meninggalkan rumah dan pindah bersama istrinya.
Kembali ke Injil hari ini, Matius tidak hanya melihat migrasi Yesus sebagai solusi praktis untuk pelayanan-Nya, tetapi sebagai pemenuhan janji Allah: “orang-orang yang duduk dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.” Ketika Yesus melakukan perjalanan dari satu tempat ke yang lain, Ia membawa cahaya dan mereka dapat melihat Allah yang telah datang. Setelah pindah, Yesus segera memberitakan Kabar Baik dan memanggil Andreas, Petrus, Yakobus dan Yohanes sebagai murid-murid-Nya. Yesus menggunakan hal-hal praktis dan temporal bukan untuk diri-Nya sendiri tetapi untuk misi. Dan Dia setia pada hal ini sampai akhir. Diapun akhirnya menggunakan salib, sebuah sarana praktis penyiksaan dan penghinaan, sebagai sarana untuk menunjukan kasih dan keselamatan Allah.
Misi yang sama telah diberikan kepada kita. Ketika kita bergerak dari satu tempat ke tempat lain, kita membawa juga terang Kristus. Sebagai pasangan yang baru menikah, kita dipanggil untuk mencerahkan keluarga baru kita. Sebagai pekerja, kita bertugas untuk menolak apa yang jahat di tempat kerja. Sebagai orang yang hidup di bumi ini, kita akan bertanggung jawab terhadap ciptaan di tanah kita berdiri. Kita dipanggil untuk mengunakan sarana yang temporal untuk Tuhan bukan sekedar memuaskan diri kita sendiri.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP





Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Gelar ini akhirnya menjadi bagian dari Ekaristi dan kita setia mendaraskan atau menyanyikan ‘Anak Domba Allah’ sebelum kita menerima komuni. Tapi, apa artinya? Mengapa harus anak domba? Bukan orangutan, jerapah atau komodo? Mengapa hewan, bukan tanaman, buah atau ponsel? Untuk membuatnya lebih dimengerti, kita harus kembali ke ritual perjamuan Paskah bangsa Yahudi.

Perayaan liturgi Kristus Raja merupakan perkembangan baru dalam Gereja. Paus Pius XI menetapkan hari raya ini pada tahun 1925 di bulan Oktober. Paus Paulus VI pada tahun 1969 kemudian mendedikasikan hari Minggu terakhir dari Masa Biasa dalam kalender liturgi Gereja bagi Kristus Raja Semesta Alam. Meskipun perayaan ini tergolong baru di Gereja, kebenaran ini sungguh berakar di dalam Kitab Suci.
In many other ancient religions, temple was a sacred place. It is holy because their gods or goddesses chose to make their dwelling place and they may serve and worship their gods there. Thus, many cultic rituals in honor of their gods like animal sacrifices and prayers took place in the temples. The temple became the visible signs of the divine presence among the people. Zeus was felt alive in his temple in Mount Olympus, or the gods of Rome were present in the Pantheon.
Dalam banyak agama-agama kuno, kuil adalah tempat suci. Hal ini karena dewa atau dewi mereka dianggap tinggal di sana dan orang-orang pun bisa melayani dan menyembah dewa-dewa mereka di kuil-kuil ini. Dengan demikian, banyak ritual kultus untuk menghormati dewa-dewa mereka berlangsung di kuil-kuil ini. Kuil ini menjadi tanda yang kasat mata dari kehadiran ilahi di antara manusia. Zeus terasa hidup di kuilnya di Gunung Olympus, atau dewa-dewi Roma terasa hadir di Pantheon.
The month of November is dedicated to honor all the saints in heaven as well as to pray for the souls in the purgatory. It begins with the celebration of All Saints’ Day on November 1 and the commemoration of the All Souls Day on November 2. We, the Dominicans, celebrate the all Dominican Saints on November 7 and pray for the souls of our Dominican family on November 8. This Church’s celebration traces its origin to Pope Boniface IV in the 7th century, yet its roots go deeper into Jesus Christ Himself.
Bulan November didedikasikan sebagai bulan para kudus di surga dan juga bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Bulan ini dimulai dengan Hari Raya Semua Orang Kudus pada tanggal 1 November dan peringatan jiwa-jiwa orang-orang beriman pada 2 November. Kita, keluarga Dominikan, merayakan hari raya semua orang kudus Dominikan pada 7 November dan bagi jiwa-jiwa keluarga Dominikan pada 8 November. Perayaan besar Gereja ini bermula kepada Paus Bonifasius IV di abad ke-7, namun akarnya sebenarnya ada pada Tuhan Yesus Kristus sendiri.
