Minggu ke-6 dalam Masa Biasa. 12 Februari 2017 [Matius 5: 20-37]
“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Mat 5:20)”
Kata ‘Farisi’ memiliki konotasi negatif bagi kita. Dalam Injil, mereka adalah lawan-lawan Yesus. Mereka sering berdebat dengan Yesus dan Yesus mengkritik cara hidup mereka. Bahkan beberapa merencanakan untuk menyingkirkan Yesus (lihat Mat 12:14). Pada zaman sekarang, istilah ‘Farisi’ sering kali diasosiasikan dengan kemunafikan.
Namun, jika kita melihat dari sudut pandang yang lain, orang-orang Farisi tidak seutuhnya jahat. Dalam zaman Yesus, mereka memiliki peran penting, yakni merevolusi masyarakat Yahudi. Apa yang mereka lakukan? Mereka membawa Hukum Taurat, berbagai ritual dan praktek devosi dari Bait Allah di Yerusalem ke komunitas-komunitas dan keluarga-keluarga Yahudi di Israel. Banyak orang-orang Farisi mengelola rumah-rumah ibadat setempat di berbagai penjuru Palestina dan memastikan bahwa orang-orang akan melaksanakan dengan baik Hukum Taurat dan tradisi, seperti Sabat dan ritual pembersihan. Berbeda dengan imam yang bertugas di Bait Allah, orang-orang Farisi adalah orang-orang awam yang mencintai Hukum Taurat di dalam kesederhanaan hidup sehari-hari mereka. Dengan demikian, ketika Bait Allah dihancurkan oleh tentara Romawi pada tahun 70 Masehi, kasta imam juga menghilang, tapi budaya dan agama Yahudi terus hidup karena orang-orang Farisi ini yang adalah orang-orang awam.
Yesus mengkritik mereka bukan karena mereka mencintai Hukum Taurat dan tradisi, tetapi bagaimana mereka ‘menginterpretasi’ Hukum tersebut. Tak diragukan lagi orang-orang Farisi mencintai Hukum Musa, tetapi bahayanya adalah mereka bisa jatuh ke dalam fundamentalisme. Mereka memutlakkan setiap huruf Hukum Taurat dan tradisi, dan melupakan tujuan utama Hukum tersebut: melayani: Allah dan sesama manusia. Untuk menjadi fundamentalis itu mudah karena kita memilih untuk mengikuti huruf-huruf mati yang tertera di Kitab suci. Jauh lebih sulit untuk berdialog dengan Dia yang ada di balik huruf-huruf tersebut dan mereka yang ada di depan huruf-huruf tersebut.
Tanpa disadari, banyak dari kita yang bertindak seperti orang Farisi. Seperti mereka, kita mengasihi Tuhan, Hukum-Nya dan Gereja-Nya, tapi kadang-kadang, kita terlalu sibuk dengan hal-hal sepele. Saya sedih ketika tidak sedikit orang berdebat tentang bagaimana menerima Ekaristi Kudus, berlutut, berdiri, dengan tangan atau langsung ke mulut. Beberapa menuduh misa Karismatik itu sesat. Beberapa lainnya menyatakan bahwa Misa Latin sebagai ultra-konservatif. Saya juga sedih dengan seorang teman dan juga apologis Katolik muda di Filipina yang rajin berdebat di internet, namun tidak melakukan apa-apa untuk membantu ibunya yang sedang sakit. Ya, Kitab Suci dan Liturgi merupakan bagian penting dari iman kita dan juga sarana keselamatan, tetapi jika kita terpecah-belah dan menjadi fundamentalis-fundamentalis kecil, kita melepas tujuan utama iman kita.
Kita lupa untuk mengubah kasih kita kepada Allah dan Gereja-Nya ke dalam kasih bagi orang lain. St. Dominikus de Guzman menjual buku-bukunya yang mahal terbuat dari kulit binatang sehingga ia bisa memberi makan orang-orang miskin, dan berkata, “Apakah kamu mau saya belajar dari ini kulit mati ini ketika kulit hidup mati kelaparan?” Siapa di antara kita yang terlibat memberi makan orang miskin sekitar kita? Siapa di antara kita melakukan sesuatu yang berarti bagi korban ketidakadilan di masyarakat? Siapa di antara kita memiliki kesabaran terhadap saudara dan saudari kita yang bermasalah dalam keluarga atau masyarakat? Ingat bahwa kita dipanggil untuk melampaui kebenaran orang-orang Farisi.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP





Yesus mengatakan bahwa kita adalah garam dunia. Yesus tidak berkata kita ‘seperti’ garam dunia. Keduanya sangat berbeda, seperti ‘saya adalah Bayu’ jauh berbeda dengan ‘saya seperti Bayu.’ Kalimat pertama memberi hubungan esensial antara subjek dan predikat, sedangkan kalimat kedua hanya hubungan kesamaan yang sementara. Yesus pun tahu persis hal ini.
Matthew chapters 5 to 7 are well known as the Jesus’ sermons in the Mount. The section contains classic teachings and parables of Jesus like Beatitudes, the love for one’s enemy and the golden rule. Before Jesus began his sermon, He was sitting down. This gesture actually symbolizes the teaching authority of Jesus. On the Mount, Jesus was the teacher, and as a good teacher, He would expect people to listen attentively to His words. Thus, before Jesus commenced His sermon, He went up to the Mount to separate Himself from the crowd. Jesus knew that being part of the crowd was practically effortless and usually motivated selfishly: to be cured, to be fed and to be entertained. It could turn out to be very superficial, as a mass of people is drawn to one charismatic and powerful leader like Jesus, yet the moment its need is served or its leader is no longer satisfactory, it would be naturally disbanded.
Injil Matius bab 5 sampai 7 dikenal sebagai khotbah Yesus di Bukit. Bagian ini berisi ajaran-ajaran dan perumpamaan Yesus yang sangat terkenal seperti 8 Sabda Bahagia, dan tentang mengasihi musuh kita. Sebelum Yesus memulai ajaran-Nya, Diapun duduk. Posisi ini sebenarnya melambangkan otoritas Yesus untuk mengajar. Di Bukit, Yesus adalah guru, dan sebagai guru yang baik, Dia akan mengharapkan mereka yang datang kepada-Nya untuk mendengarkan-Nya dengan penuh perhatian. Maka, sebelum Yesus memulai ajaran-Nya, Diapun naik ke bukit untuk memisahkan diri dari kerumunan. Yesus tahu bahwa menjadi bagian dari kerumunan adalah sangat mudah dan biasanya terdorong oleh motif-motif egois seperti ingin segera disembuhkan, untuk diberi makan dan dihibur. Alasannya sangat dangkal, mereka menjadi kerumunan karena tertarik dengan pemimpin karismatik seperti Yesus, namun saat kebutuhan mereka terpenuhi atau sang pemimpin tidak lagi memuaskan, kerumunan pun akan secara alami membubarkan diri.
Jesus began His public ministry by moving to another town in Galilee. From his hometown Nazareth to a bigger and more dense Capernaum. It was an ancient urbanization! Nazareth was small and scarcely populated, while Capernaum was one of the fishing centers in the Sea of Galilee. It was where people came, gathered, and interacted with each other. Had Jesus commenced His mission in Nazareth, probably, it would have taken more time to grow. Capernaum gave critical advantages for Jesus. It was easier to gather people, preach and attract followers. As a port city, it eased up Jesus mobility to other places in Galilee. And, Capernaum provided Jesus with shelter and other resources for His preaching. The reason for migrating was practical and yet decisive.




Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Gelar ini akhirnya menjadi bagian dari Ekaristi dan kita setia mendaraskan atau menyanyikan ‘Anak Domba Allah’ sebelum kita menerima komuni. Tapi, apa artinya? Mengapa harus anak domba? Bukan orangutan, jerapah atau komodo? Mengapa hewan, bukan tanaman, buah atau ponsel? Untuk membuatnya lebih dimengerti, kita harus kembali ke ritual perjamuan Paskah bangsa Yahudi.