Minggu ke-14. 9 Juli 2017 [Matius 11:25-30]
“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (Mat 11:29)”
Kuk adalah sebuah alat, biasanya terbuat dari kayu, yang diletakkan di bahu hewan atau orang untuk membawa beban. Di lingkungan pertanian, kuk digunakan untuk menarik bajak untuk membuat alur di tanah sehingga tanah siap untuk penanaman benih. Tapi, kuk bisa digunakan juga untuk menarik gerobak dan mengangkut berbagai barang. Karena fungsi utamanya adalah untuk membawa beban, kuk pun menjadi simbol tanggung jawab, kerja keras, dan kewajiban. Di seminari kami di Manila, pemimpin di antara para frater disebut sebagai “dekano”. Pada awal tahun formasi, kami memilih dekano, dan saat dia memulai mengembang tanggung jawabnya, dia secara seremonial menerima kuk kayu dari dekano yang lama. Kuk itu mengingatkannya akan tanggung jawab dan tugas besar yang harus dia tanggung sepanjang tahun dalam memimpin komunitas para frater.
Dalam Alkitab, kuk sering melambangkan penindasan dan perbudakan. Kuk itu mengingatkan bangsa Israel bagaimana mereka pernah hidup sebagai budak di Mesir. Kuk tersebut diletakkan di atas bahu mereka dan mereka harus membawa bahan-bahan bangunan yang berat, dan bekerja untuk mendirikan bangunan-bangunan besar Mesir. Sampai pada zaman Yesus, kuk sedikit berevolusi dan menjadi lambang dari kewajiban keagamaan yang terkadang sangat memberatkan orang-orang sederhana. Ketika Yesus mengkritik beberapa orang Farisi dan pemimpin agama Yahudi karena menaruh begitu banyak penekanan pada rincian Hukum dan ritual, dan melupakan apa yang hakiki, Yesus menyebut praktik ini sebagai kuk orang Farisi.
Namun, dalam Injil hari ini kita membawa bahwa Yesus meminta kita untuk memanggul kuk-Nya. Kita kemudian bertanya: Apakah itu berarti seperti orang-orang Farisi, Yesus juga menginginkan kita membawa kuk yang berat? Yesus menjelaskan lebih lanjut bahwa kuk-Nya mudah dan beban-Nya ringan. Jadi, kuk Yesus tidak seberat kuk versi Farisi, namun tetap saja sebuah kuk, dan sebuah beban. Lalu bagaimana kita bisa benar-benar mendapatkan istirahat jika kita harus tetap memanggul kuk?
Untuk memahami kuk Yesus, kita perlu mengetahui bahwa di Israel di zaman Yesus, ada berbagai jenis kuk. Ada kuk yang digunakan oleh seekor binatang saja, tapi ada juga kuk yang diangkut oleh dua binatang sekaligus dalam menarik beban. Ketika Yesus berbicara tentang kuk-Nya, Dia berbicara tentang kuk ganda yang dipergunakan oleh dua binatang atau manusia. Saat kita membawa kuk Yesus, ini tidak berarti bahwa Yesus hanya sekedar memindahkan kuk-Nya dari bahu-Nya ke bahu kita untuk dipikul, tapi Yesus ikut memanggul kuk kita. Ini bukanlah pemindahan tanggung jawab, tapi berbagi beban. Dan ketika kita merasa lelah dan letih karena beban berat, kita bisa beristirahat karena Yesus lah yang sekarang membawa beban bagi kita. Tentunya, sebagai seorang tukang kayu yang lihai, Yesus tahu persis bagaimana membuat kuk yang lebih nyaman untuk dipanggul dan memberikan istirahat kepada kita. Inilah kuk Yesus.
Kita membawa kuk hidupan dengan Yesus. Tentunya, ini merupakan penghiburan bagi kita. Kita terbebani oleh begitu banyak masalah dalam hidup dan seringkali terlalu berat untuk ditanggung. Namun, kita tidak pernah sendirian. Yesus menanggung kuk bersama kita. Yesus juga mengutus Gereja-Nya untuk memanggul bersama kuk kehidupan dengan kita. Dan tentunya, keluarga dan sahabat-sahabat kita bersatu dengan kita dalam memanggul kehidupan. Ini memberi kita istirahat pada masa pencobaan. Namun, ketika kehidupan sesama kita menjadi berat, seperti Yesus, kita juga dipanggil untuk mengangkat kuk sesama kita, karena ini adalah hanya satu kuk, kuk Yesus sendiri.
Frater Valentinus Bayuhadi RUseno, Op
, or



When God calls us, God does not only call us privately and individually. In the Bible, God also calls us with our family, our community. God created the first man and woman not only to complete each other, but also to “multiply” or to build a human family. Noah entered the ark together with his wife and children. They were saved as a family from the flood. Abraham and Sarah were called from the land of Ur, and establish their own family and clan in the land of Canaan. When God called Moses to deliver the Israelites from slavery, God also called Aaron and Miriam, Moses’ brother and sister, to assist him in his mission. Finally, the life of Jesus of Nazareth would not be complete without the family of Mary and Joseph of Nazareth.
Ketika Tuhan memanggil kita, Tuhan tidak hanya memanggil kita secara individual. Dalam Alkitab, Tuhan juga memanggil kita dengan keluarga kita dan komunitas kita. Tuhan menciptakan pria dan wanita pertama yang tidak hanya untuk saling melengkapi, tapi juga “berkembang biak” atau membangun keluarga manusia. Nuh masuk ke dalam bahtera bersama istri dan anak-anaknya. Mereka diselamatkan sebagai keluarga dari banjir besar. Abraham dan Sarah dipanggil dari tanah Ur untuk membangun keluarga dan klan mereka sendiri di tanah Kanaan. Ketika Tuhan memanggil Musa untuk membebaskan orang Israel dari perbudakan, Tuhan juga memanggil Harun dan Miriam, saudara laki-laki dan perempuan Musa, untuk membantu dia dalam misinya. Akhirnya, kehidupan Yesus dari Nazaret tidak akan lengkap tanpa keluarga Maria dan Yusuf dari Nazaret.
St. Francis of Assisi once said, “Preach the Gospel all time. When necessary, use words.” He correctly points out that preaching is not only the job of the priests in the pulpit, or lay preachers in the prayer meetings. Preaching the Gospel is the mission of all of us. The preaching can happen in the family, as we show our children the meaning of true love, fidelity and respect. Preaching can take place in our workplaces as we uphold honesty, hard work, and dedication. Preaching may manifest in our daily life as we do justice, service to the needy, and kindness to our neighbors.
Santo Fransiskus dari Asisi pernah berkata, “Wartakanlah Injil sepanjang waktu. Bila perlu, gunakan kata-kata.” Dia menunjukkan bahwa pewartaan bukan hanya tugas para imam di mimbar, atau pengkhotbah awam dalam pertemuan doa. Pewartaan Injil adalah misi kita semua. Pewartaan bisa terjadi dalam keluarga saat kita menunjukkan kepada anak-anak kita arti kasih sejati, kesetiaan dan hormat. Pewartaan dapat berlangsung di tempat kerja saat kita menjunjung tinggi kejujuran, kerja keras, dan dedikasi. Pewartaan dapat terwujud dalam kehidupan kita sehari-hari saat kita berlaku adil, melayani saudara dan saudari kita yang kekurangan, dan berbuat kebaikan kepada sesama.
Eating is essential to our life. Nobody would deny that eating is a matter of life and death, but there is always significant different between a beggar sitting by the gate of St. Domingo church and most of us who can enjoy a full meal three times a day. The beggar will ask himself, “How can I eat today?” While, we will inquire ourselves, “Where am I going to eat today? Is the ambience of the restaurant welcoming? Is the food as tasty as Filipino delicacy? Is the food safe from any cancer-causing substance?” For some, eating is about survival, but for some other, this phenomenon has evolved into something mechanically sophisticated. The society provides us with almost unlimited options of what we are going to eat, and seemingly we are masters of these foods as we possess the authority to choose what we like and shun what we don’t. But, we actually are slowly turning to be slaves of our appetite as we shift our focus not on the essential but on the trivial, like how we satisfy our fickle cravings.
Tidak ada yang menyangkal bahwa makan adalah masalah hidup dan mati, tapi selalu ada perbedaan yang signifikan antara seorang pengemis yang duduk di gerbang gereja dan kebanyakan dari kita yang dapat menikmati makanan lengkap tiga kali sehari. Pengemis itu akan bertanya pada dirinya sendiri, “Bagaimana saya bisa makan hari ini?” Sementara, kita akan bertanya kepada diri sendiri, “Ke mana saya akan makan hari ini? Apakah suasana restoran nyaman? Apakah makanannya lezat sesuai cita rasa Indonsia? Apakah makanannya aman dari zat penyebab kanker?” Bagi sebagian orang, makan adalah tentang kelangsungan hidup, namun untuk beberapa dari kita, fenomena ini telah berkembang menjadi sesuatu rumit. Pasar memberi kita pilihan yang hampir tak terbatas tentang apa yang akan kita makan, dan tampaknya kita adalah raja dari makanan ini karena kita memiliki kekuasaan untuk memilih apa yang kita sukai. Tapi, kita sebenarnya perlahan berubah menjadi budak nafsu makan kita saat kita mengalihkan fokus bukan pada hal yang esensial tapi pada hal-hal sepele seperti bagaimana kita memuaskan hasrat kita yang terus berubah-ubah.
Today, we are celebrating the Mystery of the Most Holy Trinity. This Mystery is rightly called the mystery of all the mysteries because the Holy Trinity is at the core of our Christian faith. Yet, the fundamental truth we believe is not only extremely difficult to understand, but in fact, it goes beyond our natural reasoning. How is it possible that we believe in three distinct Divine Persons, the Father, the Son and the Holy Spirit, and yet they remain One God? Many great minds have tried to explain, but at the face of such immense truth, the best explanations would seem like a drop of water in the infinite ocean. Yet, we believe it precisely because the mystery is not coming from the human mind, but is revealed to us by God Himself.
Hari ini, kita merayakan Misteri Tritunggal Mahakudus. Misteri ini disebut sebagai misteri dari semua misteri karena Tritunggal Mahakudus merupakan inti dari iman Kristiani kita. Namun, kebenaran mendasar yang kita percaya ini tidak hanya sangat sulit untuk dipahami, namun pada kenyataannya, melampaui penalaran alamiah kita. Bagaimana mungkin kita mempercayai tiga Pribadi Ilahi yang berbeda, Bapa, Putra dan Roh Kudus, namun tetap satu Tuhan? Banyak pemikir besar seperti St. Agustinus dan St. Thomas Aquinas telah mencoba menjelaskan, namun saat berhadapan dengan kebenaran yang begitu besar, penjelasan terbaik pun sepertinya setetes air di samudera raya. Namun, kita percaya justru karena misteri itu tidak berasal dari manusia, namun diwahyukan kepada kita oleh Tuhan sendiri.
Mammon in Aramaic, the native language of Jesus, means riches, money or even properties. And nobody can serve both the true God and Mammon. In original Greek, Mathhew chose a stronger word than “to serve” Mammon, but it is to ‘become slave’ of Mammon. A slave is someone who no longer possesses freedom of his or her own; the lives are dependent on their master’s whim. Interesting to note is that the Mammon is not even a living being, and yet, people are freely laying their freedom to be its slave. It is irrational and in fact, unthinkable, but the reality narrates countless stories of people being possessed by riches and do inhuman things.