Minggu ke-22 di Masa Biasa. 3 September 2017 [Matius 16: 21-27]
“Pergilah, Setan!” (Mat 16:23)
Kita mendengar sebuah pertukaran kata-kata yang paling panas dalam Injil, dan ini tidak tanggung-tanggung karena melibatkan Yesus dan Simon Petrus. Sang Rasul menegur Yesus karena telah menyatakan kepada murid-murid bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem, menderita dan dibunuh, tetapi bangkit pada hari ketiga. Sebaliknya, Yesus menegur Petrus dan memanggilnya “Setan”. Mengapa pertengkaran yang hebat ini terjadi antara Yesus, yang adalah Tuhan yang maha pengasih, dan muridnya yang terpuji, Simon yang baru saja dinyatakan sebagai batu karang Gereja?
Sebenarnya apa yang Petrus lakukan adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Petrus mencintai Gurunya dan dia tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi pada Yesus. Sebagai teman, dia siap mencegah Yesus melakukan hal-hal konyol yang akan merugikan-Nya. Sering kali, kita bertindak seperti Petrus. Kita tidak setuju dengan teman baik kita yang ingin membantu anak-anak miskin di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Sebagai orang tua, kita sering menolak permintaan anak-anak kita yang ingin masuk seminari atau biara karena kita melihat masa depan yang lebih cerah bagi mereka. Seorang provinsial Dominikan tidak mengizinkan seorang anggotanya untuk bekerja di PBB karena provinsinya masih sangat membutuhkan tenaga kerja.
Ini adalah tendensi manusiawi Petrus untuk menjaga agar Yesus tetap selamat. Namun, mengapa Yesus perlu dengan keras menegur Petrus dan memanggilnya ‘Setan’? Dalam Alkitab, kata ‘Setan’ atau ‘Satanas’ memiliki beberapa arti. Pemahaman umum yang pertama adalah bahwa Setan adalah kepala roh jahat yang berperang melawan Tuhan dan manusia. Namun, ‘Setan’ juga bisa berarti pria, wanita atau entitas yang bertindak sebagai sang musuh. ‘Setan’ juga memainkan peran sebagai sang penuduh yang ganas. Secara harfiah, Petrus mungkin jatuh di bawah godaan Setan dalam menunda rencana Allah, tapi mungkin juga berarti bahwa Yesus telah menganggap Petrus bertindak seperti ‘Setan’, sang musuh yang menghambat misi Yesus, dan seseorang yang menuduh Yesus melakukan hal bodoh. Dengan mengikuti tendensi manusiawinya, Petrus telah menjadi oposisi terhadap rencana penyelamatan Allah.
Namun, bagaimana kita tahu bahwa kita mulai bertindak sebagai sang musuh dari kehendak Tuhan? Seperti Simon Petrus, kita harus bergumul untuk menemukan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Mungkin, mendorong teman kita untuk bekerja dengan orang miskin adalah keputusan yang tepat. Mungkin, mengizinkan anak-anak kita untuk masuk seminari adalah pilihan terbaik. Mungkin, keputusan provinsial yang akhirnya mengizinkan seorang anggotanya bekerja di PBB adalah lebih baik. Kita tidak tahu dengan pasti, namun, Yesus memberi kita sebuah petunjuk. Ketika kita terlalu banyak bergantung pada kehidupan kita sendiri, dan terobsesi untuk memperoleh dunia hanya untuk diri kita sendiri, kita harus tahu bahwa kita telah menjadi ‘Setan’ terhadap cinta kasih Allah yang menyapa setiap manusia.
Ignatius dari Loyola dan Fransiskus Xavier adalah bagian dari Yesuit pertama. Keduanya berteman dekat sejak mereka bertemu di Paris saat mereka berbagi kamar, meja dan buku yang sama. Sebagai jenderal Serikat Yesus, Ignatius memiliki wewenang untuk menugaskan teman di tempat-tempat yang tidak jauh darinya, namun hal ini berarti membatasi panggilan Fransiskus untuk mengasihi. Ignatius akhirnya mengirim Fransiskus sebagai misionaris, dan mengizinkannya menyebarkan iman dan memperluas kasihnya kepada orang-orang di Timur. Fransiskus Xavier akan selalu diingat sebagai salah satu misionaris terbesar di Gereja. Pada saat kita menyangkal diri kita sendiri, keinginan egois kita, dan membawa salib kasih, kita dapat mengikuti Yesus sebagai murid-murid-Nya dan bukan musuh-Nya.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Today’s Gospel is well known as the Confession of Peter. Jesus asks the disciples who He is, and Simon confesses that Jesus is the Christ, the Son of the living God. He gets it right, and Jesus Himself reveals that his answer does not come from his human weakness, but from the heavenly Father. I used to think that this revelation is an instant inception of divine idea inside Simon’s mind. Right there and then, like Archimedes who discovered the Law of Hydrostatic, Simon also shouts “Eureka! I have found it!”
Yesus bertanya kepada murid-murid siapakah Dia, dan Simon menjawab bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup. Simon Petrus menjawab dengan benar, dan Yesus sendiri mengungkapkan bahwa jawabannya tidak berasal dari kelemahan manusiawi, namun dari Bapa di surga. Dulu saya berpikir bahwa pewahyuan ini terjadi secara instan di dalam pikiran Simon. Seperti Archimedes yang menemukan Hukum Hidrostatis, Simon juga berteriak “Eureka! Aku telah menemukannya!”
Why does Jesus, the compassionate man and just God, have to “humiliate” the Canaanite woman? If we put ourselves in the context of Jesus’ time and culture, we will understand that what Jesus does is just expected of him. Jesus is dealing with a woman of gentile origin. Generally, Jews avoid contacts with the non-Jews, and a Jewish man does not engage in dialogue with a woman who is not his wife or family in public. Jesus does what every Jewish man has to do. However, in the end, Jesus praises the woman’s faith and heals her daughter. Eventually, mercy overcomes differences and love conquers all.


Ocean is a gift to humanity. For many of us, ocean means a great variety of seafood, a place to spend our vacation. When we imagine a vast sea with beautiful beach, we are ready to enjoy swimming, snorkeling or diving. However, for millions of fishermen and seafarers, sea simply means life as they depend their lives and their families on the generosity of the sea, the resources it offers, and the works it generates. Unfortunately, the sea is not always merciful. The sea is home to powerful storms and with its giant waves that can even engulf the biggest of ships. With the effects of global warming, massive sea pollution and destructive ways of fishing, it is getting hard to get a good catch. Novelist Ernest Hemingway in his book “The Old Man and the Sea” narrates a life of fisherman who after risking his life to catch a giant fish, brings home nothing but a fishbone as his catch was consumed by other fishes. Majority of fishermen who continue struggling with lingering debt and difficulty to get fuel for their boats, become poorer by the day. These make fishermen and seafarers a perilous profession.
Laut adalah anugerah bagi umat manusia. Bagi banyak dari kita, laut berarti berbagai macam seafood, dan tempat untuk menikmati liburan. Bila kita membayangkan lautan luas dengan pantai yang indah, kita siap untuk berenang, snorkeling atau menyelam. Namun, ini jauh berbeda bagi jutaan nelayan dan pelaut. Laut berarti kehidupan karena mereka menggantungkan hidup mereka dan keluarga mereka pada laut, baik sumber daya yang dimiliki dan perkerjaan yang dihasilkan. Sayangnya, laut tidak selalu berarti kehidupan. Laut adalah tempat bagi badai-badai dahsyat dan gelombang-gelombang raksasa yang bahkan bisa menelan kapal-kapal terbesar yang pernah dibangun manusia. Dengan efek pemanasan global, polusi laut yang masif dan cara-cara penangkapan ikan yang merusak alam, sekarang semakin sulit bagi nelayan sederhana untuk mendapatkan tangkapan yang baik. Penulis Ernest Hemingway dalam bukunya “The Old Man and the Sea” menceritakan tentang kehidupan nelayan tua yang setelah mempertaruhkan nyawanya untuk menangkap ikan raksasa, tidak membawa pulang apapun kecuali tulang ikan karena tangkapannya dihabisi oleh ikan-ikan lain. Mayoritas para nelayan terus berjuang dengan hutang dan sulitnya mendapatkan bahan bakar untuk perahu mereka. Merekapun menjadi semakin miskin dari hari ke hari. Hal ini membuat nelayan dan pelaut adalah profesi yang berbahaya.
This Sunday, the Church is celebrating the feast of Transfiguration. The word ‘transfiguration’ comes from Matthew who writes Jesus transfigures before the three disciples, Peter, James and John, his face shines like the sun and his clothes become white as light (17:2). The word “transfigure” is the direct transliteration of the Latin Vulgate Bible “transfigurare”. It is a combination of two words “trans” meaning to across, and “figura” meaning figure. Thus, transfiguration literally means the change of figure. It is a fitting word to describe what happens to Jesus.
Minggu ini, Gereja merayakan Pesta Yesus yang menampakkan kemulian-Nya yang juga dikenal sebagai Transfigurasi. Kata “transfigurasi” adalah transliterasi dari kata Latin “transfigurare” yang digunakan oleh Alkitab Latin Vulgata. Ini adalah kombinasi dua kata “trans” yang berarti melintasi, dan “figura” yang berarti bentuk atau figur. Dengan demikian, transfigurasi secara harfiah berarti bahwa perubahan bentuk atau figur. Ini adalah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi pada Yesus di Gunung tinggi.
From today’s parables, we learn that Jesus appreciates human labor, the use of technology, and economic activities. The parables speak of men buying and selling land, merchants making transactions, and fisher folk catching and selecting the fish. Yet, the appreciation comes with a particular condition: the activities have to be honest and just.