Perintah Baru: Agape

Minggu Paskah ke-5 [19 Mei 2019] Yohanes 13: 31-33a, 34-35

love new commandmentPada Perjamuan Terakhir, setelah Yesus membasuh kaki para murid, Dia memberi mereka perintah baru: “Kasihanilah satu sama lain seperti Aku telah mengasihi kamu”. Namun, mengapa Yesus perlu memberi kita perintah baru?

Untuk memahami apa yang Yesus lakukan dalam Perjamuan Terakhir, kita perlu kembali ke Perjanjian Lama, khususnya ketika Tuhan Allah memberikan Hukum-Nya. Setelah Tuhan Allah membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, Dia membuat perjanjian dengan mereka melalui perantaraan Musa. Mereka akan menjadi umat Tuhan dan Tuhan Allah akan menjadi Tuhan mereka. Ini adalah langkah mendasar dalam kehidupan Israel karena Allah membentuk mereka sebagai Umat-Nya. Ini adalah hak istimewa dan rahmat yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi dengan hak istimewa yang besar ini diikuti oleh tanggung jawab besar. Tuhan ingin mereka hidup sebagai Umat Allah dan bukan sebagai bangsa lain yang mengelilingi mereka. Jadi, Tuhan memberi mereka Hukum yang akan memisahkan mereka dari orang-orang lain yang menyembah dewa-dewa palsu, dan yang paling mendasar di antara hukum-hukum ini adalah Sepuluh Perintah Allah. Jika mereka dengan keras kepala gagal mematuhi Hukum Allah dan hidup seolah-olah seperti bangsa-bangsa lain, mereka akan disingkirkan dari Umat Allah.

Pada Perjamuan Terakhir, Yesus melakukan hal yang sama seperti Bapa-Nya di padang gurun. Dia membentuk murid-murid-Nya, keluarga-Nya, Gereja-Nya dengan memberi mereka Hukum Baru, Hukum Kasih. Hanya ketika para murid mematuhi Hukum Baru, mereka akan berbeda dari bangsa-bangsa lain, dan mereka dapat menyebut diri mereka sebagai pengikut Yesus. Pada awalnya, kita dapat merasakan bahwa hukum baru Yesus lebih mudah dilakukan daripada Sepuluh Perintah Allah. Namun, ketika kita masuk lebih dalam ke makna kasih yang dipahami oleh Yesus, kita mulai menyadari bahwa Hukum Yesus jauh lebih sulit untuk dilakukan. Mengapa?

Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, ada beberapa kata untuk kasih. “Eros” adalah kasih antara suami dan istri. “Philia” adalah kasih di antara teman-teman. Tidak satu pun dari kedua kata ini yang digunakan untuk menggambarkan kasih-Nya. Itu adalah “agape”. Sementara eros dan philia adalah cinta berdasarkan perasaan, agape adalah cinta yang berakar pada kehendak bebas. Itu adalah kasih tindakan. Itulah sebabnya Yesus dapat mengajar kita untuk mengasihi musuh kita. Yesus tidak mengatakan kita harus menyukai musuh kita karena itu secara alami tidak mungkin, tetapi kita masih bisa berbuat baik kepada musuh kita meskipun ada kebencian dan kemarahan.

Tetapi agape ini bukan sembarang agape. Bagi-Nya, tidak ada kasih/agape yang lebih besar daripada seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Agape Yesus adalah pengorbanan. Itu adalah salib Yesus dan juga kemuliaan-Nya. Hanya ketika kita mengasihi sampai pada titik pengorbanan, kita dapat mengatakan bahwa kita telah mematuhi perintah Yesus.

Muelmar “Toto” Magallanes adalah seorang pemuda Filipina yang bekerja sebagai pekerja konstruksi. Pada 2009, badai tropis Ondoy yang dahsyat menghantam Metro Manila dan menyebabkan banjir di banyak daerah. Ketika daerahnya dilanda banjir, Toto pertama-tama membawa keluarganya ke tempat aman. Namun, dia tidak berhenti di situ. Dia memutuskan untuk menyelamatkan orang lain yang masih terjebak. Menantang arus kuat, dia menyelamatkan lebih dari 30 orang. Dia sudah kelelahan ketika menyadari seorang ibu dan bayinya masih dalam bahaya. Dia melakukan upaya penyelamatan terakhirnya dan membawa ibu dan bayinya ke tempat yang lebih tinggi. Namun, kehilangan kekuatannya, ia tersapu oleh arus. Dia ditemukan tak bernyawa pada hari berikutnya. “Dia memberikan hidupnya untuk bayiku,” Menchie Penalosa, ibu yang bayinya diselamatkan, mengatakan kepada Agence France-Presse. “Aku tidak akan pernah melupakan pengorbanannya.”

Ini adalah perintah baru Yesus dan hanya dengan mematuhi Perintah-Nya, kita dapat menjadi murid-murid-Nya yang otentik.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mendengar Suara-Nya

Minggu Paskah keempat [12 Mei 2019] Yoh 10: 27-30

“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, (Yoh 10:27)”

jesus shepherd 2Ketika Yesus berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku.” Saya pikir itu agak berlebihan. Kita tahu domba-domba adalah hewan yang tidak secerdas anjing Golden Retriever atau Labrador yang bisa mendengarkan instruksi dari pemiliknya. Namun, suatu kali, saya menonton video di YouTube tentang sekelompok wisatawan yang mengunjungi bukit luas di pedesaan Yudea di mana kawanan domba sedang merumput. Mereka diminta untuk menarik perhatian domba. Satu demi satu, para wisatawan berteriak dengan lantang, tetapi mereka tidak mendapat tanggapan sedikit pun. Namun, ketika sang gembala maju dan memanggil mereka, semua domba yang tercerai-berai segera bergegas menuju gembala itu dan mengerumuni dia! Sungguh menakjubkan! Yesus sungguh benar. Domba-domba sungguh mendengar suara gembala-Nya.

Domba-domba di Yudea dibesarkan untuk wol dan sebagai hewan korban. Khususnya untuk jenis domba-domba yang diperuntukkan bagi produksi wol, mereka akan hidup bersama-sama dengan sang gembala selama bertahun-tahun. Tidak heran jika sang gembala mengenal dengan baik setiap domba, karakternya, dan bahkan fitur fisiknya yang unik. Dia akan memanggil mereka dengan nama seperti ‘si kaki kecil’ atau ‘si telinga besar.’ Dan kawanan domba pun mengenal suara sang gembala.

Berbeda dengan domba, pria dan wanita modern, terutama kaum Millennial, adalah makhluk yang sangat visual. Berkat smartphone, TV, dan komputer, rentang perhatian kita menjadi lebih pendek setiap harinya. Seorang ilmuwan bahkan mengatakan bahwa rentang perhatian kita satu detik lebih pendek daripada ikan mas! Para guru atau pembicara harus menggunakan semua alat bantu visual untuk menarik perhatian pendengar muda. Presentasi PowerPoint adalah persyaratan minimum saat ini, dan para guru perlu menggerakkan semua bagian tubuh mereka, membuat lelucon, bernyanyi, menari, bahkan jungkir balik! Hanya mendengarkan pembicaraan biasa itu membosankan, dan membaca teks yang panjang dan panjang seperti refleksi ini boring. Ini juga salah satu alasan mengapa kaum muda meninggalkan Gereja karena mereka mengalami Gereja, terutama para pengkhotbahnya, membosankan dan kering. Setelah lima menit mendengarkan homili, kita mulai gelisah, memeriksa jam tangan, mengaruk-garuk kepala, dan akhirnya tertidur!

Namun, indera pendengaran tetap mendasar karena pendengaran adalah kunci untuk mengikuti Yesus. Kita menyebut diri kita sendiri, Kristiani, artinya pengikut Kristus, dan bagaimana kita dapat mengikuti Kristus jika kita tidak mengenali suara-Nya? Sementara indera penglihatan menarik kita, indera pendengaran tetap menjadi tanda keintiman dan kasih. Seperti seekor domba yang mengidentifikasi suara gembala karena gembala menjaganya, kitapun mengenali suara seseorang yang kita cintai. Saya telah mendengar suara ibu saya sejak saya di dalam rahimnya, dan bahkan ketika saya menutup mata, saya masih bisa mengenali suaranya dari jauh. Saya bahkan dapat mengidentifikasi apakah dia bahagia, sedih, atau marah ketika dia memanggil nama saya.

Suatu kali, seorang pemuda bertanya kepada saya, “Frater, bagaimana kita tahu kehendak Tuhan?” Saya menjawab, “Apakah kamu mendengar suara-Nya?” Dia segera berkata, “Saya banyak berdoa, tetapi saya tidak pernah mendengar suara.” Saya berkata dalam jawab, “Ah, bagaimana kamu akan mendengar suara-Nya jika kamu yang berbicara sepanjang waktu? Dan bagaimana kamu akan mengetahui suara-Nya, jika kamu jarang memberikan waktumu bersama-Nya?” Mengikuti Yesus berarti bahwa kita dapat mendengar Yesus, dan untuk mengenali suara-Nya, kita perlu memiliki hubungan yang penuh kasih dan kuat dengan-Nya.

 Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ikan dan Roti

Minggu Paskah ketiga [5 Mei 2019] Yohanes 21: 1-19

ichthus

Jika kita mengamati bacaan-bacaan Injil pada hari-hari terakhir, kita perhatikan bahwa kebanyakan dari mereka berbicara tentang penampakan Kristus yang bangkit kepada murid-murid-Nya. Salah satu fitur yang sederhana namun menarik dalam cerita-cerita ini adalah adanya makanan.

Kepada dua murid yang berjalan ke Emaus, Yesus diundang untuk makan malam. Bagi mereka, Yesus mengambil roti, mengucapkan berkat, memecahnya, dan memberikannya, dan Dia menghilang. Kedua murid itu segera menyadari bahwa Dia adalah Yesus [Luk 24:30]. Ketika Yesus menampakkan diri kepada sebelas rasul dan murid-murid lainnya, mereka ketakutan. Untuk menghilangkan keraguan mereka tentang kebangkitan-Nya, Yesus menunjukkan tubuh-Nya dan memakan ikan yang diberikan kepada-Nya [Luk 24:42]. Dan dalam Injil hari ini, Yesus mengundang ketujuh murid-Nya untuk sarapan di tepi Danau Tiberias. Setelah mujizat penangkapan ikan, Yesus menyiapkan roti dan ikan untuk para murid yang tidak lagi bingung dengan penampakan Guru mereka [Yoh 21:13].

Kita mungkin bertanya, “Mengapa roti dan ikan?” Ini adalah makanan sederhana yang sering tersedia di rumah tangga Yahudi. Namun, melihat lebih dalam, roti dan ikan memiliki makna yang dalam. Roti dan ikan adalah simbol awal Kristus dan Gereja. Roti, khususnya pemecahan roti, adalah nama teknis Alkitabiah untuk Ekaristi. Dalam Kisah Para Rasul, jemaat pertama berkumpul di sekitar para rasul untuk pengajaran dan pemecahan roti [Kis 2:42]. Pada hari Minggu, Paulus memimpin komunitas di Troas dalam ibadat, dan ia berkhotbah dan memecahkan roti [Kis 20:7]. Ikan, dalam bahasa Yunani, adalah “Ichthus” dan itu singkatan dari “Iesous Christos Theos Hyios Soter”, yang berarti Yesus Kristus, Allah Putra [dan] Juruselamat. Simbol ikan tersebar di katakombe Roma sebagai tanda pertemuan jemaat pada masa penganiayaan.

Pertanyaannya: mengapa Tuhan yang bangkit meminta makanan dan mengundang para murid untuk makan? Pertama, makan makanan adalah salah satu kegiatan paling dasar manusia. Itu menunjuk pada fungsi biologis kita yang menopang kehidupan dan pertumbuhan tubuh kita. Tubuh tanpa roh maupun roh tanpa tubuh tidak mengkonsumsi makanan. Yesus menunjukkan kepada para murid-Nya bahwa kebangkitan-Nya bukanlah masalah pencerahan spiritual, tetapi benar-benar suatu realitas jasmani. Murid-muridnya tidak melihat roh mengambang di udara, juga tidak hanya percaya bahwa Guru mereka hidup di dalam hati mereka. Makam itu kosong karena Yesus, termasuk tubuh-Nya, telah bangkit.

Kedua, makan bersama tidak hanya memuaskan perut kita, tetapi juga membuat kita lebih dekat dengan satu sama lain. Sementara kita menikmati makanan, kita juga berbagi pikiran dan hati kita. Makan bersama membangun tidak hanya tubuh, tetapi juga dialog dan komunitas. Salah satu kegiatan favorit saya di biara adalah waktu makan, bukan karena saya senang makan, tetapi kami bisa berbagi banyak cerita dan pendapat. Kami berbicara tentang apa pun, dari film terbaru, Avenger Endgame, masalah politik saat ini, hingga diskusi teologis tentang St Thomas Aquinas. Kami juga menceritakan kegembiraan, keprihatinan, dan kekhawatiran kami dalam pelayanan dan masa depan kami sebagai sebuah komunitas. Makanan sederhana menjadi ikatan persaudaraan.

Dengan realitas sederhana yakni makan bersama, Yesus membangun komunitas-Nya. Dalam perjamuan bersama, Dia menceritakan kembali kisah-kisah-Nya tentang penderitaan yang menyakitkan dan kematian yang memalukan, dan menggali maknanya yang mendalam terutama sebagai penggenapan dari Kitab Suci. Peristiwa kematiannya dulunya adalah sebuah absurditas dan kehilangan harapan, tetapi di meja makan, Tuhan yang bangkit memulihkan iman, harapan dan cinta yang menjadi redup.

Yesus memberikan kita Ekaristi, memecahkan roti, perjamuan kudus. Seperti para murid pertama, di sinilah kita menemukan Tuhan yang bangkit yang membagikan tubuh-Nya sebagai makanan rohani, dan Firman-Nya sebagai makna hidup kita. Dalam Ekaristi, kita diyakinkan bahwa yang terburuk di dunia ini tidak memiliki suara terakhir, dan makna dan pengertian mengalahkan kegelapan dan keputusasaan.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ketakutan dan Pengampunan

Minggu Paskah Kedua [28 April 2019] Yohanes 20: 19-31

risen christ n thomasHari ini adalah Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Dari Injil, Yesus membentuk sakramen rekonsiliasi saat Ia menganugerahkan Roh Kudus-Nya kepada para Murid. Dia memberi mereka otoritas ilahi untuk mengampuni (dan tidak mengampuni) dosa dan mengutus mereka sebagai pekerja Kerahiman. Meskipun benar bahwa hanya imam yang dapat melayani sakramen pengakuan dosa, setiap murid Kristus dipanggil untuk menjadi pekerja Kerahiman dan pengampunan. Namun, bagaimana kita akan menjadi pembawa Kerahiman dan Pengampunan? Kita perlu memahami dulu dinamika antara rasa takut dan kedamaian.

Rasa takut adalah salah satu emosi paling mendasar manusia. Itu membuat kita lari dari bahaya yang akan datang dan biasanya, hal ini baik dan perlu untuk kelangsungan hidup kita. Namun, yang unik dengan kita manusia adalah bahwa objek rasa takut bukan hanya bahaya benda nyata secara fisik seperti gempa bumi, api, atau binatang berbisa, tetapi meluas ke penilaian moral. Ketika kita melakukan kesalahan, kita takut akan penghakiman serta konsekuensinya. Dan seringkali terlalu takut pada penghakiman dan hukuman, kita melarikan diri dan bersembunyi. Sejatinya, kisah ketakutan adalah kisah primordial kita. Kita mengingat orang tua pertama kita, Adam dan Hawa. Setelah mereka melanggar Hukum Allah, mereka menyadari bahwa mereka telah sangat berdosa terhadap Tuhan, dan takut akan hukuman Tuhan, mereka bersembunyi. Kita menjumpai juga bahwa murid-murid Yesus sendiri takut dan bersembunyi seperti halnya Adam dan Hawa.

Para murid mengunci diri di dalam ruangan karena mereka takut. Namun, ketakutan yang sebenarnya bukan dari otoritas Yahudi atau pasukan Romawi, tetapi dari penghakiman Yesus. Kita ingat bahwa Yudas menyerahkan Yesus kepada otoritas Yahudi, Petrus, sang pemimpin, menyangkal Yesus tiga kali, dan sebagian besar murid melarikan diri. Bahkan sebelum saat-saat genting Yesus, mereka telah meninggalkan Sang Guru dan Mesias mereka. Di pengadilan militer, seorang prajurit yang meninggalkan tentaranya, terutama saat pertempuran, dianggap sebagai pengkhianat tidak hanya bagi tentara, tetapi juga bagi seluruh bangsa, dan ia layak menerima hukuman mati. Para murid bersembunyi karena takut bahwa Yesus akan membawa hukuman berat-Nya, dan membalas mereka. Para murid takut bahwa Yesus akan datang kapan saja, mengutuk mereka, dan melemparkan bola api ke atas mereka.

Sungguh, Yesus datang kepada mereka, tetapi ia tidak membawa penghukuman tetapi karunia damai, “Shalom”. Kedamaian ini hanya terjadi karena pengampunan. Namun, kedamaian ini tidak terlahir dari absennya penghakiman, tetapi justru dari penghakiman yang diambil Yesus. Hanya saat para murid mengenali dan mengakui kesalahan mereka yang mengerikan, mereka akan menghargai pengampunan dan kerahiman Yesus. Tanpa penghakiman, kedamaian hanya akan menjadi fatamorgana, dan ketakutan masih berkuasa.

Untuk menjadi pekerja Kerahiman, pertama-tama kita berani mengucapkan penghakiman. Jika kita berpura-pura dosa tidak pernah terjadi, dan terus mengatakan pada diri kita sendiri bahwa semuanya baik-baik saja, kita menipu diri kita sendiri dan tidak pernah menerima rasa damai yang sesungguhnya. Seperti halnya dokter yang tidak dapat menyembuhkan pasien kecuali ada diagnosis yang benar, kita tidak dapat benar-benar memaafkan kecuali ada penghakiman yang benar.

Baru minggu lalu, beberapa pelaku bom bunuh diri meledakkan diri di beberapa gereja di Sri Lanka dan membunuh ratusan jemaat. Seorang suster, yang kehilangan beberapa anggota komunitasnya dalam ledakan itu, menulis surat terbuka kepada para pelaku. Dengan berani dia menyatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah tindakan terorisme, kejahatan yang tak berprikemanusiaan. Namun, dia mengingatkan mereka bahwa umat Katolik tidak akan takut karena kita tahu bagaimana cara mengampuni. Dia mengatakan bahwa Gereja Katolik tetap menjadi Gereja dengan pintu terbuka karena kita tidak takut untuk menyambut semua orang termasuk mereka yang mencoba menghancurkan Gereja.

Tidak ada kedamaian tanpa pengampunan, dan tidak ada pengampunan dan belas kasihan tanpa yang benar.

 Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Maria Magdalena dan Kebangkitan

Minggu Paskah [21 April 2019] Yohanes 20: 1-9

mary magdalene at tombMaria Magdalena adalah seorang murid perempuan yang sangat mencintai gurunya, dan sebagai seorang wanita, ada sesuatu yang dia ajarkan kepada kita. Lukas mengatakan dalam Injilnya bahwa Maria adalah sebagai seorang wanita “yang darinya tujuh setan keluar” [lihat Luk 8:2]. Pastinya merupakan pengalaman yang mengerikan untuk disiksa oleh tujuh setan, dan ketika Yesus menyembuhkannya, ia mengungkapkan rasa terima kasihnya yang mendalam dengan mengikuti Yesus. Sebagai salah satu murid Yesus, ia terbukti paling setia kepada gurunya. Ketika banyak pengikut Yesus melarikan diri untuk menyelamatkan hidup mereka, dan bahkan Petrus, tokoh utama dalam kelompok itu, menyangkal Yesus, Maria mengikuti Yesus dalam jalan Salib-Nya sampai akhir. Dia menerima penghinaan yang Yesus terima, dia menanggung malu yang Yesus tanggung. Bahkan, dia berdiri di samping salib bersama dengan ibu Yesus dan Yohanes yang terkasih.

Namun, cinta Maria bahkan lebih besar daripada kematian. Dia adalah orang pertama yang mengunjungi makam Yesus pagi-pagi buta. Kita ingat bahwa setelah Yesus mati di kayu salib, tubuhnya dengan tergesa-gesa dibawa ke makam oleh Nikodemus dan Joseph Arimathea karena hari Sabat semakin dekat. Selama hari Sabat, orang Yahudi tidak diizinkan untuk menguburkan orang mati. Maria tahu bahwa tubuh Yesus tidak dirawat dengan baik, dan dia ingin memastikan bahwa Yesus mendapatkan penguburan yang layak. Dia datang ke makam untuk mengekspresikan cintanya yang terakhir kalinya bagi sang Guru. Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Maria hanya melihat makam kosong. Ketakutan luar biasa merasuki dirinya. Dia mungkin berpikir bahwa beberapa pria jahat mencuri dan menodai tubuh sang Guru. Secara naluriah, dia berlari kepada para pemimpin Gereja setelah Yesus sendiri, Petrus dan Yohanes.

Setelah memeriksa makam, Petrus gagal untuk mengerti apa yang terjadi, dan dia kembali ke rumah. Maria juga tidak mengerti dan menangisi kehilangan cintanya, tetapi ada perbedaan yang signifikan, tidak seperti Petrus, Maria tidak meninggalkan makam. Dalam kebingungan dan ketidakberartian, Maria tidak meninggalkan Yesus. Sungguh, Juruselamat tidak mengecewakan dan memberi Maria Magdalena hak istimewa untuk menyaksikan Yesus yang telah bangkit. Cinta dan kesetiaannya yang luar biasa menuntunnya ke sukacita Kebangkitan. Dia pun menjadi pewarta pertama akan Yesus yang bangkit.

Dalam Injil, seringkali murid perempuan digambarkan sebagai model cinta kasih, kesetiaan dan ketekunan. Tuhan menciptakan pria dan wanita setara dalam martabat, tetapi mereka berbeda dalam karakter. Memang, pria seperti Petrus, adalah figur otoritas, tetapi wanita unggul dalam apa yang sering kurang pada murid pria. Saya telah mengunjungi banyak tempat, komunitas dan gereja di Indonesia dan Filipina, dan satu hal yang sama dari tempat-tempat ini, adalah bahwa wanita sering kali lebih banyak jumlahnya dari kaum pria. Saya baru saja ditugaskan di Paroki Redemptor Mundi, Surabaya, Indonesia, dan pandangan sederhana akan membuktikan bahwa lebih banyak wanita menghadiri misa pagi harian kami.

Maria Magdalena, seorang murid perempuan, menunjukkan kepada kita bahwa adalah mungkin untuk mencintai dan setia ketika segala sesuatu menjadi sulit, ketika hidup melempari kita segala permasalahan, dan ketika kebingungan dan ketidakberartian tampaknya berkuasa. Maria Magdalena adalah wanita-wanita yang terus-menerus berdoa untuk para imam meskipun begitu banyak kegagalan yang mereka buat. Maria adalah para ibu yang berkorban setiap harinya untuk anak-anak mereka meskipun tidak dihargai. Maria adalah para suster religius yang melayani orang miskin dengan penuh komitmen meskipun ada banyak jalan terjal dan gosip tidak sedap yang harus dihadapi. Kita harus berterima kasih banyak kepada Maria Magdalena di sekitar kita. Mereka menunjukkan kepada kita bahwa di sana kasih benar-benar mengalahkan maut, dan bahwa ada kebangkitan bahkan di kubur kosong yang tidak masuk akal.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Memori Kita

Hari Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan [14 April 2019] Lukas 19: 28-40 / Lukas 23: 1-49

jesus enter jerusalem 2Salah satu karunia terbesar bagi umat manusia adalah memori. Ini memberi kesadaran akan identitas kita. Biologi mengajarkan kita bahwa hampir semua bagian tubuh kita akan tergantikan saat kita hidup. Stephen yang berusia satu tahun secara biologis berbeda dari Stephen yang berusia tiga puluh tahun. Semua sel tubuhnya telah digantikan dan akan terus digantikan sampai ia wafat. Apa yang menyatukan Stephen yang berusia tiga puluh tahun dengan dirinya yang lebih muda serta diri di masa depannya adalah ingatannya.

Memori tidak hanya memungkinkan kita terhubung dengan diri kita sendiri, tetapi juga menghubungkan kita dengan orang lain. Kita dapat mengenali orang tua, saudara, dan teman-teman kita karena kita mengingat semua hal baik yang kita terima dari mereka. Ingatan kita membentuk siapa kita. Jadi, penyakit yang merusak ingatan kita seperti Alzheimer, adalah salah satu yang paling kejam. Orang-orang dengan Alzheimer secara bertahap tidak lagi dapat mengingat orang-orang yang mencintai mereka, dan bahkan mereka tidak dapat mengingat melakukan fungsi dasar mereka seperti makan dan pergi ke kamar kecil.

Salah satu keunikan manusia adalah bahwa kita tidak hanya memiliki ingatan individu, tetapi kita memiliki ingatan bersama. Ingatan bersama ini diturunkan dari generasi ke generasi, dan ini membentuk identitas kelompok. Kita adalah orang Indonesia, Filipina, India, Amerika, atau bangsa lain karena kita memiliki memori bersama yang menyatukan kita sebagai suatu bangsa. Ketika suatu bangsa dipengaruhi oleh jenis “alzhaimer” yang menghancurkan ingatan bersama mereka, mereka mulai kehilangan identitas mereka sebagai suatu bangsa. Kardinal Robert Sarah dari Guinea mengingatkan bahwa Eropa sedang dalam krisis dan dalam bahaya pembubaran. Dia berpendapat bahwa alasannya adalah bahwa orang-orang Eropa mulai melupakan akar sejarah dan budaya mereka, memori bersama mereka.

Kita umat Kristiani berbagi memori inti dan fundamental yang sama. Minggu Palma atau Yesus yang memasuki kota Yerusalem menandai dimulainya drama Injil yang paling penting, drama Pekan Suci. Memori ini begitu penting bagi pengikut Yesus perdana sehingga episode ini direkam dalam keempat Injil dengan sangat rinci (Mat 21: 1-11, Markus 11: 1-11, dan Yohanes 12: 12-19), meskipun dengan beberapa tekanan berbeda. Kita bahkan dapat mengatakan bahwa Pekan Suci terutama Perjamuan Terakhir, Kisah Sengsara, Wafat dan Kebangkitan adalah memori inti dan mendasar dari setiap orang Kristiani sejati.

Inilah mengapa Gereja merayakan Pekan Suci setiap tahun bukan karena ia hanya ingin mengadakan acara besar, tetapi perayaan ini menghubungkan kembali kita dengan memori inti yang menjadikan kita sebagai orang Kristiani. Namun, kita tidak hanya mengingat peristiwa masa lalu, dan kita bukan hanya sekedar penonton. Melalui kekuatan liturgi, kita menghidupkan kembali kisah-kisah mendasar tentang Yesus Kristus. Bersama dengan Kristus, kita memasuki Yerusalem. Bersama-sama dengan Dia, kita merayakan Perjamuan Terakhir. Bersama-sama dengan Dia, kita dianiaya, disalibkan dan mati. Bersama-sama dengan Dia, kita dimakamkan di makam yang gelap. Dan bersama-sama dengan Dia, kita dibangkitkan dari kematian.

Namun, itu adalah pilihan kita untuk mengikuti-Nya atau melawan-Nya: untuk menjadi orang-orang yang berseru “Hosanna” atau orang-orang yang berteriak “Salibkan Dia”; untuk menjadi seorang murid yang berjalan di jalan salib atau murid-murid yang melarikan diri dari-Nya; untuk disalibkan bersama Yesus atau untuk menyalibkan Yesus. Sekarang hanya pengikut Yesus yang benar yang dapat bersama-sama dengan Yesus dibangkitkan dari kematian. Pekan Suci adalah waktu kita untuk membuat pilihan untuk mengikuti Yesus atau untuk melawan Dia.

Diakon Valentinus Bayuhadi Rusneo, OP

Rahmat Yesus dan Sang Perempuan

Minggu Prapaskah ke-5 [7 April 2019] Yohanes 8: 1-11

adulterous woman 1Perzinahan adalah dosa serius menurut Hukum Musa. Ini adalah pelanggaran terhadap Sepuluh Perintah Allah. Pezinahan adalah satu dari sedikit dosa yang bisa dihukum mati [Im 20:10]. Kenapa begitu kejam? Ini adalah dosa besar karena perzinahan mencemarkan kekudusan pernikahan dan karunia seksualitas. Dalam Kitab Kejadian, Tuhan menghendaki pria dan wanita melalui pernikahan dan seksualitas mereka berpartisipasi dalam karya penciptaan. Karena pernikahan adalah panggilan suci, pelanggaran terhadap misi suci ini adalah salah satu penghinaan terbesar bagi Allah yang memanggil pria dan wanita ke dalam pernikahan.

Beberapa orang Yahudi membawa seorang wanita yang tertangkap dalam perzinahan kepada Yesus. Ini adalah dilema yang sulit bagi Yesus yang menjalankan dengan baik Hukum Musa. Jika Yesus setuju untuk melempari wanita itu dengan batu, Ia menegakkan Hukum Musa, tetapi Ia akan membatalkan pemberitaan belas kasih dan pengampunan-Nya. Jika Yesus menolak untuk mengutuk wanita itu, Dia melanggar Hukum Musa, mentolerir kejahatan yang dilakukan oleh wanita itu, dan menyangkal keadilan Allah. Merajam berarti Yesus tidak berbelas kasihan tetapi menolak untuk melempar batu berarti Dia tidak adil. “Bagaikan memakan buah simalakama.”

Yesus kemudian mulai menulis di tanah. Injil tidak menjelaskan secara spesifik apa yang ditulis oleh Yesus, tetapi kita mungkin dapat menebaknya. Dalam bahasa Yunani asli, menulis adalah “grapho”, tetapi dalam episode ini, kata yang digunakan adalah “katagraho”, dan ini dapat diterjemahkan sebagai “menulis tuntutan”. Yesus menulis dosa-dosa orang-orang yang membawa wanita tersebut. Yesus berkata, “Biarlah orang di antara kamu yang tanpa dosa menjadi yang pertama melemparkan batu ke arahnya (Yoh 8: 7).” Setelah Yesus mengungkapkan dosa-dosa mereka, mereka menyadari bahwa mereka sendiri layak dirajam. Mereka pergi, meninggalkan Yesus dan wanita itu.

Hukum Musa menyatakan bahwa pria dan wanita yang tertangkap dalam perzinahan akan dihukum, tetapi di mana sang pria? Kenapa hanya perempuan yang diadili? Yesus menunjukkan bahwa sang perempuan hanyalah pion yang digunakan untuk menjebaka Yesus, dan beberapa orang Yahudi siap untuk mengorbankan wanita ini hanya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kemanusiaannya diabaikan, identitasnya sebagai putri Allah diinjak-injak, dan ia diperlakukan sebagai alat belaka. Memanipulasi sesama kita, terutama yang lemah dan yang miskin, demi keuntungan kita sendiri adalah dosa yang lebih besar daripada perzinahan!

Yesus tahu bahwa wanita itu telah melakukan dosa serius, tetapi dia sendiri adalah korban ketidakadilan dan dosa yang lebih berat. Yesus tentu membenci kejahatan, tetapi Dia mengampuni wanita itu dan memberinya kesempatan kedua karena Dia mengerti apa yang terjadi padanya. Dia jatuh ke dalam dosa karena kelemahan manusia dan godaannya, tetapi Tuhan jauh lebih besar dari segala hal buruk yang menimpannya, jikalah dia bertobat dan kembali kepada Tuhan.

Ada film berjudul “Malena”. Itu adalah kisah tentang seorang wanita cantik di pedesaan Italia selama Perang Dunia II. Dia menerima kabar bahwa suaminya meninggal dalam perang. Setelah ini, ayahnya, satu-satunya keluarganya, juga meninggal ketika pesawat Jerman membom desa mereka. Karena kemiskinan dan keputusasaan untuk bertahan hidup, dia terpaksa menjadi pelacur, bahkan untuk melayani tentara Jerman. Setelah kekelahan pasukan Jerman, penduduk desa mengutuknya, tidak hanya sebagai pelacur tetapi juga sebagai pengkhianat. Dia diusir dari desa dengan penghinaan. Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi, ternyatanya, suaminya tidak meninggal, dan kembali ke desa. Setelah dia mengetahui apa yang terjadi pada istrinya, alih-alih mengutuk istrinya, dan mencari wanita, ia menjemput istrinya dan membawanya kembali ke desa. Dia dengan bangga berjalan bersama istrinya di sekitar desa seolah-olah memberi tahu semua orang, “bukan salahnya kalau dia menjadi pelacur. Dia masih istriku yang setia!”

Kerahiman memberi keadilan yang tegas keindahannya. Dengan belas kasihan, kita melihat gambaran yang lebih besar dari kegagalan kita sendiri dan orang lain. Rahmat memberdayakan kita untuk bersabar dengan orang lain dan diri kita sendiri.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ayah yang Tak Pernah Meninggalkan Putranya

Minggu keempat Prapaskah [31 Maret 2019] Lukas 15: 1-3, 11-32

prodigal son 3Perumpamaan tentang Anak yang Hilang adalah salah satu kisah Yesus yang paling mengharukan dan telah dianggap sebagai yang paling disukai. Mengapa? Saya kira salah satu alasannya adalah kisah Anak yang Hilang adalah kisah hidup kita juga.

Marilah kita melihat beberapa rincian perumpamaan terutama ayah dan putra bungsunya. Sang putra menuntut warisannya saat ayahnya masih hidup dan sehat. Itu hanya berarti sang putra berharap ayahnya mati! Ia juga menghendaki bahwa dia bukan lagi bagian dari keluarga [lihat Sir 33: 20-24]. Sang ayah memiliki wewenang untuk mendisiplinkan anak yang tidak tahu berterima kasih, tetapi ia tidak melakukannya! Karena cintanya yang luar biasa pada putranya, ia membiarkan putranya mendapatkan apa yang diinginkannya. Seperti sang putra, kita sering berdosa terhadap Tuhan, ingin menjauh diri dari-Nya. Kita memilih “warisan”, hal-hal baik yang Allah ciptakan seperti kekayaan, kuasa, dan kesenangan dari pada Dia. Kita terus menyalahgunakan kasih dan kebaikan-Nya, mengetahui bahwa Dia adalah Bapa yang Baik.

Namun, tindakan putra bungsu memiliki konsekuensi yang mengerikan. Semakin jauh dia dari ayahnya, semakin menyedihkan hidupnya. Warisan tanpa pemilik sejati hanyalah bayangan yang semu. Sang pemuda Yahudi tersebut kehilangan segalanya, dan bahkan menjadi penjaga babi, hewan yang sangat dibenci orang Yahudi! Dia menjadi sangat rendah sampai memakan apa yang dimakan babi peliharaannya. Seperti putra bungsu, tanpa Tuhan, kita menjadi sengsara. Ya, kita mungkin menjadi lebih kaya, lebih perkasa dan terkenal, tetapi tanpa Tuhan, kita telah kehilangan jiwa kita. Kita tidak pernah menjadi benar-benar bahagia karena hal-hal yang menyenangkan ini tanpa Allah hanyalah sebuah kecanduan.

Putranya baru menyadari keadaannya ketika dia ingat ayahnya dan hidupnya bersamanya. Bahkan ketika sang ayah berada jauh, bukan berarti dia tidak peduli. Dia menarik kembali putranya yang hilang melalui kenangan indah yang mereka bagi bersama. Tidak peduli seberapa jauh kita dari Tuhan, Dia terus-menerus menarik kita kembali kepada-Nya melalui cara-cara misterius-Nya. Namun, ini tetaplah pilihan kita untuk mengindahkan suara hati kita atau mengabaikannya dan menceburkan diri kita lebih jauh ke dalam dosa.

Perumpamaan itu juga berbicara tentang ayah yang dengan sabar menunggu, menantikan hari ketika putranya pulang. Saat dia melihat putranya dari jauh, tanpa berpikir dua kali, dia berlari, memeluk putranya serta menciumnya. Putranya tidak pernah berpikir bahwa dia pantas menjadi anaknya, dan hanya ingin diperlakukan seperti pelayan. Tetapi, rahmat sesungguhnya adalah memberi sesuatu yang tidak pantas kita terima. Sang ayah menerima kembali putranya sebagai anaknya.

Izinkan saya untuk menutup refleksi sederhana ini dengan sebuah cerita. Pada tahun 1988, gempa bumi dahsyat melanda Armenia. Hanya dalam empat menit, bangunan-bangunan runtuh, dan ribuan meninggal. Seorang pria segera berlari ke sekolah tempat putranya belajar. Dia telah berjanji kepada putranya bahwa dia akan berada di sana untuk menjemputnya. Dia melihat bahwa sekolah itu sekarang menjadi puing. Dia bergegas ke situs tempat kelas anaknya berada. Dia mulai menggali dengan tangannya. Beberapa orang mencoba membantunya tetapi berhenti ketika mereka lelah. Beberapa orang mengecilkan hatinya, mengatakan, “Itu tidak berguna. Mereka sudah mati! ”Dia menolak menyerah, dan terus menggali selama berjam-jam. Kemudian setelah lebih dari 30 jam mencari, dia mendengar suara kecil dari reruntuhan. Dia berteriak, “Arman!” Dan dia mendengar jawaban, “Ayah!” Putranya masih hidup, dan bersama-sama dengannya ada murid-murid lain. Hari itu, pria tersebut telah menyelamatkan 14 anak yang terjebak. Arman memberi tahu teman-temannya, “Sudah kubilang, ayahku akan datang apa pun yang terjadi!”

Perumpamaan tentang Anak yang Hilang begitu indah karena tidak hanya mencerminkan siapa kita tetapi juga mengungkapkan siapa Allah kita. Dia adalah Bapa yang berbelaskasih yang menolak untuk menyerah pada kita, betapapun buruknya kita.

 Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kisah Sebuah Pohon Ara

Minggu ketiga Pra-Paskah [24 Maret 2019] Lukas 13:1-9

“Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, 9 mungkin tahun depan ia berbuah (Luk 13:8)”

fig treeBiasanya membutuhkan waktu sekitar tiga tahun bagi pohon ara untuk mencapai masa dewasa dan berbuah. Jika tidak menghasilkan buah pada saat ini, kemungkinan besar pohon ara tersebut tidak akan berbuah sama sekali. Tentunya, Sang pemilik memiliki hak untuk menebang pohon tersebut dan menanam pohon baru. Tetapi, melalui upaya sang tukang kebun, pohon ara diberi kesempatan baru. Seperti pohon ara, melalui upaya Sang Tukang Kebun kita, Adam yang baru di taman Eden yang abadi, Yesus Kristus, kita diberi kesempatan baru untuk berubah dan berbuah.

Namun, hal ini tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Dalam kenyataan sehari-hari, perubahan bukanlah sesuatu yang instan seperti halnya menghapus kesalahan pada papan tulis. Perubahan yang sangat cepat dari orang jahat menjadi orang baik, dari penjahat menjadi pahlawan sangatlah jarang. Beberapa dari kita terperangkap dalam struktur atau sistem kedosaan yang membuat kita terus melakukan dosa dan kita tidak tahu bagaimana untuk keluar dari struktur tersebut. Beberapa sebenarnya adalah korban dari lingkaran setan kekerasan dalam keluarga kita atau masyarakat kita dan membuat kita cepat atau lambat menjadi pelaku, dan kita berdaya untuk menemukan jalan keluar dari lingkaran setan tersebut. Sangat sulit bagi seorang anak yang dibesarkan sebagai korban kekerasaan dalam ‘rumah tangga’ untuk tidak melakukan kekerasan terhadap saudara atau teman yang lebih lemah.

Suatu kali, saya mengunjungi fasilitas bagi para pemuda yang bermasalah dengan Hukum di General Santos City, Mindanao, Filipina. Saya bertemu seorang remaja, Joseph, bukan nama sebenarnya. Dia ditangkap karena ia mencopet. Dia mensharingkan kepada saya ceritanya bahwa dia tidak memiliki orang tua, dan dia dibesarkan dan hidup bersama dengan gerombolan pencopet. Para tetua dalam kelompok itu mengajarinya cara mencuri dan mencopet, dan setelah beberapa latihan, mencuri menjadi kebiasaannya, tidak hanya untuk mengambil uang, tetapi juga untuk menginginkan uang dengan mudah. Dia telah berada di fasilitas itu beberapa kali, dan setiap kali dia dibebaskan, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak kembali ke jalan hidup seperti itu. Namun, karena dia tidak lagi tahu apa yang harus dilakukan dan ke mana harus pergi ke luar fasilitas, dia sekali lagi mencuri sesuatu untuk mengisi perutnya yang lapar. Dan, sekali lagi dia ditangkap.

Lalu, apa artinya bertobat, apa artinya berubah? Apakah maknanya jika kita merayakan masa Pra-Paskah setiap tahun, namun tidak ada perubahan yang tampaknya terjadi? Kita kehilangan maknanya jika kita hanya berpikir bahwa masa Pra-Paskah hanya tentang perubahan yang instan.

Kisah kita adalah kisah tentang pohon ara yang berjuang untuk berbuah tetapi menemukan dirinya dalam kenyataan pahit keputusaasaan. Ini adalah kisah tentang seorang ‘Tukang Kebun’ yang menolak untuk menyerah pada pohon aranya yang tidak berbuah, cerita tentang Allah yang tidak pernah kehilangan harapan dalam kemanusiaan kita yang lemah. Musim Pra-Paskah berarti bahwa meskipun hidup kita tidak pernah sempurna dan bahkan penuh cacat, kita menolak untuk menyerah dan menjadi putus asa. Ini berarti kita mengambil keberanian untuk melawan keputusasaan bahkan ketika buah perubahan tampaknya tidak terlihat dalam kehidupan kita. Masa Pra-Paskah berarti kita selalu berharap bahwa Tuhan tidak pernah kehilangan harapan dalam diri kita.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Musa dan Transfigurasi

Minggu ke-2 Prapaskah [17 Maret 2019] Lukas 9: 28-36

transfiguration 4Suatu kali, saat saya mengajar kelas Alkitab, salah satu peserta bertanya kepada saya, “bagaimana Petrus dapat mengenali Musa adalah yang berdiri di samping Yesus saat Transfigurasi?” Itu adalah pertanyaan yang valid, namun saya pribadi tidak pernah memikirkan. Saya datang dengan beberapa kemungkinan jawaban. Mungkin, Musa muncul membawa dua loh batu Taurat. Mungkin, ketika Yesus berbicara dengan Musa dan Elia, Petrus dapat mengambil nama-nama itu. Mungkin, ilham ilahi menerangi pikiran Petrus tentang identitas Musa. Akhirnya, saya harus menjawab, “Ketika Anda pergi ke surga, jangan lupa untuk bertanya kepada Petrus dan Musa!”

Peristiwa transfigurasi adalah momen penting dalam kehidupan Yesus dan para murid-Nya. Dari sini, Yesus memulai kisah sengsara-Nya menuju Yerusalem dan salib. Transfigurasi terjadi untuk memperkuat iman para murid yang akan menyaksikan peristiwa mengerikan yang menimpa Guru mereka. Namun, perubahan rupa tidak hanya penting bagi Yesus dan para murid-Nya, tetapi juga bagi Musa. Kenapa?

Musa adalah salah satu tokoh terbesar dalam Perjanjian Lama. Kepadanya, nama pribadi Allah diwahyukan (Kel 3:16). Dia menantang Firaun yang agung. Dia memimpin orang-orang Ibrani dari perbudakan Mesir ke Tanah Perjanjian, bahkan melewati Laut Merah. Dia memediasi perjanjian antara Allah dan Israel di Gunung Sinai (Kel 20). Selama empat puluh tahun, dia dengan sabar membimbing dan mendidik Israel di padang gurun. Melalui tangannya, banyak mujizat terjadi. Namun, ada sesuatu yang terjadi di padang gurun. Di Meribah, Israel mengeluh dan meminta air. Musa diperintahkan oleh Tuhan untuk bersabda kepada batu untuk mengalir dengan air, tetapi alih-alih mengatakannya, Musa memukul tongkatnya dua kali. Air memang mengalir, tetapi hal ini tidak menyenangkan Tuhan. Tuhan kemudian berkata bahwa Musa tidak akan memasuki Tanah Perjanjian (Bil 20: 1-14). Memang, Musa akhirnya meninggal di Gunung Nebo, tepat sebelum menyeberangi sungai Yordan.

Itu adalah kisah yang memilukan. Setelah dengan setia mengikuti Tuhan, memimpin orang-orang dengan air mata dan cucuran keringat, dan menanggung banyak masalah yang diciptakan bangsa Israel, satu kesalahan tunggal membuatnya tidak dapat menginjak Tanah Perjanjian. Banyak ahli Alkitab Yahudi dan Kristen telah dibuat bingung oleh teks yang sulit ini. Memang, kita dapat terus mempertanyakan Tuhan untuk perlakuan tidak adil-Nya. Untungnya, ceritanya tidak berakhir di sana. Musa akan memasuki Tanah Perjanjian, tetapi dia harus menunggu seseorang: Yesus dan transfigurasi-Nya. Sungguh, Musa tidak hanya memasuki Tanah Perjanjian, tetapi ia juga sekali lagi menyaksikan Tuhan yang menampakkan diri kepadanya di semak yang terbakar [Kel 3:2].

Membaca kehidupan Musa tanpa transfigurasi, kita melihat sosok Allah yang adil namun tidak berperasaan, yang menilai Musa tidak layak memasuki Tanah Perjanjian karena kesalahan kecil. Namun, dengan transfigurasi, Tuhan memberi akhir yang indah bagi Musa. Seperti Musa, kita kadang berhadapan dnegan beberapa peristiwa dalam hidup kita, yang berada di luar pemahaman kita, dan tidak sesuai dengan sosok Allah yang penuh kasih. Namun, kadang, Allah membiarkan kita menjadi bingung, agar kita dapat melihat betapa menakjubkannya Allah akan membawa kita dalam akhir bahagia di hidup kita.

Apakah momen dalam hidup kita yang sulit dipahami? Adakah peristiwa hidup dimana kita merasa Allah sepertinya tidak peduli? Apakah kita mampu seperti Musa untuk menunggu dengan sabar akan kasih Tuhan yang akan datang pada waktu-Nya yang indah?

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP