Pesta Keluarga Kudus – 29 Desember 2019 – Matius 2: 13-23
Jika kita diberi pilihan untuk memilih orang tua kita, orang tua seperti apa yang kita inginkan? Mungkin, sebagian dari kita ingin memiliki orang tua yang kaya. Beberapa dari kita mungkin berhasrat untuk memiliki orang tua yang berupa cantik, tampan atau berotak jenius. Beberapa dari kita mungkin ingin dilahirkan dalam keluarga kerajaan dan berpengaruh secara politis. Ini adalah impian-impian kita yang sangat wajar. Namun, yang mengejutkan, ini bukanlah pilihan yang Allah buat ketika Dia memilih orang tua-Nya. Dalam kebijaksanaan-Nya yang indah, Allah memilih Maria dan Yusuf dari Nazaret.
Yusuf adalah keturunan Raja Daud yang terkenal, tetapi Kerajaan Daud sudah tidak ada di zaman Yusuf. Dia juga seorang tukang kayu dan meskipun bekerja keras, profesi ini hanya cukup untuk bertahan hidup. Maria adalah seorang wanita muda biasa dari desa yang tidak dikenal bernama Nazareth. Yusuf dan Maria adalah orang sederhana, bahkan orang miskin yang hidup di masa ketika sebagian besar orang Israel menderita karena penindasan kekaisaran Romawi. Di mata dunia, pasangan ini bukan apa-apa.
Namun, Tuhan kita adalah Tuhan memberi kejutan, dan Dia memiliki hobi untuk mengacaukan “tatanan dunia yang mapan.” Bagi Tuhan, kriteria penting untuk menjadi orang tua-Nya bukanlah kekayaan, popularitas, atau darah. Tuhan tidak membutuhkan hal-hal ini. Jadi, apa dasar dari pilihan-Nya?
Kriteria mendasar adalah iman kepada Tuhan. Yusuf dan Maria tidak memiliki apa pun di dunia ini, tetapi keduanya adalah pria dan wanita beriman, atau pria dan wanita Allah. Yusuf disebut sebagai “orang yang tulus hati,” yang berarti dia adalah orang yang mengenal Hukum Taurat dan menaati mereka dengan setia. Yusuf mencintai Tuhan dan hukum-hukum-Nya. Terlebih lagi, ketika Gabriel menampakkan diri kepada Yusuf dan mengungkapkan rencana Tuhan, Yusuf segera bangkit dan mengikuti instruksi Malaikat tanpa ada pertanyaan. Maria pada dasarnya melakukan hal yang sama. Ketika Gabriel memberi tahu dia tentang rencana Tuhan bahwa dia akan menjadi ibu Tuhan, Maria tidak mengerti, tetapi dia tidak hanya memberikan persetujuannya, tetapi dia menerima rancangan Tuhan sebagai miliknya sendiri. Yusuf dan Maria tahu betul bahwa saat mereka mengambil bagian dalam jalan Tuhan, mereka harus menyerahkan rencana, impian, dan harapan mereka sendiri. Namun, iman mereka lebih besar daripada ketakutan atau kesombongan mereka, dan mereka percaya bahwa jalan Tuhan selalu merupakan jalan terbaik, meski mereka tidak mengerti. Ini adalah tipe orang tua yang Tuhan pilih.
Seperti Yusuf dan Maria, saya percaya bahwa sikap pertama yang harus dimiliki setiap orang tua adalah iman kepada Tuhan. Setiap anak adalah karunia, namun karunia ini akan mengubah orang tua yang menerimanya. Ketika seorang anak memasuki kehidupan orang tua mereka, suami dan istri juga akan memasuki kehidupan pengorbanan. Terkadang, saya sedih mendengar keputusan beberapa pasangan Katolik yang menolak untuk memiliki anak. Kita memahami bahwa tentunya sulit untuk membesarkan anak-anak, tetapi penolakan kita untuk menerima karunia dari Tuhan mungkin menunjukkan kurangnya iman kita, bahkan keegoisan kita, obsesi kita terhadap rencana, karier, dan ambisi kita.
Tuhan tidak membutuhkan pasangan yang sempurna untuk membesarkan Putranya, Ia lebih memilih seorang pria dan wanita yang memiliki iman.
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hari ini adalah Natal, hari Yesus lahir di Bethlehem. Biasanya di setiap Gereja atau keluarga Kristiani, ada sebuah kadang atau gua yang menjadi tempat kelahiran Yesus. Di sini, Bayi Yesus ditempatkan di sebuah palungan kayu (tempat makanan binatang). Tentunya, ada patung Maria dan Yusuf yang dengan penuh perhatian mengawasi sang Bayi, sementara binatang-binatang lain seperti domba dan sapi menjadi saksi bisu dari momen terindah ini dalam sejarah manusia ini. Tentunya, kandang ini tidak akan lengkap tanpa gembala dan malaikat. Tempat kelahiran Yesus ini memang indah dan selalu mengingatkan kita akan kesederhanaan Natal yang sering kita lupakan di tengah hiruk pikuk perayaan Natal dan Tahun Baru.
Beberapa hari yang lalu, ada sebuah gambar akan kelahiran Tuhan Yesus menjadi viral. Gambar itu disebut “Biarkan Bunda Beristirahat”. Karakter utama dari gambar ini adalah Yusuf mengendong bayi Yesus sementara Maria beristirahat. Gambaran ini menunjukkan kepada kita aspek yang jarang tersentuh dari kelahiran Yesus. Seringkali, kita memusatkan perhatian kita pada Yesus bersama Maria, ibu-Nya. Kita menghormati Maria karena kesediaannya untuk mengandung Yesus di rahimnya meskipun begitu banyak bahaya dan kesulitan dan untuk tetap menjadi murid Yesus yang setia sampai akhir. Namun, gambar ini membawa kita kepada karakter penting lain yang sering kita abaikan, St Yusuf, sebagai orang beriman.
Hari ini, kita akan melihat sesuatu yang berbeda di Gereja. Ya, para imam tidak mengenakan jubah ungu, tetapi jubah liturgis berwarna merah muda. Itu bukan karena para imam salah memakai baju atau ingin tampil trendi. Ini karena kita memasuki hari Minggu ketiga Adven, juga dikenal sebagai, hari Minggu Gaudete. “Gaudete” adalah kata Latin yang berarti “bersukacitalah!”. Warna merah muda ini juga melambangkan suasana sukacita. Tapi, mengapa kita perlu merayakan Minggu Gaudete?
Yohanes Pembaptis adalah tokoh terkemuka dalam keempat Injil, dan Yohanes muncul sebelum Yesus memulai pelayanan dan karnya-Nya. Tetapi, siapakah Yohanes Pembaptis ini? Namanya Yohanes, dan Gereja memanggilnya sebagai Pembaptis untuk membedakannya dari Yohanes lainnya dalam Alkitab seperti Yohanes putra Zebedeus, salah satu murid Yesus. Yohanes Pembaptis adalah putra Zakharia dan Elisabet yang terlahir di masa tua mereka. Dan karena Elizabeth dan Maria, ibu Yesus, masih saudara, Yohanes dan Yesus saling berhubungan erat.
Kita memasuki masa Adven. Waktu ini menandai awal tahun liturgi Gereja yang baru. Masa itu sendiri adalah persiapan bagi kita untuk menyambut Natal, kedatangan Yesus Kristus. Kata Adven berasal dari kata Latin “Adventus” yang berarti “kedatangan.” Warna liturgi yang dominan adalah ungu yang menandakan harapan penuh sukacita akan kedatangan Juruselamat kita.
Seringkali kita menerima begitu saja nama Yesus Kristus, tanpa menyadari makna mendalam di baliknya. Kata “Kristus” bukan bagian dari nama pribadi Yesus atau nama keluarga Yesus. Yesus mendapat nama Kristus bukan karena ayah angkatnya, Yusuf, tetapi senyatanya “Kristus” adalah sebuah gelar yang sangat penting bagi umat Yahudi dan Kristiani pada abad pertama masehi.
Dalam Injil hari ini, orang-orang Saduki berusaha untuk menguji Yesus. Saduki adalah faksi religius dalam agama Yahudi pada zaman Yesus, tetapi tidak seperti orang-orang Farisi yang populer, kaum Saduki hanya memegang Taurat sebagai satu-satunya sumber yang sah dari ajaran dan praktik keagamaan Yahudi, dan menolak tulisan para nabi, dan tradisi selanjutnya. Salah satu doktrin utama mereka adalah bahwa mereka tidak percaya pada kebangkitan badan. Meskipun, Yesus dan orang-orang Farisi selalu berdebat, Yesus dan orang Farisi berbagi kepercayaan dasar yang sama tentang kebangkitan tubuh. Dengan demikian, untuk menyangkal kepercayaan ini, orang Saduki menggunakan Hukum Taurat untuk membuat malu Yesus. Dalam Hukum Taurat, ada praktik untuk mengamankan garis keturunan dan warisan seorang pria yang tidak memiliki keturunan. Sebagai solusi, saudara-saudara lelaki yang meninggal akan menikahi jandanya dan diharapkan memperoleh keturunan bagi sang saudara yang telah meninggal. Kemudian, para Saduki mengajukan kesimpulan seolah-olah kebangkitan badan tidak masuk akal. “Dalam hari kebangkitan, siapakah yang menjadi suami istri ini?”
Pada zaman Yesus, setidaknya ada dua jenis pajak atau cukai. Pajak pertama adalah untuk Bait Allah di Yerusalem. Ini adalah “pajak suci”. Mereka yang memungutnya melakukan tugas mulia, dan mereka yang membayar memenuhi kewajibannya kepada Allah. Namun, pajak kedua dibebankan oleh pemerintah Romawi. Untuk mendapatkan pajak secara efektif, orang-orang Romawi mempekerjakan kolaborator lokal. Orang-orang Yahudi sangat terbebani oleh pajak ini karena sangat berat, tidak adil, dan dengan paksaan. Orang-orang Yahudi pada umumnya tentu saja membenci para pemungut pajak Yahudi yang dengan sukarela mengkhianati rakyatnya sendiri dan terlibat dalam praktik korupsi yang tamak. Ini adalah pendosa terburuk, karena najis, korup dan pengkhianat.