Bukan Keluarga Sempurna

Pesta Keluarga Kudus –  29 Desember 2019 – Matius 2: 13-23

holy family 2Jika kita diberi pilihan untuk memilih orang tua kita, orang tua seperti apa yang kita inginkan? Mungkin, sebagian dari kita ingin memiliki orang tua yang kaya. Beberapa dari kita mungkin berhasrat untuk memiliki orang tua yang berupa cantik, tampan atau berotak jenius. Beberapa dari kita mungkin ingin dilahirkan dalam keluarga kerajaan dan berpengaruh secara politis. Ini adalah impian-impian kita yang sangat wajar. Namun, yang mengejutkan, ini bukanlah pilihan yang Allah buat ketika Dia memilih orang tua-Nya. Dalam kebijaksanaan-Nya yang indah, Allah memilih Maria dan Yusuf dari Nazaret.

Yusuf adalah keturunan Raja Daud yang terkenal, tetapi Kerajaan Daud sudah tidak ada di zaman Yusuf. Dia juga seorang tukang kayu dan meskipun bekerja keras, profesi ini hanya cukup untuk bertahan hidup. Maria adalah seorang wanita muda biasa dari desa yang tidak dikenal bernama Nazareth. Yusuf dan Maria adalah orang sederhana, bahkan orang miskin yang hidup di masa ketika sebagian besar orang Israel menderita karena penindasan kekaisaran Romawi. Di mata dunia, pasangan ini bukan apa-apa.

Namun, Tuhan kita adalah Tuhan memberi kejutan, dan Dia memiliki hobi untuk mengacaukan “tatanan dunia yang mapan.” Bagi Tuhan, kriteria penting untuk menjadi orang tua-Nya bukanlah kekayaan, popularitas, atau darah. Tuhan tidak membutuhkan hal-hal ini. Jadi, apa dasar dari pilihan-Nya?

Kriteria mendasar adalah iman kepada Tuhan. Yusuf dan Maria tidak memiliki apa pun di dunia ini, tetapi keduanya adalah pria dan wanita beriman, atau pria dan wanita Allah. Yusuf disebut sebagai “orang yang tulus hati,” yang berarti dia adalah orang yang mengenal Hukum Taurat dan menaati mereka dengan setia. Yusuf mencintai Tuhan dan hukum-hukum-Nya. Terlebih lagi, ketika Gabriel menampakkan diri kepada Yusuf dan mengungkapkan rencana Tuhan, Yusuf segera bangkit dan mengikuti instruksi Malaikat tanpa ada pertanyaan. Maria pada dasarnya melakukan hal yang sama. Ketika Gabriel memberi tahu dia tentang rencana Tuhan bahwa dia akan menjadi ibu Tuhan, Maria tidak mengerti, tetapi dia tidak hanya memberikan persetujuannya, tetapi dia menerima rancangan Tuhan sebagai miliknya sendiri. Yusuf dan Maria tahu betul bahwa saat mereka mengambil bagian dalam jalan Tuhan, mereka harus menyerahkan rencana, impian, dan harapan mereka sendiri. Namun, iman mereka lebih besar daripada ketakutan atau kesombongan mereka, dan mereka percaya bahwa jalan Tuhan selalu merupakan jalan terbaik, meski mereka tidak mengerti. Ini adalah tipe orang tua yang Tuhan pilih.

Seperti Yusuf dan Maria, saya percaya bahwa sikap pertama yang harus dimiliki setiap orang tua adalah iman kepada Tuhan. Setiap anak adalah karunia, namun karunia ini akan mengubah orang tua yang menerimanya. Ketika seorang anak memasuki kehidupan orang tua mereka, suami dan istri juga akan memasuki kehidupan pengorbanan. Terkadang, saya sedih mendengar keputusan beberapa pasangan Katolik yang menolak untuk memiliki anak. Kita memahami bahwa tentunya sulit untuk membesarkan anak-anak, tetapi penolakan kita untuk menerima karunia dari Tuhan mungkin menunjukkan kurangnya iman kita, bahkan keegoisan kita, obsesi kita terhadap rencana, karier, dan ambisi kita.

Tuhan tidak membutuhkan pasangan yang sempurna untuk membesarkan Putranya, Ia lebih memilih seorang pria dan wanita yang memiliki iman.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keindahan Natal

Vigili Natal –  24 Desember 2019 – Lukas 2: 1-14

nativity scene 2Hari ini adalah Natal, hari Yesus lahir di Bethlehem. Biasanya di setiap Gereja atau keluarga Kristiani, ada sebuah kadang atau gua yang menjadi tempat kelahiran Yesus. Di sini, Bayi Yesus ditempatkan di sebuah palungan kayu (tempat makanan binatang). Tentunya, ada patung Maria dan Yusuf yang dengan penuh perhatian mengawasi sang Bayi, sementara binatang-binatang lain seperti domba dan sapi menjadi saksi bisu dari momen terindah ini dalam sejarah manusia ini. Tentunya, kandang ini tidak akan lengkap tanpa gembala dan malaikat. Tempat kelahiran Yesus ini memang indah dan selalu mengingatkan kita akan kesederhanaan Natal yang sering kita lupakan di tengah hiruk pikuk perayaan Natal dan Tahun Baru.

Namun, jika kita kembali ke zamannya Yusuf dan Mary, ke Palestina abad pertama, kita akan menemukan kesederhanaan Natal ini memiliki maknanya sangat dalam. Kemungkinan besar, Yusuf dan Mary tidak beristirahat di kandang, tetapi di dalam gua batu karena ini adalah hal umum yang ditemukan di Bethlehem yang terletak daerah pegunungan Yudea. Di dalam gua batu itu hangat dan terkadang cukup luas, sehingga para gembala menggunakannya sebagai tempat berlindung yang aman dan hangat untuk domba-domba mereka di malam hari. Palungan yang disediakan untuk domba bukan terbuat dari kayu, tetapi batu. Kadang-kadang, kita melihat Bayi Yesus telanjang dada di palungan, tetapi St. Lukas menggambarkan bahwa Yesus dibungkus dengan lampin. Ini adalah hal wajar bahwa bayi yang baru lahir akan dibersihkan, dan kemudian dibalut oleh kain untuk menjaga bayi tetap hangat, terlindungi dan nyaman.

Kita menemukan bahwa Yesus dilahirkan di sebuah gua batu, dibaringkan pada palungan batu dan terbungkus kain. Tiga hal ini menunjuk pada peristiwa yang lebih besar dalam kehidupan Kristus: kematian dan kebangkitan-Nya. Kita ingat setelah penyaliban, tubuhnya ditutupi kain, dimasukkan ke dalam makam batu, dan diletakkan di atas batu besar. Namun, kuburan batu dimana Yesus dimakamkan adalah makam yang sama tempat Yesus bangkit dari kematian. Sejak awal kehidupan Yesus di bumi ini, misi-Nya telah dinubuatkan.

Namun, ada sesuatu yang lebih luar biasa. Yesus ditempatkan di palungan, dan palungan tidak lain adalah tempat untuk memberi makan hewan. Sejak awal, Yesus sudah persembahkan kepada kita sebagai makanan yang akan memuaskan mereka yang datang kepada-Nya. Lalu, “jenis makanan” apa Yesus itu? Bukan kebetulan bahwa Yesus lahir di Bethlehem. Kata Bethlehem berasal dari dua kata Ibrani: “Beth” yang berarti “rumah” dan “Lehem” yang berarti “roti”; dengan demikian, Bethlehem adalah rumah roti. Yesus diberikan kepada kita sebagai roti, dan memang, Yesus menyebut diri-Nya sebagai roti hidup [Yoh 6:35]. Menarik juga untuk bertanya mengapa para gembala adalah orang pertama yang diundang untuk melihat Yesus. Salah satu jawaban yang menarik adalah bahwa para gembala adalah orang pertama yang menyadari kelahiran seekor anak domba. Dengan datangnya para gembala, Bayi Yesus yang kudus ini adalah anak domba yang baru lahir. Tak salah jika Yesus akan disebut sebagai Anak Domba Allah [Yohanes 1:29]. Di Israel kuno, domba juga merupakan hewan kurban utama di Bait Allah. Bayi Yesus datang untuk memberi makan kita, dan Dia datang sebagai roti hidup dan korban yang menyelamatkan kita.

Meskipun baik untuk merayakan Natal dengan liburan atau perayaan meriah, cara terbaik untuk merayakan Natal tidak lain adalah dengan merayakan Ekaristi dimana Yesus telah memberikan diri seutuhnya kepada kita manusia. Bersama-sama kita merenungkan kesederhanaan dan kerendahan hati Allah yang datang kepada kita sebagai bayi, dan untuk merenungkan kasih-Nya yang tak terbatas. Inilah keindahan Natal, yang dipilih Tuhan untuk mencintai kita sampai akhir.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yusuf, sang Ayah Penuh Iman

Minggu Keempat Adven [A] – 21 Desember 2019 – Matius 1: 18-24

Let-Mom-Rest(1)Beberapa hari yang lalu, ada sebuah gambar akan  kelahiran Tuhan Yesus menjadi viral. Gambar itu disebut “Biarkan Bunda Beristirahat”. Karakter utama dari gambar ini adalah Yusuf mengendong bayi Yesus sementara Maria beristirahat. Gambaran ini menunjukkan kepada kita aspek yang jarang tersentuh dari kelahiran Yesus. Seringkali, kita memusatkan perhatian kita pada Yesus bersama Maria, ibu-Nya. Kita menghormati Maria karena kesediaannya untuk mengandung Yesus di rahimnya meskipun begitu banyak bahaya dan kesulitan dan untuk tetap menjadi murid Yesus yang setia sampai akhir. Namun, gambar ini membawa kita kepada karakter penting lain yang sering kita abaikan, St Yusuf, sebagai orang beriman.

Jika Tuhan telah memilih dan mempersiapkan wanita yang paling cocok dalam sejarah manusia untuk menjadi ibu dari Anak-Nya, logika yang sama juga mengatur pilihan ayah angkat Yesus. Orang yang paling cocok dipilih untuk tugas besar namun luar biasa ini jatuh ke tangan St. Yusuf.

Sayangnya, kita tidak tahu banyak tentang Yusuf. Matius hanya memberi kita informasi yang sangat sedikit, tetapi dari sedikit pengetahuan ini, kita dapat mengekstraksi beberapa kebenaran penting. Pertama, Yusuf berasal dari keluarga Daud. Ini berarti bahwa setiap anak yang ia terima secara hukum akan menjadi bagian dari keluarga Daud juga. Yusuf adalah mata rantai yang menghubungkan antara Yesus dan Daud, dan dengan demikian, kelahiran Yesus akan menggenapi nubuat bahwa Mesias akan datang dari garis keturunan Daud.

Kedua, dia adalah seorang tukang kayu, dan menjadi seorang tukang kayu bukanlah pekerjaan yang menjanjikan untuk bertahan hidup di Palestina abad pertama. Namun, Yusuf tahu betul bahwa kerja keras, presisi, dan kesempurnaan adalah bagian dari pekerjaannya. Kehidupan yang sulit adalah rutinitas harian bagi Yusuf. Tuhan tahu untuk membesarkan Anak-Nya akan membutuhkan banyak pengorbanan, dan Yusuf, sang tukang kayu, sanggup menghadapi tantangan itu.

Menerima dan membesarkan anak yang bukan miliknya, tentu merupakan panggilan yang sulit, tetapi Yusuf mematuhi kehendak Allah yang telah dinyatakan dalam mimpinya, “Jangan takut untuk mengambil Maria sebagai istrimu.” Selain itu, Yusuf memastikan bahwa misi ini akan tuntas. Dari gambar “Biarkan Bunda Beristirahat”, tampaknya Maria baru saja melahirkan Yesus dan proses melahirkan tentunya yang menguras tenaga. Maria kelelahan. Yusuf mengambil alih tanggung jawab untuk merawat bayi Yesus, sementara Maria mendapatkan kesempatan beristirahat. Ini hanyalah satu contoh konkret kecil dari bagaimana Yusuf menjalankan misi yang diberikan Allah untuk membesarkan Anak Allah. Tentu saja, tugasnya tidak hanya diwujudkan dalam peristiwa ini. Dia melindungi Maria dan Anaknya dari bahaya, terutama dari ancaman dari Herodes Agung yang akan membunuh Yesus. Selama sisa hidupnya, Yusuf akan bekerja keras untuk menyediakan, mendidik, dan membesarkan Yesus sebagai seorang manusia yang siap memberikan hidup-Nya untuk semua.

Seperti Maria, Yusuf juga tidak mengerti mengapa ia harus menjadi ayah dari akan orang lain, mengapa ia harus mempertaruhkan nyawanya dan masa depannya untuk seorang putra yang bukan anaknya? Namun, seperti Maria, Yusuf memiliki iman dan menerima kehendak Allah dalam hidupnya. Tidak hanya sekadar menerima kehendak Tuhan, tetapi dia juga memastikan bahwa dia memberikan yang terbaik dan membuat rencana Tuhan terwujud.

Kita sering tidak mengerti mengapa rencana Tuhan untuk kita. Kita tahu kemana Tuhan akan membawa kita. Namun, seperti Maria dan Yusuf, kita dipanggil untuk menjadi pria dan wanita yang beriman, untuk menerima rencana Allah sebagai milik kita sendiri dan membawa kehendak-Nya ke dalam kesempurnaan.

 Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Gaudete!

Minggu Ketiga Advent [A] – 15 Desember 2019 – Matius 11: 2-11

gaudetesunday22Hari ini, kita akan melihat sesuatu yang berbeda di Gereja. Ya, para imam tidak mengenakan jubah ungu, tetapi jubah liturgis berwarna merah muda. Itu bukan karena para imam salah memakai baju atau ingin tampil trendi. Ini karena kita memasuki hari Minggu ketiga Adven, juga dikenal sebagai, hari Minggu Gaudete. “Gaudete” adalah kata Latin yang berarti “bersukacitalah!”. Warna merah muda ini juga melambangkan suasana sukacita. Tapi, mengapa kita perlu merayakan Minggu Gaudete?

Bacaan pertama dari Yesaya [33: 1-6] berbicara tentang sukacita semua makhluk ketika Tuhan datang. Tidak hanya manusia tetapi semua ciptaan, termasuk binatang, tanaman, bahkan sungai, akan bersukacita di hadapan Tuhan. Meskipun benar bahwa Advent adalah musim pengharapan dan persiapan untuk kedatangan Tuhan, Minggu Gaudete tidak merusak suasana umum Advent, tetapi justru memberi kita arah yang benar.

Ketika kita sedang menunggu sesuatu, ada dua reaksi. Yang pertama adalah mengeluh dan kecewa. Hal ini seperti ketika kita siap untuk naik pesawat, dan tiba-tiba kru mengumumkan bahwa ada penundaan. Kita harus menunggu, dan kita menunggu dengan kesal. Kita kecewa karena kita tidak sabar dan mengharapkan hal-hal terjadi sesuai dengan rencana kita.

Dari Injil hari ini, Yohanes berada di penjara, dan dia tahu waktunya tidak lama lagi. Sebagai orang yang mempersiapkan kedatangan Mesias, Yohanes tahu bahwa Yesus adalah Kristus, tetapi Yesus tampaknya tidak berperilaku seperti yang diharapkannya. Yohanes sedang menunggu seseorang membawa penghakiman ilahi, tetapi Yesus agak berbeda. Yesus kemudian harus menjelaskan Mesias seperti apa Dia: Orang yang membawa kemurahan, kasih, dan sukacita ke dunia. Dari sini, kita menemukan bahwa ekspektasi pribadi Yohanes menghalangi dia untuk melihat bahwa Dia yang harapkan telah datang.

Terkadang, kita menunggu jawaban untuk doa-doa kita, tetapi setelah semua novena, semua rosario, semua jalan salib, dan semua misa, kita tidak mendapatkan jawabannya. Kadang-kadang, kita berharap bahwa hidup kita akan menjadi lebih baik, tetapi keadaan semakin memburuk. Terkadang, kita berharap untuk penyembuhan dan pemulihan cepat seseorang yang kita cintai, tetapi hal-hal tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Semakin banyak yang kita harapkan, semakin kita kecewa.

Untuk mengatasi ini, kita sampai pada respons kedua dalam menunggu. Kita juga bisa menunggu dengan sukacita. Itu seperti seorang ibu yang sedang mengandung bayinya. Ini tentu saja merupakan masa penantian, tetapi sang ibu mengantisipasinya dengan gembira. Seperti seorang ibu hamil, kita dapat menunggu Tuhan dalam sukacita, dan sama seperti wanita hamil, kunci dari harapan penuh sukacita adalah ketika kita sadar bahwa kita sedang menunggu sesuatu atau seseorang yang kita cintai, dan seseorang yang kita harapkan datang ini sesungguhnya telah datang.

Saya percaya bahwa Tuhan selalu menjawab doa-doa kita, tetapi masalahnya adalah kita tidak mau mendengarkan jawaban-Nya. Ketika kita berdoa, kita sering berdoa agar kehendak kita terjadi, dan bukan kehendak-Nya yang terjadi. Inilah alasan mengapa kita gagal melihat Tuhan dan berkat-Nya yang berlimpah di sekitar kita. Memang, di masa Advent ini, kita sedang mempersiapkan kedatangan Yesus, tetapi musim ini juga kita bersukacita karena Yesus telah datang dengan cara-Nya yang tak terduga dan mengejutkan. Kita bisa bersyukur dan bersukacita ketika kita dapat melihat Yesus datang dalam kehidupan kita sehari-hari.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Seperti Yohanes Pembaptis

Minggu ke-2 Adven [A] – [8 Desember 2019] – Matius 3: 1-12

John-the-Baptist-212x300Yohanes Pembaptis adalah tokoh terkemuka dalam keempat Injil, dan Yohanes muncul sebelum Yesus memulai pelayanan dan karnya-Nya. Tetapi, siapakah Yohanes Pembaptis ini? Namanya Yohanes, dan Gereja memanggilnya sebagai Pembaptis untuk membedakannya dari Yohanes lainnya dalam Alkitab seperti Yohanes putra Zebedeus, salah satu murid Yesus. Yohanes Pembaptis adalah putra Zakharia dan Elisabet yang terlahir di masa tua mereka. Dan karena Elizabeth dan Maria, ibu Yesus, masih saudara, Yohanes dan Yesus saling berhubungan erat.

Tentu saja, ada yang aneh dengan Yohanes ini. Dia memakan belalang dan madu. Tentunya, ini adalah makanan eksotis, tetapi kita harus ingat dia hidup di padang gurun, dan makanan seperti ini adalah hal biasa. Dia mengenakan pakaian yang terbuat dari rambut unta dan sabuk kulit di pinggangnya. Hal ini bukan berarti Yohanes suka berbusana trendi atau kekinin. Pakaian Yohanes mengingatkan orang-orang Yahudi akan hal-hal yang dikenakan Nabi Elia di masanya [lihat 1 Raja-Raja 1: 8]. Yohanes menunjukkan dirinya sebagai nabi, dan bukan nabi biasa, ia adalah Elia baru. Munculnya Elia adalah tanda penting dari kedatangan Mesias yang akan segera terjadi [Mal 4: 5].

Satu hal yang pasti tentang Yohanes adalah bahwa ia menjadi sangat populer, dan orang-orang dari seluruh negeri datang kepadanya, untuk mendengarkan khotbahnya dan untuk dibaptis sebagai tanda pertobatan. Namun, terlepas dari jumlah pengikut yang besar, ia tetap setia pada misinya. Dia mewartakan tentang kedatangan seseorang yang jauh lebih besar darinya, bahkan dia menyatakan bahwa “tidak layak untuk membawa sandal-Nya.” Dia adalah alat Tuhan dalam memenuhi nubuat, dan dia memiliki peran khusus untuk dimainkan.

Sekarang, kita tahu sedikit latar belakang tentang Yohanes Pembaptis, apa yang akan terjadi selanjutnya bagi kita? Tentu saja, kita tidak dipanggil untuk mengikutinya dalam mengenakan pakaian yang terbuat dari rambut unta atau makan belalang setiap hari, tetapi kita harus mempersiapkan jalan bagi kedatangan Juruselamat. Bagaimana? Beberapa dari kita dipanggil memang untuk membaptis orang seperti saya. Beberapa ditugaskan untuk mengabar dan mendidik orang. Namun, kita semua harus menjalani kehidupan pertobatan. Kata yang digunakan oleh Yohanes dalam bahasa Yunani adalah “metanoiete” dan itu tidak hanya berarti “bertobat!” Tetapi lebih tepatnya, “teruslah bertobat!”

Tahap pertobatan pertama tentu saja beralih dari kehidupan dosa, tetapi lebih dari itu. Pertobatan bukan tentang satu dua tindakan saja, tetapi proses seumur hidup. Kata “Metanoia” berasal dari dua kata, “meta” yang berarti “perubahan” dan “nous” yang berarti “pikiran”; Jadi, “metanoia” berarti mengubah pikiran, mengubah cara kita melihat kehidupan dan cara kita hidup. Pikiran kita bukan lagi tertuju pada hal-hal duniawi, tetapi terpaku pada Tuhan. Transformasi bukan hanya dari kehidupan yang berdosa menjadi kehidupan yang baik, tetapi kehidupan yang bahkan lebih dekat dengan Tuhan. Ini menyiratkan perubahan prioritas. Apakah kita menjadikan Tuhan sebagai prioritas kita? Ini membutuhkan kekudusan. Apakah kita melakukan hal-hal yang menyenangkan Allah? Ini mengandaikan kasih Allah. Apakah kita mencintai Tuhan lebih dari hal-hal lain, atau kita lebih mencintai hal-hal lain daripada Dia?

Yohanes Pembaptis doakanlah kami!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Misi Adven: Menjadi Kudus

Minggu Adven Pertama [A] – 1 Desember 2019 – Matius 24:37-44

Advent-season-candlesKita memasuki masa Adven. Waktu ini menandai awal tahun liturgi Gereja yang baru. Masa itu sendiri adalah persiapan bagi kita untuk menyambut Natal, kedatangan Yesus Kristus. Kata Adven berasal dari kata Latin “Adventus” yang berarti “kedatangan.” Warna liturgi yang dominan adalah ungu yang menandakan harapan penuh sukacita akan kedatangan Juruselamat kita.

Gereja selalu mengajarkan bahwa ada dua kedatangan Yesus. Kedatangan pertama adalah dua ribu tahun yang lalu di Betlehem, ketika Yesus dilahirkan dalam keluarga sederhana Yusuf dan Maria. Kedatangan kedua akan terjadi pada akhir zaman, dan tidak ada yang tahu kapan itu akan terjadi. Itu adalah rahasia Tuhan, dan siapa pun yang mencoba untuk memprediksi pasti akan gagal dan menjadi nabi palsu.

Khususnya, hari Minggu Adven pertama berfokus pada kedatangan Yesus yang kedua. Dari bacaan Injil, kita dapat melihat setidaknya dua karakteristik dari kedatangan ini. Pertama, akan ada penghakiman dan pemisahan antara yang baik dan yang jahat. Kedua, kedatangan akan sama sekali tak terduga seperti hari Air Bah di zaman Nuh dan keluarganya atau seperti pencuri di malam hari. Karena akan ada penilaian berdasarkan hidup kita serta waktu yang tidak terduga, kita diharapkan untuk selalu siap dengan tekun berbuat baik.

Tujuan masa Adven adalah untuk mengingatkan kita bahwa Tuhan pasti akan datang, dan kita siap untuk kedatangan itu entah kapanpun itu. Bagaimana kita akan bersiap untuk kedatangan Yesus?

Jawabannya sangat sederhana: menjadi kudus dan tetaplah kudus. Tentunya, ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, namun kita dapat belajar dari orang-orang kudus. Namun, sekali lagi beberapa dari kita mungkin mengatakan itu sulit untuk menjadi orang kudus, dan hampir tidak mungkin untuk menyerupai Yohanes Paulus II yang adalah Paus suci, atau untuk meniru Bunda Teresa dari Calcutta yang menghabiskan hidupnya dalam di daerah kumuh di India dan melayani tanpa lelah orang-orang miskin, atau seperti Santo Stefanus yang dilempari batu sampai mati karena menjadi saksi Yesus. Memang, tampaknya mustahil jika kita fokus pada kebesaran orang-orang kudus ini, tetapi sebenarnya, ada banyak orang kudus yang menjalani kehidupan sederhana.

St. Teresa dari Anak-Anak Yesus yang menghabiskan hidupnya yang sangat sederhana di dalam sebuah biara pernah menulis, “Jangan lewatkan kesempatan untuk berkorban kecil, di sini dengan wajah tersenyum, di sana dengan kata-kata yang ramah; selalu melakukan hal yang paling kecil dan melakukan semuanya demi kasih. ” Itu adalah banyak hal yang dapat kita persembahkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti kecanduan kita pada ponsel, obsesi kita untuk menjadi gila kerja, waktu kita untuk hobi kita, dan kecenderungan kita untuk mengeluh. Sementara St. Martin de Porres, seorang bruder Dominikan, yang menghabiskan hidupnya membersihkan biara dan melayani orang miskin, menunjukkan kepada kita bahwa jalan kekudusan tidak selalu dasyat, “Segalanya, bahkan menyapu, membersihkan sayuran, menyiangi kebun dan merawat orang sakit bisa menjadi doa, jika dipersembahkan kepada Tuhan. “

Cara untuk mempersiapkan kedatangan kedua Yesus adalah dengan menjadi kudus, dan menjalani kehidupan yang suci dapat dilakukan dalam melakukan hal-hal biasa dalam kasih dan untuk Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus sang Raja

Hari Raya Kristus Raja [C] – 24 November 2019 – Lukas 23: 35-43

crossesSeringkali kita menerima begitu saja nama Yesus Kristus, tanpa menyadari makna mendalam di baliknya. Kata “Kristus” bukan bagian dari nama pribadi Yesus atau nama keluarga Yesus. Yesus mendapat nama Kristus bukan karena ayah angkatnya, Yusuf, tetapi senyatanya “Kristus” adalah sebuah gelar yang sangat penting bagi umat Yahudi dan Kristiani pada abad pertama masehi.

Kristus datang dari kata Yunani “Christos” yang berarti “yang diurapi”. Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan adalah “Mesias”. Bagi kita yang hidup dua ribu tahun setelah Yesus, gelar ini tidak begitu berarti, tetapi bagi orang-orang Yahudi yang hidup di zaman Yesus, Mesias atau Kristus adalah penggenapan dari janji Allah. Dalam Perjanjian Lama, gelar Mesias diberikan kepada salah satu tokoh terbesar di Israel, Raja Daud. Dia adalah Kristus karena dia diurapi oleh Nabi Samuel, dan dia secara pribadi dipilih oleh Allah sendiri untuk memerintah Israel. Selama masa pemerintahannya, Kerajaan Israel mencapai puncak kejayaannya.

Sayangnya, setelah kematian David, kerajaannya terus menurun, dan akhirnya dihancurkan. Pada masa Yesus, hampir satu milenium setelah David, Palestina berada di bawah penjajahan Kekaisaran Romawi, dan kehidupan menjadi sangat buruk. Tidak heran, hampir semua orang Israel mengharapkan kedatangan Mesias, raja baru, yang akan mengembalikan kejayaan Israel.

Kita percaya bahwa Yesus adalah Kristus, artinya kita percaya bahwa Yesus adalah Raja yang telah memenuhi janji Allah. Namun, dalam Injil hari ini, kita menemukan bahwa Yesus disalibkan. Sebagai raja, Dia tidak memiliki pasukan, kecuali para lelaki yang bernyali kecil yang mengaku sebagai murid-murid-Nya. Sebagai raja, Dia tidak memiliki istana kecuali gubuk kecil dan miskin di Nazareth. Dia dihina, diludahi, dan disiksa. Dia menanggung penghinaan manusia terbesar. Bahkan penjahat yang dihukum bersama-sama dengan Dia, mengejek Yesus sebagai raja yang tidak berguna.

Jika kita hanya berfokus pada salib dan penghinaan ini, kita akan gagal melihat Yesus sebagai raja. Bagi Yesus, menjadi raja bukanlah tentang mengumpulkan kekayaan, memiliki senjata paling canggih, dan ketenaran. Ini bukan tentang kemampuan menguasai atau kontrol. Yesus bukanlah Mesias yang hobinya berperang. Jadi, apa artinya menjadi Raja bagi Yesus?

 Ketika salah satu penjahat yang bertobat meminta Yesus untuk mengingatnya ketika Yesus kembali ke Kerajaan-Nya, Yesus berkata bahwa hari itu juga, ia akan berada di Firdaus. Kata Firdaus sebenarnya berasal kata Yunani “paradesos” yang berarti “taman.” Sejatinya, taman ini merujuk pada taman Eden di Kitab Kejadian. Itulah yang dilakukan Yesus sebagai raja: Dia membawa semua orang yang mengakui Dia sebagai raja ke Firdaus. Dan tidak ada raja lain di dunia yang memiliki kekuatan seperti itu untuk membawa kita ke Firdaus.

Jika kemudian kita mengakui bahwa Yesus adalah Kristus, dan sekarang kita mengerti bahwa Yesus adalah Raja kita, apakah kita menghormati Dia sebagai Raja kita? Jika Yesus adalah Raja kita, apakah kita mengizinkan Yesus mengendalikan hidup kita atau malah kita yang mengendalikan Yesus? Jika Yesus adalah pemimpin kita, apakah kita menyelaraskan hidup dan prioritas kita dengan misi-Nya, atau Yesus harus mengikuti kita? Ketika Raja kita memanggil kita untuk sebuah misi, apakah kita dengan senang hati menerimanya, atau kita lebih suka memilih rencana dan desain kita sendiri?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rumah Tuhan

Minggu Biasa ke-33 – 17 November 2019 – Lukas 21: 5-9

church in tacloban

Pada masa pemerintahan Herodes Agung, Bait Allah di Yerusalem diperbaharui, dihiasi oleh emas dan batu-batu mulia lainnya, diperluas, dan dengan demikian menjadikannya sebagai kebanggaan bangsa Yahudi. Namun, Bait Allah itu bukan hanya bangunan yang megah, tetapi terutama pusat ibadah agama Yahudi. Setiap pagi dan sore, korban dipersembahkan, dan setiap tahun, orang-orang Yahudi dari seluruh dunia melakukan ziarah ke Bait ini, dan memberi penghormatan kepada Tuhan Allah. Itu adalah tempat di mana Allah memilih untuk tinggal, tempat di mana orang Israel bertemu dengan Allah mereka, dan ini adalah rumah Allah.

Melihat pemandangan Bait Allah yang agung, banyak orang akan percaya bahwa Bait Allah itu akan bertahan selamanya karena Allah Sendiri akan mempertahankan rumah-Nya. Namun, Yesus bernubuat dan memberi tahu para murid-Nya bahwa Bait Allah yang indah ini akan dihancurkan. Tentunya, kata-kata Yesus menyinggung banyak orang Yahudi pada zaman-Nya dan salah satu tuduhan terhadap Yesus adalah Yesus berbicara menghujat Bait Allah, yang berarti melawan Allah Sendiri. Namun, 40 tahun kemudian setelah Yesus diangkat ke Surga, pada tahun 70 Masehi, orang-orang Romawi di bawah komando Jenderal Titus, membakar Bait Allah dan menghancurkan kota Yerusalem sampai rata dengan tanah.

Nubuat Yesus membuka kita pada kebenaran mendalam bahwa bahkan Allah mengizinkan rumah-Nya di dunia dihancurkan. Hagia Sophia di Konstantinopel (sekarang Istanbul) adalah gereja termegah di abad ke-4 dan ke-5 dan dianggap sebagai keajaiban arsitektur. Namun, ketika Konstantinopel jatuh ke tangan orang Turki, gereja ini berhenti berfungsi sebagai tempat ibadah Kristiani. Pada zaman kita, Katedral Notre Dame adalah bangunan Gotik ikonis di jantung kota Paris. Namun, pada 15 April 2019, api menghancurkan banyak bagian bangunan suci ini. Baru bulan ini, beberapa gereja di Chili menjadi sasaran para demonstran yang melakukan kekerasan. Mereka dengan paksa memasuki gereja-gereja, mengambil bangku dan benda-benda religius lainnya, dan membakar mereka di luar gereja, belum lagi, penodaan terhadap tabernakel. Rumah-rumah Tuhan telah menjadi objek vandalisme, brutalitas, dan kehancuran yang tak terhitung, dan Tuhan mengizinkan hal-hal ini terjadi di tengah-tengah kita. Tapi kenapa? Apakah Tuhan cukup lemah untuk menghentikan ini terjadi? Apakah Tuhan tidak peduli? Sudahkah Tuhan meninggalkan kita?

Gereja-gereja sebagai rumah Allah melambangkan iman kita. Serangan terhadap Gereja berarti serangan terhadap iman kita yang berharga. Jika Tuhan membiarkan rumah-Nya dihancurkan, Tuhan juga mengizinkan iman kita ditantang, dikejutkan, dan diguncang. Tuhan mengizinkan pencobaan menerpa hidup kita, keraguan atas iman kita, dan kegelapan untuk menyelimuti visi kita. Tapi kenapa?

Ketika api yang membakar Gereja Notre Dame padam, banyak hal telah hilang, tetapi di pusat Gereja, satu benda selamat dari nyala api yang menyala-nyala: salib besar berdiri tegak. Tuhan membiarkan rumah-Nya hancur, dan iman kita terguncang untuk menunjukkan kepada kita apa yang benar-benar penting dalam hidup dan perjalanan iman kita. Hanya Tuhan. Hal-hal yang kita bangun untuk Tuhan atau pekerjaan dan misi untuk-Nya, bahkan talenta, karisma, dan buah doa kita, dapat diambil oleh Tuhan dari kita. Ini memang penting, tetapi ini tidak kekal. Hanya satu yang kekal yakni Tuhan saja. Tuhan membiarkan kita terguncang sehingga kita dapat menemukan-Nya lagi, secara mengejutkan lebih hidup dan semakin dekat.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Seperti Malaikat

Minggu ke-32 dalam Masa Biasa – 10 November 2019 – Lukas 20: 27-38

angel n manDalam Injil hari ini, orang-orang Saduki berusaha untuk menguji Yesus. Saduki adalah faksi religius dalam agama Yahudi pada zaman Yesus, tetapi tidak seperti orang-orang Farisi yang populer, kaum Saduki hanya memegang Taurat sebagai satu-satunya sumber yang sah dari ajaran dan praktik keagamaan Yahudi, dan menolak tulisan para nabi, dan tradisi selanjutnya. Salah satu doktrin utama mereka adalah bahwa mereka tidak percaya pada kebangkitan badan. Meskipun, Yesus dan orang-orang Farisi selalu berdebat, Yesus dan orang Farisi berbagi kepercayaan dasar yang sama tentang kebangkitan tubuh. Dengan demikian, untuk menyangkal kepercayaan ini, orang Saduki menggunakan Hukum Taurat untuk membuat malu Yesus. Dalam Hukum Taurat, ada praktik untuk mengamankan garis keturunan dan warisan seorang pria yang tidak memiliki keturunan. Sebagai solusi, saudara-saudara lelaki yang meninggal akan menikahi jandanya dan diharapkan memperoleh keturunan bagi sang saudara yang telah meninggal. Kemudian, para Saduki mengajukan kesimpulan seolah-olah kebangkitan badan tidak masuk akal. “Dalam hari kebangkitan, siapakah yang menjadi suami istri ini?”

Namun, orang Saduki lupa bahwa tidak ada yang bisa menang melawan Yesus dalam debat. Yesus benar-benar menghancurkan argumentasi mereka dengan mengungkapkan apa yang akan terjadi di surga: kita akan menjadi seperti para malaikat. Siapakah malaikat ini? Malaikat atau “angelos” dalam bahasa Yunani berarti pembawa pesan. Ini menunjuk pada fungsi mereka, tetapi kodrat sejati mereka adalah roh. Sebagai roh, mereka tidak memiliki tubuh fisik, dan karena itu, mereka tidak lagi terikat pada keterbatasan tubuh. Mereka tidak memiliki hasrat seksual atau keinginan apa pun, dan karena itu, mereka tidak berkembang biak seperti manusia. Yang dapat menarik roh hanyalah hal rohani, dan karena Allah adalah roh yang paling sempurna [Yoh 4:24], hanya Allah yang dapat memberi mereka kesempurnaan.

Menjadi seperti malaikat di surga adalah tujuan akhir kita. Suatu hari, Sr. Angelica, pendiri EWTN (Eternal Word Television Network), berbincang-bincang dengan dua pria yang memiliki banyak gelar, dan mereka bangga dengan prestasi itu. Namun, selama percakapan, mereka kagum dengan kebijaksanaan dan ketenangan Sr. Angelica. Dia mengingatkan mereka bahwa gelar yang paling penting bukanlah yang diletakkan di belakang nama mereka, tetapi yang diletakkan di depan nama mereka, yakni Santo atau Santa

Perjalanan kita di bumi ini hanya masuk akal jika kita berziarah menuju tujuan di luar dunia ini, dan Yesus telah menunjukkan kepada kita bahwa tujuan ini adalah sesuatu yang spiritual, hidup seperti malaikat. Karena itu, penting bagi kita untuk memeriksa kehidupan kita apakah kita mempersiapkan diri kita setiap hari untuk hidup seperti malaikat, atau malah kita masih sibuk dengan kehidupan duniawi ini. Bagaimana kita akan mempersiapkan diri kita? Apakah kita memberi lebih banyak waktu untuk hal-hal rohani maupun aspek spiritual kehidupan kita? Apakah kita memiliki waktu berdoa? Apakah kita sering menyembah Tuhan? Apakah kita berkonsultasi dengan Roh Kudus dalam mengambil keputusan kita? Apakah kita membaca Alkitab secara teratur? Apakah kita menghabiskan waktu berkualitas bersama Yesus? Apakah kita membantu dan mengasihi sesama dengan tulus?

Penting untuk diingat bahwa Allah kita adalah Allah yang hidup, sehingga hidup kita terus berlanjut bahkan setelah kematian. Dengan demikian, jenis kehidupan yang kita jalani di dunia ini akan berlanjut ke kehidupan selanjutnya. Jika kita hidup seperti malaikat bahkan sekarang di bumi, kita tidak akan memiliki masalah untuk menyesuaikan dalam kehidupan selanjutnya. Surga dimulai di sini dan sekarang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Zakheus, sang Pemungut Cukai

Minggu Biasa ke-31 [C] – 3 November 2019 – Lukas 19:1-10

zacchaeus 2Pada zaman Yesus, setidaknya ada dua jenis pajak atau cukai. Pajak pertama adalah untuk Bait Allah di Yerusalem. Ini adalah “pajak suci”. Mereka yang memungutnya melakukan tugas mulia, dan mereka yang membayar memenuhi kewajibannya kepada Allah. Namun, pajak kedua dibebankan oleh pemerintah Romawi. Untuk mendapatkan pajak secara efektif, orang-orang Romawi mempekerjakan kolaborator lokal. Orang-orang Yahudi sangat terbebani oleh pajak ini karena sangat berat, tidak adil, dan dengan paksaan. Orang-orang Yahudi pada umumnya tentu saja membenci para pemungut pajak Yahudi yang dengan sukarela mengkhianati rakyatnya sendiri dan terlibat dalam praktik korupsi yang tamak. Ini adalah pendosa terburuk, karena najis, korup dan pengkhianat.

Tentu saja, Yusuf, Maria dan Yesus sebagai keluarga miskin, mengalami kesulitan untuk membayar pajak sendiri, dan mungkin, menjadi korban pemungut pajak yang rakus ini. Namun, terlepas dari kenyataan pahit ini, Yesus memiliki sikap yang berbeda terhadap pemungut pajak. Ia dikenal sebagai sahabat para pemungut cukai dan pendosa [Mat 11:19]. Dia berbagi mejanya dengan pemungut cukai [Luk 5:30]. Ia menghadirkan pemungut pajak sebagai protagonis dalam perumpamaannya [Luk 18: 9 dst]. Salah satu murid-Nya, Matius, pernah juga menjadi pemungut pajak sebelum dia meninggalkan segalanya dan mengikuti Yesus.

Hari ini, kita mendengarkan kisah Zakheus, bukan pemungut pajak biasa, tetapi kepala kantor pajak di kota besar Yeriko. Meskipun posisinya tinggi dan kaya, ia memiliki perawakan kecil. Jadi, orang memandang rendah dia baik secara fisik maupun agama. Namun, Yesus melakukan sesuatu yang luar biasa: Dia berinisiatif untuk memandang Zakheus yang memanjat pohon ara, memanggilnya dengan nama, dan mengundang diri-Nya ke rumah Zakheus. Ini tidak terpikirkan: Yesus memanggil dan memasuki rumah musuh publik nomor satu di kota. Kita memperhatikan bahwa Yesus tidak melakukan mukjizat yang menghancurkan bumi, tetapi gerakan sederhana dan penuh kasih dari Yesus menyentuh hati Zakheus. Di sana dan kemudian, dia bertobat dan siap untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkannya. Yesus menyatakan, “Hari ini keselamatan telah datang ke rumah ini (Luk 19: 2).”

Apa yang Yesus lakukan sangat mengganggu pikiran orang Yahudi ortodoks yang lebih suka menjauhkan diri dari orang berdosa, untuk menghindari kenajisan. Karena itu, mereka bersungut-sungut. Namun, Yesus mengambil arah yang berlawanan: untuk memasuki rumah dan berbagi meja bahkan dengan orang yang paling berdosa sakali pun, kepala pemungut pajak, untuk satu alasan: “Karena Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Luk. 19:10).

Injil menawarkan kita dua sikap terhadap saudara dan saudari kita yang bergulat dalam kehidupan mereka. Kita dapat memilih seperti kerumunan, untuk menjauhkan diri dari mereka, dan membiarkan mereka hilang, dan bahkan mencegah segala upaya untuk merangkul mereka, atau seperti Yesus untuk mengambil inisiatif untuk membantu mereka, bahkan dengan tindakan-tindakan yang sederhana. Memang benar bahwa ketika kita membuka diri, tidak ada jaminan bahwa upaya kita akan berhasil, dan kadang-kadang, kita akan dikhianati dan terluka. Bunda Teresa dari Kalkuta merawat ratusan tunawisma, tetapi beberapa dari mereka berbalik menyerangnya dan melemparkan gosip bahwa ia hanya mencari ketenaran sendiri. Inilah pilihan Yesus, inilah pilihan yang perlu kita buat.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP