Kisah Dua Orang Ibu

Minggu ke-4 Masa Adven [C]

22 Desember 2024

Lukas 1:39-45

Maria dan Elisabet adalah dua wanita yang paling kuat di dalam Alkitab. Namun, kekuatan mereka tidak berasal dari kekuatan fisik. Maria adalah seorang wanita muda dan lembut, sementara Elisabet sudah lanjut usia. Kekuatan mereka yang luar biasa terletak pada komitmen mereka yang teguh untuk mengikuti kehendak Allah. Mereka dipanggil untuk menjadi ibu. Namun, bagaimana mereka melihat panggilan mereka sebagai ibu? Dan apa hidup mereka masih relevan bagi kita sekarang?

Menjadi seorang ibu sering kali dipandang sebagai perkembangan alamiah dalam kehidupan seorang wanita. Setelah menikah, umumnya seorang wanita akan mengandung dan melahirkan anak. Tubuh wanita mengalami transformasi yang luar biasa untuk menciptakan lingkungan yang sehat bagi bayi yang sedang tumbuh. Perubahan fisiologis ini tidak hanya banyak tetapi juga bertahap, beradaptasi dengan kebutuhan bayi selama kehamilan. Aktivitas jantung, paru-paru, ginjal, dan organ-organ lainnya meningkat secara signifikan untuk mendukung ibu dan anak. Selain itu, tubuh memproduksi hormon-hormon baru yang memengaruhi berbagai organ, metabolisme, dan kondisi psikologis. Bahkan setelah melahirkan, tubuh ibu tidak langsung kembali ke kondisi sebelum hamil, melainkan terus bertransformasi untuk mendukung bayi yang baru lahir. Sebagai contoh, tubuh memproduksi ASI, yang volume dan nutrisinya, terus berubah menyesuaikan kebutuhan bayi.

Terlepas dari keajaiban proses ini, karena proses kehamilan terjadi di mana-mana dan di setiap waktu, tidak sedikit orang yang memandangnya hanya sebagai fungsi biologis yang diperlukan untuk kelangsungan hidup kita sebagai spesies. Beberapa orang melihat tubuh wanita hanya sebagai alat reproduksi belaka atau melihat rahim tidak lebih dari sebuah wadah sementara untuk bayi. Perspektif yang salah terhadap tubuh dan hubungan ibu-anak ini telah mendorong beberapa orang untuk mengambil keputusan ekstrem, termasuk aborsi. Alasan untuk keputusan tersebut beragam – ketakutan akan populasi yang berlebihan, kekhawatiran akan peningkatan emisi karbon, tantangan ekonomi, atau hanya sekedar ketidaknyamanan yang dirasakan karena memiliki anak.

Di sinilah Maria dan Elisabet menjadi sangat relevan bagi kita. Mereka memahami risiko yang ada dalam situasi unik mereka. Maria, meskipun telah bertunangan dengan Yusuf, hamil tanpa keterlibatan seorang pria pun. Ia berisiko dituduh berzinah, sebuah kejahatan yang dapat dihukum rajam menurut hukum Taurat (Ulangan 22:22-24). Di sisi lain, Elisabet menghadapi bahaya fisik akibat kehamilan di usia tua, yang dapat membahayakan nyawanya. Terlepas dari risiko-risiko tersebut, kedua perempuan ini tetap menjalankan peran mereka sebagai ibu. Mengapa? Karena kedua wanita ini menyadari bahwa kehamilan mereka bukan hanya proses biologis, namun percaya bahwa menjadi ibu adalah kehendak Tuhan bagi mereka – sebuah panggilan suci. Mereka percaya bahwa Tuhan yang memanggil mereka ke dalam misi kudus ini juga akan menopang dan memenuhi kebutuhan mereka.

Kekudusan adalah kunci kebahagiaan sejati. Inilah sebabnya mengapa pertemuan antara Maria dan Elisabet ditandai dengan sukacita dan bukannya ketakutan atau kecemasan. Di dunia saat ini, di mana memiliki anak sering kali dipandang sebagai beban dan bukan sebagai berkat, tindakan iman, atau sumber sukacita, Maria dan Elisabet menjadi tanda pengharapan. Keberanian dan iman mereka mengilhami kita untuk melihat menjadi seorang ibu sebagai panggilan ilahi dan sumber kebahagiaan yang mendalam.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk Refleksi:

  1. Bagaimana kita memandang kehamilan? Apakah kehamilan hanyalah sebuah proses biologis, peristiwa sosial-budaya, beban ekonomi, atau panggilan ilahi untuk menjadi kudus?
  2. Untuk para ibu: Bagaimana Anda memandang anak-anak Anda? Bagaimana Anda mengasuh mereka dan membimbing mereka dalam perjalanan hidup mereka?
  3. Untuk laki-laki: Peran apa yang Anda mainkan dalam mendukung ibu hamil atau ibu yang merawat bayi mereka?

Rejoice, But Why?

3rd Sunday of Advent [B]

December 15, 2024

Luke 3:10-18

We are now in the third Sunday of Advent, also known as the Gaudete Sunday. “Gaudete” is a Latin word meaning “Rejoice!” This name comes from the introit or the opening antiphon of the Mass, taken from Phil 4:4-5, “Rejoice in the Lord always; again I will say, Rejoice. Let your gentleness be known to everyone. The Lord is at hand!” Yet, why should we rejoice in this season of Advent?

The coming of the Lord is, at its heart, a cause for great joy. On the first Sunday of Advent, we heard about the terrifying events surrounding the second coming of Jesus at the end of time, “the powers of heaven will be shaken (Luk 21:26).” Yet, this fear is only those who do not love Jesus, those who are afraid of His judgment. For those who love Jesus and live according to His commandments, His coming is a reason to rejoice, for we are confident that we will be with Him.

But why do we experience profound joy when we are with Jesus? Think about our relationship with those we love. When we love someone, we desire to be close and share time together. This bond brings us joy and peace. When we love our children, we desire to be together with them and spend time with them. The experience brings joy in our hearts. It is the same with Jesus. If we truly love Jesus, we long to be united with Him, and when we embrace Jesus, we receive the joy that our hearts desire. The more deeply we love Jesus, the deeper the joy we experience when He comes.

However, the opposite is also true. If we do not love Jesus as we should, or even we hate Jesus, then we will not rejoice at His coming. Instead, we fear His coming. But what does it mean to “hate” Jesus? It can be more subtle than we think.

  • Forsaking Jesus: We “hate” Jesus when we abandon Him or no longer trust in Him.
  • Loving other things more: We “hate” Jesus also when we prioritize other things like wealth, popularity, and pleasures more than Jesus.
  • Excessive self-love: Perhaps, most subtly, we “hate” Jesus when we love ourselves excessively and inordinately. The center of our lives is nothing but ourselves, in other words, being narcissistic. We need to be very careful with this inordinate love for ourselves because we may not be conscious about it. We are always going to the Church or active in many parish’s organizations, but the real motivation is that we can be seen by others as pious man or woman.

We rejoice because we love Jesus. Jesus understands how painful it is to be far from one we love dearly. Thus, He comes to us through His Word and in the Eucharist. While this is not a perfect union, it is enough for us to rejoice in the Lord.

Questions for reflection:

Do we love Jesus above all else? How do we love Jesus in our context as parents, spouses, children, professional, or students? What do we love ourselves more than Jesus? Do we teach other to love Jesus?

Bersukacitalah, Tetapi Mengapa?

Minggu ke-3 Masa Adven [B]

15 Desember 2024

Lukas 3:10-18

Sekarang kita berada di hari Minggu ketiga masa Adven, yang juga dikenal sebagai Minggu Gaudete. “Gaudete” adalah sebuah kata dalam bahasa Latin yang berarti ”Bersukacitalah!” Nama ini berasal dari antifon pembuka Misa, yang diambil dari Flp. 4:4-5, “Bersukacitalah selalu dalam Tuhan, sekali lagi aku akan berkata: Bersukacitalah. Hendaklah kelembutanmu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!” Namun, mengapa kita harus bersukacita di masa Adven ini?

Kedatangan Tuhan pada dasarnya adalah alasan untuk bersukacita. Pada hari Minggu pertama masa Adven, kita mendengar tentang peristiwa-peristiwa menakutkan seputar kedatangan Yesus yang kedua kali di akhir zaman, “kuasa-kuasa langit akan goncang (Luk 21:26).” Namun, ketakutan ini hanya akan dirasakan oleh mereka yang tidak mengasihi Yesus, yaitu mereka yang takut akan penghakiman-Nya. Bagi mereka yang mengasihi Yesus dan hidup sesuai dengan perintah-perintah-Nya, kedatangan-Nya adalah alasan untuk bersukacita, karena kita yakin bahwa kita akan bersama dengan-Nya.

Tetapi mengapa kita mengalami sukacita yang mendalam ketika kita bersama Yesus? Kita bisa membandingkannya dengan hubungan kita dengan orang-orang yang kita kasihi. Ketika kita mengasihi seseorang, kita ingin dekat dan berbagi waktu bersama mereka. Ikatan ini memberikan kita sukacita dan kedamaian. Ketika kita mengasihi anak-anak kita, kita ingin bersama dan menghabiskan waktu bersama mereka. Pengalaman ini membawa sukacita dalam hati kita. Sama halnya dengan Yesus. Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus, kita rindu untuk bersatu dengan-Nya, dan ketika kita memeluk Yesus, kita menerima sukacita yang didambakan oleh hati kita. Semakin dalam kita mengasihi Yesus, semakin dalam pula sukacita yang kita alami ketika Dia datang.

Akan tetapi, hal yang sebaliknya juga benar. Jika kita tidak mengasihi Yesus sebagaimana mestinya, atau bahkan membenci Yesus, maka kita tidak akan bersukacita atas kedatangan-Nya. Sebaliknya, kita akan takut akan kedatangan-Nya. Tetapi apakah yang dimaksud dengan “membenci” Yesus? Hal ini bisa jadi lebih halus daripada yang kita pikirkan.

  • Meninggalkan Yesus: Kita “membenci” Yesus ketika kita meninggalkan-Nya atau tidak lagi percaya kepada-Nya.
  • Lebih mengasihi hal-hal lain: Kita “membenci” Yesus juga ketika kita lebih memprioritaskan hal-hal lain seperti kekayaan, popularitas, dan kesenangan daripada Yesus.
  • Mengasihi diri sendiri secara berlebihan: Mungkin, yang paling tidak disadari, kita “membenci” Yesus ketika kita mengasihi diri kita sendiri secara berlebihan dan tidak teratur. Pusat kehidupan kita tidak lain adalah diri kita sendiri, dengan kata lain, kita menjadi narsis. Kita harus sangat berhati-hati dengan cinta yang berlebihan kepada diri kita sendiri karena kita mungkin tidak menyadarinya. Kita selalu pergi ke Gereja atau aktif dalam banyak organisasi di paroki, tetapi motivasi sebenarnya adalah agar kita dapat dilihat orang lain sebagai pria atau wanita yang saleh.

Kita bersukacita karena kita mengasihi Yesus. Yesus mengerti betapa sulitnya berada jauh dari orang yang sangat kita kasihi. Oleh karena itu, Ia datang kepada kita melalui Firman-Nya dan di dalam Ekaristi. Meskipun ini bukanlah persatuan yang sempurna, ini cukup bagi kita untuk bersukacita di dalam Tuhan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk direnungkan:

Apakah kita mengasihi Yesus di atas segalanya? Bagaimana kita mengasihi Yesus dalam konteks kita sebagai orang tua, pasangan, anak, profesional, atau pelajar? Apakah kita lebih mengasihi diri kita sendiri daripada Yesus? Apakah kita mengajar orang lain untuk mengasihi Yesus?

Why John the Baptist?

Second Sunday of Advent [C]

December 8, 2024

Luke 3:1-6

On the second Sunday of Advent, the Church presents St. John the Baptist as a model for preparing the way for Jesus. But why is John always chosen as the example? The answer lies in the fact that John is one of the most significant figures in the Bible, exemplifying how we should prepare for the coming of Christ. Especially in the Gospel of Luke, we see that John precedes Jesus and prepares His way in three important stages. So, what are these three stages?

1) Through John’s Birth. John was the son of Zechariah, a priest, and Elizabeth. Since Elizabeth and Mary of Nazareth were relatives, this makes John and Jesus family. In Luke’s account, John’s birth is portrayed as an answer to his parents’ prayers. His birth is a miracle, as it occurred when Zechariah and Elizabeth were old and considered barren. This miraculous birth prefigures an even greater one—the birth of Jesus. While John was conceived despite his parents’ old age, Jesus was conceived without the involvement of any man. John’s birth fulfils God’s promises in the Old Testament (such as to Abraham and Sarah, Gen 17-18; Elkanah and Hannah, 1 Sam 1:1-20), while the birth of Jesus inaugurates the New Testament era.

2) Through John’s Preaching. Today’s Gospel speaks of John preaching a baptism of repentance for the forgiveness of sins (Luke 3:3). This fulfills the prophecy of Isaiah, which foretold that a great prophet would prepare the way for the Lord (Isaiah 40:3). John teaches that the best way to prepare for the coming of the Lord is through repentance. Without repentance, our Advent and Christmas celebrations will be shallow. There’s little meaning in decorating our homes or enjoying festive meals with loved ones if we do not first seek to reform our lives.

3) Through John’s Death. John’s death comes at the hands of Herod’s executioners. He had condemned Herod, the ruler of Galilee, for living in sin—taking his brother’s wife and divorcing his own wife. This angered Herod and his wife. When the opportunity arose, Herod, to please his wife, ordered John’s execution (Luke 9:7-9; Mark 6:14-29; Matthew 14:1-12). John was beheaded because he faithfully preached the truth, calling for repentance. Jesus, too, would eventually be crucified for preaching the truth of the Gospel and calling the Jewish leaders in Jerusalem to repentance. The lesson is not just about how John died, but about how he lived—faithfully preaching the truth, even at the cost of his life. We are also invited not only to reform our own lives but to encourage others to repent, even in the face of rejection.

John is Jesus’ predecessor—in his birth, his preaching, and his death. Through his entire life, John prepared the way for Jesus. This is why John is one of the best models in the Bible for us to follow during this season of Advent.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Reflection Questions:

  • Inspired by John the Baptist, how will you prepare yourself this Advent?
  • What lessons can you draw from John’s example?
  • Like John, are you willing to invite your family, relatives, and friends to repentance and help bring them closer to Jesus?

Mengapa Yohanes Pembaptis?

Minggu Kedua Masa Adven [C]

8 Desember 2024

Lukas 3:1-6

Pada hari Minggu kedua masa Adven, Gereja memberikan Yohanes Pembaptis sebagai teladan dalam mempersiapkan kedatangan Tuhan. Tetapi mengapa Yohanes selalu dipilih sebagai teladan? Jawabannya adalah karena ada banyak hal yang kita bisa pelajari dan teladani dari Yohanes. Khususnya dalam Injil Lukas, kita melihat bahwa Yohanes mendahului Yesus dan mempersiapkan jalan-Nya dalam tiga tahap penting. Jadi, apakah ketiga tahap tersebut?

1) Melalui Kelahiran Yohanes. Yohanes adalah anak dari Zakharia dan Elisabet. Karena Elisabet dan Maria dari Nazaret adalah saudara, maka hal ini menjadikan Yohanes dan Yesus sebagai satu keluarga besar. Dalam Injil Lukas, kelahiran Yohanes digambarkan sebagai jawaban atas doa orang tuanya. Kelahirannya adalah sebuah mukjizat, karena terjadi ketika Zakharia dan Elisabet sudah tua dan dianggap mandul. Kelahiran yang ajaib ini menjadi gambaran dari kelahiran yang lebih besar lagi, yaitu kelahiran Yesus. Sementara Yohanes dikandung meskipun orang tuanya sudah tua, Yesus dikandung oleh Roh Kudus dan tanpa campur tangan laki-laki. Kelahiran Yohanes menggenapi janji-janji Allah dalam Perjanjian Lama (seperti kepada Abraham dan Sara, Kej. 17-18; Elkana dan Hana, 1 Sam. 1:1-20), sementara kelahiran Yesus meresmikan era Perjanjian Baru.

2) Melalui Pewartaan Yohanes. Injil hari ini berbicara tentang Yohanes yang memberitakan baptisan pertobatan untuk pengampunan dosa (Lukas 3:3). Hal ini menggenapi nubuat Yesaya, yang menubuatkan bahwa seorang nabi besar akan mempersiapkan jalan bagi Tuhan (Yesaya 40:3). Yohanes mengajarkan bahwa cara terbaik untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan adalah melalui pertobatan. Tanpa pertobatan, perayaan Adven dan Natal kita akan menjadi dangkal. Tidak ada artinya menghias rumah kita atau menikmati makanan bersama orang-orang terdekat jika kita tidak terlebih dahulu berusaha untuk memperbaharui hidup kita.

3) Melalui Kematian Yohanes. Kematian Yohanes terjadi di tangan para algojo Herodes. Ia telah menegur Herodes, penguasa Galilea, karena hidup dalam dosa, yakni mengambil istri saudaranya dan menceraikan istrinya sendiri. Hal ini membuat Herodes dan istrinya geram. Ketika ada kesempatan, Herodes, untuk menyenangkan hati istrinya, memerintahkan untuk mengeksekusi Yohanes (Luk 9:7-9; Mar 6:14-29; Mat 14:1-12). Yohanes dipenggal karena ia dengan setia memberitakan kebenaran, menyerukan pertobatan. Yesus juga pada akhirnya akan disalibkan karena memberitakan kebenaran Injil dan memanggil para pemimpin Yahudi di Yerusalem untuk bertobat. Pelajaran yang dapat kita ambil bukan hanya tentang bagaimana Yohanes wafat, tetapi juga tentang bagaimana ia hidup, yakni dengan setia memberitakan kebenaran, bahkan dengan mengorbankan nyawanya. Kita juga diundang untuk tidak hanya mengubah hidup kita sendiri, tetapi juga mendorong orang lain untuk bertobat, bahkan saat kita menghadapi penolakan.

Yohanes adalah pendahulu Yesus, di dalam kelahiran, kehidupan, dan kematiannya. Sepanjang hidupnya, Yohanes mempersiapkan jalan bagi Yesus. Inilah sebabnya mengapa Yohanes menjadi salah satu teladan terbaik dalam Alkitab yang dapat kita ikuti selama masa Adven ini.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan Refleksi:

– Terinspirasi oleh Yohanes Pembaptis, bagaimana kita akan mempersiapkan diri kita pada masa Adven ini?

– Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari teladan Yohanes?

– Seperti Yohanes, apakah kita bersedia mengundang keluarga, kerabat, dan teman-teman kita untuk bertobat dan membantu membawa mereka lebih dekat kepada Yesus?

Advent: Are We Ready?

1st Sunday of Advent [C]

December 1, 2024

Luke 21:25–28, 34–36

The first Sunday of Advent marks the beginning of the new liturgical year of the Church. Advent, which means “the arrival,” is a time to prepare for the coming of Christ, both His first coming in Bethlehem, over 2000 years ago, and His second coming at the end of time. Basically, through this season, the Church teaches us to wait. Yet, how do we prepare ourselves to wait for Christ?

There are three key steps in this preparation:

First. Knowing who is coming. The most basic thing to prepare the arrival of someone is to know who they are. The preparation we make to welcome a close friend into our home is vastly different from the preparation to welcome a country’s president. The person coming will dictate overall planning, the resources needed, and the level of effort involved. The more important the person, the greater resources we commit. Advent reminds us that the one who is coming is Jesus! If Jesus is God, then all our lives, time, strength, and hearts are devoted to welcome Him.

Second. Knowing the reason of the coming. The nature of our preparations also depends on the reason of the visit. If a friend comes to borrow a book, we simply make the book available. But if a relative from another town is visiting for several days, we prepare the space for her stay, buy or cook necessary food, and ensure everything she may need. Advent teaches us that Jesus comes at the end of time to bring final judgement. He will be just both to the righteous and the wicked. Surely, we do not want to be numbered among evil-doers. So, our preparation is to become a righteous by faithfully doing what is pleasing to Him.

Third. Knowing the time of the coming. The timing of arrival also shapes our preparations. A mother who knows the expected date of her child’s birth can plan accordingly. Parents who are expecting the arrival of their daughter after study abroad, will go to the airport ahead of time, and perhaps bringing small, lovely gifts. However, Advent tells us a different story. While the Bible assures us that Jesus surely will come, it also makes clear that we are not to know when Jesus comes. Therefore, we must live as though Jesus is coming at any moment. Every second of our lives is an opportunity to make ourselves ready to stand before Him.

Advent season is rightly called as the time of expectation. Through this season, the Church teaches us how to expect Jesus’ coming in our lives.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

One crucial element in our preparation is the Eucharist. The Mass is often referred to as “Jesus’ third coming”.  Jesus is present sacramentally, and the way we approach the Mass is most likely how we will face Jesus in the final judgement. Do we receive Jesus worthily in the Eucharist? What kind spiritual preparation we do before we go the mass? Do we approach Jesus in the Eucharist with eagerness and devotion or do we feel lazy and uninspired?

Adven: Sudahkah Kita Siap?

Hari Minggu Pertama Masa Adven [C]

1 Desember 2024

Lukas 21:25-28, 34-36

Minggu pertama Adven menandai dimulainya tahun liturgi baru Gereja. Adven, yang berarti “kedatangan”, adalah waktu untuk mempersiapkan kedatangan Kristus, baik kedatangan-Nya yang pertama di Betlehem, lebih dari 2000 tahun yang lalu, maupun kedatangan-Nya yang kedua di akhir zaman. Pada dasarnya, melalui masa ini, Gereja mengajarkan kita untuk menantikan Yesus. Namun, bagaimana kita mempersiapkan diri kita untuk menantikan Kristus?

Ada tiga langkah kunci dalam persiapan ini:

Pertama. Mengetahui siapa yang akan datang. Hal yang paling mendasar untuk mempersiapkan kedatangan seseorang adalah dengan mengetahui siapa mereka. Persiapan yang kita lakukan untuk menyambut seorang teman dekat datang ke rumah kita sangat berbeda dengan persiapan untuk menyambut seorang presiden sebuah negara. Orang yang datang akan menentukan keseluruhan perencanaan, sumber daya yang dibutuhkan, dan tingkat usaha yang diperlukan. Semakin penting orang tersebut, semakin besar sumber daya yang kita sediakan. Masa Adven mengingatkan kita bahwa Dia yang akan datang adalah Yesus! Jika Yesus adalah Tuhan, maka seluruh hidup, waktu, kekuatan, dan hati kita akan dikhususkan untuk menyambut Dia.

Kedua. Mengetahui alasan kedatangannya. Bentuk persiapan kita juga tergantung pada alasan kunjungan. Jika seorang teman datang untuk meminjam buku, kita cukup menyediakan buku tersebut. Tetapi jika seorang kerabat dari kota lain berkunjung selama beberapa hari, kita mempersiapkan tempat untuk menginap, membeli atau memasak makanan yang diperlukan, dan memastikan segala sesuatu yang mungkin ia perlukan. Masa Adven mengajarkan kepada kita bahwa Yesus datang di akhir zaman untuk membawa penghakiman terakhir. Dia akan berlaku adil kepada orang benar dan orang jahat. Tentunya, kita tidak ingin dimasukkan dalam golongan orang-orang jahat. Jadi, persiapan kita adalah menjadi orang benar dengan setia melakukan apa yang berkenan kepada-Nya.

Ketiga. Mengetahui waktu kedatangannya. Waktu kedatangan juga membentuk persiapan kita. Seorang ibu yang mengetahui tanggal perkiraan kelahiran bayinya dapat mempersiapkan diri dengan baik. Orang tua yang menantikan kedatangan anak perempuannya setelah belajar di luar negeri, akan pergi ke bandara lebih awal, dan mungkin membawa hadiah kecil. Namun, Adven menceritakan kisah yang berbeda. Meskipun Kitab Suci menyatakan bahwa Yesus pasti akan datang, Kitab Suci juga menjelaskan bahwa kita tidak akan tahu kapan Yesus akan datang. Oleh karena itu, kita harus hidup seolah-olah Yesus akan datang setiap saat. Setiap detik dalam hidup kita adalah kesempatan untuk mempersiapkan diri kita untuk berdiri di hadapan-Nya.

Masa Adven disebut sebagai masa penantian. Melalui masa ini, Gereja mengajarkan kita untuk menantikan kedatangan Yesus dalam hidup kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Salah satu elemen penting dalam persiapan kita adalah Ekaristi. Misa sering disebut sebagai “kedatangan Yesus yang ketiga kalinya”.  Yesus hadir secara sakramental, dan sikap kita dalam mengikuti Misa tidak akan berbeda dengan sikap kita saat menghadapi Yesus pada penghakiman terakhir. Apakah kita menerima Yesus dengan layak dalam Ekaristi? Persiapan rohani seperti apa yang kita lakukan sebelum menghadiri misa? Apakah kita menghampiri Yesus dalam Ekaristi dengan penuh semangat dan devosi atau kita merasa malas dan tidak terinspirasi?

Jesus, Our King

Solemnity of Christ the King [B]

November 24, 2024

John 18:33b-37

In today’s world, the concept of kingship might feel weird and even obsolete. Many of us live in democratic societies, where we elect persons we like to be our leaders and choose someone else when we feel they are no longer fit for the office. We value our freedom and ensure our leaders will not take our freedom. The pomp and grandeur of royalty—palaces, castles, robes, and noble ceremonies—are often viewed as relics of the past. Yet, as Christians, we are called to reflect on and embrace the kingship of Jesus. How can we truly appreciate Jesus’ identity as our King?

First, Jesus, the King who serves. Yes, Jesus is King, but unlike any other. Gabriel, the archangel, announced his royal birth, “He will reign over the house of Jacob forever, and of his kingdom there will be no end (Luk 1:33).” Yet, Jesus revealed how He was going to be a king, “For the Son of Man came not to be served but to serve, and to give his life a ransom for many (Mar 10:45).” Here, the roles are reversed. Instead of demanding service from His subjects, Jesus serves His people with unparalleled humility. His ultimate act of service was offering Himself on the cross for our salvation. Even now, as the risen King in heaven, Jesus continues to serve by interceding for us before the Father (Heb 7:25).

Second, Jesus, the King of the universe. Though Jesus was born as a Jew and prophesied as the Messiah of Israel, His dominion is universal. After His resurrection, Jesus told His disciples, “All authority in heaven and earth has been given to me. (Mat 28:18)” Jesus is not only King of all men but also of all things. From the biggest stars to the smallest sub-atomic particle and even realities that modern science has yet to discover, all are within His governance and providence. Not only visible realities but also invisible beings are under Jesus. Then again, since Jesus’ kingship is about service, Jesus also serves all things by sustaining their existence, otherwise, all things will collapse to nothingness.

Third, Jesus is our King. Jesus’ kingship is not distant or abstract—it is deeply personal. As the King of all creation, He governs everything for our good because He knows and loves each of us dearly. The intricate design of the universe, from the laws of physics to the fine-tuned conditions that allow life on earth, reflects His loving care. Our bodies, composed of countless atoms and cells, are held together under His command. The visible cosmos and even spiritual beings are under His commands to protect and lead us to true happiness.

While we are often consumed with our daily concerns, the King is taking care of us through His governance of the universe, both visible and invisible. His kingship is nothing but love, service and care.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for reflections:

What is your concept of a king? Do you see Jesus as a king? What kind of King? Or, are you more comfortable with other titles of Jesus, such as the good shepherd? Do we follow Jesus our King? How do we serve our King? Do we obey Him, or do we rebel against Him? Do we also care for other creations because they serve the same King as us? Do we thank the angels for guarding us?

Yesus, Raja Kita

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam [B]

24 November 2024

Yohanes 18:33b-37

Di zaman sekarang, konsep raja mungkin terasa aneh dan bahkan ketinggalan zaman. Banyak dari kita hidup dalam masyarakat yang demokratis, di mana kita memilih orang-orang yang kita sukai untuk menjadi pemimpin kita, dan memilih yang lain ketika kita merasa bahwa mereka tidak lagi cocok untuk memimpin. Kemegahan dan keagungan kerajaan-istana, benteng, jubah, dan upacara-upacara kebangsawanan-sering kali dipandang sebagai peninggalan masa lalu. Namun, Gereja memanggil kita untuk merenungkan dan menerima Yesus sebagai Raja. Bagaimana kita dapat benar-benar menghargai identitas Yesus sebagai Raja kita?

Pertama, Yesus adalah raja yang melayani. Ya, Yesus adalah raja, tetapi tidak seperti raja-raja lainnya. Gabriel, sang malaikat agung, mengumumkan kelahiran-Nya sebagai raja, “Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan (Luk. 1:33).” Namun, Yesus menyatakan bagaimana Dia akan menjadi raja, “Karena Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mar 10:45).” Alih-alih menuntut pelayanan dari umat-Nya, Yesus melayani umat-Nya dengan kerendahan hati yang luar biasa. Tindakan pelayanan-Nya yang paling utama adalah mengorbankan diri-Nya di kayu salib demi keselamatan kita. Bahkan sekarang, sebagai Raja yang telah bangkit di surga, Yesus terus melayani dengan menjadi pengantara kita di hadapan Bapa (Ibr. 7:25).

Kedua, Yesus, raja semesta. Meskipun Yesus dilahirkan sebagai seorang Yahudi dan dinubuatkan sebagai Mesias Israel, kekuasaan-Nya bersifat universal. Setelah kebangkitan-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. (Matius 28:18)” Yesus bukan hanya raja atas semua manusia, tetapi juga atas segala sesuatu. Dari bintang terbesar hingga partikel sub-atom terkecil, dan bahkan realitas yang belum ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern, semuanya berada dalam pemerintahan dan penyelenggaraan-Nya. Tidak hanya realitas yang terlihat, tetapi juga makhluk-makhluk yang tidak terlihat juga berada di bawah kekuasaan Yesus. Kemudian, karena kerajaan Yesus adalah tentang pelayanan, maka Yesus juga melayani segala sesuatu dengan melestarikan keberadaan mereka, jika tidak, segala sesuatu akan runtuh menuju ketiadaan.

Ketiga, Yesus adalah Raja kita. Kerajaan Yesus tidaklah jauh atau abstrak, tetapi sangat personal. Sebagai Raja atas segala ciptaan, Dia mengatur segala sesuatu untuk kebaikan kita karena Dia mengenal dan mengasihi kita masing-masing. Desain alam semesta yang rumit, dari hukum fisika hingga kondisi yang disesuaikan dengan baik yang memungkinkan kehidupan di Bumi, mencerminkan perhatian-Nya yang penuh kasih. Bahkan tubuh kita sendiri, yang terdiri dari atom dan sel yang tak terhitung jumlahnya, disatukan di bawah perintah-Nya. Tidak hanya alam semesta yang terlihat, bahkan makhluk-makhluk spiritual pun berada di bawah perintah-Nya untuk melindungi dan menuntun kita menuju kebahagiaan sejati.

Sementara kita sering kali sibuk dengan urusan sehari-hari, sang Raja memelihara kita melalui pemerintahan-Nya atas seluruh alam semesta, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Pemerintahan-Nya sebagai raja tidak lain adalah kasih, pelayanan dan perhatian.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Apa konsepmu tentang seorang raja? Apakah kamu melihat Yesus sebagai seorang raja? Raja yang seperti apa Dia itu? Atau, apakah kamu lebih nyaman dengan sebutan lain Yesus seperti gembala yang baik? Apakah kita mengikuti Yesus sebagai Raja kita? Bagaimana kita melayani Raja kita? Apakah kita menaati-Nya, atau kita memberontak terhadap-Nya? Apakah kita juga menjaga ciptaan lain karena mereka melayani Raja yang sama seperti kita? Apakah kita berterima kasih kepada para malaikat yang telah menjaga kita?

We and the Saints

33rd Sunday in Ordinary Time [B]
November 17, 2024
Mark 13:24-32

When someone asks if we want to go to heaven, we quickly say, “Yes!” But if asked if we want to become saints, our enthusiasm often fades. This is surprising because everyone in heaven is a saint. To be a saint means to be in heaven. So why do we separate the idea of heaven from being a saint?

At least, there are three reasons:

  1. Misunderstanding the Catholic Faith: Some of us may not fully understand our faith. We might think there are two groups in heaven: well-known saints like the Blessed Mother, St. Joseph, St. Dominic, and St. Francis, and a second group of non-saints. We assume saints are only those who have been officially recognized and celebrated with feast days. But this is not true. All people in heaven are saints, even if we don’t know their names. That’s why we celebrate All Saints’ Day, honoring every person who by God’s grace has reached heaven. One of those saints could be a relative or ancestor!
  2. Thinking It’s Too Hard to Be a Saint: We read stories about saints and feel like we could never be as good as them. Saints seem perfect—extremely lovely, always praying, and some even performed miracles. And martyrs faced painful deaths for their faith. This level of holiness feels impossible for us because we are aware of our weaknesses and sins. But here’s the truth: saints didn’t become holy by their efforts alone; they depended on God’s grace. They were imperfect humans, like all of us, who allowed God’s love to transform them.
  3. Fear of Death: We might think that becoming a saint means we must die first, and we do not want to die! However, not all death is physical and biological. We need to die also to ourselves. This means letting go of worldly attachments and sinful desires.

In today’s Gospel, Jesus speaks about His return in glory and the signs that will come before it—darkened skies, a dim moon, and falling stars. This can mean the end of an era or even the end of the world. Yet, this can also tell us a deeper lesson: the world we know is temporary, destructible, and if we cling too tightly to it, we will lose everything. We need to choose: will we die to this world and live for God, or die with this world, and losing God.

We ask God to help us dying to ourselves, letting go of the world, and live more for Christ. Then, whenever Jesus comes, we will be ready to stand before Him, truly alive, just like the saints in heaven.

Rome

Valentinus B. Ruseno, OP

Questions for Reflection:

What do we think heaven is like? How do we view the saints and their roles in our lives? Do we want to become saints, or are we too attached to the world? What are the things we cling to in this life? How are we preparing for Jesus’ coming?