Mengenal Siapa dan Bagaimana Mengasihi

Minggu ke-15 dalam Masa Biasa [C]

Juli 13, 2025

Lukas 10:25-37

Jika kita berada dalam situasi yang sama dengan perumpamaan yang diceritakan Yesus, apakah yang akan kita lakukan? Apakah kita akan bertindak seperti imam dan orang Lewi yang mengabaikan dan menghindari orang yang terluka itu? Atau apakah kita, seperti orang Samaria yang menunjukkan belas kasih dan menolong orang yang membutuhkan? Ataukah kita akan melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda?

Di era digital seperti sekarang ini, dengan adanya gadget berteknologi tinggi, kita bahkan mungkin melakukan hal yang tidak terpikirkan dan tidak terbayangkan, terutama di zaman Yesus. Alih-alih menolong, kita mungkin akan mengeluarkan ponsel kita untuk merekam kejadian tersebut, mengambil foto selfie dengan korban, atau bahkan membuat livestreaming kejadian tersebut! Walaupun kedengarannya aneh, hal ini tidak sepenuhnya mengada-ada.

Kita hidup dua milenium setelah Orang Samaria yang Baik Hati ini, dan kehidupan modern membuat kita semakin sulit untuk berbuat baik dan menolong mereka yang membutuhkan. Sebelum menolong seseorang, kita menghadapi banyak sekali keraguan dan ketidakpastian: Apakah orang ini benar-benar membutuhkan pertolongan, atau hanya penipuan? Apakah saya bisa mendapat masalah karena menolongnya? Apakah saya punya waktu, dengan pekerjaan dan tanggung jawab lainnya? Kerumitan hidup modern sering kali melumpuhkan kita, sehingga sulit untuk mengasihi sesama kita, terutama mereka yang paling membutuhkan. Jadi, bagaimana seharusnya kita menanggapinya?

1. Mengasihi Sesama Adalah Mengasihi Allah

Kita perlu mengingat bahwa mengasihi sesama kita haruslah merupakan ungkapan kasih kita kepada Allah. Injil memanggil kita untuk mengasihi Allah dengan sepenuh hati dalam segala hal yang kita lakukan. Ini berarti bahwa bekerja keras untuk menafkahi keluarga kita adalah tindakan kasih kepada Allah, karena Allah mempercayakan mereka dalam pemeliharaan kita. Membesarkan anak-anak kita dalam hikmat dan iman adalah ungkapan pengabdian kita kepada-Nya karena mereka adalah anugerah Tuhan. Bahkan merawat tubuh kita, melalui makanan sehat dan kebiasaan yang baik, juga merupakan bentuk penghormatan kepada Allah, karena tubuh kita adalah berkat-Nya bagi kita.

2. Ketahuilah Prioritas Kita dalam Kasih

Kita bukanlah superhero! Kita tidak dapat menolong semua orang sekaligus. Tanggung jawab pertama kita adalah mengasihi mereka yang telah Tuhan tempatkan dalam pemeliharaan kita. Sebagai orang tua, tugas utama kita adalah melindungi, menafkahi, dan mendidik anak-anak kita. Jika kita menghabiskan lebih banyak waktu untuk melayani di gereja dan mengabaikan keluarga kita, tentu ada sesuatu yang salah. Hanya setelah kita memenuhi tanggung jawab utama kita, menolong orang lain akan mengalir dengan alamiah, dan bukan sekedar pelarian atau mencari sensasi.

3. Tahu Cara Mengasihi dengan Baik

Setelah mengetahui siapa yang perlu kita kasihi, maka kita perlu tahu bagaimana cara mengasihi mereka. Mengasuh anak, misalnya, menuntut dedikasi total. Mengapa? Tuhan merancang anak-anak untuk membutuhkan lebih dari sekedar makanan, tempat tinggal, dan pakaian. Mereka membutuhkan kehadiran emosional, teladan, dan bimbingan yang konstan. Banyak permasalahan perkembangan dan kesehatan mental pada anak-anak saat ini berasal dari ketidakhadiran orang tua – baik secara fisik maupun emosional – yang menganggap bahwa uang dapat menyelesaikan segalanya.

Menjadi Orang Samaria yang Baik Hati dimulai dari rumah. Jika kita tidak bisa mengasihi orang-orang terdekat kita, bagaimana kita bisa benar-benar mengasihi orang yang kita tidak kenal?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Bagaimana kita mengasihi diri kita sendiri? Bagaimana kita mengasihi pasangan kita? Bagaimana kita mengasihi anak-anak kita? Bagaimana kita mencintai panggilan kita? Bagaimana kita melihat prioritas cinta kita?

Seventy

14th Sunday in Ordinary Time [C]

July 6, 2025

Luke 10:1-20

The sending of the seventy disciples is a story unique to the Gospel of Luke. This episode reveals an important truth: Jesus’ followers were far more than just the twelve apostles. But why did He choose the number seventy?

There are several possible reasons:

  1. A Reflection of Jesus’ True Following

The twelve apostles were not Jesus’ only disciples. Many others followed and learned from Him. While the Twelve were chosen as leaders of His growing community, they were not the only ones committed to His mission. The number seventy (or seventy-two, in some manuscripts) suggests a much larger group of believers dedicated to Jesus’ cause.

  • Fulfilment of the Old Testament

In the Old Testament, seventy elders were appointed to assist Moses and Aaron in leading the Israelites through the wilderness (Num 11:16-17). These elders ascended Mount Sinai, where they encountered God and even shared a meal in His presence (Exo 24:9-11). Just as Moses and Aaron relied on these leaders to guide Israel to the Promised Land, so also Jesus called and sent out the seventy to lead God’s people toward the true Promised Land, the Kingdom of God.

  • A Symbol of Fullness and Covenant

In Scripture, the number seven represents completeness and God’s covenant. For example:

  • Creation was completed in seven days (Gen 1), symbolizing divine order and perfection.
  • The Hebrew word for “seven” (sheva) is also linked to covenant-making. Thus, in Hebrew, when we say that we make “seven,” it means we make a covenant.

By multiplying seven by ten, the number seventy amplifies this meaning: God’s perfection and covenant are extended to even more people. The seventy disciples were part of God’s plan to bring redemption, order, and more souls into His family.

More Than Just a Number

These seventy were not mere statistics—each was a unique individual with their own story. Though Luke does not record their names or details, Jesus assures them (and us) that their sacrifices were known. He recognized their willingness to be sent and to go to different places, facing unknown variables. Some might fail to find a shelter, other might go hungry, while some were even rejected and mocked. Many also had to face the deadly encounter with demons which were far more powerful than their human strength. The Gospel is silent about these details, but Jesus knew them too well, and thus, even if the Gospel omits their stories, they are forever written in the Book of Life.

Like the seventy, we may feel unseen—just another face in the crowd, a mere number of statistics, our deeds too small for history books. But this Gospel reminds us: Jesus knows and loves each of us personally. Every act of love, no matter how small, is precious to Him and recorded in eternity.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

What can we do to help build God’s Kingdom—no matter how small our actions may seem? Are we willing to be sent? Do we compare ourselves to others? Do we truly believe we are loved?

Tujuh Puluh

Hari Minggu ke-14 dalam Masa Biasa [C]

6 Juli 2025

Lukas 10:1-20

Pengutusan ketujuh puluh murid adalah kisah yang unik dalam Injil Lukas. Episode ini mengungkapkan sebuah kebenaran yang penting: pengikut Yesus jauh lebih banyak daripada sekedar dua belas rasul. Tetapi mengapa Dia memilih angka tujuh puluh?

Ada beberapa alasan:

  1. Sebuah gambaran tentang jumlah pengikut Yesus yang sebenarnya.

Kedua belas rasul bukanlah satu-satunya murid Yesus. Banyak orang lain yang mengikuti dan belajar dari-Nya. Meskipun Dua Belas dipilih sebagai pemimpin komunitas-Nya yang sedang bertumbuh, mereka bukanlah satu-satunya yang berkomitmen pada misi Yesus. Angka tujuh puluh (atau tujuh puluh dua, dalam beberapa manuskrip tua lain) menunjukkan komunitas Yesus yang relatif besar dan juga berdedikasi pada perjuangan Yesus.

  • Penggenapan Perjanjian Lama.

Dalam Perjanjian Lama, ada tujuh puluh penatua ditunjuk untuk membantu Musa dan Harun dalam memimpin bangsa Israel melewati padang gurun (Bil 11:16-17). Para penatua ini mendaki Gunung Sinai, di mana mereka bertemu dengan Tuhan dan bahkan mengadakan perjamuan di hadapan-Nya (Kel 24:9-11). Sama seperti Musa dan Harun yang mengandalkan para pemimpin ini untuk memimpin bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian, demikian juga Yesus memanggil dan mengutus ketujuh puluh murid-Nya untuk memimpin umat Allah menuju Tanah Perjanjian yang sejati, yaitu Kerajaan Allah.

3. Simbol Kepenuhan dan Perjanjian

Di dalam Alkitab, angka tujuh melambangkan kepenuhan dan perjanjian Allah. Sebagai contoh:

  • Penciptaan diselesaikan dalam tujuh hari (Kej 1), yang melambangkan keteraturan dan kesempurnaan ilahi.
  • Kata Ibrani untuk “tujuh” (sheva) juga terkait dengan pembuatan perjanjian dengan sumpah. Jadi, dalam bahasa Ibrani, ketika kita mengatakan bahwa kita membuat “tujuh”, itu berarti kita bersumpah (Gen 21:23).

Dengan mengalikan tujuh dengan sepuluh, angka tujuh puluh memperkuat makna ini: kesempurnaan dan perjanjian Allah diperluas kepada lebih banyak orang lagi. Tujuh puluh murid adalah bagian dari rencana Allah untuk membawa penebusan, keteraturan, dan lebih banyak jiwa ke dalam keluarga dan Kerajaan Allah.

Lebih dari Sekedar Angka

Tujuh puluh murid ini bukanlah sekadar statistik. Mereka adalah individu-individu yang unik dengan kisahnya masing-masing. Meskipun Lukas tidak mencatat nama atau detail mereka, Yesus meyakinkan mereka (dan kita) bahwa pengorbanan mereka diketahui dan tidak sia-sia. Yesus tahu persis kesediaan mereka untuk diutus dan pergi ke tempat asing, menghadapi berbagai hal yang tidak diketahui. Beberapa orang mungkin gagal menemukan tempat tinggal, yang lain mungkin kelaparan, sementara beberapa bahkan ditolak dan diejek. Banyak juga yang harus menghadapi setan-setan yang jauh lebih kuat daripada kekuatan manusia. Injil tidak menceritakan secara rinci tentang hal ini, tetapi Yesus sangat mengenal mereka, dan karena itu, meskipun Injil tidak menceritakan kisah mereka, kisah-kisah mereka tertulis selamanya dalam Kitab Kehidupan.

Seperti ketujuh puluh murid ini, kita mungkin merasa kita tidak ada apa-apanya. Kita hanya satu wajah di antara kerumunan orang banyak, hanyalah angka dan statistik, perbuatan kita terlalu kecil untuk dicatat dalam buku-buku sejarah. Tetapi Injil mengingatkan kita: Yesus mengenal dan mengasihi kita masing-masing secara pribadi. Setiap tindakan kasih, sekecil apa pun, sangat berharga bagi-Nya dan dicatat dalam kekekalan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu membangun Kerajaan Allah? Apakah kita bersedia untuk diutus? Apakah kita membandingkan diri kita dengan orang lain? Apakah kita benar-benar percaya bahwa kita dikasihi?

Peter and Paul

Solemnity of St. Peter and St. Paul [C]

June 29, 2025

Matthew 16:13-19

Why does the Church celebrate St. Peter and St. Paul together?  Several key factors bind their legacies together, making them uniquely honored in Christian tradition.

1. Prominence in the New Testament

Both Peter and Paul stand out as the most frequently mentioned figures in the New Testament. Peter (including variations like Simon, Cephas, or Simon Peter) appears approximately 190 times, while Paul is referenced even more, around 228 times—far surpassing other major figures like John the Baptist (mentioned roughly 90 times). Interestingly, though Luke’s work is titled The Acts of the Apostles, the narrative is dominated by these two men. Beyond their recorded deeds, both also contributed inspired writings to the New Testament: Peter authored two epistles (1 and 2 Peter), while Paul wrote 13 letters, forming a significant portion of the biblical canon.

2. Intertwined Lives and Ministry

Their paths crossed at critical moments in early Church history. After his dramatic conversion, Paul visited Jerusalem and spent 15 days with Peter (Galatians 1:18), likely learning firsthand about Jesus’ teachings from the chief apostle. Later, at the Council of Jerusalem (Acts 15), Paul and Barnabas argued against the imposition of the Jewish customs like circumcision on the Gentile converts. Peter, as the leader of the apostles, ultimately decided that the Gentile converts shall not be burdened by Jewish customs, thus sided with Paul. Yet their relationship wasn’t without tension. Paul later publicly criticized Peter when he withdrew from eating with Gentile Christians (Gal 2:11-14). Despite these conflicts, their mutual respect endured.

3. Shared Martyrdom in Rome

Though Scripture records only a few direct encounters, tradition holds that their ministries converged powerfully in Rome. The Acts of Apostles concludes with Paul arriving in the city around 60–61 AD as a prisoner, awaiting trial before Caesar. Even under house arrest, he preached boldly and likely wrote letters like Ephesians and Philippians. After a possible release (around 63 AD), he was re-arrested during Nero’s persecution and executed around 65–66 AD. Meanwhile, Peter likely reached Rome by the early 60s AD, where he served as the recognized leader (bishop) of the Church of Rome. The two may have collaborated there before both facing martyrdom. Peter crucified upside-down and Paul beheaded as a Roman citizen.

4. Enduring Legacy in Rome and Beyond

Their tombs remain focal points of Christian pilgrimage especially in this Jubilee year. St. Peter’s Basilica in Vatican City stands over his burial site, while St. Paul Outside the Walls at Via Appia marks where Paul was laid to rest. Intriguingly, the Basilica of St. John Lateran—Rome’s cathedral—features bronze statues of Peter and Paul above its main altar, housing relics said to be fragments of their skulls. This symbolism underscores their inseparable role as twin pillars of the Church of Rome.

Neither man began as a spiritual giant. Peter, impulsive and fearful, denied Christ three times. Paul, once a persecutor of Christians, sought to destroy the Church. Yet through God’s grace, both were transformed—ultimately giving their lives for Christ. Their shared feast not only honors their martyrdoms but also celebrates how God uses flawed people to build His Church.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions:

What are our weaknesses as human persons? How does the grace of God empower and transform us? Do we love the Church as St. Peter and St. Paul did? How do we love the Church?

Petrus dan Paulus

Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus [C]

29 Juni 2025

Matius 16:13-19

Mengapa Gereja merayakan Santo Petrus dan Santo Paulus bersama-sama? Ada beberapa faktor kunci yang menyebabkan hal ini:

1. Tokoh-tokoh penting dalam Perjanjian Baru

Baik Petrus maupun Paulus adalah tokoh-tokoh yang paling sering disebut dalam Perjanjian Baru di antara tokoh lainnya. Petrus (termasuk variasi seperti Simon, Kefas, atau Simon Petrus) muncul sekitar 190 kali, sementara Paulus bahkan lebih sering disebut, sekitar 228 kali. Hal ini jauh melampaui tokoh-tokoh besar lainnya seperti Yohanes Pembaptis (disebutkan sekitar 90 kali). Lukas menulis bukunya yang berjudul Kisah Para Rasul, namun narasinya didominasi oleh kedua tokoh ini. Selain mencatat perbuatan mereka, keduanya juga menyumbangkan tulisan-tulisan yang menjadi bagian dari Perjanjian Baru: Petrus menulis dua surat (1 dan 2 Petrus), sementara Paulus menulis 13 surat, yang membentuk sebagian besar kanon Perjanjian Baru.

2. Kehidupan dan Pelayanan yang Saling Terkait

Jalan mereka bertemu pada saat-saat kritis dalam sejarah Gereja mula-mula. Setelah pertobatannya yang dramatis, Paulus mengunjungi Yerusalem dan menghabiskan waktu 15 hari bersama Petrus (Gal 1:18), kemungkinan besar untuk belajar secara langsung tentang ajaran-ajaran Yesus dari sang rasul. Kemudian, dalam Konsili Yerusalem (Kis 15), Paulus dan Barnabas menentang pemberlakuan adat istiadat Yahudi seperti sunat kepada orang-orang non-Yahudi yang percaya. Petrus, sebagai pemimpin para rasul, akhirnya memutuskan bahwa orang-orang yang percaya ini tidak boleh dibebani oleh adat istiadat Yahudi, dan dengan demikian berpihak pada Paulus. Namun, hubungan mereka bukannya tanpa ketegangan. Paulus kemudian secara terbuka mengkritik Petrus ketika ia menarik diri dari makan bersama dengan orang-orang non-Yahudi (Gal 2:11-14). Namun konflik ini bukanlah akhir bagi mereka.

3. Kemartiran Bersama di Roma

Meskipun Alkitab hanya mencatat beberapa pertemuan mereka, tradisi menyatakan bahwa mereka bertemu di Roma. Kisah Para Rasul diakhiri dengan Paulus yang tiba di kota itu sekitar tahun 60-61 Masehi sebagai seorang tahanan, menunggu pengadilan di hadapan Kaisar. Bahkan dalam tahanan rumah, ia tidak berhenti berkhotbah dan kemungkinan besar menulis surat-suratnya seperti kepada Gereja di Efesus dan Filipi. Setelah dibebaskan (sekitar tahun 63 M), ia ditangkap kembali pada masa penganiayaan Nero dan dieksekusi sekitar tahun 65-66 M. Sementara itu, Petrus kemungkinan besar mencapai Roma pada awal tahun 60-an Masehi, di mana ia segara diakui sebagai pemimpin (uskup) Gereja Roma. Keduanya mungkin telah berkolaborasi di sana dalam pewartaan dan pelayanan sebelum keduanya menghadapi kematian. Petrus disalibkan secara terbalik dan Paulus dipenggal karena dia warga negara Romawi.

4. Warisan Abadi di Roma

Makam mereka tetap menjadi titik fokus ziarah umat Kristiani, terutama di tahun Yubileum ini. Basilika Santo Petrus di Kota Vatikan berdiri di atas lokasi pemakamannya, sementara Basilika Santo Paulus di Luar Tembok di Via Appia menandai tempat Paulus disemayamkan. Yang menarik, Basilika Santo Yohanes Lateran yang adalah katedral di Roma, memiliki patung perunggu Santo Petrus dan Santo Paulus di atas altar utamanya, yang menyimpan relik bagian tengkorak dari kedua santo ini. Simbolisme ini menggarisbawahi peran mereka yang tak terpisahkan sebagai pilar kembar Gereja Roma.

Namun kita perlu ingat bahwa kedua orang itu tidak dimulai sebagai orang hebat. Petrus, yang impulsif dan penakut, menyangkal Kristus tiga kali. Paulus, yang pernah menjadi penganiaya orang-orang Kristen, berusaha menghancurkan Gereja. Namun melalui rahmat Allah, keduanya diubahkan, dan pada akhirnya memberikan hidup mereka bagi Kristus. Hari raya bersama mereka tidak hanya menghormati kemartiran mereka, tetapi juga merayakan bagaimana Tuhan menggunakan orang-orang yang memiliki kekurangan untuk membangun Gereja-Nya.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apakah kelemahan-kelemahan kita sebagai manusia? Bagaimana rahmat Allah memberdayakan dan mentransformasikan kita? Apakah kita mengasihi Gereja seperti Santo Petrus dan Santo Paulus? Bagaimana kita mencintai Gereja?

Body Given in Love

Solemnity of Corpus Christi

June 22, 2025

Luke 9:11b-17

The Solemnity of Corpus Christi celebrates the Eucharist, the real presence of Jesus Christ in the Holy Mass. Since it is a celebration of the Eucharist, the Solemnity of Corpus Christi is intrinsically linked to Maundy Thursday, when Jesus instituted the Eucharist at the Last Supper. If Corpus Christi is fundamentally connected to Maundy Thursday, then it is also tied to the entire Easter Triduum. Jesus’ real presence is not only associated with the Last Supper but also with His Cross and Resurrection. But, how are Corpus Christi related to the Cross and Resurrection?

Jesus’ Body and Blood are, in essence, the sacrifice of the Cross (Jn 1:29; Eph 5:2). In the Old Testament, offering sacrifices was the divinely ordained way of worship. The Book of Leviticus describes various types of sacrifices, such as the burnt offering (holocaust), the sin offering, and the peace offering (communion sacrifice) (Lev 1–5). Jesus perfectly fulfills all these Old Testament sacrifices. He surrendered Himself completely on the Cross as the perfect holocaust (Heb 10:5-10). He died to save us from our sins, just as a sin offering does (2 Cor 5:21). Moreover, His Body and Blood are received by His people, much like the communion sacrifice—a type of offering that was partly given to God, partly consumed by the priest, and partly shared by the worshippers, symbolizing communion between God and His people (Eph 2:14-16).

However, Corpus Christi is also connected to His Resurrection. The Body and Blood of Christ that we receive in the Eucharist are not merely ordinary flesh but the glorified and resurrected Body of Christ. Ordinary human bodies are weak, limited, and subject to decay after death. Yet, Jesus’ resurrected body is full of grace and life-giving power—a body that transcends time and space, moves between heaven and earth, and can transform its appearance into bread and wine. This is why, in John 6:54-55, Jesus confidently declares: “Those who eat my flesh and drink my blood have eternal life, and I will raise them up on the last day; for my flesh is true food and my blood is true drink.”

The Feast of Corpus Christi reveals that Jesus, the Son of the living God, gave up everything—His life, His divinity, and His humanity—for us as the ultimate sign of His radical love. Yet Corpus Christi does not end with the Eucharist. As we carry Jesus in our lives, we are also called to share our bodies with one another in love. In fact, as human beings, the greatest expression of love is through our bodies. Married couples give themselves to each other until death separates them. Parents sacrifice their bodies for their children so they may live and grow. Religious men and women dedicate their bodies to the Church and the people of God. Just as Jesus said, “This is my body which is given for you,” we also do the same, “This is my body which is given in love!”

The Eucharist is truly central to our lives—not only because it provides perfect and acceptable worship to the Father, but also because it grants us the grace to share our bodies with others. Only by sharing our humanity in love do we find true happiness, and this is made possible through the grace we receive in the Eucharist.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions:

What are our understanding about the Eucharist? How often do we participate in the Eucharist and receive the Body and Blood of Christ? How do we express our reverence and love when we receive the Eucharist? How do we use our bodies to love?

Tubuh yang Diserahkan

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

22 Juni 2025

Lukas 9:11b-17

Hari Raya Corpus Christi (Tubuh dan Darah Yesus Kristus) merayakan Ekaristi, secara khusus kehadiran Yesus Kristus yang nyata dalam Misa Kudus. Karena itu Hari Raya Corpus Christi secara intrinsik terkait dengan Kamis Putih, dimana Yesus melembagakan Ekaristi pada Perjamuan Terakhir. Jika Corpus Christi pada dasarnya terkait dengan Kamis Putih, maka Corpus Christi juga terkait dengan seluruh Triduum Paskah. Kehadiran Yesus yang nyata tidak hanya dikaitkan dengan Perjamuan Terakhir tetapi juga tidak bisa lepas dengan Salib dan Kebangkitan-Nya. Namun, bagaimana Corpus Christi terkait dengan Salib dan Kebangkitan?

Tubuh dan Darah Yesus, pada dasarnya, adalah kurban Salib (Yoh 1:29; Ef 5:2). Dalam Perjanjian Lama, mempersembahkan kurban adalah cara penyembahan yang diperintahkan Allah. Kitab Imamat menjelaskan berbagai jenis pengorbanan, seperti korban bakaran (holocaust), korban penghapus dosa, dan korban perdamaian (atau korban persekutuan) (Im 1-5). Yesus dengan sempurna menggenapi semua pengorbanan Perjanjian Lama ini. Dia menyerahkan diri-Nya sepenuhnya di kayu salib sebagai korban bakaran yang sempurna (Ibr 10:5-10). Dia wafat untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, sama seperti korban penghapus dosa (2 Kor 5:21). Selain itu, Tubuh dan Darah-Nya diterima oleh umat-Nya, sama seperti kurban persekutuan – jenis persembahan yang sebagian diberikan kepada Tuhan, sebagian dimakan oleh imam, dan sebagian lagi dibagikan kepada para penyembah, yang melambangkan persekutuan antara Tuhan dan umat-Nya (Ef 2:14-16).

Namun, Tubuh Kristus juga terhubung dengan Kebangkitan-Nya. Tubuh dan Darah Kristus yang kita terima dalam Ekaristi bukanlah sekadar daging biasa, melainkan Tubuh Kristus yang dimuliakan dan dibangkitkan. Tubuh manusia biasa adalah lemah, terbatas, dan hancur setelah kematian. Namun, tubuh Yesus yang telah dibangkitkan penuh dengan rahmat dan kuasa yang memberi kehidupan – tubuh yang tidak akan mati lagi, mampu melampaui ruang dan waktu, bergerak di antara langit dan bumi, dan dapat mengubah wujudnya menjadi roti dan anggur. Inilah sebabnya, dalam Yohanes 6:54-55, Yesus dengan penuh keyakinan mengajarkan: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada hari terakhir, sebab daging-Ku adalah makanan yang sejati dan darah-Ku adalah minuman yang sejati.”

Perayaan Corpus Christi mengungkapkan bahwa Yesus, Putra Allah yang hidup, menyerahkan segalanya – hidup-Nya, keilahian-Nya, dan kemanusiaan-Nya – bagi kita sebagai tanda utama dari kasih-Nya yang radikal. Namun, Corpus Christi tidak berakhir dengan Ekaristi. Ketika kita membawa Yesus dalam hidup kita, kita juga dipanggil untuk berbagi tubuh kita satu sama lain dalam kasih. Faktanya, sebagai manusia, ungkapan kasih yang terbesar adalah melalui tubuh kita. Pasangan yang sudah menikah memberikan diri mereka satu sama lain sampai maut memisahkan mereka. Orang tua mengorbankan tubuh mereka untuk anak-anak mereka agar mereka dapat hidup dan bertumbuh. Para pria dan wanita religius mempersembahkan tubuh mereka untuk Gereja dan umat Allah. Sama seperti Yesus berkata, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagimu,” kita juga melakukan hal yang sama, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan dalam kasih!”

Ekaristi sungguh-sungguh menjadi pusat kehidupan kita – bukan hanya karena Ekaristi memberikan penyembahan yang sempurna dan berkenan kepada Bapa, tetapi juga karena Ekaristi memberikan kita rahmat untuk berbagi tubuh kita dengan orang lain. Hanya dengan berbagi kemanusiaan kita dalam kasih, kita dapat menemukan kebahagiaan sejati, dan hal ini dimungkinkan melalui rahmat yang kita terima dalam Ekaristi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apa pemahaman kita tentang Ekaristi? Seberapa sering kita berpartisipasi dalam Ekaristi dan menerima Tubuh dan Darah Kristus? Bagaimana kita mengekspresikan rasa hormat dan kasih kita ketika kita menerima Ekaristi? Bagaimana kita menggunakan tubuh kita untuk mengasihi?

Trinity in the Bible and in Our Life

The Solemnity of the Most Holy Trinity [C]

June 15, 2025

John 16:12-15

The mystery of the Holy Trinity stands at the center and foundation of our faith because it reveals the very nature of God. Our logical minds can deduce that there is one God, a perfect Being who created and sustains all things. Yet, we depend on divine revelation to grasp this profound truth. The word “Trinity” does not appear in Scripture, but the Bible, both in the Old and New Testaments, unveils this reality. Scripture affirms there is only one God, yet simultaneously reveals a plurality within His oneness.

One intriguing passage that hints at the Trinity is the very verse that declares God’s oneness—the Shema Israel (Deuteronomy 6:4). The Hebrew text reads: “שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה אֶחָד” (Shema Yisrael Adonai Eloheinu Adonai Echad). Most English translations render this as, “Hear, O Israel: The Lord our God, the Lord is one.” However, a more literal translation would be: “Hear, O Israel: The Lord, our God, the Lord, one.” It is striking how the verse mentions the Lord three times before concluding with “one.”

Other Old Testament passages also suggest plurality within God’s unity. For example: Gen 1:1-2 and 1:26 speak of God creating with His Spirit and using the plural “Let Us make man in Our image.” The Angel of the Lord appears as a divine yet distinct figure (Gen 16:7-13; 22:11-18; Exo 3:2-6; Judg 13:18-22). The Spirit of God is active in the Psalms and prophets (Ps 51:11; Isa 63:10-11; 48:16; Eze 36:26-27). Prophet Zechariah (2:10-11) even speaks of “two Yahwehs.” Yet, the fullness of this mystery is only fully revealed in the New Testament.

One of the most definitive Trinitarian passages is Matthew 28:19: “Baptize them in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit.” Here, Jesus speaks of one name, yet within that one name are three distinct Persons: Father, Son, and Holy Spirit.

However, the Trinity is more than a biblical truth, but it is the most precious gift to us. As St. Paul writes, “No one can say, ‘Jesus is Lord,’ except by the Holy Spirit” (1 Cor 12:3). The Spirit infuses faith in our hearts, enabling us to confess Christ, the Son of the Father. The same Spirit pours hope into us amid trials, especially for confessing the true God (Rom 5:3-5). And when we love, even those hardest to love, we participate in the life of the Triune God, whose very essence is love (1 Jn 4:8).

The Trinity is not merely a doctrine to profess but a mystery we live daily. We enter Christian life through Trinitarian baptism. As Catholics and Orthodox, we begin prayers with the Sign of the Cross, invoking the Father, Son, and Spirit. In the Eucharist, the Holy Spirit transforms the bread and wine into Christ’s Body and Blood, offered to the Father as the perfect sacrifice.

As we celebrate this greatest mystery of our faith, let us give thanks that God invites us into His very life—Father, Son, and Holy Spirit—now and forever.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Question:

How do we relate with the Holy Trinity? When the first time, we recognize the truth about the Trinity? How do we relate to the Father? How do we relate to Jesus? How do we relate to the Holy Spirit?

Tritunggal di Kitab Suci dan Hidup Kita

Hari Raya Tritunggal Mahakudus [C]

15 Juni 2025

Yohanes 16:12-15

Misteri Tritunggal Mahakudus berada di pusat dan dasar dari iman kita karena misteri ini menyingkapkan siapa Allah kita sebenarnya. Pikiran logis kita dapat menyimpulkan bahwa hanya ada satu Allah, yaitu Tuhan yang sempurna yang menciptakan dan memelihara segala sesuatu. Namun, kita hanya bisa bergantung pada wahyu ilahi untuk memahami kebenaran yang mendalam ini. Kata “Tritunggal” memang tidak muncul dalam Alkitab, tetapi Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, menyingkapkan realitas ini. Alkitab menegaskan bahwa hanya ada satu Allah, namun secara bersamaan mengungkapkan kemajemukan (pluralitas) di dalam keesaan-Nya.

Salah satu ayat menarik yang mengisyaratkan Trinitas adalah ayat yang menyatakan keesaan Allah, “Shema Israel” (Ulangan 6:4). Ayat dalam bahasa Ibrani tersebut tertulis: “שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה אֶחָד” (Shema Yisrael Adonai Eloheinu Adonai Echad). Alkitab Indonesia menerjemahkannya sebagai, “Dengarlah, hai Israel: Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.” Namun, terjemahan yang lebih harfiah adalah: “Dengarlah, hai Israel: Tuhan, Allah kita, Tuhan, satu.” Sungguh mengejutkan bagaimana ayat ini menyebutkan Tuhan tiga kali sebelum diakhiri dengan kata “satu”.

Ayat-ayat Perjanjian Lama yang lain juga menunjukkan kemajemukan di dalam kesatuan Allah. Sebagai contoh: Kej 1:1-2 berbicara tentang Allah yang menciptakan dengan Roh dan Sabda-Nya. Lalu Kej 1:26 menggunakan bentuk jamak bagi Allah yang satu, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” Malaikat Tuhan muncul sebagai sosok yang ilahi namun berbeda dengan Allah (Kej 16:7-13; 22:11-18; Kel 3:2-6; Hak 13:18-22). Roh Allah aktif di dalam Mazmur dan para nabi (Mzm 51:11; Yes 63:10-11; 48:16; Yeh 36:26-27). Nabi Zakharia (2:10-11) bahkan berbicara tentang “dua Yahwe”. Namun, kepenuhan misteri ini baru terungkap sepenuhnya dalam Perjanjian Baru.

Salah satu ayat yang paling definitif tentang Tritunggal adalah Matius 28:19: “Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.” Di sini, Yesus berbicara tentang satu nama, namun di dalam satu nama tersebut terdapat tiga Pribadi yang berbeda: Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Namun, Tritunggal bukan hanya sekedar kebenaran Alkitabiah, tetapi juga merupakan anugerah yang paling berharga bagi kita. Paulus menulis, “Tidak ada seorangpun yang dapat berkata: ”Yesus adalah Tuhan“, kalau tidak oleh Roh Kudus” (1 Kor 12:3). Roh Kudus menanamkan iman di dalam hati kita, memampukan kita untuk mengakui Yesus, Putra Bapa. Roh yang sama mencurahkan pengharapan ke dalam diri kita di tengah-tengah pencobaan, terutama untuk mengakui Allah yang benar (Rm 5:3-5). Dan ketika kita mengasihi, bahkan kepada mereka yang paling sulit untuk dikasihi, kita mengambil bagian dalam kehidupan Allah Tritunggal, yang pada hakikatnya adalah kasih (1 Yoh 4:8).

Tritunggal bukan hanya sebuah doktrin yang harus diimani, tetapi sebuah misteri yang kita hayati setiap hari. Kita memasuki kehidupan Kristiani melalui baptisan Tritunggal. Sebagai umat Katolik dan Ortodoks, kita memulai doa dengan Tanda Salib, menyebut nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Dalam Ekaristi, Roh Kudus mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus, yang dipersembahkan kepada Bapa sebagai kurban yang sempurna.

Ketika kita merayakan misteri terbesar dalam iman kita ini, marilah kita bersyukur bahwa Allah mengundang kita ke dalam kehidupan-Nya – Bapa, Putra, dan Roh Kudus – sekarang dan selamanya.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Bagaimana kita berhubungan dengan Allah Tritunggal Mahakudus? Bagaimana kita berhubungan dengan Bapa? Bagaimana kita berhubungan dengan Yesus? Bagaimana kita berhubungan dengan Roh Kudus?

The Holy Spirit and His Gifts

Pentecost [C]

June 8, 2025

1 Cor 12:3-13

Today, the Church celebrates Pentecost, the day when the Holy Spirit descended upon Jesus’ apostles and the first disciples, marking the beginning of the Church. From that moment onward, the Holy Spirit, the third person of the Holy Trinity, has played a central role in guiding and sustaining the life of the Church, working through His grace and gifts. It is no surprise that we call Pentecost the feast of the Holy Spirit. Yet, as we reflect on these spiritual gifts, we must do so with wisdom and discernment.

We live in a time when many Christians—both Catholic and non-Catholic—are experiencing the gifts of the Holy Spirit in remarkable ways. This renewed outpouring has awakened us to the Spirit’s active presence in our lives. Some have received the gift of prophecy, speaking words that call others to repentance. Others have been given the gift of healing, becoming instruments through which the Spirit restores health to the sick. Still others pray in tongues, their praises flowing in languages they do not understand (for the list of gifts of the Holy Spirit, see 1 Cor 12:8-10). These are extraordinary encounters, even life-changing for many.

Yet while these gifts should fill us with gratitude and deepen our awareness of the Holy Spirit’s work, there is a danger in focusing too much on the experiences themselves. Some begin to fixate on the sensations rather than the Giver, treating spiritual gifts as a measure of their faith. Some of us may believe that speaking in tongues is proof of holiness, or that lacking miraculous healings means we are distant from God. Those who receive such gifts may grow prideful, while those who do not may feel like failures in their Christian life.

This mindset is not only misguided but spiritually harmful. And while it may seem like a modern problem, the same struggles existed in the early Church. Nearly two thousand years ago, the Church in Corinth were richly blessed with spiritual gifts, yet their community was plagued by division, disorder in worship, and pride. They compared gifts, competed over who had the “better” manifestations, and even used them as a measure of spiritual superiority.

Paul confronted this distortion head-on, reminding them that spiritual gifts are not for personal glory but for the building up of the Church (1 Cor 12). He taught them that the most important gift is not the gift of tongue, of healing or miracles, but the gift of love. He even wrote especially against those who seek the gift of tongue, “If I speak in the tongues of mortals and of angels, but do not have love, I am a noisy gong or a clanging cymbal (1 Cor 13:1).” He warned that pursuing spectacular gifts without love was meaningless.

Jesus Himself taught that the greatest gift the Father gives us is the Holy Spirit (Luk 11:13), and the greatest gift the Spirit gives is love.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions:

Do we ask the Father for the Holy Spirit? Do we pray to the Holy Spirit? What do we ask from the Holy Spirit? Do we ask the gifts of the Holy Spirit and what gifts?