Do Love and You May Live!

15th Sunday in Ordinary Time. July 10, 2016 [Luke 10:25-37]

“Teacher, what must I do to inherit eternal life? (Luk 10:25)”

good samaritanThe scholars of the Law were representing the intellectual elite in Jewish society at the time of Jesus. While the rest of Jewish people were struggling to fill their stomach and living in bare necessity, this group had a rare access to good education. We may reasonably suspect that the scholars were affluent enough to read and study the Torah extensively and undisturbed. Compared to the ordinary Jews, they were experts with the details and interpretation of the Law. No wonder, they could easily develop the vice of pride.

Luke described the scholar as one who ‘stood up’ and ‘test’ Jesus. Clearly, he came out with his intellectual superiority and confronted Jesus to prove that he was far better than Him. He might think, “Son of carpenter; he knows nothing!” But, his pride brought him nothing but defeat. He attacked Jesus with the most difficult question he had in his arsenal. “Teacher, what must I do to inherit eternal life?” Yet, Jesus was aware of his intention. Jesus reminded him that the answer laid at the very heart of Torah itself, and allowed him to answer for himself. “You shall love the Lord, your God, with all your heart, with all your being, with all your strength, and with all your mind, and your neighbor as yourself (Deu 6:5).” The answer was so simple yet true that every Jew who were with Jesus, would immediately give their nod, and perhaps their little victorious smile.

Refusing to accept his defeat, the scholar made a last-ditch attempt to justify himself. He asked Jesus who is this ‘neighbor’ he had to love. With His ingenuity and wit, Jesus then presented him one of the loveliest parables ever told: the Good Samaritan. To love means to love radically. To love means to do good even to those who do not deserve our love. Yet, the genius of Jesus is not only to force the scholar to acknowledge his defeat, but He allowed the scholar to reflect on his life’s deeper purpose as a Jew.

At times, we are so confident with ourselves. We feel we know a lot. We engage in discussion and debate on various issues in the Church and society. We take sides, either on the progressive team or conservative group, and fight endlessly. We learn theology, spirituality and leadership, and we feel we are better than the rest of Church. We serve a particular ministry for so long, that we look down at newcomers in the group. Unconsciously, we become like this scholar of the Law who stands up and puts other into test. I confess also at times, I manifest this prideful attitude. When I teach, I often project myself as the all-knowing teacher and throw the hardest questions to my students. It gives a sense of pleasure when I know I am the only one who can answer the questions. Lord, have mercy on me!

Yet, Jesus reminds us today a simple yet fundamental truth: pride only brings defeat, only humility can bring us eternal life. And this humility can be best practiced in love. To borrow the words of St. Paul, “And if I have the gift of prophecy and comprehend all mysteries and all knowledge; if I have all faith so as to move mountains but do not have love, I am nothing. If I give away everything I own, and if I hand my body over so that I may boast but do not have love, I gain nothing (1 Cor 13:2-3).”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengasihilah dan Kamu akan Hidup!

Minggu Biasa ke-15/ 10 Juli 2016 [Lukas 10: 25-37]

 “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? (Luk 10:25)”

jesus and scholarPara ahli Taurat mewakili kelompok intelektual elit di dalam masyarakat Yahudi pada zaman Yesus. Saat sebagian besar dari bangsa Yahudi berjuang untuk mengisi perut mereka, kelompok ahli Taurat memiliki akses langka untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Kita bisa menduga bahwa para ahli hukum Taurat adalah cukup kaya untuk membaca dan mempelajari Kitab Suci bangsa Yahudi tak terganggu. Dibandingkan dengan orang-orang Yahudi biasa, mereka tentunya ahli dengan berbagai rincian dan interpretasi hukum Taurat. Tidak heran, mereka bisa dengan mudah menjadi tinggi hati atau sombong.

Lukas menggambarkan sang ahli Taurat sebagai salah seseorang yang ‘berdiri’ dan ‘mencobai’ Yesus. Jelas, ia datang membawa superioritas intelektualnya dan menantang Yesus untuk membuktikan bahwa ia jauh lebih baik dari-Nya. Dia mungkin berpikir, Yesus, anak tukang kayu; dia tahu apa-apa! Tapi, kesombongannya tidak memberinya apa-apa selain kekalahan. Dia menyerang Yesus dengan pertanyaan yang paling sulit. “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Namun, Yesus menyadari niatnya. Yesus mengingatkan bahwa jawabannya terletak di jantung Taurat itu sendiri, dan memungkinkan dia untuk menjawab pertanyaannya sendiri. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Ul 6: 5).” Jawabannya sangat sederhana tapi sungguh benar, dan setiap orang Yahudi yang bersama Yesus, akan segera memberikan anggukan mereka.

Menolak untuk menerima kekalahannya, sang ahli Taurat membuat upaya terakhir untuk membenarkan dirinya sendiri. Dia meminta Yesus untuk menjelaskan siapakah ‘sesama’ ini yang dia harus menkasihi. Yesus kemudian menerangkan kepadanya salah satu perumpamaan terindah yang pernah kita dengar: Orang Samaria yang Baik. Mengasihi berarti mengasihi secara radikal. Mengasihi berarti berbuat baik bahkan bagi mereka yang tidak layak kita kasihi. Namun, Yesus tidak hanya untuk memaksa sarjana untuk mengakui kekalahannya, namun Dia juga mengajak sang ahli untuk merefleksikan tujuan hidupnya lebih dalam sebagai seorang Yahudi.

Ada kalanya, kita sangat yakin dengan diri kita sendiri. Kita merasa kita mengetahui banyak hal. Kita terlibat dalam diskusi dan perdebatan tentang berbagai isu di Gereja dan masyarakat. Kita mengambil kubu, baik di kelompok progresif ataupun konservatif, dan berdebat tanpa henti. Kita belajar teologi, spiritualitas dan kepemimpinan, dan kita merasa kita lebih baik dari seluruh Gereja. Kita terlibat dalam sebuah pelayanan atau kelompok tertentu begitu lama, dan kita melihat dengan rendah para pendatang baru di dalam kelompok. Secara tidak sadar, kita menjadi seperti ahli Taurat di dalam Injil ini yang berdiri dan mencobai sesama. Saya akui juga kadang, saya memiliki sikap sombong ini. Ketika saya mengajar, saya sering memproyeksikan diri saya sebagai guru yang mahatahu dan melemparkan pertanyaan yang paling sulit untuk murid-murid saya. Sungguh menyenangkan ketika saya tahu bahwa hanya saya yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tuhan, ampunilah aku!

Namun, Yesus mengingatkan kita hari ini suatu kebenaran sederhana namun mendasar: kesombongan hanya membawa kekalahan, hanya kerendahan hati yang dapat membawa kita kehidupan yang kekal. Dan kerendahan hati ini hanya bisa dipraktekkan di dalam kasih. Meminjam kata-kata Santo Paulus, “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku (1 Kor 13: 2-3).

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Preaching Peace

14th Sunday in Ordinary Time. July 3, 2016 [Luke 10:1-12, 17-20]

 “Into whatever house you enter, first say, ‘Peace to this household (Luk 10:5).”

sending 72 The life of Jesus’ disciples is difficult. It is all the more difficult because we are sent to preach peace. Nothing is harder to sell than peace. In the world intoxicated with fundamental ideologies and narrow-mindedness, violence has become daily food. In Syria and Iraq, the war seems far from an end, and every day, it claims countless of innocent lives. Suicide bombings and shooting rampage insanely become common occurrences. Just recently, some unidentified individuals detonated themselves inside a busy airport in Istanbul, Turkey, killing more than 40 people and injuring countless others. Few weeks back, a heavily armed guy opened fire inside a gay bar in Orlando, US, and murdered more 50 persons. It was the worst case in the US history.

Violence breeds violence. Fear of violence even fuels more violence. A couple days ago, I was able to have conversation with Prof. Steven Friesen from the University of Texas. We discussed a lot of things, but one thing that caught my attention was how fear has influenced many Americans. The law has been passed that now a student may carry a gun inside the campus and the classroom. Prof. Friesen could not find the logic in it. The students are not allowed to smoke inside the school, but they are permitted to bring a fire arm!

Sadly, the culture of violence is not far from us. It is in our daily midst. Physical violence is the most obvious one, but not the only one. Violence can take forms of bullying, verbal abuses, sexual harassment, discrimination and even indifference. Violence may happen in our workplace and our own house. We may do violence to our friends, family members and even our environment. The grimmer part is that often, we are not aware of doing this. Giving recollections and retreats to the youth, I am privileged to listen to their personal stories. It is saddening that some of these kids turn to be victims of domestic violence. Their intellectual and emotional growth was hampered, and they bear the traumatic experience for the entire of their lives. My fear is that they will embody their suppressed anger and hatred inside and turn to be the perpetrators of violence themselves.

We are the Disciples of Christ. This means we are sent to preach peace. We may join the anti-violence movement in our society. I myself supporting our bishops’ call to end vigilantism and uphold rule of law in the Philippine nation that has increasingly turned bloody in his fight against illegal drugs and crime. Yet, the best place to preach peace is within ourselves. We examine our own lives and we may be surprised with little violence we do every day. To preach peace means to stop doing subtle violence, to ask forgiveness, and to repair the damages. I have to admit that sometimes, I committed violence myself. Involved in the teaching and formation ministry, at times, I need to push people to their limit. Yet, instead helping them, I hurt them.

It is true preaching peace is difficult. At times, in promoting peace, we receive violence. At times, we are discouraged by the result. At times, despite our good effort, we do violence even to our beloved ones. Yet, we must not back down. Without preaching peace, we shall always be part of violence. Without preaching peace, we shall never attain peace in ourselves. Without preaching peace, we stop following Christ and his way of the cross.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno,m OP

Mewartakan Kedamaian

Minggu Biasa ke-14/ 3 Juli 2016/ Lukas 10: 1-12, 17-20

 “Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. (Luk 10: 5).”

sending 72 - 2Menjadi murid Yesus adalah sulit. Dan hal ini semakin sulit karena kita diutus untuk mewartakan kedamaian. Sekarang ini, kedamaian adalah hal yang paling sulit dipromosikan. Dalam dunia yang mabuk dengan ideologi fundamentalis dan kepimikiran sempit, kekerasan telah menjadi makanan sehari-hari. Di Suriah dan Irak, perang tampaknya tak akan berakhir, dan setiap harinya, mengklaim nyawa orang-orang tak berdosa. Bom bunuh diri dan penembakan gila-gilaan menjadi kejadian umum. Baru-baru ini, beberapa orang yang tidak dikenal meledakkan diri di dalam bandara sibuk di Istanbul, Turki, menewaskan lebih dari 40 orang dan melukai banyak lainnya. Beberapa minggu yang lalu, seorang pria bersenjata melepaskan tembakan di dalam sebuah bar di Orlando, AS, dan membunuh lebih 50 orang. Ini adalah kasus terburuk dalam sejarah AS.

Kekerasan menelurkan kekerasan. Ketakutan akan kekerasan bahkan melahirkan lebih banyak kekerasan. Beberapa hari yang lalu, saya bercakap-cakap dengan Prof. Steven Friesen dari University of Texas. Kami membahas banyak hal, tapi satu hal yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rasa takut telah mempengaruhi banyak orang Amerika. Sebuah undang-undang telah disahkan bahwa sekarang mahasiswa dapat membawa senjata di dalam kampus dan ruang kelas. Prof. Friesen tidak bisa menemukan logika di dalamnya. Para siswa tidak diperbolehkan untuk merokok di dalam kampus, tapi mereka diizinkan untuk membawa senjata api!

Yang memprihatinkan adalah budaya kekerasan tidak jauh dari hidup kita sehari-hari. Kekerasan fisik adalah salah satu yang paling jelas, tetapi bukan satu-satunya. Kekerasan dapat mengambil bentuk intimidasi, pelecehan baik seksual dan perkataan, diskriminasi dan bahkan ketidakpedulian. Kekerasan bisa terjadi di tempat kerja kita dan rumah kita sendiri. Kita mungkin melakukan kekerasan terhadap teman-teman, anggota keluarga kita dan bahkan lingkungan kita. Bagian suramnya adalah bahwa sering, kita tidak sadar melakukan hal ini. Saat memberikan rekoleksi dan retret bagi kaum muda, saya bersyukur bisauk mendengarkan kisah-kisah pribadi mereka. Hal ini memprihatinkan bahwa beberapa dari mereka ini adalah  korban kekerasan dalam rumah tangga. Pertumbuhan intelektual dan emosional mereka terhambat, dan mereka menanggung pengalaman traumatis di sepanjang hidup mereka. Ketakutan saya adalah bahwa mereka akan mewujudkan kemarahan dan kebencian yang tersembunyi dan berubah menjadi pelaku kekerasan itu sendiri.

Kita adalah murid-murid Kristus. Ini berarti kita diutus untuk mengajarkan kedamaian. Kita mungkin bergabung dengan gerakan anti-kekerasan dalam masyarakat kita. Namun, tempat terbaik untuk mewartakan kedamaian dalam diri kita sendiri. Kita memeriksa hidup kita sendiri dan kita mungkin akan terkejut dengan tidak kekerasan yang kita lakukan setiap hari. Memberitakan perdamaian berarti kita berhenti melakukan kekerasan yang terkadang sangat halus, untuk meminta maaf, dan untuk memperbaiki keadaan. Saya harus mengakui bahwa kadang-kadang, saya melakukan kekerasan. Terlibat dalam pelayanan dan formasi kaum awam, terkadang, saya harus mendorong orang untuk melakukan yang terbaik. Namun, alih-alih membantu mereka, aku menyakiti mereka.

Memang benar memberitakan kedamaian adalah sulit. Kadang-kadang, dalam mewartakan kedamaian, kita menerima kekerasan. Kadang-kadang, kita tidak kecewa oleh hasilnya. Kadang, meskipun upaya yang terbaik, kita tetap melakukan kekerasan bahkan untuk orang-orang yang kita cintai. Namun, kita boleh menyerah. Tanpa mewartakan damai, kita akan selalu menjadi bagian dari kekerasan. Tanpa mewartakan damai, kita tidak akan pernah mencapai kedamaian dalam diri kita sendiri. Tanpa mewartakan damai, kita berhenti mengikuti Kristus di jalan salib.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno,  OP

The Demand of Love

 13th Sunday in Ordinary Time. June 26, 2016 [Luke 9:51-62]

 “Let the dead bury their dead (Luk 9:60).”

Follow meFollowing Jesus is difficult. In today’s Gospel, He demands that we let go three things. The first is our concern for our enemies. It seems easy to ignore those people whom we don’t like, but in reality, they consume our attention and energy. My friend shared to me how he was bullied at his officemates, and this drained so much of his productivity and focus in work. Often, like James and John, our anger moves to seek revenge and even violence. “Lord, do you want us to call down fire from heaven to consume them (the Samaritans who rejected them)?” Yet, Jesus reminds us to leave these behind.

The second thing is our pursuit for life security and comfort. Jesus put simply, the Son of Man has nowhere to rest his head.” It is part of our nature to look for comfort and enjoyable life, often through seeking material possession. Our modern mentality also trains us to love work and compete for highest position and biggest success. When we work hard and achieve in various fields of our live, like in our career, even our service in the Church, this gives us immeasurable sense of fulfillment. Yet, Jesus also wants us to put this aside.

Thirdly, and I believe most difficult for many of us, it is the family. When a follower wanted to bury his father, Jesus made a strong yet symbolic statement, “Let the dead bury the dead.” Being an Asian, particularly Indonesian, I have strong sense of family-orientation. In almost all major events of my life like graduation and solemn religious profession, my parents were proudly present. Though, it means they needed to fly to Manila and spent a lot of money. For my Filipino brothers in the community, it is unthinkable to totally detach from their families. Yet, even this most precious possession we have, Jesus wants us to set it aside.

It looks like that Jesus’ demand is not only difficult but also impossible. Why does it have to be like this? We read today’s Gospel closely, we realize that by this time, Jesus has fixed His course to Jerusalem. He knew well that nothing but failure, frustration and death awaited Him there. Yet, He still did this because He obeyed His Father’s radical demand. What is this demand of the Father? It is no other than the demand of love: You shall love the Lord, your God, with all your heart, with all your soul, and with all your mind.” Jesus invites us to this radical reorientation of our love. When we love God, then the rest will fall into its proper place.

When we see God first, we will try our best to love those who hate us because people unworthy of our love bear God’s image as well. When we seek God first, the material possession, successful career and life security are seen as blessing from God. Then, they are also blessing to share with others. When we love God first, our love for our family will be purified, as we will bring them to closer to God.

A friend told me how his family is so dear to him. But, thing began to fall apart, as his younger brother was trapped into drug addiction. Initially, he did not like his brother to undergo rehabilitation and be separated from the family for indefinite time. But, after long prayer and discernment, he decided to bring his brother into a center of recovery. It was a painful decision, but his love for God has brought him into a bigger love for his brother. Now, he becomes even more pious as he attends mass every day for the recovery of his brother.

To follow Jesus is difficult and demanding, but it is necessary as we expand our love for God and others.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuntutan Kasih

Minggu Biasa ke-13/26 Juni 2016 [Lukas 9:51-62]

 “Biarlah orang mati menguburkan orang mati (Luk 9:60).”

following jesusMengikuti Yesus itu sulit. Dalam Injil hari ini, Dia menuntut ada tiga hal penting yang harus kita berani lepaskan. Hal pertama adalah fokus kita pada musuh atau orang tidak kita sukai. Sepertinya mudah untuk mengabaikan orang-orang yang tidak kita sukai, tetapi dalam kenyataannya, mereka mengambil banyak perhatian dan energi kita. Seringkali, seperti Yakobus dan Yohanes, kemarahan kita mendorong kita untuk membalas dendam, bahkan dengan cara kekerasan. Pikiran dan emosi kita terkuras oleh kebencian dan menunggu saat pembalasan. “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka (orang Samaria yang menolak Yesus)?” Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa hal ini harus kita lepas.

Hal Kedua adalah hasrat kita untuk keamanan dan kenyamanan hidup. Untuk mencari kenyamanan dan kehidupan yang menyenangkan adalah bagian dari sifat kita, dan ini tidak lepas dari usaha kita mengumpulkan kekayaan. Mentalitas modern juga melatih kita untuk mencintai kerja dan bersaing untuk posisi tertinggi dan sukses terbesar. Ketika kita bekerja keras dan berprestasi di berbagai bidang hidup kita, seperti dalam karir, bahkan dalam pelayanan kita di Gereja, ini memberi kita kepuasaan. Namun, Yesus juga menginginkan kita untuk lepaskan hal ini. Yesus secara sederhana mengatakan, “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.

Hal ketiga adalah yang paling sulit. Ini adalah keluarga. Ketika seorang pengikut Yesus ingin menguburkan ayahnya, Yesus membuat pernyataan kuat namun simbolik, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati.” Sebagai orang Indonesia, saya memiliki rasa kekeluargaan yang kuat. Hampir semua peristiwa besar dalam hidup saya seperti wisuda dan kaul kekal, orang tua saya hadir dengan bangga. Meskipun, ini berarti mereka perlu terbang ke Manila dan menghabiskan banyak uang. Sama halnya juga dengan frater-frater OP Filipina, tidak terpikirkan bagi mereka untuk benar-benar melepaskan diri dari keluarga mereka. Namun, bahkan yang paling berharga ini, Yesus ingin kita sisihkan.

Sepertinya permintaan yang Yesus tidak hanya sangat sulit, tetapi juga mustahil. Mengapa harus seperti ini? Membaca Injil hari ini, kita melihat bahwa Yesus telah menetapkan tujuan-Nya ke Yerusalem. Dia tahu betul bahwa tidak ada apa-apa selain kegagalan dan kematian-Nya di sana. Namun, Dia tetap melakukan ini karena Dia taat pada kehendak Bapa-Nya. Apakah kehendak Bapa? Hal ini adalah tuntutan kasih: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Yesus mengajak kita untuk membenahi prioritas kasih kita secara radikal. Ketika kita mengasihi Allah, maka selebihnya akan berada di tempat yang tepat.

Ketika kita melihat Allah terlebih dahulu, kita akan mencoba sebaik mungkin untuk mengasihi orang yang membenci kita karena mereka juga diciptakan sebagai citra Allah juga. Ketika kita mencari Tuhan terlebih dahulu, harta benda, kesuksesan dan keamanan hidup dipandang sebagai berkat dari Tuhan. Dan, sebagai berkat, kita dengan mudah berbagi dengan sesama. Ketika kita mengasihi Allah terlebih dahulu, kasih kita untuk keluarga kita akan dimurnikan, karena kita akan membawa mereka lebih dekat dengan Tuhan.

Seorang teman bercerita bagaimana keluarga sangat penting baginya. Tapi, semua mulai berantakan, karena adiknya terterat dalam kecanduan narkoba. Awalnya, ia tidak suka adiknya menjalani rehabilitasi dan terpisah dari keluarga untuk waktu yang lama. Tapi, setelah doa yang panjang, ia memutuskan untuk membawa adiknya untuk masuk pusat pemulihan. Ini adalah keputusan yang menyakitkan, tapi kasihnya kepada Allah telah membawa dia ke sebuah kasih yang lebih besar untuk sang adik. Sekarang, ia menjadi lebih saleh dan ia menghadiri misa setiap hari untuk pemulihan adiknya.

Untuk mengikuti Yesus adalah sulit, tetapi ini adalah bagian dari tuntutan kasih. Dan hanya kasih kita kepada Allah membawa kita pada kepenuhan hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

“Who Do You Say that I Am?”

12th Sunday in The Ordinary Time. June 19, 2016 [Luke 9:18-24]

 simon n jesus - for blogWhat will be your answer to Jesus’ question “Who do you say that I am?” We may come up with multiple answers. He is my God, my savior, my friend or my brother. But, we seldom ask, “Do we really understand Jesus’ question? Do we get the right answer? Why is it that Peter would confess that Jesus is Christ of God in the first place?

Christ comes from a Greek ‘Christos’, meaning Messiah or the Anointed One. In the Old Testament, the Anointed One of God refers to the great kings of Israel like Saul and David. Less often, the anointed one applies to prophets and priests. They were called as such because they were anointed with the sacred oil before they assumed the important office. They are leaders of the people as well as God’s representative. When God chose David to lead His People, He instructed Prophet Samuel to go to Bethlehem to house of Jesse and look for David. When the holy prophet found him, he anointed David with the sacred oil. The Spirit of the Lord then rushed and filled upon David (1 Sam 16:1-14). Under King David, Israel reached its pinnacle. Yet, after his demise, Israel’s glory slowly fading and even disappeared altogether. Since then, the Israelites long for the coming of the Anointed One who will restore their glory.

Jesus definitely was aware that He is the Anointed One. In the beginning of his preaching ministry, Jesus went to the synagogue in Nazareth and proclaimed, “The Spirit of the Lord is upon me, because he has anointed me to bring glad tidings to the poor. (Luk 4:18).” Yet, Jesus avoided public proclamation that He is the Christ. He knew well that He would be misunderstood by the Jews. He never came as a political liberator nor a military chieftain. Thus, He waited until the best time arrived.

The time reached fulfillment when Peter was able to answer correctly. Tired of Roman oppressions, the entire Israel, including Peter, was impatient for the coming of the Messiah. When Jesus nodded that He is the Christ, Peter and other disciples would not have a second thought. They would follow their Messiah until the New Israel is born. For Peter, his answer is more than making a confession on Jesus’ identity, but promising firm allegiance to Jesus. Yet, again Jesus had to remind them of the false image of Messiah. He would be rejected, persecuted and even murdered. Following Him means also suffering the same fate as their Master.

When Jesus confronts us with this question “Who do you say that I am?” it is not about giving personal and favorite status of Jesus. Following Peter, our answer is fundamentally about radical commitment to Jesus. It means to follow Him for better or worse. It entails sufferings and cross. Even we may lose our life. We can easily and joyfully sing and praise Jesus in worship meetings, but do we get involved in dirty works of helping the poor? We are proud to have our wedding at the big Church with glamorous celebration, but are we patient enough to endure the trials of marriage life ‘until death do us part’? We are called Christian, because we bear Christ in us. But, do we live like Christ’s image in the world?

To answer rightly, we need to get the question correctly. Have we understood Jesus’ question “Who do you say that I am?” Have we dared to give the right answer? May St. Paul reminded us who we are, “I have been crucified with Christ; yet I live, no longer I, but Christ lives in me (Gal 2:19-20)”

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

“Menurut Kamu, Siapakah Aku ini?”

Minggu Biasa ke-12. 19 Juni 2016 [Lukas 9:18-24]

quo vadisApa yang akan menjadi jawaban kita saat Yesus bertanya “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Kita mungkin menjawab: Dia adalah Tuhan, Juruselamat, sahabat atau saudara. Tapi, apakah kita sudah mengerti dengan baik pertanyaan Yesus? Apakah jawaban kita inilah yang Yesus harapkan? Mengapa jawaban Petrus adalah Kristus dan bukan jawaban lainnya?

Kristus berasal dari kata Yunani ‘Christos’ yang berarti Mesias atau Yang Terurapi. Dalam Perjanjian Lama, Yang Terurapi mengacu pada raja-raja besar Israel seperti Saul dan Daud. Tapi kadang juga, Mesiah berlaku bagi para nabi dan imam. Mereka disebut seperti itu karena mereka diurapi dengan minyak suci sebelum mereka mengemban tugas penting. Mereka adalah pemimpin bangsa Israel dan juga wakil Allah. Ketika Tuhan memilih Daud untuk memimpin umat-Nya, Dia memerintahkan Nabi Samuel untuk pergi ke Betlehem ke rumah Isai dan mencari Daud. Ketika sang nabi menemukannya, ia mengurapi Daud dengan minyak suci. Roh Tuhan kemudian bergegas dan memenuhi Daud (1 Sam 16: 1-14). Di bawah Raja Daud, Israel mencapai puncak kejayaannya. Namun, setelah kematiannya, kejayaan Israel perlahan memudar dan bahkan hilang sama sekali. Sejak saat itu, Israel merindukan kedatangan Mesias yang akan mengembalikan kejayaan mereka.

Yesus menyadari bahwa Dia adalah Kristus. Pada awal misi pewartaan-Nya, Yesus pergi ke rumah ibadat di Nazaret dan menyatakan, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku (Luk 4:18). Namun, Yesus menghindari proklamasi publik bahwa Dia adalah Kristus. Dia tahu betul bahwa ia akan disalahpahami oleh orang-orang Yahudi. Dia tidak pernah datang sebagai tokoh politik ataupun seorang pemimpin militer. Dengan demikian, Ia menunggu sampai waktu yang tepat.

Waktunya tiba ketika Petrus mampu menjawab dengan benar. Lelah dengan penindasan Romawi, seluruh Israel, termasuk Petrus, tidak sabar akan kedatangan Mesias. Ketika Yesus mengamini bahwa Ia adalah Kristus, Petrus dan murid-murid lainnya tidak akan berpikir dua kali. Mereka akan mengikuti Mesias mereka sampai Ia membawa Israel yang baru. Bagi Petrus, jawabannya lebih dari sekedar pengakuan tentang identitas Yesus, tetapi menyatakan kesetiaannya kepada Yesus. Namun, sekali lagi Yesus harus mengingatkan mereka akan ide salah tentang Mesias di kepala mereka. Dia akan ditolak, dianiaya dan bahkan dibunuh. Mengikuti Yesus berarti juga menderita nasib yang sama seperti Guru mereka.

Ketika Yesus menghadapkan kita dengan pertanyaan Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Ini bukan saja tentang memberikan jawaban personal dan favorit tentang Yesus. Seperti Petrus, jawaban kita pada dasarnya adalah komitmen radikal kepada Yesus. Ini berarti untuk mengikuti-Nya dalam suka dan duka. Hal ini menuntut penderitaan dan salib. Bahkan mungkin kita akan kehilangan hidup kita. Kita dengan mudah bernyanyi dan memuji Yesus dalam prayer meeting, tapi apakah kita mau terlibat dalam karya sulit untuk membantu orang-orang miskin? Kita bangga mengalami pernikahan kita di Gereja besar dan indah, tapi apakah kita mampu sabar untuk menanggung cobaan hidup perkawinan ‘sampai kematian memisahkan kita’? Kita dipanggil Kristiani, karena kita adalah milik Kristus. Tapi, apakah kita bisa hidup sebagai citra Kristus di dunia?

Untuk menjawab dengan benar, kita perlu mengerti pertanyaan Yesus dengan benar. Saat, kita mengerti pertanyaan Yesus “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Apakah kita berani memberikan jawaban yang benar? St. Paulus mengingatkan siapa kita sebenarnya, “Aku telah disalibkan dengan Kristus;  namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. (Gal 2: 19-20).”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus and the Women

11th Sunday in the Ordinary Time. June 12, 2016 [Luke 7:36—8:3]

 “So I tell you, her many sins have been forgiven; hence, she has shown great love (Luk 7:47).”

women disciplesLuke has a keen eye for the roles of woman in the life of Jesus and the Church. From the beginning of his Gospel to the end, he made sure that women have important role to play. Among the four Gospels, only Matthew and Luke wrote the infancy narrative. While Matthew had Joseph as the main character, Luke chose Mary as his protagonist. Thanks to Luke, we are able to mediate on the great stories of the Annunciation, the Visitation, and the Presentation. Due to Luke also, we may sing Mary’s Magnificat.

In today’s Gospel, Luke presented several women and their important contributions. The first is the unnamed yet repented woman. The woman stands as contrast to the male host, Simon the Pharisee. While Simon felt right and needed no repentance, the woman admitted her sins and asked Jesus’ forgiveness. Jesus presented the woman as good model for us, Christians. Often like Simon the Pharisee, we feel we are in no need of repentance because we are Church’s people. We go to the Church regularly and we are active in various ministries. We feel just right. But, we are forgetting the elementary truth that everyone is a sinner and in need of His mercy. St. Paul reminds us, “All have sinned and are deprived of the glory of God. 24 They are justified freely by his grace through the redemption in Christ Jesus, (Rom 3:23-24).”

When we remind ourselves that we are practically nothing without His love. Everything we are and have, are His gift, we cannot but be grateful. The woman showed a great love to Jesus, she receives forgiveness. We will love and serve the Lord because we are forgiven and loved. The repented woman remind us that humility and gratitude are the right dispositions to serve the Lord. it is not because we are good, capable, and talented.

After the story of the repented woman, Luke also mentioned several women: Mary of Magdalene, Joanna, Susanna and many others. All have something in common. They supported Jesus and His preaching ministry out of their own resources. Male disciples, like Peter, John and James have been always in the spotlight, but Luke gave us an idea that their ministry was practically impossible without the generous support of these woman. Our Church inherited an apostolic tradition. This means the apostles and their successors take the leadership helm. This means also our Catholic, Apostolic Church’s leadership is entrusted to men. Yet, we need to remember without the generosity of women, this Church will not operate well.

I myself have experienced this such generosity. I am part of the Lectors’ group of Sto. Domingo Parish in Metro Manila and many of its members are women. I am always amazed on how generous they are in their time and resources for the parish and ministry despite their problems and limitation. I am also member of the Dominican family, and our female counterpart has played indispensable role. Before he established the Order of Preachers, St. Dominic founded first the Dominican nuns in Prouille. One of the reasons is to spiritually support the rigorous preaching of the brothers. Up to this day, the Dominican sisters are in the forefront in supporting the brothers and the lay Dominicans. Certainly, my own mother has been generous in giving me to the Church. Without their generosity, I would have not been in my place now. Indeed, without women’s generosity, the Church would have not been in this place now.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Para Perempuan

Minggu Biasa ke-11. 12 Juni 2016 [Lukas 7:36-8:3]

 “Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. (Luk 7:47).”

Lukas memiliki perhatiawomen disciples 2n khusus bagi peran perempuan dalam kehidupan Yesus dan Gereja. Di Injilnya, ia memastikan bahwa perempuan memiliki peran penting. Di antara keempat Injil, hanya Matius dan Lukas menulis kisah kelahiran Yesus. Sementara Matius memiliki Joseph sebagai karakter utama, Lukas memilih Maria sebagai protagonisnya. Karena Lukas, kita bisa merenungkan kisah-kisah besar seperti Maria menerima Kabar Gembira, Maria mengunjungi Elizabet. Karena Lukas juga, kita bisa ikut bernyanyi Kidung Maria atau Magnificat.

Dalam Injil hari ini, Lukas menulis beberapa perempuan dan kontribusi penting mereka. Yang pertama adalah perempuan yang tak bernama dan memohon pengampunan. Perempuan itu menjadi kontras dengan tuan rumah laki-laki, Simon orang Farisi. Sementara Simon merasa benar dan tidak membutuhkan pertobatan, perempuan itu menyadari dosa-dosanya dan meminta pengampunan Yesus. Yesus mempersembahkan sang perempuan sebagai model yang baik bagi kita, orang-orang Kristiani. Sering seperti Simon orang Farisi, kita merasa tidak membutuhkan pertobatan karena kita adalah orang-orang Gereja. Kita pergi ke Gereja secara teratur dan kita aktif di berbagai pelayanan. Kita merasa benar. Tapi, kita melupakan kebenaran dasar bahwa kita adalah orang berdosa dan membutuhkan rahmat-Nya. St Paulus mengingatkan kita, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. (Rom 3: 23-24).”

Saat kita sadar bahwa kita bukanlah apa-apa tanpa kasih-Nya, dan semua yang kita miliki, adalah karunia-Nya, kita hanya bisa bersyukur dan rendah hati. Sang perempuan menunjukkan kasih yang besar kepada Yesus, karena ia menerima pengampunan. Kita akan mengasihi dan melayani Tuhan karena kita diampuni dan dikasihi. Perempuan yang bertobat mengingatkan kita bahwa kerendahan hati dan rasa syukur adalah disposisi yang tepat untuk melayani Tuhan, dan bukan karena kita baik, mampu, dan berbakat.

Setelah kisah perempuan bertobat ini, Lukas juga menyebutkan beberapa perempuan: Maria Magdalena, Yohana, Susanna dan beberapa yang lainnya. Semua memiliki kesamaan. Mereka mendukung Yesus dan misi pewartaan-Nya dengan kekayaan mereka. Benar bahwa murid laki-laki, seperti Petrus, Yohanes dan Yakobus selalu menjadi sorotan, tetapi Lukas memberi kita gambaran bahwa pelayanan mereka praktis tidak mungkin tanpa dukungan dari para perempuan yang murah hati ini. Gereja kita mewarisi tradisi apostolik. Ini berarti para rasul dan penerus mereka yang adalah kaum pria mengambil pucuk kepemimpinan. Namun, kita perlu ingat tanpa kemurahan hati perempuan, Gereja yang kita cintai ini akan pincang.

Saya sendiri mengalami kemurahan hati Injili ini. Saya adalah bagian dari kelompok lektor Paroki Sto. Domingo di Metro Manila dan banyak anggotanya adalah perempuan. Saya selalu kagum dengan kemurahan hati mereka dalam membagikan waktu, tenaga dan dana bagi paroki dan pelayanan meskipun berbagai masalah dan keterbatasan yang mereka harus hadapi. Saya juga anggota dari keluarga Dominikan, dan rekan perempuan kita telah memainkan peran tak tergantikan. Sebelum Santo Dominikus de Guzman membentuk Ordo Pengkhotbah, ia terlebih dahulu mendirikan biara para biarawati Dominikan di Prouille. Salah satu alasannya adalah untuk mendukung secara rohani misi pewartaannya dan saudara-saudaranya. Sampai hari ini, para suster Dominikan berada di garis terdepan dalam mendukung para imam, frater dan awam. Tentu saja, banyak perempuan murah hati yang selalu mendukung dan mendoakan saya di perjalan panggilan ini. Secara khusus, ibu saya sendiri telah bermurah hati dalam mempersembahkan saya ke Gereja. Tanpa kemurahan hati mereka, saya akan tidak berada di tempat saya sekarang. Memang, tanpa kemurahan hati perempuan, Gereja akan tidak berada di tempat ini sekarang.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP