Minggu dalam Pekan Biasa ke-29 [16 Oktober 2016] Lukas 18: 1-8
“…namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia… (Luk 18:5)”
Merasa lelah dan bosan adalah bagian dari kehidupan kita yang tak terhindarkan. Setelah melakukan hal-hal dalam jangka waktu lama, kita bisa kehabisan tenaga. Bahkan saat kita melakukan sesuatu yang kita cintai, kepenatan juga kadang melanda. Seorang pria yang menikahi wanita yang ia kasihi, tapi setelah menghadapi kekecewaan dan permasalahan rumah tangga, dia mulai berpikir apakah dia membuat keputusan yang tepat saat menikah dulu. Seorang ibu mencintai anak gadisnya yang beranjak dewasa, tapi ternyata sang gadis terlibat dalam penyalahgunaan narkoba dan melarikan diri dengan teman-temannya. Sang ibu menghabiskan semua uangnya dan tenaga untuk membawa putrinya kembali, namu semua usaha gagal, dan diapun lelah. Sebagai seorang biarawan, saya mencintai panggilan saya, tapi setelah bertahun-tahun bangun dini hari untuk mengikuti Misa harian dan doa brevir, dan juga setiap hari belajar filsafat dan theologi yang sulit, sayapun merasa bosan.
Saat ini kita merasa lemah dan lelah, godaan akan datang dan merayu kita untuk meninggalkan komitmen yang kita telah buat. Kita bahkan digoda untuk melakukan hal-hal gila dan berbuat dosa. Kita menjadi seperti hakim dalam Injil hari ini, yang ‘tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun.’ Kita mulai melakukan hal-hal yang tak terpikirkan. Kita menyakiti orang yang kita cintai. Kita membawa penderitaan dan kesengsaraan bagi orang lain dan diri kita sendiri.
Namun, kita sangat diberkati karena kita memiliki Allah yang seperti janda dalam Injil hari ini. Dia mengetuk hati kita siang dan malam sampai kita mau memberikan keadilan bagi-Nya dan sesama kita. Tanpa lelah Dia mengingatkan kita untuk setia dengan komitmen kita, berulang kali mendorong kita untuk bertekun dalam melakukan yang baik, dan tak henti-hentinya memanggil kita kembali setiap kali kita goyah.
Kasih dan perhatian-Nya yang tak henti-henti ini terwujud dalam cara yang sangat lembut di dalam kehidupan sehari-hari kita. Dia menempatkan sukacita kecil di dalam doa harian kita, meskipun kadang membosankan. Dia memberi kita keluarga dan teman-teman yang setia mendukung kita dalam waktu-waktu sulit. Dia memberikan kita dengan berkat-berkat sederhana yang kita cenderung abaikan. Salah satu faktor penopang dalam panggilan saya adalah Tuhan memberi saya sebuah komunitas. Memang, kadang-kadang hidup dalam komunitas cukup merepotkan, apalagi dengan watak yang berbeda-beda, tetapi ini juga menyediakan ekosistem dan struktur hidup untuk menopang kehidupan Dominikan saya. Frater-frater akan mengetuk pintu kamar saya agar saya tidak terlambat dalam doa, memberi kesempatan untuk berkhotbah, dan juga mengevaluasi saya agar saya berkembang, dan tentunya, mereka menkoreksi saya jika saya melakukan kesalahan. komunitas saya adalah cara Allah mengomeli saya.
Kita mungkin jenuh dengan banyak hal. Kita kelelahan dalam menjaga komitmen kita entah sebagai suami-istri atau orang tua. Kita bosan melakukan kewajiban kita sebagai pelajar atau pelayanan kita sebagai imam atau rohaniawan. Namun, kita ingat bahwa kita memiliki Allah yang terus-menerus mengasihi kita dan tidak pernah menyerah, bahkan saat kita sudah menyerah pada diri kita sendiri. Apa yang perlu kita lakukan adalah hanya untuk membuka mata, telinga dan hati kita kepada ‘omelan’-Nya yang tak henti. Karena Ia seperti janda yang tak kenal lelah memperjuangkan keadilan bagi-Nya dan bagi kita.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Reading through today’s Gospel, it seems to have faith is to perform some sort of magical power. If I have faith, I can create rice field on the seabed. If I have faith, I can made a Lamborghini car out of pile of garbage. If I have faith, I can transform my voice like Ed Sheeran. But, faith is not like that. It is not a magical show to entertain us. It is neither an instant answer to our wishes. Yet, it remains true that even the smallest of faith can make the difference.
Membaca Injil hari ini, tampaknya memiliki iman itu membuat kita memiliki kekuatan super. Jika saya memiliki iman, saya dapat menanam padi di dasar laut. Jika saya memiliki iman, saya bisa membuat mobil Lamborghini dari tumpukan sampah. Jika saya memiliki iman, saya bisa mengubah suara saya seindah Ed Sheeran. Tapi, iman tidak seperti itu. Iman bukanlah pertunjukan sulap untuk menghibur kita. Iman bukanlah jawaban instan bagi keinginan-keinginan kita. Namun, benar adanya bahwa bahkan iman terkecil pun dapat membuat berbedaan yang berarti dalam hidup kita.
When Abraham said to the tormented rich man, “My child, you have received what was good during your life,” does it mean I will be thrown to the netherworld as well? I admit I have received so many good things in my life. I enjoy three good meals a day. I am studying in one of the best schools in the country. I do not have to worry about the security and future of my life. Many of us are enjoying the good things in this world, and we may ask ourselves, “are we going to have the same fate with this rich man in the parable?”
Ketika Abraham berkata kepada orang kaya yang tersiksa di alam maut, “Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu.” Apakah saya juga akan berakhir di alam maut? Saya mengakui bahwa saya telah menerima begitu banyak hal baik dalam hidup. Saya makan tiga kali sehari. Saya belajar di salah satu sekolah terbaik di Filipina. Saya tidak perlu khawatir tentang keamanan dan masa depan hidup saya. Banyak dari kita yang menikmati hal-hal baik di dunia ini, dan kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, “Apakah kita akan memiliki nasib yang sama dengan pria kaya dalam perumpamaan ini?”
We were created in the image of God. Thus, our true happiness is only in God. As St. Augustine would say, “You have created us for Yourself, O God, and our hearts are restless until they rest in You.” St. Teresa of the Avilla would echo the same truth when she simply said, “God alone suffices.” But, we were also born into the real human body within a complex and concrete world. As we journey toward God, we cannot totally separate our soul from the various mundane concerns. Even the monks and nuns living in monasteries will still work hard to fulfill their daily and basic needs.
Kita diciptakan menurut citra Allah, dan dengan demikian, kebahagiaan sejati kita hanya pada Allah. Seperti yang St. Agustinus katakan, “Engkau menciptakan kami untuk untuk diri-Mu, ya Allah, dan hati kami gelisah sampai mereka menemukan-Mu.” St. Teresa dari Avilla mengemakan kebenaran yang sama ketika ia mengatakan, “Allah mencukupi.” Tapi, kita juga lahir sebagai manusia yang memiliki tubuh dan ke dalam dunia yang kompleks. Saat kita berziarah menuju Allah, kita tidak bisa benar-benar memisahkan jiwa kita dari berbagai urusan duniawi. Bahkan para Rahim yang tinggal di pertapaan tetap bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan dasar mereka.
The parable of the lost sheep subtly speaks of who we are fundamentally to Jesus. We are all His sheep and He is our shepherd. Whether we faithfully remain inside the sheepfold or go astray, we are still His sheep.
Perumpamaan tentang domba yang hilang sebenarnya berbicara tentang siapa diri kita dan relasi mendasar kita dengan Yesus dan sesama. Kita semua domba-Nya dan Dia adalah gembala kita. Apakah kita domba yang setia berada di dalam gembalaan, atau domba yang tersesat, kita tetap domba-domba-Nya.
Being a disciple is an essential character of Jesus’ followers. In our time, a disciple may mean a student of particular teachers or schools. Like Br. Bayu is a student of the University of Santo Tomas, Manila. In ancient time, especially in Eastern and Jewish tradition, being a disciple has a different understanding. A disciple would not only accept his master’s teachings, but literally follow his Master wherever he would go and stay. Disciples would not only learn on various insight, but also witness and imitate how their master lived his life. They shared their master’s meal, and they were part of their teachers’ joy and sadness. Thus, being a disciple is not only about an intellectual education, but also a holistic formation. It is fundamentally sharing the very life of the master himself.