Minggu Biasa dalam Pekan ke-25 [18 September 2016] Lukas 16: 1-13
“Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi (Luk 16:9).”
Kita diciptakan menurut citra Allah, dan dengan demikian, kebahagiaan sejati kita hanya pada Allah. Seperti yang St. Agustinus katakan, “Engkau menciptakan kami untuk untuk diri-Mu, ya Allah, dan hati kami gelisah sampai mereka menemukan-Mu.” St. Teresa dari Avilla mengemakan kebenaran yang sama ketika ia mengatakan, “Allah mencukupi.” Tapi, kita juga lahir sebagai manusia yang memiliki tubuh dan ke dalam dunia yang kompleks. Saat kita berziarah menuju Allah, kita tidak bisa benar-benar memisahkan jiwa kita dari berbagai urusan duniawi. Bahkan para Rahim yang tinggal di pertapaan tetap bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan dasar mereka.
Kemanusiaan dan aspek temporal kehidupan kita adalah bagian integral dari siapa kita. Ini semua adalah berkat dan karunia Allah juga. Hal yang tepat dan bijaksana adalah untuk mengunakan tubuh dan dimensi temporal kehidupan kita dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama. Saya percaya bahwa untuk bisa mewartakan dengan efektif dan efisien, sangat penting bagi para pewarta untuk menjaga kesehatan mereka. Sebagai peribahasa Latin kuno berkata, ‘Mens sana in corpore sano’ (pikiran yang sehat dalam tubuh yang sehat).
Kita tidak boleh diperbudak oleh uang, kekayaan dan harta benda lainnya. Tentu saja, lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Siapa di antara kita yang mengejar-ngejar HP versi terbaru? Siapa di antara kita menghabiskan berjam-jam hanya untuk memilih pakaian yang paling modis? Dalam skala yang lebih besar, korupsi, ketidakadilan dan eksploitasi adalah bentuk-bentuk dari ektreme keterikatan kita pada hal-hal duniawi.
Dari perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur, Yesus mengajarkan kita untuk menjadi cerdas dalam menangani hal-hal duniawi. Di Israel, bagi tuan rumah untuk mempercayakan bisnis kepada bendaranya adalah praktek yang umum. Beberapa bendahara memang memanipulasi posisi mereka dan mencari keuntungan sendiri dengan praktek riba. Mereka memberi bunga yang besar kepada para peminjam dari tuan mereka. Sayangnya, ada satu bendahara yang tertangkap tangan dengan praktik riba ini, dan juga menghambur-hamburkan kekayaan tuannya. Lalu, untuk menyelamatkan dirinya, sang bendahara melalukan hal yang cerdik. Ia bertemu dengan debitur dan meminta mereka untuk menulis ulang catatan utang mereka. Dia memutuskan untuk menghapus bunga yang akan menjadi keuntungan pribadinya, dan membiarkan mereka membayar sesuai jumlah aslinya. Peminjam akan berhutang budi kepadanya, dan ia menyelamatkan dirinya sendiri. Seperti bendahara dalam perumpamaan hari ini, kita perlu tahu apa yang benar-benar penting untuk kebahagiaan dan keselamatan kita, serta menyadari letak kemanusian dan berbagai aspek temporal dalam totalitas kehidupan kita.
Yesus menjadi contoh yang tepat bagi kita. Dia adalah ilahi dan spiritual. Dia mengendalikan kekuatan alam, dia menaklukkan roh-roh jahat, dan Dia juga memiliki kuasa untuk mengampuni dosa. Meskipun, Dia adalah ilahi, Dia tidak mengabaikan kemanusiaan. Dia, pada kenyataannya, sangatlah manusiawi, praktis dan menghormati budaya Yahudi-Nya sendiri. Dia menghidupi tradisi dan adat istiadat Yahudi, ia menyembah Allah dalam rumah-rumah ibadat Yahudi, dan ia mengajar menggunakan bahasa Aram yang mudah dimengerti oleh orang-orang Yahudi pada zaman-Nya. Tidak salah jika Dia adalah benar-benar Allah dan benar-benar manusia. Sungguh, keselamatan dan kebahagian kita berada pada keseimbangan dan kesatuan berbagai aspek spiritual dan duniawi yang kita miliki.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



The parable of the lost sheep subtly speaks of who we are fundamentally to Jesus. We are all His sheep and He is our shepherd. Whether we faithfully remain inside the sheepfold or go astray, we are still His sheep.
Perumpamaan tentang domba yang hilang sebenarnya berbicara tentang siapa diri kita dan relasi mendasar kita dengan Yesus dan sesama. Kita semua domba-Nya dan Dia adalah gembala kita. Apakah kita domba yang setia berada di dalam gembalaan, atau domba yang tersesat, kita tetap domba-domba-Nya.
Being a disciple is an essential character of Jesus’ followers. In our time, a disciple may mean a student of particular teachers or schools. Like Br. Bayu is a student of the University of Santo Tomas, Manila. In ancient time, especially in Eastern and Jewish tradition, being a disciple has a different understanding. A disciple would not only accept his master’s teachings, but literally follow his Master wherever he would go and stay. Disciples would not only learn on various insight, but also witness and imitate how their master lived his life. They shared their master’s meal, and they were part of their teachers’ joy and sadness. Thus, being a disciple is not only about an intellectual education, but also a holistic formation. It is fundamentally sharing the very life of the master himself.


In the time of Jesus, Jews had their own special way of dining. Instead of sitting or standing the Jews would recline on a low table where food and wine are served. Reclining was the sign of free man in Greco-Roman culture. The slaves stood and served the guests. Aside reclining posture, their place in the dining table indicated their importance to the host. The closer they were to the host, the more significant they were to the host. Thus, persons sitting beside the host were expected to be the most important guests.
Pada zaman Yesus, orang-orang Yahudi memiliki cara unik saat perjamuan makan. Alih-alih duduk seperti biasanya, orang-orang Yahudi akan merebahkan diri pada kursi panjang dan menyenderkan tubuh mereka pada meja yang cukup rendah di mana makanan dan anggur yang disajikan. Di dalam budaya Yunani-Romawi kuno, cara makan seperti ini adalah tanda orang yang bebas, sedangkan budak akan berdiri dan melayani para tamu. Selain merebahkan diri, posisi mereka di meja perjamuan akan menunjukkan seberapa pentingnya mereka bagi tuan rumah. Semakin dekat mereka dengan tuan rumah, semakin pentinglah dia bagi sang tuan rumah. Dengan demikian, orang yang duduk di samping tuan rumah adalah tamu yang paling penting.
Salvation is both a gift and a choice. It is free yet it is never cheap. It is a gift because it is freely given by God and no one earns it. Yet, it is a choice because we make all the efforts to receive it and make it ours. Through His death and resurrection, Jesus has made available the grace of salvation for everyone. But, we need to participate in His work of salvation by living out the gift of faith in our daily lives.
Keselamatan adalah sebuah rahmat dan juga pilihan. Keselamatan adalah cuma-cuma, tetapi bukan berarti murahan. Keselamatan adalah rahmat karena diberikan oleh Allah secara cuma-cuma. Namun, ini juga adalah pilihan karena kita perlu membuat semua upaya untuk menerimanya dan menghidupinya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah membuka pintu anugerah keselamatan bagi semua orang. Tapi, kita perlu berpartisipasi dalam karya keselamatan-Nya dengan menghidupi secara penuh karunia iman ini di dalam kehidupan kita sehari-hari.
In the midst of all super-advanced digital gadgets and nano technologies, making fire seems rather archaic and a bit useless. Why will we set a fire and cause pollution, if we have energy-saving LED lamp in our house? However, making fire is the earliest and one of the most significant human invention. Fire revolutionized the lives of our ancestors and gave us substantial advantages over other creatures. Fire brings warm and comfort in chilling and unforgiving weathers. Fire protects us from bigger and fiercer predators. Fire provides light that shed off the darkness. Fire also is needed to forge other inventions and technologies, like various tools and weapons.