The Desert

1st Sunday of Lent [B]

February 18, 2024

Mark 1:12-15

What do we imagine when we hear the word ‘desert’? The image in our mind may vary depending on our experience and knowledge of the desert. Yet, we agree that the desert is barren, plagued by an unfriendly climate, and not a suitable place for humans to live. Then, why does the Spirit lead Jesus to the desert? Why do we need to experience desert moments?

When we have an image of a desert, we can think of a fertile garden as its opposition. The Bible gives us these two images, a garden, and a desert, as two contrasting places. Adam and Eve originally lived in the perfect garden, with everything provided. They had the best food and safest place; most of all, God was with them. Yet, they fell, and they had to leave the garden. They began their journey in a ‘desert’ where they had to work hard to earn their livings, where many dangers lurked, and death was their final destination.

Then, why did Jesus follow the Spirit to the desert? The answer is that Jesus is in the desert for us to find Him. Even the desert may become a holy place because our Saviour is there and blesses this place. Yes, the desert is a dangerous place, and even the evil spirits are lurking to snatch us away from God, yet Jesus is also there. His presence makes even the ugliest place on earth a beautiful and holy ground.

The presence of God in the desert is not even something new. Interestingly, the word desert in Hebrew is מדבר (read: midbar) and can be literally translated as ‘the place of the word.’ Indeed, the desert is where the Israelites endured many hardships and were tested, yet it is also where God manifested Himself and made a covenant with Israel through Moses. In fact, through the desert experience, God disciplined and formed His people.

Our natural inclination is to avoid a desert, whether a natural geographical place or a symbol of our difficult moments in life. We don’t want to experience pain and sickness, we hate to endure financial and economic difficulties, and we detest difficult relationships in our family or community. We want to be blessed, to be in the Paradise. Yet, we must not fear to walk through our deserts because Jesus is there. Indeed, our hardships can exhaust us and become the devil’s opportunity to tempt us hard, yet with Jesus, these experiences can be a means of holiness.

In the season of Lent, the Church teaches us to fast, to pray more frequently, and to increase our acts of charity. These practices invite us into the desert to feel hunger, experience discomfort, and enjoy fewer things that give us pleasure. Yet, paradoxically, when we enter voluntarily and faithfully this difficult desert of Lent, we may find Christ even there, and we are renewed in holiness.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Padang Gurun

Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah [B]

18 Februari 2024

Markus 1:12-15

Apa yang kita bayangkan ketika mendengar kata padang gurun? Gambaran yang ada di benak kita mungkin sangat beragam, tergantung pada pengalaman dan pengetahuan kita tentang gurun. Namun, kita sepakat bahwa padang gurun adalah tempat yang tandus, diliputi oleh iklim yang tidak bersahabat, dan bukan tempat yang cocok untuk dihuni oleh manusia. Lalu, mengapa Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun? Mengapa kita perlu mengalami momen-momen padang gurun?

Ketika kita memiliki gambaran tentang padang gurun, kita dapat berpikir tentang hutan hijau atau taman yang subur sebagai kebalikannya. Faktanya, Alkitab memberikan dua gambaran ini, taman dan padang gurun, sebagai dua tempat yang kontras. Adam dan Hawa pada awalnya tinggal di taman yang sempurna, dengan segala kenikmatannya. Mereka memiliki makanan terbaik, tempat teraman, dan yang paling penting, Tuhan bersama mereka. Namun, mereka jatuh dalam dosa, dan mereka harus meninggalkan taman itu. Mereka memulai perjalanan mereka di ‘padang gurun’ di mana mereka harus bekerja keras untuk mencari nafkah, di mana banyak bahaya mengintai, dan kematian menjadi tujuan akhir mereka.

Lalu, mengapa Yesus berada di padang gurun? Jawabannya adalah bahwa Yesus ada di padang gurun agar kita dapat menemukan-Nya juga di sana. Bahkan padang gurun pun dapat menjadi tempat yang kudus, karena Juruselamat kita ada di sana dan memberkati tempat itu. Ya, padang gurun adalah tempat yang berbahaya, dan bahkan roh-roh jahat pun mengintai untuk merenggut kita dari Tuhan, namun Yesus juga ada di sana. Kehadiran-Nya membuat tempat yang paling jelek sekalipun di dunia ini menjadi tempat yang indah dan kudus.

Kehadiran Tuhan di padang gurun bukanlah sesuatu yang baru. Kata gurun dalam bahasa Ibrani adalah מדבר (baca: midbar), dan secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai ‘tempat sabda’. Memang, gurun Sinai adalah tempat di mana bangsa Israel mengalami banyak kesulitan, dan diuji, namun juga tempat di mana Tuhan menyatakan diri-Nya dan membuat perjanjian dengan Israel melalui Musa. Bahkan, melalui pengalaman di padang gurun, Tuhan mendisiplinkan dan membentuk umat-Nya.

Kecenderungan alamiah kita adalah menghindari padang gurun, baik itu tempat geografis yang nyata maupun simbol untuk saat-saat sulit dalam hidup kita. Kita tidak ingin mengalami rasa sakit dan penyakit, kita benci menanggung kesulitan keuangan dan ekonomi, dan kita tidak mau hubungan yang sulit dalam keluarga atau komunitas kita. Kita ingin selalu diberkati, berada di Firdaus. Namun, sekarang, kita tidak perlu takut untuk berjalan melewati padang gurun karena Yesus ada di sana. Memang, kesulitan kita dapat membuat kita lelah dan menjadi kesempatan bagi iblis untuk mencobai kita dengan keras, namun bersama Yesus, pengalaman-pengalaman ini dapat menjadi sarana kekudusan.

Pada masa Prapaskah, Gereja mengajarkan kita untuk berpuasa, berdoa lebih intens dan meningkatkan amal kasih. Praktik-praktik ini mengundang kita untuk memasuki padang gurun, merasakan kelaparan, mengalami ketidaknyamanan, dan mengurangi hal-hal yang memberi kita kesenangan. Namun, secara paradoks, ketika kita memasuki padang gurun Prapaskah yang sulit ini dengan sukarela dan setia, kita dapat menemukan Kristus di sana, dan kita diperbaharui dalam kekudusan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

For God’s Glory and Human Salvation

Sixth Sunday in Ordinary Time [B]

February 11, 2024

Mark 1:40-45

1 Cor 10:30 – 11:1

Towards the end of his letter to the Corinthians, St. Paul reminded us of two basic purposes of every disciple of Christ. The first one is, “…whatever you do, do all to the glory of God (1 Cor 10:31).” The second one is, “…in everything I do, not seeking my own advantage, but that of many, that they may be saved (1 Cor 10:33).” If we summarize these two verses, St. Paul said that in everything we do, we do for the glory of God and the salvation of others.

However, is it possible to do everything for God’s glory and others’ salvation? Many of us are busy working and occupied with many other things, and often, we just barely remember the presence of God, let alone praise and thank Him. Some of us even are struggling to attend Sunday Masses. Does it mean that we are failing in this regard?

We must remember that St. Paul did not instruct us to ‘say glory to Go’ but rather ‘do everything for God’s glory.’ It is not only about singing praise or uttering from our months “glory to God, glory to God” the whole day. But, fundamentally, it is to choose to do things pleasing to God, even the ordinary and routinary things. In our works, we give glory to God when we do honest jobs. Even as we watch something on the television or our gadgets, we can do it for God’s glory when we avoid seeing things that lead us to sins and choose to engage in what is truly beneficial. Certainly, we cannot give glory to God if we are idle or wasting our time on useless things.

The second purpose is to do everything so that others may find salvation. It is a wrong attitude if we are only focused on our salvation. Our faith is not selfish and individualistic but community-oriented and loving faith. Our salvation depends on the salvation of our neighbors, also. That is a Catholic faith, a faith for universal salvation. A man’s fundamental mission is to bring his wife closer to God. Parents’ salvation hinges on the growth of their children’s holiness.

But are we responsible for the salvation of all? Yes, we are called to preach the Gospel to all, but we are mainly responsible for those close to us, like family or community members. Yet, St. Paul also made a clear message, “Give no offense to Jews or to Greeks or to the church of God (1 Cor 10:32).” Though we are not actively responsible for the salvation of all, we are expected not to cause harms or scandals that may push people away from God. We are always witnesses and disciples of Christ in the world.

Lastly, these two basic missions instructed by St. Paul are the concretization of the most fundamental laws taught by Jesus: to love God and to love our neighbors (see Mat 22:37-38). In everything we do, we do it for the glory of God and the salvation of souls.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Untuk Kemuliaan Allah dan Keselamatan Manusia

Minggu ke-6 dalam Masa Biasa [B]
11 Februari 2024
Markus 1:40-45
1 Korintus 10:30 – 11:1

Menjelang akhir suratnya kepada jemaat di Korintus, Santo Paulus mengingatkan kita akan dua tujuan dasar setiap murid Kristus. Yang pertama adalah, “…segala sesuatu yang kamu perbuat, perbuatlah semuanya untuk kemuliaan Allah (1 Kor 10:31).” Yang kedua adalah, “…dalam segala sesuatu yang kulakukan, aku tidak mencari keuntungan bagiku sendiri, tetapi keuntungan bagi banyak orang, supaya mereka diselamatkan (1 Kor. 10:33).” Paulus mengatakan bahwa dalam segala sesuatu yang kita lakukan, kita melakukannya untuk kemuliaan Allah dan keselamatan sesama.

Namun, apakah mungkin kita melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Tuhan dan keselamatan sesama? Banyak dari kita yang sibuk bekerja dan disibukkan dengan banyak hal lain untuk kelangsungan hidup kita, dan seringkali, kita hampir tidak ingat akan hadirat Tuhan, apalagi memuji dan bersyukur kepada-Nya. Beberapa dari kita bahkan kesulitan untuk menghadiri Misa Mingguan. Apakah ini berarti kita gagal dalam hal ini?

Paulus tidak memerintahkan kita untuk ‘mengucapkan kemuliaan bagi Tuhan’ melainkan ‘melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Tuhan’. Ini bukan hanya tentang menyanyikan pujian atau mengucapkan “kemuliaan bagi Allah di surga” sepanjang hari. Pada dasarnya, apa yang bisa kita lakukan adalah memilih untuk melakukan hal-hal yang berkenan kepada Tuhan, bahkan dalam hal-hal yang biasa dan rutin. Dalam pekerjaan kita, kita memuliakan Allah ketika kita melakukan pekerjaan yang jujur. Bahkan ketika kita menonton sesuatu di televisi atau melihat konten di gadget kita, kita dapat melakukannya untuk kemuliaan Tuhan ketika kita menghindari melihat hal-hal yang membawa kita kepada dosa dan memilih untuk melakukan apa yang benar-benar bermanfaat. Tentu saja, kita tidak dapat memuliakan Allah jika kita menganggur atau membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak berguna.

Tujuan kedua adalah melakukan segala sesuatu agar orang lain mendapatkan keselamatan. Adalah sikap yang salah jika kita hanya berfokus pada keselamatan kita sendiri. Iman kita bukanlah iman yang mementingkan diri sendiri dan individualistis, tetapi iman yang berorientasi pada sesama dan penuh kasih. Keselamatan kita bergantung pada keselamatan sesama kita juga. Itulah iman Katolik, sebuah iman untuk keselamatan universal. Misi mendasar seorang suami adalah membawa istrinya lebih dekat kepada Allah. Keselamatan orang tua bergantung pada pertumbuhan kekudusan anak-anak mereka.

Tetapi, apakah kita bertanggung jawab atas keselamatan semua orang? Ya, kita dipanggil untuk memberitakan Injil kepada semua orang, tetapi kita terutama bertanggung jawab atas mereka yang dekat dengan kita, seperti keluarga atau anggota komunitas kita. Namun, Santo Paulus juga menyampaikan pesan yang jelas, “Jadilah tanpa cela bagi orang Yahudi atau orang Yunani atau Gereja Allah (1 Kor. 10:32).” Meskipun kita tidak secara aktif bertanggung jawab atas keselamatan semua orang, kita diharapkan untuk tidak menyebabkan kerugian atau skandal yang dapat mendorong orang menjauh dari Tuhan. Kita selalu menjadi saksi dan murid Kristus di dunia.

Terakhir, dua misi dasar yang diinstruksikan oleh Santo Paulus ini adalah konkretisasi dari hukum yang paling mendasar yang diajarkan oleh Yesus: mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita (lihat Mat. 22:37-38). Dalam segala sesuatu yang kita lakukan, kita melakukannya untuk kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa-jiwa.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Preaching the Gospel

5th Sunday in Ordinary Time [B]

February 5, 2024

Mark 1:29-39

Often, we believe that the task of preaching the Gospel is only for the bishops, the priests, and the deacons, or for the religious brothers and sisters or lay catechists. Yet, this is only partially true. The truth is that each baptized person has a responsibility. Yes, you and me! But How do we preach if we don’t have the talents or capacity to do that?

Firstly, we must recognize that to preach the Gospel is an essential part of our identity as Christians. To be Christian means we become the image of Christ, or ‘the other Christ’. In today’s Gospel, Jesus made it clear that His mission is to preach the Gospel. He refused to stop in one town and enjoy the praises of the people, but rather, He had to go to other places and preach. If Jesus is committed Himself in announcing the Good News, then we, as His image, are called to reflect this commitment also. A true Christian is one who faithfully preaches the Gospel.

Jesus recognizes this mission as part of His identity and hands it down to His Church as a commandment. After His resurrection, He instructed His disciples, “Go therefore and make disciples of all nations, baptizing them in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit, and teaching them to obey everything that I have commanded you (Mat 28:19-20).” Again, this mission is not optional but a must for every disciple of Jesus.

The Church understands this mission, and thus, she teaches us, “Lay people also fulfill their prophetic mission by evangelization, “that is, the proclamation of Christ by word and the testimony of life… (CCC 905).” St. Thomas Aquinas, a theologian, wrote, “To teach to lead others to faith is the task of every preacher and of each believer (STh. III,71,4 ad 3).”

Yet, how do we preach if we do not have a talent and gift? Firstly, we recognize that they are kinds of preaching particularly entrusted to the clergy, like in the liturgy. The reason is that the Church wants to ensure that preaching in this sacred venue will be done solemnly and according to orthodoxy. However, there are many other opportunities for lay people to preach, and even, in fact, there are contexts in which only lay people can bring the Gospel: marriage and family.

In the family context, men and women are bound not only by their baptism to preach the Gospel but also by their marriage’s promises. Husband and wife bring each other closer to God, and parents educate their children to love God and train them in holiness. This mission requires no special talent or training but time and commitment. We spend time praying together as a family at home or in the church. We teach our children basic prayers. We offer a good role model to our children. We bring our children to our parish for baptism and other sacraments and receive various faith instructions from the priests and catechists.

The mission to preach the Gospel is not only essential to our identity as disciples of Christ, and even our salvation depends on it. Let St. Paul’s words be our motto, “Woe to me if I don’t preach the gospel (1 Cor 9:16).”

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita dan Pewartaan Injil

Hari Minggu ke-5 dalam Masa Biasa [B]

4 Februari 2024

Markus 1:29-39

Sering kali, kita berasumsi bahwa tugas pewartaan Injil hanya untuk para uskup, imam, dan diakon, atau untuk biarawan-biarawati atau katekis-katekis awam. Namun, anggapan ini kurang tepat. Yang benar adalah bahwa setiap orang yang dibaptis memiliki sebuah tanggung jawab untuk mewartakan Injil. Ya, Anda dan saya! Tetapi, bagaimana kita mewartakan jika kita tidak memiliki talenta atau kemampuan untuk melakukannya?

Pertama, kita harus menyadari bahwa mewartakan Injil adalah bagian penting dari identitas kita sebagai orang Kristen. Menjadi Kristen berarti kita menjadi ‘citra Kristus’, atau ‘Kristus yang lain.’ Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan bahwa misi-Nya adalah untuk mewartakan Injil. Dia menolak untuk berhenti di satu kota dan menikmati pujian dari orang-orang, tetapi Dia harus pergi ke tempat lain dan berkhotbah. Jika Yesus sendiri berkomitmen untuk memberitakan Kabar Baik, maka kita, sebagai citra-Nya, dipanggil untuk mewujudkan komitmen ini juga. Orang Kristen sejati adalah orang yang dengan setia mewartakan Injil.

Yesus mengakui misi ini sebagai bagian dari identitas-Nya dan menyerahkannya kepada Gereja-Nya sebagai sebuah perintah. Setelah kebangkitan-Nya, Dia mengamanatkan kepada murid-murid-Nya, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28:19-20). Sekali lagi, misi ini bukanlah pilihan, melainkan kewajiban bagi setiap murid Yesus.

Gereja memahami misi ini, dan dengan demikian, Gereja mengajarkan kepada kita, “Kaum awam juga memenuhi misi kenabian mereka melalui penginjilan, “yaitu pewartaan Kristus dengan kata-kata dan kesaksian hidup… (KGK 905).” Santo Thomas Aquinas, seorang teolog, menulis, “Mengajar untuk menuntun orang lain kepada iman adalah tugas setiap pengkhotbah dan setiap orang beriman (STh. III, 71,4 ad 3).”

Namun, bagaimana kita berkhotbah jika kita tidak memiliki talenta dan karunia? Pertama, kita perlu menyadari bahwa ada jenis-jenis pewartaan yang secara khusus dipercayakan kepada para klerus, seperti di dalam liturgi. Alasannya adalah karena Gereja ingin memastikan bahwa pewartaan di tempat yang sakral ini akan dilakukan dengan khidmat dan sesuai dengan ajaran-ajaran Gereja yang benar. Namun, ada banyak kesempatan lain bagi umat awam untuk pewartaan, dan bahkan, pada kenyataannya, ada konteks-konteks di mana hanya umat awam yang dapat mewartakan Injil: pernikahan dan keluarga.

Dalam konteks keluarga, pria dan wanita tidak hanya terikat oleh baptisan mereka untuk memberitakan Injil, tetapi juga oleh janji pernikahan mereka. Suami dan istri membawa satu sama lain lebih dekat kepada Allah, dan orang tua mendidik anak-anak mereka untuk mengasihi Allah dan melatih mereka dalam kekudusan. Kita meluangkan waktu untuk berdoa bersama sebagai sebuah keluarga di rumah atau di gereja. Kita mengajarkan anak-anak kita doa-doa dasar. Kita memberikan teladan yang baik kepada anak-anak kita. Kita membawa anak-anak kita ke paroki untuk pembaptisan dan sakramen-sakramen lainnya serta menerima berbagai petunjuk iman dari para imam dan katekis. Misi ini tidak membutuhkan bakat atau pelatihan khusus, melainkan waktu dan komitmen, sesuatu yang dimiliki semua orang.

Misi pewartaan Injil tidak hanya sesuatu yang esensial dari identitas kita sebagai murid Kristus, dan bahkan keselamatan kita bergantung pada hal ini. Biarlah kata-kata Santo Paulus menjadi moto kita, “Celakalah aku, jika aku tidak mewartakan Injil” (1 Kor. 9:16).

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The unclean spirits

Fourth Sunday in Ordinary Time [B]

January 28, 2024

Mark 1:21-28

One of the highlights of Jesus’ ministry is the exorcism of the unclean spirits. Mark, the evangelist even, does not hesitate to write that expelling the unclean spirits is part of Jesus’ teaching with authority. Jesus’ authority does not only affect His human hearers but also controls the unclean spirits. Yet, who are these unclean spirits? Why does Jesus have authority over them? And how do they affect our lives?

Based on the revelation and the tradition, the Church teaches that these spirits are also God’s creation. By nature, they are spirits or angels. As a spirit, they are creatures without a body, and since they are not affected by material limitations, they are naturally superior to us humans. However, unlike the good angels that use their power to help humans, these spirits do the opposite. They wish to harm men and women. That’s why they are called the evil spirits.

If God is good, why did God create evil beings? In the beginning, God created them as good spirits. Yet, as creatures with freedom, they made a definitive choice to go against their Creator. Their rebellion against God made them fall from grace, and thus, they were called ‘the fallen angels.’ (see CCC 391-395)

Then, why do the unclean spirits obey Jesus? The answer is straightforward. Jesus is their Creator. Jesus’ authority is reflected in the Greek word chosen when Jesus drives away the demons, ‘φιμοω’ (read: phimoo). Ordinarily, this word is translated as ‘be quiet,’ but literally, it means ‘to put a muzzle.’ It is like a farmer who places a muzzle on the mouth of his rowdy ox and thus puts it under submission. The idea is that Jesus is extremely powerful to the point that He could easily put evil spirits that are beyond human comprehension under His control.

One interesting fact also is that Mark does not call these fallen angels ‘evil spirits’ but rather ‘unclean spirits’ (πνευμα ἀκάθαρτον – pneuma akatarton). In the Jewish context, to be unclean means to be ritually unfit for God. Something or someone impure cannot enter the Temple of God and, thus, cannot offer worship and become far from God. These spirits are unclean precisely because they are not fit for God and, thus, far from Him.

We can also see the uncleanliness as an effect of the evil spirits. One who is under the dominion of the evil spirits becomes unclean and, thus, is far from God. One who lives in sin and, thus, distant from God is under the influence of evil spirits to a certain extent. From here, we can understand that Jesus’ mission to drive out the unclean spirits is an integral part of His mission to make people holy and to unite people with God.

The discussion on the evil spirits is certainly vast and intriguing, but it suffices to say that Jesus is infinitely superior to the evil spirits. Therefore, to live with and in Jesus is the only way to drive away the unclean ones. It is also true that as we go closer to Jesus, the evil spirits will double their efforts, and in this situation, all the more we must cling to Jesus.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Roh-Roh Jahat dan Najis

Hari Minggu Keempat dalam Masa Biasa [B]

28 Januari 2024

Markus 1:21-28

Salah satu hal yang paling menarik dalam pelayanan Yesus adalah pengusiran roh-roh jahat. Markus, sang penulis Injil, bahkan tidak ragu-ragu menuliskan bahwa mengusir roh-roh jahat merupakan bagian dari pengajaran Yesus yang penuh otoritas. Otoritas Yesus tidak hanya mempengaruhi pendengar manusia, tetapi juga mengendalikan roh-roh jahat. Namun, siapakah roh-roh jahat itu? Mengapa Yesus memiliki otoritas atas mereka? Dan bagaimanakah pengaruhnya terhadap kehidupan kita?

Berdasarkan Kitab Suci dan tradisi, Gereja mengajarkan bahwa roh-roh ini juga merupakan ciptaan Allah. Pada dasarnya, mereka adalah roh atau malaikat. Sebagai roh, mereka adalah makhluk tanpa tubuh, dan karena mereka tidak terpengaruh oleh keterbatasan materi, mereka secara alamiah jauh unggul daripada kita manusia. Namun, tidak seperti malaikat baik yang menggunakan kekuatan mereka untuk membantu manusia, roh-roh ini justru melakukan sebaliknya. Mereka ingin mencelakakan manusia. Itulah mengapa mereka disebut sebagai roh-roh jahat.

Jika Allah itu baik, mengapa Allah menciptakan makhluk yang jahat? Pada awalnya, Allah menciptakan mereka sebagai roh-roh yang baik. Namun, sebagai makhluk yang memiliki kebebasan, mereka membuat pilihan yang definitif untuk menentang Pencipta mereka. Pemberontakan mereka terhadap Allah membuat mereka jatuh dari rahmat, dan oleh karena itu, mereka disebut “malaikat-malaikat yang jatuh”. (lihat KGK 391-395)

Lalu, mengapa roh-roh jahat bisa taat kepada Yesus? Jawabannya sangat mudah. Yesus adalah Pencipta mereka. Otoritas Yesus tercermin dalam kata Yunani yang dipilih ketika Yesus mengusir roh-roh jahat, ‘φιμοω’ (baca: phimoo). Biasanya, kata ini diterjemahkan sebagai ‘diam,’ tetapi secara harfiah, kata ini berarti ‘memasang moncong’ (alat yang dipasang di mulut binatang untuk membuatnya diam). Ini seperti seorang petani yang meletakkan moncong di mulut lembu yang gaduh sehingga membuatnya tunduk. Idenya adalah bahwa Yesus sangat berkuasa sampai-sampai Dia dapat dengan mudah menundukkan roh-roh jahat di bawah kendali-Nya.  

Satu fakta yang menarik adalah bahwa Markus tidak menyebut malaikat-malaikat yang jatuh itu sebagai ‘roh-roh jahat’, melainkan ‘roh-roh najis’ (πνευμα ἀκάθαρτον – pneuma akatarton). Dalam konteks Yahudi, najis berarti tidak layak bagi Allah secara ritual. Sesuatu atau seseorang yang najis tidak dapat masuk ke dalam Bait Allah dan, sebagai konsekuensi, tidak dapat mempersembahkan penyembahan dan menjadi jauh dari Allah. Roh-roh ini najis karena mereka tidak layak bagi Allah dan jauh dari-Nya.

Kita juga dapat melihat kenajisan sebagai efek dari roh-roh jahat. Orang yang berada di bawah kekuasaan roh-roh jahat menjadi najis dan jauh dari Allah. Orang yang hidup dalam dosa dan jauh dari Allah, berada di bawah pengaruh roh-roh jahat sampai batas tertentu. Dari sini, kita dapat memahami bahwa misi Yesus untuk mengusir roh-roh jahat merupakan bagian integral dari misi-Nya untuk membuat manusia menjadi kudus dan menyatukan manusia dengan Allah.

Pembahasan mengenai roh-roh jahat tentu saja sangat luas dan menarik, tetapi cukuplah untuk mengatakan bahwa Yesus jauh lebih unggul daripada roh-roh jahat ini. Oleh karena itu, hidup bersama dan di dalam Yesus adalah satu-satunya cara untuk mengusir roh-roh jahat. Juga benar bahwa ketika kita semakin dekat dengan Yesus, roh-roh jahat akan melipatgandakan usaha mereka, dan justru dalam situasi ini, kita harus semakin berpegang teguh pada Yesus.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

What is Gospel?

Third Sunday in Ordinary Time [B]

January 21, 2023

Mark 1:14-20

Jesus began His ministry by preaching, “The time has been fulfilled, the kingdom is at hand; repent and believe in the Gospel!” Yet, the question is, ‘What is the Gospel we need to believe in?’ Indeed, it is not the four written Gospels (Matthew, Mark, Luke, and John) since these were written years after Jesus’ death and resurrection. So, what is the Gospel here?

The most basic understanding of the Gospel is ‘the good news.’ It comes from the Greek word ‘ευαγγελιον’ (read: Evangelion). This word itself is composed of two elements: ‘ευ’ meaning ‘happy’ or ‘good,’ then ‘αγγελιον’ meaning ‘news.’ In the time of Jesus, the word ‘ευαγγελιον’ is not just any good news like “I passed the exam” or “I received a bonus.” The word is an imperial technical term to point to the emperor’s major victory or to the emperor’s birthday celebration. Every time ‘ευαγγελιον’ was announced, there would be great joy among the people because the enemy had been defeated, and now the residents of the empire may live in peace.

Jesus used the same imperial vocabulary but adjusted its content to His purpose. It was no longer about the good news about the Roman empire but about the Kingdom of God. It was no longer about the emperor’s glory but now about Jesus. Those living at that time may respond differently to Jesus’ Gospel. One could consider Jesus insane, delusional, or a liar, and thus, His Gospel was nothing but a laughable lie. Others might see Jesus as subversive; thus, His Gospel was a call to rebellion against the Roman empire. We recall also that this subversive understanding of the Gospel was later used to accuse Jesus before Pilate. Jesus was ‘the king of the Jews’ against the Roman emperor.

However, Jesus proved these assumptions were simply incorrect. Jesus did not preach empty words; He taught with authority and performed mighty miracles. Even the demons were obedient to His words. He was not also a revolutionary political fighter because His Kingdom is not of this world (see John 18:36), and how He refused to be made king by his supporters (see John 6:15). Jesus’ Kingdom is the Kingdom of God of holiness. The only way to enter is repentance (metanoia). The word metanoia presupposes a change of ‘mind’ or ‘lifestyle’ from a life of sins and far from God into a life according to God’s law and, thus, life with God.

Thus, from this perspective, we can say that ‘believe in the Gospel’ means that we believe in the Kingdom of God and Jesus, the king of the Kingdom, who saves us from sins and brings us back to God. And the way to believe is none other than repentance. To say, “I believe in Jesus,” yet we keep stealing other people’s money, is just nonsense. To say, “I trust in God,” but we keep breaking His laws and commandments, is useless. ‘

Another interesting fact! The actual Greek Mark used for ‘believe’ is ‘πιστεύετε’ (pisteuete), and grammatically, it is imperative mode in the present tense. In ancient Greece, this imperative presence means a command to do something, not one time but continuously. Thus, Mark wants to emphasize that belief is a continuous process rather than a one-time action. Belief in Jesus is something that is growing and dynamic rather than static.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apa itu Injil?

Hari Minggu Ketiga dalam Masa Biasa [B]

21 Januari 2024

Markus 1:14-20

Yesus memulai misi-Nya dengan menyatakan, “Waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat, bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Namun, pertanyaannya adalah, “Injil apakah yang harus kita percayai?” Tentu saja, Injil yang dimaksud bukanlah keempat Injil tertulis (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) karena Injil-injil tersebut ditulis beberapa tahun setelah kematian dan kebangkitan Yesus. Jadi, apakah yang dimaksud dengan Injil di sini?

Pengertian paling dasar dari Injil adalah ‘kabar baik’. Kata ini berasal dari kata Yunani ‘ευαγγελιον’ (baca: Evangelion). Kata ini sendiri terdiri dari dua unsur: ‘ευ’ yang berarti ‘bahagia’ atau ‘baik’, lalu ‘αγγελιον’ yang berarti ‘berita’. Pada zaman Yesus, kata ‘ευαγγελιον’ bukanlah sembarang kabar baik seperti “Saya lulus ujian” atau “Saya menerima hadiah.” Kata ini adalah istilah teknis kekaisaran Roma untuk menunjukkan kemenangan besar kaisar atau perayaan ulang tahun kaisar. Setiap kali ‘ευαγγελιον’ diumumkan, akan ada sukacita besar bagi rakyat karena musuh telah dikalahkan, dan sekarang penduduk kekaisaran dapat hidup dengan tenang.

Yesus menggunakan kosakata kekaisaran yang sama tetapi menyesuaikan isinya dengan tujuan-Nya. Injil bukan lagi tentang kabar baik tentang kekaisaran Romawi, tetapi tentang Kerajaan Allah. Injil ini bukan lagi tentang kemenangan kaisar, tetapi tentang kemenangan Yesus. Mereka yang hidup pada masa itu mungkin akan merespons Injil Yesus dengan cara yang berbeda. Orang mungkin menganggap Yesus gila, atau bahkan pembohong, dan dengan demikian, Injil-Nya tidak lain adalah kebohongan yang menggelikan. Orang lain mungkin melihat Yesus sebagai seorang yang subversif-revolusioner, dan dengan demikian, Injil-Nya adalah sebuah seruan untuk memberontak terhadap kekaisaran Romawi. Kita juga ingat bahwa pemahaman subversif tentang Injil ini kemudian digunakan untuk menuduh Yesus di hadapan Pilatus. Yesus adalah ‘raja orang Yahudi’ yang menentang kaisar Romawi.

Namun, Yesus membuktikan bahwa anggapan ini tidak benar. Yesus tidak mewartakan Injil kata-kata kosong; Dia mengajar dengan penuh kuasa dan melakukan mukjizat-mukjizat yang dahsyat. Bahkan setan-setan pun taat kepada perkataan-Nya. Dia juga bukan seorang pejuang politik yang revolusioner karena Kerajaan-Nya bukan dari dunia ini (lihat Yoh 18:36), dan bagaimana Dia menolak untuk diangkat menjadi raja oleh para pendukung-Nya (lihat Yoh 6:15). Kerajaan Yesus adalah Kerajaan Allah yang kudus. Satu-satunya cara untuk masuk ke dalamnya adalah melalui pertobatan (metanoia). Kata metanoia mengandaikan adanya perubahan ‘pikiran’ atau ‘gaya hidup’ dari kehidupan yang penuh dengan dosa dan jauh dari Allah menjadi kehidupan yang sesuai dengan hukum Allah, dan dengan demikian, hidup bersama Allah.

Jadi, dari perspektif ini, kita dapat mengatakan bahwa ‘percaya kepada Injil’ berarti kita percaya kepada Kerajaan Allah dan Yesus, raja dari Kerajaan itu, yang menyelamatkan kita dari dosa-dosa dan membawa kita kembali kepada Allah. Dan bukti kita percaya tidak lain adalah dengan bertobat. Mengatakan, “Saya percaya kepada Yesus,” tetapi kita tetap mencuri uang orang lain, adalah omong kosong. Mengatakan, “Saya percaya kepada Tuhan,” tetapi kita tetap melanggar hukum dan perintah-Nya, adalah sia-sia.

Fakta menarik lainnya! Kata Yunani yang sebenarnya digunakan oleh Markus untuk ‘percaya’ adalah ‘πιστεύετε’ (pisteuete), dan secara tata bahasa, kata ini merupakan bentuk imperatif dalam bentuk waktu sekarang (present tense). Dalam bahasa Yunani kuno, bentuk imperatif ini berarti perintah untuk melakukan sesuatu, bukan hanya sekali tetapi terus menerus. Dengan demikian, Markus ingin menekankan bahwa percaya adalah sebuah proses yang berkelanjutan dan bukannya sebuah tindakan yang dilakukan sekali saja. Percaya kepada Yesus adalah sesuatu yang bertumbuh dan dinamis, bukan statis.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP