Name and Holiness

2nd Sunday in the Ordinary Time [B]

January 14, 2024

John 1:35-42

At the beginning of John’s Gospel, we encounter three acts of naming. Firstly, when John the Baptist saw Jesus, he called Him ‘The Lamb of God’. Then, after staying for a day with Jesus, Andrew called Him the ‘Messiah’ or ‘Christ’ [meaning: the anointed one]. Lastly, after Jesus encountered Simon, Andrew’s brother, He named him ‘Cephas’ in Aramaic, or ‘Petros’ in Greek [meaning: rock]. Why the act of naming is important in the Gospel?

We recall that the act of naming fundamentally belongs to God. God is omnipotent, and so, with every name God uttered, that name became a reality, from nothing to something. “God said, ‘Let there be light!’ And, there was light.” Every time God named and created something, the ever-greater goodness took place. On the final day, God named ‘the seventh day’ as ‘holy.’ Holiness is when a name becomes a reality and that reality reaches its fullness and perfection according to God’s plan.

The Holy Spirit inspired John the Baptist to name Jesus as the Lamb of God. This brings forth the reality that Jesus would be ‘slaughtered’ and ‘consumed’ to save His people from the slavery of sin, like the Passover lamb that was slaughtered and eaten to protect the Israelites from death and liberate them from slavery in Egypt. The Holy Spirit also inspired Andrew to name Jesus as the Messiah. This reveals the reality that Jesus is the promised Anointed one who would fulfill the promises and prophecies of the Old Testament, especially as the King of the New Israel. Jesus’ name is holy because precisely in His name, God’s redemption plan reached its full reality. After all, He is the Word that was made flesh (see John 1:14).

When Jesus called Simon and gave him a new name, ‘Cephas,’ the new reality came into existence. Simon would become the rock where Jesus’ Church rested. Obviously, Simon was impulsive, short-tempered, and even cowardly. Yet, since Jesus named him, the name was part of Jesus’ divine plan. Jesus knew Simon was weak; Jesus allowed Simon to falter, yet Jesus also transformed and empowered him. The name that Jesus had planted at their first encounter finally became a full reality when Simon offered his life as a martyr of Christ in the city of Rome.

We believe that we exist not because of random chance, utterly unplanned, but because of God’s divine plan. We are in the world not only because of biological processes but because God gives us a name, from nothingness to reality. Indeed, God allows us to experience suffering and even failures, yet this is also part of His plan to make us holy.

Holiness is when the names God gave us become more and more reality. How? Like Simon, we do our best to follow His will in our lives, be more patient in suffering, and avoid anything that strays from Him.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Nama dan Kekudusan

Hari Minggu ke-2 dalam Masa Biasa [B]

14 Januari 2024

Yohanes 1:35-42

Di awal Injil Yohanes, kita menemukan tiga peristiwa pemberian nama. Pertama, ketika Yohanes Pembaptis melihat Yesus, ia menyebut-Nya ‘Anak Domba Allah’. Kemudian, setelah tinggal satu hari bersama Yesus, Andreas menyebut-Nya ‘Mesias’ atau ‘Kristus’ [artinya: yang diurapi]. Terakhir, setelah Yesus bertemu dengan Simon, saudara Andreas, Yesus menamai dia ‘Kefas’ dalam bahasa Aram, atau ‘Petros’ dalam bahasa Yunani [artinya: batu karang]. Mengapa tindakan memberi nama itu penting dalam Injil dan juga hidup kita?

Kita ingat bahwa tindakan pemberian nama pada dasarnya adalah milik Allah. Allah itu mahakuasa, sehingga dengan setiap nama yang diucapkan, nama tersebut menjadi kenyataan, dari tidak ada menjadi ada. “Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang! Maka jadilah terang.” Setiap kali Allah menamai dan menciptakan sesuatu, kebaikan yang lebih besar terjadi. Pada hari terakhir, Allah menamai ‘hari ketujuh’ sebagai hari yang ‘kudus’. Kekudusan adalah ketika sebuah nama menjadi sebuah kenyataan dan kenyataan itu mencapai kepenuhan dan kesempurnaannya sesuai dengan rencana Allah.

Roh Kudus mengilhami Yohanes Pembaptis untuk menamai Yesus sebagai Anak Domba Allah. Hal ini memunculkan realitas bahwa Yesus akan ‘disembelih’ dan ‘dimakan’ untuk menyelamatkan umat-Nya dari perbudakan dosa, sama seperti anak domba Paskah yang disembelih dan dimakan untuk melindungi orang Israel dari kematian dan membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Roh Kudus juga mengilhami Andreas untuk menamai Yesus sebagai Mesias. Hal ini mengungkapkan kenyataan bahwa Yesus adalah Yang Diurapi yang akan menggenapi janji-janji dan nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama, terutama sebagai Raja Israel Baru. Nama Yesus adalah nama yang kudus karena justru di dalam nama-Nya, rencana penebusan Allah mencapai kenyataan sepenuhnya. Bagaimanapun juga, Dia adalah Firman yang telah menjadi manusia (lihat Yohanes 1:14).

Ketika Yesus memanggil Simon dan memberinya nama baru, ‘Kefas,’ realitas baru pun muncul. Simon akan menjadi batu karang di mana Gereja Yesus bertumpu. Jelas sekali, Simon adalah orang yang impulsif, pemarah, dan bahkan pengecut. Namun, karena Yesus telah menamainya, nama itu adalah bagian dari rencana ilahi Yesus. Yesus tahu bahwa Simon lemah; Yesus mengizinkan Simon goyah bahkan menyangkal-Nya, tetapi Yesus juga mengubah dan memberdayakannya. Nama yang telah ditanamkan Yesus pada pertemuan pertama mereka akhirnya menjadi kenyataan ketika Simon mempersembahkan nyawanya sebagai martir Kristus di kota Roma.

Kita percaya bahwa kita ada bukan karena kebetulan, sesuatu yang sama sekali tidak direncanakan, tetapi karena rencana ilahi. Kita ada di dunia bukan hanya karena proses biologis, tetapi karena Tuhan memberi kita nama, dari ketiadaan menjadi ada. Memang, Tuhan mengijinkan kita mengalami penderitaan dan bahkan kegagalan, namun ini juga merupakan bagian dari rencana-Nya untuk menjadikan kita kudus.

Kekudusan adalah ketika nama-nama yang Tuhan berikan kepada kita menjadi semakin nyata. Bagaimana caranya? Seperti Simon, kita melakukan yang terbaik untuk mengikuti kehendak-Nya dalam hidup kita, menjadi lebih sabar dalam penderitaan, dan menghindari apa pun yang menyimpang dari-Nya.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Magi and the Truth

The Epiphany of the Lord
January 7, 2024
Matthew 2:1-12 [B]

The Christmas season ends with the feast of Epiphany. This ancient feast is associated with the story of the Magi from the East who visited the child Jesus in Bethlehem. The story is a fitting conclusion to the Christmas season since the Magi represented the nations of the world who came and worshiped the newborn king. Jesus was born not only to be the Messiah of the Jews but also the Savior of the nations.

The identity of the Magi remains largely a mystery. The earliest depiction in the Basilica of the Nativity in Bethlehem presented them dressed in Persian clothes (presently Iran). But, some fathers of the Church believed that they were Chaldeans (now Iraq). Others still argued that they were coming from northern Syria because they were thought to be the descendants of Baalam (see Num 22). Finally, we are not really sure. The Bible describes them as ‘Magos’; in the Bible itself, ‘Magos’ has ambiguous meanings. The word Magos can be negatively associated with a sorcerer, one who practiced magic and even to earn money and fame (see Acts 13:6). Yet, the term can also be translated as a sage or wise man, one who dedicated himself in search of Truth.

The Church’s traditions tend to see the Magi as the wise men from the East. These were people who offered their lives in search of the Truth. Yet, living two millennia before us, they did not enjoy the fruits of scientific revolutions and methods. They had to rely on limited resources and information, often mixed with myths and superstitions. They did not have chemistry yet, but rather alchemy (protoscience that aims to transform one material into something else like gold or medicine). They did not yet understand astronomy principles but contended with astrology (a pseudo-science that reads the celestial bodies and how they relate to human fates). The majority of their literature probably dealt with magic rather than true science.

However, despite their limitations, God recognized their sincere effort and thus led them to the Truth himself through the star. After all, God placed in their hearts the profound thirst for Truth. They proved their commitment as they left their palaces’ comfort and embarked on a long, dangerous journey. We are also not sure what Baltazar, Melchior, and Gaspar (as the tradition calls them) truly experienced when they discovered Jesus, the Truth. We are confident that the Magi are the symbols of humanity in search of Truth for God Himself.

Like the Magi, God also created us as beings that possess a fundamental hunger for Truth. Unfortunately, this hunger for Truth does not find its fulfillment because of sins. The sin of laziness poisons our desire for Truth and chains us in our comfort zones. The sin of lust turns our desire for Truth into carnal desire. The sin of pride makes us believe that we already possess the Truth and we do not need God’s grace. Learning from the Magi, we recognize that sciences are also parts of God’s providence to lead us into ultimate Truth to Himself.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Orang Majus dan Kebenaran

Hari Raya Penampakan Tuhan – Epifani [B]
7 Januari 2024
Matius 2:1-12

Masa Natal berakhir dengan perayaan Epifani. Perayaan kuno ini erat hubungannya dengan kisah orang Majus dari Timur yang mengunjungi bayi Yesus di Bethlehem. Kisah ini merupakan penutup yang tepat untuk masa Natal karena orang Majus mewakili bangsa-bangsa di dunia yang datang dan menyembah raja yang baru lahir. Yesus lahir bukan hanya sebagai Mesias bagi orang Yahudi, tetapi juga Juruselamat bagi semua bangsa.

Identitas orang Majus masih menjadi misteri besar. Lukisan paling awal di Basilika Kelahiran Yesus di Bethlehem menampilkan mereka mengenakan pakaian Persia (sekarang Iran). Namun, beberapa bapa Gereja percaya bahwa mereka adalah orang Kasdim (sekarang Irak). Yang lain berpendapat bahwa mereka berasal dari Suriah utara karena mereka dianggap sebagai keturunan Baalam (lihat Bil. 22). Alkitab menggunakan kata ‘Magos’, dan di dalam Alkitab sendiri, kata ‘Magos’ memiliki arti yang ambigu. Kata Magos dapat diasosiasikan secara negatif dengan tukang sihir, untuk mendapatkan uang dan ketenaran (lihat Kisah13:6). Namun, istilah ini juga dapat diterjemahkan sebagai orang bijak, mereka yang mendedikasikan dirinya untuk mencari Kebenaran.

Tradisi Gereja cenderung melihat orang Majus sebagai orang bijak dari Timur. Mereka adalah orang-orang yang memberikan hidup mereka untuk mencari Kebenaran. Namun, hidup dua milenium sebelum kita, mereka tidak menikmati metode ilmiah dan ilmu pengetahuan modern. Mereka harus mengandalkan sumber daya dan informasi yang terbatas, yang sering kali bercampur dengan mitos dan takhayul. Mereka belum mengenal ilmu kimia, melainkan alkimia (proto-sains yang bertujuan untuk mengubah suatu bahan menjadi bahan lain seperti emas atau obat-obatan). Mereka belum memahami prinsip-prinsip astronomi, namun mereka lebih banyak berkutat pada astrologi (ilmu semu yang membaca benda-benda langit dan bagaimana hubungannya dengan nasib manusia). Mayoritas literatur mereka mungkin lebih banyak membahas tentang ilmu gaib daripada ilmu pengetahuan yang benar.

Namun, terlepas dari keterbatasan mereka, Tuhan melihat upaya tulus mereka, dan dengan demikian menuntun mereka kepada Kebenaran sejati melalui bintang-Nya. Bagaimanapun juga, Tuhan jugalah menempatkan kehausan yang mendalam akan Kebenaran di dalam hati mereka. Mereka membuktikan komitmen mereka ketika mereka meninggalkan kenyamanan istana mereka dan memulai perjalanan yang panjang dan berbahaya. Kita juga tidak yakin apa yang sebenarnya dialami oleh Baltazar, Melkior, dan Gaspar (sebagaimana tradisi menyebutnya) ketika mereka menemukan Yesus, Sang Kebenaran. Namun, kita yakin bahwa orang Majus adalah simbol dari umat manusia yang sedang mencari Kebenaran untuk Tuhan sendiri.

Seperti orang Majus, Tuhan juga menciptakan kita sebagai makhluk yang memiliki rasa lapar yang mendalam akan Kebenaran. Sayangnya, rasa lapar akan Kebenaran ini sering kali tidak terpenuhi karena dosa. Dosa kemalasan meracuni hasrat kita akan Kebenaran dan membelenggu kita dalam zona nyaman. Dosa hawa nafsu mengubah keinginan kita akan Kebenaran menjadi keinginan daging. Dosa kesombongan membuat kita percaya bahwa kita telah memiliki kebenaran dan kita tidak membutuhkan rahmat Allah. Belajar dari orang Majus, kita menyadari bahwa ilmu pengetahuan juga merupakan bagian dari penyelenggaraan Allah untuk menuntun kita ke dalam Kebenaran yang hakiki.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Wives, Husband and Family in God’s Plan

Feast of the Holy Family of Jesus, Mary and Joseph

December 31, 2023

Luke 2:22-40

“Wives, be subordinate to your husbands, as is fitting in the Lord [Col 1:18].” To us, modern readers, the words of St. Paul raise our eyebrows. How come St. Paul instructed women to be subjected and even slaves to men? Were not men and women created equal in dignity? Is St. Paul anti-women or even a misogynist?

To answer these objections, we must understand the historical context of St. Paul and the Church in Colossae. In the Greco-Roman society of the first century AD, women were basically the household property of men. They were primarily responsible for producing legitimate heirs to their husbands and were expected to care for the house. They were to obey their husbands in all respects. Indeed, there were strong and dominant women, but these were exceptions. Even for the women of nobility, though they enjoyed rare lives of luxury, they also turned out to be political tools. They were offered as brides to secure political alliances and the families’ economic security.

Reading St. Paul in this context, his letter is, in fact, revolutionary. In the section of the instructions to the Christian families (see Col 3:18-21), St. Paul did not write, “Husbands, tell your wives that they need to be your subjects!” Instead, he addressed his female readers directly and made his instructions clear to them. This writing style unearthed Paul’s fundamental understanding of the relationship between men and women: wives stand on equal ground with their husbands. What is even more remarkable is that St. Paul mentioned the women first and the men second. This was unheard of! St. Paul transgressed the cultural limitations to preach, “For as many of you as were baptized into Christ have put on Christ. There is neither Jew nor Greek, there is neither slave nor free, there is neither male nor female; for you are all one in Christ Jesus [Gal 3:27-28].”

Now, how do we understand Paul’s word, ‘be subordinate’? St. Paul used the original Greek word ‘ὑποτάσσω’ (read: hupotasso). It literally means ‘to be assigned under.’ So, the wives are assigned under the husbands. Yet, it does not mean that women are lower in human dignity and status in the family. St. Paul understood that the human family is also a form of human community, and any human community need ‘order’ to flourish. A leader is a responsible person who ensures that the order works properly and, thus, generates the greatest good for everyone in the community. In a family context, St. Paul recognized the husband is the leader of an order called family.

St. Paul further clarified this ‘subordination’ by his instruction to the husbands, “Husbands, love your wives, and avoid any bitterness toward them.” For Paul, family is an order of love. Yes, the men are the heads of families, but they are not tyrants but the leaders of love. Men who are naturally stronger physically are expected to protect and provide for the family. Paul expected husbands to give up their lives for their families, as Christ gave His life for the Church (see Eph 5:25). Thus, ‘ὑποτάσσω’ means that wives are under the radical love of husbands.

We recognize that Paul’s ideal is not always happening. Because of our weakness and the devil’s attack, we fall into sin, and we fail to become a good husband or wife. Yet, we must not lose hope because this is God’s plan for us, and we continue to strive in holiness through God’s grace.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Istri, Suami dan Keluarga dalam Rencana Ilahi

Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yusuf
31 Desember 2023
Lukas 2:22-40

“Hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” [Kol 1:18-19].” Bagi kita, para pembaca modern, kata-kata Santo Paulus ini membuat kita terheran-heran. Paulus memerintahkan wanita untuk tunduk dan menjadi bawahan dari suami? Bukankah pria dan wanita diciptakan sederajat? Apakah Santo Paulus anti perempuan?

Untuk menjawab keberatan-keberatan ini, kita harus memahami konteks historis Santo Paulus dan Gereja di Kolose. Dalam masyarakat Yunani-Romawi pada abad pertama Masehi, perempuan pada dasarnya adalah properti rumah tangga laki-laki. Mereka terutama bertanggung jawab untuk menghasilkan keturunan yang sah bagi suami dan diharapkan untuk merawat rumah tangga. Mereka harus mematuhi suami mereka dalam segala hal. Memang, ada wanita-wanita yang kuat dan dominan, tetapi ini adalah pengecualian. Bahkan bagi para wanita bangsawan, meskipun mereka menikmati kehidupan mewah yang langka, mereka juga menjadi alat politik. Mereka ditawarkan sebagai pengantin untuk mengamankan aliansi politik dan keamanan ekonomi keluarga.

Dalam konteks ini, surat Paulus sebenarnya sesuatu yang revolusioner. Pada bagian instruksi untuk keluarga Kristiani (lihat Kol 3:18-21), Santo Paulus tidak menulis, “Hai suami, beritahukanlah kepada istrimu, bahwa mereka harus tunduk kepadamu!” Sebaliknya, ia menyapa para pembaca wanitanya secara langsung (tidak melalui suami mereka). Gaya penulisan ini menunjukkan pemahaman Paulus yang mendasar tentang hubungan antara pria dan wanita: istri berdiri sejajar dengan suami mereka. Yang lebih luar biasa lagi adalah Paulus menyebutkan perempuan terlebih dahulu dan laki-laki di urutan kedua. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya! Paulus melanggar batasan budaya pada zamannya untuk mewartakan, “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus [Gal. 3:27-28].”

Sekarang, bagaimana kita memahami kata Paulus, ‘tunduklah’? Paulus menggunakan kata Yunani ‘ὑποτάσσω’ (baca: hupotasso). Secara harfiah kata ini berarti ‘ditugaskan di bawah’. Jadi, para istri ditugaskan di bawah para suami. Namun, ini tidak berarti bahwa perempuan lebih rendah martabatnya dan statusnya dalam keluarga. Paulus memahami bahwa keluarga juga merupakan suatu bentuk komunitas manusia, dan setiap komunitas manusia membutuhkan sebuah ‘tatanan’ (organisasi) untuk berkembang. Seorang pemimpin adalah orang yang bertanggung jawab untuk memastikan bahwa ‘tatanan’ berjalan dengan baik dan, dengan demikian, menghasilkan kebaikan terbesar bagi semua orang dalam komunitas. Santo Paulus menyatakan bahwa suami adalah pemimpin dari tatanan keluarga.

Paulus memperjelas ‘ὑποτάσσω’ ini dengan instruksinya kepada para suami, “Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” Bagi Paulus, keluarga adalah sebuah tatanan kasih. Ya, para pria adalah kepala keluarga, tetapi mereka bukanlah diktator, melainkan pemimpin kasih. Laki-laki yang secara alamiah lebih kuat secara fisik diharapkan untuk melindungi dan menafkahi keluarga. Paulus mengharapkan para suami untuk menyerahkan hidup mereka bagi keluarga mereka, sebagaimana Kristus telah menyerahkan hidup-Nya bagi Gereja (lihat Efesus 5:25). Dengan demikian, ‘ὑποτάσσω’ berarti istri berada di bawah perlindungan dan kasih dari para suami.

Kita menyadari bahwa cita-cita Paulus tidak selalu terjadi. Karena kelemahan kita dan serangan iblis, kita jatuh ke dalam dosa, dan kita gagal menjadi suami atau istri yang baik. Namun, kita tidak boleh kehilangan harapan karena ini adalah rencana Allah bagi kita, dan kita terus berjuang dalam kekudusan melalui kasih karunia Allah.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Joy of Christmas

The Nativity of our Lord (Christmas)

December 25, 2023

Luke 2:1-14

Merry Christmas!

The Lord is born, and there is a great joy in heaven and earth. However, what is the reason behind this joy of Christmas? There is joy not because we can gather with our family and relatives and have a good Christmas party. The joy is not because we have gifts and bonuses, nor because we travel and have our vacations. So, what is behind this joy?

Christmas is the day that our Savior is born. This birth is not just a natural biological process involving a man and a woman. This birth is a supernatural event that takes its root from God’s love for us, pitiful sinners. God had countless options to redeem us, yet He chose the most intimate way. God the Father sent His Son, and the Son took His second nature, that is, human nature in the Virgin Mary. In this way, God becomes intimately close to us, thus, His title, Immanuel, God-with-us. He is with us not only in spiritual or mystical manners but in the most humanly possible. He is a baby Mary could feed, Joseph could embrace, and shepherds could see.

However, Christmas is the cause of rejoicing not only in a theological sense but also because it is a strong reminder for all of us. We are living in a changing culture and mindset. Many couples no longer want to have children. Indeed, there are some valid reasons, such as economic hardship that makes it impossible to raise children or certain medical conditions that can be dangerous for the mothers. Yet, many also consider having children a burden, and thus, want only to have the fun things in marriage but get away with the difficult parts, including raising children.

However, Christmas reminds us that while it is true that having children carries its own hardship, it also brings joy. It is true that after receiving Jesus, Mary and Joseph did not get a better life; in fact, they had to endure more suffering. Yet, Mary and Joseph celebrated the birth of the Son of God. We must not forget that the countless angelic community sang glory to the Lord in heaven, and on earth, the shepherds rushed to joyfully greet Mary and Joseph [see Luk 2].

Getting pregnant is indeed a painful and laborious process, and educating our children can often be economically and emotionally challenging. Yet, God also provides abundant joy for parents. There is immense and indescribable joy when the mother sees her newborn baby for the first time. When the parents lovingly interact with their babies, the bodies intensely produce ‘positive’ hormones like oxytocin and dopamine. A friend who recently had a baby recounted her joy every time she noticed simple yet significant growth in her baby. There is joy when the baby begins to pronounce words clearly. There is joy when the baby starts recognising and distinguishing her parents’ faces from others.

Christmas teaches us that there is great joy in heaven when a baby is conceived and born because this baby is a potential citizen of heaven. Now, it is our joy to bring our children entrusted to us to God and share the fullness of life with Him.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sukacita Natal

Hari Raya Kelahiran Tuhan Yesus (Natal)
25 Desember 2023
Lukas 2:1-14

Selamat Natal!
Tuhan telah lahir, dan ada sukacita besar di surga dan di bumi. Namun, apa alasan di balik sukacita Natal ini? Sukacita ini ada bukan karena kita bisa berkumpul dengan keluarga dan kerabat dan mengadakan pesta Natal yang meriah. Sukacita ini ada bukan karena kita mendapatkan hadiah dan bonus, juga bukan karena kita berlibur dan healing. Jadi, apa sebenarnya di balik sukacita ini?

Natal adalah hari kelahiran Juruselamat kita. Kelahiran ini bukan hanya sebuah proses biologis alamiah yang melibatkan seorang pria dan wanita. Kelahiran ini adalah sebuah peristiwa adikodrati yang berakar dari kasih Allah kepada kita, para pendosa. Allah memiliki banyak sekali pilihan untuk menebus kita, namun Dia memilih cara yang paling intim. Allah Bapa mengutus Putra-Nya, dan Sang Putra mengambil kodrat-Nya yang kedua, yaitu kodrat manusia dalam diri Perawan Maria. Dengan cara ini, Allah menjadi sangat dekat dengan kita, sehingga gelar-Nya, Imanuel, Allah yang bersama kita, menjadi sebuah kenyataan. Dia bersama kita tidak hanya dalam cara-cara rohani atau mistik, tetapi dalam cara yang paling manusiawi. Dia adalah bayi yang Maria susui, Yusuf peluk, dan para gembala kunjungi. Dia adalah yang wafat disalib dan bangkit pada hari ketiga. Dia adalah yang naik ke surga, dan yang hadir di setiap Ekaristi. Dia, sang Immanuel, Allah yang bersama kita sampai akhir zaman.

Namun, Natal juga memberikan kita alasan lain untuk bersukacita. Kita hidup dalam budaya dan pola pikir yang telah berubah. Banyak pasangan yang tidak lagi ingin memiliki anak. Memang, ada beberapa alasan yang sah, seperti kesulitan ekonomi yang tidak memungkinkan untuk membesarkan anak atau kondisi medis tertentu yang dapat membahayakan ibu. Namun, banyak juga yang menganggap memiliki anak hanya sebagai beban, dan dengan demikian, hanya ingin menikmati hal-hal yang menyenangkan dalam pernikahan tetapi tidak ingin terlibat dalam hal-hal yang sulit, termasuk membesarkan anak.

Namun, Natal mengingatkan kita bahwa meskipun benar bahwa memiliki anak membawa kesusahan tersendiri, namun juga membawa sukacita. Memang benar bahwa setelah menerima Yesus, Maria dan Yusuf tidak mendapatkan kehidupan yang lebih baik; bahkan mereka harus menanggung lebih banyak penderitaan. Namun, Maria dan Yusuf tetap merayakan kelahiran Anak Allah. Kita tidak boleh lupa bahwa bala malaikat yang tak terhitung jumlahnya penuh suka cita dan bernyanyi kemuliaan bagi Allah di surga, dan di bumi, para gembala bergegas menyambut Maria dan Yusuf dengan penuh sukacita [lihat Lukas 2].

Kehamilan memang merupakan proses yang menyakitkan dan melelahkan, dan mendidik anak-anak sering kali dapat menjadi tantangan secara ekonomi dan emosional. Namun, Tuhan juga menyediakan sukacita yang berlimpah bagi para orang tua. Ketika orang tua berinteraksi dengan penuh kasih dengan bayi mereka, tubuh akan memproduksi hormon ‘positif’ seperti oksitosin dan dopamin. Seorang teman yang baru saja memiliki bayi menceritakan kegembiraannya setiap kali ia melihat pertumbuhan yang sederhana namun signifikan pada bayinya. Ada kegembiraan ketika bayi mulai mengucapkan kata-kata dengan jelas. Ada sukacita ketika bayi mulai mengenali dan membedakan wajah orang tuanya dengan orang lain. Seorang teman lain juga bercerita bagaimana ada sukacita yang tak terlukiskan saat melihat wajah sang bayi yang terlahir sehat, setelah mengalami beberapa kali keguguran.

Natal mengajarkan kepada kita bahwa ada sukacita yang besar di surga ketika seorang bayi dikandung dan dilahirkan karena bayi ini adalah calon warga surga. Sekarang, adalah sukacita kita untuk membawa anak-anak yang dipercayakan kepada kita kepada Tuhan dan berbagi kepenuhan hidup dengan-Nya.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Full of Grace

4th Sunday of Advent [B]

December 24, 2023

Luke 1:26-38

‘Full of Grace’ is the most iconic title of the Blessed Virgin Mary. Every time we recite ‘Hail Mary,’ we immediately recognize that the first title after the name of Mary is full of grace. Not only is it her most recognized title, but it is also the most ancient. Even it goes back to the Bible, the first chapter of Luke’s Gospel. The angel Gabriel appeared and greeted Mary, ‘Hail, full of grace!’ (Luk 1:28). However, if we carefully read this passage, the title ‘Full of Grace’ is not there. What did the angel say to Mary? Why do we have ‘Full of Grace’ in the first place?

The title ‘Full of Grace’ appears in the Vulgate version of the Bible. Vulgate is the Latin Bible translation done by St. Jerome in the early fifth century. In Latin, it is ‘gracia plena’. Since Latin is the official language of the Roman Catholic Church, ‘gracia plena’ became the standard title of Blessed Virgin Mary and got translated into different languages. When ‘Hail Mary’ and the holy rosary became the most popular devotion in the Catholic world, the title ‘full of grace’ could no longer be separated from Mary, the mother of Jesus. But what is written in the Bible?

What St. Luke wrote in Greek is ‘κεχαριτωμένη’ (read: kecharitomene), and it literally means ‘one who has been graced’ or ‘one who has received grace.’ So, is St. Jerome mistaken? Not really. St. Jerome decided not to make a literal translation but rather a more poetic one, and by this choice, St. Jerome wanted to draw our attention to the total and continuous presence of grace in the life of Mary. Yet, why is the title ‘κεχαριτωμένη’ extremely important for Mary and us?

Firstly, we need to understand the meaning of the word ‘grace .’In Greek, it is ‘χάρις’ (read: Charis), and its most fundamental meaning is ‘gift’ or ‘favor .’Yet, in the New Testament, the word grace does not simply mean any gift, like birthday or graduation gifts, but it is the ultimate and the most important gift. Grace refers to God’s gift of salvation. The salvation is not only from sins and death but also for God. When we are saved, not only are our sins forgiven, but we are also enabled to share the divine life of the Holy Trinity. Grace is the gift of salvation, the gift of holiness, and the gift of heaven. (for a fuller discussion, see CCC 1996-2007)

Mary is wholly unique because she is the first person who has received grace even before our Lord was crucified and resurrected, and in fact, before He was born. The reality of grace perfectly manifested in her. It is not that Mary was worthy but that she was chosen. She did not earn it, but grace was given freely. It is not because of Mary’s plan but God’s providence. Yet, the moment of Annunciation also shows us that grace is free but never cheap. Though grace has filled her since the beginning, Mary still has to make the free choice to accept the grace and make it fruitful in her life. Thus, she said, “May it be done to me according to your word!” Mary’s yes to God’s grace is not only a one-time action but a lifetime commitment, even in the face of the cross.

Our Savior has died, risen for us, and poured out His grace for our redemption. Yet, like Mary, we must choose freely to accept the grace in our lives; through it, we flourish in God’s friendship. This is why we avoid sins, go to the mass regularly and devoutly, or do works of mercy. Not because we want to earn salvation, but to grow in God’s grace and express our thanks for the grace freely given.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Penuh Rahmat

Minggu ke-4 Masa Adven [B]
24 Desember 2023
Lukas 1:26-38

“Penuh Rahmat” adalah gelar yang tak terpisahkan dari Maria. Setiap kali kita mengucapkan doa ‘Salam Maria’, kita langsung menyadari bahwa gelar pertama setelah nama Maria adalah ‘penuh rahmat’. Tidak hanya gelar ini yang paling dikenal, tetapi juga yang paling kuno. Bahkan gelar ini berasal dari Alkitab, yaitu pada bab pertama Injil Lukas. Malaikat Gabriel menampakkan diri dan menyapa Maria, “Salam, penuh rahmat!” Namun, jika kita membaca ayat ini dengan saksama, sebutan ‘Penuh Rahmat’ sebenarnya tidak ada di sana (lih. Luk 1:28). Lalu, apa yang dikatakan malaikat kepada Maria? Mengapa kita mengunakan kata ‘Penuh Rahmat’?

Kata ‘Penuh Rahmat’ muncul dalam Alkitab versi Vulgata. Vulgata sendiri adalah terjemahan Alkitab dalam bahasa Latin oleh Santo Heronimus pada awal abad ke-5. Dalam bahasa Latin, kata ini adalah ‘gratia plena’. Karena bahasa Latin adalah bahasa resmi Gereja Katolik Roma, ‘gratia plena’ akhirnya menjadi gelar standar Maria dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia, ‘penuh rahmat.’ Ketika ‘Salam Maria’ dan doa rosario menjadi devosi yang paling populer di dunia Katolik, gelar ‘penuh rahmat’ tidak dapat lagi dipisahkan dari Maria. Namun, apa yang sebenarnya tertulis di dalam Alkitab?

Lukas menulis dalam bahasa Yunani ‘κεχαριτωμένη’ (baca: kecharitomene) yang secara harfiah berarti ‘dia yang telah diberi rahmat.’ Jadi, apakah Santo Heronimus keliru? Tidak juga. Heronimus memutuskan untuk tidak membuat terjemahan harfiah, melainkan terjemahan yang lebih puitis. Dengan pilihan ini, Santo Heronimus ingin menarik perhatian kita pada kehadiran rahmat secara total dan terus menerus dalam kehidupan Maria. Namun, mengapa gelar ‘κεχαριτωμένη’ sangat penting bagi Maria dan bagi kita?

Pertama, kita perlu memahami arti kata ‘rahmat’. Dalam bahasa Yunani, kata ini berarti ‘χάρις’ (baca: charis) dan arti yang paling mendasar adalah ‘anugerah’, ‘pemberian’ atau ‘hadiah’. Namun, dalam Perjanjian Baru, kata rahmat tidak hanya berarti hadiah secara umum, seperti hadiah ulang tahun atau hadiah kelulusan, tetapi rahmat adalah hadiah yang paling utama dan paling penting. Rahmat mengacu pada anugerah keselamatan dari Tuhan. Dan, keselamatan itu tidak hanya selamat dari dosa dan kematian, tetapi juga selamat untuk Allah. Ketika kita diselamatkan, bukan hanya dosa-dosa kita yang diampuni, tetapi kita juga dimampukan untuk berpartisipasi pada kehidupan ilahi sang Allah Tritunggal. Rahmat adalah karunia keselamatan, karunia kekudusan, dan karunia surga. (untuk diskusi yang lebih lengkap, lihat KGK 1996-2007)

Maria sepenuhnya unik karena dia adalah orang pertama yang telah menerima rahmat bahkan sebelum Tuhan kita disalibkan dan bangkit, dan bahkan, sebelum Dia dilahirkan. Realitas rahmat secara sempurna dimanifestasikan di dalam diri Maria. Rahmat hadir bukan karena Maria layak, tetapi karena ia dipilih. Bukan karena usahanya, tetapi karena rahmat diberikan secara cuma-cuma. Bukan karena rencana Maria, tetapi karena penyelenggaraan Allah. Namun, momen Kabar Sukacita juga menunjukkan kepada kita bahwa rahmat itu benar-benar cuma-cuma, tetapi tidak pernah murahan. Meskipun rahmat telah memenuhi diri Maria sejak awal, Maria masih harus membuat pilihan bebas untuk menerima rahmat tersebut dan membuatnya berbuah dalam hidupnya. Karena itu, ia berkata, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu!” Jawaban ya dari Maria terhadap rahmat Allah bukan hanya satu kali, tetapi sebuah komitmen seumur hidup, bahkan dalam menghadapi salib.

Juruselamat kita telah wafat dan bangkit bagi kita dan mencurahkan rahmat-Nya untuk penebusan kita. Namun, seperti Maria, kita harus memilih dengan bebas untuk menerima rahmat tersebut dalam hidup kita, dan melaluinya, kita bertumbuh dalam persahabatan dengan Allah. Inilah sebabnya mengapa kita berusaha menghindari dosa, pergi ke misa secara teratur dan pantas, dan melakukan karya-karya belas kasih. Bukan karena kita ingin mendapatkan keselamatan dengan usaha kita sendiri, melainkan kita ingin bertumbuh dalam rahmat Allah, dan mengungkapkan rasa syukur kita atas rahmat keselamatan yang diberikan secara cuma-cuma.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP