Tubuh yang Diserahkan

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

22 Juni 2025

Lukas 9:11b-17

Hari Raya Corpus Christi (Tubuh dan Darah Yesus Kristus) merayakan Ekaristi, secara khusus kehadiran Yesus Kristus yang nyata dalam Misa Kudus. Karena itu Hari Raya Corpus Christi secara intrinsik terkait dengan Kamis Putih, dimana Yesus melembagakan Ekaristi pada Perjamuan Terakhir. Jika Corpus Christi pada dasarnya terkait dengan Kamis Putih, maka Corpus Christi juga terkait dengan seluruh Triduum Paskah. Kehadiran Yesus yang nyata tidak hanya dikaitkan dengan Perjamuan Terakhir tetapi juga tidak bisa lepas dengan Salib dan Kebangkitan-Nya. Namun, bagaimana Corpus Christi terkait dengan Salib dan Kebangkitan?

Tubuh dan Darah Yesus, pada dasarnya, adalah kurban Salib (Yoh 1:29; Ef 5:2). Dalam Perjanjian Lama, mempersembahkan kurban adalah cara penyembahan yang diperintahkan Allah. Kitab Imamat menjelaskan berbagai jenis pengorbanan, seperti korban bakaran (holocaust), korban penghapus dosa, dan korban perdamaian (atau korban persekutuan) (Im 1-5). Yesus dengan sempurna menggenapi semua pengorbanan Perjanjian Lama ini. Dia menyerahkan diri-Nya sepenuhnya di kayu salib sebagai korban bakaran yang sempurna (Ibr 10:5-10). Dia wafat untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, sama seperti korban penghapus dosa (2 Kor 5:21). Selain itu, Tubuh dan Darah-Nya diterima oleh umat-Nya, sama seperti kurban persekutuan – jenis persembahan yang sebagian diberikan kepada Tuhan, sebagian dimakan oleh imam, dan sebagian lagi dibagikan kepada para penyembah, yang melambangkan persekutuan antara Tuhan dan umat-Nya (Ef 2:14-16).

Namun, Tubuh Kristus juga terhubung dengan Kebangkitan-Nya. Tubuh dan Darah Kristus yang kita terima dalam Ekaristi bukanlah sekadar daging biasa, melainkan Tubuh Kristus yang dimuliakan dan dibangkitkan. Tubuh manusia biasa adalah lemah, terbatas, dan hancur setelah kematian. Namun, tubuh Yesus yang telah dibangkitkan penuh dengan rahmat dan kuasa yang memberi kehidupan – tubuh yang tidak akan mati lagi, mampu melampaui ruang dan waktu, bergerak di antara langit dan bumi, dan dapat mengubah wujudnya menjadi roti dan anggur. Inilah sebabnya, dalam Yohanes 6:54-55, Yesus dengan penuh keyakinan mengajarkan: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada hari terakhir, sebab daging-Ku adalah makanan yang sejati dan darah-Ku adalah minuman yang sejati.”

Perayaan Corpus Christi mengungkapkan bahwa Yesus, Putra Allah yang hidup, menyerahkan segalanya – hidup-Nya, keilahian-Nya, dan kemanusiaan-Nya – bagi kita sebagai tanda utama dari kasih-Nya yang radikal. Namun, Corpus Christi tidak berakhir dengan Ekaristi. Ketika kita membawa Yesus dalam hidup kita, kita juga dipanggil untuk berbagi tubuh kita satu sama lain dalam kasih. Faktanya, sebagai manusia, ungkapan kasih yang terbesar adalah melalui tubuh kita. Pasangan yang sudah menikah memberikan diri mereka satu sama lain sampai maut memisahkan mereka. Orang tua mengorbankan tubuh mereka untuk anak-anak mereka agar mereka dapat hidup dan bertumbuh. Para pria dan wanita religius mempersembahkan tubuh mereka untuk Gereja dan umat Allah. Sama seperti Yesus berkata, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagimu,” kita juga melakukan hal yang sama, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan dalam kasih!”

Ekaristi sungguh-sungguh menjadi pusat kehidupan kita – bukan hanya karena Ekaristi memberikan penyembahan yang sempurna dan berkenan kepada Bapa, tetapi juga karena Ekaristi memberikan kita rahmat untuk berbagi tubuh kita dengan orang lain. Hanya dengan berbagi kemanusiaan kita dalam kasih, kita dapat menemukan kebahagiaan sejati, dan hal ini dimungkinkan melalui rahmat yang kita terima dalam Ekaristi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apa pemahaman kita tentang Ekaristi? Seberapa sering kita berpartisipasi dalam Ekaristi dan menerima Tubuh dan Darah Kristus? Bagaimana kita mengekspresikan rasa hormat dan kasih kita ketika kita menerima Ekaristi? Bagaimana kita menggunakan tubuh kita untuk mengasihi?

Trinity in the Bible and in Our Life

The Solemnity of the Most Holy Trinity [C]

June 15, 2025

John 16:12-15

The mystery of the Holy Trinity stands at the center and foundation of our faith because it reveals the very nature of God. Our logical minds can deduce that there is one God, a perfect Being who created and sustains all things. Yet, we depend on divine revelation to grasp this profound truth. The word “Trinity” does not appear in Scripture, but the Bible, both in the Old and New Testaments, unveils this reality. Scripture affirms there is only one God, yet simultaneously reveals a plurality within His oneness.

One intriguing passage that hints at the Trinity is the very verse that declares God’s oneness—the Shema Israel (Deuteronomy 6:4). The Hebrew text reads: “שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה אֶחָד” (Shema Yisrael Adonai Eloheinu Adonai Echad). Most English translations render this as, “Hear, O Israel: The Lord our God, the Lord is one.” However, a more literal translation would be: “Hear, O Israel: The Lord, our God, the Lord, one.” It is striking how the verse mentions the Lord three times before concluding with “one.”

Other Old Testament passages also suggest plurality within God’s unity. For example: Gen 1:1-2 and 1:26 speak of God creating with His Spirit and using the plural “Let Us make man in Our image.” The Angel of the Lord appears as a divine yet distinct figure (Gen 16:7-13; 22:11-18; Exo 3:2-6; Judg 13:18-22). The Spirit of God is active in the Psalms and prophets (Ps 51:11; Isa 63:10-11; 48:16; Eze 36:26-27). Prophet Zechariah (2:10-11) even speaks of “two Yahwehs.” Yet, the fullness of this mystery is only fully revealed in the New Testament.

One of the most definitive Trinitarian passages is Matthew 28:19: “Baptize them in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit.” Here, Jesus speaks of one name, yet within that one name are three distinct Persons: Father, Son, and Holy Spirit.

However, the Trinity is more than a biblical truth, but it is the most precious gift to us. As St. Paul writes, “No one can say, ‘Jesus is Lord,’ except by the Holy Spirit” (1 Cor 12:3). The Spirit infuses faith in our hearts, enabling us to confess Christ, the Son of the Father. The same Spirit pours hope into us amid trials, especially for confessing the true God (Rom 5:3-5). And when we love, even those hardest to love, we participate in the life of the Triune God, whose very essence is love (1 Jn 4:8).

The Trinity is not merely a doctrine to profess but a mystery we live daily. We enter Christian life through Trinitarian baptism. As Catholics and Orthodox, we begin prayers with the Sign of the Cross, invoking the Father, Son, and Spirit. In the Eucharist, the Holy Spirit transforms the bread and wine into Christ’s Body and Blood, offered to the Father as the perfect sacrifice.

As we celebrate this greatest mystery of our faith, let us give thanks that God invites us into His very life—Father, Son, and Holy Spirit—now and forever.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Question:

How do we relate with the Holy Trinity? When the first time, we recognize the truth about the Trinity? How do we relate to the Father? How do we relate to Jesus? How do we relate to the Holy Spirit?

Tritunggal di Kitab Suci dan Hidup Kita

Hari Raya Tritunggal Mahakudus [C]

15 Juni 2025

Yohanes 16:12-15

Misteri Tritunggal Mahakudus berada di pusat dan dasar dari iman kita karena misteri ini menyingkapkan siapa Allah kita sebenarnya. Pikiran logis kita dapat menyimpulkan bahwa hanya ada satu Allah, yaitu Tuhan yang sempurna yang menciptakan dan memelihara segala sesuatu. Namun, kita hanya bisa bergantung pada wahyu ilahi untuk memahami kebenaran yang mendalam ini. Kata “Tritunggal” memang tidak muncul dalam Alkitab, tetapi Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, menyingkapkan realitas ini. Alkitab menegaskan bahwa hanya ada satu Allah, namun secara bersamaan mengungkapkan kemajemukan (pluralitas) di dalam keesaan-Nya.

Salah satu ayat menarik yang mengisyaratkan Trinitas adalah ayat yang menyatakan keesaan Allah, “Shema Israel” (Ulangan 6:4). Ayat dalam bahasa Ibrani tersebut tertulis: “שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה אֶחָד” (Shema Yisrael Adonai Eloheinu Adonai Echad). Alkitab Indonesia menerjemahkannya sebagai, “Dengarlah, hai Israel: Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.” Namun, terjemahan yang lebih harfiah adalah: “Dengarlah, hai Israel: Tuhan, Allah kita, Tuhan, satu.” Sungguh mengejutkan bagaimana ayat ini menyebutkan Tuhan tiga kali sebelum diakhiri dengan kata “satu”.

Ayat-ayat Perjanjian Lama yang lain juga menunjukkan kemajemukan di dalam kesatuan Allah. Sebagai contoh: Kej 1:1-2 berbicara tentang Allah yang menciptakan dengan Roh dan Sabda-Nya. Lalu Kej 1:26 menggunakan bentuk jamak bagi Allah yang satu, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” Malaikat Tuhan muncul sebagai sosok yang ilahi namun berbeda dengan Allah (Kej 16:7-13; 22:11-18; Kel 3:2-6; Hak 13:18-22). Roh Allah aktif di dalam Mazmur dan para nabi (Mzm 51:11; Yes 63:10-11; 48:16; Yeh 36:26-27). Nabi Zakharia (2:10-11) bahkan berbicara tentang “dua Yahwe”. Namun, kepenuhan misteri ini baru terungkap sepenuhnya dalam Perjanjian Baru.

Salah satu ayat yang paling definitif tentang Tritunggal adalah Matius 28:19: “Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.” Di sini, Yesus berbicara tentang satu nama, namun di dalam satu nama tersebut terdapat tiga Pribadi yang berbeda: Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Namun, Tritunggal bukan hanya sekedar kebenaran Alkitabiah, tetapi juga merupakan anugerah yang paling berharga bagi kita. Paulus menulis, “Tidak ada seorangpun yang dapat berkata: ”Yesus adalah Tuhan“, kalau tidak oleh Roh Kudus” (1 Kor 12:3). Roh Kudus menanamkan iman di dalam hati kita, memampukan kita untuk mengakui Yesus, Putra Bapa. Roh yang sama mencurahkan pengharapan ke dalam diri kita di tengah-tengah pencobaan, terutama untuk mengakui Allah yang benar (Rm 5:3-5). Dan ketika kita mengasihi, bahkan kepada mereka yang paling sulit untuk dikasihi, kita mengambil bagian dalam kehidupan Allah Tritunggal, yang pada hakikatnya adalah kasih (1 Yoh 4:8).

Tritunggal bukan hanya sebuah doktrin yang harus diimani, tetapi sebuah misteri yang kita hayati setiap hari. Kita memasuki kehidupan Kristiani melalui baptisan Tritunggal. Sebagai umat Katolik dan Ortodoks, kita memulai doa dengan Tanda Salib, menyebut nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Dalam Ekaristi, Roh Kudus mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus, yang dipersembahkan kepada Bapa sebagai kurban yang sempurna.

Ketika kita merayakan misteri terbesar dalam iman kita ini, marilah kita bersyukur bahwa Allah mengundang kita ke dalam kehidupan-Nya – Bapa, Putra, dan Roh Kudus – sekarang dan selamanya.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Bagaimana kita berhubungan dengan Allah Tritunggal Mahakudus? Bagaimana kita berhubungan dengan Bapa? Bagaimana kita berhubungan dengan Yesus? Bagaimana kita berhubungan dengan Roh Kudus?

The Holy Spirit and His Gifts

Pentecost [C]

June 8, 2025

1 Cor 12:3-13

Today, the Church celebrates Pentecost, the day when the Holy Spirit descended upon Jesus’ apostles and the first disciples, marking the beginning of the Church. From that moment onward, the Holy Spirit, the third person of the Holy Trinity, has played a central role in guiding and sustaining the life of the Church, working through His grace and gifts. It is no surprise that we call Pentecost the feast of the Holy Spirit. Yet, as we reflect on these spiritual gifts, we must do so with wisdom and discernment.

We live in a time when many Christians—both Catholic and non-Catholic—are experiencing the gifts of the Holy Spirit in remarkable ways. This renewed outpouring has awakened us to the Spirit’s active presence in our lives. Some have received the gift of prophecy, speaking words that call others to repentance. Others have been given the gift of healing, becoming instruments through which the Spirit restores health to the sick. Still others pray in tongues, their praises flowing in languages they do not understand (for the list of gifts of the Holy Spirit, see 1 Cor 12:8-10). These are extraordinary encounters, even life-changing for many.

Yet while these gifts should fill us with gratitude and deepen our awareness of the Holy Spirit’s work, there is a danger in focusing too much on the experiences themselves. Some begin to fixate on the sensations rather than the Giver, treating spiritual gifts as a measure of their faith. Some of us may believe that speaking in tongues is proof of holiness, or that lacking miraculous healings means we are distant from God. Those who receive such gifts may grow prideful, while those who do not may feel like failures in their Christian life.

This mindset is not only misguided but spiritually harmful. And while it may seem like a modern problem, the same struggles existed in the early Church. Nearly two thousand years ago, the Church in Corinth were richly blessed with spiritual gifts, yet their community was plagued by division, disorder in worship, and pride. They compared gifts, competed over who had the “better” manifestations, and even used them as a measure of spiritual superiority.

Paul confronted this distortion head-on, reminding them that spiritual gifts are not for personal glory but for the building up of the Church (1 Cor 12). He taught them that the most important gift is not the gift of tongue, of healing or miracles, but the gift of love. He even wrote especially against those who seek the gift of tongue, “If I speak in the tongues of mortals and of angels, but do not have love, I am a noisy gong or a clanging cymbal (1 Cor 13:1).” He warned that pursuing spectacular gifts without love was meaningless.

Jesus Himself taught that the greatest gift the Father gives us is the Holy Spirit (Luk 11:13), and the greatest gift the Spirit gives is love.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions:

Do we ask the Father for the Holy Spirit? Do we pray to the Holy Spirit? What do we ask from the Holy Spirit? Do we ask the gifts of the Holy Spirit and what gifts?

Roh Kudus dan Karunia-karunia-Nya

Pentekosta [C]

8 Juni 2025

1 Kor 12:3-13

Hari ini, Gereja merayakan Pentekosta, hari Roh Kudus turun di atas para rasul dan murid-murid Yesus yang pertama, yang menandai dimulainya Gereja. Sejak saat itu, Roh Kudus, pribadi ketiga dari Tritunggal Mahakudus, telah memainkan peran sentral dalam membimbing dan menopang kehidupan Gereja. Roh Kudus bekerja melalui rahmat dan karunia-karunia-Nya. Tidaklah mengherankan jika kita menyebut Pentekosta sebagai hari raya Roh Kudus. Namun, ketika kita merenungkan karunia-karunia rohani ini, kita harus bijak karena ada bahaya yang mungkin kita hadapi. Bahaya apakah itu?

Kita hidup di masa ketika banyak umat Kristiani – baik Katolik maupun non-Katolik – mengalami karunia-karunia Roh Kudus dengan cara yang luar biasa. Pencurahan yang berlimpah ini telah menyadarkan kita akan kehadiran Roh Kudus yang aktif dalam hidup kita. Beberapa orang telah menerima karunia bernubuat, mengucapkan kata-kata yang memanggil orang lain untuk bertobat. Yang lainnya telah diberi karunia penyembuhan, menjadi alat Roh Kudus memulihkan kesehatan orang-orang sakit. Yang lainnya lagi berdoa dalam bahasa roh, pujian-pujian mereka mengalir dalam bahasa yang tidak mereka pahami (untuk daftar karunia-karunia Roh Kudus, lihat 1 Kor. 12:8-10). Ini adalah pengalaman-pengalaman yang luar biasa, bahkan mengubah hidup banyak orang.

Namun, meskipun karunia-karunia ini seharusnya memenuhi kita dengan rasa syukur dan memperdalam kesadaran kita akan karya Roh Kudus, ada bahaya jika kita terlalu berfokus pada karunia-karunia itu sendiri. Beberapa dari kita mulai terpaku pada sensasi yang kita rasakan daripada Sang Pemberi, bahkan memperlakukan karunia-karunia rohani sebagai ukuran iman. Beberapa dari kita mungkin percaya bahwa berbahasa roh adalah bukti kekudusan, atau bahwa tidak adanya mukjizat kesembuhan berarti kita jauh dari Allah. Kita yang menerima karunia-karunia dapat menjadi sombong, sementara kita yang tidak menerimanya mungkin merasa gagal dalam kehidupan Kristiani kita.

Pola pikir seperti ini tidak hanya tidak benar tetapi juga berbahaya. Dan meskipun ini mungkin tampak seperti masalah modern, pergumulan yang sama juga terjadi pada Gereja mula-mula. Hampir dua ribu tahun yang lalu, Gereja di Korintus diberkati dengan berbagai karunia rohani, namun komunitas mereka terganggu oleh perpecahan, kekacauan dalam ibadah, dan kesombongan. Mereka membandingkan karunia-karunia, bersaing untuk menentukan siapa yang memiliki karunia yang “lebih baik”, dan bahkan menggunakannya sebagai ukuran keunggulan rohani.

Paulus mengkritisi pola pikir yang salah ini, mengingatkan mereka bahwa karunia-karunia rohani bukanlah untuk kemuliaan pribadi, tetapi untuk membangun Gereja (1 Kor 12:7). Ia mengajarkan kepada mereka bahwa karunia yang paling penting bukanlah karunia bahasa roh, kesembuhan atau mukjizat, tetapi karunia kasih. Ia bahkan menulis secara khusus kepada mereka yang mencari karunia bahasa roh, “Jika aku berkata-kata dengan bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi tidak mempunyai kasih, maka aku adalah gong yang nyaring dan simbal yang bergemerincing (1 Kor 13:1).” Dia memperingatkan bahwa mengejar karunia-karunia yang spektakuler tanpa cinta kasih tidak ada artinya.

Yesus sendiri mengajarkan bahwa karunia terbesar yang diberikan Bapa kepada kita adalah Roh Kudus (Luk. 11:13), dan karunia terbesar yang diberikan Roh Kudus adalah kasih. Karena dengan mengasihi, kita menemukan kepenuhan hidup.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apakah kita meminta Roh Kudus kepada Bapa? Apakah kita berdoa kepada Roh Kudus? Apa yang kita minta dari Roh Kudus? Apakah kita meminta karunia-karunia Roh Kudus dan untuk tujuan apa? Apakah kita memohon karunia untuk mengasihi?

We are Precious

7th Sunday of Easter [C]

June 1, 2025

John 17:20-26

Jesus died for us and rose from the dead to save us from sin and death. He did all this because He loves us deeply. As Jesus Himself said, “No one has greater love than this, to lay down one’s life for one’s friends” (John 15:13). But why does He love us so much? Why does He consider us dear enough to give His life for us?

One of the most profound answers lies in 1 John 4:8, “God is love.” Love is not just something God does; it is who He is. Because His very nature is love, He cannot help but love us. Jesus’ love flows naturally from His identity. At the same time, Scripture reveals that we are made in God’s image (Gen 1:26-27). This means we are fashioned in the likeness of Love itself. Perhaps this is why we only find true fulfilment when we live out our deepest purpose: to love as God loves (John 13:34) and to be loved by Him.

Yet, as I reflect further on Scripture, I find something even more beautiful. In today’s Gospel, Jesus prays to the Father—not only for His disciples but also for those who would come to believe through their message, which includes us. He prays that we may be united with one another and with Him, just as He and the Father are one. Then, He reveals something astonishing: “Father, I desire that those you have given me may be with me where I am” (John 17:24). We are the Father’s gift to Jesus. We are a living expression of the Father’s love for His Son.

This truth is deeply relatable. When we love someone, we often give them a precious gift as a token of our affection, and to the recipient, that gift becomes irreplaceable. A wedding ring, for example, is treasured not merely for its material value but because it symbolizes a spouse’s love. But we are far more than gold or jewels. God marvellously created us to be perfect gifts of love for His Son. Is it any wonder, then, that Jesus cherishes us so dearly? He willingly gave His life for us because every time He sees us He sees the proof of His Father’s love. He just could not bear the thought of losing us or being separated from us.

Today, in some countries like the Philippines and Italy, the Church celebrates Jesus’ Ascension into heaven. The image often shown is of Jesus rising while His disciples remain below. But He is not leaving us behind—He is drawing us closer to the Father. Why? Because we are precious to God. We are, at the very core of our being, the Father’s gift to His beloved Son.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for reflection:
Do we realize that we are precious in God’s eyes? Do we live as the precious one of God? How do we live as the Father’s gifts? How do we share the gifts we receive from God?

Kita Sangat Berharga

Minggu ke-7 Paskah [C]

1 Juni 2025

Yohanes 17:20-26

Yesus telah wafat untuk kita dan bangkit dari kematian untuk menyelamatkan kita dari dosa dan maut. Dia melakukan semua ini karena Dia sangat mengasihi kita. Seperti yang dikatakan Yesus sendiri, “Tidak ada seorang pun yang mempunyai kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Tetapi mengapa Dia begitu mengasihi kita? Mengapa Dia menganggap kita cukup berharga untuk memberikan hidup-Nya bagi kita?

Salah satu jawaban yang paling mendalam terdapat dalam 1 Yoh 4:8, “Allah adalah kasih.” Kasih bukan hanya sesuatu yang Allah lakukan, namun kasih adalah jati diri Allah. Karena itu, Dia tidak bisa tidak, selain mengasihi kita. Kasih Yesus mengalir secara alami dari identitas-Nya. Pada saat yang sama, Alkitab menyatakan bahwa kita diciptakan menurut citra Allah (Kej. 1:26-27). Ini berarti kita diciptakan menurut citra Kasih itu sendiri. Inilah mengapa kita hanya menemukan kepenuhan sejati ketika kita menghidupi tujuan terdalam kita: mengasihi seperti Allah mengasihi (Yoh 13:34) dan dikasihi oleh-Nya.

Namun, ketika saya merenungkan lebih jauh tentang Kitab Suci, saya menemukan sesuatu yang lebih indah lagi. Dalam Injil hari ini, Yesus berdoa kepada Bapa, tidak hanya untuk para rasul-Nya tetapi juga untuk semua orang yang akan menjadi percaya melalui pewartaan mereka, yang adalah kita. Dia berdoa agar kita dapat bersatu dengan satu sama lain dan dengan Dia, sama seperti Dia dan Bapa adalah satu. Kemudian, Ia menyatakan sesuatu yang menakjubkan: “Bapa, Aku menghendaki supaya mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, ada bersama-sama dengan Aku di mana pun Aku berada” (Yoh 17:24). Kita adalah pemberian Bapa kepada Yesus. Kita adalah ekspresi hidup dari kasih Bapa kepada Anak-Nya.

Kebenaran ini sebenarnya sangat mudah dipahami. Ketika kita mengasihi seseorang, kita sering memberikan hadiah yang berharga sebagai tanda kasih sayang kita, dan bagi penerimanya, hadiah itu menjadi tak tergantikan. Cincin kawin, misalnya, sangat berharga bukan hanya karena nilai materialnya, tetapi karena cincin itu melambangkan cinta kasih suami istri. Namun, kita jauh lebih berharga daripada emas atau permata. Allah dengan luar biasa menciptakan kita untuk menjadi pemberian yang sempurna bagi Putra-Nya. Maka, apakah mengherankan jika Yesus sangat mengasihi kita? Dia rela memberikan nyawa-Nya bagi kita karena setiap kali Dia melihat kita, Dia melihat bukti kasih Bapa-Nya. Dia tidak dapat menanggung pikiran untuk kehilangan kita atau terpisah dari kita.

Saat ini, di beberapa negara seperti Filipina dan Italia, Gereja merayakan Kenaikan Yesus ke surga. Gambaran yang sering ditampilkan adalah Yesus naik sementara para murid-Nya ditinggalkan. Tetapi Dia tidak meninggalkan kita, melainkan Dia membawa kita lebih dekat kepada Bapa. Mengapa? Karena kita berharga bagi Allah. Kita adalah pemberian Bapa kepada Putra-Nya yang terkasih.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk direnungkan:

Apakah kita menyadari bahwa kita berharga di mata Allah? Apakah kita hidup sebagai milik Allah yang berharga? Bagaimana kita hidup sebagai pemberian Bapa kepada Putra? Bagaimana kita membagikan berkat-berkat yang kita terima dari Allah?

We and Our Popes

6th Sunday of Easter [C]

May 25, 2025

Acts 15:1-2, 22-29

The Catholic Church experiences a profound and historic moment this Easter 2025. Pope Francis, a beloved yet polarizing figure, passed away just a day after delivering his Easter Sunday blessing. His funeral Mass the following Saturday drew hundreds of thousands of mourners, reflecting the deep impact of his papacy. As the cardinals gathered for the conclave, the world watched in anticipation. Then, on May 8, white smoke billowed from the Sistine Chapel. “Habemus Papam!” We have a new pope, and his name is Leo XIV, the first North American pope and the first from the Order of St. Augustine. Thousands of faithful rejoiced in St. Peter’s Square, hopeful for a new chapter in the Church.

Pope Francis’ legacy was marked by both admiration and controversy. Many cherished his compassion for the poor and marginalized, while others struggled with some of his statements and decisions. Now, with Pope Leo XIV’s election, there is hope for unity and peace in the Church. Yet, like any human leader, he would also say or do something that are not according to our wishes. How, then, should we respond to this reality?

The key lies in distinguishing true devotion from fanaticism. Fanaticism is a disorder attraction and it distorts our perception of the papacy, turning admiration into idolatry. It blinds us to the humanity of the pope, making us believe he is infallible in all matters, not just those of faith and morals, and leads us to dismiss or attack those who criticize him. Worse still, it can lead to contempt for other popes simply because they differ from our preferred leader. This extreme attachment often backfires; when our idealized pope falls short of expectations, disillusionment sets in, sometimes even driving people away from the Church entirely.

True devotion, on the other hand, is rooted in love for Christ, who entrusted Peter and his successors with the care of His flock. We honor the pope not primarily because of his personal qualities but because of his sacred role as the Vicar of Christ. In simple term, we love our popes because we love Jesus.

The first reading reminds us of St. Peter’s leadership in the early Church. When the apostles and elders gathered in Jerusalem and debated whether Gentile converts must follow Mosaic law. Some elders wanted that they should be Jewish before Christians, meaning they had to be circumcised and followed Mosaic laws strictly. Others like St. Paul and Barnabas wanted that the Gentile converts be free from Mosaic laws. Finally, Peter stood and made the final decision: they were not bound by such obligations. The council accepted his authority, knowing it came from Christ. Yet Peter himself was not flawless. In another instance, Paul openly corrected him for failing to uphold his own teaching (Gal 2:11-14). Paul’s rebuke was not born of hatred but of love; a desire to strengthen Peter in his God-given mission.

Like Peter, every pope carries the weighty responsibility of shepherding the Church. And like Peter, they remain human, susceptible to weakness and error. Our role is to support them with prayer, especially in times of trial, and to uphold the Church with both faith and discernment.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for reflection:

How do we see our popes? How do we love our popes? Do we ever struggle to understand our popes? How often do we pray for our popes?

Kita dan Paus Kita

Minggu ke-6 Paskah [C]

25 Mei 2025

Kisah Para Rasul 15:1-2, 22-29

Gereja Katolik menghadapi momen yang penting dan bersejarah pada Paskah 2025 ini. Paus Fransiskus, sosok yang dicintai namun penuh dengan polemik, meninggal dunia hanya sehari setelah menyampaikan berkat Minggu Paskah. Misa pemakamannya pada hari Sabtu berikutnya menarik ratusan ribu pelayat, yang mencerminkan dampak mendalam dari kepausannya. Ketika para kardinal berkumpul untuk konklaf, dunia menyaksikan dengan penuh antisipasi. Kemudian, pada tanggal 8 Mei, asap putih mengepul dari Kapel Sistina. “Habemus Papam!” Kita memiliki paus baru, dan namanya adalah Leo XIV, soerang paus dari Amerika Utara pertama dan juga pertama dari Ordo Santo Agustinus. Ribuan orang bersukacita di Lapangan Santo Petrus, berharap akan sebuah babak baru dalam Gereja.

Warisan Paus Fransiskus diwarnai dengan kekaguman dan kontroversi. Banyak yang mengapresiasi belas kasihnya kepada kaum miskin dan terpinggirkan, sementara yang lain bergumul dengan beberapa pernyataan dan keputusannya. Kini, dengan terpilihnya Paus Leo XIV, ada harapan akan persatuan dan perdamaian dalam Gereja. Namun, seperti halnya pemimpin manusia lainnya, dia juga akan mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita. Lalu, bagaimana kita harus menanggapi kenyataan ini?

Kuncinya terletak pada pembedaan antara devosi sejati dari fanatisme. Fanatisme adalah sebuah ketertarikan yang tidak teratur yang mendistorsi persepsi kita terhadap kepausan. Efeknya adalah mengubah kekaguman menjadi penyembahan berhala. Fanatisme membutakan kita terhadap kemanusiaan seorang paus, membuat kita percaya bahwa ia tidak dapat salah dalam segala hal, tidak hanya dalam hal iman dan moral, dan membuat kita mengabaikan atau menyerang mereka yang mengkritiknya. Lebih buruk lagi, hal ini dapat mengarah pada penghinaan terhadap paus-paus lain hanya karena mereka berbeda dengan paus idaman kita. Fanatisme ini sering menjadi bumerang; ketika paus yang kita idam-idamkan tidak sesuai dengan harapan, kekecewaan pun muncul, bahkan terkadang membuat kita menjauh dari Gereja.

Di sisi lain, devosi yang sejati berakar pada kasih kepada Kristus, yang mempercayakan Petrus dan para penerusnya untuk menjaga kawanan domba-Nya (Yoh 21). Kita menghormati Paus bukan terutama karena kualitas pribadinya, tetapi karena peran sucinya sebagai Wakil Kristus. Secara sederhana, kita mengasihi para paus karena kita mengasihi Yesus.

Bacaan pertama mengingatkan kita akan kepemimpinan Santo Petrus dalam Gereja mula-mula. Ketika para rasul dan penatua berkumpul di Yerusalem dan memperdebatkan apakah orang-orang non-Yahudi yang percaya, perlu mengikuti hukum Musa. Beberapa penatua menginginkan agar mereka menjadi orang Yahudi sebelum menjadi orang Kristen, yang berarti mereka harus disunat dan mengikuti hukum Taurat secara ketat. Paulus dan Barnabas menginginkan agar orang-orang non-Yahudi yang percaya terbebas dari hukum Musa. Akhirnya, Petrus berdiri dan membuat keputusan akhir: mereka tidak terikat oleh hukum Musa. Konsili ini menerima otoritas Petrus, karena mereka tahu bahwa otoritas itu berasal dari Kristus. Namun, Petrus sendiri bukanlah orang yang sempurna. Sebagai contoh, Paulus secara terbuka mengoreksi Petrus karena ia gagal menegakkan ajarannya sendiri (Gal 2:11-14). Teguran Paulus tidak lahir dari kebencian, tetapi dari kasih; sebuah hasrat untuk menguatkan Petrus dalam misinya yang diberikan Allah.

Seperti Petrus, setiap paus memikul tanggung jawab yang berat untuk menggembalakan Gereja. Dan seperti Petrus, mereka tetaplah manusia biasa yang rentan terhadap kelemahan dan kesalahan. Peran kita adalah untuk mendukung mereka dengan doa, terutama pada saat-saat sulit, dan untuk terus membangun Gereja dengan pengharapan dan kebijaksanaan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Bagaimana kita melihat para paus kita? Bagaimana kita mencintai para paus kita? Apakah kita pernah bergumul untuk memahami para paus kita? Seberapa sering kita mendoakan para

Two Ways of Preaching the Gospel

5th Sunday of Easter [C]

May 18, 2025

Acts 14:21-27

In the first reading, we heard about the missionary journey of St. Paul and his companion St. Barnabas. Their mission shows us how the early Church fulfilled Jesus’ commandment: “Make all nations my disciples.” So what can we discover from their example?

First, let us consider St. Paul’s story in its entirety. After his conversion, Paul remained in Antioch (in present-day Turkey), where he became a respected teacher and prophet. Then the Holy Spirit called Paul and Barnabas to be set apart for God’s work. The Christian community commissioned them to preach in places where the Gospel had not yet been heard. They travelled to various locations including the island of Cyprus and towns in southern Turkey – Pisidian Antioch, Iconium, Derbe, and Lystra.

They proclaimed the Good News to both Jews and Gentiles in these places, bringing many souls to believe in Jesus Christ. Yet Paul and Barnabas knew they were not to remain there permanently, but rather to move on to preach in even more places. To care for the newly established Churches, they appointed “elders” (presbyteroi). These elders became the stable leaders of the communities, responsible for leading worship, proclaiming the Gospel, and maintaining spiritual discipline.

What then can we learn from Paul’s missionary journey? We see at least two essential ways of preaching the Gospel. The first way involves going to preach where the Gospel has not been heard and where faith has not yet taken root. Those who follow this path are typically called missionaries. Missionaries tend to be more mobile, moving from place to place as the need for the Gospel message arises. The second way focuses on deepening the understanding of the Gospel for those who already believe, nourishing and protecting their faith. In the Catholic tradition, this second way is carried out by the “elders” – the bishops assisted by priests and deacons, who remain more stable within the communities they serve.

On the other hand, the distinction between missionaries and elders is not rigid. The same person can be both a missionary and an elder. A simple example is Pope Leo XIV. Before becoming Pope, he was a priest of the Order of St. Augustine of the United States who became a missionary in Peru. Later he became the bishop of Chiclayo, Peru. The identity of missionary and elder merged in him.

However, we must remember that the task of preaching the Gospel is not given only to missionaries or elders, but to all of us. We too can and should practice both of these ancient ways of proclaiming the Gospel. In our modern world, the opportunities to share the Gospel are abundant. We can communicate different aspects of our faith, from its truth to its beauty, through various social media platforms. Personal interactions with friends and colleagues also provide opportunities to introduce our faith. Even if we find it difficult to explain our faith in words, we can always invite our relatives and friends to join us at Mass.

Parents particularly embody both of these approaches simultaneously. They are called to introduce the faith to their children through baptism and basic catechism, teaching them how to pray and sharing the fundamental truths of our faith. Like the Church’s elders, they must then continually nurture their children’s faith through virtuous living, prayer, and guidance. We should also support our catechists who work tirelessly both to introduce and deepen faith despite the many challenges they face.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

How do we preach the Gospel in our particular circumstances? Who specifically needs us to introduce them to Jesus? Have we helped those close to us grow nearer to God? Do others recognize us as people who bring Jesus with us?