Kuasa untuk Mengasihi 

Hari Minggu ke-15 dalam Masa Biasa

14 Juli 2024 

Markus 6:7-13

Dalam Injil hari ini, Yesus mempercayakan kuasa kepada para murid-Nya. Kuasa ini terdiri dari beberapa kuasa seperti mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, dan mewartakan pertobatan. Pertanyaan yang perlu direnungkan adalah mengapa Yesus memberikan otoritas seperti ini kepada murid-murid-Nya? Mengapa Yesus tidak memberikan kuasa yang lebih berguna seperti kuasa untuk mengendalikan orang, atau kuasa untuk menghasilkan uang?

Pertama, dari kisah ini, kita melihat bahwa Yesus mengasihi murid-murid-Nya dan sebagai bukti kasih-Nya, Ia berani mempercayakan otoritas-Nya kepada murid-murid yang lemah dan terkadang tidak dapat diandalkan. Yesus tidak menimbun segala sesuatu untuk diri-Nya sendiri, melainkan membagikan diri-Nya kepada murid-murid-Nya agar murid-murid-Nya dapat bertumbuh, bahkan melalui kegagalan dan kelemahan.

Kedua, otoritas yang Yesus berikan bukanlah sesuatu yang bertujuan untuk memanipulasi orang. Memang, Yesus bisa saja memberikan kuasa untuk mengendalikan pikiran orang kepada murid-murid-Nya, dan kuasa ini bisa sangat berguna untuk menarik lebih banyak orang kepada Yesus secara instan. Orang-orang akan melakukan segalanya untuk Yesus atau untuk murid-murid-Nya, tetapi ini bukanlah kuasa yang sesungguhnya karena hal ini hanya akan mengobjektifikasi (menjadikan benda mati) orang-orang dan ini tidak lebih dari sekadar manipulasi. Ya, Yesus dapat menciptakan otoritas untuk mengendalikan ekonomi bagi murid-murid-Nya, dan hal ini dapat menghasilkan kekayaan yang luar biasa bagi Yesus dan kelompok-Nya. Namun, pada akhirnya, pengendalian kekayaan melalui manipulasi hanyalah korupsi dan keserakahan.

Ketiga, jika kita perhatikan dengan saksama, kuasa yang dipercayakan Yesus kepada murid-murid-Nya adalah kuasa untuk melayani dan mengasihi. Menyembuhkan orang sakit tanpa meminta imbalan, mengusir setan yang menyiksa manusia, dan memberitakan pertobatan demi keselamatan jiwa-jiwa adalah kuasa yang membawa kekudusan bagi manusia, untuk membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan. Namun, yang luar biasa adalah bahwa otoritas untuk mengasihi ini melahirkan lebih banyak lagi kasih, kasih yang penuh kesabaran, gigih, antisipatif tetapi tersembunyi. Sebagai contoh, untuk mewartakan pertobatan, para murid harus berjalan bermil-mil jauhnya, menahan rasa lapar dan teriknya matahari, serta mempersiapkan apa yang harus mereka katakan. Mereka juga harus menghadapi rasa takut akan penolakan, dan pada akhirnya berdamai dengan hasil yang tidak memuaskan. Ini adalah langkah-langkah kecil dan tersembunyi untuk mencapai pemberitaan tentang pertobatan, dan langkah-langkah ini juga merupakan tindakan-tindakan kasih.

Kita, murid-murid Kristus, diberi otoritas untuk mengasihi. Sebagai suami, kita memiliki otoritas untuk mengasihi pasangan kita. Sebagai orang tua, kita memiliki otoritas untuk mendidik anak-anak kita. Sebagai imam, kita dipercayakan otoritas untuk melayani umat Allah. Namun, otoritas ini bahkan dibangun di atas tindakan-tindakan kasih yang kecil dan tersembunyi namun gigih. Untuk mengasihi anak mereka yang masih kecil, pasangan suami istri harus rela kurang tidur, menyiapkan dan menyediakan makanan bayi pada waktu yang tepat, membeli dan mengganti popok bayi, dan masih banyak lagi hal-hal kecil lainnya. Dan, ketika anak kita tumbuh besar, dia mungkin tidak akan menyadari apa yang telah dilakukan oleh orangtuanya. Apa yang dia sadari adalah bahwa dia sekarang adalah seorang gadis yang sehat dan percaya diri dengan masa depan yang cerah. 

Kasih tidak selalu megah dan sensasional, tetapi sering kali, kecil, konstan dan tidak dihargai. Namun, kasih seperti inilah yang memberdayakan kita untuk memenuhi misi kehidupan kita. Ini adalah otoritas kita untuk mengasihi.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Thorn in the Flesh

14th Sunday in Ordinary Time

July 7, 2024

2 Cor 12:7-10

St. Paul in his letter to the Corinthians reveals to us that he is struggling with ‘a thorn in the flesh’ caused by the devil. Yet, what does it mean for St. Paul to have ‘a thorn’ in his flesh? And, how does St. Paul deal with this situation?

There are at least three possible answers to this thorn in the flesh. The first posibility is that the thorn refers to the spiritual assaults coming from the evil spirits. Either in the forms of physical harassment or constant inner temptations. The second possible answer may refer to his health condition, especially his eye problem. One time St. Paul complained about his difficulty to read. In his letter to the Galatians, he writes, “you know that it was because of a physical illness that I originally preached the gospel to you, and you did not show disdain or contempt because of the trial caused you by my physical condition…Indeed, I can testify to you that, if it had been possible, you would have torn out your eyes and given them to me.” (Gal 4:13-15). The third possibility is that the thorn may point to his struggles and hardship he endures as he deals with different communities. He often narrates how he was slandered, backstabbed and unfaithfullness.

Which among the three possibilites is the most probable? St. Paul may in fact deal with these three conditions in the course of his ministries, but in my personal opinion, this ‘thorn’ speaks of Paul’s struggle with Christian communities he serves. Ultimately, we are not really sure, but what is important is how Paul deals with this thorn. Firstly, Paul recognizes that God allows satan to cause this thorn. It is a good theology. A perfect God does not directly cause evil since only goodness comes from Him, but God may allow evil to take place as long as He has a sufficient reason, that is to bring out the even greater goodness. Secondly, Paul asks the thorns to be removed. Yet, his prayer is not granted because God wants that thorn to stay and He will use that for His glory.

St. Paul admits that the thorn is to keep St. Paul away from being arrogant. Paul receives a lot of spiritual gifts from the Lord, and these gifts may lead to spiritual pride as he may compare himself with less mature Christians. Thus, the thorn serves as a constant reminder that he is also struggling just like other Jesus’ disciples.

Furthermore, St. Paul realizes that God allows Paul to suffer the thorn because He supplies Paul with nececssary grace. The Lord says to Paul, “My grace is sufficient for you.” It is precisely God’s grace that sustains Paul in coping with the troublesome sitaution. St. Paul discerns that he is able to survive and even flourish through sufferings and weakness because of God’s grace. Paul cannot boast of himself, of his power, his intellegence, and his eloquence because all these things crumble before the weight of sufferings. Paul only can boast of weakness, his sufferings, his hardships, his thorn because precisely in his weakness, people can see how God’s grace works and sustains Paul.

What are our thorns in our lives? Are we angry because God does not take away our thorns? Do we relly solely on our strenght? Do we ask suffient grace to endure and flourish through sufferings?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Duri dalam Daging

Minggu ke-14 dalam Masa Biasa

7 Juli 2024

2 Korintus 12:7-10

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus mengungkapkan kepada kita bahwa ia bergumul dengan ‘duri dalam daging’ yang disebabkan oleh mailakat Setan. Namun, apa yang dimaksud dengan ‘duri dalam daging’ bagi Santo Paulus? Bagaimana Paulus menghadapi situasi ini?

Setidaknya ada tiga kemungkinan jawaban untuk duri dalam daging ini. Kemungkinan pertama adalah bahwa duri tersebut mengacu pada serangan rohani yang berasal dari roh-roh jahat. Entah dalam bentuk serangan fisik atau godaan batin yang terus menerus. Kemungkinan jawaban kedua merujuk pada kondisi kesehatannya, terutama masalah matanya. Suatu kali Santo Paulus mengeluh tentang kondisi kesehatan matanya. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus menulis, “Kamu tahu, bahwa oleh karena penyakit fisiklah aku mula-mula memberitakan Injil kepadamu, dan kamu tidak menunjukkan sikap meremehkan atau menghina karena pencobaan yang ditimbulkan oleh keadaan badanku… Sungguh, aku dapat memberi kesaksian tentang kamu, bahwa sekiranya boleh, kamu telah mencungkil matamu dan memberikannya kepada-Ku.” (Gal. 4:13-15). Kemungkinan ketiga, duri tersebut mungkin menunjuk pada pergumulan dan kesulitan yang dialaminya ketika St. Paulus berurusan dengan komunitas-komunitas Gereja lokal. Dia sering menceritakan bagaimana dia difitnah, ditikam dari belakang, dan dikhianati.

Manakah di antara ketiga kemungkinan tersebut yang paling mungkin terjadi? Paulus mungkin saja menghadapi ketiga kondisi tersebut dalam perjalanan pelayanannya, tetapi menurut saya pribadi, ‘duri’ ini berbicara mengenai pergumulan Paulus dengan komunitas Kristen yang dilayaninya. Pada akhirnya, kita tidak tahu pasti, tetapi yang penting adalah bagaimana Paulus menghadapi duri ini.

Pertama, Paulus mengakui bahwa Tuhan mengizinkan setan untuk menyebabkan duri ini. Ini sejatinya adalah teologi yang baik. Allah yang sempurna tidak secara langsung menyebabkan hal buruk karena hanya kebaikan yang berasal dari-Nya, tetapi Allah dapat mengizinkan hal buruk terjadi selama Dia memiliki alasan yang cukup, yaitu untuk memunculkan kebaikan yang lebih besar dari hal buruk ini. Kedua, Paulus meminta agar duri tersebut disingkirkan. Namun, doanya tidak dikabulkan karena Allah ingin duri itu tetap ada dan Dia akan menggunakannya untuk kemuliaan-Nya.

Paulus mengakui bahwa duri tersebut adalah untuk menjauhkan Paulus dari kesombongan. Paulus menerima banyak karunia rohani dari Tuhan, dan karunia-karunia ini dapat menimbulkan kesombongan rohani karena ia dapat membandingkan dirinya dengan orang-orang Kristen yang kurang dewasa. Dengan demikian, duri tersebut berfungsi sebagai pengingat bahwa ia juga bergumul seperti murid-murid Yesus yang lain.

Lebih jauh lagi, Santo Paulus menyadari bahwa Tuhan mengijinkan Paulus untuk menderita duri karena Dia menyediakan rahmat yang dibutuhkan oleh Paulus. Tuhan berkata kepada Paulus, “Cukuplah rahmat-Ku bagimu.” Rahmat Tuhanlah yang menopang Paulus dalam menghadapi penderitaan yang menyulitkan itu. Paulus menyadari bahwa ia dapat bertahan dan bahkan berkembang melalui penderitaan dan kelemahan karena rahmat Allah. Paulus tidak dapat memegahkan diri, kekuatannya, kepandaiannya, dan kefasihannya karena semua itu akan runtuh di hadapan beban penderitaan. Paulus hanya dapat membanggakan kelemahannya, penderitaannya, kesulitannya, duri yang dialaminya karena justru di dalam kelemahannya itulah, orang-orang dapat melihat bagaimana rahmat Allah bekerja dan menopang Paulus.

Apakah duri dalam hidup kita? Apakah kita marah karena Tuhan tidak mengambil duri-duri kita? Apakah kita hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri? Apakah kita memohon kasih karunia yang cukup untuk bertahan dan bertumbuh melalui penderitaan?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Mystery of Faith

13th Sunday in Ordinary Time [B]

June 30, 2024

Mark 5:21-43

Faith is fundamental to our salvation but is also one of the most misunderstood concepts. The stories of the healing of Jairus’ daughter and the woman with haemorrhage help us better understand the meaning of faith and how we need to live our faith.

The most basic understanding of faith is a belief in God, or for us Christians, a belief in Jesus Christ. This primary sense of faith relies heavily on our intellectual acceptance of the presence of God and Jesus as His only begotten Son, our Savior. However, how about those people with no opportunity to intellectually recognize Jesus? Like for example, Jairus’ daughter was gravely ill and eventually died. She was not able to have faith in her mind that Jesus would go to save her. Yet, she was saved from death, not because of her faith, but the faith of her father. St. James reminds us also that even the demons believed and knew well that God exists, but the intellectual faith does not save them.

The second type of faith is faith of conviction. This kind of faith involves not only intellectual recognition of God but also vigorous conviction and deep trust. This kind of faith is usually expressed in solid emotions and visible bodily actions like shouting the name of Jesus or bowing down in prayers. Yet again, St. Paul reminds us that this kind of faith does not bring salvation. He writes, “If I have all faith, so as to remove mountains, but have not love, I am nothing (1 Cor 13:2).”

Finally, the third class of faith is faith working through love. This faith not only accepts God intellectually and is profoundly hopeful but also manifests itself in works of charity. Compared to the previous two, this faith is more demanding yet also saving. We can see this from Jairus’s faith. His profound love for his daughter propels him to believe in Jesus, and in turn, his faith in Jesus empowers him to seek and beg for Jesus’ miraculous healing.

The story of the woman with a haemorrhage is more interesting. She seems to have a second type of faith or the faith with conviction. She sincerely believed that she would be healed if she touched Jesus, but if we go deeper, we find her faith goes beyond convictions. When she decides to approach Jesus, she does not immediately grab Jesus’ body or feet. Instead, she carefully selects to touch the tassel of Jesus’ clock. Why? The woman is aware that she has the flow of blood, and this makes her ritually impure, and anyone she touches may be contaminated by this impurity (see Lev 15:25-30). Therefore, by not making immediate contact with Jesus, the woman shows excellent care to preserve the purity of Jesus. This simple detail can show us her love for Jesus despite her limitations. Then, Jesus recognizes the true faith of the woman, and she is made well.

Do we have the saving faith? What kind of faith do we have, and how do we grow? Do we manifest our faith in God in love for Jesus and our neighbours?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Misteri Iman

Hari Minggu ke-13 dalam Masa Biasa [B]

30 Juni 2024

Markus 5:21-43

Iman adalah hal yang sangat penting bagi keselamatan kita, tetapi juga merupakan salah satu konsep yang paling sering disalahpahami. Kisah kesembuhan anak perempuan Yairus dan perempuan yang mengalami pendarahan membantu kita untuk lebih memahami arti iman dan bagaimana kita harus menghidupi iman kita.

Pengertian iman yang paling mendasar adalah sebuah kepercayaan kepada Allah, atau bagi kita orang Kristen, kepercayaan kepada Yesus Kristus. Pengertian iman yang paling mendasar ini sangat bergantung pada penerimaan intelektual atau akal budi kita akan keberadaan Allah dan Yesus sebagai Putra-Nya yang tunggal, Juruselamat kita. Namun, bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk mengenal Yesus secara intelektual? Misalnya, putri Yairus yang sakit parah dan akhirnya meninggal. Dia tidak dapat memiliki kepercayaan dalam pikirannya bahwa Yesus akan datang untuk menyelamatkannya. Namun, ia diselamatkan dari kematian, bukan karena imannya, tetapi karena iman ayahnya. St. Yakobus juga mengingatkan kita bahwa bahkan roh-roh jahat pun percaya dan mengetahui dengan baik bahwa Allah itu ada, tetapi iman intelektual tidak menyelamatkan mereka.

Jenis iman yang kedua adalah iman dengan keyakinan. Iman jenis ini tidak hanya melibatkan pengenalan intelektual akan Allah tetapi juga keyakinan yang kuat dan mendalam. Iman seperti ini biasanya diekspresikan dalam emosi yang kuat dan tindakan tubuh yang terlihat seperti meneriakkan nama Yesus atau bersujud dalam doa. Namun sekali lagi, Santo Paulus mengingatkan kita bahwa iman seperti ini tidak membawa keselamatan. Ia menulis, “Jika aku mempunyai segala iman, sehingga dapat memindahkan gunung-gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, maka aku tidak ada artinya” (1 Kor. 13:2).

Akhirnya, jenis iman yang ketiga adalah iman yang bekerja melalui kasih. Iman ini tidak hanya menerima Allah secara intelektual dan penuh pengharapan, tetapi juga diwujudkan dalam perbuatan kasih. Dibandingkan dengan dua iman sebelumnya, iman ini lebih sulit diwujudkan, tetapi juga menyelamatkan. Kita dapat melihat hal ini dari iman Yairus. Kasihnya yang mendalam kepada putrinya mendorongnya untuk percaya kepada Yesus, dan pada gilirannya, imannya kepada Yesus memberdayakannya untuk mencari dan memohon kesembuhan mukjizat Yesus sebagai bentuk kasih terhadap putrinya.

Kisah wanita yang mengalami pendarahan lebih menarik. Ia tampaknya memiliki jenis iman yang kedua atau iman dengan penuh keyakinan. Ia dengan tulus percaya bahwa ia akan disembuhkan jika ia menyentuh Yesus, tetapi jika kita menyelidiki lebih dalam, kita akan menemukan bahwa imannya lebih dari sekadar keyakinan. Ketika ia memutuskan untuk mendekati Yesus, ia tidak langsung memegang tubuh atau kaki Yesus. Sebaliknya, ia dengan hati-hati memilih untuk menyentuh rumbai jubah Yesus. Mengapa? Perempuan itu sadar bahwa ia memiliki pendarahan, dan ini membuatnya najis, dan siapa pun yang disentuhnya dapat terkontaminasi oleh kenajisan ini (lihat Im. 15:25-30). Oleh karena itu, dengan memastikan bahwa dia tidak bersentuhan langsung dengan Yesus, wanita itu menunjukkan perhatian yang sangat baik untuk menjaga kemurnian Yesus. Detail sederhana ini dapat menunjukkan kepada kita kasihnya kepada Yesus terlepas dari keterbatasannya. Kemudian, Yesus mengenali iman yang benar dari perempuan itu, dan ia pun sembuh.

Apakah kita memiliki iman yang menyelamatkan? Iman seperti apakah yang kita miliki, dan bagaimana kita bertumbuh? Apakah kita mewujudkan iman kita kepada Allah dalam kasih kepada Yesus dan sesama kita?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Love of Christ urges us.

12th Sunday in Ordinary Time

June 23, 2024

2 Cor 5:14-17

The relationship between St. Paul and the Church in Corinth is complicated. St. Paul was the first missionary to preach the Gospel in Corinth and establish the Church there. Yet, after St. Paul left for another mission, some members of the Church began to disobey Paul and discredit him. In his second letter, St. Paul tried to address this issue, both with tears and joy. What is the problem? How, then, did Paul answer this issue?

Corinth was one of the major cities in ancient Greece, and its strategic location made it wealthy and a major trading hub in the Roman Empire. This situation made the city attractive to many people, including Christian missionaries and preachers. When St. Paul left the city to preach in other places, other so-called ‘apostles’ came and began to teach the Christians in Corinth. Some of them seemed to intentionally discredit Paul by saying that he was not a true apostle. They would cite some proofs like Paul preached a different Gospel, Paul was not a real Israelite, and Paul was not accepting support from the Church (a preacher or missionary was expected to receive their living from the Church). Yet, now Paul was asking for donations.

In his letter, Paul defended himself. He only preached the true Gospel (2 Cor 11:1-6). He is a true Israelite from the tribe of Benjamin and, in fact, from the Pharisees’ group. And, often, he did not receive support from the Corinthians, but instead worked as a tent maker because he did not want to become a burden to the Church (2 Cor 11:7-10). Yet, Paul further explained that the donation he sought was not for himself but for the Church in Jerusalem (2 Cor 8:9).

Paul defended further his apostolic ministry that he received from God for the building of the Church. He was facing persecution both from the Jews and the Greeks; he was beaten in the Synagogue and jailed by Roman leaders. The angry mobs targeted him. Jews opposed Paul because he preached Jesus Christ. The Greeks hated Paul because he drew many people away from the pagan temples. Paul also experienced life-threatening dangers in his journeys: robbers, unfriendly weather, and shipwrecks. Beyond that, he also worked during the days to support himself and preached during the night, and his energy was restlessly spent to deal with various concerns of the Church (see 2 Cor 11:23-29). Paul explained why he was doing all these things: ‘The love of Christ urges us (2 Cor 5:14).’

Christ’s love is enormous; it empowers Paul to do the impossible: love like Jesus. Paul is not the only one who receives this overwhelming love of Jesus but all of us. Jesus loves us dearly to the point of giving up His life for us so that we may become a new creation in Him (2 Cor 5:17). Now, the question is whether we will accept this divine love and make it fruitful in our lives. Are we courageous enough to love like Jesus, as exemplified by St. Paul? Are we ready to face dangers and difficulty in preaching the Gospel? Are we willing to labour day and night for the people Jesus loves?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kasih Kristus menguasai kita.

Hari Minggu ke-12 dalam Masa Biasa

23 Juni 2024

2 Korintus 5:14-17

Hubungan antara Santo Paulus dan Gereja di Korintus cukup rumit. Paulus adalah misionaris pertama yang mengabarkan Injil di kota Korintus dan mendirikan Gereja di sana. Namun, setelah Santo Paulus pergi untuk misi lain, beberapa anggota Gereja mulai tidak menaati Paulus dan mendiskreditkannya. Dalam suratnya yang kedua, Santo Paulus mencoba untuk mengatasi masalah ini. Apakah masalahnya? Lalu, bagaimana Paulus menjawab masalah ini?

Korintus adalah salah satu kota besar di semenanjung Akaya (Yunani kuno), dan lokasinya yang strategis membuat kota ini kaya dan menjadi pusat perdagangan utama di Kekaisaran Romawi. Situasi ini membuat kota ini menarik bagi banyak orang, termasuk para misionaris dan pewarta Injil. Ketika Santo Paulus meninggalkan kota itu untuk mewartakan Injil di tempat lain, orang-orang yang disebut sebagai ‘rasul’ datang dan mulai mengajar umat Kristiani di Korintus. Beberapa di antara mereka tampaknya sengaja menjelekkan nama Paulus dengan mengatakan bahwa ia bukan rasul sejati. Mereka menunjukkan beberapa bukti seperti Paulus mewartakan Injil yang berbeda, Paulus bukanlah orang Israel asli, dan Paulus tidak menerima dukungan dari Gereja (seorang pewarta atau misionaris diharapkan untuk menerima nafkah dari Gereja). Namun, sekarang Paulus meminta sumbangan dari Gereja di Korintus.

Dalam suratnya, Paulus membela diri. Dia hanya memberitakan Injil yang benar (2 Kor. 11:1-6). Dia adalah orang Israel sejati dari suku Benyamin dan, pada kenyataannya, dari kelompok Farisi. Dan, seringkali, ia tidak menerima dukungan dari Gereja di Korintus, dan bekerja sebagai pembuat tenda karena ia tidak ingin menjadi beban bagi Gereja (2 Kor. 11:7-10). Namun, Paulus lebih lanjut menjelaskan bahwa sumbangan yang ia cari bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Gereja di Yerusalem (2 Kor. 8:9).

Paulus membela lebih lanjut pelayanan kerasulannya yang ia terima dari Allah untuk menumbuhkan Gereja-Nya. Dia menghadapi penganiayaan baik dari orang Yahudi maupun Yunani; dia dipukuli di Sinagoga dan dipenjara oleh karena penghakiman orang-orang Yunani dan Romawi. Banyak orang yang marah dan mengincarnya. Orang-orang Yahudi menentang Paulus karena ia memberitakan Yesus Kristus. Orang-orang Yunani membenci Paulus karena ia menarik banyak orang dari kuil-kuil dewa-dewi kuno. Paulus juga mengalami bahaya yang mengancam nyawanya dalam perjalanannya: perampok, cuaca yang tidak bersahabat, dan kapal karam. Selain itu, ia juga bekerja di siang hari untuk menghidupi dirinya sendiri dan berkhotbah di malam hari, dan tenaganya dihabiskan dengan penuh kegelisahan untuk menangani berbagai masalah Gereja (lihat 2 Korintus 11:23-29). Paulus menjelaskan mengapa ia melakukan semua hal ini: “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami (2 Kor. 5:14).”

Kasih Kristus sanggatlah besar; kasih itu memberdayakan Paulus untuk melakukan hal yang mustahil, yakni mengasihi seperti Yesus. Bukan hanya Paulus yang menerima kasih Yesus yang luar biasa ini, tetapi juga kita semua. Yesus sangat mengasihi kita sampai-sampai Ia menyerahkan nyawa-Nya untuk kita sehingga kita dapat menjadi ciptaan baru di dalam Dia (2 Kor. 5:17). Pertanyaannya adalah apakah kita mau menerima kasih ilahi ini dan menjadikannya berbuah dalam hidup kita? Apakah kita cukup berani untuk mengasihi seperti Yesus, seperti yang dicontohkan oleh Santo Paulus? Apakah kita siap menghadapi bahaya dan kesulitan dalam memberitakan Injil? Apakah kita bersedia bekerja keras siang dan malam untuk orang-orang yang dikasihi Yesus?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Man and the Seed

11th Sunday in Ordinary Time [B]
June 16, 2024
Mark 4:26-34

There is something ‘unusual’ in Jesus’ parable. I am not a farmer, but I can sense that the parable’s man seemed clueless about what he was doing. He simply threw the seed and went away sleeping. What is really happening here? What does Jesus want to teach us through this parable?

Though man’s way can be a valid way of cultivating a plant, it is not the best way of farming. Good farmers will ensure that the seed will grow well through constant care. They would choose the best type of seeds for the season. Seeds for spring are different from those for autumn. Then, they will prepare the soil and scatter the seeds, considering the proper spacing. Enough water is also crucial for the healthy growth of the plant. Farmers also always watch for things that may destroy their harvest, like wild animals, pests, and thieves.

However, the man in the parable just sown the seed and went away. He did not act like a good farmer. What’s really happening here? To answer this, we must look closely at the text. Jesus never described the man as a farmer. Jesus said, ’a man’ (Greek: ἄνθρωπος, Anthropos). Another interesting thing is that Jesus described the man not as ‘planting the seed’ but ‘throwing the seed’ (Greek: βάλλω, ballo). From this information, we can safely conclude that the man in the parable did not intend to cultivate the seed but rather to throw it away. Yet, despite being rejected, the seed mysteriously grew and bore fruits.

Then, the kingdom of God is a rejected seed that has survived and even produced a large harvest. This kingdom of God may refer to Jesus, the King of the Kingdom, who was rejected by the elders and crucified by the Romans and yet rose from the dead and became the source of salvation for those who believe. The kingdom of God may also point to the Church as the body of Christ that was initially persecuted severely, and both her leaders and her members were tortured and martyred. Yet, eventually, the Church grows exponentially into the most significant human community in the world.

The parable also speaks to us, especially when facing suffering and our faith is challenged. For some people, just being the disciples of Christ, we must endure hatred, discrimination, violence, and even death threats. For others, being part of the Catholic Church, our faith is questioned and ridiculed. However, the spiritual danger also threatens those practicing their faith in peace. We may take our faith for granted when things are safe and easy. We go to the Church just because everyone is going to the Church or because we feel good about it. Our understanding of our faith becomes very shallow. Another danger is that we become arrogant and self-righteous, looking down on other Christians and thus failing to love them. We turn to be ‘the man’ in the parable who rejected the seed.

For those who are like ’a rejected seed’, we have faith that God works in mysterious ways to bring us growth in suffering. Yet, at the same time, as we grow in faith, we must be careful not to become like ‘the man’ who throws a rejected seed.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Manusia dan Benih

Minggu ke-11 dalam Masa Biasa [B]
16 Juni 2024
Markus 4:26-34

Ada sesuatu yang ‘tidak biasa’ dalam perumpamaan Yesus kali ini. Saya bukan seorang petani, tetapi saya dapat merasakan bahwa orang dalam perumpamaan ini sepertinya tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan. Dia hanya melemparkan benih dan pergi tidur. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Apa yang Yesus ingin ajarkan kepada kita melalui perumpamaan ini?

Meskipun cara pria dalam perumpamaan dapat menjadi cara untuk menanam tanaman, itu bukanlah cara terbaik untuk bertani. Petani yang baik akan memastikan bahwa benih akan tumbuh dengan baik melalui perawatan yang konstan. Mereka akan memilih jenis benih terbaik untuk musim tersebut. Benih untuk musim semi berbeda dengan benih untuk musim gugur. Kemudian, mereka akan menyiapkan tanah dan menebarkan benih, dengan mempertimbangkan jarak yang tepat. Air yang cukup dan juga pupuk sangat penting untuk pertumbuhan tanaman yang sehat. Para petani juga selalu memperhatikan hal-hal yang dapat merusak hasil panen mereka, seperti binatang buas, hama, dan pencuri.

Namun, orang dalam perumpamaan itu hanya menabur benih dan pergi. Ia tidak bertindak seperti seorang petani yang baik. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Untuk menjawabnya, kita harus melihat dengan seksama teks ini. Yesus tidak pernah menggambarkan orang itu sebagai seorang petani. Yesus berkata, ‘seorang manusia’ (Yunani: ἄνθρωπος, Anthropos). Hal lain yang menarik adalah bahwa Yesus tidak menggambarkan orang itu sebagai ‘penabur benih’, melainkan ‘melempar benih’ (bahasa Yunani: βάλλω, ballo). Dari informasi ini, kita dapat menyimpulkan bahwa orang dalam perumpamaan ini tidak bermaksud untuk menanam benih, melainkan membuangnya. Namun, meskipun ditolak, benih itu secara misterius tumbuh dan menghasilkan buah.

Maka, Kerajaan Allah adalah benih yang ditolak yang bertahan dan bahkan menghasilkan panen yang besar. Kerajaan Allah ini dapat merujuk kepada Yesus, sang Raja Kerajaan Allah, yang ditolak oleh para tua-tua dan disalibkan oleh bangsa Romawi, namun bangkit dari kematian dan menjadi sumber keselamatan bagi mereka yang percaya. Kerajaan Allah juga dapat menunjuk kepada Gereja sebagai tubuh Kristus yang pada awalnya dianiaya dengan kejam, dan para pemimpin serta anggotanya disiksa dan menjadi martir. Namun, pada akhirnya, Gereja bertumbuh menjadi komunitas manusia yang paling besar di dunia.

Perumpamaan ini juga berbicara kepada kita, terutama ketika menghadapi penderitaan dan iman kita ditantang. Bagi sebagian orang, dengan menjadi murid-murid Kristus, kita harus menanggung kebencian, diskriminasi, kekerasan, dan bahkan ancaman kematian. Bagi yang lain, sebagai bagian dari Gereja Katolik, iman kita dipertanyakan dan diejek. Namun, bahaya rohani juga mengancam mereka yang beriman dalam situasi damai. Kita mungkin menganggap remeh iman kita ketika segala sesuatunya aman dan mudah. Kita pergi ke Gereja hanya karena semua orang pergi ke Gereja atau karena kita merasa ‘senang’. Pemahaman kita tentang iman kita menjadi sangat dangkal. Bahaya lainnya adalah kita menjadi sombong dan merasa paling benar, memandang rendah orang-orang Kristen lainnya dan dengan demikian gagal untuk mengasihi mereka. Kita berubah menjadi ‘orang’ dalam perumpamaan yang membuang benih.

Bagi kita yang seperti ‘benih yang ditolak’, kita memiliki iman bahwa Allah bekerja dengan cara yang misterius untuk membawa kita bertumbuh dalam penderitaan. Namun, pada saat yang sama, ketika kita bertumbuh dalam iman, kita harus berhati-hati agar tidak menjadi seperti ‘orang yang menolak dan membuang benih’ di dalam perumpamaan.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Adam and Us

10th Sunday in Ordinary Time [B]

June 9, 2024

Genesis 3:9-15

The story begins with a question from the Lord to Adam, “Where are you?” Yet, this is a strange question. Wasn’t God aware of where Adam was? But He is God, and He is supposed to know everything! Does it demonstrate ‘ignorance of God,’ or is there something deeper in the question?

Firstly, we must recognize that the language of the early chapters of Genesis is much different from the rest of the Bible. The Church recognizes that “the account of the fall in Genesis 3 uses figurative language but affirms a primeval event, a deed that took place at the beginning of the history of man (CCC 390).” Scholars agree that the sacred author used an ‘anthropomorphic language,’ that is, God is described to act and behave like a human person. Thus, God is painted as one who strolled around the garden and suddenly noticed the absence of Adam and Eve.

Moving beyond ‘anthropomorphic language,’ God’s question to Adam is not about geographical location. God certainly knew well where Adam was. Nothing can hide from Him. Yet, the question remains true because God was not asking for a geographical position but rather a personal relationship. “Where are you in relation to me? Are you with me or against me? Are you on my side or the serpent’s side?”

Adam answered, “I was afraid.”  The original relationship between God and men was based on love and true honor. Yet, after sin, fear dominates. Adam no longer saw God as a loving father but a vengeful judge. Thus, he ran away and hid himself because he was fully aware of the judgment that awaited him. He was naked before the Lord, and he realized without God, he was nothing.

God then asked, “Did you eat from the tree?” Surely, God knew Adam had trespassed His law, but He phrased the fact in a rhetorical question as God solicited Adam’s confession. Unfortunately, instead of confessing and asking for forgiveness, Adam blamed the woman. Yet, on closer look, Adam was not exactly blaming the woman, “The woman you gave me, she gave me the fruit.” Indirectly, Adam blamed God! Adam deserves nothing but a miserable death, but did He die there and then? No! God rather pointed out to Adam that his refusal of God’s love had led him to hardship and suffering.

What would have happened if Adam had owned his sin and asked God’s mercy? Perhaps Adam and his descendants would have lived in a better world. Yet, Adam was too arrogant to beg forgiveness, and he and his descendants must walk through the valley of tears till the arrival of Jesus Christ.

Surely, it is pointless to blame Adam for our conditions, but we can always learn from this primordial story. Sin is what separates us from God and distorts our loving relationship into a nightmare. Either we see ourselves as fearful slaves or rebellious renegades. Yet, often, like Adam, our father, we are too arrogant to confess and blame others, situations, or, finally, God. Yet, on the other side of the story, we learn who our God is. He was not a vengeful god who would instantly obliterate Adam, but rather a loving father who patiently educates his rebellious son. He was not a cruel lord who would punish but a merciful God who wanted his stray children to return to Him through the arrival of His Son.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP