Immanuel

Malam Natal [B]

24 Desember 2020

Lukas 2: 1-14

Natal adalah salah satu masa terindah dan menggembirakan. Natal adalah waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan para sahabat, dan juga bertukar hadiah. Natal adalah waktu memasang pohon Natal, merancang Gua Natal, dan memutar lagu-lagu Natal. Pastinya, Natal adalah saat keluarga pergi ke gereja bersama-sama.

Namun, tahun ini, banyak hal tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Pandemi yang disebabkan oleh Covid-19 terus menghantam masyarakat kita, dan memengaruhi secara signifikan cara kita melakukan sesuatu dan berelasi satu sama lain. Beberapa dari kita tidak bisa lagi pulang karena profesi kita atau pembatasan perjalanan. Beberapa dari kita tidak akan dapat menghadiri liturgi malam Natal yang indah karena Gereja tetap tutup. Beberapa dari kita tidak memiliki makanan spesial di atas meja karena ekonomi yang buruk memukul kita dengan keras. Bagi sebagian dari kita, ini adalah Natal yang dingin dan menyedihkan karena beberapa anggota keluarga kita sakit atau bahkan telah meninggal dunia.

Apakah ini masih Natal? Dalam situasi sulit ini, semakin kita diundang untuk merenungkan misteri Inkarnasi. Drama keselamatan dimulai dengan seorang bayi kecil dengan orang tua-Nya yang miskin. Yusuf adalah putra Daud, namun dia tidak lebih dari seorang tukang kayu yang sederhana, yang bahkan tidak dapat menyediakan tempat yang layak bagi istrinya untuk melahirkan. Maria adalah seorang ibu muda, yang harus menanggung rasa malu yang tak terbayangkan dan berbagai ancaman terhadap hidupnya. Dan, di tengah Natal adalah bayi laki-laki yang adalah Tuhan sendiri, tetapi memilih untuk dilahirkan di tempat yang paling tidak layak, sebuah gua yang dipenuhi dengan binatang. Dia tidak memilih tempat yang sangat megah seperti istana atau kastil yang megah. Ia tidak memilih untuk dibungkus dengan pakaian kerajaan berwarna ungu, melainkan kain linen sederhana. Dia tidak memilih tempat tidur emas dan nyaman, tetapi palungan batu yang tidak higienis.

Melihat keadaannya, kelahiran Yesus memang tidak terlalu mengesankan, tapi inilah yang membuat misteri Inkarnasi menyentuh hati setiap manusia. Dia tidak datang sebagai raja yang mendominasi dan otoriter seperti kaisar Agustus. Dia tidak datang sebagai pemimpin militer yang lihai seperti Julius Caesar. Dia tidak datang sebagai politikus yang cerdas seperti Herodes. Tuhan datang kepada kita sebagai bayi terlemah di tempat yang paling rendah. Dia adalah Tuhan yang sangat mengasihi kita, dan ingin merangkul bahkan kodrat kita yang lemah kita.

Natal mengingatkan kita bahwa Yesus menyertai kita ketika kita bergulat dengan kondisi ekonomi; Yesus menyertai kita saat kita tidak bisa bersama orang yang kita cintai. Yesus menyertai kita saat kita kehilangan anggota keluarga kita. Natal pertama menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan tidak selalu melepaskan kita dari penderitaan, tetapi Dia berjanji untuk selalu menyertai kita di saat-saat yang sulit ini.

Salah satu teman saya baru saja kehilangan ayahnya karena Covid-19. Hal ini adalah kematian yang tiba-tiba dan terlalu cepat. Yang membuatnya sangat menyakitkan adalah mereka tidak bisa memberikan perpisahan terakhir karena jenazah segera dikubur. Ketika saya memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya, saya melihat dia sudah dapat menerima kepergian ayahnya. Sayapun menanyakan alasannya. Dia menceritakan kepada saya bahwa sebelum ayahnya dirawat di rumah sakit, dia dapat memberikan skapulir coklat kepada ayahnya. Dia juga mengetahui bahwa ayahnya meninggal ketika dia berdoa rosario. Dia percaya bahwa ayahnya tidak sendirian ketika dia meninggal, Tuhan menyertainya. Sungguh, Yesus adalah Imanuel, Tuhan beserta kita.

Selamat Natal!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: debby hudson

Mary’s Fiat

Fourth Sunday in Ordinary Time [B]

December 20, 2020

Luke 1:28-36

Christmas is fast approaching, and the Church is inviting us to reflect on the story of the Annunciation. Allow me to once more focus on the Blessed Virgin’s Fiat. To appreciate her answer to God’s will and plan, we need to see at least two things. Firstly, it is her historical and social context. Secondly, it is the language analysis of her response.

Mary was a young girl. According to tradition, she was around 13 or 14 years old when she got married. For many of us, living in urban settings, Mary’s marriage was remarkably too early. But, this kind of practice was nothing but expected. Lives were hard, and many people died too young due to sickness, famine, calamity, or wars. To sustain a healthy number of populations, young girls were prepared for the duty of motherhood.

Mary was betrothed to Joseph from the family of David. In the Jewish community, betrothal is the first formal step in a Jewish marriage. The exchange of vows was done in this betrothal. Mary and Joseph were spouses in the eye of Jewish law and society, except for the intimate relationship. The couple had to wait around one year before the bride moved to the house prepared by the groom from the betrothal. Usually, there was a light procession from the bride’s original place to the new house, where the wedding ceremony and reception would occur.

Legally, Mary was Joseph’s wife, and if something wrong happened, it was judged to be adultery. The Law of Moses abhors adultery since it reflects Israel’s infidelity toward Yahweh, breaking the sacred covenant. Thus, for those who were unfaithful, severe punishment awaited them. In Deu 20:22, the Torah explicitly stated that if a betrothed woman commits adultery, she and the man shall be stoned to death.  As a good Jew, Mary was aware of this terrible consequence when archangel Gabriel announced the glad tiding. If she gave her affirmation, she might face certain, untimely death. Nobody would believe her if she tried to defend her supernatural virginal conception. “She must be insane!” some would say. However, despite this imminent horrible future, Mary accepted her mission.

Now, why did she say her Fiat? I used to think that Mary’s fiat is about surrendering everything to God.  She did not understand, but her faith enabled her to trust in God’s providence. In the face of ominous dangers, to have this kind of faith is extremely remarkable. However, as I read more about this Fiat, I discover that Mary’s Fiat is more than an act of self-surrender. The Greek word used by Mary is “genomai.” This word is rather special because it expresses not an act of submission but an act of longing. This tiny detail spells the great difference. Mary did not just submit to the will of God, but she longed to do it. She was not passively accepting her fate but rather proactively fulfilling God’s plan in her. There were no traces of fear, doubt, and worry. Her yes was driven by passion, hope, and eagerness. Despite bleak tomorrow, she knew that she was about to depart into an unimaginably amazing journey. For her, the Lord’s plan is always the best and the only way to reach our utmost potential.

Do we have what it takes to have Mary’s Fiat?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: Phil hearing

Fiat Maria

Minggu Keempat di Waktu Biasa [B]

20 Desember 2020

Lukas 1: 28-36

Natal semakin dekat dan Gereja mengundang kita sekali lagi untuk merenungkan kisah Kabar Sukacita. Izinkan saya untuk sekali lagi fokus pada “Fiat” atau jawaban Ya Perawan Maria [Fiat sendiri berasal dari bahasa Latin, artinya “terjadilah”]. Untuk mengerti lebih dalam jawaban Maria atas kehendak dan rencana Tuhan, kita perlu melihat setidaknya dua hal. Pertama, konteks sejarah dan sosialnya, dan kedua adalah analisis bahasa dari tanggapan Maria.

Maria adalah seorang gadis muda. Menurut tradisi, dia berusia sekitar 13 atau 14 tahun saat menikah dengan Yusuf. Bagi banyak dari kita yang tinggal di lingkungan perkotaan, pernikahan semacam ini terlalu dini. Tapi, praktik semacam ini tidak hanya wajar tetapi dibutuhkan. Kehidupan pada zaman itu sangat sulit, dan banyak orang meninggal dalam usia muda karena penyakit, kelaparan, bencana atau perang. Untuk menopang jumlah populasi yang sehat, gadis-gadis muda harus dipersiapkan untuk menjalankan tugas seorang  ibu.

Injil menjelaskan bahwa Maria “bertunangan” dengan Yusuf dari keluarga Daud. Kata pertunangan sebenarnya kurang tepat, karena tidak menggambarkan realitas yang terjadi. Dalam komunitas Yahudi, ada dua tahap pernikahan. Tahap pertama adalah pertukaran janji antara pria dan wanita. Dengan pertukaran janji ini, Maria dan Yusuf sudah menjadi pasangan suami istri di mata hukum dan masyarakat Yahudi. Dari pertukaran janji ini, pasangan ini harus menunggu sekitar satu tahun sebelum pengantin wanita memasuki rumah yang telah disiapkan oleh pengantin pria. Biasanya, tahap kedua ini dimulai dengan prosesi cahaya dari tempat asal pengantin wanita ke rumah barunya yang menjadi tempat berbagai ritual upacara pernikahan dan resepsi akan dilangsungkan.

Secara hukum, Maria adalah istri Yusuf, dan jika Maria tidak setia, hal ini dianggap perzinaan. Hukum Taurat membenci perzinaan karena hal ini mencerminkan ketidaksetiaan Israel terhadap Yahwe, sebuah pelanggaran dari perjanjian suci. Karena itu, bagi mereka yang tidak setia, hukuman berat menanti mereka. Dalam Ulangan 20:22, Hukum Taurat secara eksplisit menyatakan bahwa jika seorang wanita yang telah mengikrarkan janji nikah dan melakukan perzinaan, dia dan pria itu akan dilempari batu sampai mati. Sebagai seorang Yahudi yang baik, Maria menyadari konsekuensi yang mengerikan ini, ketika malaikat agung Gabriel menyatakan kepadanya sebuah kabar gembira. Jika dia memberikan persetujuannya, besar kemungkinannya Maria akan menghadapi kematian yang mengenaskan. Tentunya, siapa yang akan mempercayai Maria jika dia mencoba menjelaskan bahwa bayi yang dikandungannya adalah karena kuasa Roh Kudus. Orang-orang akan berkata, “Dia pasti sudah gila!”. Namun, meski masa depan mengerikan menunggunya, Maria tetap menerima misinya.

Sekarang mengapa dia mengatakan Fiat? Saya dulu berpikir bahwa Fiat Maria adalah tentang menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Dia tidak mengerti tetapi imannya memungkinkan dia untuk percaya dan berpasrah kepada Tuhan. Dalam menghadapi bahaya yang mengancam jiwanya, iman seperti ini sanggatlah luar biasa. Namun, saat saya membaca lebih banyak tentang Fiat ini, saya menemukan bahwa Fiat Maria lebih dari sekadar tindakan penyerahan atau pasrah diri. Kata Yunani yang digunakan Maria adalah “genomai”. Kata ini istimewa karena sejatinya tidak mengungkapkan penyerahan, tetapi kerinduan.

Detail kecil ini menunjukkan perbedaan yang besar. Maria tidak hanya sekedar tunduk pada kehendak Tuhan, tetapi dia berhasrat untuk berpartisipasi dalam pemenuhannya. Dia tidak pasif menerima takdirnya, melainkan secara proaktif memenuhi rencana Tuhan dalam dirinya. Tidak ada jejak ketakutan, keraguan dan kekhawatiran. Fiat Maria didorong oleh semangat, harapan, dan keinginan kuat. Meskipun hari esok suram, dia tahu bahwa dia akan berangkat ke perjalanan yang luar biasa tak terbayangkan bersama Tuhan. Bagi Maria, rencana Tuhan selalu merupakan rencana terbaik, dan satu-satunya jalan untuk mencapai potensi terbaik kita, keselamatan kita.

Apakah kita melihat seperti Maria melihat? Apakah kita memiliki iman seperti Maria? Apakah Fiat Maria adalah Fiat kita juga?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo credit: arni svanur

 

 

Rejoice Always!

Gaudete Sunday. 3rd Sunday of Advent [B]

December 13, 2020

John 1:6-8, 19-28

This Sunday is special. We are still in the season of Advent, and yet we see a different liturgical color. It is a rose color [not pink!]. This beautiful color symbolizes joy and hope, and it is in line with the spirit of the third Sunday of Advent, the Gaudete Sunday. Gaudete is a Latin word meaning “Rejoice!” The name is rooted in the introit or the opening antiphon of the Mass, from Phil 4:4-5, “Rejoice in the Lord always; again I will say, Rejoice. 5 Let your gentleness be known to everyone. The Lord is near” In the second reading, St Paul reiterates the motif, “Rejoice always. Pray without ceasing. In all circumstances give thanks, for this is the will of God for you in Christ Jesus. [1 The 5:16].”

Yet, the real question is, “Is the Church too naïve in inviting us to rejoice in these difficult times?” This deadly and fast-spreading virus covid-19 has devastated practically the entire planet. While it does not physically destroy the earth like a nuclear bomb, it does kill countless people. It slows down the economy and forces many governments, even the strongest, to panic and struggle. The number of victims keeps increasing, and there is no sign of abating. Indeed, we are going to have a different experience of Christmas this year. Indeed, covid-19 is not the only thing that makes our day so bad. Personal issues, family problems, conflicts in the community, and many other things are still haunting our lives. How do you expect us to rejoice? If we examine the words of St. Paul in 1 Thes 5:16, we discover that to rejoice is not an option, but God’s will for us! It gives us more reason to ask how it is possible?

The key is to understand joy neither as a simple absence of pain nor bodily and emotional pleasure. The Greek word is “kaire” and Angel Gabriel uses the same word to address Mary [Luk 1:28]. If we look at the life of Mary, she does not have a fairy-tale-kind life. Her life will turn upside-down, a sword will pierce her soul, and she will see her son die on the cross. Nothing pleasurable and sensational about that! Yet, she says, “My spirit rejoices in God my savior [Luk 1:47]! Mary is able to discover something precious despite tons of ugly things in her life. She discovers Jesus.

In 1 The 5:16, rejoice cannot be separated from unceasing prayer and giving thanks in all circumstances. That is another key. Through prayer, we are connected to God, and in prayer, we learn to see God and His plan in our lives. Sometimes, we can only see good things in good time, but the Gospel has told us the opposite: there is God in the dirty manger, and even there is God on the horrible cross. When we see God in these broken pieces of lives, we cannot but give thanks. And, when we are always grateful, we are inspired to rejoice.  That is the spirit of Christmas, and we are trained in the school of Gaudete Sunday.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Bersukacitalah Selalu!

Minggu Gaudete. Minggu ke-3 Adven [B]

13 Desember 2020

Yohanes 1: 6-8, 19-28

Minggu ini cukup istimewa. Kita masih dalam masa Adven, namun kita melihat warna liturgi yang berbeda. Itu adalah warna mawar atau merah muda. Warna indah ini melambangkan kegembiraan dan harapan, dan ini sejalan dengan semangat Minggu Adven ketiga, Minggu Gaudete. Gaudete adalah kata Latin yang berarti “Bersukacitalah!” Nama ini berakar pada introit atau antiphon pembukaan Misa, dari Filipi 4: 4-5, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!  Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat !” Dalam bacaan kedua, Santo Paulus mengulangi motif yang sama, “Bersukacitalah senantiasa.  Tetaplah berdoa.  Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. [1 Tesalonika 5:16]. ”

Namun, pertanyaan sebenarnya adalah “Apakah Gereja tidak naif dalam mengajak kita untuk bersukacita di masa-masa sulit ini?” Virus covid-19 yang mematikan dan cepat menyebar ini praktis telah meluluh lantahkan seluruh planet. Meskipun tidak menghancurkan bumi secara fisik seperti bom nuklir, hal ini membunuh banyak orang. Virus ini memperlambat ekonomi dan memaksa banyak pemerintah, bahkan yang terkuat sekalipun, menjadi panik dan bergulat. Jumlah korban terus meningkat dan tidak ada tanda-tanda mereda. Pastinya, kita akan mengalami pengalaman Natal yang berbeda tahun ini. Natal yang tidak lagi ceria. Tentunya, covid-19 bukanlah satu-satunya hal yang membuat hidup kita jadi buruk. Masalah pribadi, masalah keluarga, konflik di masyarakat dan banyak hal lainnya masih menghantui kehidupan kita. Bagaimana Gereja mengharapkan kita untuk bersukacita? Jika kita meneliti perkataan Santo Paulus dalam 1 Tes 5:16, kita menemukan bahwa bersukacita bukanlah pilihan, tetapi kehendak Tuhan bagi kita! Ini memberi kita lebih banyak alasan untuk bertanya bagaimana mungkin?

Kuncinya adalah memahami sukacita bukan hanya sebagai ketiadaan rasa sakit atau kesenangan fisik dan emosional. Kata Yunaninya adalah “kaire” dan ini adalah kata yang sama digunakan oleh Malaikat Gabriel untuk memanggil Maria [Luk 1:28]. Jika kita melihat kehidupan Maria, dia tidak memiliki kehidupan yang penuh dengan kesuksesan duniawi. Hidupnya berantakan saat Yesus hadir, pedang menembus jiwanya dan dia melihat putranya sendiri mati di kayu salib. Tidak ada yang sensasional tentang hidup Maria! Namun, Bunda Maria mampu berkata, “… Hatiku bergembira karena Allah, Juru selamatku [Luk 1:47]! Maria dapat menemukan sesuatu yang berharga di tengah-tengah banyak hal buruk dalam hidupnya. Dia menemukan Yesus.

Dalam 1 Tesalonika 5:16, bersukacita tidak lepas dari doa yang tak henti-hentinya dan mengucap syukur dalam segala keadaan. Itu adalah kunci kedua untuk bersukacita. Melalui doa, kita terhubung dengan Tuhan, dan dalam doa, kita belajar untuk melihat Tuhan dan rencana-Nya dalam hidup kita. Kadang-kadang, kita hanya mau melihat hal-hal yang baik pada saat yang baik, tetapi Injil mengatakan sebaliknya: ada Tuhan di palungan yang kotor dan bahkan ada Tuhan di salib yang mengerikan. Saat kita melihat Tuhan bahkan dalam kegelapan hidup kita, kita akan dimampukan untuk mengucap syukur. Dan, saat kita selalu bersyukur, kita terinspirasi untuk bersukacita. Inilah semangat Natal, dan kita dilatih di sekolah Minggu Gaudete.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: @stevenkyleadair

Mark and His Gospel

Second Sunday of Advent [B]

December 6, 2020

Mark 1:1-8

On the second Sunday of Advent, we are reading from the beginning of the Gospel of Mark. After all, this is the beginning of liturgical year B, and it is fitting to start with the first chapter of Mark. Yet, unlike Matthew and Luke, Mark has neither infancy narratives nor the childhood stories of Jesus. Mark commences his Gospel with John the Baptist, who announces the repentance and the coming of Christ.

Mark, among the four gospels, is arguably the least popular. This happens for understandable reasons. Mark is the shortest Gospel, and it has only 16 chapters and around fifteen thousand Greek words. [Matthew has around twenty-three thousand while Luke has twenty-five thousand]. Many stories in Mark are also found in Matthew and Luke, but many materials in Matthew or Luke are absent in Mark. Thus, people who read Matthew tend to skip Mark because they believe they have read Mark. This is certainly unfortunate because Mark has its characters and emphasis.

Mark is action-oriented Gospel. It immediately starts with a man of action, John the Baptist. Mark presents Jesus as someone who always in the move and is active. Mark does not write much about Jesus’ preaching but focuses on what Jesus does. He preaches the good news, heals the sick, exorcises the demons, does miracles, calls disciples, and travels a lot. Mark’s Gospel is also fast-paced, yet, despite the fast-moving events, Mark often paints more details in his accounts, like the Gerasene demoniac story [Mar 5:1-20].

The traditional symbol for Mark is a lion. He acquires this symbol because his Gospel starts with John, who boldly preaches repentance, just like a lion. Yet, the Gospel of Mark itself displays the character of a lion: it delivers his point powerfully and effectively. Mark was not the twelve disciples of Jesus, and he might be an eyewitness, especially when Jesus was arrested [Mark 14:51]. The Acts of Apostles calls him John Mark, a companion of Paul and Barnabas in their missionary journey. Still, unfortunately, Mark became a source of disagreement between Paul and Barnabas [Act 15:39]. Yet, he finally reconciled with Paul [Col 4:10]. Along the way, he turned to be the companion and disciple of St. Peter in Rome [1 Pet 5:13]. Later, in the early second century, Papias, bishop of Hierapolis, testified that Mark was the interpreter of Peter and wrote down Peter’s teachings of Jesus. Because of Peter’s authority, we understand why Mark’s Gospel was selected as one of the canonical gospels.

What can we learn from Mark and his Gospel, especially this season of Advent? Mark gives us an example that we can approach Jesus in our unique characters. While Mark is writing about Jesus, he does not have to compose like John. Like Mark, we do not have to be someone else in loving God. While the saints serve as role models, we are invited to love Him with our unique personalities and ways. While we are united in one Church, our personalities do not disappear but rather enhanced in serving one another. Unless we recognize who we are fundamentally in Christ, we are going to fail to love authentically.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: samantha-sophia

Markus dan Injilnya

Minggu Kedua Adven [B]

6 Desember 2020

Markus 1: 1-8

Pada Minggu kedua Adven, kita membaca dari awal Injil Markus. Kita ingat bahwa ini adalah awal dari tahun liturgi B sehingga awal Injil Markus adalah bacaan yang tepat. Namun, tidak seperti Matius dan Lukas, Markus tidak memiliki narasi kelahiran maupun kisah masa kecil Yesus. Markus memulai Injilnya dengan Yohanes Pembaptis yang mewartakan pertobatan dan kedatangan Kristus.

Markus di antara keempat Injil, bisa dibilang paling tidak populer. Mengapa? Markus adalah Injil terpendek dan hanya memiliki 16 bab dan sekitar lima belas ribu kata Yunani. [Matius memiliki sekitar dua puluh tiga ribu sedangkan Lukas memiliki dua puluh lima ribu]. Banyak cerita dalam Markus juga ditemukan dalam Matius dan Lukas, tetapi banyak materi dalam Matius atau Lukas tidak ada dalam Markus. Jadi, orang yang membaca Matius cenderung melewatkan Markus karena mereka yakin mereka telah membaca Markus. Hal ini tentunya sangat disayangkan karena Markus memiliki karakter dan penekanan tersendiri.

Markus adalah Injil yang berorientasi pada tindakan. Injil ini dimulai dengan Yohanes Pembaptis, “man of action”. Markus menampilkan Yesus sebagai seseorang yang selalu bergerak dan aktif. Markus tidak banyak menulis tentang pengajaran Yesus, tetapi berfokus pada apa yang Yesus lakukan. Yesus memberitakan kabar baik, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, melakukan mukjizat, memanggil murid dan mengunjungi banyak tempat. Injil Markus juga bergerak cepat, namun, meskipun bergerak cepat, Markus sering menuliskan lebih banyak detail dalam ceritanya di bandingkan Matius atau Lukas, seperti kisah orang yang dirasuki roh jahat di Gerasa [Mar 5: 1-20].

Lambang tradisional Markus adalah seekor singa. Dia memperoleh simbol ini karena Injilnya dimulai dengan Yohanes yang dengan berani memberitakan pertobatan, layaknya seekor singa. Namun, Injil Markus sendiri menampilkan karakter seekor singa: Injil ini menyampaikan pesannya dengan kuat dan efektif. Markus sendiri bukanlah dua belas rasul Yesus, dan ada kemungkinan bahwa dia adalah menjadi saksi mata, terutama ketika Yesus ditangkap [Markus 14:51]. Dari Kisah Para Rasul, nama lengkapnya adalah Yohanes Markus yang pada awalnya adalah rekan Paulus dan Barnabas dalam perjalanan misionaris mereka. Namun, sayangnya, Markus menjadi sumber ketidaksepakatan antara Paulus dan Barnabas [Kis 15:39]. Akhirnya dia berdamai dengan Paulus [Kol 4:10]. Markus kemudian menjadi pendamping dan murid St. Petrus di Roma [1 Pet 5:13]. Menurut kesaksian Papias, uskup Hierapolis, pada awal abad kedua, Markus adalah penerjemah dari St. Petrus dan menuliskan ajaran Petrus tentang Yesus secara akurat tapi tidak secara kronologis. Karena otoritas Petrus inilah, Injil Markus dipilih sebagai salah satu Injil kanonik.

Apa yang dapat kita pelajari dari Markus dan Injilnya terutama pada masa Adven ini? Markus memberi kita teladan bahwa kita dapat melayani Yesus dengan kepribadian kita yang unik. Saat Markus menulis tentang Yesus, dia tidak menulis seperti Yohanes. Saat Lukas mengutip Markus, dia tidak sekedar menjiplak Markus, tetapi menulis dengan gayanya sendiri. Seperti Markus, kita tidak harus menjadi orang lain dalam mengasihi Tuhan. Sementara para kudus memberikan teladan, kita diundang untuk mengasihi Dia dengan kepribadian dan cara kita yang unik dan terbaik. Saat kita menjadi bagian dalam satu Gereja, kepribadian kita tidak hilang, melainkan ditingkatkan dalam melayani satu sama lain. Kecuali kita mengenali siapa kita secara fundamental di dalam Kristus, kita akan gagal untuk mengasihi secara otentik.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

 

Sign of Hope

First Sunday of Advent [B]

November 29, 2020

Mark 13:33-37

We are entering a joyful season of Advent. The first Sunday of Advent is also the beginning of the liturgical year of the Catholic Church. Advent is from the Latin word “adventus” meaning “the coming.” From this name alone, we can already deduce the purposes of this lovely season. It is to prepare us for the coming of Jesus, yet we must not forget that the Church teaches us that there are two comings. The first coming is two thousand years ago in Bethlehem, as a baby at Mary’s hands. The second coming is Jesus’ arrival at the end of time as the glorious king and the judge.

Our Gospel points to this fundamental truth of the second coming. Jesus will surely come, but He does not give us the timetable, and thus, we need to be prepared and be watchful. The illustration Jesus presents is a master who is travelling abroad. In ancient times, travelling is stunning different from our time. Nowadays, with the advances of technologies and modern transport systems, we can determine even the exact location of a particular train and even an airplane. We are used to following a fixed schedule of travel itineraries. However, the ancient people knew nothing about the internet or GPS, and travelling was often hard to endure. People who needed to cross the sea may get stranded because of the unpredictable storms. Some people had to spend weeks in a  town because the winter was unbearably chilling for travellers. Paul, the apostle to the gentiles, knew well how punishing travelling was. Robbers ambushed him, his ship was capsized several times, and he had to spend hours on the sea. The master will come, but nobody knows when, and thus, the servants have to be watchful.

Humanity is living in a time of great sadness and fear. We are still battling the covid-19 that kills thousands, renders countless people jobless, and changes the way we live and interact. Aside from this tiny virus, we are constantly scared by possible global catastrophe caused by nuclear wars, global warming, even zombies and alien attacks. Yet, this season of Advent gives us a reason for hope. Despite everything, Jesus will surely come, and He remains in control.

We learn from the advent wreath. This tradition attached to advent season comes from northern Europe, who knew well how dark and cold winter could be, especially in December. Unlike us, who live in tropical, our brethren living near the arctic zone sometimes experience brutal winter. They are living in freezing temperatures and often without sunlight. These gloomy and dark conditions may affect our mental health. However, our brothers and sisters refused to give up and look for the sign of hope. They discovered the evergreen leaves that decline to wither and found out that small light shines brighter in the dark. This advent wreath points to us Christ, our Hope. Every time we enter the season of Advent, we are assured that there is always hope, even in the face of our world’s brokenness.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: joanna kosinka

Tanda Harapan

Minggu Pertama Adven [B]

29 November 2020

Markus 13: 33-37

Kita memasuki masa Adven. Minggu pertama Adven juga merupakan awal tahun liturgi Gereja Katolik. Adven sendiri berasal dari kata Latin “adventus” yang berarti “kedatangan”. Dari nama ini saja kita sudah bisa menyimpulkan tujuan dari masa liturgi yang satu ini. Masa Adven mempersiapkan kita bagi kedatangan Yesus, namun kita tidak boleh lupa bahwa Gereja mengajarkan kita bahwa ada dua kedatangan Yesus. Kedatangan pertama terjadi dua ribu tahun yang lalu di Bethlehem, sebagai bayi kecil di tangan Maria. Kedatangan kedua adalah kedatangan Yesus di akhir zaman sebagai raja dan hakim yang mulia.

Injil kita menunjukkan kebenaran mendasar tentang kedatangan yang kedua kali ini. Yesus pasti akan datang, tetapi Dia tidak memberi kita waktunya, dan karena itu, kita perlu bersiap-siap selalu. Ilustrasi yang diberikan Yesus adalah seorang tuan rumah yang bepergian ke luar negeri. Di jaman dahulu, perjalanan jauh sanggatlah berbeda dengan zaman kita. Saat ini, dengan kemajuan teknologi dan sistem transportasi modern, kita dapat menentukan bahkan dengan tepat lokasi sebuah bus, kereta dan bahkan pesawat terbang. Jadwal keberangkatan dan kedatangan sudah tetap, dan kita tinggal mengikutinya saja. Namun, orang-orang kuno tidak memiliki internet atau GPS, dan perjalanan panjang sering kali sulit dilakukan. Orang yang perlu menyeberang laut mungkin harus tinggal di kota Pelabuhan karena badai yang tidak terduga. Sementara sebagian orang harus menghabiskan waktu berminggu-minggu di tempat tertentu karena musim dingin datang dan jalan dipenuhi salju. Rasul Paulus tahu betul betapa sulitnya bepergian pada waktu itu. Dia pernah disergap oleh perampok, kapalnya karam beberapa kali, dan dia pernah juga berjam-jam terombang-ambing di lautan. Yesus mengajarkan bahwa sang tuannya akan datang kembali, tapi tidak ada yang tahu kapan, dan karenanya, para pelayan harus waspada.

Sekarang ini, umat ​​manusia hidup di masa penuh kecemasan dan ketakutan yang luar biasa. Kita masih berjuang melawan Covid-19 yang membunuh ribuan orang, membuat banyak orang kehilangan pekerjaan, dan mengubah cara kita hidup dan berinteraksi. Selain virus covid ini, kita terus-menerus cemas oleh kemungkinan bencana global yang disebabkan oleh perang nuklir, pemanasan global, bahkan serangan zombie dan alien! Namun, masa adven ini memberi kita alasan untuk berharap. Terlepas dari segala hal buruk yang terjadi, Yesus tetap memegang kendali, dan Dia akan datang sebagai Raja yang adil dan penuh kasih.

Mari kita belajar dari pesan yang dibawa oleh lingkaran adven. Ini adalah satu tradisi masa adven yang berasal dari orang-orang Eropa utara kuno yang tahu betul betapa gelap dan dinginnya musim dingin, terutama di bulan Desember. Tidak seperti kita yang tinggal di daerah tropis, saudara-saudara kita yang tinggal di dekat zona artic terkadang mengalami masa dingin yang brutal. Mereka hidup dalam suhu beku, dan sering kali tanpa sinar matahari. Kondisi yang suram dan kelam ini bisa mempengaruhi kesehatan mental kita. Namun, saudara-saudari kita menolak untuk menyerah dan mencari tanda harapan. Mereka menemukan daun cemara yang tidak pernah layu, dan menemukan bahwa cahaya kecil bersinar lebih terang dalam gelap. Karangan bunga adven ini menunjuk pada kita Kristus, Harapan kita. Setiap kali kita memasuki masa Adven, kita diyakinkan bahwa selalu ada harapan bahkan di tengah-tengah hal-hal yang tidak pasti di dunia kita ini.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: waldemar brant

King of Mercy

The Solemnity of Our Lord Jesus Christ, King of the Universe [A]

November 22, 2020

Matthew 25:31-46

To be the subject of a king is a foreign experience for many of us. I was born in Indonesia, and our country is a republic, and we espouse democracy to elect our leader. Some of us are citizens of kingdoms like Great Britain, Belgium, Thailand, and Japan, but the kings or queens here are serving under the constitution. When we speak of absolute monarchs, we are reminded of the powerful ancient kingdoms like Assyrian, Babylonian, and Persian empires. Here, the king’s words are the highest law, and disobedient to the king’s wish is acts of treason. Surprisingly, we still have some existing absolute monarchs in our time, like Brunei, Saudi Arabia, and the Vatican!

Today we are celebrating the solemnity of Jesus Christ, the King of the Universe. Yet, it is a bit difficult to imagine Christ as a king. He never wears a crown except for thorns. He never sat on the throne except for the cross. And, He never possessed an army except for a bunch of coward disciples.  Is Jesus truly a king? The answer is an absolute yes. Jesus, as the king, is one of the dominant topics in the Gospels. Angel Gabriel announces to Mary, “the Lord God will give to him [Jesus] the throne of his ancestor David. He will reign over the house of Jacob forever, and of his kingdom there will be no end. [Luk 1:32-33]” One of the criminals crucified with Jesus cries, “Jesus, remember me when you come into your kingdom. [Luk 23:42]” And throughout His public ministry, Jesus is tirelessly proclaiming and building the kingdom of God.

In today’s Gospel, Jesus reveals that he is not just an ordinary king, not just a king among many kings. He is the king of kings, and only He can bring people to eternal life and everlasting damnation. We are reminded that since Jesus is the king of the universe, we are all His subjects. However, whether we are good subjects or bad ones, we still have to choose. Like with other kingdoms, we still need to at least two basic things: acknowledging Jesus as our king and being His loyal servant.

The good news is that He does not require us, His subjects, to wage war against other countries or pay taxes! He is the king of mercy, and thus, His order is: do the Works of Mercy. In the Catholic tradition, there are seven corporal works of mercy. These are: to feed the hungry, give water to the thirsty, clothe the naked, shelter the homeless, visit the sick, visit the imprisoned, and bury the dead. The seven corporal works of mercy are not complete with the seven spiritual works of mercy. These are: to instruct the ignorant, counsel the doubtful, admonish the sinners, bear patiently those who wrong us, forgive offenses, comfort the afflicted, and pray for the living and the dead.

Doing these are not always easy, but it is necessary because it proves our loyalty to the great king. Negligence to do works of mercy brings a serious consequence: to be expelled from the kingdom. The choice is ours, and the time is now.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: robert nyman