Minggu ke-3 di Masa Biasa [B]
24 Januari 2021
Markus 1: 14-20
Kita mendengarkan kisah panggilan murid-murid pertama: Simon dan Andreas, juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus. Yesus memanggil mereka dan Dia akan menjadikan mereka ‘penjala manusia’. Namun, dari berbagai profesi dan pekerjaan yang tak terhitung jumlahnya, mengapa mereka harus menjadi ‘penjala manusia’? Mengapa tidak jadi tim promosi Yesus? Mengapa bukan tentara Yesus?
Jawabannya tidak jauh dari siapa murid pertama itu. Mereka adalah para nelayan di Galilea. Namun, kali ini, mereka tidak lagi menangkap ikan, tetapi mengumpulkan orang bagi Kristus. Meskipun mereka meninggalkan hampir semuanya dan mengikuti Yesus, pada dasarnya mereka membawa serta kehidupan, karakter, pengalaman, dan keterampilan mereka. Mereka tetap menjadi nelayan, tetapi kali ini Yesus mengubah objek yang mereka tangkap: manusia.
Alasan kedua mengapa mereka disebut ‘penjala manusia’ bahkan lebih bermakna. Hal ini berbicara tentang pemenuhan sebuah nubuat di Perjanjian Lama. Nabi besar Yeremia yang hidup sekitar 500 tahun sebelum Kristus, pernah berkata, “Sebab Aku akan membawa mereka pulang ke tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyang mereka. Sesungguhnya, Aku mau menyuruh banyak penangkap ikan, demikianlah firman TUHAN, yang akan menangkap mereka… [Yer 16: 15-16].” Untuk mengerti maksud nubuat ini, kita perlu melihat konteks historisnya. Setelah pemerintahan raja Salomon, kerajaan Israel terbagi menjadi dua kerajaan yang lebih kecil. Kerajaan utara yang merupakan gabungan 10 suku, dan kerajaan selatan yaitu suku Yehuda dan Benyamin. Pada 721 SM, kerajaan utara dihancurkan oleh kekaisaran Asyur, dan sepuluh suku itu dideportasi ke negeri asing. Kemudian pada tahun 587 SM, kerajaan bagian selatan dihancurkan oleh kerajaan Babel, dan penduduknya dibawa ke tanah Babel. Yeremia bernubuat bahwa Tuhan akan mengembalikan bangsa Israel yang tercerai-berai dengan mengirim ‘penangkap ikan’.
Dengan menyebut murid-murid-Nya yang pertama sebagai ‘penjala manusia’, Yesus sedang memenuhi nubuat Yeremia. Yesus sedang mengumpulkan kembali suku-suku Israel yang hilang di dalam diri-Nya sebagai Israel baru. Inilah mengapa Yesus memanggil dan memilih dua belas rasul. Kedua belas rasul akan menjadi pemimpin dari dua belas suku baru Israel.
Identitas dan misi sebagai ‘penjala manusia’ ini tidak hanya bagi para rasul, namun setiap orang yang telah dibaptis berbagi dalam identitas ini. Kita adalah penjala manusia bagi Kristus. Beberapa dari kita mungkin dipanggil untuk mendapatkan tangkapan yang berlimpah, seperti seorang imam yang membaptis ribuan orang. Beberapa dari kita mungkin dipanggil untuk memiliki hasil yang berkualitas, seperti orang tua yang membesarkan dan mendidik anak-anak mereka sebagai orang Katolik yang dewasa dan bertanggung jawab. Beberapa dari kita berdiri di antara dua jenis tangkapan ini, seperti katekis yang berdedikasi, misionaris awam yang berani, suster yang setia mengurus sekolah atau panti asuhan, atau pemimpin komunitas yang tak kenal lelah.
Pastinya menjadi nelayan bukanlah pekerjaan yang bebas stres. Terkadang, kita menghadapi badai dan bahaya. Terkadang, kita tidak mendapatkan apa-apa setelah usaha terbaik kita. Terkadang, kita berselisih paham dengan sesama pekerja. Namun, Injil mengingatkan kita bahwa kita bukan penjala manusia karena kita layak dan sempurna, tetapi karena Yesus memanggil kita dan menjadikan kita penjala manusia-Nya. Kita mengambil tujuan dan kekuatan kita dari Yesus karena kita berpartisipasi dalam misi Yesus untuk menyatukan seluruh umat manusia di dalam-Nya. Kita bekerja dengan para rasul untuk memenuhi janji Tuhan tentang Israel Baru. Kita adalah penjala manusia.
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
photocredit: fredrik ohlander

Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai ‘Anak Domba Allah.’ Jika kita menghadiri perayaan Ekaristi, kita akan selalu mendengar ungkapan ini. Tepat sebelum komuni, imam akan memegang roti dan anggur yang telah dikonsekrir, dan memperlihatkan kepada kita semua, lalu berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Dia yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya!”
John the Baptist identified Jesus as the ‘Lamb of God.’ If we are attending the celebration of the Eucharist, we cannot miss hearing this phrase. Just before the communion, the priest will hold the consecrated bread and wine, and present them to the faithful, then saying, “Behold the Lamb of God, Behold Him who takes away the sin of the world. Happy are those invited to the supper of the Lamb!”
Baptism of the Lord is one of the defining moments in the life of Jesus. The synoptic gospels [Matthew, Mark, and Luke] writes this event, though with their own perspective and emphasis. We are in the liturgical year B, and thus, we are listening from the Gospel of Mark. Mark’s version is noticeably the shortest, but it does not mean it does not deliver a powerful message. The Baptism of Jesus in the River Jordan is a turning point in Jesus’ life. After this Jesus will be in the desert for 40 days, tempted by the devil, but he will prevail. Then, from this, Jesus will begin His public ministry and unreservedly move toward Jerusalem, to Cross, Death, and Resurrection.
Baptisan Tuhan adalah salah satu momen yang menentukan dalam hidup Yesus. Injil sinoptik [Matius, Markus dan Lukas] menulis peristiwa ini, meskipun dengan perspektif dan penekanan yang berbeda. Karena kita berada di tahun liturgi B, kita mendengarkan dari Injil Markus. Versi Markus memang terlihat paling pendek, tetapi bukan berarti tidak menyampaikan pesan yang mendalam. Pembaptisan Yesus di sungai Yordan adalah titik balik dalam kehidupan Yesus. Setelah ini Yesus akan berada di padang gurun selama 40 hari dan dicobai oleh iblis. Kemudian, dari sini, Yesus akan memulai pelayanan publik-Nya, dan bergerak menuju Yerusalem, menuju Salib, Kematian dan Kebangkitan.
The Christmas season ends with the feast of Epiphany of the Lord or the Feast of the Three Kings. However, if we read the Gospel carefully, we will discover that one who visited Jesus is magi, and the word “king” is not used to describe them. The Gospel of Matthew also reveals neither their number nor names. St. Matthew only speaks of three gifts offered: gold, frankincense and myrrh.
Masa Natal diakhiri dengan hari raya Penampakan Tuhan Yesus atau juga dikenal sebagai Pesta Tiga Raja. Namun, jika kita membaca Injil dengan cermat, kita akan menemukan bahwa orang yang mengunjungi Yesus adalah orang majus, dan kata ‘raja’ tidak digunakan untuk mendeskripsikan mereka. Injil Matius juga tidak menyebutkan berapa atau nama mereka. St. Matius hanya berbicara tentang tiga hadiah yang dipersembahkan: emas, kemenyan dan mur.
We are celebrating the feast of the Holy Family, and indeed, we are celebrating not only the family of Jesus, Mary, and Joseph but every human family. Through this liturgical celebration, the Church is inviting us to recognize the importance and the value of our family. Not only acclaiming the fundamental worth of family, but we are also invited to embrace and celebrate family lives.
Kita merayakan pesta Keluarga Kudus, namun kita tidak hanya merayakan keluarga Yesus, Maria dan Yusuf, tetapi setiap keluarga di dunia. Melalui perayaan liturgi hari ini, Gereja mengundang kita untuk menyadari pentingnya dan berharganya keluarga kita. Tidak hanya menghargai nilai dasar keluarga, kita diundang untuk merangkul dan merayakan kehidupan keluarga.
Christmas is one of the most beautiful and joyous times of the year. Christmas is the time to gather with the families and friends and to have an exchange of gifts. Christmas is the time to put up Christmas trees, place Nativity scenes, and play Christmas songs. Surely, Christmas is the time when families once again go to the church together.