Minggu Keempat Prapaskah [11 Maret 2018] Yohanes 3: 14-21
“sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan (Yoh 3:14)”

Sudah dari bab 3 Injil Yohanes, Yesus menyadari bahwa Ia akan menderita dan wafat di kayu salib. Penyaliban adalah hukuman terburuk pada zaman dahulu. Hukuman ini diperuntukkan bagi para pemberontak dan kriminal yang paling jahat. Bagi orang Yahudi, kematian di atas pohon dianggap terkutuk oleh Allah (Ul 21: 22-23). Dengan mati di kayu salib, Yesus dilihat oleh orang-orang sezaman-Nya sebagai penjahat, aib besar terhadap keluarga dan bangsa, dan telah dikutuk oleh Allah.
Namun, Yesus melihat kematian-Nya di kayu salib, bukan dalam perspektif negatif ini, melainkan Ia menyamai diri-Nya seperti ular tembaga yang diangkat Musa di padang gurun. Dalam kitab Bilangan (21: 4-9), orang Israel mengeluh kepada Tuhan dan Musa di padang gurun. Mereka tidak suka Manna meski telah diberikan Tuhan secara cuma-cuma dan penuh Mujizat. Tuhan pun mengirim ular-ular tedung untuk menghukum orang Israel. Ketika orang Israel bertobat, Musa mengangkat ular tembaga di atas tiang, sehingga orang-orang yang melihatnya, akan disembuhkan dari gigitan ular dan hidup. Kita melihat bahwa ular yang menjadi alat penghukuman dan kematian ternyata menjadi alat penyembuhan dan kehidupan. Seperti ular, salib pada awalnya merupakan alat penyiksaan dan kematian, tetapi Tuhan mengubahnya menjadi sarana pengampunan dan penyelamatan. Oleh karena itu, seperti orang Israel yang melihat ular tembaga, mereka yang melihat Yesus yang tersalib dan percaya kepada Dia akan memiliki hidup yang kekal.
Iman kepada Yesus tersalib sangat penting dalam kehidupan setiap orang Kristiani. Namun, kita, umat Katolik, tampaknya menghidupi iman ini dan ayat-ayat Injil dengan penuh semangat. Kita tidak hanya memiliki iman kepada Yesus yang tersalib; Kita benar-benar memandang Dia di kayu salib. Di setiap gereja, kita melihat salib baik di dalam maupun di luar gedung. Di sekolah-sekolah Katolik, rumah sakit, dan rumah, salib tergantung di hampir setiap dinding. Salib juga tidak dapat dipisahkan dari kegiatan keagamaan dan liturgis kita. Pedoman Umum Misale Romawi no. 117 bahkan menyatakan, “Hendaknya ada sebuah salib dengan sosok Kristus tersalib yang dipajang pada altar atau di dekatnya.” Rosario kita selalu dimulai dengan salib dan diakhiri dengan menciumnya. Selama Jalan Salib, kita berlutut di depan salib, dan menyatakan, “Kita memuji Engkau, ya Kristus. Karena, oleh salib-Mu kudus, Engkau telah menebus dunia.” Bahkan, selama ritual exorsisme, seorang imam menggunakan salib, khususnya salib St. Benediktus, sebagai sarana yang sangat kuat melawan roh-roh jahat. Akhirnya, kita membuat tanda salib setiap kali kita berdoa karena kita mengetahui bahwa keselamatan kita berasal dari Yesus yang disalibkan.
Seperti orang Israel di padang gurun melihat ular tembaga, kita juga melihat Yesus di kayu salib. Saat orang Israel disembuhkan dan hidup, kita juga diselamatkan dan memiliki hidup yang kekal karena kita beriman kepada Anak Manusia yang diangkat ke atas kayu salib. Masa Prapaskah ini, kita diajak sekali lagi untuk merefleksikan makna salib dalam kehidupan kita. Apakah salib hanyalah sekedar aksesori atau ornamen cantik untuk rumah kita? Apakah membuat tanda salib merupakan sebuah rutinitas yang tidak berarti? Apakah kita malu dengan salib Kristus? Apakah artinya bagi kita hidup sebagai orang yang menatap salib Yesus?
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP





The practice of fasting is as old as humanity itself. People from different cultures and religions have included fasting in their customs and traditions. The Brahmin and gurus of Hindu tradition fast and mortify their bodies. The Buddhist monks are known to abstain from eating any meat and fast regularly. Our Muslim brothers and sisters fast even from drinking water from before the dawn to sunset during the month of Ramadan. Scientists have proven that fasting has a lot of health benefits.
Berpuasa merupakan praktek yang sangat tua dalam sejarah umat kehidupan. Orang-orang dari berbagai budaya dan agama memiliki kegiatan puasa dalam tradisi mereka. Kaum Brahmana dan para pertapa di India tekun berpuasa dan bermati raga. Para biksu Buddha tidak makan daging dan berpuasa secara teratur. Saudara-saudari kita Muslim berpuasa dari sebelum fajar menyingsing sampai matahari terbenam selama bulan Ramadhan. Ilmuwan juga telah membuktikan bahwa puasa memiliki banyak manfaat kesehatan.
Ash Wednesday is the beginning of the liturgical session of Lent in the Catholic Church. Its name derives from an ancient tradition of the imposition of the ashes. Every Catholic who attends the mass on this day will receive a sign of the cross made of ashes on his or her forehead. The ashes are ordinarily coming from the burned palm leaves blessed at the Palm Sunday of the previous year.
Rabu Abu adalah awal dari Masa liturgi Pra-paskah di Gereja Katolik. Nama ini berasal dari tradisi kuno di mana setiap orang Katolik yang menghadiri misa pada hari ini akan menerima tanda salib abu di dahinya. Abu ini biasanya berasal dari daun palma yang telah diberkati pada Minggu Palma tahun sebelumnya, dan kemudian dibakar.