Dua Cara Mewartakan Injil

Minggu ke-5 Paskah [C]

18 Mei 2025

Kisah Para Rasul 14:21-27

Dalam bacaan pertama, kita telah mendengar tentang perjalanan misi Santo Paulus dan rekannya Santo Barnabas. Misi mereka menunjukkan kepada kita bagaimana Gereja perdana memenuhi perintah Yesus, “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku (Mat 28:19).” Jadi, apa yang dapat kita temukan dari teladan mereka?

Pertama, mari kita simak kisah Santo Paulus secara keseluruhan. Setelah pertobatannya, Paulus tinggal di Antiokhia (sekarang di Turki bagian tenggara), di mana ia menjadi seorang guru dan nabi yang dihormati. Kemudian Roh Kudus memanggil Paulus dan Barnabas untuk dikhususkan bagi pekerjaan Tuhan. Komunitas Kristiani menugaskan mereka untuk mewartakan di tempat-tempat di mana Injil belum pernah didengar. Mereka melakukan perjalanan ke berbagai tempat termasuk pulau Siprus dan kota-kota di Turki selatan – Antiokhia Pisidia, Ikonium, Derbe, dan Listra.

Mereka memberitakan Kabar Baik kepada orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi di tempat-tempat tersebut, membawa banyak jiwa percaya kepada Yesus Kristus. Namun, Paulus dan Barnabas tahu bahwa mereka tidak akan tinggal di sana secara permanen, tetapi mereka harus melanjutkan perjalanan mereka untuk memberitakan Injil di lebih banyak tempat lagi. Untuk menjaga komunitas Kristiani yang baru didirikan ini, mereka mengangkat “penatua” (Yunani: presbuteroi). Para penatua ini menjadi pemimpin yang stabil dalam komunitas, yang bertanggung jawab untuk memimpin ibadah, memberitakan Injil, dan memelihara disiplin rohani.

Lalu, apa yang dapat kita pelajari dari perjalanan misi Paulus? Kita melihat setidaknya ada dua cara yang sangat penting dalam memberitakan Injil. Cara pertama adalah pergi memberitakan Injil ke tempat yang belum pernah mendengar Injil dan di mana iman belum berakar. Mereka yang mengikuti jalan ini biasanya disebut misionaris. Para misionaris cenderung berpindah dari satu tempat ke tempat lain ketika kebutuhan akan Injil muncul. Cara kedua berfokus pada pendalaman pemahaman Injil dan kedewasaan iman bagi mereka yang sudah percaya, memelihara dan melindungi iman mereka. Dalam tradisi Katolik, cara kedua ini dilakukan oleh para “penatua” – para uskup yang dibantu oleh para imam dan diakon, yang tinggal lebih stabil dalam komunitas yang mereka layani.

Di sisi lain, perbedaan antara misionaris dan penatua tidaklah kaku. Orang yang sama bisa berperan baik sebagai misionaris dan penatua. Contoh sederhana adalah Paus Leo XIV. Sebelum menjadi Paus, beliau adalah seorang imam Ordo St. Agustinus dari Amerika Serikat yang menjadi misionaris di Peru. Kemudian dia menjadi uskup Chiclayo, Peru. Identitas misionaris dan penatua menyatu di dalam dirinya.

Namun, kita harus ingat bahwa tugas pewartaan Injil tidak hanya diberikan kepada para misionaris atau penatua, tetapi juga kepada kita semua. Kita pun dapat dan harus mempraktikkan kedua cara kuno untuk memberitakan Injil. Di dunia modern ini, kesempatan untuk membagikan Injil sangatlah berlimpah. Kita dapat mengkomunikasikan berbagai aspek dari iman kita, mulai dari kebenaran hingga keindahannya, melalui berbagai platform media sosial. Interaksi pribadi dengan teman dan saudara juga memberikan kesempatan untuk memperkenalkan iman kita. Bahkan jika kita merasa sulit untuk menjelaskan iman kita dengan kata-kata, kita selalu dapat mengundang kerabat dan teman-teman kita untuk bergabung dengan kita di Misa.

Para orang tua secara khusus mewujudkan kedua pendekatan ini secara bersamaan. Para orang tua dipanggil untuk memperkenalkan iman kepada anak-anak mereka melalui baptisan dan katekese dasar, mengajar mereka cara berdoa dan membagikan kebenaran-kebenaran mendasar dari iman. Seperti para penatua Gereja, para orang tua kemudian harus terus memelihara iman anak-anak mereka melalui gaya hidup yang sesuai ajaran Injil, doa, dan bimbingan. Kita juga harus mendukung para katekis kita yang bekerja tanpa lelah untuk memperkenalkan dan memperdalam iman, terlepas dari banyaknya tantangan yang mereka hadapi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Bagaimana kita mewartakan Injil dalam situasi-situasi khusus kita? Siapa yang secara khusus membutuhkan kita untuk memperkenalkan mereka kepada Yesus? Sudahkah kita menolong orang-orang yang dekat dengan kita untuk bertumbuh lebih dekat dengan Tuhan? Apakah orang lain mengenali kita sebagai orang yang membawa Yesus bersama kita?

Hearing the Voice of the Lord

4th Sunday of Easter [C]

May 11, 2025 

John 10:27-30

Hearing is one of the most fundamental senses that make us human. While it is true that we rely heavily on sight to navigate the world, hearing sets us apart from other animals. How is this possible? 

Certainly, humans do not have the best sense of hearing. Many animals possess far greater hearing abilities. For instance, bats have a sonar-like sense, allowing them to gauge distance through sound. Human ears are far weaker in comparison. Yet, despite our ordinary hearing capacity, we possess something other animals lack: the ability to associate sounds with meaning. In other words, we can create language. More importantly, we can distinguish meaningful words from senseless noise. 

Through hearing, ancient people built their families and communities. They listened to their leaders for guidance on defending themselves against wild animals and surviving harsh environments. By hearing, they learned the wisdom of their elders and the stories passed down through generations. Hearing meaningful words is what truly makes us alive as humans. 

Unfortunately, we now live in a world full of noise—senseless sounds, auditory pollution, and even false words. What we often hear no longer serves our survival or growth but merely what screams the loudest. We no longer listen to reason, the wisdom of the past, or—most importantly—the words of the Lord. If ancient people recognized that hearing their leaders was essential for survival, we too must realize that hearing our Lord, Jesus Christ, is not optional—it is a matter of our soul’s survival. 

So how can we learn to listen attentively to the voice of our true Shepherd? 

First, just as sheep listen to their shepherd’s voice for safety, we must recognize our Shepherd’s voice and follow His instructions—for our eternal salvation depends on it.   Second, to recognize His voice, we must become familiar with it. This comes through continual listening—by regularly reading the Bible, studying His teachings through the Church, and engaging in deep prayer. As we grow accustomed to God’s voice, we also learn to distinguish voices that do not come from Him—those of our own desires, the world, and evil spirits.   Third, listening must lead to action. Hearing without obedience is meaningless—or worse, it means following the enemy’s guidance. 

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions:

Do we know the voice of our Lord? What kind of voices do we listen to? Are we able to distinguish the different voices in our lives? Do you believe you are following the words of the Lord? 

Mendengarkan Suara Tuhan

Minggu ke-4 Paskah [C]

11 Mei 2025

Yohanes 10:27-30

Pendengaran adalah salah satu indra yang paling mendasar yang membuat kita menjadi manusia. Memang benar bahwa kita sangat bergantung pada penglihatan untuk menavigasi dunia, tetapi pendengaran membedakan kita dengan makhluk lain. Bagaimana penjelasannya?

Tentu saja, manusia tidak memiliki indra pendengaran yang terbaik. Banyak hewan yang memiliki kemampuan pendengaran yang jauh lebih baik. Sebagai contoh, kelelawar memiliki indra pendengaran seperti sonar, yang memungkinkan mereka untuk mengukur jarak melalui suara. Telinga manusia jauh lebih lemah jika dibandingkan dengan hewan-hewan ini. Namun, terlepas dari kapasitas pendengaran kita yang sepertinya biasa saja, kita memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh hewan lain: kemampuan untuk mengasosiasikan suara dengan makna. Dengan kata lain, kita dapat menciptakan bahasa. Kemampuan berbahasa ini berarti kita dapat membedakan kata-kata yang bermakna dari suara yang tidak berarti.

Melalui mendengarkan, manusia purba membangun keluarga dan komunitas. Mereka mendengarkan para pemimpin mereka untuk mendapatkan panduan dalam mempertahankan diri dari binatang buas dan bertahan hidup di lingkungan yang keras. Dengan mendengarkan, mereka menerima kebijaksanaan para tetua mereka dan kisah-kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mendengar kata-kata yang bermakna adalah hal yang membuat kita hidup dan tumbuh sebagai manusia.

Sayangnya, kita sekarang hidup di dunia yang penuh dengan suara kebisingan yang tidak ada artinya sama sekali, dari sekedar polusi pendengaran, musik-musik yang tidak jelas, dan bahkan kata-kata kasar, penuh kebohongan dan bahkan kutukan. Apa yang sering kita dengar tidak lagi berguna bagi kelangsungan hidup atau pertumbuhan kita, melainkan hanya apa yang berteriak paling keras. Kita tidak lagi mendengarkan akal sehat, kebijaksanaan dari masa lalu, dan yang paling penting, firman Tuhan. Jika orang-orang zaman dahulu menyadari bahwa mendengarkan para pemimpin mereka sangat penting untuk kelangsungan hidup mereka, kita pun harus menyadari bahwa mendengarkan Tuhan kita, Yesus Kristus, bukanlah suatu opsi, tetapi ini adalah masalah keselamatan jiwa kita.

Jadi, bagaimana kita dapat belajar untuk mendengarkan dengan penuh perhatian suara Gembala kita yang sejati?

Pertama, sama seperti domba yang mendengarkan suara gembalanya demi keselamatannya, kita harus mengenali suara Gembala kita dan mengikuti petunjuk-Nya – karena keselamatan kekal kita bergantung padanya. Kedua, untuk mengenali suara-Nya, kita harus menjadi terbiasa dengannya. Hal ini dapat dicapai dengan terus mendengarkannya, dengan membaca Kitab Suci secara teratur, mempelajari ajaran-ajaran-Nya secara khusus yang telah diajarkan Gereja, dan terlibat dalam doa yang mendalam. Ketika kita menjadi terbiasa dengan suara Tuhan, kita juga bisa belajar untuk membedakan suara-suara yang tidak berasal dari-Nya, suara-suara dari keinginan kita sendiri, dunia, dan roh-roh jahat. Ketiga, mendengar harus membawa kepada tindakan. Mendengar tanpa ketaatan tidak ada artinya, atau bahkan lebih buruk lagi, itu berarti mengikuti tuntunan musuh.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apakah kita mengenal suara Tuhan kita? Suara-suara seperti apa yang kita dengarkan? Apakah kita dapat membedakan suara-suara yang berbeda dalam hidup kita? Firman Tuhan apa yang paling berkesan dan menjadi panduan hidup kita selama ini?

Our Weak Love and God Strong Love

Third Sunday of Easter [C]

May 4, 2025

John 21:1-19

In today’s Gospel, Jesus asks Peter three times, “Do you love me?” Some Church Fathers interpret this repetition as Jesus undoing Peter’s threefold denial. However, a closer look at the Greek text reveals that Jesus uses different words for “love” in each instance. These subtle distinctions deepen our understanding of the passage.

First, Jesus does not simply ask a question, but He makes a demand. In His first request, Jesus calls for a specific kind of love. John the Evangelist uses the Greek word “agape”, which signifies a wilful, sacrificial love, that seeks the genuine good of others. This love is not based on emotions but rather on freedom and commitment. True agape requires giving oneself completely, even to the point of sacrificing one’s life. Here, Jesus demands the highest form of agape from Peter, a love that surpasses all other things.

In His second request, Jesus once again uses “agape”, but this time without the phrase “more than these.” He still calls for sacrificial love, but not to the highest degree. In His third request, Jesus shifts from agape to “philia”, the Greek word for friendship-based love. Unlike agape, which is rooted in free will and dedication, philia depends more on emotions, mutual feelings, and shared interests. While true friendship may require acts of agape, its foundation remains philia. Once common interests fade, friendships often weaken.

But why does Jesus seem to lower His expectations—from total agape to simple agape, and finally to friendship? The answer lies in Peter’s responses. Each time Jesus questions him, Peter replies with “philia”. He cannot bring himself to profess agape, especially not in its highest form. His previous denial has left him broken, ashamed, and hesitant to love Jesus again. Fear holds him back.

Yet, despite Peter’s incomplete answers, Jesus does not rebuke him or seek a more faithful disciple. Instead, Jesus meets Peter where he is. He accepts Peter’s flawed, hesitant love and still entrusts him with the mission of shepherding His flock. Jesus does not require perfection, but He desires humility and sincerity. He sees Peter’s efforts and knows that, in time, Peter will give his life for Him.

God asks each of us for the highest form of love, yet we often fall short. Like Peter, we are wounded, weak, and full of failures. But the Good News is that God accepts our imperfect love and gently leads us toward perfection.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Reflection Questions:

Do we love God?  Do we love Him with agape or philia?  In what ways do we fail to love God? What keeps us from loving God? How does He continue to love us despite our shortcomings? Can we recall a moment in our life when God’s unwavering love was evident despite our failures? 

Kasih Kita yang Lemah

Minggu Ketiga Paskah [C]

4 Mei 2025

Yohanes 21:1-19

Dalam Injil hari ini, Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Beberapa Bapa Gereja menafsirkan pengulangan ini sebagai Yesus membatalkan penyangkalan Petrus sebanyak tiga kali. Namun, jika dilihat lebih dekat pada teks bahasa Yunani, Yesus menggunakan kata yang berbeda untuk “kasih” dalam setiap contoh. Perbedaan-perbedaan ini memperdalam pemahaman kita akan perikop ini.

Pertama, Yesus tidak hanya mengajukan pertanyaan, tetapi Ia mengajukan permintaan. Dalam permintaan-Nya yang pertama, Yesus meminta jenis kasih yang spesifik. Yohanes Penginjil menggunakan kata Yunani “agape”, yang menandakan kasih yang rela berkorban, yang mencari kebaikan yang tulus dari orang lain. Kasih ini tidak didasarkan pada emosi, melainkan pada kebebasan dan komitmen. Agape yang sejati menuntut pemberian diri sepenuhnya, bahkan sampai mengorbankan nyawa. Di sini, Yesus menuntut bentuk agape tertinggi dari Petrus, sebuah kasih yang melampaui segala sesuatu yang lain.

Dalam permintaan-Nya yang kedua, Yesus sekali lagi menggunakan kata “agape”, tetapi kali ini tanpa frasa “lebih dari itu.” Dia masih menyerukan kasih yang berkorban, tetapi tidak sampai pada tingkat yang tertinggi. Dalam permintaan-Nya yang ketiga, Yesus beralih dari agape ke “philia”, kata dalam bahasa Yunani yang berarti kasih yang didasarkan pada persahabatan. Tidak seperti agape yang berakar pada kehendak bebas dan dedikasi, philia lebih bergantung pada emosi, perasaan yang sama, dan minat yang sama. Meskipun persahabatan sejati mungkin membutuhkan tindakan agape, fondasinya tetaplah philia. Ketika kepentingan bersama memudar, persahabatan sering kali melemah.

Tetapi mengapa Yesus tampaknya menurunkan ekspektasi-Nya, dari agape yang total menjadi agape yang sederhana, dan akhirnya menjadi persahabatan? Jawabannya terletak pada jawaban Petrus. Setiap kali Yesus menanyainya, Petrus menjawab dengan kata “philia”. Ia tidak dapat membawa dirinya untuk mengakui agape, terutama dalam bentuk yang paling tinggi. Penyangkalannya yang terdahulu telah membuatnya patah hati, malu, dan ragu untuk mengasihi Yesus lagi. Ketakutan menahannya.

Namun, terlepas dari jawaban Petrus yang tidak lengkap, Yesus tidak menegurnya atau mencari murid yang lebih setia. Sebaliknya, Yesus menemui Petrus di mana ia berada. Dia menerima kasih Petrus yang penuh kekurangan dan keraguan dan tetap mempercayakannya untuk menggembalakan kawanan domba-Nya. Yesus tidak menuntut kesempurnaan, tetapi Dia menginginkan kerendahan hati dan ketulusan. Dia melihat upaya Petrus dan tahu bahwa, pada saatnya nanti, Petrus akan memberikan nyawanya bagi-Nya.

Tuhan meminta kita masing-masing untuk memberikan kasih yang tertinggi, namun kita sering kali gagal. Seperti Petrus, kita terluka, lemah, dan penuh dengan kegagalan. Tetapi Kabar Baiknya adalah Tuhan menerima kasih kita yang tidak sempurna dan dengan lembut menuntun kita menuju kesempurnaan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan Refleksi:

Apakah kita mengasihi Allah?  Apakah kita mengasihi Dia dengan agape atau philia?  Dalam hal apa saja kita gagal mengasihi Allah? Apa yang menghalangi kita untuk mengasihi Allah? Bagaimana Dia terus mengasihi kita terlepas dari kekurangan kita? Dapatkah kita mengingat kembali saat-saat dalam hidup kita ketika kasih Allah yang tak tergoyahkan terbukti meskipun kita gagal? 

Peace of Easter

Second Sunday of Easter [C]

April 27, 2025

John 20:19-31

The risen Christ’s first words to His disciples were, “Peace to you!” In Hebrew, this is literally “Shalom lakem” (שָׁלוֹם לָכֶם), a greeting frequently found in the Old Testament (Judges 6:23; 1 Samuel 1:17; 20:42; 25:6; etc.). Another Jewish variation, though not biblical, is “Shalom aleichem” (שָׁלוֹם עֲלֵיכֶם), meaning “Peace be upon you!” But was Jesus’ greeting merely cultural, or did it carry deeper significance?

To understand this, we must first explore the biblical meaning of “shalom.” One of the most common words in Scripture, appearing 237 times in the Old Testament, “shalom” is often translated as “peace.” Yet it signifies far more: the total well-being of a person, rooted in right relationships—with oneself, others, and God.

When the risen Christ appeared to the disciples, they were gripped by fear of the “Jews”. Interestingly these “Jews” may refer to three things: the Jewish authorities, Jesus Himself, a Jewish man, and even they themselves because they are Jews. They feared the authorities who had killed Jesus, knowing they could be next. They feared Jesus, remembering their failures: Judas’ betrayal, Peter’s denial, and their own abandonment. Would He now punish them? And they feared themselves: they feel unworthy and incapable disciples; they are underserved of Jesus’ mercy and forgiveness; they are broken and sinful. They fear of their own lives and future.

Yet Jesus’ words cut through their terror: “Peace to you.” This was no ordinary greeting. It was a divine assurance. They need not fear the authorities, for if they could not stop Jesus, they could not stop His followers. They need not fear Jesus, for He came not to condemn but rather to have mercy and forgive their weaknesses. When He repeated, “Peace to you,” and added, “As the Father has sent me, so I send you,” He affirmed their calling despite their flaws. Jesus assures them once again that despite their unworthiness, they remained chosen, and despite their weakness and failures, God’s grace is sufficient to perfect what is lacking in them.  

True shalom flows only from the risen Christ—a peace that reconciles us to God, heals our relationships, and silences our inner shame.  We know that we are sinners, yet we are redeemed so that we are in peace with God. We know that we often have difficult relationship with our neighbors, but we are invited to ask mercy and be merciful to other. We are aware that we are weak and incapable in loving God and others, but God’s grace is sufficient to complete what is lacking in us.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide question:

Do you have peace in our lives? What are we afraid of? Do we have peace with God? Do we have peace with our neighbors? Do we have peace with ourselves? What are things that make us fail to achieve shalom?

Damai Paskah

Minggu Kedua Paskah [C]

27 April 2025

Yohanes 20:19-31

Kata-kata pertama Kristus setelah bangkit kepada para murid-Nya adalah, “Damai bagi kamu!” Dalam bahasa Ibrani, “Shalom lakem” (שָׁלוֹם לָכֶם), sebuah ucapan yang sering ditemukan dalam Perjanjian Lama (Hakim 6:23; 1 Samuel 1:17; 20:42; 25:6; dll.). Variasi Yahudi lainnya, meskipun tidak ada dalam Alkitab, adalah “Shalom aleichem” (שָׁלוֹם עֲלֵיכֶם), yang artinya kurang lebih sama. Namun, apakah salam Yesus hanya sekadar sapaan budaya, atau apakah salam itu memiliki makna yang lebih dalam?

Untuk memahami hal ini, pertama-tama kita harus menyelidiki makna alkitabiah dari kata “shalom”. Shalom adalah salah satu kata yang paling umum dalam Alkitab, muncul sebanyak 237 kali dalam Perjanjian Lama. “Shalom” sering kali diterjemahkan sebagai “damai”. Namun, kata ini memiliki arti yang lebih luas: kesejahteraan yang total dari seseorang, yang berakar pada hubungan yang benar dengan diri sendiri, sesama, dan Tuhan.

Ketika Kristus yang telah bangkit menampakkan diri kepada para murid, mereka dicengkeram oleh rasa takut akan “orang-orang Yahudi”. Menariknya, “orang Yahudi” ini dapat merujuk pada tiga hal: penguasa bangsa Yahudi, Yesus sendiri, karena dia seorang Yahudi, dan bahkan para murid sendiri karena mereka juga adalah orang Yahudi. Mereka takut kepada para penatua bangsa Yahudi yang telah membunuh Yesus, karena mereka tahu bahwa mereka bisa saja menjadi korban berikutnya. Mereka takut kepada Yesus, mengingat kegagalan mereka sebagai murid: pengkhianatan Yudas, penyangkalan Petrus, dan mereka yang lari dan bersembunyi. Akankah Dia sekarang menghukum mereka? Dan mereka takut akan diri mereka sendiri: mereka merasa tidak layak dan tidak mampu menjadi murid; mereka tidak layak menerima kerahiman dan pengampunan Yesus; mereka hancur karena dosa. Mereka takut akan hidup dan masa depan mereka sendiri.

Namun, kata-kata Yesus menembus rasa takut mereka: “Damai bagi kamu.” Ini bukanlah sapaan biasa. Ini adalah sebuah berkat dan peneguhan ilahi. Mereka tidak perlu takut kepada penguasa, karena jika mereka tidak dapat menghentikan Yesus, mereka tidak dapat menghentikan para pengikut-Nya. Mereka tidak perlu takut kepada Yesus, karena Ia datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk berbelas kasihan dan mengampuni kelemahan mereka. Ketika Ia mengulangi, “Damai sejahtera bagi kamu,” dan menambahkan, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikianlah Aku mengutus kamu,” Ia menegaskan panggilan mereka terlepas dari kekurangan mereka. Yesus meyakinkan mereka sekali lagi bahwa meskipun mereka tidak layak, mereka tetap terpilih, dan meskipun mereka lemah dan gagal, rahmat Allah cukup untuk menyempurnakan apa yang kurang dari mereka. 

Damai yang sejati hanya mengalir dari Kristus yang telah bangkit, sebuah rahmat yang mendamaikan kita dengan Allah, menyembuhkan hubungan kita, dan menghapus rasa takut di dalam diri kita.  Kita tahu bahwa kita adalah orang berdosa, namun kita telah ditebus sehingga kita berada dalam damai dengan Allah. Kita tahu bahwa kita sering kali memiliki hubungan yang sulit dengan sesama, tetapi kita diundang untuk memohon belas kasihan dan berbelas kasihan kepada sesama. Kita sadar bahwa kita lemah dan tidak mampu untuk mengasihi Allah dan sesama, tetapi rahmat Allah cukup untuk melengkapi apa yang kurang dari diri kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah ada damai dalam hidup kita? Apa yang kita takuti? Apakah kita memiliki kedamaian dengan Allah? Apakah kita memiliki kedamaian dengan sesama kita? Apakah kita memiliki damai dengan diri kita sendiri? Hal-hal apa saja yang membuat kita gagal mencapai shalom?

`

Cross and the Tree of Life

Easter Sunday [C]

April 20, 2025

John 20:1-9

Some Church Fathers, like St. Ephrem the Syrian, St. Ambrose, and St. John Chrysostom, saw Jesus’ Cross as the new Tree of Life. The Tree of Life first appears in Genesis 2:9, where God planted it in the center of Eden alongside the Tree of the Knowledge of Good and Evil. Though Scripture doesn’t elaborate, the Tree of Life’s central placement hints at its profound significance. Just as eating from the forbidden tree brought death, partaking of the Tree of Life would have granted eternal communion with God.

Adam, Eve, and their descendants could have lived forever with God—if only they had chosen the Tree of Life over the Tree of Knowledge. Tragically, they chose disobedience, bringing death upon themselves and all humanity. Banished from Eden, they were cut off from the Tree of Life, guarded by cherubim (Genesis 3:24). Without it, humanity was doomed to perish.

Yet we are not without hope. God so loved the world that He gave His only Son (John 3:16), and Jesus, in turn, loved us “to the end” (John 13:1), laying down His life so we may “have life abundantly” (John 10:10). For Jesus, the Cross was not an inescapable fate but a free choice of love. Though crucifixion was a brutal, shameful death, Christ transformed the Cursed Tree into the Blessed Tree of Life. He teaches us that by embracing our own crosses—and uniting them to His—we find true life and resurrection.

The cross is a reality in our lives that brings us sufferings. The cross manifests in two ways. Type-One Crosses is unavoidable suffering.  These are trials we don’t choose: betrayal, illness, financial struggles, or injustice. In these moments, we ask God for grace to endure, offering our pain in union with Christ’s Cross so it may bear spiritual fruit.

Type-Two Crosses is suffering born of love. These arise from commitment and sacrifice. Good example will a dedicated mother who commits to love her young baby. In the process, she is going to lose her time, energy, and other resources. Raising and protecting little child is both physically and mentally exhausted. She also forfeits her opportunity to live more freely, to earn more money or to enjoy life more. Outwardly, she is carrying her cross, but deep inside, she is fully alive and discovering a deeper meaning in her life, then just the world can offer. Her cross becomes the tree of life for her child. That’s the true resurrection.

Happy Easter!

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

What are our Type-One crosses? How do we face them? What are our Type-Two crosses? How do they bring life to others? Do our crosses—borne with love—become a Tree of Life for those around us?

Salib dan Pohon Kehidupan

Minggu Paskah [C]

20 April 2025

Yohanes 20:1-9

Beberapa Bapa Gereja, seperti Santo Efremus dari Siria, Santo Ambrosius, dan Santo Yohanes Krisostomus, melihat Salib Yesus sebagai Pohon Kehidupan yang baru. Pohon Kehidupan pertama kali muncul dalam Kejadian 2:9, di mana Allah menanamnya di tengah-tengah Taman Eden di samping Pohon Pengetahuan tentang yang Baik dan yang Jahat. Meskipun Alkitab tidak menjelaskan lebih lanjut, penempatan Pohon Kehidupan di tengah-tengah mengisyaratkan maknanya yang mendalam. Sama seperti memakan buah dari pohon terlarang akan membawa kematian, menyantap buah dari Pohon Kehidupan akan memberikan hidup kekal dan persekutuan dengan Tuhan.

Adam, Hawa, dan keturunan mereka dapat hidup selamanya bersama Allah, jika saja mereka memilih Pohon Kehidupan daripada Pohon Pengetahuan. Tragisnya, mereka memilih ketidaktaatan, sehingga membawa kematian atas diri mereka sendiri dan seluruh umat manusia. Diusir dari Eden, mereka terpisah dari Pohon Kehidupan yang dijaga oleh malaikat kerubim (Kej 3:24). Tanpa pohon itu, umat manusia berjalan menuju binasa.

Namun, kita bukannya tanpa pengharapan. Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Dia memberikan Putra-Nya yang tunggal (Yoh 3:16), dan Yesus, pada gilirannya, mengasihi kita “sampai pada kesudahannya” (Yoh 13:1), menyerahkan hidup-Nya agar kita “mempunyai hidup dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10). Bagi Yesus, Salib bukanlah sebuah takdir yang tak terhindarkan, melainkan sebuah pilihan bebas untuk mengasihi. Meskipun penyaliban adalah kematian yang brutal dan memalukan, Kristus mengubah Pohon Terkutuk ini menjadi Pohon Kehidupan yang kudus. Dia mengajarkan kepada kita bahwa dengan memeluk salib kita sendiri, dan juga menyatukannya dengan salib-Nya, kita akan menemukan kehidupan yang penuh dan kebangkitan yang sejati.

Salib sejatinya adalah sebuah kenyataan dalam hidup kita yang membawa penderitaan. Salib terwujud dalam dua bentuk. Salib jenis pertama adalah penderitaan yang tidak dapat dihindari. Ini adalah cobaan yang tidak kita pilih: pengkhianatan, penyakit, pergumulan keuangan, atau ketidakadilan. Pada saat-saat seperti ini, kita memohon rahmat kepada Tuhan untuk bertahan, mempersembahkan penderitaan kita dalam persatuan dengan Salib Kristus sehingga dapat menghasilkan buah-buah rohani.

Jenis Salib yang kedua adalah penderitaan yang lahir dari kasih. Ini muncul dari komitmen dan pengorbanan kita. Contoh yang baik adalah seorang ibu yang berkomitmen untuk mengasihi bayinya yang masih kecil. Dalam prosesnya, ia akan kehilangan waktu, tenaga, dan sumber daya lainnya. Membesarkan dan melindungi anak kecilnya secara fisik dan mental sangat melelahkan. Ia juga kehilangan kesempatan untuk hidup lebih bebas, mendapatkan lebih banyak uang, atau lebih menikmati hidup. Secara lahiriah, ia memikul salibnya, tetapi jauh di dalam dirinya, ia tahu bahwa ia hidup berkelimpahan dan menemukan makna yang lebih dalam di hidupnya, lebih dari yang dapat ditawarkan oleh dunia. Salibnya menjadi pohon kehidupan bagi anaknya. Itulah kebangkitan yang sejati.

Selamat Paskah!

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apa saja salib-salib jenis pertama kita? Bagaimana kita menghadapinya? Apa saja salib jenis kedua kita? Bagaimanakah salib-salib itu membawa kehidupan bagi orang lain? Apakah salib kita, yang dipikul dengan kasih, menjadi Pohon Kehidupan bagi orang-orang di sekitar kita?

When is the Birthday of the Church?

Pentecost [B]

May 19, 2024

John 20:19-23

The solemnity of the Pentecost is usually called the birthday of the Church. But is this really true, or is it just a popular myth?

If we try to go into the official teaching of the Church, we will discover a passage from the Catechism of the Catholic Church, especially paragraph 766. Here, I quote, “The Church is born primarily of Christ’s total self-giving for our salvation, anticipated in the institution of the Eucharist and fulfilled on the cross. “The origin and growth of the Church are symbolized by the blood and water which flowed from the open side of the crucified Jesus.” “For it was from the side of Christ as he slept the sleep of death upon the cross that there came forth the ‘wondrous sacrament of the whole Church.’ ” As Eve was formed from the sleeping Adam’s side, so the Church was born from the pierced heart of Christ hanging dead on the cross.”

In short, the Church’s birthday is on Good Friday. The Church recognizes herself as the new Eve, born from the heart of Christ to be His bride. Consequently, calling the feast of Pentecost the birthday of the Church seems to be false. Yet, the truth is more profound than it seems.

Suppose we carefully observe the liturgy of the Pentecost, especially in the preface of Pentecost (a prayer said by the priest just before the Eucharist prayer). We will discover an interesting piece of information. I quote, “[We] give you thanks, Lord, holy Father… you bestowed the Holy Spirit today on those you made your adopted children uniting them to Your Only Begotten Son. This same Spirit, as the Church came to birth, opened to all people the knowledge of God…” In short, the liturgy of Pentecost is also celebrating the Church’s birthday.

So, how do we make sense of these seemingly conflicting pieces of information? Why does the official teaching of the Church seem to contradict the liturgy? To understand this, we need to see the birth of the Church not as one single instantaneous happening but rather as a process of giving birth. As the baby’s head is the first to come out, and then the rest of the body, we can see the ‘head of the Church’ came to being first under the cross of Christ and then the rest of ‘the body’ in the Pentecost. John, the beloved apostle, and Mary, the mother of Jesus, represented the head. While in the Pentecost, under the influence of the Holy Spirit, Peter, and other disciples began to proclaim God’s great things to all nations.

Another way to see this truth is that the Church was indeed born twice, first from Christ and second from the Holy Spirit. Following St. Paul, the Church is the body of the Church (Eph 1:22; CCC 792), and the Church also is the temple of the Holy Spirit (1 Cor 6:16, CCC 797). As the body of Christ, we are an organic unity between us and Christ, the source of our salvation. As the temple of the Holy Spirit, we are united to the Holy Spirit, the source of our holiness and our reason to sanctify others.

Happy birthday to the Catholic Church!

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP