Tubuh Mulia

Minggu Ketiga Paskah [B]

18 April 2021

Lukas 24: 35-48

Mukjizat adalah kejadian langka, tetapi ada jenis-jenis mukjizat yang bahkan lebih langka dan lebih berharga daripada yang lain. Penyembuhan memang mukjizat dashyat tetapi hidup kembali setelah kematian lebih luar biasa. Namun, ada satu mukjizat yang sepenuhnya unik dan tak tertandingi: kebangkitan. Namun, apa yang membuat kebangkitan berbeda dari mukjizat-mukjizat lainnya?

Kebangkitan mengandaikan kematian, dan definisi kematian adalah keterpisahan permanen antara tubuh dan jiwa. Jadi, kebangkitan adalah penyatuan kembali tubuh dan jiwa yang telah terpisah oleh kematian. Injil hari ini menceritakan bahwa Yesus menunjukkan kepada murid-murid tubuh-Nya serta luka-luka-Nya. Dia ingin menunjukkan kepada mereka bahwa apa yang dialami para murid di ruang atas bukanlah ilusi atau fantasi, mereka juga tidak melihat hantu atau roh tanpa tubuh. Apa yang mereka temui adalah tubuh manusia yang hidup. Apalagi luka itu membuktikan bahwa tubuh Kristus yang bangkit sama dengan tubuh yang disalibkan. Yesus bahkan meminta makanan dan sungguh makan ikan yang diberi. Dia bertingkah laku seperti manusia biasa, dan oleh karena itu, murid-murid-Nya tidak perlu takut lagi, tapi diajak untuk percaya.

Namun, kebangkitan Yesus pada dasarnya berbeda dari yang terjadi pada Lazarus. Kita ingat bahwa Lazarus, saudara Maria dan Marta, wafat, tetapi Yesus membangkitkan dia dari kubur. Namun, Lazarus pada akhirnya akan menghadapi kematian sekali lagi. Apa yang terjadi pada Lazarus biasanya disebut ‘resuscitatio’. Sementara itu, Yesus bangkit dari kematian dan tidak akan mati lagi. Kristus tidak akan lagi mengalami kematian karena Ia tidak menerima tubuh biasa, tetapi tubuh yang sangat mulia. Ini adalah tubuh yang sama yang Yesus terima dari Perawan Maria, ini adalah tubuh yang sama yang berjalan di Galilea, ini adalah tubuh yang sama yang mewartakan Injil kepada para murid, dan ini adalah tubuh yang sama yang disiksa, disalibkan, dan dikuburkan di makam. Dan sekarang, kekuatan ilahi telah mengubah tubuh ini menjadi tubuh yang mulia.

Apa yang membuat tubuh yang dimuliakan ini luar biasa? Pertama, tubuh ini kekal dan tidak akan mati. Kedua, tidak lagi mengalami penderitaan seperti sakit atau penuaan. Ketiga, tubuh ini tidak tunduk pada hukum alam dan terbebas dari batasan ruang dan waktu. Ini menjelaskan mengapa Yesus bisa masuk ke ruang para murid yang terkunci [lihat KGK 645]. Keempat, tubuh ini bisa mengubah wujudnya. Ini menjelaskan mengapa para murid sering tidak mengenali Tuhan yang telah bangkit. Kebangkitan tidak hanya tentang penyatuan kembali antara jiwa dan tubuh, tetapi tentang tubuh yang dimuliakan dan disucikan untuk hidup yang kekal.

Realitas tentang kebangkitan memperkuat kebenaran dasar tentang tubuh kita. Kitab Kejadian mengatakan bahwa Tuhan menciptakan dunia material sebagai sesuatu yang baik. Pribadi manusia, termasuk tubuh kita diberkati dan disebut ‘sangat baik.’ Adalah rencana Tuhan agar ciptaan-Nya yang luar biasa tidak menjadi sia-sia dalam kematian dan dekomposisi. Dia menghendaki agar tubuh yang baik dan diberkati ini terus ada selama-lamanya dan menjadi bagian dari surga-Nya yang menakjubkan.

Dari kesadaran ini, apakah kita mempersiapkan tubuh kita untuk surga? Apakah kita menyalahgunakan tubuh kita dengan gaya hidup yang tidak sehat? Apakah kita menggunakan tubuh kita untuk menghormati Tuhan dalam doa dan perbuatan baik? Apakah kita menghancurkan tubuh kita, Bait Roh Kudus, dengan kejahatan dan kecanduan? Apakah kita mempersembahkan tubuh kita sebagai korban yang hidup dan menyenangkan kepada Tuhan?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sukacita Paskah

Minggu Paskah [B]

4 April 2021

Yohanes 20: 1-9

photocredit: Bruno van der Kraan

Yesus telah bangkit! Aleluya! Dia benar-benar hidup dan kita bersukacita. Dari Minggu Palma hingga Jumat Agung, kita telah menjadi saksi drama terbesar di pusat iman kita. Yesus diterima sebagai raja oleh rakyat-Nya yang pada akhirnya akan menghukum Dia. Dia menyerahkan tubuh dan darah-Nya kepada para murid dan saudara-Nya yang akhirnya menjual, mengkhianati, menyangkal, dan meninggalkan-Nya. Dia tidak bersalah, namun Dia dihukum sebagai penjahat dan menderita kematian yang mengerikan di kayu salib. Dia adalah Tuhan, tetapi Dia dikuburkan sama seperti manusia lainnya. Namun, hal-hal mengerikan ini bukanlah akhir dari cerita kita. Ada kejutan yang luar biasa! Dia bangkit dari kematian dan menaklukkan kematian. Kasih-Nya menang atas kebencian dan dosa.

Kabar baiknya adalah kisah Yesus itu nyata. Kisah-Nya sangat berbeda dari film-film box-office seperti film-film Marvel. Avengers mungkin secara dramatis mengalahkan Thanos dan membangkitkan separuh umat manusia yang hilang, tetapi mereka tetap merupakan karya fiksi. Yesus itu nyata, bahkan lebih nyata dari kita semua. Dan karena Dia benar-benar telah bangkit, iman kita kepada-Nya tidak sia-sia. Kita diselamatkan dan kita ditebus. Ini adalah fondasi yang tak tergoyahkan dari sukacita kita! Blaise Paschal, seorang Filsuf Prancis Katolik, pernah berkomentar, “Tidak ada yang sebahagia umat Kristiani sejati.”

Namun, apa artinya bersukacita di dunia kita sekarang? Banyak dari kita masih berjuang dengan pandemi COVID-19 dan kita tidak yakin kapan ini akan berakhir. Beberapa dari kita kehilangan orang yang kita cintai, dan yang lain harus menghadapi masa depan yang tidak pasti karena krisis ekonomi. Kita menjadi lebih tidak yakin dengan hidup kita. Apa bisa kita bersukacita? Kita perlu melihat bahwa sukacita kita bukan hanya perasaan enak yang cepat berlalu atau sebuah luapan emosi. Jika kita hanya mencari sensasi seperti ini di Gereja, kita mungkin kecewa.

Beriman kepada Yesus berarti kita percaya bahwa hidup kita pada akhirnya akan memiliki makna di dalam Yesus. Jadi, sukacita kita datang dari mengikuti Yesus, berpartisipasi dalam drama kasih dan penebusan-Nya, termasuk dalam salib dan kematian-Nya. Penderitaan Yesus bukanlah penderitaan korban yang tidak berdaya, melainkan penderitaan manusia berani. Kematian Yesus bukanlah kematian pecundang, tapi pengorbanan total. Yesus mengasihi kita sepenuhnya, dan kasih total menuntut kematian. Di dalam Kristus, penderitaan kita bukanlah tanda kelemahan kita, tetapi dari kasih radikal kita. Sukacita kita mengalir dari kebenaran yang kita temukan bahwa di dalam Kristus, kita diciptakan melampaui diri kita sendiri, tetapi untuk kasih yang tak terbatas, untuk Tuhan sendiri.

Di masa krisis ini, kita mungkin menanggung lebih banyak ketidakpastian, tetapi kita bisa menjadikan momen ini untuk mati terhadap ilusi kita bahwa kekayaan, posisi, dan kekuasaan dapat menyelamatkan kita. Di masa pencobaan ini, kita mungkin menghadapi lebih banyak kesulitan, tetapi di dalam Kristus, kita dapat mengubah kesempatan ini untuk mengasihi secara mendalam, dan bahkan memberikan diri kita sendiri.

Pada 27 Maret 1996, ada tujuh pertama Trappist diculik dari biara Tribhirine, Aljazair, oleh kelompok ekstremis. Semua akhirnya dibunuh. Beberapa bulan sebelumnya, mereka telah diperingatkan untuk meninggalkan biara karena situasi Aljazair memburuk, tetapi mereka menolak pergi karena mereka ingin tinggal bersama dengan orang yang mereka layani. Brother Christian, pemimpin biara, menulis dalam sebuah surat, “Saya yakin bahwa Tuhan mencintai orang Aljazair dan bahwa Dia telah memilih untuk membuktikannya dengan memberikan hidup kami kepada mereka. Jadi, apakah kami benar-benar mencintai mereka? Apakah kami cukup mencintai mereka? Ini adalah momen kebenaran bagi kami masing-masing dan tanggung jawab yang berat di saat-saat ini ketika teman-teman kami merasa sangat sedikit dicintai. ”

Selamat Paskah!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keledai

Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan [B]

28 Maret 2021

Markus 11: 1-10; Markus 14 – 15

Minggu Palma menandai awal Pekan Suci, minggu paling sakral dalam tahun liturgi kita. Perayaan tahun ini mungkin berbeda dari tahun-tahun lainnya karena pandemi, namun hal tersebut tidak menghentikan kita untuk menjalankan perayaan yang khusyuk dan bermakna. Salah satu pertanyaan yang biasa diajukan tentang perayaan Minggu Palma, “Mengapa Yesus menunggangi keledai?” Dengan bercanda, saya menjawab, “Ya, mungkin taksi online belum ada pada saat itu!”

Jawaban standar untuk pertanyaan ini adalah bahwa Yesus ingin menunjukkan diri-Nya sebagai raja yang lemah lembut dan rendah hati, dan bukan seorang jenderal yang haus kekuasaan dan suka berperang yang disimbolkan dengan kuda dewasa. Jawaban ini benar, tetapi tidak memberi kita gambaran yang lengkap. Jika kita mencoba untuk masuk lebih dalam ke Injil Markus saja, kita akan menemukan banyak penggenapan Perjanjian Lama.

Pemilihan keledai ini dilakukan oleh Yesus karena Dia memenuhi nubuat Zakharia. Intinya, nabi Zakharia menubuatkan bahwa suatu hari nanti seorang raja yang lembut namun jaya akan memasuki Yerusalem, menunggangi seekor keledai muda [lihat Zak 9:9]. Tapi, ini bukan satu-satunya nubuat yang dipenuhi Yesus.

Jika kita kembali ke Perjanjian Lama, kita akan menemukan seorang raja Israel yang benar-benar menaiki keledai. Dia adalah Salomon, putra Daud, ketika dia dinobatkan sebagai raja dan naik takhta [1 Raja 1:33]. Dengan mengendarai seekor keledai muda, Yesus menandakan bahwa Dia adalah Salomon baru yang naik ke tahta baru-Nya, salib.

Markus juga memberi kita informasi bahwa orang-orang juga menyebarkan pakaian mereka di hadapan Yesus. Kembali ke Perjanjian Lama, kita juga menemukan seorang raja Yehuda yang menerima perlakuan yang sama seperti ini juga dari rakyatnya. Namanya adalah Yehu [2 Raja 9:12]. Selain itu, Markus menulis bahwa orang-orang menyambut Yesus dengan ranting-ranting yang hijau. Sekali lagi, jika kita kembali ke perjanjian lama, ranting hijau digunakan untuk menerima Yudas Makabe, yang berhasil merebut kembali Yerusalem dari tangan musuh [2 Mak 10:7]. Yesus memang raja yang lembut, tetapi Dia juga pemenang yang jaya atas musuh-musuh-Nya. Satu hal lagi adalah bahwa Markus menambahkan ungkapan ‘… Bapa kita Daud…” Daud sejatinya bukanlah salah satu dari bapa bangsa Israel [yaitu Abraham, Ishak, dan Yakub]. Namun, orang Israel mengakui raja Daud sebagai bapak bangsa mereka, seorang raja yang melindungi dan memimpin rakyatnya.

Dari sini, kita bisa menarik kesimpulan yang menakjubkan pada Minggu Palma ini. Yesus menunggangi keledai muda untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Raja Mesias dalam garis keturunan Daud, seperti Salomon dan Yehu, serta raja yang jaya yang akan menaklukkan musuh-musuh-Nya. Namun, ada sesuatu yang bahkan luar biasa. Markus memberi kita detail unik: keledai ini belum pernah ditunggangi. Artinya keledai ini masih liar dan belum terlatih. Pilihan Yesus untuk menunggangi binatang yang masih liar ini menunjukkan kekuasaann dan otoritas-Nya atas binatang-binatang buas dan alam. Dia bukan hanya raja Israel, raja umat manusia, tetapi Dia adalah raja dari segala alam. Sungguh, seekor keledai adalah tumpangan yang sempurna bagi raja alam semesta.

Namun, kita tidak boleh terlalu cepat gembira. Ada lebih banyak rahasia yang harus dibuka dan lebih banyak nubuatan yang harus digenapi saat kita memasuki drama Pekan Suci.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kemuliaan Sejati

Minggu ke-5 Prapaskah [B]
21 Maret 2021
Yohanes 12: 20-33

njil Yohanes biasanya dibagi menjadi dua divisi utama: Buku Tanda-Tanda [bab 1-12] dan Buku Kemuliaan [Bab 13-21]. Buku Tanda-Tanda berfokus pada pelayanan publik Yesus dan juga tujuh ‘tanda’ Yesus. Dalam Injil Yohanes, ‘Tanda’ adalah istilah teknis untuk mukjizat. Tanda-tanda Yesus ini dimulai dengan mengubah air menjadi anggur di Kana dan mencapai puncaknya dengan membangkitkan Lazarus dari kematian. Sedangkan Buku Kemuliaan menjelaskan kepada kita bagaimana Yesus ‘dimuliakan’. Buku kedua dimulai dengan Yesus dan murid-murid-Nya di Ruang Atas dan berpuncak pada sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya.

Injil hari ini diambil dari Yohanes bab 12, dan bab ini berfungsi sebagai transisi antara Buku Tanda-Tanda ke Buku Kemuliaan. Ini juga mengapa Gereja memilih bacaan ini: untuk mempersiapkan kita memasuki Minggu Palma Sengsara Yesus dan Pekan Suci.

Satu pelajaran berharga yang dapat kita lihat dalam Injil hari ini adalah bagaimana Yesus memandang sengsara dan kematian-Nya. Tidak dapat disangkal, Yesus akan disalibkan dan wafat dengan cara yang mengerikan. Penyaliban adalah hukuman mengerikan yang hanya diperuntukkan bagi penjahat kelas berat dan pemberontak terhadap bangsa Romawi. Penyaliban ini mengerikan karena tujuannya adalah untuk memperpanjang penderitaan yang terhukum sebelum mereka menemui ajalnya. Di kayu salib, orang diperlakukan lebih rendah daripada hewan. Ini adalah kematian mengerikan yang Yesus akan rangkul.

Namun, dalam Injil Yohanes, Yesus tidak sekedar melihat penyaliban-Nya sebagai peristiwa manusia belaka tetapi sebagai penyelenggaraan ilahi. Yesus menyebut penyaliban-Nya sebagai kemuliaan Anak Manusia. Pandangan Yesus ini tidak hanya membalikkan perspektif salib tetapi secara radikal mentransformasinya. Penyaliban-Nya, bagi Yesus bukan hanya sesuatu yang baik atau positif, tetapi itu adalah puncak kemenangan dari hidup-Nya. Yesus menyatakan bahwa salib adalah waktu penghakiman terhadap iblis, penguasa dunia [Yoh 12:31]. Yesus juga mengklaim bahwa salib adalah saat orang-orang dari segala bangsa berkumpul menjadi satu dan menerima keselamatan [Yoh 12:32].

Apakah ini berarti Yesus mengabaikan sisi kemanusiaan-Nya dan menekan emosi-Nya sebelum menderita di kayu salib? Tentu tidak! Yesus juga mengenali dan menghidupi emosi manusiawi-Nya. Kita tahu bahwa Yesus menghadapi kengerian kematian-Nya di dalam sakratul maut di taman Getsemani, namun walaupun penuh pergulatan, Yesus tetap teguh untuk melakukan kehendak Bapa dan untuk mengasihi sampai akhir.

Dari sini, kita dapat mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari Yesus. Dalam mengikuti Kristus, kita mungkin menghadapi pencobaan dan kesulitan dalam hidup, namun kita diajak untuk percaya pada penyelenggaraan Tuhan, dan kita dapat merangkul penderitaan kita sebagai momen kemuliaan kita. Percaya pada penyelenggaraan Tuhan bukan berarti lari dari kenyataan hidup, tetapi sebaliknya, hal ini mengandaikan bahwa kita merangkul seluruh kemanusiaan kita.

Kita selalu bisa belajar dari kehidupan para kudus kita. Sebagai contoh, St Agatha dapat dengan mudah lolos dari kematian, tetapi dia menolak untuk menyangkal Kristus dan menantang siksaan dan kematian yang mengerikan. Para penyiksanya memotong payudaranya, dan dia dibakar hidup-hidup. Di mata dunia, kematiannya tidak masuk akal, tetapi bagi mereka, yang berbagi dalam penderitaan Kristus, dan dengan demikian, berbagi dalam Kemuliaan-Nya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: manuel-asturias

Yesus, Bait Allah yang Baru

Minggu Prapaskah ke-3

7 Maret 2021

Yohanes 2: 13-25

Sebagai pembaca modern, kita sering gagal paham akan Injil hari ini. Kisah Yesus yang satu ini sering menjadi dasar bagi sebagian dari kita untuk menolak penggunaan bangunan gereja untuk kegiatan non-keagamaan, apalagi untuk keperluan untuk mencari untung. Saya pribadi setuju bahwa bagian dalam gedung Gereja merupakan tempat yang dikhususkan untuk peribadatan dan doa. Ini adalah daerah suci bagi umat untuk bertemu dengan Tuhan dan mengalami surga.

Namun, Injil hari ini lebih kompleks dari apa yang sering kita pahami. Kita cenderung berasumsi bahwa Yesus membersihkan Bait Suci dari para pedagang hewan dan penukar uang karena Yesus melihat mereka sebelumnya bukan bagian dari Bait Allah, tetapi tiba-tiba mereka menjamur di area Bait Suci. Namun, jika kita kembali ke zaman Yesus, pedagang hewan dan penukar koin adalah bagian dari sistem penyembahan dari Bait Suci. Para peziarah dari berbagai belahan Palestina dan dunia berdatangan ke Bait Allah setiap hari, dan meskipun membawa hewan kurban mereka sendiri itu bisa dilakukan, hal ini tidaklah praktis. Hewan-hewan ini akan menambah beban perjalanan dan hewan-hewan ini mungkin mendapatkan cacat atau cedera di sepanjang jalan. Dengan luka atau kerusakan tersebut, hewan-hewan tersebut tidak layak lagi untuk dipersembahkan. Karenanya, sebuah solusi bagi para peziarah yang lelah ini hadir: para pedagang di Yerusalem siap membantu dengan menyediakan hewan kurban yang sehat dan layak.

Penukar uang juga terikat ke Bait Allah. Untuk mendukung pemeliharaan Bait Allah, para peziarah harus menyumbangkan sejumlah uang, namun Bait Allah tidak menerima koin Romawi. Otoritas Bait Allah menganggap koin itu sebagai tanda penindasan asing. Koin Romawi juga dianggap menghujat karena koin itu mengakui Kaisar sebagai dewa. Sementara itu, orang Yahudi tidak diperbolehkan mencetak koin mereka. Sebagai solusinya, mereka menerima koin dari kota tetangga, Tirus. Di sinilah peran para penukar koin. Tanpa penjual hewan dan layanan penukaran uang, Bait Allah Yerusalem tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya. Sama halnya seperti jika kita perlu memproduksi anggur dan roti sendiri untuk perayaan Ekaristi.

Biasanya, pedagang hewan dan pedagang koin berada di dekat tetapi di luar Bait Allah. Namun, masalah bermula ketika otoritas Bait Allah mengizinkan para penjual ini berada di dalam area Bait Allah, terutama di sekitar pelataran bangsa-bangsa [yang diperuntukkan bagi bangsa non-Yahudi]. Pelataran bangsa-bangsa, meskipun terjauh dari tempat yang paling suci, masih merupakan bagian integral dari bait suci dan tetap menjadi tempat berdoa, terutama bagi orang-orang non-Yahudi yang percaya kepada Tuhan Israel.

Yesus tidak hanya ingin melindungi rumah Tuhan sebagai rumah doa dan penyembahan, tetapi Dia juga ingin agar orang-orang bukan Yahudi mendapat tempat di rumah doa ini. Sayangnya, Bait Allah Yerusalem dihancurkan pada 70 M oleh kekaisaran Romawi. Namun, bukan berarti visi Yesus tetap sirna. Keinginan-Nya untuk mempersatukan bangsa-bangsa dalam doa dan penyembahan kepada Tuhan yang benar terwujud dan mencapai kesempurnaan dalam tubuh-Nya, yakni Bait Allah yang baru.

Di manakah kita sekarang menemukan Tubuh [dan Darah] Kristus? Tentunya, ada dalam Ekaristi. Dalam Ekaristi, orang-orang dari berbagai bangsa dan bahasa berkumpul untuk mempersembahkan ibadat yang layak kepada Tuhan yang benar. Setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita menjadi saksi hidup dari visi penyembahan Yesus untuk semua bangsa. Kita bisa menyembah Tuhan yang benar karena Yesus menyiapkan tempat untuk kita.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mendaki Gunung Tuhan

Minggu Kedua Prapaskah [B]

28 Februari 2021

Markus 9: 2-11

Gunung adalah tempat khusus di dalam Kitab Suci. Ini adalah tempat dimana Tuhan bertemu dengan umat-Nya. Dalam Perjanjian Lama, ada banyak contoh di mana gunung menjadi titik penting dalam sejarah keselamatan. Setelah banjir besar yang membersihkan dunia, Bahtera nabi Nuh mendarat di Gunung Ararat dan di sana, Nuh mempersembahkan korban kepada Tuhan [lihat Kejadian 8: 4]. Abraham diminta oleh Tuhan untuk mempersembahkan putranya, Ishak, di Gunung Moria. Tepat sebelum pengorbanan, malaikat Tuhan mencegah Abraham dan Tuhan menerima iman Abraham [lihat Kejadian 22]. Ketika Musa sedang menggembalakan kawanan bapa mertuanya, Musa melihat semak bernyala tapi tidak habis terbakar, dan di sana, di gunung Horeb, Tuhan memanggil Musa untuk menyelamatkan bani Israel dari Mesir [lihat Keluaran 3].

Peristiwa-peristiwa penting dalam hidup Yesus terjadi di Pegunungan. Ada gunung pencobaan, di mana iblis membawa Yesus dan memperlihatkan kemuliaan duniawi kepada-Nya. Ada gunung doa, di mana Yesus menghabiskan waktu tenang-Nya dengan Bapa. Ada gunung pengajaran, di mana Yesus mengajarkan pelajaran-pelajaran agung-Nya seperti Sabda Bahagia dan mengasihi musuh. Ada gunung Transfigurasi, di mana Yesus menunjukkan kemuliaan ilahi-Nya. Ada gunung salib, atau Golgota, tempat Yesus memberikan hidup-Nya untuk keselamatan kita. Terakhir, ada gunung kenaikan, di mana Yesus kembali ke surga dan mengutus murid-murid-Nya untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa.

Kembali ke gunung tansfigurasi. Salah satu ciri khas dalam gunung transfigurasi adalah bahwa Yesus mengundang tiga murid-Nya: Petrus, Yakobus dan Yohanes. Ada banyak alasan mengapa ketiganya dipilih. St Ambrosius dari Milan, mewakili para Bapa Gereja, percaya bahwa ketiganya dipilih karena Petrus yang menerima kunci kerajaan, Yohanes, yang menjadi komitmen ibu Tuhan kita, dan Yakobus yang pertama kali mati sebagai martir. Sementara itu, St Thomas Aquinas, seorang teolog Abad Pertengahan, berpendapat bahwa Yakobus adalah martir pertama, Yohanes adalah murid yang paling dikasihi dan Petrus adalah murid yang paling mengasihi Yesus. Namun, kita bisa melihat juga dari cara yang sederhana. Ketiganya adalah murid-murid yang siap mengikuti Yesus dan mampu mendaki gunung yang tinggi.

Mendaki gunung adalah misi yang berat. Seseorang harus membuat persiapan yang matang tanpa berlebihan. Mendaki membutuhkan stamina fisik serta ketangguhan mental. Saat pendakian berlangsung, karakter asli orang tersebut akan terungkap. Menghadapi kesulitan, seseorang bisa menjadi sangat egois, tetapi juga bisa rela berkorban. Menghadapi tantangan, seseorang dapat maju terus dengan keberanian atau mundur dalam ketakutan. Dalam situasi yang mengerikan, seseorang dapat menunjukkan kepemimpinan yang tegas atau menjadi panik dan tersesat. Petrus, Yakobus dan Yohanes siap untuk tantangan itu, dan mereka bertahan untuk melihat Yesus yang berubah rupa.

Seringkali Yesus memanggil kita untuk mendaki gunung bersama-Nya. Terkadang, kita mendaki gunung doa karena kita harus menghadapi banyak rintangan dalam kehidupan doa kita. Terkadang, kita perlu mendaki gunung pengajaran karena kita bergumul dengan ajaran-ajaran tertentu Gereja. Kadang-kadang, kita mendaki gunung Kalvari, dan kita perlu memikul salib kita, dan di puncaknya, kita tidak menemukan penghiburan selain kematian sang Juruselamat.

Namun, kabar baiknya adalah Yesus yang mengundang kita mendaki gunung, juga berjalan bersama kita. Saat kita berjalan dengan Yesus, Dia membimbing kita, menguatkan kita dan membentuk kita. Jika kita setia di gunung godaan dan golgota, kita juga akan ikut serta dalam mendaki gunung transfigurasi, kebangkitan dan kenaikan-Nya.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Empat Puluh Hari di Padang Gurun

Minggu Pertama Prapaskah [B]

21 Februari 2021

Markus 1: 12-15

Mengapa Yesus harus tinggal di padang gurun selama 40 hari? Jawabannya tidak sulit. Dia mengulangi apa yang dilakukan orang Israel ketika mereka dibebaskan dari perbudakan Mesir. Orang Israel tinggal selama 40 tahun di padang gurun sebelum mereka memasuki tanah perjanjian. Namun, ada satu hal lagi! Markus memberi kita detail kecil namun penting: di padang gurun, Yesus tinggal bersama binatang-binatang. Kenapa demikian? Jika ada satu orang yang hidup bersama para binatang di dalam kitab suci, dia tidak lain adalah Adam. Yesus bukan hanya Israel baru yang menanggung kondisi keras padang gurun, tetapi juga Adam baru yang menghadapi serangan setan.

Yesus memasuki padang gurun selama empat puluh hari dan Dia diuji di sana oleh kondisi keras gurun Yudea. Tidak hanya menghadapi tandusnya gurun, tetapi Yesus juga menghadapi iblis itu di sana. Dari sini saja, kita dapat melihat hubungan yang kuat antara bangsa Israel di padang gurun dan Yesus, serta antara Adam dan Yesus. Seperti Israel kuno yang bergumul dengan ego mereka sendiri, Yesus juga menanggung kelemahan manusia. Seperti Adam menghadapi si penggoda, Yesus juga dicobai oleh iblis. Namun terdapat perbedaan yang signifikan.

Sementara orang Israel menggerutu dan mengeluh, Yesus dengan setia berpuasa dan berdoa. Sementara orang Israel menggerutu untuk mendapatkan makanan, dan Adam memakan buah terlarang, Yesus menolak godaan Setan untuk mengubah batu menjadi roti. Sementara orang Israel kehilangan iman dan menyembah iblis dalam bentuk anak lembu emas, dan Adam ingin menjadi seperti Tuhan, Yesus menolak untuk tunduk kepada iblis meskipun semua kemuliaan duniawi yang ditawarkannya. Sementara orang Israel kehilangan harapan atas tanah perjanjian dan Adam menyalahkan sang wanita, Yesus tetap teguh dan menolak untuk menguji Tuhan. Yesus adalah Israel baru dan Adam baru. Sementara Israel lama goyah dan Adam menyerah pada pencobaan dan godaan, Yesus tampil sebagai pemenang. Yesus mengoreksi dan menyempurnakan Israel lama dan Adam lama.

Kita adalah tubuh Kristus, dan kita adalah bagian dari Israel baru. Saat Yesus memasuki padang gurun, demikianlah kita pergi ke pertempuran rohani kita. Namun, kita hanya bisa menjadi pemenang ketika kita mengandalkan kepada Tuhan dan berpartisipasi di dalam Kristus. Iblis jauh lebih kuat dari kita, dan tanpa Tuhan, kita pasti akan kalah.

Bagaimana kita akan menang melawan pertempuran spiritual ini? Yesus memberi kita tipsnya: puasa-pantang, amal dan doa. Puasa membuat kita lapar namun menyadarkan kita bahwa tidak semua keinginan jasmani kita harus segera dipenuhi. Karya amal mungkin melukai kantong kita, tetapi itu membuka kita pada kebenaran bahwa kita bisa hidup bermakna dengan memberi, bukan menimbun. Doa mungkin terkesan hanya membuang-buang waktu, tetapi doa membawa kita kepada kenyataan paling mendasar bahwa tanpa Tuhan, kita bukan apa-apa. Kita adalah bagian dari Adam baru dan Israel baru, dan hanya di dalam Dia, kita mencapai kemenangan sejati kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kusta

Minggu Keenam dalam Masa Biasa [B]

14 Februari 2021

Markus 1: 40-45

Penyakit kusta pada zaman Yesus tidak hanya mematikan secara fisik dan mental, tetapi juga melumpuhkan secara rohani. Kusta atau yang sekarang dikenal dengan penyakit Hansen adalah penyakit yang mengerikan karena tidak hanya membunuh orangnya secara perlahan, tetapi lambat laun akan merusak wujud dan melumpuhkan orang tersebut. Bakteri kusta menyebabkan kerusakan yang parah pada jaringan saraf sehingga orang tersebut tidak lagi dapat merasakan sensasi, terutama rasa sakit. Tanpa sensasi ini, orang tersebut gagal mengenali dan menghindari cedera pada tubuh. Kehilangan anggota tubuh seperti jari adalah hal yang biasa terjadi pada penderita kusta stadium lanjut.

Karena penyakit ini tidak dapat disembuhkan dan sangat menular pada zaman dahulu, reaksi alami bagi para penduduk adalah untuk mengeluarkan orang yang terinfeksi dari komunitas. Bisa dibayangkan dampak pengusiran yang diderita para korban. Mereka terputus dari sumber kebutuhan dasar, dipisahkan dari keluarga dan teman-teman mereka, dan mereka sadar bahwa mereka akan meninggal dengan cara yang mengerikan. Penderita kusta bisa dengan mudah menjadi gila. Kesadaran bahwa mereka tidak akan bertahan hidup sendiri di luar masyarakat mendorong para penderita kusta untuk berkumpul dan membentuk komunitasnya. Oleh karena itu, koloni penderita kusta dianggap sebagai solusi praktis untuk saling mendukung dalam menghadapi kenyataan hidup yang suram.

Dalam konteks Yahudi kuno, penyakit kulit khususnya kusta tidak hanya merupakan masalah biologis, mental dan sosial, tetapi merupakan masalah agama. Kitab Imamat menyatakan bahwa orang dengan penyakit kulit tertentu termasuk kusta harus menghadap imam dan diperiksa tubuhnya. Kemudian, sang imam dapat menyatakan orang itu najis. Setelah putusan ini, orang tersebut harus keluar dari komunitas, memakai kain lusuh, dan membiarkan rambutnya acak-acakan. Ini menjadi tanda-tanda bahwa mereka mengidap penyakit menular dan najis. Namun, jika seseorang tetap mendekati mereka, mereka akan berteriak, “Najis! Najis!” Ini untuk memastikan orang yang sehat dan tahir tidak akan mendekat. [Im 13] Jika seseorang dinyatakan sebagai najis, ini berarti orang tersebut tidak layak untuk beribadah dan tidak diperbolehkan memasuki kawasan suci seperti Bait Allah. Jadi, bagi seorang Yahudi yang mengidap penyakit kusta, ia tidak hanya dikucilkan secara fisik dan mental, tetapi juga secara agama. Penyakit itu juga memisahkan mereka dari Tuhan yang mereka layani dan sembah.

Dalam Injil, kita belajar banyak dari sang penderita kusta. Kita melihat sang penderita kusta adalah orang yang berinisiatif untuk mendekati Yesus, dan dengan demikian, melanggar larangan paling mendasar untuk menjauh dari manusia lain dan Tuhan. Permintaan penderita kusta bukanlah untuk disembuhkan, melainkan untuk ‘menjadi tahir’. Keinginan terdalam dari penderita kusta ini bukanlah pertama-tama penyembuhan fisik, tetapi menjadi tahir agar bisa menyembah Tuhannya. Kesembuhan yang sejati datang hanya jika kita bisa mendekati dan menyembah Tuhan yang benar. Melihat keberanian dan kerinduannya yang terdalam, Yesus tergerak oleh belas kasihan dan membuatnya tahir.

Penderita kusta dalam Injil mengajar kita banyak hal tentang keinginan sejati untuk kesembuhan. Mungkin, banyak dari kita mencari Tuhan karena ingin sembuh dari penyakit, mencari kesuksesan finansial atau terbebas dari masalah lain. Namun, kita jarang ingin melihat Tuhan karena kita ingin disembuhkan secara rohani, dibebaskan dari dosa, dan menjadi satu dengan Dia. Injil mengajarkan kepada kita bahwa penyembuhan sejati lebih dari sekedar kesehatan fisik dan stabilitas ekonomi, tetapi persatuan dengan Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus, Penyembuh Jiwa Kita

Minggu Kelima dalam Masa Biasa [B]

7 Februari 2021

Markus 1: 29-39

Yesus tidak dapat dipisahkan dari pelayanan penyembuhan-Nya. Beberapa kisah kesembuhan merupakan kejadian yang luar biasa seperti kesembuhan seorang wanita dengan pendarahan dan juga anak perempuan Jarius [Markus 5: 321-43]. Penyembuhan ini adalah mujizat karena kasus-kasus yang dihadapi Yesus adalah hal-hal mustahil disembuhkan pada zaman-Nya. Sang wanita telah menderita pendarahan selama dua belas tahun tanpa harapan, dan putri Jarius sebenarnya sudah meninggal. Di sisi lain, Yesus tidak hanya menyembuhkan orang yang sakit parah, tapi juga mereka yang sakitnya tergolong tidak membahayakan.

Yesus ada di rumah Simon, dan Dia melihat bahwa ibu mertua Simon sedang demam. Demam adalah gejala yang biasanya terjadi karena adanya infeksi, bisa karena flu biasa hingga covid-19. Dalam kasus ibu mertua Simon, kita dapat berasumsi bahwa dia mengalami penyakit yang sebenarnya tidak berat. Dengan istirahat dan obat yang tepat, sang ibu mertua akan kembali beraktivitas dengan normal. Namun, walaupun sakitnya tergolong tidak membahayakan dan bahkan tanpa permintaan khusus dari sang wanita, Yesus memutuskan untuk menyembuhkannya. Yesus memahami bahwa penyakit, entah seberapa kecilnya, tetap sebuah hal yang tidak tepat bagi hidup kita. Menjadi orang yang sehat adalah rencana Tuhan bagi kita.

Jika kita melihat hidup kita, kita dengan mudah menyadari bahwa sakit adalah bagian dari hidup kita. Penyakit selalu menjadi pengingat bahwa tubuh kita terbatas dan rapuh. Memang, kita memiliki sistem kekebalan, tetapi seringkali perlindungan alami ini tidak cukup. Dengan pandemi yang disebabkan oleh Covid-19, kita menyadari bahwa manusia tidak sekuat yang kita pikirkan. Saat kita berjuang untuk menemukan berbagai obat dan alat-alat kesehatan, virus, bakteri, dan penyebab penyakit lainnya juga berkembang dan semakin mematikan. Penyakit menyebabkan rasa sakit dan penderitaan, dan kelemahan ini mengingatkan kita pada kematian kita. Namun, terlepas dari realisasi ini, jauh di lubuk hati, kita tahu bahwa penyakit ini adalah sesuatu yang tidak wajar, sebuah kekurangan, bukan kesempurnaan. Kita ingin sehat, kita berjuang untuk menjadi sehat dan hanya dengan sehat, kita dapat mencapai potensi kita sebagai manusia.

Inilah alasan mengapa kita pergi ke dokter jika kita sakit, kita melakukan olahraga lain, dan kita menjalani gaya hidup sehat. Inilah alasan yang sama yang dicari orang dengan karunia kesembuhan. Ini adalah alasan yang sama mengapa banyak orang ingin disembuhkan Yesus.

Kita mungkin bertanya, mengapa Yesus tidak menyembuhkan kita semua? Jawabannya tidak mudah, tetapi kita dapat mengatakan bahwa Yesus pertama-tama datang untuk menyembuhkan hubungan kita yang rusak dengan Allah Bapa. Dia menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, sebuah penyakit rohani. Kesembuhan ragawi adalah tanda-tanda penebusan ini. Bahkan dalam misteri penyelenggaraan-Nya, Tuhan dapat menggunakan penyakit dan penderitaan kita untuk membuat kita semakin dekat secara rohani dengan-Nya. Kita bisa belajar dari para kudus.

St. Dominikus de Guzman dikenal melakukan mati raga yang sangat berat. Seorang saksi mata mengatakan bahwa tali rantai diikat erat-erat di pahanya dan baru dilepas ketika dia meninggal. Mortifikasi atau mati raga adalah salah satu cara favorit orang-orang kudus untuk mencari Tuhan. Mereka tidak ingin tubuh mereka yang sehat menjadi penghalang untuk mencari Tuhan. Sementara itu, Beato Carlo Acutis yang sakit leukemia, penyakit yang sangat menyakitkan yang akhirnya merenggut nyawanya, mempersembahkan penderitaannya kepada Tuhan. Dia berkata, “Saya mempersembahkan semua penderitaan yang harus saya derita untuk Tuhan, untuk Paus, dan Gereja”

Yesus memberi kita kesembuhan bagi jiwa dan raga kita. Namun, dalam misteri penyelenggaraan-Nya, kelemahan tubuh kitapun dapat membawa kita lebih dekat kepada Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: Jonathan-borba

Yesus dan Eksorsisme

Minggu Keempat di Masa Biasa [B]

31 Januari 2021

Markus 1: 21-28

Yesus melakukan pengusiran setan atau eksorsisme pertama-Nya dalam Injil Markus. Membaca konteksnya, kita menemukan bahwa Yesus sedang mengajar di sinagoga dan orang-orang mengenali Dia mengajar dengan otoritas. Ketika Yesus mengajar dengan otoritas, ini tidak hanya berarti Dia berkhotbah dengan kefasihan dan krisma, tetapi ajaran-Nya dimanifestasikan dalam tanda-tanda yang nyata dan menakjubkan, seperti penyembuhan dan pengusiran setan.

Kata eksorsisme biasanya diartikan sebagai mengusir roh-roh jahat dari seseorang yang kerasukan atau tempat yang terjangkiti. Sayangnya, karena pengaruh yang datang dari film-film Hollywood, pemahaman tentang eksorsisme telah terdistorsi, dan bahkan menjadi bahan lelucon. Namun, bagi Gereja Katolik, eksorsisme berakar di dalam pribadi Yesus Kristus sendiri, dan sebuah misi yang mulia.

Arti harafiah dari ‘eksorsisme’ adalah ‘mengikat dengan sumpah.’ Lalu, bagaimana kata ini bisa akhirnya berhubungan dengan roh jahat? Ketika kita bersumpah, kita perlu memanggil seseorang yang lebih tinggi dari diri kita sebagai penjamin janji kita. Secara sederhana, sumpah adalah mengucapkan janji dengan memanggil Tuhan sendiri sebagai saksi kita. Dalam konteks eksorsisme, imam yang bertugas sebagai eksorsis akan memanggil nama Tuhan untuk mengikat setan, dan mengirim mereka ‘ke kaki salib Yesus’ untuk menerima penghakiman. Kita tidak bisa mengusir setan dengan menggunakan otoritas kita sendiri karena setan adalah makhluk yang juah lebih kuat dari kita. Hanya dalam nama Tuhan yang benar, eksorsisme yang sejati dan efektif dapat terjadi.

Satu hal yang menarik dari Injil adalah Yesus mengusir setan tanpa menyebut nama Tuhan. Dia hanya berkata, “Diam, keluarlah dari dia!” Yesus mengusir dengan otoritas-Nya sendiri dan setan-setan mematuhi-Nya karena mereka mengenali kuasa ilahi-Nya. Setan juga mengenali Yesus bukan hanya sebagai Mesias atau sebagai raja orang Yahudi, tetapi sebagai ‘Yang Kudus dari Tuhan.’ Jika kita kembali ke Perjanjian Lama, gelar khusus ini mengacu pada imam agung Israel, secara khusus Harun. “… Harun, Yang Kudus dari Tuhan… [Mzm 106: 16].” Melalui mulut setan, Injil mengungkapkan dimensi lain dari identitas Yesus: Dia adalah sang Imam Agung. Dari kebenaran ini, kita dapat menyimpulkan bahwa eksorsisme adalah bagian dari tugas imamat.

Berpartisipasi dalam identitas Yesus sebagai imam agung, para uskup adalah eksorsis utama di keuskupan mereka. Kita ingat bahwa uskup adalah imam agung di keuskupan masing-masing. Setiap uskup kemudian dapat menunjuk dan mendelegasikan beberapa imam yang terlatih untuk menjadi eksorsis di keuskupan mereka. Waktu saya di Manila, saya beruntung bisa bertemu dan berdiskusi banyak hal, dengan Romo Jose Syquia, seorang eksorsis dari Keuskupan Agung Manila.

Namun demikian, kita tidak boleh lupa bahwa karena pembaptisan kita, kita juga mengambil bagian dalam imamat Yesus Kristus. Jadi, kita juga memiliki otoritas atas roh-roh jahat. Sebagai orang awam, kita diizinkan untuk mengucapkan doa-doa pembebasan tertentu ketika kita merasakan kehadiran dan aktivitas roh-roh jahat yang luar biasa. Doa kepada St. Michael, sang malaikat agung, adalah salah satu contoh doa pembebasan yang bisa digunakan kaum awam. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa sebenarnya roh-roh jahat bekerja dengan cara yang sangat halus, terutama melalui godaan untuk berbuat dosa. Seringkali, tanpa disadari, kita sudah di bawah kendali iblis saat kita menjalani hidup yang penuh dengan dosa dan kejahatan. Sebagai pengikut Kristus, kita perlu menghadapi perang kita sehari-hari melawan kerajaan Setan, dan kita tidak bisa menang tanpa menyebut nama Yesus, tanpa doa yang konstan, tanpa sakramen, dan tanpa bantuan Gereja.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP