Minggu Kedua Prapaskah [B]
28 Februari 2021
Markus 9: 2-11
Gunung adalah tempat khusus di dalam Kitab Suci. Ini adalah tempat dimana Tuhan bertemu dengan umat-Nya. Dalam Perjanjian Lama, ada banyak contoh di mana gunung menjadi titik penting dalam sejarah keselamatan. Setelah banjir besar yang membersihkan dunia, Bahtera nabi Nuh mendarat di Gunung Ararat dan di sana, Nuh mempersembahkan korban kepada Tuhan [lihat Kejadian 8: 4]. Abraham diminta oleh Tuhan untuk mempersembahkan putranya, Ishak, di Gunung Moria. Tepat sebelum pengorbanan, malaikat Tuhan mencegah Abraham dan Tuhan menerima iman Abraham [lihat Kejadian 22]. Ketika Musa sedang menggembalakan kawanan bapa mertuanya, Musa melihat semak bernyala tapi tidak habis terbakar, dan di sana, di gunung Horeb, Tuhan memanggil Musa untuk menyelamatkan bani Israel dari Mesir [lihat Keluaran 3].
Peristiwa-peristiwa penting dalam hidup Yesus terjadi di Pegunungan. Ada gunung pencobaan, di mana iblis membawa Yesus dan memperlihatkan kemuliaan duniawi kepada-Nya. Ada gunung doa, di mana Yesus menghabiskan waktu tenang-Nya dengan Bapa. Ada gunung pengajaran, di mana Yesus mengajarkan pelajaran-pelajaran agung-Nya seperti Sabda Bahagia dan mengasihi musuh. Ada gunung Transfigurasi, di mana Yesus menunjukkan kemuliaan ilahi-Nya. Ada gunung salib, atau Golgota, tempat Yesus memberikan hidup-Nya untuk keselamatan kita. Terakhir, ada gunung kenaikan, di mana Yesus kembali ke surga dan mengutus murid-murid-Nya untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa.
Kembali ke gunung tansfigurasi. Salah satu ciri khas dalam gunung transfigurasi adalah bahwa Yesus mengundang tiga murid-Nya: Petrus, Yakobus dan Yohanes. Ada banyak alasan mengapa ketiganya dipilih. St Ambrosius dari Milan, mewakili para Bapa Gereja, percaya bahwa ketiganya dipilih karena Petrus yang menerima kunci kerajaan, Yohanes, yang menjadi komitmen ibu Tuhan kita, dan Yakobus yang pertama kali mati sebagai martir. Sementara itu, St Thomas Aquinas, seorang teolog Abad Pertengahan, berpendapat bahwa Yakobus adalah martir pertama, Yohanes adalah murid yang paling dikasihi dan Petrus adalah murid yang paling mengasihi Yesus. Namun, kita bisa melihat juga dari cara yang sederhana. Ketiganya adalah murid-murid yang siap mengikuti Yesus dan mampu mendaki gunung yang tinggi.
Mendaki gunung adalah misi yang berat. Seseorang harus membuat persiapan yang matang tanpa berlebihan. Mendaki membutuhkan stamina fisik serta ketangguhan mental. Saat pendakian berlangsung, karakter asli orang tersebut akan terungkap. Menghadapi kesulitan, seseorang bisa menjadi sangat egois, tetapi juga bisa rela berkorban. Menghadapi tantangan, seseorang dapat maju terus dengan keberanian atau mundur dalam ketakutan. Dalam situasi yang mengerikan, seseorang dapat menunjukkan kepemimpinan yang tegas atau menjadi panik dan tersesat. Petrus, Yakobus dan Yohanes siap untuk tantangan itu, dan mereka bertahan untuk melihat Yesus yang berubah rupa.
Seringkali Yesus memanggil kita untuk mendaki gunung bersama-Nya. Terkadang, kita mendaki gunung doa karena kita harus menghadapi banyak rintangan dalam kehidupan doa kita. Terkadang, kita perlu mendaki gunung pengajaran karena kita bergumul dengan ajaran-ajaran tertentu Gereja. Kadang-kadang, kita mendaki gunung Kalvari, dan kita perlu memikul salib kita, dan di puncaknya, kita tidak menemukan penghiburan selain kematian sang Juruselamat.
Namun, kabar baiknya adalah Yesus yang mengundang kita mendaki gunung, juga berjalan bersama kita. Saat kita berjalan dengan Yesus, Dia membimbing kita, menguatkan kita dan membentuk kita. Jika kita setia di gunung godaan dan golgota, kita juga akan ikut serta dalam mendaki gunung transfigurasi, kebangkitan dan kenaikan-Nya.
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengapa Yesus harus tinggal di padang gurun selama 40 hari? Jawabannya tidak sulit. Dia mengulangi apa yang dilakukan orang Israel ketika mereka dibebaskan dari perbudakan Mesir. Orang Israel tinggal selama 40 tahun di padang gurun sebelum mereka memasuki tanah perjanjian. Namun, ada satu hal lagi! Markus memberi kita detail kecil namun penting: di padang gurun, Yesus tinggal bersama binatang-binatang. Kenapa demikian? Jika ada satu orang yang hidup bersama para binatang di dalam kitab suci, dia tidak lain adalah Adam. Yesus bukan hanya Israel baru yang menanggung kondisi keras padang gurun, tetapi juga Adam baru yang menghadapi serangan setan.
Penyakit kusta pada zaman Yesus tidak hanya mematikan secara fisik dan mental, tetapi juga melumpuhkan secara rohani. Kusta atau yang sekarang dikenal dengan penyakit Hansen adalah penyakit yang mengerikan karena tidak hanya membunuh orangnya secara perlahan, tetapi lambat laun akan merusak wujud dan melumpuhkan orang tersebut. Bakteri kusta menyebabkan kerusakan yang parah pada jaringan saraf sehingga orang tersebut tidak lagi dapat merasakan sensasi, terutama rasa sakit. Tanpa sensasi ini, orang tersebut gagal mengenali dan menghindari cedera pada tubuh. Kehilangan anggota tubuh seperti jari adalah hal yang biasa terjadi pada penderita kusta stadium lanjut.
Yesus tidak dapat dipisahkan dari pelayanan penyembuhan-Nya. Beberapa kisah kesembuhan merupakan kejadian yang luar biasa seperti kesembuhan seorang wanita dengan pendarahan dan juga anak perempuan Jarius [Markus 5: 321-43]. Penyembuhan ini adalah mujizat karena kasus-kasus yang dihadapi Yesus adalah hal-hal mustahil disembuhkan pada zaman-Nya. Sang wanita telah menderita pendarahan selama dua belas tahun tanpa harapan, dan putri Jarius sebenarnya sudah meninggal. Di sisi lain, Yesus tidak hanya menyembuhkan orang yang sakit parah, tapi juga mereka yang sakitnya tergolong tidak membahayakan.
Yesus melakukan pengusiran setan atau eksorsisme pertama-Nya dalam Injil Markus. Membaca konteksnya, kita menemukan bahwa Yesus sedang mengajar di sinagoga dan orang-orang mengenali Dia mengajar dengan otoritas. Ketika Yesus mengajar dengan otoritas, ini tidak hanya berarti Dia berkhotbah dengan kefasihan dan krisma, tetapi ajaran-Nya dimanifestasikan dalam tanda-tanda yang nyata dan menakjubkan, seperti penyembuhan dan pengusiran setan.
Kita mendengarkan kisah panggilan murid-murid pertama: Simon dan Andreas, juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus. Yesus memanggil mereka dan Dia akan menjadikan mereka ‘penjala manusia’. Namun, dari berbagai profesi dan pekerjaan yang tak terhitung jumlahnya, mengapa mereka harus menjadi ‘penjala manusia’? Mengapa tidak jadi tim promosi Yesus? Mengapa bukan tentara Yesus?
Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai ‘Anak Domba Allah.’ Jika kita menghadiri perayaan Ekaristi, kita akan selalu mendengar ungkapan ini. Tepat sebelum komuni, imam akan memegang roti dan anggur yang telah dikonsekrir, dan memperlihatkan kepada kita semua, lalu berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Dia yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya!”
Baptisan Tuhan adalah salah satu momen yang menentukan dalam hidup Yesus. Injil sinoptik [Matius, Markus dan Lukas] menulis peristiwa ini, meskipun dengan perspektif dan penekanan yang berbeda. Karena kita berada di tahun liturgi B, kita mendengarkan dari Injil Markus. Versi Markus memang terlihat paling pendek, tetapi bukan berarti tidak menyampaikan pesan yang mendalam. Pembaptisan Yesus di sungai Yordan adalah titik balik dalam kehidupan Yesus. Setelah ini Yesus akan berada di padang gurun selama 40 hari dan dicobai oleh iblis. Kemudian, dari sini, Yesus akan memulai pelayanan publik-Nya, dan bergerak menuju Yerusalem, menuju Salib, Kematian dan Kebangkitan.
Masa Natal diakhiri dengan hari raya Penampakan Tuhan Yesus atau juga dikenal sebagai Pesta Tiga Raja. Namun, jika kita membaca Injil dengan cermat, kita akan menemukan bahwa orang yang mengunjungi Yesus adalah orang majus, dan kata ‘raja’ tidak digunakan untuk mendeskripsikan mereka. Injil Matius juga tidak menyebutkan berapa atau nama mereka. St. Matius hanya berbicara tentang tiga hadiah yang dipersembahkan: emas, kemenyan dan mur.
Kita merayakan pesta Keluarga Kudus, namun kita tidak hanya merayakan keluarga Yesus, Maria dan Yusuf, tetapi setiap keluarga di dunia. Melalui perayaan liturgi hari ini, Gereja mengundang kita untuk menyadari pentingnya dan berharganya keluarga kita. Tidak hanya menghargai nilai dasar keluarga, kita diundang untuk merangkul dan merayakan kehidupan keluarga.