Minggu Kelima dalam Masa Biasa [B]
7 Februari 2021
Markus 1: 29-39
Yesus tidak dapat dipisahkan dari pelayanan penyembuhan-Nya. Beberapa kisah kesembuhan merupakan kejadian yang luar biasa seperti kesembuhan seorang wanita dengan pendarahan dan juga anak perempuan Jarius [Markus 5: 321-43]. Penyembuhan ini adalah mujizat karena kasus-kasus yang dihadapi Yesus adalah hal-hal mustahil disembuhkan pada zaman-Nya. Sang wanita telah menderita pendarahan selama dua belas tahun tanpa harapan, dan putri Jarius sebenarnya sudah meninggal. Di sisi lain, Yesus tidak hanya menyembuhkan orang yang sakit parah, tapi juga mereka yang sakitnya tergolong tidak membahayakan.
Yesus ada di rumah Simon, dan Dia melihat bahwa ibu mertua Simon sedang demam. Demam adalah gejala yang biasanya terjadi karena adanya infeksi, bisa karena flu biasa hingga covid-19. Dalam kasus ibu mertua Simon, kita dapat berasumsi bahwa dia mengalami penyakit yang sebenarnya tidak berat. Dengan istirahat dan obat yang tepat, sang ibu mertua akan kembali beraktivitas dengan normal. Namun, walaupun sakitnya tergolong tidak membahayakan dan bahkan tanpa permintaan khusus dari sang wanita, Yesus memutuskan untuk menyembuhkannya. Yesus memahami bahwa penyakit, entah seberapa kecilnya, tetap sebuah hal yang tidak tepat bagi hidup kita. Menjadi orang yang sehat adalah rencana Tuhan bagi kita.
Jika kita melihat hidup kita, kita dengan mudah menyadari bahwa sakit adalah bagian dari hidup kita. Penyakit selalu menjadi pengingat bahwa tubuh kita terbatas dan rapuh. Memang, kita memiliki sistem kekebalan, tetapi seringkali perlindungan alami ini tidak cukup. Dengan pandemi yang disebabkan oleh Covid-19, kita menyadari bahwa manusia tidak sekuat yang kita pikirkan. Saat kita berjuang untuk menemukan berbagai obat dan alat-alat kesehatan, virus, bakteri, dan penyebab penyakit lainnya juga berkembang dan semakin mematikan. Penyakit menyebabkan rasa sakit dan penderitaan, dan kelemahan ini mengingatkan kita pada kematian kita. Namun, terlepas dari realisasi ini, jauh di lubuk hati, kita tahu bahwa penyakit ini adalah sesuatu yang tidak wajar, sebuah kekurangan, bukan kesempurnaan. Kita ingin sehat, kita berjuang untuk menjadi sehat dan hanya dengan sehat, kita dapat mencapai potensi kita sebagai manusia.
Inilah alasan mengapa kita pergi ke dokter jika kita sakit, kita melakukan olahraga lain, dan kita menjalani gaya hidup sehat. Inilah alasan yang sama yang dicari orang dengan karunia kesembuhan. Ini adalah alasan yang sama mengapa banyak orang ingin disembuhkan Yesus.
Kita mungkin bertanya, mengapa Yesus tidak menyembuhkan kita semua? Jawabannya tidak mudah, tetapi kita dapat mengatakan bahwa Yesus pertama-tama datang untuk menyembuhkan hubungan kita yang rusak dengan Allah Bapa. Dia menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, sebuah penyakit rohani. Kesembuhan ragawi adalah tanda-tanda penebusan ini. Bahkan dalam misteri penyelenggaraan-Nya, Tuhan dapat menggunakan penyakit dan penderitaan kita untuk membuat kita semakin dekat secara rohani dengan-Nya. Kita bisa belajar dari para kudus.
St. Dominikus de Guzman dikenal melakukan mati raga yang sangat berat. Seorang saksi mata mengatakan bahwa tali rantai diikat erat-erat di pahanya dan baru dilepas ketika dia meninggal. Mortifikasi atau mati raga adalah salah satu cara favorit orang-orang kudus untuk mencari Tuhan. Mereka tidak ingin tubuh mereka yang sehat menjadi penghalang untuk mencari Tuhan. Sementara itu, Beato Carlo Acutis yang sakit leukemia, penyakit yang sangat menyakitkan yang akhirnya merenggut nyawanya, mempersembahkan penderitaannya kepada Tuhan. Dia berkata, “Saya mempersembahkan semua penderitaan yang harus saya derita untuk Tuhan, untuk Paus, dan Gereja”
Yesus memberi kita kesembuhan bagi jiwa dan raga kita. Namun, dalam misteri penyelenggaraan-Nya, kelemahan tubuh kitapun dapat membawa kita lebih dekat kepada Tuhan.
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
photocredit: Jonathan-borba

Yesus melakukan pengusiran setan atau eksorsisme pertama-Nya dalam Injil Markus. Membaca konteksnya, kita menemukan bahwa Yesus sedang mengajar di sinagoga dan orang-orang mengenali Dia mengajar dengan otoritas. Ketika Yesus mengajar dengan otoritas, ini tidak hanya berarti Dia berkhotbah dengan kefasihan dan krisma, tetapi ajaran-Nya dimanifestasikan dalam tanda-tanda yang nyata dan menakjubkan, seperti penyembuhan dan pengusiran setan.
Kita mendengarkan kisah panggilan murid-murid pertama: Simon dan Andreas, juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus. Yesus memanggil mereka dan Dia akan menjadikan mereka ‘penjala manusia’. Namun, dari berbagai profesi dan pekerjaan yang tak terhitung jumlahnya, mengapa mereka harus menjadi ‘penjala manusia’? Mengapa tidak jadi tim promosi Yesus? Mengapa bukan tentara Yesus?
Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai ‘Anak Domba Allah.’ Jika kita menghadiri perayaan Ekaristi, kita akan selalu mendengar ungkapan ini. Tepat sebelum komuni, imam akan memegang roti dan anggur yang telah dikonsekrir, dan memperlihatkan kepada kita semua, lalu berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Dia yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya!”
Baptisan Tuhan adalah salah satu momen yang menentukan dalam hidup Yesus. Injil sinoptik [Matius, Markus dan Lukas] menulis peristiwa ini, meskipun dengan perspektif dan penekanan yang berbeda. Karena kita berada di tahun liturgi B, kita mendengarkan dari Injil Markus. Versi Markus memang terlihat paling pendek, tetapi bukan berarti tidak menyampaikan pesan yang mendalam. Pembaptisan Yesus di sungai Yordan adalah titik balik dalam kehidupan Yesus. Setelah ini Yesus akan berada di padang gurun selama 40 hari dan dicobai oleh iblis. Kemudian, dari sini, Yesus akan memulai pelayanan publik-Nya, dan bergerak menuju Yerusalem, menuju Salib, Kematian dan Kebangkitan.
Masa Natal diakhiri dengan hari raya Penampakan Tuhan Yesus atau juga dikenal sebagai Pesta Tiga Raja. Namun, jika kita membaca Injil dengan cermat, kita akan menemukan bahwa orang yang mengunjungi Yesus adalah orang majus, dan kata ‘raja’ tidak digunakan untuk mendeskripsikan mereka. Injil Matius juga tidak menyebutkan berapa atau nama mereka. St. Matius hanya berbicara tentang tiga hadiah yang dipersembahkan: emas, kemenyan dan mur.
Kita merayakan pesta Keluarga Kudus, namun kita tidak hanya merayakan keluarga Yesus, Maria dan Yusuf, tetapi setiap keluarga di dunia. Melalui perayaan liturgi hari ini, Gereja mengundang kita untuk menyadari pentingnya dan berharganya keluarga kita. Tidak hanya menghargai nilai dasar keluarga, kita diundang untuk merangkul dan merayakan kehidupan keluarga.
Natal adalah salah satu masa terindah dan menggembirakan. Natal adalah waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan para sahabat, dan juga bertukar hadiah. Natal adalah waktu memasang pohon Natal, merancang Gua Natal, dan memutar lagu-lagu Natal. Pastinya, Natal adalah saat keluarga pergi ke gereja bersama-sama.
Natal semakin dekat dan Gereja mengundang kita sekali lagi untuk merenungkan kisah Kabar Sukacita. Izinkan saya untuk sekali lagi fokus pada “Fiat” atau jawaban Ya Perawan Maria [Fiat sendiri berasal dari bahasa Latin, artinya “terjadilah”]. Untuk mengerti lebih dalam jawaban Maria atas kehendak dan rencana Tuhan, kita perlu melihat setidaknya dua hal. Pertama, konteks sejarah dan sosialnya, dan kedua adalah analisis bahasa dari tanggapan Maria.
Minggu ini cukup istimewa. Kita masih dalam masa Adven, namun kita melihat warna liturgi yang berbeda. Itu adalah warna mawar atau merah muda. Warna indah ini melambangkan kegembiraan dan harapan, dan ini sejalan dengan semangat Minggu Adven ketiga, Minggu Gaudete. Gaudete adalah kata Latin yang berarti “Bersukacitalah!” Nama ini berakar pada introit atau antiphon pembukaan Misa, dari Filipi 4: 4-5, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat !” Dalam bacaan kedua, Santo Paulus mengulangi motif yang sama, “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. [1 Tesalonika 5:16]. ”