Minggu Ketujuh dalam Masa Biasa [A]
23 Februari 2020
Matius 5: 38-48
Di hati pengajaran Yesus di atas gunung adalah pembentukan hati. Namun, hati dalam Alkitab tidak terbatas pada sisi afektif atau emosi kita. Ini juga berarti pusat kapasitas intelektual dan kebebasan. Hati adalah pusat kehidupan itu sendiri, dan dengan demikian, mewakili totalitas seorang manusia.
Minggu lalu, Yesus mengatakan kepada kita untuk menyucikan hati kita dari pikiran jahat dan keinginan jahat [Mat 5: 17-37]. Tidaklah cukup untuk tidak melakukan kekerasan kepada orang lain, tetapi perlu untuk membersihkan hati kita dari kemarahan dan pembalasan. Tidaklah cukup untuk tidak melakukan perzinahan, tetapi kita diharuskan untuk menghapus dari hati kita nafsu birahi. Membentuk hati lebih mendasar daripada sekadar dan secara buta mengikuti hukum dan peraturan tertulis. Pembentukan hati adalah tentang membangun kebiasaan yang baik, dan karakter yang luhur. Orang yang berbudi luhur menghindari kejahatan, bukan karena takut akan hukum eksternal, tetapi motivasi yang kuat dari dalam.
Namun, dalam Injil hari ini, Yesus menuntut sesuatu yang lebih tinggi. Pemurnian hati hanyalah langkah pertama, dan kita perlu menuju ke langkah lain yang lebih sulit: untuk mengasihi. Hal ini justru lebih sulit karena kasih bukan hanya tentang menghilangkan hasrat yang tidak murni di hati kita atau mencegah kita dari melakukan kejahatan, tetapi hal ini tentang melakukan kebaikan secara aktif. Terlebih lagi, kasih [agape] ini hanya nyata dan bermakna jika kita berbuat baik, bukan dalam kondisi yang menguntungkan bagi kita, tetapi saat kita berhadapan dengan kejahatan dan penderitaan.
Sejak didirikan sekitar dua ribu tahun yang lalu, umat Kristiani tetap menjadi golongan yang paling teraniaya. Situs opendoorusa.org melaporkan bahwa sejumlah penganiayaan dan kekerasan terhadap umat Kristiani terus meningkat. Pada tahun 2019, lebih dari 260 juta umat Kristiani [satu dari sembilan umat Kristiani di dunia] tinggal di tempat-tempat di mana mereka mengalami penganiayaan tingkat tinggi. Hampir 3 ribu umat Kristiani terbunuh karena iman mereka. Lebih dari 9 ribu gereja dan bangunan milik umat Kristiani seperti sekolah diserang. Di Nigeria, para imam dan seminaris diculik dan disiksa. Beberapa beruntung kembali hidup, tetapi banyak yang ditemukan mati. Di Cina, pemerintah melakukan penumpasan nasional terhadap umat Kristiani dan menutup gereja-gereja. Di Indonesia, segalanya lebih baik bagi umat Kristiani karena hak-hak kami dilindungi dalam undang-undang dasar. Namun, di akar rumput, kami terus merasa didiskriminasi dan takut menjadi sasaran para ekstremis dan teroris.
Nasib kita sebagai umat Kristiani tidak lebih baik daripada saudara-saudari kita yang menjadi anggota Gereja perdana. Namun, sebagai saudara dan saudari kita di masa lalu, misi kita tetap sama: untuk mengasihi musuh kita, untuk menanggapi kejahatan dengan kemurahan hati yang besar, dan bersiap untuk memperjuangkan keadilan dengan kelembutan. Umat Kristiani dituduh sebagai orang lemah, tetapi ini jelas salah. Dunia yang dibangun oleh kekerasan dan kepahitan akan hancur dengan sendirinya, dan kecuali kita berani menjadi pengikut Kristus yang sejati, kita tidak dapat menghentikan arus menuju kehancuran total. Kita bersyukur kepada para pendahulu kita yang menolak untuk dikendalikan oleh kemarahan meskipun begitu banyak kejahatan yang harus mereka tanggung. Dunia adalah tempat yang jauh lebih baik dengan orang-orang berhati murni. St Tertullianus percaya bahwa darah para martir adalah benih Gereja, dan kita percaya juga bahwa kasih umat Kristiani adalah benih dunia yang lebih baik.
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus is accused of unfaithful to the Law of Moses and the traditions of the elders. He no longer requires His disciples to performs ceremonial washings and many traditions of the elders [Mat 15:2]. Jesus heals people even during the Sabbath [Mark 3:1-6]. Jesus declares that all food is clean [Mark 7:19]. The worst part is when Jesus commands His disciples to drink His blood [see Lev 17:14; Mat 26:27-28]. Is Jesus breaking and changing the Law of Moses?
Yesus dituduh tidak setia dengan Hukum Musa dan tradisi. Dia tidak lagi meminta murid-murid-Nya untuk melakukan ritual pembasuhan, dan banyak tradisi lain [Mat 15: 2]. Yesus menyembuhkan orang bahkan pada hari Sabat [Markus 3: 1-6]. Yesus menyatakan bahwa semua makanan halal [Markus 7:19]. Dan yang paling parah adalah ketika Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk minum darah-Nya [lihat Im 17:14; Mat 26: 27-28]. Apakah Yesus melanggar dan mengubah Hukum Musa?
Reading carefully, we may wonder, “Is it possible if the salt loses it, saltiness?” In everyday experience, we never experience tasteless salt. However, when we go back to the time of Jesus, we will be surprised that a salt losing its taste is a daily reality. In ancient Israel, the people would go to the Dead Sea, the saltiest body of water on earth, and gathered the “pillar of salt” formed surrounding the lake. Then, they would put inside a small bag, like a teabag”, and when it was needed for seasoning, the bag would be dipped into the water or soup. After some repeated use, the salt would lose its saltiness due to the chemical impurities. It turned to be nothing but an ordinary pebble, and shall be thrown away and trampled underfoot.
Membaca dengan teliti, kita mungkin bertanya-tanya, “Apakah mungkin jika garam kehilangan rasa asinnya?” Dalam pengalaman sehari-hari, kita tidak pernah menemukan garam yang hambar. Namun, ketika kita kembali ke zaman Yesus, kita akan terkejut bahwa garam yang kehilangan rasanya adalah kenyataan sehari-hari. Di Israel kuno, orang-orang akan pergi ke Laut Mati, laut yang memiliki kadar garam paling tinggi di bumi, dan mengambil bongkahan-bongkahan garam yang terbentuk di sekitar danau. Kemudian, mereka akan dimasukkan ke dalam kantong kecil, seperti kantong teh, dan ketika dibutuhkan untuk bumbu, kantong itu akan dicelupkan ke dalam air atau sup. Setelah digunakan berulang-ulang, garam akan kehilangan rasa asinnya karena kandungan kimia yang tidak sempurna. Bongkahan garam pun berubah menjadi batu biasa, dan akan dibuang dan diinjak-injak.
If we are given a chance to choose our parents, what kind of parents will be our choice? Perhaps, some will prefer billionaire parents so that we can sing like Bruno Mars, “I wanna be a billionaire… Buy all of the things I never had… I wanna be on the cover of Forbes magazine, and Smiling next to Oprah and the Queen.” Perhaps some of us want to become the children of a king. So, royal blood is flowing through our vein, and people call us as a prince, princess, or royal highness. Perhaps, we want to be born from Korean megastars, because we want to become the prettiest or the most handsome.
Jika kita diberi kesempatan untuk memilih orang tua kita sendiri, orang tua ideal seperti apa yang akan menjadi pilihan kita? Mungkin, beberapa akan lebih suka orang tua miliarder, supaya hidup terjamin, mendapatkan Pendidikan terbaik, dan masa depan cerah. Mungkin sebagian dari kita ingin menjadi anak-anak raja. Jadi, memiliki darah ningrat, dan orang-orang memanggil kita sebagai pangeran, puteri atau bangsawan. Mungkin kita ingin dilahirkan dari megabintang Korea, karena kita ingin menjadi yang tercantik atau paling tampan.
After the arrest of John the Baptist, Jesus begins His public ministry. Jesus left Nazareth, His hometown, and moved to a more crowded and bigger town, Capernaum. Crudely speaking, Jesus did urbanization. This strategic move of Jesus was to support His mission. With a dense population and with better access to neighboring towns, Jesus could minister to more people in a more efficient way.
Setelah penangkapan Yohanes Pembaptis, Yesus memulai pelayanan publik-Nya. Yesus meninggalkan Nazaret, kampung halamannya, dan pindah ke kota yang lebih ramai dan lebih besar, Kapernaum. Sebenarnya, Yesus melakukan urbanisasi. Langkah strategis Yesus ini tentu saja untuk mendukung misi-Nya. Dengan populasi yang padat dan dengan akses yang lebih baik ke kota-kota lain, Yesus dapat melayani lebih banyak orang dengan cara yang lebih efisien.
We begin the ordinary time of the liturgical year. In the Church, we have three cycles of the liturgical year: A, B, and C. every year, we have a different set of readings. In year A, the Gospel readings are mainly from the Gospel of Matthew, meanwhile, year B is from Mark and year C is from Luke. The Gospel of John does not have its separate year, but the readings from John are scattered through the years, especially in the Easter season.