Mengabaikan Yesus

Minggu Kedua dari Masa Biasa [A]

19 Januari 2020

Yohanes 1: 29-34

joseph marie lagrangeKita memulai masa biasa pada tahun liturgi ini. Di Gereja Katolik, kita memiliki tiga siklus tahun liturgi: A, B, dan C. Di setiap tahun, kita memiliki serangkaian bacaan yang berbeda. Pada tahun A, bacaan Injil terutama dari Injil Matius, sementara tahun B dari Markus dan tahun C dari Lukas. Injil Yohanes tidak memiliki tahun yang khusus, tetapi bacaan dari Yohanes tersebar di sepanjang tahun, terutama di masa Paskah.

Bacaan pertama biasanya diambil dari Perjanjian Lama dan secara tematis terkait dengan bacaan Injil. Sementara bacaan kedua berasal dari surat-surat para rasul seperti St. Petrus, St. Yohanes dan surat kepada orang-orang Ibrani, namun mayoritas bacaan kedua berasal dari surat-surat St. Paul. Bacaan kedua memiliki urutannya sendiri dan tidak harus secara tematis terkait dengan Injil. Alasan di balik mengapa kita memiliki pengaturan liturgi semacam ini adalah untuk membantu kita untuk membaca Kitab Suci bersama dengan Gereja. Jika kita dengan setia menghadiri misa setiap hari Minggu, atau bahkan setiap hari, dan memperhatikan bacaan, kita akan memiliki pemahaman umum yang baik tentang Kitab Suci dan khususnya kehidupan dan karya Yesus.

Namun, tidak semua Alkitab ada dalam tahun liturgi ini. Jika kita pergi setiap hari untuk berpartisipasi dalam Ekaristi selama tiga tahun, kita hanya mendengarkan sekitar 30 persen dari Alkitab. Kita masih memiliki 70 persen untuk menyelesaikan Alkitab! Karena itu, sangat disarankan agar kita mengambil inisiatif untuk membaca Alkitab sendiri. Tiga hingga empat bab sehari, dan semoga, dalam waktu satu tahun, kita dapat membaca seluruh Alkitab.

Salah satu “penyakit berat” yang menjakiti umat Katolik dewasa ini adalah ketidaktahuan akan Kitab Suci. Ketika saya bertanya kepada beberapa orang Katolik apakah mereka memiliki Alkitab, mereka dengan mantab menjawab bahwa mereka memiliki Alkitab, dan pada kenyataannya, mereka memiliki lebih dari satu Alkitab di rumah. Namun, ketika saya menanyakan apakah mereka membaca Alkitab secara teratur, hanya sedikit yang akan menjawab dengan yakin.

Tugas membaca Alkitab semakin sulit di zaman kita karena generasi muda atau genarasi milenial dan generasi Z, meskipun berpendidikan tinggi, lebih suka bermain gadget elektronik daripada membaca buku. Ya, sekarang mudah untuk menginstal Alkitab di ponsel kita, tetapi meluangkan waktu untuk membacanya adalah hal lain. Dengan begitu banyak aplikasi lain yang bersaing dalam perangkat genggam kita, membaca Firman Tuhan dengan mudah dikesampingkan, dan bahkan kadang-kadang kita lupa ada Kitab Suci di HP kita.

St. Heronimus mengingatkan kita bahwa mengabaikan Kitab Suci adalah sama saja dengan mengabaikan Kristus. Memang, sangat mudah untuk mengatakan “Aku cinta Yesus”, tetapi dalam kenyataannya, kita mengabaikan Dia karena kita tidak pernah membaca atau mendengarkan dengan penuh perhatian Kitab Suci. Santo Paulus di awal surat pertamanya kepada jemaat Korintus mengingatkan kita bahwa kita dipanggil untuk orang-orang kudus. Dan kekudusan bagi Paulus tidak lain adalah hidup di dalam Kristus, tetapi bagaimana kita dapat hidup di dalam Kristus, jika kita tidak mengenal Kristus, lebih buruk mengabaikannya? Membaca Alkitab setiap hari dapat menjadi tindakan sederhana namun konkret untuk mengasihi Yesus, dan pada kenyataannya, jalan menuju kekudusan saat kita menjadi semakin mirip Kristus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Why Jesus Has to be Baptized

Baptism of The Lord [A] – January 12, 2020 – Mat 3:13-17

baptism of the lord 2One question that always baffles attentive readers of the Scriptures is that why should Jesus be baptized by John the Baptist? John himself proclaimed that his baptism is a sign of repentance. Those who are baptized by John must first acknowledge their sinfulness and unworthiness, and baptism of water becomes the visible token of turning away from sins and promise of a new and better life. Yet, we all know that Jesus is sinless [Heb 4:15; 1 Pet 2:22]. Does it mean Jesus is sinful? Is John the Baptist greater than Jesus?

The Gospel of Matthew has pointed out clearly that John the Baptist is not worthy to baptize Jesus and he is in need of Jesus’ baptism. It is Jesus Himself who insists to be baptized by John. Why? Jesus told John, “to fulfill all righteousness.” These words of Jesus certainly difficult to understand, and many theologians have come up with different interpretations to understand better Jesus’ actions and words in this baptism.

 St. Augustine of Hippo, one of the greatest Fathers of the Church, told us in his sermon, “The Savior willed to be baptized not that He might Himself be cleansed, but to cleanse the water for us.” St. Augustine pointed to us that Jesus entering the water as to prepare the sacrament of baptism, and so everyone who is baptized in the name of Trinity will receive the grace of forgiveness and new life. Meanwhile Catechism of the Catholic Church notes that Jesus’ submission to John’s baptism is an act of self-emptying [CCC 1224].

However, Pope Emeritus Benedict XVI has exposed some interesting in his book, Jesus of Nazareth, that Jesus applied the word “baptism” also to His Passion, Death, and Resurrection [see Mrk 10:38; Luk 12:50]. From here, we discover that Jesus’ insistence to be baptized by John because Jesus’ baptism turns to be a symbolic act of His Cross. As Jesus needs to be baptized, so He shall pass through suffering and death as to reach resurrection and bring salvation for all. From the moment of the baptism in the Jordan, Jesus has set His foot to Calvary.

In the Scriptures, righteousness is being faithful to the Convent, and God as the most righteous fulfills His covenant by saving His people (Deut 32:4; Is 5:16; 42:6). Now, Jesus fulfills that same “righteousness” with a perfect and definitive way by His Cross and Resurrection.

So, what all these biblical and theological stuff are for us?  As we know deeper the meaning of the Baptism of the Lord, we shall also follow the footsteps of Jesus. If baptism means His way of the Cross, then all of us who have been baptized, whether as infants or adults, shall share in Jesus’ cross. We are lucky that we are living comfortably as Christians, but more many, to be Christians means discriminations, persecution, and even death. It may be shocking, but Christians remain the most persecuted people on the earth. For us who are more fortunate, we can manifest our baptism with living authentically as disciples of Christ: to be honest despite the possibility of losing earthly gains, to be loving despite many sufferings, and to be honest despite living without fame.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengapa Yesus Harus Dibaptis

Pembaptisan Tuhan [A] – 12 Januari 2020 – Mat 3: 13-17

baptism of the lordSatu pertanyaan yang selalu membingungkan para pembaca Kitab Suci adalah mengapa Yesus harus dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis? Yohanes sendiri menyatakan bahwa baptisannya adalah tanda pertobatan. Mereka yang dibaptiskan oleh Yohanes harus terlebih dahulu mengakui keberdosaan dan ketidaklayakan mereka, dan baptisan air menjadi tanda nyata berpaling dari dosa dan memulai kehidupan yang baru dan lebih baik. Namun, kita semua tahu bahwa Yesus tidak berdosa [lih. Ibr 4:15; 1 Pet 2:22]. Apakah ini berarti Yesus berdosa? Apakah Yohanes Pembaptis lebih besar dari Yesus?

Injil Matius telah menunjukkan dengan jelas bahwa Yohanes Pembaptis tidak layak untuk membaptiskan Yesus dan ialah membutuhkan baptisan Yesus. Namun, Yesus sendiri yang bersikeras untuk dibaptiskan oleh Yohanes. Mengapa? Yesus memberi tahu Yohanes, “untuk menggenapi semua kebenaran.” Kata-kata Yesus ini tentu sulit untuk dipahami, dan banyak teolog muncul dengan tafsiran yang berbeda untuk memahami tindakan dan kata-kata Yesus dalam baptisan ini.

 St Agustinus dari Hippo, salah seorang Bapa Gereja terbesar, mengatakan kepada kita dalam khotbahnya, “Juruselamat ingin dibaptis bukan agar Dia sendiri dapat dibersihkan, tetapi untuk menyucikan air bagi kita.” Santo Agustinus menunjuk kepada kita bahwa Yesus memasuki air untuk mempersiapkan sakramen baptis sehingga setiap orang yang dibaptis dalam nama Tritunggal akan menerima rahmat pengampunan dan kehidupan baru. Sementara itu Katekismus Gereja Katolik mencatat bahwa penyerahan Yesus kepada baptisan Yohanes adalah tindakan pengosongan diri [CCC 1224].

Namun, Paus Emeritus Benediktus XVI telah mengungkap beberapa yang menarik dalam bukunya, Jesus of Nazareth, bahwa Yesus menerapkan kata “baptisan” juga untuk Sengsara, Kematian, dan Kebangkitan-Nya [lihat Mrk 10:38; Luk 12:50]. Dari sini, kita menemukan bahwa keinginan Yesus untuk dibaptiskan oleh Yohanes karena pembaptisan Yesus menjadi tindakan simbolis dari Salib-Nya. Sebagaimana Yesus perlu dibaptis, maka Ia perlu melalui penderitaan dan kematian untuk mencapai kebangkitan dan membawa keselamatan bagi semua. Dari saat pembaptisan di sungai Yordan, Yesus telah menginjakkan kaki menuju Kalvari.

Jadi, apa arti semua diskusi alkitabiah dan teologis bagi kita? Semakin dalam kita mengerti arti Pembaptisan Tuhan, kita juga akan semakin dalam mengerti arti pembaptisan kita juga. Jika baptisan berarti jalan Salib-Nya, maka kita semua yang telah dibaptis, baik saat bayi atau dewasa, akan ambil bagian dalam salib Yesus. Kita beruntung bahwa kita hidup dengan nyaman sebagai umat Kristiani, tetapi bagi banyak orang, menjadi umat Kristiani berarti mengalami diskriminasi, penganiayaan, dan bahkan kematian. Ini mungkin mengejutkan, tetapi umat Kristiani tetap menjadi orang yang paling teraniaya di dunia. Bagi kita yang lebih beruntung, kita dapat memanifestasikan baptisan kita dengan hidup secara otentik sebagai murid Kristus: menjadi jujur ​​meskipun ada kemungkinan kehilangan keuntungan duniawi, untuk terus mengasihi di tengah banyak penderitaan, dan untuk menjadi rendah hati ​​meskipun hidup tanpa ketenaran.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sincere Pilgrimage

The Solemnity of the Epiphany of the Lord – January 5, 2020 – Matthew 2:1-12

They were overjoyed at seeing the star (Mat 2:10

three magiThe journey of the three wise men from the East embodies the deepest human longing for a meaningful life and true happiness. Balthazar, Melchior and Gaspar, as the tradition called them, were neither Jews nor baptized Christians. In Greek ancient manuscripts of the Gospel, the word used to describe them is ‘magos’, meaning ‘someone with magical power’ or ‘magicians’, and practicing magic is detestable in the eyes of the Jews (2 Cro 33:6). Though we cannot be sure what kind of magic they crafted, but one thing is sure that they read the sign of times and followed the star. Because of this, they were instantaneously accused as one of those astrologers, star-readers who predict the human behaviors and the future, but I would argue that they were actually early astronomers instead astrologers. Like ordinary seamen who gazed the stars and hoped that they would guide them home, the magi did look at the star and believed that they would navigate their way to the true end.

They were people heatedly called the “Gentiles”; people who knew nothing about God and His mighty acts; and people who would fatefully perish because they were far from God’s Law. Yet, God always turns His eyes toward those who are sincerely looking for Him. They became one among the first persons to whom God chose to reveal Himself, and together with them were the simple shepherds. Surprisingly, these people were not learned Jews, wealthy aristocrats and definitely not King Herod the great.

The journey of the wise men is rightly considered as a pilgrimage for a very simple yet essential reason: they have God as their end. It was not a recreational picnic to reenergize oneself. It was never an educational tour to add up knowledge. Surely, it was not a business trip to make one richer. The Gospel tells us they was searching for the “newborn King of the Jews” and intending to pay homage. But, why did they have to give utmost respect to this weak baby whereas there were a lot of powerful kings around them? It was because they were aware that this King was not a typical warlord nor a power-addict politician, but a King that would answer their heart’s desire: the fullness of life and true wisdom. They indeed looked for God Himself and this made them truly wise.

Deep inside us, there is always yearning for real happiness and genuine completeness. Yet, we are often like Herod the Great who boxed himself in his own man-made palace and we seek the answer within ourselves, in richness, power and bodily pleasure. This brings us nothing but frustration and emptiness. The pilgrimage of the three wise men from the east should be ours as well. The three magi give us an authentic example by looking the answer not in ourselves but in God, and only in Him we may find our joy.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Perziarahan Sejati

Hari Raya Epiphani – 5 Januari 2020 – Matius 2:1-12

three magi 2Perjalanan tiga orang bijak dari Timur menjadi symbol dari kerinduan terdalam manusia untuk kehidupan yang bermakna dan kebahagiaan sejati. Balthazar, Melchior dan Gaspar, sebagaimana tradisi menyebut mereka, bukanlah orang Yahudi ataupun Kristiani. Dalam naskah kuno Yunani dari Injil, kata yang digunakan untuk mendeskripsikan mereka adalah ‘magos’, yang berarti ‘seseorang dengan kekuatan magis’ atau ‘penyihir’, dan melakukan magis/sihir adalah kejahatan di mata orang-orang Yahudi (2 Taw 33:6). Meskipun kita tidak bisa memastikan apakah mereka sungguh penyihir apa bukan, satu hal yang pasti bahwa mereka membaca tanda-tanda zaman dan mengikuti sang bintang. Karena itu, mereka sering dituduh sebagai astrolog, pembaca bintang untuk memprediksi perilaku manusia dan masa depan, hal yang dilarang banyak agama, tapi saya berpendapat bahwa mereka sebenarnya adalah astronom. Seperti pelaut yang menatap bintang-bintang dan berharap bahwa bintang-bintang ini akan membimbing mereka pulang, orang majus ini juga melihat bintang dan percaya bahwa mereka akan berjalan di jalan yang benar.

Mereka adalah orang-orang yang disebut sebagai “bangsa-bangsa lain” atau “kafir”, orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang Tuhan, dan orang-orang yang dipercaya akan binasa karena mereka jauh dari Hukum Allah. Namun, Tuhan tidak akan menutup mata-Nya terhadap mereka yang dengan tulus mencari Dia. Sungguh, tiga majus ini menjadi salah satu dari antara orang-orang pertama kepada siapa Allah memilih untuk menampakan diri-Nya, dan bersama-sama dengan mereka adalah para gembala sederhana. Anehnya, orang-orang istimewa ini bukanlah orang Yahudi yang terpelajar, bangsawan kaya raya ataupun Raja Herodes yang agung.

Perjalanan dari orang-orang bijak secara tepat bisa kita dianggap sebagai sebuah perziarahan karena mereka memiliki Tuhan sebagai tujuan akhir mereka. Ini bukanlah sekedar piknik untuk menyegarkan diri sendiri. Ini bukanlah wisata pendidikan untuk menambah pengetahuan. Tentunya, ini bukanlah perjalanan bisnis untuk membuat mereka kaya. Injil menyatakan bahwa mereka mencari “Raja orang Yahudi yang baru lahir” dan berniat untuk memberi penghormatan. Namun, mengapa mereka harus memberikan hormat kepada bayi yang lemah ini sementara ada banyak raja-raja yang lebih berkuasa di sekitar mereka? Hal ini karena mereka sadar bahwa Raja ini bukanlah seorang panglima perang maupun politisi yang haus akan kekuasaan, tapi Raja yang akan memenuhi keinginan hati: sebuah kepenuhan hidup dan kebijaksanaan sejati. Mereka memang mencari Allah dan ini membuat mereka benar-benar bijaksana.

Jauh di dalam lubuk hati kita, selalu ada kerinduan untuk kebahagiaan sejati dan kepenuhan yang sempurna. Namun, kita sering seperti Herodes Agung yang mengunci dirinya sendiri di dalam istana buatan manusia karena kita mencari jawaban dalam diri kita sendiri, dalam kekayaan, kekuasaan dan kenikmatan sesaat. Hal ini hanya membawa kita pada kekosongan dan frustasi. Perziarahan tiga orang bijak dari timur harus menjadi perziarahan kita juga. Tiga orang majus ini memberi kita contoh otentik dengan melihat jawabannya tidak dalam diri kita sendiri tetapi hanya kepada Allah, dan hanya kepada-Nya kita dapat menemukan sukacita kita sejati.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Not a Perfect Family

Feast of the Holy Family – December 29, 2019 – Matthew 2:13-23

If we were given the choice to choose our parents, what kind of parents would we like to have? Perhaps, some of us want to have rich parents. Some of us may desire to have beautiful or genius parents. Some of us may wish to be born in a royal and politically influential family. These are our usual dreams. Yet, surprisingly, these are not the options that God made when He chose His parents. In His beautiful wisdom, God selected Mary and Joseph of Nazareth.

Joseph was a descendant of acclaimed King David, but the Davidic Kingdom was the only thing of the past in the time of Joseph. He was also a carpenter and despite hardworking, this profession just gave enough to survive. Mary was an ordinary young woman from an unknown village called Nazareth. Joseph and Mary were simple if not poor people living within the time where most Israelites were suffering from the oppression of the Roman empire. In the eyes of the world, this couple was nothing.

However, our God is the God of surprises, and He has a hobby to upset “the established world’s order.” For God, the crucial criteria to be His parents are not wealth, popularity, or noble line. God has no need of these things. So, what is the basis of His choice?

The fundamental criterium is faith in God. Joseph and Mary possessed nothing of this world, but both are the man and woman of faith, or the man and woman of God. Joseph was called as the “righteous man,” meaning he was a man who knew the Torah by heart and obeyed them faithfully. Joseph loved God and His laws. Moreover, when Gabriel appeared to Joseph and revealed the plan of God, Joseph immediately got up and followed Angel’s instruction without any question asked. Mary did basically the same thing. When Gabriel told her about God’s plan that she would be the mother of God, Mary did not understand, but she did not simply give her nod, but she accepted God’s design as her own. Joseph and Mary knew well that the moment they participated in God’s way, they had to surrender their own plans, dreams, and hopes. Their lives were practically thrown into the unknown. Yet, their faith is bigger than their fear or pride, and they believed that God’s way is always the best way. These are the kind of parents whom God chose.

Like Joseph and Mary, I do believe that the first attitude that any parents have is faith in God. Every child is a gift, yet this gift will challenge and change the parents who receive them. As a child enters the life of their parents, husband and wife shall also enter the life of sacrifice. Sometimes, I am sudden by the decision of some Catholic couples who refuse to have children. We understand that it is difficult to raise children, but our refusal to accept a gift from God might point to our lack of faith, even to our selfishness, our obsessiveness to our plans, career, and ambitions.

God does not need a perfect couple to raise His Son, He rather chooses a man and woman of faith.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bukan Keluarga Sempurna

Pesta Keluarga Kudus –  29 Desember 2019 – Matius 2: 13-23

holy family 2Jika kita diberi pilihan untuk memilih orang tua kita, orang tua seperti apa yang kita inginkan? Mungkin, sebagian dari kita ingin memiliki orang tua yang kaya. Beberapa dari kita mungkin berhasrat untuk memiliki orang tua yang berupa cantik, tampan atau berotak jenius. Beberapa dari kita mungkin ingin dilahirkan dalam keluarga kerajaan dan berpengaruh secara politis. Ini adalah impian-impian kita yang sangat wajar. Namun, yang mengejutkan, ini bukanlah pilihan yang Allah buat ketika Dia memilih orang tua-Nya. Dalam kebijaksanaan-Nya yang indah, Allah memilih Maria dan Yusuf dari Nazaret.

Yusuf adalah keturunan Raja Daud yang terkenal, tetapi Kerajaan Daud sudah tidak ada di zaman Yusuf. Dia juga seorang tukang kayu dan meskipun bekerja keras, profesi ini hanya cukup untuk bertahan hidup. Maria adalah seorang wanita muda biasa dari desa yang tidak dikenal bernama Nazareth. Yusuf dan Maria adalah orang sederhana, bahkan orang miskin yang hidup di masa ketika sebagian besar orang Israel menderita karena penindasan kekaisaran Romawi. Di mata dunia, pasangan ini bukan apa-apa.

Namun, Tuhan kita adalah Tuhan memberi kejutan, dan Dia memiliki hobi untuk mengacaukan “tatanan dunia yang mapan.” Bagi Tuhan, kriteria penting untuk menjadi orang tua-Nya bukanlah kekayaan, popularitas, atau darah. Tuhan tidak membutuhkan hal-hal ini. Jadi, apa dasar dari pilihan-Nya?

Kriteria mendasar adalah iman kepada Tuhan. Yusuf dan Maria tidak memiliki apa pun di dunia ini, tetapi keduanya adalah pria dan wanita beriman, atau pria dan wanita Allah. Yusuf disebut sebagai “orang yang tulus hati,” yang berarti dia adalah orang yang mengenal Hukum Taurat dan menaati mereka dengan setia. Yusuf mencintai Tuhan dan hukum-hukum-Nya. Terlebih lagi, ketika Gabriel menampakkan diri kepada Yusuf dan mengungkapkan rencana Tuhan, Yusuf segera bangkit dan mengikuti instruksi Malaikat tanpa ada pertanyaan. Maria pada dasarnya melakukan hal yang sama. Ketika Gabriel memberi tahu dia tentang rencana Tuhan bahwa dia akan menjadi ibu Tuhan, Maria tidak mengerti, tetapi dia tidak hanya memberikan persetujuannya, tetapi dia menerima rancangan Tuhan sebagai miliknya sendiri. Yusuf dan Maria tahu betul bahwa saat mereka mengambil bagian dalam jalan Tuhan, mereka harus menyerahkan rencana, impian, dan harapan mereka sendiri. Namun, iman mereka lebih besar daripada ketakutan atau kesombongan mereka, dan mereka percaya bahwa jalan Tuhan selalu merupakan jalan terbaik, meski mereka tidak mengerti. Ini adalah tipe orang tua yang Tuhan pilih.

Seperti Yusuf dan Maria, saya percaya bahwa sikap pertama yang harus dimiliki setiap orang tua adalah iman kepada Tuhan. Setiap anak adalah karunia, namun karunia ini akan mengubah orang tua yang menerimanya. Ketika seorang anak memasuki kehidupan orang tua mereka, suami dan istri juga akan memasuki kehidupan pengorbanan. Terkadang, saya sedih mendengar keputusan beberapa pasangan Katolik yang menolak untuk memiliki anak. Kita memahami bahwa tentunya sulit untuk membesarkan anak-anak, tetapi penolakan kita untuk menerima karunia dari Tuhan mungkin menunjukkan kurangnya iman kita, bahkan keegoisan kita, obsesi kita terhadap rencana, karier, dan ambisi kita.

Tuhan tidak membutuhkan pasangan yang sempurna untuk membesarkan Putranya, Ia lebih memilih seorang pria dan wanita yang memiliki iman.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Beauty of Christmas

Christmas Vigil – December 24, 2019 – Luke 2:1-14

nativity scene 1Today is Christmas, the day of Jesus was born in Bethlehem, and it is a traditional practice that in every Church or Christian family, there is a nativity scene. Usually, the baby Jesus was born in a kind of stable or shed, and He was placed on the wooden manger (a place where animals eat). Surely, Mary and Joseph are intently watching on the Baby, while other animals like sheep and cows become the silent witnesses of this most beautiful moment in human history. The scene will not be complete without the shepherds and the angel.

The nativity scene is indeed beautiful and always remains us of the simplicity of Christmas that we often miss.

However, if we go back to the time of Joseph and Mary, to first-century Palestine, we will discover a slightly different yet have a deeper meaning. Most probably, Joseph and Mary were not resting in a wooden stable, but inside a stone cave since this is a common feature in hill country Judea. Inside the stone cave is warm and sometimes spacious, and the shepherds use them as a safe and warm shelter for their sheep at night. The mangers provided for sheep were not made of wood, but stone. Sometimes, we see Baby Jesus half-naked on the manger, but Luke describes that Jesus was wrapped in a swaddling cloth. It is normal practice that a new-born baby will be cleansed, and then be enclosed by the cloth to keep the baby warm, protected and comfortable.

We discover that Jesus was born in a stone cave, rested on a stone manger and swaddled in cloth. These three things point to an even greater reality in the life of Christ: His death and resurrection. After the crucifixion, his body was enclosed in cloth, put inside the cave tomb, and rested on the large stone. Yet, it is also the same stone tomb where Jesus rose from death. From the very beginning of Jesus’ life here on earth, His destiny has been foretold: by His death and resurrection, He will save us.

However, there is something even more remarkable. Jesus was placed on a manger, and a manger is none other than a place for animal’s feed. From the beginning, Jesus is already presented to us as a food that will satisfy those who come to Him. Then, what “kind of food” is He? It is not a coincidence that Jesus was born in Bethlehem. The word Bethlehem comes from two Hebrew words: “Beth” meaning “house” and “Lehem” meaning “bread”; thus, Bethlehem is a house of bread. Jesus is given to us as bread, and indeed, Jesus calls Himself as the bread of life [Jn 6:35]. It is interesting also to ask why the shepherds were the first persons invited to see Jesus. One of the possible answers is that the shepherds are the first men who are aware of the birth of a lamb. The shepherds recognized that this holy Baby is a new-born lamb. Indeed, later, Jesus would be called as the Lamb of God [John 1:29]. In ancient Israel, lambs were also the main sacrificial animal in the Temple. Baby Jesus came to feed us, and He came as the bread of life and sacrifice that saves us.

While it is good to spend Christmas with vacation or festive celebration, the best way to celebrate Christmas is none other than to celebrate the Eucharist, to mediate the simplicity and humility of God who came to us as little baby, and to ponder His infinite love that He offered Himself to feed us. This is the beauty of Christmas, that God has chosen to love us to the end.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keindahan Natal

Vigili Natal –  24 Desember 2019 – Lukas 2: 1-14

nativity scene 2Hari ini adalah Natal, hari Yesus lahir di Bethlehem. Biasanya di setiap Gereja atau keluarga Kristiani, ada sebuah kadang atau gua yang menjadi tempat kelahiran Yesus. Di sini, Bayi Yesus ditempatkan di sebuah palungan kayu (tempat makanan binatang). Tentunya, ada patung Maria dan Yusuf yang dengan penuh perhatian mengawasi sang Bayi, sementara binatang-binatang lain seperti domba dan sapi menjadi saksi bisu dari momen terindah ini dalam sejarah manusia ini. Tentunya, kandang ini tidak akan lengkap tanpa gembala dan malaikat. Tempat kelahiran Yesus ini memang indah dan selalu mengingatkan kita akan kesederhanaan Natal yang sering kita lupakan di tengah hiruk pikuk perayaan Natal dan Tahun Baru.

Namun, jika kita kembali ke zamannya Yusuf dan Mary, ke Palestina abad pertama, kita akan menemukan kesederhanaan Natal ini memiliki maknanya sangat dalam. Kemungkinan besar, Yusuf dan Mary tidak beristirahat di kandang, tetapi di dalam gua batu karena ini adalah hal umum yang ditemukan di Bethlehem yang terletak daerah pegunungan Yudea. Di dalam gua batu itu hangat dan terkadang cukup luas, sehingga para gembala menggunakannya sebagai tempat berlindung yang aman dan hangat untuk domba-domba mereka di malam hari. Palungan yang disediakan untuk domba bukan terbuat dari kayu, tetapi batu. Kadang-kadang, kita melihat Bayi Yesus telanjang dada di palungan, tetapi St. Lukas menggambarkan bahwa Yesus dibungkus dengan lampin. Ini adalah hal wajar bahwa bayi yang baru lahir akan dibersihkan, dan kemudian dibalut oleh kain untuk menjaga bayi tetap hangat, terlindungi dan nyaman.

Kita menemukan bahwa Yesus dilahirkan di sebuah gua batu, dibaringkan pada palungan batu dan terbungkus kain. Tiga hal ini menunjuk pada peristiwa yang lebih besar dalam kehidupan Kristus: kematian dan kebangkitan-Nya. Kita ingat setelah penyaliban, tubuhnya ditutupi kain, dimasukkan ke dalam makam batu, dan diletakkan di atas batu besar. Namun, kuburan batu dimana Yesus dimakamkan adalah makam yang sama tempat Yesus bangkit dari kematian. Sejak awal kehidupan Yesus di bumi ini, misi-Nya telah dinubuatkan.

Namun, ada sesuatu yang lebih luar biasa. Yesus ditempatkan di palungan, dan palungan tidak lain adalah tempat untuk memberi makan hewan. Sejak awal, Yesus sudah persembahkan kepada kita sebagai makanan yang akan memuaskan mereka yang datang kepada-Nya. Lalu, “jenis makanan” apa Yesus itu? Bukan kebetulan bahwa Yesus lahir di Bethlehem. Kata Bethlehem berasal dari dua kata Ibrani: “Beth” yang berarti “rumah” dan “Lehem” yang berarti “roti”; dengan demikian, Bethlehem adalah rumah roti. Yesus diberikan kepada kita sebagai roti, dan memang, Yesus menyebut diri-Nya sebagai roti hidup [Yoh 6:35]. Menarik juga untuk bertanya mengapa para gembala adalah orang pertama yang diundang untuk melihat Yesus. Salah satu jawaban yang menarik adalah bahwa para gembala adalah orang pertama yang menyadari kelahiran seekor anak domba. Dengan datangnya para gembala, Bayi Yesus yang kudus ini adalah anak domba yang baru lahir. Tak salah jika Yesus akan disebut sebagai Anak Domba Allah [Yohanes 1:29]. Di Israel kuno, domba juga merupakan hewan kurban utama di Bait Allah. Bayi Yesus datang untuk memberi makan kita, dan Dia datang sebagai roti hidup dan korban yang menyelamatkan kita.

Meskipun baik untuk merayakan Natal dengan liburan atau perayaan meriah, cara terbaik untuk merayakan Natal tidak lain adalah dengan merayakan Ekaristi dimana Yesus telah memberikan diri seutuhnya kepada kita manusia. Bersama-sama kita merenungkan kesederhanaan dan kerendahan hati Allah yang datang kepada kita sebagai bayi, dan untuk merenungkan kasih-Nya yang tak terbatas. Inilah keindahan Natal, yang dipilih Tuhan untuk mencintai kita sampai akhir.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Joseph, the Man of Faith

Fourth Sunday of Advent [A] – December 21, 2019 – Matthew 1:18-24

Let-Mom-Rest(1)A few days ago, a nativity scene went viral. The image is called “Let Mom Rest”. The prominent character of this scene is that Joseph is taking care of the baby Jesus while Mary is resting. This image presents to us untouched yet powerful aspects of Jesus’ birth and thus, Christmas. Often, we focus our attention on Jesus with Mary, His mother. We honor Mary because of her willingness to carry Jesus on her womb despite so many dangers and difficulties and to remain a faithful disciple of Jesus till the end. However, the image brings us to another important character that we often overlook, St. Joseph, as the man of faith.

If God has chosen and prepared the most fitting woman in human history to become the mother of His Son, the same logic governs also the choice of the foster father of Jesus. The most suitable man is chosen for this massive yet wonderful task.

Unfortunately, we do not know much about Joseph. Matthew only gave us very little information, but from this little knowledge, we can extract some important truths. Firstly, Joseph is from the house of David. This means that any child that he begets or accepts legally shall be part of the house of David as well. Joseph is the link that connects between Jesus and David, and thus, Jesus’ birth shall fulfill the prophecy that the Messiah shall come from the line of David.

Secondly, he is a carpenter, and being a carpenter is not a promising job to survive first-century Palestine. Yet, Joseph well knows that hard-work, precision, and perfection are parts of his trade. A tough life is nothing but a daily routine for Joseph. God knows to raise His Son will require a tremendous amount of sacrifice, and Joseph, the carpenter, is up to the challenge.

To accept and to raise a child who is not his own, is certainly a tough call, but Joseph obeyed the will of God that has been expressed in his dream, “Do not be afraid to take Mary as your wife.” Yet, more than that, Joseph made sure that this mission would be brought to completion. From the image of “Let Mom Rest”, it seems that Mary just gave birth to Jesus and giving birth is certainly a draining and tough process. Mary was exhausted. Joseph takes over the responsibility to care for the baby Jesus, while Mary received her most-needed rest. This is just one small concrete example of who Joseph exercised the God-given mission to raise the Child of God. Certainly, his duty is not only manifested in that event. He protected Mary and her Child from dangers, especially from the threat from Herod the Great who would kill Jesus. For the rest of his life, Joseph would work hard to provide, educate and raise Jesus as a man who is ready to give His life for all.

Like Mary, Joseph did not understand also why he had to be a father who someone else’s child, why he had to put his life and future on the line for a son who is not his own? Yet, like Mary, Joseph had faith and accepted the will of God in his life. Not only simply accepting God’s will, but he also made sure that he gave his best and made God’s plan come to fulfillment.

We often do not understand why God’s plan for us. We do know where God will bring us. Yet, like Mary and Joseph, we are called to be the men and women of faith, to receive God’s plan as our own and bring His will into fruitful completion.

 Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP