Yusuf, sang Ayah Penuh Iman

Minggu Keempat Adven [A] – 21 Desember 2019 – Matius 1: 18-24

Let-Mom-Rest(1)Beberapa hari yang lalu, ada sebuah gambar akan  kelahiran Tuhan Yesus menjadi viral. Gambar itu disebut “Biarkan Bunda Beristirahat”. Karakter utama dari gambar ini adalah Yusuf mengendong bayi Yesus sementara Maria beristirahat. Gambaran ini menunjukkan kepada kita aspek yang jarang tersentuh dari kelahiran Yesus. Seringkali, kita memusatkan perhatian kita pada Yesus bersama Maria, ibu-Nya. Kita menghormati Maria karena kesediaannya untuk mengandung Yesus di rahimnya meskipun begitu banyak bahaya dan kesulitan dan untuk tetap menjadi murid Yesus yang setia sampai akhir. Namun, gambar ini membawa kita kepada karakter penting lain yang sering kita abaikan, St Yusuf, sebagai orang beriman.

Jika Tuhan telah memilih dan mempersiapkan wanita yang paling cocok dalam sejarah manusia untuk menjadi ibu dari Anak-Nya, logika yang sama juga mengatur pilihan ayah angkat Yesus. Orang yang paling cocok dipilih untuk tugas besar namun luar biasa ini jatuh ke tangan St. Yusuf.

Sayangnya, kita tidak tahu banyak tentang Yusuf. Matius hanya memberi kita informasi yang sangat sedikit, tetapi dari sedikit pengetahuan ini, kita dapat mengekstraksi beberapa kebenaran penting. Pertama, Yusuf berasal dari keluarga Daud. Ini berarti bahwa setiap anak yang ia terima secara hukum akan menjadi bagian dari keluarga Daud juga. Yusuf adalah mata rantai yang menghubungkan antara Yesus dan Daud, dan dengan demikian, kelahiran Yesus akan menggenapi nubuat bahwa Mesias akan datang dari garis keturunan Daud.

Kedua, dia adalah seorang tukang kayu, dan menjadi seorang tukang kayu bukanlah pekerjaan yang menjanjikan untuk bertahan hidup di Palestina abad pertama. Namun, Yusuf tahu betul bahwa kerja keras, presisi, dan kesempurnaan adalah bagian dari pekerjaannya. Kehidupan yang sulit adalah rutinitas harian bagi Yusuf. Tuhan tahu untuk membesarkan Anak-Nya akan membutuhkan banyak pengorbanan, dan Yusuf, sang tukang kayu, sanggup menghadapi tantangan itu.

Menerima dan membesarkan anak yang bukan miliknya, tentu merupakan panggilan yang sulit, tetapi Yusuf mematuhi kehendak Allah yang telah dinyatakan dalam mimpinya, “Jangan takut untuk mengambil Maria sebagai istrimu.” Selain itu, Yusuf memastikan bahwa misi ini akan tuntas. Dari gambar “Biarkan Bunda Beristirahat”, tampaknya Maria baru saja melahirkan Yesus dan proses melahirkan tentunya yang menguras tenaga. Maria kelelahan. Yusuf mengambil alih tanggung jawab untuk merawat bayi Yesus, sementara Maria mendapatkan kesempatan beristirahat. Ini hanyalah satu contoh konkret kecil dari bagaimana Yusuf menjalankan misi yang diberikan Allah untuk membesarkan Anak Allah. Tentu saja, tugasnya tidak hanya diwujudkan dalam peristiwa ini. Dia melindungi Maria dan Anaknya dari bahaya, terutama dari ancaman dari Herodes Agung yang akan membunuh Yesus. Selama sisa hidupnya, Yusuf akan bekerja keras untuk menyediakan, mendidik, dan membesarkan Yesus sebagai seorang manusia yang siap memberikan hidup-Nya untuk semua.

Seperti Maria, Yusuf juga tidak mengerti mengapa ia harus menjadi ayah dari akan orang lain, mengapa ia harus mempertaruhkan nyawanya dan masa depannya untuk seorang putra yang bukan anaknya? Namun, seperti Maria, Yusuf memiliki iman dan menerima kehendak Allah dalam hidupnya. Tidak hanya sekadar menerima kehendak Tuhan, tetapi dia juga memastikan bahwa dia memberikan yang terbaik dan membuat rencana Tuhan terwujud.

Kita sering tidak mengerti mengapa rencana Tuhan untuk kita. Kita tahu kemana Tuhan akan membawa kita. Namun, seperti Maria dan Yusuf, kita dipanggil untuk menjadi pria dan wanita yang beriman, untuk menerima rencana Allah sebagai milik kita sendiri dan membawa kehendak-Nya ke dalam kesempurnaan.

 Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Gaudete!

Third Sunday of Advent [A] – December 15, 2019 – Matthew 11:2-11

gaudete sunday - benedictToday, we are going to see something different in the Church. Yes, the priests are not wearing a purple vestment, but a rose liturgical vestment. It is not because the priests are mistaken or want to make a fashion statement. It is because we are entering the third Sunday of Advent, also known as, the Gaudete Sunday. “Gaudete” is a Latin word meaning “rejoice!”. This color also symbolizes the joyful atmosphere. But, why do we need to celebrate Gaudete Sunday?

The first reading from Isaiah [33:1-6] speaks about the joy of all creations when the Lord comes. Not only men but all natures, animals, plants, even rivers, will rejoice before the Lord. While it is true that Advent is a season of expectation and preparation for the coming of the Lord, Gaudete Sunday does not break the general mood of Advent, but rather it gives us the right direction.

When we are waiting for something, there are two reactions. The first one is to complain and to be disappointed. it is like when we are ready to board the airplane, and suddenly the crew announces that there is a delay. We need to wait, and we wait in annoyance. We get disappointed because we are impatient and expecting things to happen according to our plans.

From today’s Gospel, John was in prison, and he knew that his time was short. As the one who prepared for the coming of Messiah, John knew that Jesus was the Christ, but Jesus seemed not to behave like a Messiah John expected. He was waiting for someone brought divine judgment, but Jesus was rather different. Jesus then had to explain what kind of Messiah He is: One who brings mercy, love and joy to world. From here, we discovered that John’s personal expectation hinders him to see that the One he has expected has come.

Sometimes, we wait for an answer to our prayers, but after all the novenas, all the rosaries, all the way of the cross, and all the masses, we do not get the answer. Sometimes, we are expecting that our lives will get better, but the things are getting worse. Sometimes, we are hoping for healing and fast recovery someone we love, but things just do not go the way we want it. The more we expect, the more we get disappointed.

To counter this, we come to the second response in waiting. We can also wait in joy. It is like a mother who is expecting her baby. It is certainly a period of waiting, but the mother was anticipating it with joy. Like an expectant mother, we can wait for the Lord in joy, and like the pregnant woman, the key to joyful expectation is when we are aware that we are waiting something or something we love, and one who we expect has actually come.

I do believe that God always answers our prayers, but the problem is that we do not want to listen to His answers. When we pray, we often pray that our will be done, and not His will be done. This is the reason why we fail to see God and His abundant blessings around us. Indeed, in this Advent season, we are preparing for the coming of Jesus, but this season also we rejoice because Jesus has come in His unexpected and surprising ways. We cannot be grateful and joyful when we are able to see Jesus comes in our daily lives.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Gaudete!

Minggu Ketiga Advent [A] – 15 Desember 2019 – Matius 11: 2-11

gaudetesunday22Hari ini, kita akan melihat sesuatu yang berbeda di Gereja. Ya, para imam tidak mengenakan jubah ungu, tetapi jubah liturgis berwarna merah muda. Itu bukan karena para imam salah memakai baju atau ingin tampil trendi. Ini karena kita memasuki hari Minggu ketiga Adven, juga dikenal sebagai, hari Minggu Gaudete. “Gaudete” adalah kata Latin yang berarti “bersukacitalah!”. Warna merah muda ini juga melambangkan suasana sukacita. Tapi, mengapa kita perlu merayakan Minggu Gaudete?

Bacaan pertama dari Yesaya [33: 1-6] berbicara tentang sukacita semua makhluk ketika Tuhan datang. Tidak hanya manusia tetapi semua ciptaan, termasuk binatang, tanaman, bahkan sungai, akan bersukacita di hadapan Tuhan. Meskipun benar bahwa Advent adalah musim pengharapan dan persiapan untuk kedatangan Tuhan, Minggu Gaudete tidak merusak suasana umum Advent, tetapi justru memberi kita arah yang benar.

Ketika kita sedang menunggu sesuatu, ada dua reaksi. Yang pertama adalah mengeluh dan kecewa. Hal ini seperti ketika kita siap untuk naik pesawat, dan tiba-tiba kru mengumumkan bahwa ada penundaan. Kita harus menunggu, dan kita menunggu dengan kesal. Kita kecewa karena kita tidak sabar dan mengharapkan hal-hal terjadi sesuai dengan rencana kita.

Dari Injil hari ini, Yohanes berada di penjara, dan dia tahu waktunya tidak lama lagi. Sebagai orang yang mempersiapkan kedatangan Mesias, Yohanes tahu bahwa Yesus adalah Kristus, tetapi Yesus tampaknya tidak berperilaku seperti yang diharapkannya. Yohanes sedang menunggu seseorang membawa penghakiman ilahi, tetapi Yesus agak berbeda. Yesus kemudian harus menjelaskan Mesias seperti apa Dia: Orang yang membawa kemurahan, kasih, dan sukacita ke dunia. Dari sini, kita menemukan bahwa ekspektasi pribadi Yohanes menghalangi dia untuk melihat bahwa Dia yang harapkan telah datang.

Terkadang, kita menunggu jawaban untuk doa-doa kita, tetapi setelah semua novena, semua rosario, semua jalan salib, dan semua misa, kita tidak mendapatkan jawabannya. Kadang-kadang, kita berharap bahwa hidup kita akan menjadi lebih baik, tetapi keadaan semakin memburuk. Terkadang, kita berharap untuk penyembuhan dan pemulihan cepat seseorang yang kita cintai, tetapi hal-hal tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Semakin banyak yang kita harapkan, semakin kita kecewa.

Untuk mengatasi ini, kita sampai pada respons kedua dalam menunggu. Kita juga bisa menunggu dengan sukacita. Itu seperti seorang ibu yang sedang mengandung bayinya. Ini tentu saja merupakan masa penantian, tetapi sang ibu mengantisipasinya dengan gembira. Seperti seorang ibu hamil, kita dapat menunggu Tuhan dalam sukacita, dan sama seperti wanita hamil, kunci dari harapan penuh sukacita adalah ketika kita sadar bahwa kita sedang menunggu sesuatu atau seseorang yang kita cintai, dan seseorang yang kita harapkan datang ini sesungguhnya telah datang.

Saya percaya bahwa Tuhan selalu menjawab doa-doa kita, tetapi masalahnya adalah kita tidak mau mendengarkan jawaban-Nya. Ketika kita berdoa, kita sering berdoa agar kehendak kita terjadi, dan bukan kehendak-Nya yang terjadi. Inilah alasan mengapa kita gagal melihat Tuhan dan berkat-Nya yang berlimpah di sekitar kita. Memang, di masa Advent ini, kita sedang mempersiapkan kedatangan Yesus, tetapi musim ini juga kita bersukacita karena Yesus telah datang dengan cara-Nya yang tak terduga dan mengejutkan. Kita bisa bersyukur dan bersukacita ketika kita dapat melihat Yesus datang dalam kehidupan kita sehari-hari.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Like John the Baptist

2nd Sunday of Advent [A] – [December 8, 2019] – Matthew 3:1-12

john-the-baptist-mafaJohn the Baptist is a prominent figure in four Gospels, and he powerfully appears before Jesus begins His public ministry. But, who is this John the Baptist? His name is simply John, and the Church calls him the Baptist to distinguish him from other John in the Bible like John the son of Zebedee, one of Jesus’ disciples. John the Baptist is the miracle son of Zacharia and Elizabeth in their old days. And since Elizabeth and Mary, the mother of Jesus, are relatives, John and Jesus are closely related to each other.

Certainly, there is something strange about this John. He is eating locust and honey. Surely, it is an exotic food, but we need to remember he is living in the desert, and this kind of food is common. He is wearing clothing made of camel’s hair and a leather belt around his waist. It is just a fashion statement or he has nothing to wear. John’s clothing reminds us of the things Prophet Elijah wore in his time [see 1 Kings 1:8]. John is presenting himself as a prophet, and not any prophet, he is the new Elijah. The appearance of Elijah is an important sign of the imminent coming of the Messiah [Mal 4:5].

One thing for sure about John is that he becomes very popular, and people from all over the country come to him, to listen to his preaching and to be baptized as a sign of repentance. Yet, despite the great number of followers, he remains true to his mission. He is preaching on the coming of someone who is much greater than him, even he declares that “is unworthy to carry His sandals.” He is God’s instrument in fulfilling the prophecy, and he has a specific role to play.

Now, we know a little background about John the Baptist, what will be next for us? Certainly, we are not called to follow him in wearing clothing made of camel’s hair or to eat locust everyday, but we are to prepare the way for the coming of the Savior. How? Some of us are called literally to baptize people like myself. Some are commissioned to preach and educate people. Yet, all of us is to live a life of repentance. The repentance has to be alive and penetrating all aspects of life. The word used by John in Greek is “metanoiete” and it does not simply mean “repent!” but more precisely, “keep repenting!”

The first stage of repentance is certainly turning away from a sinful life, but it is more than that. Repentance is not about one-done-deal action, but a life-long process. The word “Metanoia” is coming from two words, “meta” meaning “changing” and “nous” meaning “mind”; Thus, “metanoia” means changing of mind, changing the way we see life and the way we live. Our mind is no longer earth-bond, but fixed into God. The transformation is not from sinful life to a good life, but a life that is even closer to God. It implies changing of priority. Do we make God our priority? It entails holiness. Do we do things that are pleasing to God? This presupposes the love of God. Do we love God more than other things, or do we love other things more than Him?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Seperti Yohanes Pembaptis

Minggu ke-2 Adven [A] – [8 Desember 2019] – Matius 3: 1-12

John-the-Baptist-212x300Yohanes Pembaptis adalah tokoh terkemuka dalam keempat Injil, dan Yohanes muncul sebelum Yesus memulai pelayanan dan karnya-Nya. Tetapi, siapakah Yohanes Pembaptis ini? Namanya Yohanes, dan Gereja memanggilnya sebagai Pembaptis untuk membedakannya dari Yohanes lainnya dalam Alkitab seperti Yohanes putra Zebedeus, salah satu murid Yesus. Yohanes Pembaptis adalah putra Zakharia dan Elisabet yang terlahir di masa tua mereka. Dan karena Elizabeth dan Maria, ibu Yesus, masih saudara, Yohanes dan Yesus saling berhubungan erat.

Tentu saja, ada yang aneh dengan Yohanes ini. Dia memakan belalang dan madu. Tentunya, ini adalah makanan eksotis, tetapi kita harus ingat dia hidup di padang gurun, dan makanan seperti ini adalah hal biasa. Dia mengenakan pakaian yang terbuat dari rambut unta dan sabuk kulit di pinggangnya. Hal ini bukan berarti Yohanes suka berbusana trendi atau kekinin. Pakaian Yohanes mengingatkan orang-orang Yahudi akan hal-hal yang dikenakan Nabi Elia di masanya [lihat 1 Raja-Raja 1: 8]. Yohanes menunjukkan dirinya sebagai nabi, dan bukan nabi biasa, ia adalah Elia baru. Munculnya Elia adalah tanda penting dari kedatangan Mesias yang akan segera terjadi [Mal 4: 5].

Satu hal yang pasti tentang Yohanes adalah bahwa ia menjadi sangat populer, dan orang-orang dari seluruh negeri datang kepadanya, untuk mendengarkan khotbahnya dan untuk dibaptis sebagai tanda pertobatan. Namun, terlepas dari jumlah pengikut yang besar, ia tetap setia pada misinya. Dia mewartakan tentang kedatangan seseorang yang jauh lebih besar darinya, bahkan dia menyatakan bahwa “tidak layak untuk membawa sandal-Nya.” Dia adalah alat Tuhan dalam memenuhi nubuat, dan dia memiliki peran khusus untuk dimainkan.

Sekarang, kita tahu sedikit latar belakang tentang Yohanes Pembaptis, apa yang akan terjadi selanjutnya bagi kita? Tentu saja, kita tidak dipanggil untuk mengikutinya dalam mengenakan pakaian yang terbuat dari rambut unta atau makan belalang setiap hari, tetapi kita harus mempersiapkan jalan bagi kedatangan Juruselamat. Bagaimana? Beberapa dari kita dipanggil memang untuk membaptis orang seperti saya. Beberapa ditugaskan untuk mengabar dan mendidik orang. Namun, kita semua harus menjalani kehidupan pertobatan. Kata yang digunakan oleh Yohanes dalam bahasa Yunani adalah “metanoiete” dan itu tidak hanya berarti “bertobat!” Tetapi lebih tepatnya, “teruslah bertobat!”

Tahap pertobatan pertama tentu saja beralih dari kehidupan dosa, tetapi lebih dari itu. Pertobatan bukan tentang satu dua tindakan saja, tetapi proses seumur hidup. Kata “Metanoia” berasal dari dua kata, “meta” yang berarti “perubahan” dan “nous” yang berarti “pikiran”; Jadi, “metanoia” berarti mengubah pikiran, mengubah cara kita melihat kehidupan dan cara kita hidup. Pikiran kita bukan lagi tertuju pada hal-hal duniawi, tetapi terpaku pada Tuhan. Transformasi bukan hanya dari kehidupan yang berdosa menjadi kehidupan yang baik, tetapi kehidupan yang bahkan lebih dekat dengan Tuhan. Ini menyiratkan perubahan prioritas. Apakah kita menjadikan Tuhan sebagai prioritas kita? Ini membutuhkan kekudusan. Apakah kita melakukan hal-hal yang menyenangkan Allah? Ini mengandaikan kasih Allah. Apakah kita mencintai Tuhan lebih dari hal-hal lain, atau kita lebih mencintai hal-hal lain daripada Dia?

Yohanes Pembaptis doakanlah kami!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Advent Mission: Be Holy!

First Sunday Advent [A] –  December 1, 2019 – Matthew 24:37-44

Advent coming of the saviorWe are entering the season of Advent. This time marks the beginning of the new liturgical year of the Church. The season itself is a preparation for us to welcome the Christmas, the coming of Jesus Christ. The word Advent is coming from the Latin word “Adventus” that simply means “arrival.” The dominant liturgical color will be purple that signifies hope and joyful expectation of the coming of our Savior.

The Church has always taught that there are two comings of Jesus. The first coming was two thousand years ago in Bethlehem, when Jesus was born into the simple family of Joseph and Mary. The second coming will be at the end of time, and nobody knows when it will be. It is the secret of God, and anybody who attempts to predict it is bound to fail.

Particularly, the first Sunday of Advent focuses on the second coming of Jesus. From the reading, we can extract at least two characteristics of this coming. Firstly, there will be judgment and the segregation between the good and the evil. Secondly, the coming will be utterly unexpected like the day of Great Flood in the time of Noah and his family or like a thief at the night. Since there will be a judgment based on our life as well as the unpredictable timing, we are expected to be always ready by persevering doing good.

The purpose of Advent is truly to remind us that God will definitely come, and we are prepared for that coming. How are we going to prepare for Jesus’ coming then?

The answer is unbelievably simple: be holy and keep holy. Surely, it is easier said than done, yet we can learn from the saints (they are called “saints” precisely because they have lived a holy life). Yet, again some of us may say that is just tough to be a saint, and it is almost impossible to be like John Paul II who was the holy Pope, or to be like Mother Teresa of Calcutta who spent her life in slump of India and tirelessly the poor, or like St. Stephen who was stoned to death for preaching Jesus. Indeed, it seems to be unsurmountable if we focus on the greatness of these saints, but truthfully, there are a lot of saints who are living simple lives.

St. Therese of the Child Jesus who spent her quiet and simple life inside a convent once wrote, “Miss no single opportunity of making some small sacrifice, here by a smiling look, thereby a kindly word; always doing the smallest right and doing it all for love.” They are many things we can offer sacrifice in our daily life, like our addiction to cellphone, our obsession to be workaholic, our time for our hobbies, and our tendency to complain. While St. Martin de Porres, a Dominican brother, who spent his life cleaning the convent and serving the poor, shows us that the path of holiness is not always grand, “Everything, even sweeping, scraping vegetables, weeding a garden and waiting on the sick could be a prayer, if it was offered to God.”

The way to prepare Jesus’ second coming is by being holy, and living a holy life can be done in doing ordinary things in love and for God.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Misi Adven: Menjadi Kudus

Minggu Adven Pertama [A] – 1 Desember 2019 – Matius 24:37-44

Advent-season-candlesKita memasuki masa Adven. Waktu ini menandai awal tahun liturgi Gereja yang baru. Masa itu sendiri adalah persiapan bagi kita untuk menyambut Natal, kedatangan Yesus Kristus. Kata Adven berasal dari kata Latin “Adventus” yang berarti “kedatangan.” Warna liturgi yang dominan adalah ungu yang menandakan harapan penuh sukacita akan kedatangan Juruselamat kita.

Gereja selalu mengajarkan bahwa ada dua kedatangan Yesus. Kedatangan pertama adalah dua ribu tahun yang lalu di Betlehem, ketika Yesus dilahirkan dalam keluarga sederhana Yusuf dan Maria. Kedatangan kedua akan terjadi pada akhir zaman, dan tidak ada yang tahu kapan itu akan terjadi. Itu adalah rahasia Tuhan, dan siapa pun yang mencoba untuk memprediksi pasti akan gagal dan menjadi nabi palsu.

Khususnya, hari Minggu Adven pertama berfokus pada kedatangan Yesus yang kedua. Dari bacaan Injil, kita dapat melihat setidaknya dua karakteristik dari kedatangan ini. Pertama, akan ada penghakiman dan pemisahan antara yang baik dan yang jahat. Kedua, kedatangan akan sama sekali tak terduga seperti hari Air Bah di zaman Nuh dan keluarganya atau seperti pencuri di malam hari. Karena akan ada penilaian berdasarkan hidup kita serta waktu yang tidak terduga, kita diharapkan untuk selalu siap dengan tekun berbuat baik.

Tujuan masa Adven adalah untuk mengingatkan kita bahwa Tuhan pasti akan datang, dan kita siap untuk kedatangan itu entah kapanpun itu. Bagaimana kita akan bersiap untuk kedatangan Yesus?

Jawabannya sangat sederhana: menjadi kudus dan tetaplah kudus. Tentunya, ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, namun kita dapat belajar dari orang-orang kudus. Namun, sekali lagi beberapa dari kita mungkin mengatakan itu sulit untuk menjadi orang kudus, dan hampir tidak mungkin untuk menyerupai Yohanes Paulus II yang adalah Paus suci, atau untuk meniru Bunda Teresa dari Calcutta yang menghabiskan hidupnya dalam di daerah kumuh di India dan melayani tanpa lelah orang-orang miskin, atau seperti Santo Stefanus yang dilempari batu sampai mati karena menjadi saksi Yesus. Memang, tampaknya mustahil jika kita fokus pada kebesaran orang-orang kudus ini, tetapi sebenarnya, ada banyak orang kudus yang menjalani kehidupan sederhana.

St. Teresa dari Anak-Anak Yesus yang menghabiskan hidupnya yang sangat sederhana di dalam sebuah biara pernah menulis, “Jangan lewatkan kesempatan untuk berkorban kecil, di sini dengan wajah tersenyum, di sana dengan kata-kata yang ramah; selalu melakukan hal yang paling kecil dan melakukan semuanya demi kasih. ” Itu adalah banyak hal yang dapat kita persembahkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti kecanduan kita pada ponsel, obsesi kita untuk menjadi gila kerja, waktu kita untuk hobi kita, dan kecenderungan kita untuk mengeluh. Sementara St. Martin de Porres, seorang bruder Dominikan, yang menghabiskan hidupnya membersihkan biara dan melayani orang miskin, menunjukkan kepada kita bahwa jalan kekudusan tidak selalu dasyat, “Segalanya, bahkan menyapu, membersihkan sayuran, menyiangi kebun dan merawat orang sakit bisa menjadi doa, jika dipersembahkan kepada Tuhan. “

Cara untuk mempersiapkan kedatangan kedua Yesus adalah dengan menjadi kudus, dan menjalani kehidupan yang suci dapat dilakukan dalam melakukan hal-hal biasa dalam kasih dan untuk Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus the King

Solemnity of Christ the King – November 24, 2019 – Luke 23:35-43

crossOften we take for granted the name Jesus Christ, without realizing the meaning behind it. The word “Christ” is neither part of the personal name of Jesus nor the family name of Jesus. Jesus earns the name Christ not because of His foster father, Joseph, otherwise, we also call him Joseph Christ and his wife, Mary Christ.

Christ is coming from the Greek word “Christos” meaning “the anointed one”. In Hebrew, the title is even more pronounced, “the Messiah”. For us, the title does not ring us a bell, but for the Jewish people living in the time of Jesus, the Messiah is the fulfillment of God’s promise. In the Old Testament, the title Messiah was given to one of the greatest figures in Israel, King David. He was the Christ because he was anointed by Prophet Samuel, and he was personally chosen by God Himself to rule Israel. During his reign, the kingdom of Israel reached the pick of glory.

Unfortunately, after David’s death, the kingdom was declining and eventually destroyed. In the time of Jesus, almost one millennium after David, Palestine was under the Roman Empire, and lives were awful. No wonder, people were expecting the coming of the Messiah, the new king, that would restore the glory of Israel.

We believe that Jesus is Christ, meaning we believe that Jesus is the expected a king that will fulfill God’s promise. Yet, in today’s Gospel, we discover that Jesus was crucified. He had no army, except disbanded and coward disciples. He had not a palace except a small and poor house in Nazareth. He was insulted, spat upon, and tortured. He bore the greatest human humiliation. Even the criminal who was punished together with Him, mocked Jesus as a good-for-nothing king.

If we focus only on this cross and humiliation, we shall fail to see Jesus as king. For Jesus, being a king is not about gold, guns, and glory. It is neither about force nor control. Jesus is not a war-freak Messiah. So, what does it mean to be a King for Jesus?

 When one of the repented criminals asked Jesus to remember him when Jesus comes into His Kingdom, Jesus said that he would be in Paradise. The word Paradise is a Greek word for “garden”, it originally refers to the garden of Eden. That is what Jesus does as a king: He brings men and women who acknowledge Him as a king to Paradise. And no other kings in the world possess such power to bring us to paradise.

If then we confess that Jesus is the Christ, and now we understand that Jesus is our King, do we honor Him as our King? If Jesus is our King, do we allow Jesus to control us or we control Jesus? If Jesus is our leader, do we align our lives and priorities to His missions, or Jesus has to follow us? When our King summons us for a mission, do we gladly embrace it, or we rather choose our own plans and design?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus sang Raja

Hari Raya Kristus Raja [C] – 24 November 2019 – Lukas 23: 35-43

crossesSeringkali kita menerima begitu saja nama Yesus Kristus, tanpa menyadari makna mendalam di baliknya. Kata “Kristus” bukan bagian dari nama pribadi Yesus atau nama keluarga Yesus. Yesus mendapat nama Kristus bukan karena ayah angkatnya, Yusuf, tetapi senyatanya “Kristus” adalah sebuah gelar yang sangat penting bagi umat Yahudi dan Kristiani pada abad pertama masehi.

Kristus datang dari kata Yunani “Christos” yang berarti “yang diurapi”. Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan adalah “Mesias”. Bagi kita yang hidup dua ribu tahun setelah Yesus, gelar ini tidak begitu berarti, tetapi bagi orang-orang Yahudi yang hidup di zaman Yesus, Mesias atau Kristus adalah penggenapan dari janji Allah. Dalam Perjanjian Lama, gelar Mesias diberikan kepada salah satu tokoh terbesar di Israel, Raja Daud. Dia adalah Kristus karena dia diurapi oleh Nabi Samuel, dan dia secara pribadi dipilih oleh Allah sendiri untuk memerintah Israel. Selama masa pemerintahannya, Kerajaan Israel mencapai puncak kejayaannya.

Sayangnya, setelah kematian David, kerajaannya terus menurun, dan akhirnya dihancurkan. Pada masa Yesus, hampir satu milenium setelah David, Palestina berada di bawah penjajahan Kekaisaran Romawi, dan kehidupan menjadi sangat buruk. Tidak heran, hampir semua orang Israel mengharapkan kedatangan Mesias, raja baru, yang akan mengembalikan kejayaan Israel.

Kita percaya bahwa Yesus adalah Kristus, artinya kita percaya bahwa Yesus adalah Raja yang telah memenuhi janji Allah. Namun, dalam Injil hari ini, kita menemukan bahwa Yesus disalibkan. Sebagai raja, Dia tidak memiliki pasukan, kecuali para lelaki yang bernyali kecil yang mengaku sebagai murid-murid-Nya. Sebagai raja, Dia tidak memiliki istana kecuali gubuk kecil dan miskin di Nazareth. Dia dihina, diludahi, dan disiksa. Dia menanggung penghinaan manusia terbesar. Bahkan penjahat yang dihukum bersama-sama dengan Dia, mengejek Yesus sebagai raja yang tidak berguna.

Jika kita hanya berfokus pada salib dan penghinaan ini, kita akan gagal melihat Yesus sebagai raja. Bagi Yesus, menjadi raja bukanlah tentang mengumpulkan kekayaan, memiliki senjata paling canggih, dan ketenaran. Ini bukan tentang kemampuan menguasai atau kontrol. Yesus bukanlah Mesias yang hobinya berperang. Jadi, apa artinya menjadi Raja bagi Yesus?

 Ketika salah satu penjahat yang bertobat meminta Yesus untuk mengingatnya ketika Yesus kembali ke Kerajaan-Nya, Yesus berkata bahwa hari itu juga, ia akan berada di Firdaus. Kata Firdaus sebenarnya berasal kata Yunani “paradesos” yang berarti “taman.” Sejatinya, taman ini merujuk pada taman Eden di Kitab Kejadian. Itulah yang dilakukan Yesus sebagai raja: Dia membawa semua orang yang mengakui Dia sebagai raja ke Firdaus. Dan tidak ada raja lain di dunia yang memiliki kekuatan seperti itu untuk membawa kita ke Firdaus.

Jika kemudian kita mengakui bahwa Yesus adalah Kristus, dan sekarang kita mengerti bahwa Yesus adalah Raja kita, apakah kita menghormati Dia sebagai Raja kita? Jika Yesus adalah Raja kita, apakah kita mengizinkan Yesus mengendalikan hidup kita atau malah kita yang mengendalikan Yesus? Jika Yesus adalah pemimpin kita, apakah kita menyelaraskan hidup dan prioritas kita dengan misi-Nya, atau Yesus harus mengikuti kita? Ketika Raja kita memanggil kita untuk sebuah misi, apakah kita dengan senang hati menerimanya, atau kita lebih suka memilih rencana dan desain kita sendiri?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

God’s House

33rd Sunday in Ordinary Time – November 17, 2019 – Luke 21:5-9

Cathedral of Notre-Dame of Paris fire aftermath, France - 16 Apr 2019During the reign of Herod the Great, the Temple of Jerusalem was refurbished, adorned by gold and other precious metals, and expanded, and thus making it the crown jewel of the Jewish nation. However, the Temple was not merely a magnificent building, but primarily the center of Jewish religious worship and religion. Every morning and evening, sacrifices were offered, and every year, Jewish men from all over the world made their pilgrimage, and paid their homage the Lord God. It was the place where God chose to stay, the place where the Israelites meet their God, and the house of God.

Looking at the majestic view of the Temple and its religious significance, many would believe that the Temple would last forever because God Himself would defend His house. Yet, Jesus prophesied against the sentiment of the Israelites and told His disciples that this beautiful Temple would be destroyed. Surely, Jesus’ words offended the religious sensitivity of His time and one of the accusations against Him was precisely because Jesus spoke against the Temple, against God Himself. Yet, 40 years later, in 70 AD, the Romans under General Titus, burned the Temple and razed the city to the ground.

Jesus’ prophesy opens us to the profound truth that even God allows His house on earth to be destroyed. Hagia Sophia in Constantinople (now Istanbul) was the grandest church in the 4th and 5th centuries and considered to be an architectural and engineering marvel. Yet, when Constantinople fell to the Turks, the church stopped functioning as a Christian worship place. In our time, the Cathedral of Notre Dame was an iconic Gothic building at the heart of Paris. Yet, on April 15, 2019, the fire destroyed many parts of this holy building. Just this month, some churches in Chile became the target of violent demonstrators. They forcefully entered the churches, took out the pews and other religious images, and burnt them outside the churches, not to mention, the desecration of the tabernacles. The houses of God have been the object of vandalism, violent anger, and untold destruction, and God allows those to take place in our midst. But why? Is God weak enough to stop these from happening? Does God not care? Has God forsaken us?

The Churches as the house of God symbolize the inner sanctuary of our faith. An attack on the Church means an attack on our cherished faith. If God allows His house to be humiliated, so God also allows our faith to be challenged, shocked, and shaken. God allows trials to batter our lives, doubts to question our faith, and darkness to envelop our vision. But why?

When the fire that burned the Church of Notre Dame was extinguished, many things have been lost, but at the center of the Church, one image survived the blazing fire: the huge cross stood still. God allows His houses destroyed, and our faith was shaken to show us what truly matters in life and our journey of faith. It is God and God alone. It is not so much the monuments we build for Him nor the works and mission for Him, even our talents, charism and fruits of prayers. These are surely important, but these easily vanish. Only one remains God alone. God allows us to be shaken so we may find Him again, surprisingly more alive and ever closer.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP