Terpecah

Hari Minggu Ketiga dalam Masa Adven [16 Desember 2018] Lukas 3: 10-18

kneeling 2Pertanyaan kedua yang diajukan uskup agung Socrates Villegas dari Lingayen-Dagupan saat saya ditahbiskan adalah, “Apakah kamu sudah cukup terpecah dan remuk?” Sekali lagi pertanyaannya ini mengherankan. Kita ingin menjadi utuh dan sempurna. Kita ingin mendapatkan lebih banyak dalam hidup, menjadi kaya, sehat dan cantik. Kita ingin diterima secara sosial, dan dihormati dan memiliki pencapaian yang dapat dibanggakan. Kita ingin menjadi seseorang. Kita ingin orang lain menyebut kita sebagai dokter terkenal, pengusaha kreatif, atau pengacara yang sukses. Atau bagi kita, orang-orang yang melayani di Gereja, kita suka orang-orang menganggap kita sebagai pengkhotbah yang disukai, imam pembangun, atau suster yang terampil dan berpendidikan.

Namun, kita sering lupa bahwa orang yang kita layani adalah orang-orang yang terpecah dan remuk. Mereka terpecah dalam banyak aspek kehidupan. Ada yang remuk secara finansial, ada yang bergulat dengan masalah kesehatan, dan banyak yang dihancurkan oleh pengalaman traumatis dalam keluarga. Ada yang berurusan dengan kemarahan dan ketidakstabilan emosi, dan ada pula yang menghadapi depresi dan keputusasaan. Beberapa terluka, dan beberapa lainnya dipaksa untuk melukai. Banyak menjadi korban dari ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi manusia. Dan kita semua diremukkan oleh dosa. Kita melayani orang-orang yang terpecah dan remuk, dan kecuali kita cukup remuk seperti mereka, pelayanan kita sekedar superfisial dan bahkan menjadi sebuah kemunafikan.

Oleh karena itu, sebagai pelayan Gereja, kita bertanya pada diri kita sendiri: apakah kita cukup disiplin dalam hidup studi dan membolehkan tuntutan kehidupan akademis memaksa kita untuk berlutut dan terus memohon kepada sang Kebenaran untuk menerangi kita? Apakah kita cukup sabar dalam kehidupan di komunitas dan memungkinkan berbagai kepribadian dan konflik di seminari, biara atau komunitas untuk membentuk kita, untuk membuat kita menyadari bahwa hidup jauh lebih besar daripada diri kita sendiri, dan memperkaya kita? Apakah kita cukup ulet dalam pelayanan kita dan memungkinkan orang-orang yang kita layani untuk menantang dunia kecil kita, untuk menghadapkan kita dengan kegagalan, dan kenyataan bahwa bukan mereka yang dilayani, tetapi kita? Apakah kita cukup rendah hati dalam doa kita dan membiarkan Tuhan mengendalikan hidup kita?

Di ditengah-tengah liturgi Ekaristi kita adalah Firman dan Tubuh yang dipecah-pecah. Firman Tuhan dalam kitab suci dibaca, dan sang pewarta ‘memecah-mecah’ sang Sabda menjadi kata-kata yang lebih relevan dan bermakna bagi umat Allah. Tubuh Kristus dalam hosti putih yang dikuduskan dipecah-pecah agar menjadi cukup untuk semua orang. Ini adalah Firman Allah dan Tubuh Kristus yang dipecah-pecah untuk umat-Nya yang juga terpecah dan remuk. Yesus menyelamatkan dan menjadikan kita kudus dengan menjadi satu dengan kita, dengan diremukan bagi kita. Dia adalah Tuhan yang terpecah bagi saudara-saudari-Nya yang remuk redam.

Kita adalah para pelayan Tuhan, dan pertanyaannya sekarang adalah: Apakah kita mau mengakui dan menerima ketidaksempurnaan kita sendiri? Apakah kita cukup kuat untuk mengakui bahwa kita lemah? Apakah cukup terpecah dan remuk sehingga kita dapat berbagi diri kita secara total kepada saudara-saudari kita? Apakah kita mau seperti Kristus yang diremukan agar banyak orang bisa memiliki hidup?

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Weak Enough

Second Sunday of Advent [December 9, 2018] Luke 3:1-6

prayingDuring my ordination, Archbishop Socrates Villegas of Lingayen-Dagupan asked this question to us who would receive the sacred order, “Are you weak enough?” The question was mind-blogging and unexpected because often we have strength, power, and talents as our favorite subjects, and even obsession. We like to show to the world that we are achievers and conquerors. We parade our good education, high-earning job, or a beautiful face. The ‘superior’ mentality does not only affect the lay people traversing in the ordinary world, but also people dressed in white walking through the corridors of the Church. The clergy, as well as religious men and women, are not immune to this hunger for approval and sense of worthiness.

I have to admit also that our formation in the religious life is colored with this kind of ‘spirit.’ The study is important in our Dominican tradition, and we are struggling to meet the academic demands of philosophy and theology. Those who are excelling are honored, but those who are falling, are facing expulsion. Prayer and community life are basic in our spirituality, and we are living to meet the expectations in the seminary or convent, like regular prayers and various community activities. Those who meet the standards may pass the evaluation for ordination or religious profession, but those who are often late or absent, are deemed to have no vocation. Preaching is our name, and we give our all in our ministries. Those who are successful in their apostolate are exemplary, but those who are not able to deliver a good speech may wonder whether they are in the Order or ‘out of order.’

The ordination is for the worthy ones, meaning for those who ace all the requirements. However, the good archbishop reminds us that relying too much on our strength and goodness, we may hamper the work of God in us. When we become too handsome, the people begin focusing on us, rather than the beauty of the liturgy. When we preach too brilliantly, the people start admiring us rather than the Truth of the Word. When we teach too brightly, we outshine the Wisdom made flesh. We forget that all power and talents we have, belong to God, not ours. What we have, are weaknesses.

However, it is only in our weakness that God’s strength is shining brightly. He called Moses who was a murderer and a fugitive, to liberate Israel from the slavery. He called Jonah, a reluctant prophet, to save Nineveh. He chose Simon Peter, who betrayed Jesus, to be the leader of His Church. He appointed Paul, the Pharisee and the persecutor of Christians, to be the greatest apostle. He elected Mary, a poor and insignificant young woman, to be the mother of God.

Are we weak enough to allow God’s strength working in us? Are we enough to allow God’s beauty shining through us? Are we weak enough to let other people see God’s wisdom in us? Are we strong enough to admit that we are weak?

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lemah

Minggu Kedua dalam Masa Adven [9 Desember 2018] Lukas 3: 1-6

processionSaat pentahbisan saya, Uskup Agung Socrates Villegas dari Lingayen-Dagupan bertanya kepada saya, “Apakah kamu cukup lemah?” Pertanyaannya tidak terduga dan bahkan membalikan nalar karena sering kita merasa bahwa kekuatan dan talenta yang kita miliki adalah hal yang penting dalam hidup kita, dan menunjukan siapa diri kita sesungguhnya sebagai milik kita. Kita ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah orang yang berprestasi. Kita memamerkan bahwa kita memiliki pendidikan yang baik, pekerjaan yang berpenghasilan tinggi, atau rupa yang cantik. Mental ‘superior’ ini tidak hanya mempengaruhi orang awam yang bergulat dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga orang-orang berjubah yang putih berjalan di koridor Gereja. Para klerus, serta biarawan dan biarawati, tidaklah kebal terhadap hasrat untuk mendapatkan persetujuan dan rasa kelayakan.

Saya harus mengakui juga bahwa formasi kami dalam kehidupan religius diwarnai dengan ‘roh’ semacam ini juga. Studi adalah penting dalam tradisi Dominikan, dan kami berjuang untuk memenuhi tuntutan akademis baik di bidang filsafat, teologi dan ilmu lainnya. Mereka yang cerdas dan mendapat nilai tinggi, akan mendapat menghargai, tetapi mereka yang nilainya buruk, harus siap mundur dari formasi. Doa dan kehidupan komunitas adalah dasar dalam spiritualitas kami, dan kami hidup untuk memenuhi ekspectasi di seminari atau biara, seperti mengikuti doa dan berbagai kegiatan komunitas secara regular. Mereka yang memenuhi standar bisa lulus evaluasi untuk pentahbisan atau pengucapan kaul, tetapi mereka yang sering terlambat atau tidak hadir, dianggap tidak memiliki panggilan. Pewartaan adalah identitas kami, dan kami memberikan segalanya dalam pelayanan kami. Mereka yang berhasil dalam kerasulan menjadi teladan, tetapi mereka yang tidak mampu dan banyak mengalami kegagalan mungkin bertanya-tanya apakah mereka sungguh bagian dari Ordo Pewarta.

Pentahbisan adalah bagi yang layak, yang berarti bagi mereka yang memenuhi semua persyaratan. Namun, uskup agung Socrates yang baik mengingatkan kita bahwa terlalu mengandalkan kekuatan dan kebaikan kita sendiri, kita dapat menghambat rahmat Allah dalam diri kita. Ketika kita menjadi terlalu tampan, orang-orang mulai memusatkan perhatian pada kita, daripada keindahan liturgi. Ketika kita berkhotbah terlalu lihai, orang-orang mulai mengagumi kita daripada Kebenaran Firman. Ketika kita mengajar dengan begitu cemerlang, kita lebih bersinar dari Kebijaksanaan yang menjadi manusia. Kita lupa bahwa semua kekuatan dan bakat yang kita miliki adalah milik Tuhan, bukan milik kita. Apa yang kita miliki, adalah kelemahan.

Namun, hanya dalam kelemahan kita bahwa kekuatan Tuhan bersinar terang. Dia memanggil Musa yang adalah seorang pembunuh dan buronan, untuk membebaskan Israel dari perbudakan. Dia memanggil Yunus, seorang nabi yang pemberontak, untuk menyelamatkan Niniwe. Dia memilih Simon Petrus, yang mengkhianati Yesus, untuk menjadi pemimpin Gereja-Nya. Dia menunjuk Paulus, orang Farisi dan penganiaya Gereja perdana, untuk menjadi rasulnya yang hebat. Dia memilih Maria, seorang wanita muda yang miskin dan tidak penting, untuk menjadi bunda dari Tuhan.

Apakah kita cukup lemah untuk membiarkan kekuatan Allah bekerja di dalam kita? Apakah kita cukup agar keindahan Tuhan bersinar melalui kita? Apakah kita cukup lemah supaya orang lain melihat kebijaksanaan Tuhan di dalam kita? Apakah kita cukup lemah untuk mengakui bahwa kita lemah?

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Gift of Ordination

First Sunday of Advent [December 2, 2018] Luke 21:25-28, 34-36

ordinationI have been in the Dominican formation for more than 12 years, and if I add four years of my minor seminary formation in Indonesia, it stretches to 16 years! It is insanely long that it occupies a more than half of my life. If we believe that everything has a purpose, I can ask myself, “what is the point of this extremely lengthy formation?” Why should I stay through thick and thin of formation life, through hours of assiduous study, through various programs, through daily rigor of prayer life?

The answer is surprisingly not difficult to see. It is because I want to become a priest and not any priest, it is a Dominican priest, and not only any Dominican priest, but it is a holy, faithful and holistically mature Dominican priest. It looks a simple answer, but every word in that answer carries certain enormous understanding and consequences. Having this so noble aim perhaps explains why the formation is incredibly extensive and long.

However, after passing through literally more than 5 thousand days in the formation, battling many tough examinations, attending countless prayers and spiritual exercise, involving myself in community activities, I am now standing before the threshold of the being-transforming rite what we call the ordination. Looking back, I am aware that I have reached that unprecedented improvements and growth. However, it is also true that I have come short in many aspects. I have committed untold stupidities, things that 14-year-old Bayu would not dare to contemplate. Thank God, that despite these shortcomings, I am still alive!

Honestly evaluating these things, I realize that I am not worthy of this ordination. I could boast some of my achievements, both in academic and non-academic fields. I could show myself as a brother who lives a religious life with certain regularity. I could boast the numbers of talks and lectures I prepared and gave. I could boast the Latin honor I received in every graduation. However, these things are just a bunch of straws!

However, why does this ordination remain within my reach despite my unworthiness? I realize that the vocation to the diaconate is a gift. In Philosophy expounded by St. Thomas Aquinas, I learn my essence is not my existence, meaning to exist is not even my right. Yet, the mere fact, I exist, means God, who is the source of all existence, has willed that I should live. Fundamentally my life is not right or a must, but a gift. My existence is an utter gift of God and so also my ordination. It is not a gift based on a merit system, otherwise, it is called a reward. It is not a gift I could demand because it is my right. It is neither a gift coming from my inheritance nor a gift that I could purchase in the Church. It is a free, absolutely free. God in the mystery of His infinite mercy and wisdom, has decided to grant me this beautiful gift. As I receive this gift despite my unworthiness, I cannot be forever grateful.

The gift does not only speak of me, the recipient. Ultimately it points to the giver. The gift represents how the giver values the recipient. The more valuable the gift is, the more precious the recipient to the giver. The ordinary gift may symbolize the goodwill of the giver, but the gift that hurts the giver is certainly extraordinary because it bears the sacrificial love of the giver. The gift of ordination reveals who my God is. He is God who sees beyond my weakness and flaws, who considers me as His precious own, who dares to share His own life and mission with me. Thus, I am forever grateful.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Karunia Pentahbisan

Hari Minggu Pertama Adven [2 Desember 2018] Lukas 21: 25-28, 34-36

prostrationSaya telah berada di formasi Ordo Dominikan di Filipina selama lebih dari 12 tahun, dan jika saya menambahkan empat tahun formasi seminari kecil saya di Indonesia, totalnya sampai 16 tahun! Ini sangat panjang karena lebih dari separuh hidup saya berada di formasi. Jika kita percaya bahwa semuanya memiliki tujuan, saya bertanya pada diri sendiri, “apa tujuan dari formasi yang sangat panjang ini?” Mengapa saya harus tetap berada dalam kehidupan formasi dengan suka dan dukanya? Mengapa saya harus menghabiskan banyak waktu dalam belajar? Mengapa saya harus bertekun dalam doa?

Jawabannya ternyata tidak sulit untuk ditemukan. Ini karena saya ingin menjadi imam secara khusus seorang imam Dominikan. Namun, tidak hanya sekedar imam Dominikan, tetapi seorang imam Dominika yang kudus, setia  dan juga dewasa. Jawabannya tampak sederhana, tetapi setiap kata dalam jawaban ini membawa pemahaman dan konsekuensi yang sangat besar. Memiliki tujuan yang begitu mulia ini mungkin menjelaskan mengapa formasi saya harus sangat panjang.

Namun, setelah melewati lebih dari 16 tahun dalam formasi, berjuang menghadapi banyak ujian yang sulit, menghadiri doa dan latihan rohani yang tak terhitung jumlahnya, melibatkan diri dalam kegiatan komunitas, saya sekarang berdiri di depan ambang pintu yang akan merubah hidup saya selamanya, yakni pentahbisan. Melihat ke belakang, saya sadar bahwa saya telah berkembang dan bertumbuh. Namun, benar juga bahwa saya mengalami banyak kegagalan dan bahkan melakukan kebodohan yang tak terkatakan. Puji Tuhan, bahwa meskipun kekurangan ini, saya masih hidup!

Dengan jujur mengevaluasi hidup saya, saya menyadari bahwa saya tidak layak untuk pentahbisan ini. Saya dapat membanggakan beberapa pencapaian saya, baik di bidang akademik maupun non-akademik. Saya bisa menunjukkan diri sebagai seorang frater yang menjalani kehidupan religius dengan baik. Saya bisa membanggakan berbagai kerasulan yang saya berikan. Saya bisa membanggakan penghargaan yang saya terima di setiap kelulusan. Namun, hal-hal ini hanyalah sekedar angin yang datang dan pergi!

Namun, mengapa pentahbisan ini tetap berada dalam jangkauan saya meskipun ketidaklayakan saya? Saya sadar bahwa panggilan ke menjadi seorang daikon ataupun imam adalah sebuah karunia. Dalam Filosofi yang diuraikan oleh St. Thomas Aquinas, manusia bukanlah mahkluk yang mutlak. Keberadaan bukanlah hak manusia dan kapan saja manusia bisa kehilangan eksistensinya. Semua tergantung pada sang sumber dari segala kehidupan, Tuhan sendiri. Pada dasarnya hidup saya bukan hak atau keharusan, tapi karunia. Keberadaan saya adalah anugerah Tuhan dan begitu juga tahbisan saya. Ini bukan karunia berdasarkan sistem point, jika tidak, itu disebut upah. Ini bukan karunia yang saya bisa tuntut berdasarkan hak saya. Itu bukanlah karunia yang datang dari warisan saya atau yang dapat saya beli di Gereja. Ini adalah karunia yang sungguh cuma-cuma. Tuhan dalam misteri belas kasih dan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, telah memutuskan untuk memberikan saya karunia yang indah ini. Menerima karunia ini walaupun ketidaklayakan saya, saya hanya bisa bersyukur.

Karunia ini tidak hanya berbicara tentang saya, sang penerima. Akhirnya ini menunjuk pada sang pemberi. Karunia menunjukkan bagaimana sang pemberi menghargai sang penerima. Semakin berharga karunianya, semakin berharga sang penerima bagi sang pemberi. Sebuah hadiah yang sederhana melambangkan niat baik dari sang pemberi, tetapi karunia yang menuntut pengorbanan sang pemberi, tentu saja luar biasa. Karunia pentahbisan mengungkapkan siapa Allah saya. Dia adalah Tuhan yang melihat di luar kelemahan dan kekurangan saya, yang menganggap saya sebagai milik-Nya yang berharga, yang berani berbagi kehidupan dan misi-Nya dengan saya. Sungguh, saya senantiasa bersyukur memiliki Allah yang adalah kasih.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Tale of Two Kings

The solemnity of Christ the King [November 25, 2018] John 18:33-37

“You say I am a king. For this I was born and for this I came into the world, to testify to the truth. Everyone who belongs to the truth listens to my voice (John 18:37).”

Our Liturgical Year ends with a drama of two kings: Pilate and Jesus. Pilate was representing the superpower nation in those times, the Roman Empire. So massive in its military domination and so ruthless in its conquests are Rome with her mighty legions. Kingdoms bent their knees in homage to Cesar, the king of kings. Pilate embodied this culture of intimidation and violence. He was a notoriously brutal leader, who stole from his subjects and executed people even without a trial. Surely, he thought of himself as the powerful ‘king’ of Jerusalem and anyone who stoodon his way, would be destroyed. 

We are constantly tempted to belong to this kingdom. A husband refuses to listen to his wife and forces his wills in the family through his physical superiority. Insecure with themselves, bigger and tougher guys bully the smaller and weaker kids in a school. Sadly, it takes place not only in school but almost everywhere: family, workplace, society and even cyberspace. The boss intimidates his employees. The government leaders violently suppress any critical voices no matter correct they may be. In the height of his dictatorship, Joseph Stalin bullied the Church saying, “How many division of tank does the Pope have?” Machiavelli, an Italian philosopher, evenonce concluded that the orderly society is built upon fear and violence

However, we have Jesus, the King. But, what kind of king he is? If He is a king, why does he never put on any royal crown, exceptthe crown of thorns forcefully embeddedon his head (Mat 27:29)? If He is a king, why does he have no imperial throneexcept the germ-plagued manger of Bethlehem and the ghastly wood of the cross(Luk 2:7 and Mark 15:30)? If He is a king, why does he control no formidablearmy, except the disbanded group of naïve followers: one of them sold him for30 pieces of silver, a price of a slave,another denied Him for three times and the rest ran for their lives? Is Jesus really a king? 

Reading our today’s Gospel closely, Jesus says that His kingdom is not of this world. This means that His kingdom does not conform to the standards of this world. It is not built upon military power, forceful domination, or bloody war. Thus, He is king with no golden crown, and his kingdom has no single army. Jesus further reveals that He comes to testify to the truth (John 18:37), and indeed, He is the TruthHimself (John 14:6). He is the king that rules the kingdom of truth, and his subjects are those listen and witness to the truth. His is the Kingdom that turns upside down the values of the earthly kingdom. It is not built upon deceit, coercion, or clever political maneuvers,but upon mercy, justice and honesty. It embodies the genuine love for others even the enemies, service to everyone especially to the poor, and true worshipof God.

At the end of the liturgical year, it is providential that the Church chooses this reading for us to contemplate. From the entire liturgical year, we come to the Churchand listen to the scriptural readings especially the Gospel. We listen to JesusHimself, and we are confronted with various aspects of this one Truth. Now, itis time for us to decide whether we become part of the kingdom of Pilate, or welisten to the Truth and follow Jesus.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kisah Dua Raja

Hari Raya Kristus Raja [25 November 2018] Yohanes 18: 33-37

“Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untukitulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Akumemberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaranmendengarkan suara-Ku (Yoh 18:37)”

Tahun Liturgi Gereja diakhiri dengan drama dua raja: Pilatus dan Yesus. Pilatus mewakili negara adidaya pada masa itu, Kekaisaran Romawi. Ini adalah kerajaan yang begitu besar dominasi militernya dan semua kerajaan lain bertekuk lutut menghormati sang Kaisar Roma, raja dari segala raja. Di Yerusalem dan Yudea, Pilatus menjadi wajah dari kerajaan yang dilandasi oleh budaya intimidasi dan kekerasan ini. Pilatus adalah seorang pemimpin yang brutal, yang mencuri dari rakyatnya dan mengeksekusi orang bahkan tanpa pengadilan. Tentunya, dia menganggap dirinya sebagai ‘raja’ dari Yerusalem dan siapa saja yang berdiri di jalannya, akan ia hancurkan.

Kita juga terus digoda untuk menjadi bagian dari kerajaan ini. Kadangkala seorang suami menolak untuk mendengarkan istrinya dan memaksakan kehendak-Nya dalam keluarga melalui kekuatan fisiknya. Atau, tidak aman dengan diri mereka sendiri, orang-orang yang lebih besar menggertak anak-anak yang lebih kecil dan lebih lemah di sekolah. Sayangnya, itu terjadi tidak hanya di sekolah tapi di hampir di mana-mana: keluarga, tempat kerja dan bahkan dunia maya. Joseph Stalin, diktator Uni Soviet menggertak Gereja dengan mengatakan, “Berapa banyak divisi tank yang Paus miliki?” Machiavelli, seorang filsuf Itali, bahkan pernah menyimpulkan bahwa ketertiban dalam masyarakat sebenarnya dibangun di atas ketakutan dan kekerasan

Namun, kita memiliki Yesus, sang Raja. Namun, raja macam apakah Yesus? Jika Dia adalah raja, mengapa ia tidak pernah mengenakan mahkota emas, kecuali mahkota duri tertanam di kepalanya (Mat 27:29)? Jika Ia adalah raja, mengapa ia tidak memiliki takhta kekaisaran kecuali palungan yang kotor di Betlehem dan kayu salib yang mengerikan (Luk 2: 7 dan Markus 15:30)? Jika Dia adalah raja, mengapa ia tidak memiliki tentara yang tangguh? Ironisnya, Ia hanya memiliki kelompok pengikut yang naif yang akhirnya tercerai berai: salah satu dari mereka bahkan menjual-Nya seharga 30 keping perak, harga seorang budak, yang lain menyangkal Dia tiga kali dan sisanya melarikan diri menyelamatkan diri merek sendiri? Apakah Yesus benar-benar seorang raja?

Membaca Injil kita hari ini dengan seksama, Yesus berkata bahwa kerajaan-Nya bukan dari dunia ini. Ini berarti bahwa kerajaan-Nya tidak sesuai dengan standar dunia ini. Kerajaan-Nya tidak dibangun di atas kekuatan senjata, dominasi militer, atau kemenangan di dalam perang. Dengan demikian, Dia adalah raja tanpa mahkota emas, dan kerajaannya tidak memiliki angkatan bersenjata. Yesus lebih lanjut mengungkapkan bahwa Dia datang untuk bersaksi tentang kebenaran (Yoh 18:37), dan memang, Dia adalah Sang Kebenaran (Yoh 14:6). Dia adalah raja yang memerintah kerajaan kebenaran, dan rakyatnya adalah mereka yang mendengarkan dan menjadi saksi dari kebenaran. Nya adalah Kerajaan yang membalikkan nilai-nilai kerajaan duniawi. Kerajaan ini tidak dibangun di atas tipu daya, korupsi, atau manuver politik yang sesat, tetapi pada belas kasih, keadilan dan kejujuran. Kerajaan ini mewujudkan cinta kasih sejati bagi sesama bahkan bagi mereka yang kita anggap musuh, pelayanan bagi semua orang terutama untuk orang miskin, dan penyembahan Tuhan yang benar.

Di pengakhir tahun liturgi ini, adalah sebuah penyelenggaraan Ilahai bahwa Gereja memilih bacaan Injil ini untuk kita renungkan. Di sepanjang tahun liturgi, kita datang ke Gereja dan mendengarkan banyak pembacaan dari Kitab Suci terutama Injil. Kita mendengarkan Yesus sendiri, dan kita dihadapkan pada berbagai aspek dari Kebenaran yang berasal dari Yesus. Sekarang, dihadapan dua raja ini, adalah waktu bagi kita untuk memutuskan apakah kita menjadi bagian dari kerajaan Pilatus, atau kita mendengarkan Kebenaran dan mengikuti Yesus.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Little Apocalypse

Reflection on the 33rd Sunday in Ordinary Time [November 18, 2018] Mark 13:24-32

…they will see ‘the Son of Man coming in the clouds’ with great power and glory… (Mk. 13:26)

The last book of the Bible is called the Book of Apocalypse. The Greek word “ apokalopsis ” means unveiling or revelation.  Thus, the 27th book of the New Testament is also known as the Book of Revelation. It is recognized as an “apocalypse” literature because the book unveils the future events, and usually, these are dramatic happenings at the end of the world. Our Gospel this Sunday is taken from Mark chapter 13, and this chapter is also known as the little “Apocalypse.”

Mark 13 speaks about the coming of the Son of Man. But, reading closely, we discover some distressing and even horrifying events that precede this glorious coming. The Temple of Jerusalem will be demolished, Jesus’ followers will endure severe persecution, and the sun, the moon, and other celestial bodies begin crumbling. This generation will be a terrible time to live.

For modern readers like us, our Gospel today does not sound optimistic at all. In fact, we may question whether it is a Good News of salvation or a nightmarish story that scares little children? For many of us who attend the Sunday mass faithfully, we listen to this little apocalypse at the end of every Church’s liturgical year. Thus, as we have heard it year after year, the story has lost its teeth, and we no longer pay attention to its details. After all, we are still alive and kicking.

However, the apocalypse literature has a different impact and meaning for the first Christians, the original readers of the Gospel of Mark. For the early Church, the apocalypse does not mean to be a horror story, but rather a message of hope.  The early Christians were a tiny minority in the vast Roman empire. Because they were firm in their conviction to worship one God, and refuse to worship Caesars and the Roman gods, they were continually subjects of harassment, persecution and even martyrdom. One of the most brutal persecutions of Christians was under the order of Emperor Nero. He blamed Christians for the fire that consumed parts of the City of Rome. He ordered Christians to be arrested and tortured. Some were fed to the wild beasts. Some were eaten by the hungry dogs. Others were burned at stick to light up the City at night.  In this time of desperation, Mark chapter 13 gave them the Gospel of hope. No matter what happened to Christians, whether it is discrimination, persecution, disaster, or even the end of the world, we are assured that it is God who is in control; He has the final word.

The mere fact we can read this reflection means that we are living in a much better time compared to the persecuted Christians. However, the message of the apocalyptic literature remains true to us and all Jesus’ followers through the ages. Facing daily challenges and toils, unexpected and unfortunate events, and various problems and complexities, we tend to shrink to ourselves, to be frustrated, and lose hope. More and more young people easily get depressed, and some, unfortunately, decide to end their lives. This happens, I believe, because we no longer know how to hope. In his book, Crossing the Threshold of Hope, St. John Paul II was asked whether the holy pope ever doubted his relationship with God, especially in these periods of trouble and difficulty. As a man of hope, his answer was simple yet powerful, “Be not afraid!” The Church should be the school that teaches her children to dare to hope, even hope against all hope, because in the end, God has the final word, and we should not be afraid.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Harapan di Hari Akhir


Minggu ke-33 dalam Masa Biasa [18 November 2018]

Markus 13: 24-32

“Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” (Mrk. 13:26)

Buku terakhir di Alkitab dikenal juga sebagai Kitab Wahyu. Dalam Bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah “apokalopsis” yang berarti penyingkapan atau pewahyuan. Literatur “apokaliptik” merupakan karya-karya tulis mengungkap rahasia peristiwa masa depan, dan biasanya, ini adalah kejadian-kejadian dramatis di akhir dunia. Injil kita hari Minggu ini diambil dari Markus pasal 13, dan bab ini juga dikenal sebagai apokaliptik kecil.

Markus 13 berbicara tentang kedatangan Anak Manusia. Namun, ketika kita membaca lebih seksama, kita menemukan beberapa peristiwa yang menyedihkan dan bahkan mengerikan yang akan mendahului kedatangan Yesus yang mulia ini. Bait Allah Yerusalem akan dihancurkan, pengikut-pengikut Yesus akan mengalami penganiayaan, dan matahari, bulan, dan objek-objek angkasa lainnya tak lagi berfungsi. Zaman ini akan menjadi waktu yang mengerikan bagi manusia untuk hidup.

Bagi pembaca modern seperti kita, Injil kita hari ini tidak terdengar optimis sama sekali. Sebenarnya, kita mungkin mempertanyakan apakah ini adalah Kabar Baik tentang keselamatan atau kisah mimpi buruk yang sekedar menakut-nakuti anak-anak kecil? Bagi banyak dari kita yang menghadiri misa Mingguan dengan setia, kita mendengarkan kisah apokaliptik kecil ini di akhir setiap tahun liturgi Gereja. Karena kita mendengar kisah ini dari tahun ke tahun, kisah apokaliptik ini telah kehilangan giginya, dan kita tidak lagi takut dengan hal-hal yang akan terjadi. Toh nyatanya, kita masih hidup dan baik-baik saja.

Namun, literatur apokaliptik memiliki dampak dan makna yang berbeda bagi umat Kristiani pertama, yang adalah pembaca pertama Injil Markus. Bagi Gereja Perdana, apokaliptik tidak berarti cerita horror akhir dunia yang menakutkan, melainkan sebuah pesan harapan. Umat ​​Kristiani awal adalah minoritas kecil di kekaisaran Romawi yang besar. Karena mereka teguh dalam keyakinan mereka untuk menyembah Allah yang esa, dan menolak untuk menyembah Kaisar Roma dan dewa-dewa Romawi, mereka terus menerus menjadi subjek pelecehan, penganiayaan dan bahkan menjadi martir.

Salah satu penganiayaan yang paling brutal terhadap umat Kristiani terjadi di bawah perintah Kaisar Nero. Dia menyalahkan umat Kristiani atas api yang membakar sebagian Kota Roma. Dia memerintahkan agar umat Kristiani untuk ditangkap dan disiksa. Beberapa menjadi umpan binatang buas. Beberapa dimakan oleh anjing-anjing lapar. Lainnya dibakar hidup-hidup untuk menerangi Kota Roma di malam hari. Dalam masa keputusasaan ini, Markus pasal 13 memberi mereka Injil pengharapan. Tidak peduli apa yang terjadi pada umat Kristiani, apakah itu diskriminasi, penganiayaan, bencana, atau bahkan akhir dunia, mereka yakin bahwa Allahlah yang memegang kendali; Dia yang berkuasa dan memiliki kata terakhir.

Fakta bahwa kita dapat membaca refleksi kecil ini berarti bahwa kita hidup dalam zaman yang jauh lebih baik dibandingkan dengan umat Kristiani yang dianiaya. Namun, pesan dari literatur apokaliptik tetap relevan bagi kita semua. Menghadapi tantangan dan kerja harian, kejadian yang tidak terduga dan tidak menyenangkan, dan berbagai masalah dan kerumitan hidup, kita cenderung frustrasi, dan kehilangan harapan. Semakin banyak orang muda saat ini yang dengan mudah mengalami depresi, dan sebagian, sayangnya, memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka. Ini terjadi karena kita tidak lagi tahu bagaimana berharap. Dalam bukunya, “Crossing the Threshold of Hope”, St. Yohanes Paulus II ditanya apakah sang paus pernah meragukan hubungannya dengan Tuhan, terutama dalam masa sulit dalam hidupnya. Jawabannya sederhana namun penuh pengharapan, “Jangan takut!” Gereja adalah sekolah yang mengajar anak-anaknya untuk berani berharap karena pada akhirnya, Tuhanlah yang memiliki kata akhir, dan kita tidak perlu takut.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Scribes

Reflection on the 32nd Sunday in Ordinary Time [November 11, 2018] Mark 12: 38-44

[the Scribes] devour the houses of widows and, as a pretext, recite lengthy prayers. They will receive a very severe condemnation. (Mk. 12:40)

kissing the groundIn Jesus’ time, the scribes are the well-educated Jewish men who are expert in the Law of Moses. Some of them come from the wealthy families, and others hail from the priestly clan. Being able to teach and interpret the Law, they receive the respect and honor from the ancient Jewish society. Thus, ordinary Jews will greet them and prepare them the seats of honor in the synagogues and the banquets. Surely, there is no problem with receiving greetings and sitting as honor guests. Jesus Himself is often greeted as “Teacher” or “Rabbi”, and He attends the banquets as guest of honor (see Mar 14:3). The problem comes when some of the scribes possesses “narcissistic desire” and intentionally look for these privileges.

However, not only Jesus criticizes them for this narcissistic attitude, He gravely condemns also their acts of injustice, particularly “devouring the houses of widows.” In Jesus’ time, widows (Hebrew “almanah”) is considered to be one of the poorest and weakest. They are women who do not only lose their husband, but also fall into deeper poverty because they no longer have anybody to support them. They are lucky if their family and relatives take care of them, but in difficult times, they are left to their own. The Law of Moses provides that the widows, together with the orphans and strangers should be protected (see Deu 10:18).

Since the scribes are the respected and wealthy members of the society, it is a logical choice to entrust the care of Jewish widows to them. Unfortunately, instead helping and defending the widows, some of the scribes oppress and steal from the little the widows have. To steal is evil, but to rob the poor people who place their trust in us is far greater evil. Yet, it is not yet worst. After perfectly hiding their acts of injustice, some of the scribes continue going to the Temple and reciting lengthy prayer, as if there is nothing happens. This is hypocrisy, a double-life attitude at its finest!

As my ordination day to the diaconate is drawing closer, some of my brothers in the community and friends began to call me with title of honor like “reverend” or simply, “rev”. Admittedly, I am not comfortable with it. I wish that the people remain calling me brother. However, it has become the common practice in the Catholic Church to honor her ordained ministers. It is my prayer and my sincere wish I will not be like some of the Scribes who become “narcissistic” and “covets” the people’s adulation and all the privileges it brings. George Weigel, an American Catholic author, in his recent article, traces the root of Catholic anger against the clergy in the US. He writes that while it is true that many clergymen are good and holy, it is the clerical narcissism that builds anger of the Catholic lay.

Learning from the scribes, the narcissism is the seed. The vice grows into hidden acts of injustice. And from evil of injustice, the men in white garment are turning worse as they live in hypocrisy. It is my earnest hope that we continue praying, supporting and even correcting our brothers who are ordained to become the servants of God and His people. Without God’s grace, the right dose of humility and lay people’ prayer and help, our deacons, priests and bishops may become like the scribes who earn Jesus’ condemnation.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP