Hari Raya Penampakan Tuhan [7 Januari 2018] Matius 2:1-12
“Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur (Mat 2:11)”
Menurut tradisi, nama tiga orang Majus adalah Balthazar, Melchior, dan Gaspar. Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan untuk Majus adalah ‘magos’, yang berarti ‘seseorang dengan kekuatan magis atau sihir’, dan mempraktekkan ilmu magis adalah sebuah kesalahan besar di mata orang-orang Yahudi (2 Taw 33: 6). Bahkan Gereja Katolik sendiri melarang kita memiliki kontak dengan praktek magis atau sihir apa pun (Katekismus 2116). Namun, kita tidak bisa memastikan bentuk magis apa yang digunakan oleh orang Majus ini, tapi satu hal yang pasti bahwa mereka membaca tanda zaman dan mengikuti bintang. Karena itu, mereka bias disebut sebagai astrolog kuno, pembaca bintang yang memprediksi perilaku manusia dan masa depan.
Anehnya, Injil hari ini mempersembahkan ketiga orang Majus ini sebagai protagonis. Mengapa para praktisi magis ini bisa menjadi orang baik di sini? Jika kita memeriksa dengan seksama kisah Injil, kita menemukan bahwa orang-orang Majus ini dikontraskan dengan Herodes bersama dengan imam-imam kepala dan ahli-ahli Tauratnya. Berbeda dengan orang Majus yang membaca bintang untuk menemukan raja yang baru lahir, Herodes dan para pembantunya meneliti Kitab Suci untuk menemukan Mesias. Memang, Kitab Suci, sebagai Firman Allah, adalah cara yang benar untuk mencari Yesus. Sayangnya, meski memiliki metode yang benar, maksud Herodes adalah untuk memusnahkan Yesus, yang merupakan ancaman terhadap takhtanya. Herodes menjadi lambang bagi orang-orang yang menggunakan Kitab Suci untuk mencapai agendanya sendiri, untuk membingungkan orang-orang dan untuk menghancurkan Tuhan. Sementara orang Majus, terlepas dari metode yang tidak benar, dengan tulus mencari Yesus dan sungguh, Tuhan membawa mereka kepada Yesus.
Pertemuan dengan Yesus membawa transformasi yang nyata. Orang Majus menawarkan Yesus emas, kemenyan, dan mur. Secara tradisional, ketiga hadiah itu adalah simbol kerajaan, imamat dan penderitaan Yesus, namun penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa ketiga hadiah itu adalah barang yang biasanya digunakan untuk mempraktekkan sihir di zaman kuno. Jadi, ketika orang Majus menawarkan tiga hadiah, ini melambangkan penyerahan profesi lama mereka. Ketika mereka melihat Raja sejati, mereka telah menemukan arti sebenarnya dari kehidupan dan kebahagiaan. Mereka menyadari bahwa profesi lama mereka walaupun memberi mereka kekuatan, tidaklah benar. Perjalanan mereka telah sampai pada puncaknya, dan inilah saatnya bagi mereka untuk memutuskan apakah akan bertahan dengan cara lama atau untuk menerima Kristus sepenuhnya. Dan, mereka membuat pilihan yang tepat.
Kisah orang Majus mengingatkan saya akan kisah Bartolo Longo. Tumbuh dalam masa sulit di Italia dan Gereja, Bartolo muda kehilangan kepercayaan pada Paus, dan memasuki sebuah kelompok pemuja setan, sampai pada akhirnya, dia menjadi imam dari kelompok tersebut. Namun, terlepas dari kekuatan dan kekayaan yang ia dapatkan dari setan, ia terus resah. Jauh di lubuk hatinya, ia merindukan kedamaian sejati. Didorong oleh keinginannya untuk mendapatkan kebenaran, dan dibantu oleh seorang imam Dominikan, dia kembali ke iman yang telah ditinggalkannya. Dia menjadi seorang yang mencintai Bunda Maria dan promotor rosario yang penuh semangat. Dia memulai pemulihan gereja yang rusak di kota Pompey, dan menempatkan lukisan Maria Ratu Rosario di sana. Melalui usahanya, kini gereja tersebut telah menjadi situs peziarahan yang dihormati di Italia. Kekudusannya diakui oleh Gereja, dan dia dibeatifikasi pada tahun 1980 oleh Yohanes Paulus II.
Seperti orang Majus dan Bartolo Longo, apakah kita siap untuk mengenali Kristus sebagai kebahagiaan sejati kita? Apakah kita bersedia untuk mencari Yesus dalam perjalanan hidup kita? Dan, ketika saatnya tiba, apakah kita rela melepaskan hidup kita yang lama dan untuk merangkul Yesus sepenuhnya?
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Some of us may wonder why the Church places the celebration of the solemnity of Mary, the Mother of God on January 1, or on the New Year. One may guess that the Church wants us to attend mass on the first day of the year, so as to start the year right. For those who wish to have a long holidays, it might be pretty a kill joy, but for some of us who wish to be blessed for the entire year, it is a nice thought. Yet, surely there is something deeper than that.
Today, the Church is celebrating the feast of the Holy Family. Saint Joseph and the Blessed Virgin Mary are man and woman regarded as the holiest among mortals. And the center of their family is Jesus, the Son of God. They are not only one holy family among others, but they are the perfection of the Holy Family. Looking at our own families, we realize we are nothing to compare to this Holy Family. We are called to be holy like them, but we continue to struggle and fail. Nobody among us is immaculately conceived like the Virgin Mary. No woman among us gives birth to the Son of God through the power of the Holy Spirit. Many of us surely love to sleep, but who among us like St. Joseph, receive genuine appearance of the Angel in our dream? Despite our best efforts, we keep hurting each other, failing each other, and are far from the ideal example of the Holy Family.
Hari ini, Gereja merayakan Pesta Keluarga Kudus. Santo Yusuf dan Perawan Maria adalah pria dan wanita adalah paling kudus di antara manusia, dan pusat keluarga mereka adalah Yesus, Putra Allah. Sungguh tidak ada keluarga lain yang dapat menyamai keluarga kudus yang satu ini. Melihat keluarga kita sendiri, kita sadar bahwa kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Keluarga Kudus ini. Benar bahwa kita semua dipanggil untuk menjadi kudus seperti mereka, tapi kita terus bergulat dan gagal. Tidak ada di antara kita yang dikandung tanpa noda seperti Perawan Maria. Tidak ada wanita di antara kita yang melahirkan Putra Allah melalui kuasa Roh Kudus. Banyak dari kita pasti suka tidur, tapi siapa di antara kita seperti St. Yusuf, yang menerima kabar dari Malaikat Allah dalam mimpi kita? Terlepas dari upaya terbaik kita, kita terus saling menyakiti, gagal, jatuh, dan jauh dari contoh ideal Keluarga Kudus.
Christmas is one of the most joyous events in the Church and the world. But, what makes us happy this Christmas? Is it only about partying? Is it all about buying gifts? Is it about family gathering? Is it about fulfilling our obligation of going to the Church? Is there something more than these? Immersed in many celebrations, merriment, spending, and holidays, we often forget the main reason behind Christmas. We all know Christmas is the birthday of Jesus Christ, but what is the meaning and significance of this birth for us? Let us stop for a while and reflect on the Gospel of John.
Natal adalah salah satu hari yang paling menggembirakan di dalam Gereja. Tapi, apa yang membuat kita gembira Natal ini? Apakah karena banyak pesta? Apakah karena kita menerima banyak hadiah? Apakah karena kita bisa berkumpul dengan keluarga? Terlarut dalam banyak perayaan, kegembiraan, belanja, dan liburan, kita sering melupakan alasan utama di balik Natal. Tentunya, kita semua tahu Natal adalah hari kelahiran Yesus Kristus, tapi apa arti sesungguhnya kelahiran ini bagi kita? Mari kita berhenti sejenak dan merenungkan Injil Yohanes.
Luke has a poignant and unique way in narrating the story of the Annunciation. He deliberately places the story of Zachariah and of Mary side by side, and lets his readers see both stories in comparison. The first story speaks of a holy man who serves in the Temple. Zachariah is a symbol of the ideal Israelite who stands at the center of the holy ground. The second story speaks of an ordinary woman who lives in Nazareth, a small town far from the center. In a patriarchal society, Mary is a symbol of the poor and marginalized Israelite who is pushed to the peripheries. Angel Gabriel appears to both, and God does marvelous deeds for both. Yet, the Annunciation to Mary turns to be far more excellent. The Angel greets Mary with the title of honor, the highly favored one, while the angel does not even greet Zachariah. The Angel makes Zachariah mute because of his doubt, but he assures Mary when she is confused. The conception of John the Baptist is done through natural means, while the conception of Jesus in the womb of Mary takes place through the supernatural way. Zachariah and Elizabeth represent the outstanding God’s marvel in the Old Testament like when God opened the womb of Sarah, the wife of Abraham, and Hannah, the mother of Samuel, despite their old age and barrenness. Yet, what happens to Mary surpasses and outshines these Old Testament miracles.
Lukas memiliki cara yang tajam dan unik dalam menulis kisah tentang Penerimaan Kabar Sukacita. Dia dengan sengaja menempatkan kisah Zakharia dan Maria secara berdampingan, dan membiarkan pembacanya melihat kedua cerita itu dalam perbandingan. Kisah pertama berbicara tentang seorang imam yang suci yang melayani di Bait Allah. Zakharia adalah simbol dari orang Israel ideal yang berdiri di pusat peribadatan bangsa Israel. Kisah kedua berbicara tentang seorang wanita sederhana yang tinggal di Nazaret, sebuah desa kecil yang jauh dari pusat pemerintahan dan keagamaan. Dalam masyarakat patriarki, Maria adalah simbol dari bangsa Israel yang miskin dan terpinggirkan dan terdorong ke pinggiran. Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada keduanya, dan Tuhan melakukan perbuatan yang luar biasa bagi keduanya. Namun, Kabar Sukacita bagi Maria ternyata jauh lebih baik. Pertama, sang Malaikat menyapa Maria dengan gelar kehormatan, “Engkau yang dikaruniai”, sementara sang malaikat tidak menyapa Zakharia sama sekali. Kedua, sang malaikat membuat Zakharia bisu karena keraguannya, tapi dia meyakinkan Maria saat Maria bertanya-tanya. Ketiga, pembuahan Yohanes Pembaptis terjadi secara alamiah, sementara Yesus di dalam rahim Maria terjadi melalui cara yang supernatural. Zakharia dan Elizabeth mewakili karya besar Tuhan dalam Perjanjian Lama seperti ketika Tuhan membuka rahim Sarah, istri Abraham, dan Hannah, ibu Samuel, meskipun sudah tua dan mandul. Namun, apa yang terjadi pada Maria melampaui segala mukjizat Perjanjian Lama ini.
In the Fourth Gospel, John the Baptist has an important role. It is not only to baptize, but to become a witness. He is to witness to the light, to the true Messiah, to Jesus Christ. When the priests, Levites, and Pharisees from Jerusalem, come to him , and interrogate him to clarify his identity, he makes it clear that he is not the Messiah, not even the prophet, but rather enigmatically saying “a voice that cries in the desert.” It seems it is an easy thing to do for John. Questions are thrown at him, and he simply gives straight and confident answers. Yet, looking deeper into the reality, it is actually the opposite.
Dalam Injil Keempat, Yohanes Pembaptis memiliki peran penting: bukan hanya untuk membaptis, tapi untuk menjadi saksi. Dia bersaksi tentang sang Terang, sang Mesias sejati, Yesus Kristus. Ketika para imam dan orang-orang Farisi dari Yerusalem datang kepadanya dan menginterogasinya untuk mengklarifikasi identitasnya, dia menjelaskan bahwa dia bukanlah Mesias, bahkan bukan seorang nabi, namun dia berseru, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! (Yoh 1:23)” Sepertinya hal ini adalah hal mudah untuk Yohanes lakukan. Pertanyaan diajukan kepadanya, dan dia memberikan jawaban secara lugas dan percaya diri. Namun, melihat lebih dalam pada realitas zamannya, hal yang dilakukannya tidaklah semudah yang kita bayangkan.