Kerahiman Ilahi

Minggu Kedua Paskah [A]

19 April 2020

Yohanes 20: 19-31

confession at streetHari Minggu Paskah kedua juga dikenal sebagai Minggu Kerahiman Ilahi. Perayaan Minggu Kerahiman Ilahi ditetapkan pada tahun 2000 oleh St. Yohanes Paulus II yang memiliki devosi khusus kepada kerahiman Ilahi yang diwahyukan kepada St. Faustina. Meskipun perayaan liturgi ini sendiri adalah sesuatu yang baru, kebenaran akan kerahiman Ilahi adalah sesuatu yang mendasar dalam Alkitab dan Tradisi Suci. Jika ada satu karakter Allah yang paling penting, ini tidak lain adalah kerahiman-Nya. Dalam Perjanjian Lama, setidaknya ada dua kata Ibrani yang dapat diterjemahkan sebagai kerahiman. Yang satu adalah rāḥam dan yang lainnya adalah ḥeṣedh.

Kata “Raham” terkait erat dengan rahim wanita. “Raham” adalah perasaan dan tindakan yang mengalir dari rahim yang adalah sumber dan pemelihara kehidupan baru. Kerahiman datang dari kesadaran bahwa kita berasal dari rahim yang sama, bahwa kita bersaudara. Maka, ketika salah satu saudara kita menderita atau bergulat dengan kesulitan, kita dengan mudah berempati dan tergerak untuk meringankan kesulitannya. Namun, “raham” dapat juga dipahami sebagai perasaan keibuan terhadap seseorang yang telah datang dari rahimnya. Perasaan tulus inilah yang menggerakkan seorang ibu untuk melakukan segalanya untuk anak-anaknya. Kerahiman dalam pengertian ini lebih pantas bagi Tuhan. Dia tidak bisa tidak berbelas kasih dan merangkul penderitaan dan bahkan kelemahan kita karena kita datang dari “rahim rohani” Tuhan. Tidak heran, Gereja berani mengajarkan bahwa kita adalah anak-anak Allah.

Kata “Hesedh” juga merupakan kata yang penting dan ini bisa berarti kasih yang teguh atau kesetiaan yang tak kenal batas. Tuhan kita adalah pribadi yang sangat berani mengikat diri-Nya pada sebuah perjanjian dengan manusia yang lemah seperti Adam dan keturunannya. Karena itu, jika kita rangkum isi Alkitab, ini tidak lain adalah sebuah kisah tentang Allah yang setia yang memberikan diri-Nya kepada manusia yang tidak setia. Dari Adam yang gagal menjalankan tugasnya untuk menjaga taman, sampai ke Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali, umat manusia terkenal sebagai makhluk yang sulit untuk setia. Namun, Tuhan tetap setia dan memberikan pengampunan-Nya untuk membangun kembali hubungan yang hancur karena ulah manusia ini.

Pilihan Minggu Kedua Paskah untuk menjadi Minggu kerahiman Ilahi adalah keputusan yang sangat tepat karena Injil berbicara bagaimana kerahiman Ilahi beroperasi. Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada para murid dan memberi mereka wewenang untuk mengampuni dosa. Ini adalah kisah tentang institusi sakramen rekonsiliasi. Pengampunan adalah manifestasi pertama dan utama dari kerahiman. Meskipun otoritas untuk mengampuni adalah milik Allah, Kristus yang bangkit telah menghendaki bahwa otoritas ini dibagikan kepada para rasul-Nya. Karena para rasul adalah para uskup pertama, kuasa yang sama diberikan kepada penerus mereka. Dan para uskup membagikan kuasa Ilahi dan tanggung jawab ini kepada rekan kerja mereka, para imam.

Injil dimulai dengan para murid yang takut. Mereka takut karena banyak sebab, tetapi salah satu alasan terkuat adalah mereka takut kepada Yesus. Mereka telah meninggalkan dan tidak setia kepada-Nya, dan mereka mendengar bahwa Yesus telah bangkit. Mereka berpikir bahwa ini adalah saat penghakiman, saat untuk membalas dendam. Namun, Yesus menampakkan diri dan kata-kata pertamanya bukanlah kata kemarahan atau penghakiman, tetapi “damai” atau “shalom”. Para murid seharusnya tidak lagi takut dan damai karena terlepas dari ketidaksetiaan mereka karena mereka telah diampuni.

Masa Paskah dimulai dengan jaminan bahwa Allah berbelas kasih dan menawarkan kepada kita pengampunan yang tidak pantas kita terima. Dan masa ini mengundang kita untuk lebih mengampuni karena kita telah diampuni, dan untuk menjadi rasul perdamaian karena kita telah menerima kedamaian dari Yesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kubur Kosong

Minggu Paskah

12 April 2020

Yohanes 20: 1-9

empty-tomb-29306808Hari ini adalah hari kebangkitan Yesus. Hari ini adalah hari Yesus mengalahkan dosa dan maut. Hari ini adalah hari kemenangan kita. Tidak mengherankan di antara perayaan liturgi Gereja, Paskah adalah yang termegah, terpanjang dan paling spektakuler. Inilah saatnya gereja dibanjiri oleh umat beriman. Inilah saatnya umat paroki terlibat dalam banyak kegiatan, persiapan, dan pelayanan. Inilah saatnya keluarga berkumpul dan merayakan. Inilah saatnya para imam menerima lebih banyak berkat!

Namun, sesuatu yang aneh tahun ini. Perayaan Paskah kita sunyi dan sederhana. Hal ini seperti sebuah makam kosong, sunyi dan gelap. Dan seperti makam kosong, gereja-gereja kita juga kosong, bangku tanpa umat, dan bangunan kita lebih gelap. Paskah ini, kita tidak memegang lilin yang menyala di tangan kita. Paskah ini, kita tidak bernyanyi bersama Exultet. Paskah ini, kita masih belum menerima komuni suci.

Kita mungkin seperti Maria Magdalena atau Petrus yang menemukan makam kosong. Maria Magdalena bingung dan bingung ketika dia melihat makam kosong itu. Dia menangis di depan kuburan karena dia pikir tubuh Yesus telah dicuri. Dia sangat mengasihi Yesus, tetapi dia harus melihat Tuhannya disiksa, disalibkan dan dikuburkan. Itu adalah pengalaman yang menyakitkan dan menghancurkan untuk melihat seseorang yang dikasihinya mati seperti binatang. Seolah tidak cukup dengan semua rasa sakit, kali ini, tubuh itu hilang. Petrus juga mengalami hal sama. Setelah dia memberi tahu Gurunya bahwa dia akan memberikan hidupnya untuk-Nya, kurang dari beberapa jam, dia menyangkal Yesus, tidak hanya sekali, tidak dua kali, tetapi tiga kali. Dia menyadari bahwa dia adalah seorang pengecut, dan ini membawa rasa sakit dan penghinaan yang mengerikan. Untuk memperburuk keadaan, dia menemukan makam itu kosong dan dia gagal untuk mengerti.

Tahun ini berbeda karena Tuhan telah mengundang kita untuk masuk lebih dalam ke dalam kubur. Pada tahun-tahun sebelumnya, kita mungkin terpesona oleh malaikat yang bersinar. Kita memfokuskan diri pada berbagai persiapan, pada lagu-lagu indah, pada dekorasi bunga, pada suasana gembira, atau mungkin pada para imamnya! Tetapi tahun ini, Tuhan meminta perhatian kita pada makam kosong, untuk sendiri dalam kesunyian, hening dalam kegelapan, dan untuk merenungkan lebih dalam tentang bagaimana Yesus bangkit.

Yesus tidak menunjukkan pertunjukan yang spektakuler tentang bagaimana Ia menaklukkan maut. Yesus tidak mengambil foto narsis apa pun ketika Ia kembali dari kematian! Sebaliknya, Yesus bangkit dalam rahasia gua. Yesus menang atas maut dalam keheningan kubur. Yesus menyelamatkan kita dengan cara yang tersembunyi dan misterius. Namun, ini adalah kebangkitan, dan ini adalah momen paling indah dalam sejarah manusia.

Tahun Paskah ini memberi kita pelajaran yang kuat. Tuhan telah bangkit bahkan di kuburan kosong kehidupan kita. Tuhan itu hidup bahkan kita jauh dari gereja yang kita cintai dan layani. Tuhan itu hidup bahkan ketika kita merasakan yang paling tidak berdaya di dalam rumah kita. Tuhan itu hidup bahkan ketika kita berjuang dengan banyak kesulitan yang disebabkan oleh pandemi ini.

Mungkin, inilah saatnya kita lebih banyak merenungkan bagaimana Tuhan bekerja dengan lembut dalam hidup kita. Mungkin, inilah saatnya untuk memikirkan kembali prioritas kita dalam hidup dan menempatkan Tuhan sebagai prioritas kita. Mungkin, inilah saatnya untuk menghargai orang-orang yang mencintai, untuk berdamai dengan orang-orang yang dekat dengan kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Getsemani

Jumat Agung

10 April 2020

Yohanes 18 – 19

Jesus praysJika ada satu hal yang menyatukan orang-orang dari berbagai negara, bahasa, dan agama, ini adalah penderitaan. Dengan coronavirus yang menyebar sangat cepat, orang-orang dengan latar belakang yang berbeda, muda dan tua, kaya dan miskin, dan bangsawan dan rakyat jelata, dan awam dan klerus jatuh tersungkur dan gemetar. Memang, virus mikroskopis ini telah meluluh lantahkan kehidupan banyak orang. Orang-orang sakit kerah, rumah sakit kewalahan, kota-kota terisolasi, keluarga-keluarga terpisah, pekerja-pekerja menganggur, pemerintah-pemerintah tak berdaya, dan gereja-gereja kosong. Penderitaan memaksa kita untuk mengakui kelemahan manusiawi kita dan semua yang kita banggakan, ternyata hampa.

Saya mendengar semakin banyak pertanyaan dari beberapa teman dan umat, “Kapan ini akan berakhir? Aku rindu untuk melakukan rutinitas, kapan kita dapat kembali ke Gereja? Apakah kita akan selamat? Apakah kita akan mati? Di manakah Tuhan dalam masa yang paling sulit ini?” Sebagai seorang imam yang bekerja di sebuah paroki, adalah tugas saya untuk menguatkan umat Allah di saat-saat pencobaan ini, namun saya tidak bisa begitu saja memberikan kata-kata penghiburan namun tidak berisi. Saya tidak bisa hanya mengatakan, “itu akan segera berakhir” meskipun, mereka tahu bahwa itu tidak akan berakhir secepat itu. Adalah kebohongan ketika saya memberi tahu orang-orang, “Tidak apa-apa, jangan khawatir.” Sementara saya sendiri berjuang dengan rasa sakit dan kekecewaan. Ini adalah tahun pertamaku sebagai romo, namun, saya mendapati diri saya terasingkan dari orang-orang yang saya layani. Realitas yang paling menyakitkan adalah bahwa saya tidak dapat merayakan Pekan Suci, waktu yang paling suci dengan orang-orang yang saya kasihi, dan umat yang saya cintai.

Pada saat kebingungan, kesakitan, dan penderitaan ini, saya ingin mengajak Anda semua untuk melihat salib, namun dari balik salib itu, mari kita bersama Yesus dalam sakratul maut-Nya.. Yesus bersama dengan ketiga murid-Nya, pergi ke bukit Zaitun, dan ke bagian bawah bukit ini, ada sebuah taman yang disebut Getsemani. Nama Getsemani berarti “tempat memeras zaitun” dan tempat ini menjadi salah satu penyuplai minyak zaitun bagi kota Yerusalem. Zaitun sendiri adalah minyak yang banyak kegunaannya namun juga berharga. Minyak ini digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari seperti bumbu makanan dan membakar lampu. Minyak berfungsi sebagai obat dan mengurapi orang sakit. Itu juga digunakan untuk tujuan sakral. Minyak zaitun dipersembahkan sebagai bagian dari kurban harian di Bait Suci [Bil. 28: 5]. Dan para imam seperti Harun dan raja-raja seperti Daud diurapi dengan minyak zaitun. Dengan berbagai kegunaan, dari rumah tangga hingga penggunaan sakral, tidak mengherankan bahwa dalam tradisi Yahudi kuno, pohon zaitun disebut sebagai pohon kehidupan di tengah taman Eden.

Namun, untuk menghasilkan minyak, buah zaitun harus dihancurkan dan diperas. Pertama, buah akan digiling oleh batu kilangan besar. Kedua, setelah hancur menjadi bubur, ini diperas untuk mengekstraksi minyak. Buah dari pohon kehidupan harus dihancurkan untuk menghasilkan kehidupan itu sendiri. Dan Yesus mengerti bahwa Dia adalah pohon kehidupan baru, dan Dia harus dihancurkan terlebih dahulu untuk menghasilkan kehidupan yang benar.

Yesus menghadapi saat yang mengerikan dalam hidup-Nya dan Dia memiliki semua pilihan untuk menghadapinya. Yesus bisa saja lari, Dia bisa memanggil pasukan malaikat untuk membela-Nya, atau Dia bisa dengan mudah menempatkan orang lain untuk disalibkan. Namun, Yesus memilih untuk merangkul salib dan kematian-Nya karena Dia tahu ini adalah cara yang berbuah. Hanya melalui penderitaan dan kematian, Dia dapat mengasihi kita sampai akhir, dan kita mungkin memiliki hidup yang berlimpah.

Dalam menghadapi penderitaan kita, kita dipanggil seperti Yesus untuk merangkulnya, dan bahkan dihancurkan olehnya, sehingga kehidupan sejati dapat mengalir. Memang benar bahwa pada tahun pertama saya sebagai seorang imam, Tuhan memiliki rencana yang berbeda untuk saya, dan saya tidak dapat merayakan Minggu Suci dengan umat yang saya kasihi, tetapi Dia bahkan memberi saya hadiah berharga untuk berpartisipasi dalam penderitaan dan kematian-Nya secara lebih penuh.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hosanna

Minggu Palma Mengenang Sengsara Tuhan

5 April 2020

Matius 21: 1-11 dan Matius 26: 14—27: 66

palm n crossHari ini, kita merayakan Minggu Palma. Di banyak negara, hari ini adalah perayaan besar dan umat dengan penuh semangat memenuhi Gereja. Saya ingat waktu masih kecil saya selalu paling semangat ikut perarakan romo yang memasuki Gereja dan kami mengikutinya dengan membawa daun palma kami masing-masing.

Namun, sesuatu yang memilukan terjadi tahun ini. Gereja-gereja di banyak negara ditutup sementara, umat beriman diminta untuk tidak berkumpul, termasuk menghadiri Ekaristi suci, dan orang-orang bingung apa yang harus dilakukan dengan Perayaan Pekan Suci. Seorang umat paroki bertanya dengan sedih kepada saya, “Romo, karena Gereja ditutup, apa yang harus saya lakukan dengan cabang-cabang palma yang saya petik?” Tentunya, selalu ada solusi pastoral untuk hal-hal ini, tetapi masalah sebenarnya bukan tentang bagaimana mengatasi kebingungan, tetapi bagaimana menghadapi kepedihan yang mendalam karena kehilangan apa yang membuat kita menjadi Katolik. Tidak ada palma di tangan kita, tidak ada ciuman kaki salib, dan tidak ada Tubuh Kristus.

Orang-orang Yerusalem yang menyambut Yesus dan berteriak, “Hosanna!” Kata Ibrani “Hosanna” secara harfiah berarti “selamatkan kami!” atau “beri kami keselamatan!” Itu adalah seruan harapan. Kita perlu ingat bahwa orang-orang Israel pada masa ini berada di bawah pendudukan Kekaisaran Romawi. Umumnya, kehidupan itu sulit dan banyak orang menanggung pajak berat dan peraturan yang membebankan. Banyak orang Yahudi yang setia mengharapkan Mesias yang dijanjikan, yang seperti Daud, akan memulihkan dua belas suku Israel yang hilang, membebaskan mereka dari cengkeraman bangsa Romawi dan membawa mereka ke kerajaan yang mulia. Mereka melihat Yesus sebagai pewarta karismatik, penyembuh ajaib, dan penakluk alam yang ganas, dan tentunya, Yesus bisa menjadi raja yang akan menjungkirbalikkan pasukan Romawi. Kita perlu mengingat juga konteks Injil hari ini, bahwa dalam beberapa hari, orang-orang Yahudi akan merayakan pesta besar Paskah, dan ribuan orang berkumpul di Yerusalem. Dengan begitu banyak energi dan euforia, insiden kecil bisa memicu pemberontakan skala besar. Dan Yesus berada di pusat pusaran ini.

Yesus memang seorang raja dan penyelamat, tetapi Ia bukan raja yang diharapkan banyak orang. Dia adalah raja damai, bukan jendral perang, itulah sebabnya Dia memilih keledai yang lembut daripada kuda yang kuat. Mahkotanya bukan emas dan berlian yang bersinar, tetapi duri yang tajam. Jubahnya bukan kain halus ungu, tetapi kulit yang penuh luka. Takhta-Nya tidak megah, tetapi sebuah salib yang hina.

Kita mungkin seperti orang-orang di Yerusalem, dan kita berteriak “Hosanna!” kepada Yesus, mengharapkan Dia untuk menyelamatkan kita dari pandemi yang mengerikan ini, untuk mengembalikan perayaan liturgi kita, dan untuk menyelesaikan semua masalah kita. Namun, seperti orang-orang Yerusalem, kita mungkin keliru. Yesus adalah Juru Selamat kita, tetapi Dia mungkin menyelamatkan kita dengan cara yang bahkan tidak kita sukai.

Tantangannya adalah apakah kita kehilangan kesabaran dan mengatakan bahwa Yesus sebagai pewarta hoax, dan bukan kabar baik, atau menanggung penghinaan dengan-Nya; apakah kita berkecil hati dan mulai berteriak, “Salibkan Dia!” atau kita berdiri di dekat salib-Nya. Tantangannya adalah apakah kita menjadi pahit dan mulai mengejek otoritas gereja karena ketidakmampuan mereka menangani krisis, atau kita terus mendukung mereka pada masa pencobaan; apakah kita mengutuk situasi yang suram, atau kita mulai menyebarkan cahaya sekecil apa pun itu.

Mengapa Tuhan membiarkan kita menanggung pengalaman mengerikan ini, atau lebih tepatnya, mengapa Allah membiarkan diri-Nya menanggung pengalaman mengerikan ini? Mari kita tunggu jawabannya di Jumat Agung.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sentuhan Kasih Allah

Minggu Kelima Masa Prapaskah [A]

29 Maret 2020

Yohanes 11: 1-45

lazarus africanDi antara lima indra manusia, indra peraba [sentuhan] adalah yang paling dasar dan fondasi bagi indra yang lainnya. Indra penglihatan perlu bersentuhan dengan spektrum cahaya. Indra perasa perlu bersentuhan dengan bahan kimia dalam makanan. Indra pendengaran harus menerima getaran suara di udara. Sentuhan menjadikan kita manusia, makhluk yang bertubuh. Tidak mengheran jika banyak pengalaman traumatis [bahkan masalah mental] berakar pada sentuhan yang kurang diterima atau tidak seharusnya diterima.

Tuhan, pencipta kita, memahami kebutuhan mendasar kita akan sentuhan. Dengan demikian, untuk memenuhi hasrat terdalam kita, Dia membuat pilihan radikal, dan menjadi manusia seperti kita semua. Karena Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia, para murid dapat melihat, mendengar, menyentuh dan merasakan Dia. Namun, Dia memberi sesuatu yang lebih radikal ketika Dia mempersembahkan diri-Nya sebagai makanan dan diminum, “karena dagingku adalah makanan yang benar dan darahku adalah minuman yang benar [Yohanes 6:55].” Sementara para dewa berhala menikmati darah manusia dari menjadi korban, Tuhan kita melakukan yang sebaliknya. Dia menyerahkan hidup-Nya sehingga kita dapat hidup dan merasakan kasih-Nya.

Mengikuti contoh Juruselamat kita, Gereja dipenuhi dengan sarana jasmani sebagai tanda dan simbol kehadiran ilahi. Tidak heran gereja-gereja kita dilengkapi dengan salib yang indah, dihiasi dengan bunga, dan diagungkan dengan lilin dan dupa. Sakramen tidak lain adalah tanda yang terlihat dari rahmat yang tak terlihat, dan sakramen benar-benar bermaksud untuk menyentuh tubuh kita, seperti air dan minyak suci yang menyentuh dahi kita, hosti yang kita santap, dan kata-kata pengampunan yang perlu kita dengar. Bahkan, Gereja sendiri disebut sebagai tubuh Kristus, dan panggilan kita adalah untuk bersatu sebagai satu umat Allah di sekitar meja Ekaristi ini.

Namun, hal yang mengerikan menimpa Gereja kita. Pandemi yang disebabkan oleh Covid-19 pada dasarnya membalikkan gerakan dasar iman kita. Kita menghadapi kenyataan bahwa menyentuh dapat berarti penyakit, berkumpul dapat membawa bencana, dan ibadah dapat berarti kematian. Demi kebaikan umat, para pemimpin kita dipaksa untuk menutup gereja. Kita sekarang merasakan sakitnya perpisahan dari Tubuh Kristus.

Mungkin, kita seperti Lazarus yang mengalami penderitaan dan kematian rohani. Mungkin, kita seperti Marta yang bertanya kepada Tuhan, “seandainya Engkau datang, hal ini tidak perlu terjadi?” Mungkin, kita seperti Maria yang tidak bisa berbuat apa-apa selain berduka dan berdiam.

Yesus tidak menyelamatkan Lazarus ketika dia sakit parah, dan bahkan Yesus mengunjungi mereka setelah Lazarus meninggal empat hari. Kenapa Yesus membiarkan hal-hal buruk terjadi dalam kehidupan Lazarus, Marta dan Maria? Apakah Yesus ingin menghukum mereka atau tidak peduli dengan mereka? Injil Yohanes menyatakan bahwa Yesus mengasihi Lazarus, Marta dan Maria sebagai sahabat dekat-Nya. Yesus mengizinkan hal buruk terjadi terhadap sahabat-sahabat-Nya justru karena Dia mengasihi mereka.

Dalam kasih-Nya, Allah mengijinkan kita untuk merakan Tuhan yang jauh, dan mengalami penderitaan dan bahkan kematian. Tuhan tahu betul bahwa melalui penderitaan, kita dapat mencintai lebih dalam, kita tumbuh dalam iman, dan menemukan kembali Tuhan, yang lebih hidup dan bahkan lebih dekat. Kita perlu mengingat bahwa tidak ada kebangkitan sejati, kecuali kita berani memasuki kegelapan makam.

Terima kasih dan doa terdalam saya untuk pribadi medis kami yang telah memberikan segalanya untuk memerangi penyakit dan menyelamatkan nyawa.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ludah dan Mata

Hari Minggu Prapaskah Keempat [A]

22 Maret 2020

Yohanes 9: 1-41

blind manDalam menyembuhkan orang buta, Yesus melakukan sesuatu yang agak tidak biasa: Ia meludah ke tanah, membuat tanah liat dengan air liurnya, dan mengolesi tanah liat itu di mata orang buta tersebut. Saat ini kita sedang melawan Covid-19, jenis virus korona yang menyebar dengan cepat, kita dididik bahwa salah satu media kontaminasi adalah tetesan manusia seperti air yang keluar dari mulut kita. Ketika air yang sudah terkontaminasi dengan virus bersentuhan dengan mulut, hidung dan mata, itu menjadi titik awal berjangkitnya si virus di tubuh kita.

Namun, hari in, Yesus menggunakan media yang dipakai virus ini untuk menyebar dan mengubahnya menjadi jalan penyembuhan baik kebutaan fisik maupun spiritual. Memang, tindakan pembalikan semacam ini adalah pola favorit Yesus. St. Yohanes Krisostomus, uskup Konstantinopel, dalam homilinya, menyebutkan bahwa tiga cara yang digunakan oleh iblis untuk menghancurkan umat manusia adalah sarana yang sama yang digunakan oleh Yesus untuk menyelamatkan umat manusia. Tiga cara iblis adalah pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat, wanita yaitu Hawa yang tidak taat, dan kematian Adam yang membawa serta semua keturunannya. Yesus kemudian mengubah tiga sarana ini menjadi sarana keselamatan-Nya: untuk pohon pengetahuan, ada pohon salib, untuk Hawa, ada Maria yang setia, dan untuk kematian Adam, ada kematian Yesus yang menyelamatkan kita semua. Iblis mengira dia bisa mengakali Tuhan, tetapi sesungguhnya, Tuhanlah yang memiliki kemenangan akhir.

Dalam Kejadian 2, ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia bertindak seperti seorang seniman atau pematung. Dalam tradisi Yahudi kuno, Tuhan mengambil tanah, dan kemudian agar bisa dibentuk, Dia menggunakan ludah-Nya sendiri untuk membuat tanah liat. Tindakan Yesus dalam menyembuhkan orang buta membawa kita kembali ke kisah penciptaan ini. Yesus tidak hanya menyembuhkan, tetapi Dia menciptakan kembali manusia itu seturut citra-Nya sendiri. Bahkan sarana keburukan dan penyakit dapat diubah menjadi sarana keindahan dan keselamatan.

Virus covid-19 telah menghancurkan banyak aspek kehidupan manusia. Virus ini menyebarkan ketakutan dan kepanikan. Virus ini memaksa pemerintah untuk mengambil tindakan drastis, termasuk “lockdown” kota-kota dan menghentikan kegiatan perekonomian. Virus ini memisahkan orang dari sahabat dan orang yang mereka kasihi. Orang beriman diwajibkan untuk menjauhi rumah Tuhan. Ini adalah waktu yang menyakitkan dan membingungkan bagi banyak dari kita. Bahkan beberapa dari kita akan menangis, “Eli, Eli, Lama sabacthani?”

Namun, kita tidak boleh lupa bahwa Yesus selalu dapat menggunakan sarana-sarana kematian dan kehancuran yang sama untuk menjadi sara keselamatan-Nya. Kita meminta Tuhan untuk membuka mata iman kita untuk melihat bagaimana Tuhan bekerja melalui masa krisis ini, dan saat mata kita terbuka, kita bisa melihat betapa banyaknya kebaikan ditengah-tengah kita.

Kita berterima kasih atas  berkat Tuhan yang menjelma sebagai berbagai praktisi medis kita yang mempertaruhkan nyawanya untuk merawat mereka yang sakit; untuk pejabat pemerintah kita yang bekerja tanpa kenal lelah untuk mencegah penyebaran virus; untuk para sukarelawan yang menyumbangkan sumber daya mereka sendiri untuk membantu memerangi penyakit ini; untuk para imam dan pelayan Gereja yang melayani kebutuhan rohani umat meskipun ada banyak keterbatasan. Doa saya juga tertuju bagi seorang imam Italia yang membuat pengorbanan terakhir saat dia meminta untuk tidak dirawat sehingga mesin pernapasan yang terbatas dapat digunakan oleh yang lebih muda dan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk bertahan hidup.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus, Mempelai Pria Kita

Hari Minggu Prapaskah Ketiga [A]

15 Maret 2020

Yohanes 4: 5-42

jesus n samaritan womanKita melihat Yesus sebagai beberapa figur. Beberapa orang menganggap Dia sebagai guru, beberapa memanggilnya sebagai sahabat, dan beberapa yang lain hanya akan menyatakan Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Namun, sedikit yang kita ketahui bahwa Injil memperkenalkan Dia sebagai mempelai laki-laki.

Gagasan bahwa Yesus sebagai mempelai kita agak canggung dan sulit diterima. Seseorang mungkin berpikir, “Jika saya single, tidak apa-apa menikah dengan Yesus. Tetapi jika saya sudah menikah, apakah itu berarti Yesus akan menjadi suami kedua saya, atau haruskah saya menceraikan suami pertama saya?” Kekhawatiran semacam ini tentu saja valid, namun ini berakar pada pemahaman manusiawi dan bahkan seksual kita tentang pernikahan. Lalu, mempelai laki-laki macam apa Yesus ini?

Untuk menjawab ini, kita perlu memahami beberapa simbol dalam Injil hari ini. Yesus pergi ke sebuah sumur dan Yohanes sang penginjil menegaskan bahwa itu bukan hanya sumur biasa, tetapi sumur Yakub. Seorang wanita Samaria kemudian datang untuk mengambil air, dan bertemu Yesus di sana. Bagi kita, itu hanya kisah biasa tentang pertemuan Yesus dengan seorang wanita, seperti ketika Yesus mengunjungi Maria dan Marta, atau Yesus membantu seorang wanita yang terjebak dalam perzinaan. Namun, ketika kita mengetahui Alkitab kita, pertemuan itu jauh dari biasa. Adegan di sumur adalah saat seorang pria menemukan pengantin wanitanya. Dalam Kejadian 29, Yakub menemukan Rahel di dekat sumur ketika dia akan memberi minum domba. Dalam Kel 3, setelah Musa melarikan diri dari Mesir, ia pergi ke tanah Midian, dan di dekat sumur, ia membela para wanita yang diganggu oleh para gembala. Salah satu dari wanita ini akhirnya akan menjadi istrinya.

Namun, Injil dengan jelas menunjukkan bahwa Yesus tidak mencari istri atau menikahi wanita Samaria itu. Yesus juga tetap sendiri selama seluruh hidupnya, tetapi sekali lagi, kita tidak berbicara di tingkat manusia dan literal. Jika Yesus adalah Mempelai Pria yang ilahi, wanita Samaria juga melambangkan mempelai wanita Kristus yang sejati. Tidak heran, para Bapak Gereja, akan mengidentifikasi wanita Samaria sebagai simbol dari Gereja. Seperti wanita Samaria yang bukan Yahudi, Gereja juga datang dari banyak bangsa. Seperti wanita Samaria yang bergumul dengan kehidupan pernikahannya, Gereja juga bergumul dengan banyak dosa dan kelemahan. Seperti wanita Samaria yang sedang menunggu Mesias, Gereja juga membutuhkan seorang Juru Selamat.

Sungguh aneh melihat Yesus sebagai pengantin laki-laki kita terutama ketika kita terbiasa dalam pemahaman yang terlalu manusiawi. Namun, dalam tingkat spiritual, untuk memiliki Yesus sebagai mempelai laki-laki kita berarti kita memiliki seseorang yang sangat mengasihi kita, seseorang yang akan melindungi dan merawat kita, seseorang yang akan menerima ketidaksempurnaan kita dan seseorang yang akan rela menyerahkan hidupnya demi kita.

Virus Covid-19 hanya dalam waktu tiga bulan telah mendatangkan malapetaka di dunia. Apa yang mengerikan dengan virus ini bukan hanya sangat menular dan belum memiliki obat yang pasti, tetapi juga memaksa manusia untuk menunjukkan naluri bertahan hidup dasarnya: ketakutan dan bahkan keegoisan. Namun, ini adalah juga kesempatan terbaik untuk bertumbuh dalam iman. Iman kita tidak kosong karena kita berpegang pada seseorang, dan Dia adalah Yesus, Mempelai Pria kita yang akan memberikan hidup-Nya bagi kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kemuliaan Sejati

Minggu Kedua Prapaskah [A]

8 Maret 2020

Matius 17: 1-9

transfiguration 3Gereja telah memilih kisah Transfigurasi sebagai Injil Minggu Prapaskah kedua. Kita mungkin bertanya bagaimana kisah kemuliaan semacam ini dapat masuk ke dalam seluruh konteks Prapaskah. Kuncinya adalah bahwa Transfigurasi secara mendasar terkait dengan Salib Yesus. Dalam versi transfigurasi dari Lukas, Yesus berbicara kepada Musa dan Elia tentang “eksodus” -nya. Ini mengingatkan kita akan bangsa Israel kuno yang keluar dari Mesir, berjalan melewati padang pasir, dan memasuki Tanah Perjanjian. Namun, akhir eksodus yang sebenarnya adalah kota Yerusalem, dan akhirnya Bait suci tempat Allah tinggal di antara umat-Nya. Sama seperti bangsa Israel kuno, eksodus Yesus harus berakhir di Yerusalem.

Momen mulia transfigurasi tidak dimaksudkan untuk bertahan lama. Yesus harus turun dan berjalan lagi menuju Yerusalem. Namun, para murid salah kaprah ketika Petrus menawarkan untuk memasang tenda dan tetap tinggal di gunung itu. Yesus mengingatkan mereka bahwa mereka harus turun. Para murid tidak dapat tinggal di sana, dan mereka harus melanjutkan perjalanan mereka bersama Yesus di Yerusalem.

Ada saat-saat dalam hidup kita bahwa kita percaya bahwa kita telah melihat dan mencapai kemuliaan Allah. Kita merasa sangat diberkati ketika kita berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus. Kita mengalami kedamaian selama retret dan meditasi kita. Kita terinspirasi setelah kita mendengarkan khotbah yang penuh semangat. Kita diberi energi kembali oleh lagu dan pujian. Hal-hal ini baik, tetapi mereka tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi akhir dari perjalanan. Kita harus turun bersama dengan Yesus, dan memikul salib kita sehari-hari. Yesus mengerti bahwa tidak ada kasih sejati tanpa penderitaan, tidak ada kemuliaan sejati tanpa rasa sakit, dan tidak ada keselamatan tanpa salib.

Saat ini saya berada di Tanah Suci, dan saya berjalan di tempat yang sama seperti Tuhan Yesus telah menginjakkan kaki-Nya. Saya benar-benar diberkati bahwa Allah memberi kesempatan untuk berada di Tanah Perjanjian ini hanya beberapa bulan setelah tahbisan saya. Sebuah sukacita luar biasa. Israel benar-benar tanah yang penuh dengan susu dan madu, tanah yang benar-benar indah. Saya belajar Alkitab selama bertahun-tahun, tetapi baru sekarang, saya benar-benar melihat dan menyentuh tempat-tempat alkitabiah ini. Iman saya menjadi benar-benar hidup. Semakin saya berjalan, semakin saya ingin tinggal dan belajar. Saya telah melihat kemuliaan Tuhan, dan saya ingin mendirikan kemah saya. Namun, saya tidak bisa tinggal terlalu lama, dan saya harus kembali karena misi saya bukan [belum] di Tanah Perjanjian ini.

4 Maret 2020 lalu, rumah bagi orang tua dan orang cacat dijalankan oleh Misionaris Cinta Kasih di Aden, Yaman, diserang oleh para teroris. Empat suster terbunuh dalam serangan itu. Pekerjaan mereka untuk merawat orang tua di salah satu negara termiskin itu sendiri adalah tindakan heroik, tetapi kemuliaan sejati mereka terletak ketika mereka memberikan hidup mereka sepenuhnya bagi Tuhan dan orang-orang yang mereka cintai. Setiap pagi, para suster selalu berdoa bersama di komunitas, dan doa ini [dipercaya berasal dari St Ignatius dari Loyola] telah menginspirasi mereka melalui saat-saat terakhir kehidupan mereka:

“Tuhan, ajari aku untuk bermurah hati. Ajari aku untuk melayani-Mu sepantasnya; untuk memberi dan tidak menghitung imbalan, untuk berjuang dan tidak mengindahkan luka, bekerja keras dan tidak mencari istirahat, untuk bekerja dan tidak meminta imbalan, kecuali mengetahui bahwa aku melakukan kehendak suci-Mu. ”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Godaan

Hari Minggu Prapaskah Pertama

26 Februari 2020

Matius 4:1-11

temptation of jesus 2Hari Minggu Prapaskah pertama dimulai dengan kisah Yesus di padang gurun, berpuasa dan dicobai oleh iblis. Matius memberi kita lebih banyak perincian dalam kisah pencobaan, dan dari Matius, kita menemukan tiga pencobaan Kristus. Mengapa Setan menggoda Yesus? Kenapa tiga godaan?

Pencobaan Yesus terjadi setelah pembaptisan Yesus dan tepat sebelum Yesus memulai karya-Nya. Pencobaan-Nya membawa kita kembali ke pencobaan pertama di taman Eden. Ketika Setan merekayasa kejatuhan umat manusia dengan menipu Adam yang pertama, Setan yang sama melakukan serangan yang sama kepada Yesus, sang Adam yang baru.

Mengapa tiga? Para rabi Yahudi kuno percaya bahwa ular yang mewakili Iblis menggoda Adam dan Hawa dengan tiga hal. “… ketika wanita itu melihat bahwa pohon itu baik untuk makanan, dan buah itu menyenangkan mata, dan bahwa pohon itu diinginkan untuk membuat orang bijak [Kej 3: 6].” Pertama, iblis menjadikan buah sebagai sesuatu yang baik untuk dimakan. Kedua, iblis membuat Hawa merasakan bahwa buah itu adalah pemandangan yang harus dilihat. Terakhir, iblis membuat Hawa percaya bahwa buah adalah sumber kebijaksanaan. Pencobaan pertama disebut dosa perut karena ia menyerang kedagingan kita yang lemah [kerakusan dan dosa seksual]. Yang kedua adalah dosa penglihatan karena melalui mata, kita melihat hal-hal yang tidak kita miliki, dan kita berhasrat untuk memilikinya [iri, posesif, dan mencuri]. Terakhir, tetapi yang paling ganas adalah dosa kesombongan. Godaan ini membuat orang berpikir bahwa mereka dapat melengserkan Tuhan dan menempatkan diri mereka sebagai tuhan-tuhan baru.

Ketika berhadapan dengan Yesus, iblis menerapkan teknik yang sama. Iblis menawarkan Yesus untuk menggunakan kuasa-Nya untuk memuaskan rasa lapar-Nya. Iblis membawa Yesus untuk melihat semua hal indah di dunia untuk dimiliki. Dan, iblis meminta Yesus untuk menunjukkan kuasa-Nya untuk menunjukkan keilahian dan otoritas-Nya kepada orang-orang. Namun, Yesus tidak jatuh ke dalam pencobaan, dan dengan demikian, membatalkan kegagalan Adam yang pertama.

Bagaimana cara Yesus melawan serangan iblis? Tiga hal: puasa dan pantang, amal, dan doa. Puasa dan pantang telah menjadi praktik kuno untuk mengontrol hasrat kita. Sementara iblis ingin kita jatuh ke dalam dosa kedagingan dan menikmati kesenangan tubuh, puasa dan pantang mengendalikan nafsu kita. Sementara iblis memengaruhi kita untuk mendapatkan lebih banyak dan memiliki barang-barang bahkan dengan mengorbankan orang lain, amal memungkinkan kita untuk bermurah hati dan merasa cukup dengan apa yang kita miliki. Sementara iblis berusaha meyakinkan kita bahwa kita dapat menjadi penguasa dalam hidup kita, doa mengingatkan kita bahwa Tuhan itu ada, dan kita bukan Dia.

Masa Prapaskah ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk menyadari kelemahan manusia kita dan bagaimana iblis mengeksploitasi mereka. Namun, kita bukannya tanpa harapan; Yesus memberi kita rahmat-Nya untuk melawan pencobaan ini dan tiga praktik Prapaskah [puasa, pantang, amal, dan doa] sebagai senjata kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kasih di Hati

Minggu Ketujuh dalam Masa Biasa [A]

23 Februari 2020

Matius 5: 38-48

persecutionDi hati pengajaran Yesus di atas gunung adalah pembentukan hati. Namun, hati dalam Alkitab tidak terbatas pada sisi afektif atau emosi kita. Ini juga berarti pusat kapasitas intelektual dan kebebasan. Hati adalah pusat kehidupan itu sendiri, dan dengan demikian, mewakili totalitas seorang manusia.

Minggu lalu, Yesus mengatakan kepada kita untuk menyucikan hati kita dari pikiran jahat dan keinginan jahat [Mat 5: 17-37]. Tidaklah cukup untuk tidak melakukan kekerasan kepada orang lain, tetapi perlu untuk membersihkan hati kita dari kemarahan dan pembalasan. Tidaklah cukup untuk tidak melakukan perzinahan, tetapi kita diharuskan untuk menghapus dari hati kita nafsu birahi. Membentuk hati lebih mendasar daripada sekadar dan secara buta mengikuti hukum dan peraturan tertulis. Pembentukan hati adalah tentang membangun kebiasaan yang baik, dan karakter yang luhur. Orang yang berbudi luhur menghindari kejahatan, bukan karena takut akan hukum eksternal, tetapi motivasi yang kuat dari dalam.

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus menuntut sesuatu yang lebih tinggi. Pemurnian hati hanyalah langkah pertama, dan kita perlu menuju ke langkah lain yang lebih sulit: untuk mengasihi. Hal ini justru lebih sulit karena kasih bukan hanya tentang menghilangkan hasrat yang tidak murni di hati kita atau mencegah kita dari melakukan kejahatan, tetapi hal ini tentang melakukan kebaikan secara aktif. Terlebih lagi, kasih [agape] ini hanya nyata dan bermakna jika kita berbuat baik, bukan dalam kondisi yang menguntungkan bagi kita, tetapi saat kita berhadapan dengan kejahatan dan penderitaan.

Sejak didirikan sekitar dua ribu tahun yang lalu, umat Kristiani tetap menjadi golongan yang paling teraniaya. Situs opendoorusa.org melaporkan bahwa sejumlah penganiayaan dan kekerasan terhadap umat Kristiani terus meningkat. Pada tahun 2019, lebih dari 260 juta umat Kristiani [satu dari sembilan umat Kristiani di dunia] tinggal di tempat-tempat di mana mereka mengalami penganiayaan tingkat tinggi. Hampir 3 ribu umat Kristiani terbunuh karena iman mereka. Lebih dari 9 ribu gereja dan bangunan milik umat Kristiani seperti sekolah diserang. Di Nigeria, para imam dan seminaris diculik dan disiksa. Beberapa beruntung kembali hidup, tetapi banyak yang ditemukan mati. Di Cina, pemerintah melakukan penumpasan nasional terhadap umat Kristiani dan menutup gereja-gereja. Di Indonesia, segalanya lebih baik bagi umat Kristiani karena hak-hak kami dilindungi dalam undang-undang dasar. Namun, di akar rumput, kami terus merasa didiskriminasi dan takut menjadi sasaran para ekstremis dan teroris.

Nasib kita sebagai umat Kristiani tidak lebih baik daripada saudara-saudari kita yang menjadi anggota Gereja perdana. Namun, sebagai saudara dan saudari kita di masa lalu, misi kita tetap sama: untuk mengasihi musuh kita, untuk menanggapi kejahatan dengan kemurahan hati yang besar, dan bersiap untuk memperjuangkan keadilan dengan kelembutan. Umat Kristiani dituduh sebagai orang lemah, tetapi ini jelas salah. Dunia yang dibangun oleh kekerasan dan kepahitan akan hancur dengan sendirinya, dan kecuali kita berani menjadi pengikut Kristus yang sejati, kita tidak dapat menghentikan arus menuju kehancuran total. Kita bersyukur kepada para pendahulu kita yang menolak untuk dikendalikan oleh kemarahan meskipun begitu banyak kejahatan yang harus mereka tanggung. Dunia adalah tempat yang jauh lebih baik dengan orang-orang berhati murni. St Tertullianus percaya bahwa darah para martir adalah benih Gereja, dan kita percaya juga bahwa kasih umat Kristiani adalah benih dunia yang lebih baik.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP