Yesus atau Tidak Sama Sekali

Minggu ke-13 dalam Masa Biasa

28 Juni 2020

Matius 10: 37-42

simon cyreneDalam banyak budaya seperti di Indonesia, Filipina dan Cina, menghormati orang tua kita adalah hal yang sangat penting. Di Indonesia, untuk mendidik nilai ini, cerita rakyat “Malin Kudang” diajarkan bahkan di sekolah dasar. Intinya, Malin tidak hanya gagal menghormati orang tuanya, tetapi juga sengaja mengabaikan ibunya yang sudah tua. Karena itu, dia dikutuk menjadi batu. Adalah sesuatu yang tidak termaafkan untuk tidak menghormati seseorang yang telah memberikan hidup kita dan mendidik kita untuk  hidup.

Menghargai orang tua juga merupakan salah satu nilai tertinggi bagi bangsa Yahudi. Yang luar biasa adalah bahwa mereka tidak menghormati orang tua mereka karena itu adalah sesuatu yang wajar untuk dilakukan, tetapi karena itu adalah perintah Ilahi. Kembali ke Sepuluh Perintah Allah, untuk menghormati ibu dan ayah kita sebenarnya adalah perintah keempat, tertinggi di antara perintah-perintah yang mengatur komunitas manusia. Bahkan kata Ibrani yang digunakan adalah “kabad”, yang dapat berarti “untuk menghormati” tetapi bisa juga berarti “memuliakan”. Karena itu, Tuhan memerintahkan baik orang Israel dan maupun umat Kristiani untuk tidak hanya menghormati tetapi juga untuk memuliakan orang tua kita.

Namun, Injil hari ini mengatakan bahwa Yesus menuntut bahkan sesuatu yang tidak terpikirkan, bahwa jika kita mengasihi orang tua kita lebih daripada Yesus, kita tidak layak bagi-Nya. Petrus, Andreas, dan Yohanes serta murid-murid lainnya telah meninggalkan pekerjaan mereka yang stabil dan kenyamanan rumah mereka untuk mengikuti Yesus, tetapi Yesus bahkan menetapkan persyaratan yang lebih radikal. Untuk mengikuti-Nya tidak hanya secara fisik hadir bersama-Nya, tetapi para murid harus memberikan kasih total mereka kepada Yesus di atas semua orang. Siapakah Yesus ini sehingga Dia patut menerima kasih para pengikut-Nya lebih dari orang tua kita?

Jawabannya tidak terlalu rumit. Yesus pantas mendapatkan semua cinta dan kesetiaan yang kita miliki hanya karena Dia adalah Allah. Dalam Kitab Ulangan [6:4-5], Musa menginstruksikan orang Israel cara untuk mengasihi dan menghormati Allah, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Hanya Allah yang layak menerima segalanya dari kita.

Dan bagaimana Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya mengasihi Dia lebih dari yang lain, dan bukan hanya sekedar kata-kata saja? Sebagai bukti kasih mereka, Yesus meminta mereka untuk menunjukkan ini: “Pikullah salibmu dan ikuti aku!” Pada zaman Yesus, salib adalah metode penyiksaan dan eksekusi yang paling mengerikan, dan dirancang untuk memperpanjang penderitaan. Intinya, Yesus memberi tahu para murid-Nya jika mereka benar-benar mencintai-Nya di atas segalanya, mereka harus siap untuk menanggung penderitaan yang berkepanjangan dan bahkan mati bagi-Nya. Ketika kita menghadapi Yesus, pilihannya adalah: semua untuk Yesus atau tidak sama sekali.

Apakah itu berarti kita akan berhenti mencintai orang tua dan anak-anak kita? Apakah itu berarti kita tidak lagi melakukan pekerjaan baik untuk orang lain dan hanya berdoa selama yang kita bisa? Tentu saja tidak. Mengasihi Tuhan di atas hal-hal lain menempatkan kita dalam perspektif yang benar dan mengarahkan kita ke tujuan yang benar. Sekarang kita dapat mengasihi orang lain termasuk keluarga kita sebagai bentuk kasih kita  bagi Tuhan. Ini berarti bahwa ketika kita mencintai mereka, kita membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan. Sekarang kita dapat melakukan pekerjaan dan pelayanan kita untuk Tuhan, bukan demi mendapatkan keuntungan pribadi. Ketika kita bekerja keras dan kita diberkati dengan kesuksesan, hal pertama yang kita ingat adalah untuk memuji Tuhan. Dan, jika kita menghadapi hambatan dalam hidup kita atau jika kita perlu menanggung penderitaan, kita tidak kehilangan harapan karena ini juga merupakan kesempatan untuk lebih mengasihi sesama dan Tuhan lebih dalam.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jangan Takut

Minggu ke-12 dalam Masa Biasa [A]

21 Juni 2020

Matius 10: 26-33

little sparrowYesus tidak pernah berjanji bahwa murid-murid-Nya akan memiliki kehidupan yang mudah dan makmur. Yesus menuntut yang sebaliknya. Setelah dipilih, kedua belas murid diutus untuk mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, namun mereka tidak akan pergi seperti utusan kerajaan duniawi dengan pengawalan voorijder. Tidak! Mereka akan pergi sebagai orang sederhana yang berjalan kaki dan membawa persediaan ala kadarnya. Mereka akan mengandalkan kemurahan hati tuan rumah mereka, dan bagian terburuknya adalah mereka akan menghadapi penolakan.

Secara alami, mereka akan merasa takut. Namun, Yesus mengatakan kepada mereka bahwa misi ini hanya semacam “magang” karena mereka akan menjalani sesuatu yang bahkan lebih sulit di masa depan. Sungguh terjadi, setelah Pentekosta, mereka akan mewartakan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan mereka menghadapi penolakan yang keras, penganiayaan yang mengerikan, dan bahkan kematian yang keji. Seperti yang Yesus ajarkan kepada mereka, “para murid tidak lebih besar dari gurunya.” Jika Yesus, guru mereka, ditolak, dihina, dan dihukum mati, para murid akan mengikuti jalan yang sama. Petrus disalibkan terbalik, Yakobus, saudara Yohanes, dipenggal kepalanya, dan Yakobus anak Alfeus, dilempari batu sampai mati.

Yesus memahami ketakutan manusiawi mereka, tetapi Yesus mengatakan kepada mereka bahwa mereka jangan takut. Mengapa? Jawaban Yesus sederhana. Mengapa kita harus takut mati jika kita toh akan mati juga akhirnya? Pilihannya adalah apakah kita mati sebagai saksi Kristus atau mati lari dari Kristus?

Lebih jauh, Yesus mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa kita tidak perlu takut: kita memiliki Allah, yang adalah Bapa yang pengasih dan peduli. Yesus memberikan penjelasan yang cerdas namun sederhana: bagaimana Tuhan memperlakukan seekor burung pipit yang kecil. Pipit adalah jenis burung  yang tidak berharga di mata kita, tetapi bagi Tuhan, burung kecil ini adalah ciptaan-Nya, dan ketika Dia menciptakan sesuatu, Dia memiliki rencana yang baik untuknya, dan Dia memastikan bahwa rencana ini akan mencapai kepenuhannya. Dalam kata Filsuf Katolik Peter Kreeft, Tuhan pun mengasihi nyamuk. Jika Tuhan peduli dan mencintai burung pipit, akankah Dia tidak peduli dan mengasihi kita? Sekali lagi, Yesus menunjukkan kebenaran yang indah: Tuhan lebih mengenal daripada kita mengenal diri kita sendiri, bahkan Ia menghitung rambut kita!

Ketika seekor burung gereja jatuh dan mati, itu tidak lepas dari rencana Allah yang sempurna, dan ketika para murid mengalami penolakan, pencobaan, dan bahkan kematian, itu juga merupakan bagian dari penyelenggaraan Allah. Ya, seringkali, penderitaan kita tidak bisa mengerti. Mengapa kita harus kehilangan seseorang yang kita cintai? Mengapa kita menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan? Kita tidak mengerti, tetapi bahkan hal-hal mengerikan dalam kehidupan ini juga merupakan bagian dari penyelenggaraan Allah.

Kita mungkin tidak melihatnya sekarang, tetapi mungkin kita melihatnya di lain waktu, atau mungkin, kita tidak pernah menemukan alasannya karena pikiran kita terlalu sempit. Namun, di mata Tuhan, hal-hal terlihat sebagai sebuah lukisan yang sempurna, walaupun ada warna-warna gelap di dalamnya. Kematian para martir yang mengerikan, misalnya, tidak masuk akal. Tetapi, Tertullianus, seorang apologis Katolik pada abad ke-3, melihatnya dalam perspektif yang lebih dalam dan menulis, “Semakin kamu menghancurkan kami, kami pertumbuh semakin banyak: darah para martir adalah benih Gereja.”

Yesus tidak memanggil kita untuk menikmati kehidupan yang sukses tetapi untuk menjadi saksi-Nya. Meskipun segala sesuatu dapat berbalik melawan kita, Yesus menyatakan bahwa kita tidak perlu takut dan khawatir karena, pada akhirnya, semua akan bekerja sesuai dengan rencana-Nya yang indah karena Dia mengasihi kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tubuh Kristus dan Tubuh Kita

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus [Corpus Christi] – A

14 Juni 2020

Yohanes 6: 51-58

monstranHari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus berawal dari inisiatif St. Juliana dari Liege, yang meminta uskupnya dan sahabat-sahabatnya untuk menghormati  secara khusus sakramen Ekaristi, dan kehadiran nyata Yesus Kristus dalam Sakramen Mahakudus. Berdirinya Ekaristi sendiri terjadi dalam Perjamuan Terakhir Tuhan, dan setiap Kamis Putih, Gereja merayakan peristiwa ini. Namun, karena Kamis Putih adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Trihari suci Paskah, perhatian diberikan pada persiapan bagi umat beriman untuk memasuki misteri Sengsara dan Kebangkitan Tuhan kita. Karena berakar di Kamis Putih, Hari Raya Corpus Christi dirayakan pada hari Kamis setelah hari Minggu Tritunggal. Namun, di beberapa negara seperti Indonesia, perayaan dipindahkan ke hari Minggu berikutnya untuk mengakomodasi partisipasi yang lebih besar dari umat beriman.

 Dalam Injil, Yesus menegaskan bahwa tubuh-Nya adalah makanan yang nyata, dan setiap orang yang ingin memiliki hidup yang kekal perlu menyantap tubuh-Nya. Kita mungkin bertanya-tanya: mengapa dalam kebijaksanaan-Nya, Yesus memutuskan untuk memberikan tubuh-Nya sebagai makanan rohani kita? Mengapa Yesus tidak langsung menanamkan rahmat langsung ke jiwa kita? Jawabannya mungkin sangat sederhana. Hal ini dipilih Tuhan karena tubuh kita ini adalah nyata dan baik. Jika kita kembali ke kisah penciptaan di Buku Kejadian, Tuhan menciptakan pria dan wanita dalam kodrat manusia, termasuk tubuh kita, sebagai sesuatu yang sangat baik. Meskipun tubuh kita berasal dari tanah, tubuh kita telah dirancang dengan luar biasa untuk menerima roti ilahi, kehidupan rohani. Tubuh kita pada dasarnya baik, dan begitu baik sehingga tubuh kita bisa menerima rahmat. Dalam perkataan St Agustinus, “Capax Dei” (memiliki kemampuan untuk mengenal dan menerima Tuhan).

Sejak awal berdirinya, Gereja telah memerangi sebuah ajaran sesat yang disebut Gnostisisme. Intinya, gnostisisme mengajarkan ada dualisme dalam ciptaan, bahwa dunia spiritual itu baik dan dunia material, termasuk tubuh kita, adalah jahat. Jadi, setiap aspek ragawi dari kemanusiaan kita harus dibuang dan dihancurkan. Gereja dengan keras menentang ini karena Allah telah menciptakan dunia secara totalitas sebagai yang baik dan indah. Pertempuran berlanjut pada masa St. Dominikus de Guzman, pendiri Ordo Pengkhotbah, yang berhadapan melawan kelompok Albigensia [adaptasi gnostisisme pada abad pertengahan). Syukurlah, kaum Albigentia tidak ada lagi, tetapi sayangnya, gnostisisme terus hidup.

Sebagai umat Kristiani, kita bersama Gereja terus memerangi gnostisisme modern. Jenis gnostisisme sangat sederhana dan tanpa disadari kita pun telah menjadi korban dari virus mematikan ini. Setiapkali kita memperlakukan tubuh kita hanya alat untuk mencapai kesuksesan dan popularitas, ketika kita menyalahgunakan tubuh kita untuk merasakan kenikmatan instan, ketika kita menjual tubuh kita sebagai keuntungan ekonomi belaka, kita tanpa sadar jatuh ke dalam perangkap ini ajaran sesat ini.

Pesta Corpus Christi membawa kita kebenaran yang lebih besar dari tubuh kita. Dengan menjadi manusia dan akhirnya memberikan tubuh-Nya, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa tubuh tidak hanya mampu menerima rahmat, tetapi juga mampu menjadi rahmat dan kasih bagi sesama. Dalam Perjamuan Terakhir, Yesus telah memberikan tubuh-Nya sebagai ekspresi kasih tertinggi. Namun, untuk dibagikan, tubuh-Nya harus dihancurkan, namun meski hancur, tubuh mulia ini dipersembahkan dalam ucapan syukur.

 Pada masa pandemi ini, kita tidak dapat menghadiri Misa Kudus, dan kita sangat merindukan Tubuh Kristus. Namun, kabar baiknya adalah bahwa inilah saatnya bagi kita untuk menjadi Tubuh Kristus bagi sesama kita yang membutuhkan. Hanya dengan membagikan tubuh kita dalam kasih, kita memenuhi tujuan kita sebagai makhluk ragawi yang diciptakan menurut citra-Nya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Citra Trinitas

Hari Raya Tritunggal Mahakudus

7 Juni 2020

Yohanes 3: 16-18

trinity 3Kita memasuki kembali masa biasa Gereja, dan salah satu perayaan terbesar dalam masa biasa adalah kesungguhan Tritunggal Mahakudus. Gereja telah menempatkan perayaan besar ini pada hari Minggu setelah Pentekosta. Alasannya mungkin tidak begitu jelas bagi kita, tetapi jika kita melihat gambaran yang lebih besar, itu sebenarnya adalah prosesi kebenaran yang wajar. Di Paskah, kita merayakan kebangkitan Yesus yang mengukuhkan keilahian Kristus, dan pada hari Pentekosta, kita menyaksikan keilahian Roh Kudus ditegaskan [lihat refleksi hari Minggu lalu]. Sekarang, kami bersukacita karena Tiga pribadi Ilahi di dalam Tuhan.

Tritunggal Minggu diakui sebagai yang paling ditakuti oleh banyak pastor atau romo karena banyak yang masih bingung bagaimana menunjukkan kebenaran yang paling dalam ini dan yang lain takut untuk menjelaskan Tritunggal karena bisa-bisa menyebarkan konsep yang keliru. Lagipula, kita berhadapan dengan sumber dan puncak semua misteri iman. Namun, itu bukan alasan yang tepat untuk tidak menampilkan keindahan Tritunggal yang mahakudus. Para imam harus bekerja keras dan menghabiskan lebih banyak waktu dalam belajar dan mempersiapkan homili.

Dalam renungan ini, saya ingin membawa kita semua kembali ke Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, realitas Tritunggal tersembunyi di sebagian besar ayat, namun kebenaran suci ini tampak di saat-saat fundamental. Mari kita baca Kejadian 1: 1-3, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk  dan kosong gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang” Lalu terang itu jadi” Umat Kristiani perdana seperti St. Irenaeus dari Lyon, segera melihat ini sebagai Trinitas yang bekerja sebagai satu, Allah, Roh dan Firman. Kabar baiknya adalah bahwa dunia dan segala ciptaan adalah mahakarya dari Tritunggal Mahakudus, dan sampat tingkat tertentu, ciptaan itu mencerminkan kesempurnaan Tritunggal.

Selain itu, dalam Kejadian 1:26, ketika Tuhan menciptakan pria dan wanita, Tuhan berkata, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” Perikop ini sedikit aneh karena Allah yang satu tiba-tiba menyebut diri sendiri dalam bentuk jamak. Tradisi Yahudi menafsirkan hal ini bahwa Allah berbicara kepada dewan surgawi-Nya, para malaikat, tetapi sekali lagi, tradisi Kristiani melihat ini sebagai tiga pribadi Ilahi. Kabar baiknya adalah bahwa jika kita diciptakan menurut citra Allah, dan jika Allah kita adalah Tritunggal, maka kita adalah citra Tritunggal.

Memang benar bahwa kita tidak dapat sepenuhnya memahami misteri Ilahi, tetapi kita sebenarnya tidak jauh dari misteri ini. Bahkan, kita diundang untuk seperti Trinitas. Sebagai citra Trinitas, kita tidak dapat menemukan sukacita sejati dengan menimbun hal-hal duniawi seperti kekayaan, ketenaran untuk diri kita sendiri. Seperti Bapa dan Putra saling mengasihi dalam Roh Kudus, kita dipanggil untuk memberikan diri kita kepada sesama dalam kasih.

Ini mengapa Gereja Katolik terus menjaga kesakralan pernikahan. Karena melalui pernikahan, pria dan wanita dapat memberikan diri mereka sepenuhnya satu sama lain. Cinta kasih mereka begitu kuat sehingga cinta kasih ini bahkan bisa melahirkan kehidupan baru. Dan saat kehidupan baru ini [anak] datang di tengah hidup sang pria dan wanita, kasih mereka dapat semakin tumbuh bahkan secara eksponensial. Dan dalam pernikahan dan keluarga, kita menemukan identitas kita sebagai citra Trinitas, dan saat kita menemukan hal ini, kita menemukan makna terdalam hidup kita.

Memang mengasihi sangat sulit, tetapi kabar baiknya adalah kita dirancang untuk memberikan kasih dan kehidupan. Tritunggal Mahakudus adalah asal usul kita, dan Tritunggal Mahakudus adalah tujuan kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Selamat Ulang Tahun, Gereja!

Minggu Pantekosta [A]

31 Mei 2020

Yohanes 20: 19-23

pentecost 3“Selamat ulang tahun!” Hari ini adalah hari raya Pentekosta, dan hari ini adalah kelahiran Gereja. Kita harus bersukacita karena Gereja kita bertambah dalam usia, tetapi semakin kuat, bijaksana dan kreatif dalam memberitakan Kabar Baik. Namun, pertanyaannya adalah mengapa kita merayakan ulang tahun Gereja pada hari Minggu Pentekosta?

Untuk menjawab ini, kita perlu memahami makna alkitabiah dari perayaan Pentekosta dan apa yang terjadi pada para murid pada saat Roh Kudus turun ke atas mereka. Kata Pentekosta berarti “yang kelima puluh”, dan hari raya Pentekosta terjadi pada hari kelima puluh setelah Minggu Paskah. Namun, pesta Gereja itu sendiri pada awalnya adalah sebuah festival keagamaan Yahudi: Hari Raya Shavuot atau Hari Raya Tujuh Minggu. Perayaan itu berlangsung tujuh minggu setelah perayaan akbar Paskah. Bersama-sama dengan Paskah dan Hari Raya Pondok Daun, Pentekosta adalah perayaan perziarahan utama yang mengharuskan setiap pria Yahudi untuk melakukan perjalanan ke Yerusalem. Awalnya, ini adalah perayaan agrikultural. Orang-orang Israel bersyukur atas panen yang berhasil dan mempersembahkan hasil panen mereka kepada Tuhan. Namun, itu juga memiliki makna religius. Dalam perayaan Shavuot, orang Israel memperingati pemberian Hukum dan pembuatan perjanjian dengan Tuhan Allah di Gunung Sinai.

Ini menjelaskan mengapa banyak orang dari berbagai bangsa berkumpul di sekitar tempat para murid: mereka adalah peziarah Pentekosta. Perayaan ini juga menjawab pertanyaan yang lebih mendasar tentang identitas Roh Kudus: Mengapa Roh Kudus harus menampakkan diri-Nya sebagai api, dan tidak dengan citra yang lain seperti merpati? Jika kita kembali ke peristiwa di gunung Sinai itu sendiri, kita akan menemukan sesuatu yang luar biasa. Ketika Allah membuat perjanjian-Nya dan menyerahkan Hukum-Nya, Dia menampakkan diri-Nya kepada seluruh Israel sebagai api [lihat Kel 19:18]. Roh Kudus hadir dalam api hanya karena Dia adalah Allah yang sama yang memanifestasikan diri-Nya di Sinai. Hari Minggu Pentekosta mengungkapkan kebenaran mendasar tentang Roh Kudus bahwa Parakletos yang dijanjikan itu adalah Tuhan.

Di Sinai, orang Israel menerima Hukum dan masuk ke dalam perjanjian dengan Tuhan. Allah menjadikan mereka “kerajaan imamat dan bangsa yang kudus [lihat Kel 19: 6]. Bangsa Israel menjadi bangsa yang kepemilikan Tuhan. Dalam Pentekosta yang baru, Roh Kudus turun ke atas para murid dan menanamkan dalam diri mereka Hukum Cinta Kasih yang Baru. Dia membentuk mereka untuk menjadi Umat Allah yang baru [lihat Pet 2: 9]. Komunitas baru keluarga Allah telah lahir hari ini!

Namun, umat Allah baru ini bahkan lebih besar. Roh Kudus memberi kuasa kepada para murid untuk memberitakan Kabar Baik kepada orang-orang dari berbagai bangsa dan bahasa. Pentekosta membalikkan efek negatif dari menara Babel [lihat Kejadian 11: 1-9]. Ketika orang-orang begitu bangga pada diri mereka sendiri dan berusaha menjadi seperti Tuhan dengan kekuatan mereka, berbagai bahasa berubah menjadi kutukan yang memecah belah mereka. Namun, dengan Roh Kudus yang mengubah hati dan menanamkan kerendahan hati, bahasa menjadi berkat yang menyatukan orang-orang yang berbeda.

Kita bersyukur kepada Roh Kudus yang telah melahirkan Gereja. Kita bersyukur kepada Roh Kudus yang telah memanggil kita untuk menjadi bagian dari umat Allah yang baru.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Berdoa seperti Yesus

Minggu Paskah ke-7

24 Mei 2020

Yohanes 17: 1-11a

man in prayer 4Doa adalah bagian mendasar dari kehidupan Yesus. Dia berdoa secara teratur, dan terutama ketika Dia bersiap untuk merangkul peristiwa-peristiwa yang menentukan, seperti Pembaptisan di Sungai Yordan [Lukas 3:21], pemilihan kedua belas rasul [Lukas 6:12], transfigurasi [Lukas 9:28], dan jalan salib-Nya [Mat 26:36-44]. Namun, kita jarang mendengar apa yang Yesus katakan dalam doa-doanya. Dalam Injil Sinoptik [Matius, Markus dan Lukas] kita cukup beruntung mendengar doa Yesus yang pendek dan emosional di Taman Getsemani sebelum Dia memasuki sengsara-Nya. Namun, penginjil Yohanes memastikan bahwa kita akan menemukan apa yang Yesus doakan dan hal ini jauh lebih panjang daripada yang pernah kita dengar sebelumnya.

Yohanes mencurahkan seluruh bab untuk doa ini [Yohanes 17: 1-26]. Yesus berdoa kepada Bapa dengan kasih dan keyakinan yang luar biasa. Namun, yang membuat doa ini  penting adalah bahwa Yesus tidak hanya berdoa tentang diri-Nya dan misi-Nya, tetapi juga berdoa untuk para murid-Nya. Yesus bertindak sebagai imam yang menjadi perantara bagi para murid-Nya. Itulah sebabnya kita menyebut bagian ini sebagai doa Yesus Kristus sebagai imam besar.

Dari doa Yesus, kita menggali beberapa pelajaran yang penting:

Pertama, jika doa sangat penting dalam kehidupan Yesus karena Yesus mengerti doa adalah jalur komunikasi-Nya kepada Bapa. Komunikasi adalah kunci untuk setiap hubungan untuk berkembang, dan Yesus mengetahui hal ini dengan baik. Mungkin, kita gagal melihat kebenaran ini, dan itulah sebabnya kita merasa doa itu membosankan. Kita malas menghadiri misa karena kita hanya memahaminya sebagai kewajiban. Kita menempatkan doa pribadi hanya sebagai tambahan karena kita menjadikan hal-hal lain sebagai prioritas kita. Anehnya, kita segera menyalahkan Tuhan jika rencana kita tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita, atau kita bahkan mengancam Tuhan untuk mengabulkan keinginan kita. Jadi, mengubah perspektif tentang doa adalah penting dan bahkan akan mengubah kehidupan.

Kedua, jika doa adalah komunikasi, maka harus selalu berupa dialog. Sering kali ketika mulai tumbuh dalam doa, kita berpikir bahwa kita harus selalu mengatakan sesuatu kepada Tuhan. Saya ingat seorang frater bertanya kepada saya, “Romo, apa lagi yang harus saya katakan jika saya kehabisan kata-kata dalam doa saya?” Saya mengatakan kepadanya, “Mungkin, ini saatnya untuk mendengarkan Tuhan.” Pertanyaan selanjutnya adalah, “Bagaimana saya mendengarkan Tuhan?” Tentunya tidak ada jawaban yang baku, tetapi saya suka apa yang dikatakan St Heronimus, “Kamu berdoa: kamu berbicara kepada mempelai laki-laki [Yesus]. Kamu membaca [Kitab Suci]: Dia berbicara kepadamu. ” Namun, kita perlu ingat bahwa dialog kata-kata bukanlah akhir dari komunikasi. Akhirnya adalah orang-orang dalam dialog menjadi satu. Yesus berkata pada dirinya sendiri, “Aku di dalam Bapa-Ku, dan kamu di dalam Aku, dan Aku di dalam kamu [Yohanes 14:20].”

Terakhir, doa kita melibatkan orang ketiga. Ini adalah konsekuensi langsung dari doa imam Yesus. Doa adalah dialog, tetapi sama seperti dialog lainnya, doa dapat berbicara tentang orang lain. Inilah saatnya kita berdoa kepada Tuhan untuk orang lain. Karena Yesus memberi kita teladan dalam doa-Nya, maka semakin penting bagi kita untuk memelihara sesama melalui doa. Pada saatnya kita tidak dapat menjangkau orang lain yang membutuhkan bantuan kita, doa tetap menjadi cara terbaik untuk mencintai mereka. Sesungguhnya orang-orang kudus di surga terus memelihara kita meskipun tidak mampu secara fisik menampakkan diri kepada kita, melalui doa-doa mereka.

Doa menyatukan kita dengan Tuhan dalam kasih dan doa juga menyatukan kita dengan orang-orang yang kita kasihi di dalam Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Parakletos

Minggu Paskah ke-6 [A]

17 Mei 2020

Yohanes 14: 15-21

holy spirit doveDalam perjamuan terakhir, Yesus berjanji kepada murid-murid bahwa Ia akan mengirim penolong yang lain untuk bersama mereka selamanya. Siapa penolong yang lain ini?

Kita semua tahu bahwa Dia adalah Roh Kudus, pribadi ketiga dari Tritunggal Mahakudus. Namun, bagaimana Yesus menggambarkan Dia dalam Injil Yohanes, dan mengapa Ia menyebut Roh Kudus sebagai “penolong”? Yesus menamai Dia sebagai penolong, atau dalam bahasa Yunani, “Parakletos.” Kata luar biasa ini berasal dari dua kata dasar Yunani, “para” berarti “di samping,” dan “kaleo” berarti “memanggil.” Dengan demikian, “parakletos” dapat dipahami sebagai seseorang yang dipanggil untuk berada di samping kita, terutama pada saat dibutuhkan. Sangat penting untuk melihat konteks asli kata ini muncul: di ruang sidang. Tidak heran bahwa kata “parakletos” dapat diterjemahkan ke juga sebagai advokat yang membantu, membela kita, dan berbicara atas nama kita dalam persidangan. Namun, seperti yang kita ketahui, seorang pembela yang baik tidak hanya membantu di dalam ruang sidang, ia ada baik sebelum maupun sesudah persidangan. Dia memberikan nasihatnya dan mempersiapkan kita untuk proses pengadilan. Pada akhirnya, dia menghibur kita jika kita menghadapi hukuman berat atau juga bersukacita jika kita berhasil menang. Tidak heran jika kata “parakletos” dapat diterjemahkan sebagai advokat, penghibur, penasihat, dan penolong. Tetapi mengapa Yesus memilih kata ini dari kata-kata yang lain?

Alasannya adalah bahwa Yesus tahu bahwa ketika para murid mulai mewartakan Injil-Nya, mereka akan menghadapi banyak kesulitan termasuk diadili. Petrus dan Yohanes menghadapi pengadilan di hadapan Sanhedrin [Kis 4:5 dst]. Stephanus dituduh melakukan penistaan ​​agama dan dilempari batu sampai mati [Kis 7]. Dan Paulus menjalani banyak persidangan sebelum dia menyerahkan hidupnya untuk Yesus. Dalam kenyataan semacam ini, Yesus melakukan hal yang benar: mengirim Parakletos. Roh Kudus akan berada di sisi para murid menghadapi cobaan dan kesulitan ketika mereka mewartakan Yesus. Memang, sulit memahami tindakan para murid ini untuk bertahan dan bahkan menyerahkan hidup mereka tanpa Roh Kudus yang ada di pihak mereka.

Di zaman kita, sebagai murid Kristus, kita menghadapi masa sulit global yang disebabkan oleh virus covid19. Beberapa dari kita beruntung karena kita hanya perlu tinggal di rumah. Beberapa dari kita beruntung karena kita dapat menikmati misa livestreaming, bahkan dua kali sehari! Tetapi bagi banyak orang, pandemi berarti kehilangan mata pencaharian dan bahkan hidup mereka. Bagi banyak orang, mereka tidak dapat pergi ke gereja bahkan ketika tidak ada pandemi.

Kita memang membutuhkan Parakletos, tetapi salah satu karunia Roh Kudus adalah bahwa kita juga diberdayakan untuk menjadi parakletos kecil bagi saudara-saudari kita. Saat kami, komunitas Dominikan di Surabaya, diminta untuk menutup gereja sementara untuk pelayanan publik, kita segera mencari cara agar dapat memberikan layanan online kepada umat paroki kita. Kita juga bersyukur bahwa banyak orang menyumbangkan barang-barang bantuan ke paroki, dan para imam paroki dan juga para pengurus gereja bekerja keras untuk menyalurkan bantuan ini kepada mereka yang membutuhkan.

Alih-alih mengeluh bahwa kita tidak dapat pergi ke Gereja atau menyalahkan orang lain atas situasi buruk yang kita alami, kita harus meminta Roh Kudus untuk memberdayakan kita untuk menjadi parakletos kecil dan menemukan cara untuk menjadi pembela, penghibur dan di pihak saudara-saudari kita yang membutuhkan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Mempelai-Nya di Masa Pandemi

Minggu Paskah ke-5

10 Mei 2020

Yohanes 14: 1-12

last supperKita telah menutup gereja-gereja kita untuk pelayanan publik untuk beberapa minggu sekarang. Kita beralih ke misa livestreaming, dan kita belajar untuk menyesuaikan diri dan mengutamakan kesehatan dan kehidupan kita. Tetapi, kita menyadari bahwa hati kita tetap gelisah. Kita ingin melihat Yesus dalam Sakramen Mahakudus, kita berhasrat untuk menerima-Nya dalam Ekaristi, kita ingin melayani-Nya di paroki dan komunitas, dan kita kehilangan sakramen pengakuan dosa. Kita tidak yakin kapan akan berakhir dan kembali normal.

Kita seperti para murid dalam Injil minggu ini. Hati mereka gelisah karena Yesus akan meninggalkan mereka. Mereka sedang berada pada perjamuan Paskah, dan hal ini seharusnya merupakan perayaan yang menggembirakan. Namun, Yesus mengumumkan kepada mereka bahwa seseorang akan mengkhianati Dia dan Dia akan diambil dari mereka. Para murid telah meninggalkan segalanya, dan mengikuti Yesus karena mereka berharap bahwa Yesus sebagai Mesias akan menggulingkan kekaisaran Romawi dan mengembalikan kemuliaan Israel. Mereka tidak bisa menerima kemungkinan kegagalan total dari Yesus. Apakah mereka berpegang pada harapan palsu? Apakah Yesus menyebarkan kabar hoax? Apakah pengorbanan mereka sia-sia? Kita seperti para murid. Setelah kita memberikan segalanya untuk mengikuti Yesus, untuk melayani Gereja-Nya dan untuk bekerja di kebun anggur-Nya, kita merasa Dia hilang. Di mana Yesus ketika kita paling membutuhkan Dia?

Yesus mengenal hati para murid-Nya dan meyakinkan mereka untuk miliki iman kepada Allah dan kepada-Nya. Namun, apa yang muncul setelah kata penguatan ini adalah bahwa Yesus memberi tahu para murid bahwa ada banyak tempat tinggal di rumah Bapa-Nya dan Dia akan pergi untuk mempersiapkan tempat-tempat itu. Untuk menghibur para murid, Yesus tidak mengatakan bahwa Ia akan kembali menjadi pemenang, atau Ia akan menghancurkan semua musuh Israel. Dia berkata bahwa Dia akan menyiapkan tempat tinggal. Hal ini tidak masuk akal.

Untuk memahami hal ini, kita perlu mengetahui upacara pernikahan di zaman Yesus. Pada masa ini, pernikahan dilakukan dalam dua tahap. Yang pertama adalah pertunangan dan tahap kedua adalah perayaan pernikahan. Pada tahap pertunangan, kedua mempelai sebenarnya telah berjanji dan telah menjadi suami dan istri di mata Hukum, tetapi mereka belum tinggal bersama dalam satu rumah. Mereka harus menunggu sekitar satu tahun sebelum upacara tahap terakhir. Setelah sekitar tahun, pengantin wanita akan dibawa dalam prosesi ke rumah pengantin pria, dan mereka akan mengadakan perayaan selama seminggu. Kenapa menunggu satu tahun? Alasannya praktis. Ini memberi cukup waktu bagi mempelai lelaki itu untuk mempersiapkan perayaan serta membangun tempat yang layak bagi pengantin wanita.

Satu citra Gereja sehubungan dengan Yesus adalah bahwa ia adalah mempelai wanita Kristus [lih. Yoh 3:29; 2 Kor 11:2]. Jika kita menerapkan upacara pernikahan Yahudi pada zaman Yesus ini bagi Gereja dan Yesus, kita menemukan bahwa pertunangan telah terjadi, tetapi belum mencapai perayaan pernikahan. Yesus tidak bersama Gereja-Nya karena Dia ada Rumah Bapa untuk mempersiapkan tempat tinggal bagi kita, mempelai-Nya.

Pada saat pandemi, hati kita pasti gelisah, dan dengan gereja-gereja ditutup, kita merasa bahwa Tuhan kita diambil dari kita. Namun, waktu yang sulit sebenarnya bisa menjadi perjalanan menuju tempat tinggal yang jauh lebih baik yang disiapkan oleh Yesus. Kita mungkin belum melihat hal-hal yang lebih baik yang akan kita alami, tetapi Yesus meyakinkan kita bahwa Allah memegang kendali. Dalam kehidupan yang penuh badai ini, kita dapat melihat tempat yang indah yang disiapkan oleh Yesus, mempelai kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengapa Domba

Minggu Paskah keempat [A]

3 Mei 2020

Yohanes 10: 1-10

good shepherd 4Hari ini adalah hari Minggu Paskah keempat dan secara tradisional juga disebut sebagai Minggu Gembala yang Baik. Bacaan Injil berbicara tentang Yesus yang memperkenalkan diri-Nya sebagai pintu gerbang domba dan juga Gembala yang Baik. Mazmur tanggapan diambil dari mazmur 23 yang menyatakan bahwa “Tuhanlah gembalaku.” St. Petrus dalam Suratnya mengatakan bahwa kita adalah domba-Nya yang hilang, tetapi sekarang telah kembali kepada Yesus sang Gembala [lih. 1 Pet 2:25].

Injil Yohanes tidak memiliki perumpamaan seperti ketiga Injil lainnya, tetapi Yohanes memiliki hal lain. Injil ini memberi kita tujuh pernyataan “AKU ADALAH”. “Aku adalah roti kehidupan.” (Yoh 6:35, 41, 48, 51); “Aku adalah terang dunia.” (Yoh 8:12); “Aku adalah pintu domba.” (Yoh 10: 7,9); “Aku adalah kebangkitan dan hidup.” (Yoh 11:25); “Aku adalah gembala yang baik.” (Yoh 10:11, 14); “Aku adalah jalan, kebenaran, dan kehidupan.” (Yoh 14: 6); “Aku pohon anggur yang benar.” (Yoh 15: 1, 5). Pernyataan-pernyataan ini mengungkapkan cara-cara istimewa Yesus berhubungan dengan kita para murid-Nya. Jika Yesus adalah roti kehidupan, kita tidak dapat hidup tanpa memakan Dia. Jika Dia adalah terang, kita tidak dapat melihat dan menemukan jalan pulang.

Ketika Yesus menyatakan bahwa Dia adalah pintu domba dan gembala yang baik, ini mengasumsikan bahwa Yesus memperlakukan kita sebagai domba-Nya. Pertanyaannya adalah mengapa domba? Mengapa tidak binatang yang lebih lucu seperti kucing Persia atau Shih Tzu? Mengapa bukan sesuatu yang bermanfaat seperti anjing German shepherd atau kuda? Ok, domba bisa bermanfaat juga sebagai hewan ternak. Daging domba adalah salah satu daging terbaik, dan wolnya bisa menjadi kain mahal. Tetapi, apakah Yesus menganggap kita sebagai domba karena keimutan atau kegunaan kita?

Bersama dengan kambing, domba adalah salah satu hewan paling awal yang telah didomestikasi. Manusia telah memelihara domba sejak sepuluh ribu tahun. Di Palestina pada zaman Yesus, domba adalah hewan yang sangat umum, dan meskipun bekerja sebagai tukang kayu, tidak sulit bagi Yesus untuk mengamati kehidupan gembala dan kawanan ternaknya. Apa yang membuat domba berbeda dari kambing adalah bahwa domba tidak memiliki mekanisme pertahanan diri. Kambing di sisi lain dilengkapi dengan tanduk yang keras dan bisa menjadi agresif ketika diserang. Domba pada dasarnya tidak berdaya dan karena itu, mereka sangat bergantung pada gembala untuk melindungi mereka.

Kita mungkin menolak gagasan bahwa kita tidak berdaya seperti domba. Bagaimanapun, manusia berada di puncak kerajaan hewan karena kecerdasan dan kecakapan fisik kita. Memang, ini benar, jika kita hanya membatasi diri pada aspek biologis atau alami dari kemanusiaan kita. Namun, jika kita mempertimbangkan kehidupan rohani kita, kita tidak lebih baik dari domba. Tanpa perlindungan Tuhan dan para malaikat-Nya, kita hanya menjadi bulan-bulanan roh jahat. Tanpa hukum dan petunjuk Tuhan, kita hanya membahayakan diri kita sendiri. Lebih penting lagi, tanpa Tuhan, kita tidak bisa diselamatkan.

Meminjam kata-kata Uskup Robert Barron, Kekristenan adalah agama keselamatan, dan bukan “self-help religion”. Betapa pun baiknya kita, kita tidak dapat mencapai surga tanpa rahmat Tuhan. Tindakan kita hanya bermakna sejauh itu dibantu oleh kasih Tuhan. Gambaran domba membawa kita pada kesadaran tentang siapa kita. Kita bukan apa-apa tanpa Tuhan, namun walaupun kita lemah secara rohani dan tidak berdaya, Tuhan tetap setia kepada kita dan akan memimpin padang rumput hijau karena Dia adalah Gembala Baik kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Emaus: Perjalanan kembali kepada Tuhan

Minggu Paskah ke-3

26 April 2020

Lukas 24: 13-35

road to emmaus
Rowan LeCompte (American, 1925–2014) and Irene Matz LeCompte (American, 1926-1970), “Third Station of the Resurrection: The Walk to Emmaus” (detail), 1970. Mosaic, Resurrection Chapel, National Cathedral, Washington, DC. Photo: Victoria Emily Jones. Tags: woman

Kedua murid pulang ke Emaus. Salah satunya adalah Kleopas, dan temannya mungkin adalah istrinya sendiri [lih. Yoh 19:25]. Mungkin mereka takut pada otoritas Romawi dan Yahudi yang mungkin mengejar mereka setelah mereka menghabisi Yesus, sang pemimpin. Atau mungkin, mereka merasa harapan dan mimpi mereka hancur ketika Yesus, sang Mesias yang mereka harapkan, telah disalibkan.

Kleopas dan istrinya melakukan apa yang biasanya kita lakukan di saat kesedihan dan kesulitan melanda hidup kita. Mereka saling berbagi cerita dan mencoba memahami apa yang terjadi. Namun, bagi Kleopas dan istrinya, hal ini tidak berjalan dengan baik. Dialog yang terjadi tidak membuat mereka lebih baik. Sebaliknya, mereka menjadi lebih sedih, dan mereka bahkan tidak bisa mengenali Yesus, yang sebenarnya sangat dekat. Memang, kita membutuhkan seseorang untuk berbagi cerita kita, tetapi ketika orang ini tidak siap, terlepas dari niat baiknya, kondisi kita bisa menjadi semakin buruk. Kita perlu ingat bahwa dialog pertama dalam Alkitab terjadi di taman Eden antara Hawa dan sang ular!

Yesus turun tangan pada saat yang tepat. Yesus membawa bagian penting yang hilang. Yesus membawa Sabda Allah. Pasangan ini sangat diberkati karena mereka mengalami Bible Study yang pertama, dan Yesus sendirilah yang membimbing mereka. Namun, Yesus menjelaskan bahwa mereka sebenarnya tahu Kitab Suci, tetapi mereka kurang iman. Ketika kita membaca Alkitab tanpa iman, buku ini tidak lebih dari sebuah novel yang indah atau sebuah teks kuno yang penuh misteri. Hanya dengan iman, kita bisa bertemu Tuhan yang menceritakan kisah-Nya di dalam Kitab Suci ini. Tidak heran Yesus berkata kepada mereka bahwa Kitab Suci adalah tentang Dia karena Yesus adalah Allah yang sama yang hadir dalam penciptaan, yang memimpin bani Ibrani dalam eksodus mereka, dan yang mengutus para nabi untuk membimbing orang Israel di tanah terjanji.

Kleopas dan istrinya mengingatkan kita tentang pasangan pertama yang juga gagal untuk beriman kepada Allah. Mereka adalah Adam dan Hawa. Setelah dialog pertama dengan Setan yang membawa mereka pada malapetaka, mereka sebenarnya layak menerima kematian. Namun, Tuhan tidak membiarkan kematian merenggut mereka dengan segera, tetapi sebaliknya Dia membuat bagi mereka pakaian dari kulit sebagai tanda perlindungan-Nya. Ketika mereka meninggalkan taman Eden yang indah sebagai konsekuensi dari pilihan mereka, itu juga terakhir kali kita mendengar tentang apa yang terjadi di dalam taman tersebut. Mengapa? Tuhan tidak ada lagi di taman itu. Dia mengikuti Adam dan Hawa yang pergi dari Eden. Tuhan tidak ingin mereka pergi lebih jauh dari-Nya tetapi dengan sabar membimbing mereka kembali ke surga. Tuhan tidak hanya membimbing dan menemani Adam dan Hawa, Dia juga berjalan dengan Kleopas dan istrinya, dan membimbing mereka ke sebuah tempat di mana mereka menemukan ke Eden yang baru. Mereka mengenali Yesus saat Dia mengambil, memberkati, memecah-mecah dan memberikan roti kepada mereka. Mereka mengenali Yesus saat Ekaristi kudus pertama setelah kebangkitan. Ekaristi adalah Firdaus yang baru.

Kisah-kisah kita dalam kehidupan, bahkan yang paling buruk sekalipun seperti di masa pandemi ini, hanya sungguh bermakna ketika Allah menjadi bagian dari cerita kita. Perjalanan ke Emaus memberi pengertian yang lebih dalam tentang tujuan Misa Kudus. Dalam Misa, kita selalu memulai dengan membaca Kitab Suci karena kita diundang untuk melihat kisah-kisah kecil kita dalam kisah-kisah terbesar Allah. Ketika kita menemukan makna hidup kita di dalam Allah, itulah saatnya kita menemukan Yesus sungguh hidup dalam liturgi Ekaristi.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP