Minggu ke-7 dalam Masa Biasa [24 Februari 2019] Lukas 6: 27-38
Hendaklah kamu berbelas kasih, sama seperti Bapamu adalah berbelas kasih (Lk. 6:36)
Minggu lalu, kita mendengarkan ajaran Yesus Kristus tentang Sabda Bahagia. Ini adalah serangkaian kondisi yang menuntun seseorang menuju hidup berkat atau kebahagiaan sejati. Minggu ini, kita menemukan langkah-langkah praktis tentang cara mencapai kebahagiaan sejati ini. Minggu lalu, kita belajar bahwa Sabda Bahagia Yesus adalah kebalikan dari tatanan kebahagiaan duniawi. Bagi dunia, menjadi tamak akan kekayaan, berpengaruh, terkenal, dan kuat secara seksual adalah syarat untuk kebahagiaan. Yesus membalik tatanan ini dan mengatakan bahwa mereka yang murah hati, berbelas kasih dan murni hatinya adalah mereka yang benar-benar bahagia.
Karena Sabda Bahagia adalah kebalikan dari tatanan duniawi, demikian juga ajaran praktis Yesus tentang bagaimana mencapai Sabda Bahagia ini. Dunia memberi tahu kita untuk membalas dendam, gigi ganti gigi, mata ganti mata, tetapi Yesus mengajarkan kita untuk mengampuni, memberkati orang-orang yang mengutuk kita, dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Dunia memberi tahu kita untuk memberikan sesuatu dengan mengharapkan balasannya. Ini bisnis dan investasi. Tetapi, Yesus memerintahkan kita untuk memberi dalam kemurahan hati, tanpa menghitung biayanya, tanpa mengharapkan imbalan. Dunia memberitahu kita untuk mencintai orang yang mencintai kita dan membenci orang yang membenci kita, tetapi Yesus mengajarkan bahwa kita mengasihi musuh kita dan berbuat baik kepada siapa yang membenci kita.
Instruksi Yesus sangat sulit karena pada kenyataannya, itu bertentangan dengan kecenderungan alami yang kita miliki. Kita mungkin memaafkan orang yang melakukan kesalahan kecil dan tidak disengaja, seperti seseorang yang menginjak kaki kita. Namun, bagaimana kita akan mangasihi seseorang yang menindas kita, menurunkan harga diri kita, dan menyebabkan depresi? Bagaimana kita akan memaafkan seseorang yang mengkhianati kepercayaan kita, mencuri dari kita, dan memanfaatkan kita untuk kepentingan pribadi mereka? Bagaimana kita akan menerima seseorang yang melakukan pelecehan seksual dan fisik terhadap kita? Bagaimana kita bisa berbuat baik kepada seseorang yang membunuh anggota keluarga kita? Bagaimana kita akan memaafkan seseorang yang tidak pernah meminta pengampunan kita?
Manusia seperti kita, hampir mustahil untuk mengikuti ajaran Yesus. Namun, itu tidak sepenuhnya mustahil karena kita bukan binatang yang secara membabi buta mengikuti naluri, tetapi kita diciptakan menurut citra Allah yang berbelas kasihan. Yesus tidak mengajarkan kita hal yang mustahil karena Dia tahu siapa kita sebenarnya, anak-anak Allah. Jika Allah bisa berbelas kasih kepada yang jahat dan yang tidak tahu berterima kasih, jika Ia menurunkan hujan untuk yang baik dan yang buruk, jika Ia menyediakan bagi orang kudus dan orang berdosa, kita juga bisa menjadi seperti Dia.
Beberapa Minggu lalu, 24 Januari, di tengah perayaan Ekaristi, dua bom meledak di dalam dan di luar Katedral Our Lady of Mount Carmel, Jolo, Filipina. Aksi ini menewaskan lebih dari 20 jemaat dan melukai seratus orang lebih. Setiap korban memiliki cerita, dan setiap jiwa memiliki keluarga. Daisy Delos Reyes, dan juga Rommy Reyes dan istrinya Leah adalah beberapa orang yang secara rutin menghadiri misa dan aktif melayani di Gereja. Tubuh mereka hancur berantakan dan tak dikenali. Itu sangat menyakitkan, dan orang-orang yang dekat dengan mereka tidak bisa tidak marah. Namun, kebencian tidak akan menyelesaikan apa pun dan pembalasan dendam tidak pernah membawa kedamaian sejati. Saudara dan saudari kita di Jolo hancur, tetapi mereka bangkit dari reruntuhan dan membangun kembali Gereja dan iman mereka. Memang, itu tidak mudah, tetapi itu karena Bapak kita adalah Allah yang berbelas kasih.
Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

We listen today the Beatitude, but unlike the famous Beatitude from the Gospel of Matthew, we have today from the Gospel of Luke. Unlike from Matthew who has eight sayings of blessedness, Luke has four blessedness and for four “woes”. The most striking difference is while Matthew seems to emphasize “the poor in spirit”, Luke wants us to understand poverty in a more literal sense.
Kita mendengarkan hari ini tentang Sabda Bahagia, tetapi tidak seperti Sabda Bahagia yang terkenal dari Injil Matius, kita sekarang mendengarkan dari Injil Lukas. Tidak seperti Matius yang memiliki delapan ucapan berkat, Lukas memiliki empat berkat dan empat “celaka”. Perbedaan yang paling mencolok adalah ketika Matius tampaknya menekankan “orang miskin di hadapan Allah atau miskin dalam roh”, Lukas menekankan kemiskinan dalam arti yang lebih harfiah.
This Sunday, we listen to the vocation stories of great men in the Bible. From the first reading, we learn how Isaiah was called by God to be His prophet to Judah. In the Temple of Jerusalem, he saw the Lord God surrounded by His seraphim. Isaiah was terrified and said that he had unclean lips. An angel then placed a burning ember on his tongue to remove his wickedness. God, then said, “Whom shall I send?” Isaiah replied with confidence, “Here I am, send me!”
Minggu ini, kita mendengarkan kisah panggilan tokoh-tokoh besar dalam Alkitab. Dari bacaan pertama, kita belajar bagaimana Yesaya dipanggil oleh Allah untuk menjadi nabi-Nya bagi Kerajaan Yehuda. Di Kuil Yerusalem, ia melihat Tuhan Allah dikelilingi oleh serafim-Nya. Yesaya sangat ketakutan dan berkata bahwa dia memiliki bibir yang najis. Seorang malaikat kemudian menaruh bara api di lidahnya untuk menghilangkan dosanya. Tuhan lalu berkata, “Siapa yang akan Kuutus?” Yesaya menjawab dengan percaya diri, “Ini aku, utuslah aku!”
In today’s Gospel, Jesus compares Himself with the Israelite greatest prophets, Elijah and Elisha. But, who are these two prophets? For many Catholics, we are not familiar with these two prominent figures in the Old Testament, and thus, we often do not appreciate why Jesus deliberately cites their names.
Yesus membandingkan diri-Nya dengan nabi-nabi besar Israel, Elia dan Elisa. Tetapi, siapakah kedua nabi ini? Bagi banyak orang Katolik, kita tidak begitu mengenal kedua tokoh terkemuka ini dalam Perjanjian Lama ini, dan karena itu, kita sering tidak menghargai mengapa Yesus dengan sengaja menyebut nama mereka.
The synagogue is the place of prayer for the Jews. On the center during the service in the synagogue is the reading of the Hebrew Bible (or what we call the Old Testament) and the explanation of those readings. In the Gospel, we learn that Jesus stands as the leader of the service. First, He stands and reads the Scriptures, and the chosen portion is from the Prophet Isaiah. Then, He sits down, assuming the position of teacher. The Jews in the synagogue are eager to listen to Jesus. However, there is something different in Jesus’ teaching from other Jewish Rabbis. Jesus neither simply expounds the reading from Isaiah, nor makes commentaries on the text. He neither simply discusses the meaning of the readings, nor explains the context of the text. He fulfills what is written in the Scriptures. He says, “Today this scripture passage is fulfilled in your hearing.” (Lk. 4:14)
Sinagoga adalah tempat beribadah bagi orang Yahudi. Jantung dari peribadatan di sinagoga adalah pembacaan Alkitab Ibrani (yang kita sebut Perjanjian Lama) dan penjelasan bacaan-bacaan tersebut. Dalam Injil, kita belajar bahwa Yesus berdiri sebagai pewarta. Pertama, Dia berdiri dan membaca Kitab Suci, dan bagian yang dibaca adalah dari Nabi Yesaya. Kemudian, Dia duduk, yang adalah posisi guru. Orang-orang Yahudi di sinagoga ingin sekali mendengarkan Yesus. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari Yesus dari para guru Yahudi lainnya. Yesus tidak hanya menguraikan bacaan dari Yesaya, atau membuat komentar pada teks. Dia tidak hanya membahas makna bacaan, atau menjelaskan konteks teks. Ia menggenapi apa yang tertulis dalam Alkitab. Ia berkata, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Luk. 4:14)
Today we are celebrating the feast of the conversion of St. Paul, the Apostle. St. Paul is one of the greatest names in our Church. Many churches are named after him, like one of the major Basilica in Rome, St. Paul outside the Wall. Not only churches but also many Christians are named after him, including our brothers in the house of formation, Bro. John Paul Sontillano, Bro. Paulus Gabriel Rambang Ngawan, and our former formator, Fr. Pablo Tiong.