Berbelas Kasih seperti Bapa

Minggu ke-7 dalam Masa Biasa [24 Februari 2019] Lukas 6: 27-38

Hendaklah kamu berbelas kasih, sama seperti Bapamu adalah berbelas kasih (Lk. 6:36)

father and child 2Minggu lalu, kita mendengarkan ajaran Yesus Kristus tentang Sabda Bahagia. Ini adalah serangkaian kondisi yang menuntun seseorang menuju hidup berkat atau kebahagiaan sejati. Minggu ini, kita menemukan langkah-langkah praktis tentang cara mencapai kebahagiaan sejati ini. Minggu lalu, kita belajar bahwa Sabda Bahagia Yesus adalah kebalikan dari tatanan kebahagiaan duniawi. Bagi dunia, menjadi tamak akan kekayaan, berpengaruh, terkenal, dan kuat secara seksual adalah syarat untuk kebahagiaan. Yesus membalik tatanan ini dan mengatakan bahwa mereka yang murah hati, berbelas kasih dan murni hatinya adalah mereka yang benar-benar bahagia.

Karena Sabda Bahagia adalah kebalikan dari tatanan duniawi, demikian juga ajaran praktis Yesus tentang bagaimana mencapai Sabda Bahagia ini. Dunia memberi tahu kita untuk membalas dendam, gigi ganti gigi, mata ganti mata, tetapi Yesus mengajarkan kita untuk mengampuni, memberkati orang-orang yang mengutuk kita, dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Dunia memberi tahu kita untuk memberikan sesuatu dengan mengharapkan balasannya. Ini bisnis dan investasi. Tetapi, Yesus memerintahkan kita untuk memberi dalam kemurahan hati, tanpa menghitung biayanya, tanpa mengharapkan imbalan. Dunia memberitahu kita untuk mencintai orang yang mencintai kita dan membenci orang yang membenci kita, tetapi Yesus mengajarkan bahwa kita mengasihi musuh kita dan berbuat baik kepada siapa yang membenci kita.

Instruksi Yesus sangat sulit karena pada kenyataannya, itu bertentangan dengan kecenderungan alami yang kita miliki. Kita mungkin memaafkan orang yang melakukan kesalahan kecil dan tidak disengaja, seperti seseorang yang menginjak kaki kita. Namun, bagaimana kita akan mangasihi seseorang yang menindas kita, menurunkan harga diri kita, dan menyebabkan depresi? Bagaimana kita akan memaafkan seseorang yang mengkhianati kepercayaan kita, mencuri dari kita, dan memanfaatkan kita untuk kepentingan pribadi mereka? Bagaimana kita akan menerima seseorang yang melakukan pelecehan seksual dan fisik terhadap kita? Bagaimana kita bisa berbuat baik kepada seseorang yang membunuh anggota keluarga kita? Bagaimana kita akan memaafkan seseorang yang tidak pernah meminta pengampunan kita?

Manusia seperti kita, hampir mustahil untuk mengikuti ajaran Yesus. Namun, itu tidak sepenuhnya mustahil karena kita bukan binatang yang secara membabi buta mengikuti naluri, tetapi kita diciptakan menurut citra Allah yang berbelas kasihan. Yesus tidak mengajarkan kita hal yang mustahil karena Dia tahu siapa kita sebenarnya, anak-anak Allah. Jika Allah bisa berbelas kasih kepada yang jahat dan yang tidak tahu berterima kasih, jika Ia menurunkan hujan untuk yang baik dan yang buruk, jika Ia menyediakan bagi orang kudus dan orang berdosa, kita juga bisa menjadi seperti Dia.

Beberapa Minggu lalu, 24 Januari, di tengah perayaan Ekaristi, dua bom meledak di dalam dan di luar Katedral Our Lady of Mount Carmel, Jolo, Filipina. Aksi ini menewaskan lebih dari 20 jemaat dan melukai seratus orang lebih. Setiap korban memiliki cerita, dan setiap jiwa memiliki keluarga. Daisy Delos Reyes, dan juga Rommy Reyes dan istrinya Leah adalah beberapa orang yang secara rutin menghadiri misa dan aktif melayani di Gereja. Tubuh mereka hancur berantakan dan tak dikenali. Itu sangat menyakitkan, dan orang-orang yang dekat dengan mereka tidak bisa tidak marah. Namun, kebencian tidak akan menyelesaikan apa pun dan pembalasan dendam tidak pernah membawa kedamaian sejati. Saudara dan saudari kita di Jolo hancur, tetapi mereka bangkit dari reruntuhan dan membangun kembali Gereja dan iman mereka. Memang, itu tidak mudah, tetapi itu karena Bapak kita adalah Allah yang berbelas kasih.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Blessedness and Woes

Sixth Sunday in Ordinary Time [February 17, 2019] Luke 6:17.20-26

“But woe to you who are rich, for you have received your consolation. (Lk. 6:24)”

indiaispoorWe listen today the Beatitude, but unlike the famous Beatitude from the Gospel of Matthew, we have today from the Gospel of Luke. Unlike from Matthew who has eight sayings of blessedness, Luke has four blessedness and for four “woes”. The most striking difference is while Matthew seems to emphasize “the poor in spirit”, Luke wants us to understand poverty in a more literal sense.

We want to have a happy life, and we do not like to have a difficult and poor life. It is just basic in our human nature. If we study diligently, we expect that we have a good result in our education. If we work hard and labor honestly every day, we wish that we will be rewarded with success. If we live our lives with passion and dedication, we look forward to acquire a fulfilling life.

However, in today’s Gospel, we listen that Jesus is telling us that the blessed one are the poor, the hungry, the weeping, and the persecuted, and for those who are rich, filled, and laughing, “woe” is their lot. Is Jesus pro-poor and anti-rich? Does Jesus want us to suffer, famish, and become malnourished? Does Jesus like that we are justly rewarded for our hard work and labor? Is Jesus hyper melancholic man, who sulk in sadness, and does not know how to enjoy life?

These are tough yet valid questions, and to answer these, we need to go back to the time of Jesus and discover the context behind the saying of Jesus. In the first century A.D. Palestine, the majority of the people, including Jesus Himself, were poor, hungry and oppressed. They were poor not because they were lazy but because they were living under a terrible time to live. Palestine was colonized by the Romans, and it was a common practice to levy a heavy tax on ordinary Israelites. Only some nobilities, few landowners, a handful of rich businessmen and Israelites who were working for the Romans, like the tax collectors, were enjoying a better life. Ordinary Israelites did not only have to face the Romans, but they had to suffer from the abuses from their fellow yet greedy and opportunistic Israelites who wished nothing but enrich themselves. It was a terrible time to live.

The message of Beatitude was more making sense now. Jesus promises hope and consolation for those who are poor and suffering due to injustice, and He woes those who are rich through dishonest and oppressive means. Thus, we know now that by His Beatitudes and Woes, Jesus does not hate all the rich guys, but greed and injustice that poison people’s hearts both the rich and the poor. When we have a good life because of our hard work and honest effort, then we praise the Lord. It is a blessing! Yet, Jesus is also reminding us that in good time, we must not be greedy, but remain humble and even to have concern for our brothers and sisters who are poor, hungry, and weeping because of injustice.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Penghiburan bagi yang Tertindas

Minggu ke-6 pada Masa Biasa [17 Februari 2019] Lukas 6:17-28

Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. (Lk. 6:24)”

poor chilrenKita mendengarkan hari ini tentang Sabda Bahagia, tetapi tidak seperti Sabda Bahagia yang terkenal dari Injil Matius, kita sekarang mendengarkan dari Injil Lukas. Tidak seperti Matius yang memiliki delapan ucapan berkat, Lukas memiliki empat berkat dan empat “celaka”. Perbedaan yang paling mencolok adalah ketika Matius tampaknya menekankan “orang miskin di hadapan Allah atau miskin dalam roh”, Lukas menekankan kemiskinan dalam arti yang lebih harfiah.

Tentunya, kita ingin memiliki kehidupan yang bahagia, dan kita tidak ingin dengan kehidupan yang sulit dan miskin. Hal ini mendasar dalam karakter manusia. Jika kita rajin belajar, kita berharap bahwa kita memiliki hasil yang baik dalam pendidikan kita. Jika kita bekerja dengan keras dan jujur setiap hari, kita berharap bahwa kita akan mendapatkan kesuksesan. Jika kita menjalani hidup kita dengan hasrat dan dedikasi, kita berharap untuk memperoleh kehidupan yang memuaskan dan bermakna.

Namun, dalam Injil hari ini, kita mendengarkan bahwa Yesus bersabda bahwa yang diberkati adalah orang miskin, yang lapar, yang menangis, dan yang dianiaya, dan bagi mereka yang kaya, kenyang, dan tertawa, “celakalah” nasib mereka. Apakah Yesus seorang yang pro-miskin dan anti-kaya? Apakah Yesus ingin kita menderita, kelaparan, dan menjadi kurang gizi? Apakah Yesus tidak ingin kita dihargai secara adil atas kerja keras kita? Apakah Yesus seorang yang sangat melankolis, yang berlarut-larut dalam kesedihan, dan tidak tahu bagaimana menikmati hidup?

Ini adalah pertanyaan sulit namun valid, dan untuk menjawab ini, kita perlu kembali ke zaman Yesus dan menemukan konteks di balik perkataan Yesus. Pada abad pertama masehi, Palestina, mayoritas orang, termasuk Yesus sendiri, adalah miskin, lapar dan tertindas. Mereka miskin bukan karena mereka malas tetapi karena mereka hidup di dalam waktu yang sulit untuk hidup. Palestina dijajah oleh bangsa Romawi, dan merupakan praktik umum untuk memungut pajak yang besar pada orang-orang Israel. Hanya beberapa bangsawan, beberapa pemilik tanah, segelintir pengusaha kaya dan orang Israel yang bekerja untuk orang-orang Romawi, seperti para pemungut pajak, menikmati kehidupan yang lebih baik. Orang-orang Israel biasa tidak hanya harus menghadapi orang-orang Romawi, tetapi mereka juga harus menderita di tangan sesama orang Israel yang serakah dan oportunistik yang hanya memikirkan bagaimana mereka bisa memperkaya diri mereka sendiri. Itu adalah waktu yang sulit untuk hidup bagi orang-orang Israel yang sederhana.

Dengan mengetahui konteks, Sabda Bahagia di Injil Lukas jauh lebih masuk akal sekarang. Yesus menjanjikan harapan dan penghiburan bagi mereka yang miskin dan menderita karena ketidakadilan, dan Yesus mengecam mereka yang kaya melalui cara yang tidak jujur dan menindas. Dengan demikian, kita tahu sekarang bahwa dengan Sabda Bahagia dan Sabda Celaka-Nya, Yesus tidak membenci orang kaya, tetapi keserakahan dan ketidakadilan yang meracuni hati orang-orang baik yang kaya maupun yang miskin. Ketika kita memiliki kehidupan yang baik karena kerja keras dan usaha jujur kita, kita bersyukur kepada Tuhan. Ini adalah berkah! Namun, Yesus juga mengingatkan kita bahwa pada saat kita diberkati, kita jangan serakah, tetapi tetap rendah hati dan bahkan memiliki kepedulian terhadap saudara-saudari kita yang miskin, lapar, dan menangis karena ketidakadilan.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Behind God’s Calling

Fifth Sunday of Ordinary Time [February 10, 2019] Luke 5:1-11

procession 2This Sunday, we listen to the vocation stories of great men in the Bible. From the first reading, we learn how Isaiah was called by God to be His prophet to Judah. In the Temple of Jerusalem, he saw the Lord God surrounded by His seraphim. Isaiah was terrified and said that he had unclean lips. An angel then placed a burning ember on his tongue to remove his wickedness. God, then said, “Whom shall I send?” Isaiah replied with confidence, “Here I am, send me!”

In the second reading, St. Paul wrote to the Church in Corinth and reminded them about the Gospel they had received. Paul assured them that he himself was the recipient of this Gospel no less from the risen Christ Himself. Though he used to be the zealous persecutor of Christians, Jesus called him. By the grace of God, Paul toiled day and night for the building up of the Church.

From today’s Gospel, we listen to the call of the first disciples: Simon, Andrew, James, and John. Luke the evangelist tells us about seasoned fishermen who failed to catch any fish, but Jesus, a carpenter, tells them to ‘go into the deep’. They hesitate, but they follow nonetheless. Lo and behold, they are able to catch a large amount of fish, to the point of destroying their nets. Eventually, Jesus calls them and makes them as fishers of men, and they follow Jesus.

Like Isaiah, Paul and the first Disciples, we are also called by God to follow Him. Some may receive a vocation to the priesthood, some others to religious life, others to build a family, and others may be single yet living a holy life. God also calls us in various ways. Like Isaiah or Paul, some receive extraordinary mystical experiences. But, many of us may be called in the most ordinary and unexpected ways. One day a young man asked whether he has a vocation to the priesthood, especially to the Dominican Order. I said to him, “Well, take the entrance exam first! If you pass you may have the vocation, if not, God may call you somewhere else.”

Sometimes, we ask the Lord a deeper question, “Why me Lord?” but often, we no longer bother to find the answer. Yet, it remains a valid question to be answered. Why did He choose Isaiah, Paul, and Peter? Why does Jesus choose you and me? The answer surprisingly is in the Bible.

When Moses made his farewell speech before the Israelites who were about to enter the Promised Land, he reminded them the reason why God chose Israel, “It was because the LORD loved you and because of his fidelity to the oath he had sworn to your ancestors (Deu 7:8).” God’s choice for Israel is because of His love and faithfulness. The same love and fidelity are the reason behind our calling. God just simply loves us and He draws us to Himself. It is not because we are good, smart and talented. It is not because we are worthy of the call. Isaiah was a man of unclean lips, Paul was a persecutor of the Church, and Peter had his own agenda. Yet, despite these imperfections, God keeps calling us and giving us what we need. How many times, when we betray Him and run away from His call, He remains patient with us and ready to accept us back. If it is not a love, what is it?

We have a God, and this God is love. This is why we are unworthy, yet called; unqualified, yet accepted; unlovable, yet loved.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Panggilan Tuhan

Minggu Kelima dalam Masa Biasa [10 Februari 2019] Lukas 5: 1-11

touching 2Minggu ini, kita mendengarkan kisah panggilan tokoh-tokoh besar dalam Alkitab. Dari bacaan pertama, kita belajar bagaimana Yesaya dipanggil oleh Allah untuk menjadi nabi-Nya bagi Kerajaan Yehuda. Di Kuil Yerusalem, ia melihat Tuhan Allah dikelilingi oleh serafim-Nya. Yesaya sangat ketakutan dan berkata bahwa dia memiliki bibir yang najis. Seorang malaikat kemudian menaruh bara api di lidahnya untuk menghilangkan dosanya. Tuhan lalu berkata, “Siapa yang akan Kuutus?” Yesaya menjawab dengan percaya diri, “Ini aku, utuslah aku!”

Dalam bacaan kedua, St. Paulus menulis kepada Gereja di Korintus dan mengingatkan mereka tentang Injil yang telah mereka terima. Paulus meyakinkan mereka bahwa ia sendiri adalah penerima Injil keselamatan ini dari Kristus yang bangkit itu. Meskipun ia dulunya adalah penganiaya yang berkobar-kobar umat Kristiani, Yesus memanggilnya. Dengan rahmat Allah, Paulus bekerja keras siang dan malam untuk membangun Gereja yang pernah ia aniaya.

Dari Injil hari ini, kami mendengarkan panggilan para murid pertama: Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes. Lukas sang penginjil bercerita tentang para nelayan berpengalaman yang gagal menangkap ikan, tetapi Yesus, seorang tukang kayu, memberi tahu mereka untuk “pergi ke kedalaman”. Mereka ragu, tetapi mereka tetap mengikuti-Nya. Namun, ternyata mereka mampu menangkap sejumlah besar ikan, sampai hampir merusak jala mereka. Akhirnya, Yesus memanggil mereka dan menjadikan mereka sebagai penjala manusia, dan mereka mengikuti Yesus.

Seperti Yesaya, Paulus dan para Murid pertama, kita juga dipanggil oleh Tuhan untuk mengikuti-Nya. Beberapa mungkin menerima panggilan menjadi seorang imam, beberapa lainnya untuk kehidupan membiara, yang lain untuk membangun keluarga, dan yang lain mungkin seorang lajang namun menjalani kehidupan yang suci. Tuhan juga memanggil kita dengan berbagai cara. Seperti Yesaya atau Paulus, beberapa menerima pengalaman mistis yang luar biasa. Tetapi, banyak dari kita mungkin dipanggil dengan cara yang paling biasa dan tidak terduga. Suatu hari seorang remaja putra bertanya apakah dia memiliki panggilan sebagai seorang imam, terutama menjadi bagian Ordo Dominikan. Saya menjawab, “Cobalah ambil ujian masuk dulu! Jika kamu lulus kamu mungkin memiliki panggilan, jika tidak, Tuhan mungkin memanggil kamu di tempat lain.”

Sayangnya setelah kita dipanggil, kita jarang bertanya lebih jauh, “Mengapa saya Tuhan?” Namun, ini tetap menjadi pertanyaan yang mendasar untuk dijawab. Mengapa Dia memilih Yesaya, Paulus, dan Petrus? Mengapa Yesus memilih kamu dan aku, dengan cara-Nya yang unik? Jawabannya secara mengejutkan ada di Alkitab.

Ketika Musa menyampaikan pesan perpisahannya di hadapan orang Israel yang akan memasuki Tanah Perjanjian, ia mengingatkan mereka alasan mengapa Allah memilih Israel, “… karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu… (Ul 7:8). ” Pilihan Allah bagi Israel adalah karena kasih dan kesetiaan-Nya. Kasih dan kesetiaan yang sama adalah alasan di balik setiap panggilan kita. Kita dipanggil bukan karena kita baik, pintar dan berbakat; bukan karena kita layak menerima panggilan itu; bukan karena kita yang paling berkwalitas. Yesaya adalah orang yang tidak bersih bibirnya, Paulus adalah seorang penganiaya Gereja, dan Petrus akan menyangkal Yesus tiga kali. Namun, terlepas dari ketidaksempurnaan ini, Tuhan terus memanggil kita dan memberi apa yang kita butuhkan untuk mengikuti-Nya. Bahkan ketika kita mengkhianati Dia dan melarikan diri dari panggilan-Nya, Dia tetap sabar dan siap menerima kita kembali. Ini adalah kasih, ini adalah kesetiaan.

Kita memiliki Tuhan, dan Tuhan ini adalah cinta kasih. Inilah sebabnya kita yang tidak layak, namun tetap dipanggil; tidak memenuhi syarat, namun diterima; tidak patut menerima kasih, namun tetap dikasihi.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus, Elijah, and Elisha

Fourth Sunday in Ordinary Time [February 3, 2019] Luke 4:21-30

elijah 1In today’s Gospel, Jesus compares Himself with the Israelite greatest prophets, Elijah and Elisha. But, who are these two prophets? For many Catholics, we are not familiar with these two prominent figures in the Old Testament, and thus, we often do not appreciate why Jesus deliberately cites their names.

Seven hundred years before Jesus, the great kingdom established by David had split into two smaller and weaker kingdoms, the Kingdom of Judah in the south, and the Kingdom of Israel in the north. The leaders of both Judah and Israel have both broken the covenant with the God of Israel, as they worshiped pagan idols, and established their temples. Not only did these leaders incur the sin of idolatry, they also committed gross injustices to the people. The worst would be the child sacrifices and slavery of the poor.

    In this terrible time in the history of Israel, God raised up prophets. Thus, God’s prophets are not the fancy guys who foretell future events, but they are God’s spokespersons to remind the people to go back to the Lord and do justice. Often, the prophets of God are also given the power to perform miracles as a sign that they were truly prophets coming from the true God. Among them, were two great names: Elijah and his disciple, Elisha.

    Elijah was a fearless prophet who confronted Ahab, the king of Israel and his wife, Jezebel. In one famous event, Elijah challenged the prophets of Baal in Mount Carmel to bring down rain and he proved them as hoax (1 Ki 18). He also rebuked Ahab who allowed Jezebel to kill Naboth and stole his vineyard (1 Ki 21). Another miracle story would be Elijah who provided food for the poor widow of Zarephath, as mentioned by Jesus in the Gospel (1 Ki 17). At the end of his ministry, he was rode on a chariot of fire going up to the sky (2 Ki 2).

    Elisha meanwhile was a disciple and successor of Elijah. As his mentor exited, Elisha requested for “double portion of Elijah’s spirit” and it was granted upon him. Thus, while Elijah was able to perform seven miracles, Elisha was able to double the number, fourteen miracles. Among his miracles was the healing of Naaman, the valiant army commander of Aram (Syria) but also a leper (2 Ki 5), and the multiplication of loaves (2 Ki 4:42-44). However, despite their strong prophesy and miracles, the Israelites did not change their hearts, and they kept worshiping idols and doing injustice.

    Like Elijah and Elisha, Jesus reveals a deeper nature of God and His relationship with creations, condemns unjust practices, and performs miracles. Surely, Jesus is much greater than Elijah and Elisha. Yet, Jesus’ lot is not far different from Elijah, Elisha and other prophets of Israel: Jesus was rejected by own people.

    When we are baptized, we are anointed as a prophet, and we share the lot of the prophet before us. Parents who do their best and want nothing but the best for their children are being misinterpreted as ‘controlling’ by their own kids. Teachers who try to inculcate the value of study life and culture of discipline, are considered to be ‘terror’. At times, however, being a prophet means nothing but total sacrifice. Many priests, religious and lay people work tirelessly and courageously in the most dangerous places around the globe, serving the poor of the poorest. Some of them eventually were abducted, tortured and killed. Special mention goes to the parishioners of Our Lady of Mount Carmel Cathedral, in Sulu, Philippines who sacrificed themselves as the bomb exploded during the liturgical service. It is really tough to become a prophet, but this is our vocation and mission to follow Elijah, Elisha, and Jesus.

    Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus, Elia, dan Elisa

Minggu Keempat dalam Masa Biasa [3 Februari 2019] Lukas 4: 21-30

elijah 2Yesus membandingkan diri-Nya dengan nabi-nabi besar Israel, Elia dan Elisa. Tetapi, siapakah kedua nabi ini? Bagi banyak orang Katolik, kita tidak begitu mengenal kedua tokoh terkemuka ini dalam Perjanjian Lama ini, dan karena itu, kita sering tidak menghargai mengapa Yesus dengan sengaja menyebut nama mereka.

Tujuh ratus tahun sebelum Yesus, kerajaan besar yang didirikan oleh Daud telah terpecah menjadi dua kerajaan yang lebih kecil, yakni Kerajaan Yehuda di selatan, dan Kerajaan Israel di utara. Para pemimpin baik Yehuda maupun Israel sama-sama melanggar perjanjian suci dengan Allah Israel, ketika mereka menyembah berhala-berhala, dan mendirikan kuil-kuil mereka. Tidak hanya dosa penyembahan berhala, para pemimpin Israel juga melakukan ketidakadilan yang besar kepada masyarakat yang lemah. Yang terburuk adalah penyembahan dengan mengorbankan anak kecil dan perbudakan orang miskin.

Di masa yang mengerikan dalam sejarah Israel ini, Allah telah memanggil para nabi. Dengan demikian, para nabi Allah bukanlah orang-orang aneh yang menubuatkan peristiwa masa depan, tetapi mereka adalah juru bicara Allah untuk mengingatkan orang-orang untuk kembali kepada Tuhan dan untuk melakukan keadilan. Seringkali, para nabi Allah juga diberikan kuasa untuk melakukan mukjizat sebagai tanda bahwa mereka benar-benar nabi yang datang dari Allah. Di antara mereka, ada dua nama besar: Elia dan muridnya, Elisa.

Elia adalah seorang nabi yang tak kenal takut yang menghadapi Ahab, raja Israel dan istrinya, Izebel. Salah satu peristiwa terkenal adalah ketika Elia menantang para nabi Baal di Gunung Karmel untuk menurunkan hujan dan membuktikan mereka sebagai palsu (1 Raj 18). Dia juga menegur Ahab yang mengizinkan Izebel membunuh Naboth dan merampas kebun anggurnya (1 Raj 21). Kisah mukjizat lainnya adalah Elia yang menyediakan makanan bagi janda miskin Sarfat, seperti yang disebutkan oleh Yesus dalam Injil (1 Raj 17). Pada akhir pelayanannya, ia mengendarai kereta api yang naik ke langit (2 Raj 2).

Elisa adalah seorang murid dan penerus Elia. Ketika Elia pergi, Elisa meminta “bagian ganda dari roh Elia” dan ini diberikan kepadanya. Jadi, sementara Elia dapat melakukan tujuh mukjizat, Elisa dapat menggandakan jumlahnya, empat belas mukjizat. Di antara mukjizat-mukjizatnya adalah penyembuhan Naaman, komandan tentara Aram (Suriah) tetapi juga penderita kusta (2 Raj 5), dan penggandaan roti (2 Raj 4: 42-44). Namun, terlepas dari nubuat dan mukjizat yang perkasa, orang Israel tidak mengubah hati mereka, dan mereka terus menyembah berhala dan melakukan ketidakadilan.

Seperti Elia dan Elisa, Yesus mewartakan Kerajaan Allah, mengutuk praktik-praktik yang ketidakadilan, dan melakukan mukjizat. Tentunya, Yesus jauh lebih besar daripada Elia dan Elisa. Namun, nasib Yesus tidak jauh berbeda dari Elia, Elisa dan nabi-nabi Israel lainnya: mereka ditolak oleh bangsanya sendiri.

Ketika kita dibaptis, kita diurapi sebagai seorang nabi, dan menjadi nabi tidaklah mudah. Orang tua yang melakukan yang terbaik untuk anak-anak mereka disalahartikan sebagai ‘mengendalikan’ oleh anak-anak mereka sendiri. Guru yang mencoba menanamkan nilai kehidupan dalam belajar dan budaya disiplin, dianggap sebagai ‘teror’. Namun, kadang-kadang, menjadi seorang nabi berarti pengorbanan total. Banyak imam, religius, dan awam bekerja tanpa lelah dan berani di tempat-tempat paling berbahaya di seluruh dunia, melayani yang paling miskin dan lemah. Beberapa dari mereka bahkan akhirnya diculik, disiksa dan dibunuh. Secara khusus, umat paroki Katedral Our Lady of Mount Carmel, Sulu, Filipina yang menjadi korban ketika bom meledak saat perayaan Misa berlangsung. Sangat sulit untuk menjadi seorang nabi, tetapi inilah panggilan dan misi kita untuk mengikuti Elia, Elisa, dan Yesus.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Word of God Fulfilled

Third Sunday in Ordinary Time [January 27, 2019] Luke 1:1-4;14-21

deacon1The synagogue is the place of prayer for the Jews. On the center during the service in the synagogue is the reading of the Hebrew Bible (or what we call the Old Testament) and the explanation of those readings. In the Gospel, we learn that Jesus stands as the leader of the service. First, He stands and reads the Scriptures, and the chosen portion is from the Prophet Isaiah. Then, He sits down, assuming the position of teacher. The Jews in the synagogue are eager to listen to Jesus. However, there is something different in Jesus’ teaching from other Jewish Rabbis. Jesus neither simply expounds the reading from Isaiah, nor makes commentaries on the text. He neither simply discusses the meaning of the readings, nor explains the context of the text. He fulfills what is written in the Scriptures. He says, “Today this scripture passage is fulfilled in your hearing.” (Lk. 4:14)

What Jesus does gives us a fundamental attitude for every Christian: any Christian ministry, prayer and life have to be rooted in as well as the fulfillment of the Word of God. It is true that many of us are not priests, religious or catechists, but laypersons, like parents, professionals, and citizen of the country. Many aspects of our life are not directly dealing with the Bible, like working, eating, sleeping, etc. So, why do we need to allow the Word of God to permeate various aspects of our life?

We remember that in the Book of Genesis, God created the world through His Word. “God said, ‘Let there be light!’ and there was light.” And at the end of the creation story, with His Word, God blessed the world. Every existence in this world, including our life, finds its beginning, meaning, and fulfillment in God’s Word. The air we breathe, the light we see, the sound we hear bear witness to the Word of God. Thus, no matter who we are and what we do, the Word shall inspire, guide, and animate our daily lives. If we allow the Word to take charge, our lives turn to be the fulfillment of the Word of God.

However, how can the Word of God influence our lives if we do not read or hear the Bible? One serious issue among the Catholics is that we seldom read the Bible, and when we attend the Mass, often we are not paying enough attention to the sacred readings. After the reading, we simply respond “Thanks be to God!” while in our hearts, we say, “whatever it means!” We have a Bible in our home, but often it remains hidden, dusty and untouched. This ignorance of the Scriptures does not only affect the lay people but even the clergy and the religious people. Pope Francis in his encyclical Evangelii Gaudium, has lamented of the priests who preach anything but the Word of God. Indeed, this is lamentable.

However, we are not hopeless. More and more lay people now are involved in Biblical apostolate in the parishes or dioceses. Bible Sharing, study and quiz now are something common among the Catholics. In my part, every time I give a talk, I make sure that the participants will bring the Bible and my discussion will be based on the Scriptures. And all of us can begin reading the Bible on our own. We can read five chapters every day, and within a year, we may complete the entire Bible.

Let the Word be the air we breathe, the light we see, the sound we hear, that in the end, we are able to say, “Today the Scripture is fulfilled in your hearing.”

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Firman Tuhan Yang Tergenapi

Minggu ketiga dalam Masa Biasa [27 Januari 2019] Lukas 1: 1-4; 14-21

lector1Sinagoga adalah tempat beribadah bagi orang Yahudi. Jantung dari peribadatan di sinagoga adalah pembacaan Alkitab Ibrani (yang kita sebut Perjanjian Lama) dan penjelasan bacaan-bacaan tersebut. Dalam Injil, kita belajar bahwa Yesus berdiri sebagai pewarta. Pertama, Dia berdiri dan membaca Kitab Suci, dan bagian yang dibaca adalah dari Nabi Yesaya. Kemudian, Dia duduk, yang adalah posisi guru. Orang-orang Yahudi di sinagoga ingin sekali mendengarkan Yesus. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari Yesus dari para guru Yahudi lainnya. Yesus tidak hanya menguraikan bacaan dari Yesaya, atau membuat komentar pada teks. Dia tidak hanya membahas makna bacaan, atau menjelaskan konteks teks. Ia menggenapi apa yang tertulis dalam Alkitab. Ia berkata, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Luk. 4:14)

Apa yang Yesus lakukan memberi kita sebuah sikap mendasar bagi setiap murid-Nya: setiap pelayanan, doa, dan kehidupan Kristiani berakar pada Firman Allah dan juga menjadi penggenapan dari Firman Allah. Memang benar bahwa banyak dari kita bukan imam, suster atau katekis, tetapi orang awam, seperti kepala keluarga, ibu rumah tangga, para pekerja profesional, dan warga negara. Banyak aspek kehidupan kita yang tidak berhubungan langsung dengan Alkitab, seperti saat kita bekerja, membesarkan anak, dan berekreasi. Jadi, mengapa kita perlu menjadikan Firman Tuhan akar dan pengenapan berbagai aspek kehidupan kita?

Kita ingat bahwa dalam Kitab Kejadian, Allah menciptakan dunia melalui Firman-Nya. “Tuhan berkata, ‘Jadilah terang!’ Dan terang itu ada.” Dan di akhir kisah penciptaan, dengan Firman-Nya lah, Tuhan memberkati dunia ciptaan-Nya. Setiap keberadaan di dunia ini, termasuk kehidupan kita, menemukan permulaan, makna, dan penggenapannya dalam Firman Tuhan. Udara yang kita hirup, cahaya yang kita lihat, suara yang kita dengar memberikan kesaksian akan Firman Allah. Jadi, siapapun kita dan apa yang kita lakukan, Firman Allah akan mengilhami, membimbing, dan menginspirasi kehidupan kita sehari-hari. Jika kita mengizinkan Firman mengambil alih, hidup kita perlahan tapi pasti berubah menjadi penggenapan dari Firman Allah.

Namun, bagaimana Firman Allah dapat memengaruhi kehidupan kita jika kita tidak membaca atau mendengar Alkitab? Satu masalah serius di antara umat Katolik adalah bahwa kita jarang membaca Alkitab, dan ketika kita menghadiri Misa, sering kali kita tidak cukup memperhatikan bacaan-bacaan Kitab Suci. Setelah bacaan, kita hanya menjawab, “Syukur kepada Allah!” Tapi setelah Misa, kita lupa dengan bacaan yang kita dengar. Kita memiliki Alkitab di rumah, tetapi sering kali itu tersembunyi, berdebu, dan tidak tersentuh. Ketidaktahuan akan Kitab Suci ini tidak hanya memengaruhi umat awam, tetapi bahkan para imam dan kaum berjubah. Paus Fransiskus dalam ensikliknya Evangelii Gaudium, menyesali para imam yang dalam homilinya bercerita tentang segala hal kecuali Firman Tuhan.

Namun, kita tidak putus asa. Kabar gembira bagi kita adalah sekarang semakin banyak orang awam terlibat dalam kerasulan Kitab Suci di paroki atau keuskupan. Bible Sharing, Bible Study dan Bible Quiz sekarang adalah sesuatu yang umum di antara umat Katolik. Saya sendiri, setiap kali saya memberi ceramah, saya memastikan bahwa para peserta akan membawa Alkitab dan diskusi saya akan didasarkan pada Kitab Suci. Dan kita semua dapat mulai membaca Alkitab di rumah kita masing-masing. Kita dapat membaca lima bab setiap hari, dan dalam setahun, kita dapat menyelesaikan seluruh Alkitab.

Biarlah Firman menjadi udara yang kita hirup, cahaya yang kita lihat, suara yang kita dengar, dan pada akhirnya, kita dapat mengatakan, “Hari ini Kitab Suci dipenuhi dalam pendengaranmu.”

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Grace Abounds All the More

Conversion of St. Paul, the Apostle [January 25, 2019] Mark 16:15-18

st. paul conversion 2Today we are celebrating the feast of the conversion of St. Paul, the Apostle. St. Paul is one of the greatest names in our Church. Many churches are named after him, like one of the major Basilica in Rome, St. Paul outside the Wall. Not only churches but also many Christians are named after him, including our brothers in the house of formation, Bro. John Paul Sontillano, Bro. Paulus Gabriel Rambang Ngawan, and our former formator, Fr. Pablo Tiong.

Paul is an apostle and yet, he was not part of the 12 apostles. It is through a special revelation, he was called by Jesus and sent to preach the Gospel to all nations, thus, he was called also as the apostle to the nations or of the Gentiles. Indeed, he was doing his job very well, as he preached zealously, traveled tirelessly, and founded many local churches in Asia and Europe, like in Corinth, Thessaloniki, and Galatia. Thirteen of his letters addressed to these communities or to his co-workers like Timothy and Titus, have become part of the New Testament, considered inspired, and thus, the Word of God. And from his letters, the Church has shaped her teachings, doctrines, and orthodoxy, like the primacy of love in Christian living in 1 Cor 13, that love is patient, love is kind, love never fails. Or, in 1 Cor 11, we discover Paul condemns those who failed to celebrate the Eucharist worthily, rooted in the doctrine of the Real Presence of Jesus Christ in the Eucharist. Paul was so inspiring that he inspires St. Luke, the evangelist to devote half of his Acts of the Apostles, to the story and journey of St. Paul.

However, this is only half of the story. Before Paul, there was Saul. Saul was zealous Pharisee who hated Jesus and His followers so much. He went door to door just to arrest Christian, put them in jail, and persecuted them. Young Saul also consented to the murder of the first martyr, Stephen. The Acts of Apostles 9:1 described him as someone who breathes threats and murders. Saul was a dark character with much violence and anger.

However, the Good News of salvation for Saul: no matter dark, violent and broken Saul was, God, is more powerful than all these ugly things. God’s grace, mercy, and love can transform the persecutor of Christ into the vessel of grace. That is why we are celebrating the conversion of St. Paul, not only about St. Paul but the conversion. It is not about Paul’s greatness, achievement, and holiness, but it is God.

Like Paul, we all have our own darkness and brokenness, some may come from broken family, some having a broken family, some have traumatic experiences, some losing people we love in a painful way, some are victims of abuses, some struggling with sickness, with anger, with depression, with poverty or other problems. We are still wrestling with our sinful attitudes and tendencies. Yet, the Good News Paul received is also the same Good News we receive. All of these ugly things have not the last word on us. Our God is stronger than all of this ugliness of life.

As St. Paul himself says, “When sin abounds, grace abounds all the more!” (Rom 5:20)

St. Paul, the apostle, pray for us.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP