Eating God

The Solemnity of the Body and Blood of Christ [June 23, 2019] Luke 9:11-17

benedict n first communicantToday the Church is celebrating the solemnity of the Body and Blood of Jesus Christ. In many countries like Indonesia, today is the best time for the children who are already prepared to receive their first Holy Communion. I still recall the day I partook of the sacred host and the holy wine. Many of us were around 10 years old, old enough to recognize the presence of Christ in the Eucharist and we were dressed in white. I was wearing long-sleeved white shirt with a tie and black pants. When the priest dipped the white bread into the chalice of wine and said, “the body and blood of Christ”, I said “Amen.” It was my first time to savor the sweetness of wine, and of course, alcoholic beverage!

At that moment, I just knew the reception of sacred host is necessary to complete the Eucharist, and I was aware I was receiving a blessing, but I never truly comprehend the profound meaning of the great mystery. For me, it was just enough that I attend the mass and consume the consecrated host. It has become a routine and tradition, from Sunday to Sunday, to from month to month, from year to year. Till we become parents and we also bring our children for their first communion. And when somebody asks us, “why do you bring your children to the first communion?”, our answer may be like, “Well, we want our kids to be like us. It is just a family tradition.” The answer is simple, but too simple that it draws more questions: why bread and wine? Why Body and Blood of Jesus? Why does it have to be eaten?

We often forget to realize that this sacred host and wine are the entire Jesus Christ Himself, with all humanity and divinity. Thus, God offers Himself to be eaten. Why eating God? The answers lie on the pages of our Old Testament. Firstly, we recall that our first parents fell because of the act of eating. Now, in the Eucharist, God uses the same act of eating to restore men and women into grace. Secondly, in the middle of the garden of Eden, there were two trees, the forbidden tree, the tree of the knowledge of good and evil, and the tree of life [Gen 2:9]. Unfortunately, our first parents chose to eat the fruits from the forbidden tree. Thus, to restore humanity to grace, now God offers us the fruits from the tree of life, the tree of the cross of Christ. Thirdly, we remember the first Passover was about the story of how God liberated Hebrew people from the slavery of Egypt. The Passover began with the slaughter of the lamb, and its blood was sprinkled on the doors of the Israelite house so that their firstborns would be saved from death. Yet, the slaughter and the sprinkling of blood were not the summit of Passover. The Hebrew people had to consume the lamb as to complete their first Passover [Exo 12:8]. Now, Jesus the Lamb of God, has been sacrificed on the cross, yet it is not the end. Like the Hebrew Passover, we need to consume the Lamb of God to complete our New Passover, the Eucharist.

There are so much themes and aspects we may ponder on the Eucharist, and particularly today, the Church reminds us that the Eucharist, especially the reception of the Holy Communion is not just our Sunday routine, a family tradition. It is of the essential plan of God for our salvation, so that we may have heaven, our Communion with God, the Holy Trinity.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Memakan Tuhan

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus [23 Juni 2019] Lukas 9: 11-17

VATICAN-POPE-MEMORIALHari ini Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Di banyak negara seperti Indonesia, hari ini adalah waktu terbaik bagi anak-anak yang sudah siap untuk menerima Komuni Suci pertama mereka. Saya masih ingat hari saya menerima hosti dan anggur suci. Banyak dari kami berusia sekitar 10 tahun, cukup dewasa untuk mengenali kehadiran Kristus dalam Ekaristi. Saya ingat bahwa saya mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan dasi kecil dan celana hitam. Ketika pastor mencelupkan hosti putih ke dalam piala anggur, dan berkata “tubuh dan darah Kristus”, saya berkata “Amin.” Ini adalah pertama kalinya saya menikmati manisnya anggur, dan tentu saja, minuman beralkohol!

Pada saat itu, saya hanya tahu bahwa penerimaan hosti yang kudus diperlukan untuk melengkapi perayaan Ekaristi, dan juga menerima berkat, tetapi saya tidak pernah benar-benar memahami makna mendalam dari misteri agung ini. Bagi saya, cukuplah bahwa saya menghadiri misa dan mengonsumsi hosti yang dikuduskan. Hal ini telah menjadi rutinitas dan tradisi, dari Minggu ke Minggu, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun. Mungkin banyak dari kita berpikiran yang sama dengan saya bahwa  ini hanyalah sekedar tradisi yang dihidupi sebagai seorang Katolik. Sampai saat kita menjadi orang tua dan kita juga membawa anak-anak kita untuk komuni pertama mereka. Dan ketika seseorang bertanya kepada kita, “mengapa Anda membawa anak-anak Anda ke komuni pertama?” Jawaban kita mungkin seperti, “Ya, kami ingin anak-anak kami seperti kami. Ini adalah tradisi keluarga. ”Jawabannya sederhana, tetapi terlalu sederhana sehingga memunculkan lebih banyak pertanyaan, seperti: Mengapa Tubuh dan Darah Yesus? Kenapa harus Tuhan harus dimakan?

Kita sering lupa untuk menyadari bahwa roti dan anggur yang kudus ini telah menjadi adalah Yesus Kristus yang seutuhnya, dengan segala kemanusian dan keilahian-Nya. Jadi, Tuhan sungguh menawarkan diri-Nya untuk dimakan. Kenapa harus memakan Tuhan? Jawabannya ada di Perjanjian Lama kita. Pertama, kita ingat bahwa orang tua pertama kita jatuh karena sebuah tindakan yakni makan. Sekarang, dalam Ekaristi, Tuhan menggunakan tindakan makan yang sama untuk memulihkan putra-putri dari Adam dan Hawa dalam rahmat. Kedua, di tengah taman Eden, ada dua pohon, yakni pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat yang adalah pohon terlarang, dan pohon kehidupan [Kej 2:9]. Sayangnya, orang tua pertama kami memilih untuk memakan buah dari pohon terlarang. Dengan demikian, untuk mengembalikan manusia kepada rahmat, sekarang Allah memberikan kepada kita buah-buah dari pohon kehidupan, dari pohon salib Kristus. Ketiga, kita ingat Paskah pertama adalah tentang kisah bagaimana Allah membebaskan orang-orang Ibrani dari perbudakan di Mesir. Paskah dimulai dengan penyembelihan anak domba, dan darahnya dipercikkan di pintu rumah orang Israel sehingga anak sulung mereka akan diselamatkan dari kematian. Namun, penyembelihan dan percikan darah bukanlah puncak dari Paskah Yahudi. Orang-orang Ibrani harus memakan domba untuk menuntaskan Paskah pertama mereka [Kel 12:8]. Sekarang, Yesus, Anak Domba Allah, telah dikorbankan di atas kayu salib, namun itu bukanlah puncaknya. Seperti Paskah Ibrani, kita perlu mengonsumsi Anak Domba Allah untuk menuntaskah Paskah Baru kita, yakni Ekaristi.

Ada begitu banyak tema dan aspek yang dapat kita renungkan tentang Ekaristi, dan khususnya hari ini, Gereja mengingatkan kita bahwa Ekaristi, khususnya penerimaan Komuni Kudus bukan hanya rutinitas hari Minggu kita, sebuah tradisi keluarga. Itu adalah rencana esensial Allah untuk keselamatan kita, agar kita bisa menerima kepenuhan hidup, bersekutu dengan Allah, Tritunggal Maha kudus.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Image of the Trinity

Trinity Sunday [John 16:12-15] June 16, 2019

sign of the crossThe distinctive mark of being Christian is the Holy Trinity. We share the claim of monotheism [only one God] with other prominent religions, yet our belief in one God in three divine persons enables us to stand unique among others. Doubtless, our God is one, yet the same undoubtedly, there are three persons in this one God. The Father is different from the Son and the Holy Spirit. The Son is also unique. And, the Holy Spirit maintains His personal identity. Yet, they remain always one! How is this possible?!

Relax! The greatest minds in the Church, like St. Augustine, St. Thomas Aquinas, and Benedict XVI, have tried to dive into the mystery, and yet they just scratched the surface of this highest Truth. This is the core of our faith, yet it is the most puzzling if not intriguing teaching of the Church. However, if this is the unfathomable mystery, why should we continue to ponder, live, and celebrate it? The answer lays on the faith God has planted in us.

Often, we think Trinity as far distant reality, but we forget that our daily lives as Christian are living within the Trinity. We were baptized, we were baptized in the name of the Father, of the Son and of the Holy Spirit. When we begin our prayer, we commence with the sign of the cross. This holy sign does not only point the victorious cross of Jesus but fundamentally to the Holy Name of Trinity. After we make the sign of the cross to open the Holy Mass, the priest will greet the people by saying, “The grace of the Lord Jesus Christ and the love of God and the fellowship of the Holy Spirit be with all of you.” This is the Trinitarian formula that comes St. Paul himself (see 2 Cor. 13:13). At the Eucharistic prayer, the core prayer of the Holy Mass, the priest in the name of the Church, asks the Father to send His Holy Spirit that He may transform the bread and wine to be the body and blood of Jesus Christ. At the heart of Eucharist, the source and summit of Christian worship, is the Holy Trinity. What I mention is just the tip of the iceberg on how the Trinity permeates our worship and prayer.

The real challenge is to live and celebrate the Trinity in our daily life. Our rule of prayer should be our rule of life, as well. “Lex orandi, Lex vivendi”. Otherwise, we will fall into the trap of double-life mentality. We become Christian only on Sunday, but we turn to be people who never know God on weekdays. A hypocrite!

To live in the Trinity means to manifest to our daily lives that we are the image of God, the image of Trinity.  If the Trinity is the God of justice, do we act justly to our ourselves, our neighbors and our earth? If the Trinity is the God of mercy, are we merciful and perform the traditional seven corporeal works of mercy [feed the hungry, give drink to the thirsty, clothe the naked, shelter the homeless, visit the sick, visit those imprisoned, and bury the dead]? If Trinity is the God who is love, do we love even the worst people in our lives and forgive our enemies? If Trinity is the God of Truth, are we eager to search for the truth around us or we uncritically believe in fake news?

We are people who are living in the name of the Father, of the Son and the Holy Spirit, and we are confidently looking forward to the day we are united to this Triune God.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Citra Allah Tritunggal

Hari Raya Tritunggal Mahakudus [Yohanes 16: 12-15] 16 Juni 2019

sign of the cross 2Tanda khas menjadi Kristiani adalah iman kepada Tritunggal Mahakudus. Kita berbagi klaim monoteisme [hanya satu Tuhan] dengan agama-agama besar lainnya, namun kepercayaan kita pada satu Tuhan dalam tiga pribadi ilahi memungkinkan kita untuk berdiri secara unik di antara yang lain. Tidak diragukan lagi Allah kita adalah satu, namun tidak diragukan juga ada tiga persona dalam satu kodrat ilahi ini. Bapa berbeda dari Putra dan Roh Kudus. Sang Putra juga benar-benar unik. Dan, Roh Kudus menjaga identitas pribadi-Nya. Namun, mereka tetap selalu satu! Bagaimana ini mungkin?!

Tapi jangan kawatir! Pemikir-pemikir terhebat di Gereja, seperti St. Agustinus, St. Thomas Aquinas, dan Benediktus XVI, telah mencoba untuk menyelami misteri ini, namun mereka hanya menyentuh permukaan Kebenaran terbesar ini. Ini adalah inti dari iman kita, namun ini adalah ajaran Gereja yang paling sulit untuk dimengerti dan juga terkadang sulit diwartakan. Namun, jika ini adalah misteri yang tak terselami, mengapa kita harus terus merenungkan, menghidupi, dan merayakannya? Karena kita telah diciptakan dalam citra Allah Tritunggal.

Seringkali, kita menganggap Tritunggal sebagai realitas yang sangat jauh, tetapi kita lupa bahwa kehidupan keagamaan kita sehari-hari sebagai orang Katolik adalah kehidupan di dalam Trinitas. Kita dibaptis, kita dibaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Ketika kita memulai doa kita, kita mulai dengan tanda salib. Tanda salib suci ini tidak hanya menunjukkan kemenangan Yesus, tetapi pada dasarnya adalah Nama Suci Tritunggal. Setelah kita membuat tanda salib untuk membuka Misa Kudus, imam akan menyapa umat dengan mengatakan, “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus dan kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus bersamamu.” Ini adalah formula Tritunggal yang berasal dari St. Paulus sendiri (lihat 2 Korintus 13:13). Pada doa Syukur Agung, yang adalah doa inti di Misa, sang imam atas nama Gereja, meminta Bapa untuk mengirimkan Roh Kudus-Nya agar Dia dapat mengubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus. Di jantung Ekaristi, yang adalah sumber dan puncak dari liturgi kita, adalah Tritunggal Mahakudus. Apa yang saya sebutkan hanyalah puncak gunung es tentang bagaimana Tritunggal sungguh meresapi ibadah dan doa kita.

Tantangan sebenarnya adalah untuk hidup dan merayakan Tritunggal dalam kehidupan kita sehari-hari. Aturan doa kita harus menjadi aturan hidup kita juga. “Lex orandi, Lex vivendi”. Kalau tidak, kita akan jatuh ke dalam perangkap mentalitas ganda. Kita menjadi orang Kristiani hanya pada hari Minggu, tetapi kita menjadi orang yang tidak pernah mengenal Tuhan pada hari lain. Seorang munafik!

Hidup dalam Tritunggal berarti memanifestasikan kehidupan kita sehari-hari bahwa kita adalah citra Allah, citra Tritunggal. Jika Tritunggal adalah Allah keadilan, apakah kita bertindak adil terhadap diri kita sendiri, sesama kita, dan terhadap bumi kita? Jika Tritunggal adalah Tuhan kerahiman, apakah kita berbelas kasihan dan menjadikan tujuh karya kerahiman sebagai pola hidup kita? [memberi makan yang lapar, memberi minum kepada yang haus, memberi pakaian kepada yang telanjang, melindungi yang tidak memiliki rumah, mengunjungi yang sakit, mengunjungi yang dipenjara, dan mengubur yang meninggal]? Jika Tritunggal adalah Tuhan yang adalah kasih, apakah kita mencintai orang-orang terburuk dalam hidup kita dan mengampuni orang yang menyakiti kita? Jika Tritunggal adalah Allah Kebenaran, apakah kita terus mencari kebenaran di sekitar kita atau kita mudah percaya pada hoaks?

Kita adalah orang-orang yang hidup dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan kita dengan penuh keyakinan menanti hari kita dipersatukan dengan Allah Tritunggal.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Exodus

First Sunday of Lent [March 10, 2019] Luke 4:1-11

missionary of charityThe Spirit leads Jesus to the desert and Jesus remains there for forty days. The questions are: why does the Holy Spirit bring Jesus to the desert? Why does it have to be forty days? If we are familiar with the Old Testament, we recall that the journey of the Israelites in the desert lasted for forty years – the great exodus. After the great escape from the slavery of Egypt, they needed to walk through the desert before entering the Promise Land. Yet, it is not simply about the story of greatest escape in the history, but how God formed Israel as His people. In desert, God made a covenant with Israel through the mediation of Moses. In desert, God gave the Law as the basic guide for the Israelites living as His people. In the desert, God provided them with water, manna from heaven, and protected them from their enemies. However, in the desert also, the Israelites rebelled against God. They made and worship the golden calf. They complained a lot, and they wanted to kill Moses. It was a foundational story that covered almost the four Books of Moses [Exodus, Leviticus, Numbers and Deuteronomy].

The Spirit brings Jesus to the wilderness because Jesus is going to enter into His Exodus. Jesus is the New Moses who leads the New Israel into the new exodus. If we want to follow Jesus and call ourselves as the Christian, we need to follow Jesus to the wilderness and the new Exodus. Yet, the desert is far from being a comfortable place. It is a place of trials and temptation. But, why does Jesus want us to follow Him into the place of trials? Because Jesus understands that faith without temptation is empty, hope without challenges is fantasy and love without sacrifice is cheap.

If we read closely the story of Israel in the desert, they could reach the Promised Land in just two-week time even by walking. But, why did it took them forty years? It is because when they were about to enter the Land, they became afraid of the native people who stayed there, and they complained against God. They were just one step away from the promised land, and yet they squandered the opportunity because they did not have faith in God. Then, God punished them, and placed them in the desert for forty years. They needed to learn the lesson in a hard way.

Living a comfortable life does not make us really grow in faith. In fact, it is in the harshest places that we discover God alive and fresh. When I visited the hospitals, meeting the patients with terrible sickness like cancer and kidney failure; when I visited the jails, talking to inmates, I witnessed the stronger faith, hope and love.

Once I met this lady, just called her Mary. She was a single mother, and her only child was a special child. His brain is shrinking, and he cannot do anything but clap his hands. It was a truly difficult situation, and what made it worse was when some other Christians who professed that Jesus is Lord and Savior said to her that the child was a curse. She was living in a cruel world, and terrible people around him. She was figuratively living in the wilderness. And I asked her what made her remain active in the Church. She said, “because I know God loves me through my special child.” Once again I saw a faith that moves a mountain.

Often it is through trials, challenges and the “desert” that we learn the true value of faith, hope and love.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Eksodus

Hari Minggu Prapaskah Pertama [9 Maret 2019] Lukas 4: 1-11

Satan-Tempts-Jesus-GettyImages-463967715-5808f7b65f9b58564c318113Roh membawa Yesus ke padang gurun dan Yesus tinggal di sana selama empat puluh hari. Pertanyaannya adalah: mengapa Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun? Mengapa harus empat puluh hari? Jika kita akrab dengan Perjanjian Lama, kita tahu bahwa bangsa Israel berjalan di padang gurun selama empat puluh tahun. Sebuah peristiwa yang disebut juga sebagai “eksodus”. Setelah keluar dari dari perbudakan Mesir, mereka harus berjalan melalui padang gurun sebelum memasuki Tanah Perjanjian. Namun, ini bukan hanya tentang kisah pelarian mereka dari Mesir, tetapi bagaimana Allah membentuk Israel sebagai umat-Nya. Di padang gurun Sinai, Allah membuat perjanjian dengan Israel melalui mediasi Musa. Di padang gurun, Allah memberikan Hukum sebagai pedoman dasar bagi Israel yang hidup sebagai umat-Nya. Di padang gurun, Tuhan memberi mereka air, manna dari surga, dan melindungi mereka dari musuh. Namun, di padang gurun juga, Israel memberontak melawan Tuhan. Mereka membuat dan menyembah anak lembu emas. Mereka banyak mengeluh dan tidak tahu berterima kasih. Itu adalah kisah mendasar yang mencakup hampir empat Kitab Musa [Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan].

Roh membawa Yesus ke padang gurun karena Yesus akan menjalani Eksodus-Nya. Yesus adalah sang Musa yang Baru yang memimpin Israel Baru ke dalam eksodus baru. Jika kita ingin mengikuti Yesus dan menyebut diri kita sebagai orang Kristiani, kita perlu mengikuti Yesus ke padang gurun dan eksodus baru. Namun, padang gurun bukanlah tempat yang nyaman. Itu adalah tempat pencobaan dan godaan. Tetapi, mengapa Yesus ingin kita mengikuti Dia ke tempat pencobaan? Karena Yesus mengerti bahwa iman tanpa godaan adalah hampa, harapan tanpa tantangan adalah fantasi dan kasih tanpa pengorbanan adalah murahan.

Jika kita membaca dengan cermat kisah bangsa Israel di padang gurun, mereka sebenarnya dapat mencapai Tanah Perjanjian hanya dalam waktu dua minggu bahkan dengan berjalan kaki. Tetapi, mengapa itu menjadi empat puluh tahun? Hal ini karena ketika mereka akan memasuki Tanah Perjanjian, mereka takut pada penduduk asli yang tinggal di sana, dan mereka mengeluh kepada Tuhan. Hanya satu langkah lagi sebelum sampai di Tanah Terjanji, namun mereka menyia-nyiakan kesempatan itu karena mereka tidak memiliki iman kepada Tuhan. Kemudian, Tuhan menghukum mereka, dan menempatkan mereka di padang gurun selama empat puluh tahun. Mereka perlu belajar dengan cara yang sulit.

Hidup dalam kenyamanan tidak membuat kita benar-benar tumbuh dalam iman. Tanpa terduga, di tempat-tempat terberat saya menemukan Tuhan hidup dan berkuasa. Ketika saya mengunjungi rumah sakit, menemui pasien dengan penyakit mengerikan seperti kanker dan gagal ginjal; Ketika saya mengunjungi penjara, berbicara dengan para tahanan, saya menyaksikan iman, harapan, dan kasih yang luar biasa.

Suatu kali saya bertemu seorang wanita, sebut saja dia Maria. Dia adalah seorang ibu tunggal, dan satu-satunya anak adalah anak yang berkebutuhan khusus. Otaknya menyusut, dan dia tidak bisa melakukan apa pun selain bertepuk tangan. Itu benar-benar situasi yang sulit, dan yang lebih buruk adalah ketika beberapa orang-orang lain yang mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat mengatakan kepadanya bahwa anak itu adalah kutukan. Dia hidup di dunia yang kejam, dan sungguh hidup di padang gurun. Dan saya bertanya kepadanya apa yang membuatnya tetap aktif di Gereja. Dia berkata, “karena saya tahu Tuhan mencintai saya melalui anak saya yang special ini.” Sekali lagi saya melihat iman yang dapat memindahkan gunung.

Seringkali melalui cobaan, tantangan, dan “gurun” kita belajar nilai sebenarnya dari iman, harapan, dan kasih.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hati

Renungan pada Minggu ke-8 pada Masa Biasa [3 Maret 2019] Lukas 6: 39-45

bible-in-jailTiga hari Minggu terakhir ini, kita telah mendengarkan serangkaian ajaran Yesus yang diberikan di Dataran [Luk 6]. Dua Minggu yang lalu, kita membaca tentang Sabda Bahagia. Ini adalah serangkaian kondisi yang menuntun kita menuju kebahagiaan dan berkat sejati. Minggu lalu kita mendapatkan beberapa langkah praktis untuk mencapai Sabda Bahagia ini. Dan hari Minggu ini, kita menemukan inti dari ajaran Yesus: ini adalah pembentukan hati manusia.

Di dunia kontemporer, “hati” umumnya melambangkan sumber kasih sayang, perasaan, dan cinta. Orang Filipina sangat senang dengan permainan bola basket, dan mereka memberikan dukungan terbaik mereka setiap kali tim nasional mereka bersaing di turnamen internasional. Seruan mereka bagi tim national mereka adalah “Laban! Puso! ”Secara harfiah diterjemahkan sebagai“ Berjuang dengan sepenuh hati! ”Tentunya, hati di sini mengacu pada hasrat yang membara untuk mengatasi tantangan besar di setiap pertandingan.

Ketika seorang wanita tidak yakin harus menerima atau tidak seorang pria menjadi kekasihnya, kita sering menasihatinya untuk mengikuti  kata “hati”-nya. Ketika dia memiliki kekasih baru dan sedang jatuh “hati”, dia memanggilnya sebagainya sebagai “belahan hati”. Tapi, ketika dia tiba-tiba kehilangan kekasihnya karena pengkhianatan yang tak terduga, dia menderita “patah hati” yang sangat mendalam. Karena pengalaman traumatis ini, ia menolak untuk mencintai lagi, dan sekarang ia “berhati batu.”

Namun, kata “Hati” dalam Alkitab memiliki arti yang sedikit berbeda. Hati di dalam Alkitab bukan hanya sumber kehidupan emosional kita, tetapi juga pusat kekuatan hidup, dan kepribadian manusia. Ini juga merupakan tahta hati nurani manusia, akal budi dan kebebasan. Jadi, ketika Yesus berkata, “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik …” ini bukan hanya berarti bahwa orang tersebut memiliki perasaan-perasaan yang mendukungnya melakukan perbuatan baik. Ini berarti seseorang memiliki orientasi mendasar, sikap stabil dan karakter permanen untuk memilih dan berbuat baik, walaupun terkadang perasaannya tidak mendukungnya berbuat baik. Bagi Yesus, hati bukan hanya perasaan, tetapi juga tindakan.

Dalam Kitab Suci pembentukan hati berarti pembentukan manusia secara total. Yesus memahami bahwa kecuali kita memiliki karakter pria atau wanita yang baik, kita hanya melakukan sandiwara, dan menjadi orang munafik di hadapan orang lain.

Bagaimana kita akan membentuk hati kita? Yesus memberi kita petunjuk ketika Dia berkata, “dari kepenuhan hati, mulut berbicara.” Pertanyaannya kemudian adalah: apa yang memenuhi hati kita? Apakah hal-hal yang jahat, atau hal yang baik dan suci?

Saat ini saya ditugaskan di General Santos City, Mindanao, Filipina, dan salah satu hal yang paling berkesan selama saya tinggal di sini adalah ketika saya mengunjungi dan merayakan misa bersama para narapidana wanita di penjara kota ini. Pada awalnya, saya ragu-ragu dan takut untuk berinteraksi dengan mereka karena saya menganggap mereka sebagai “criminal”.  Ada pemikiran bahwa mereka adalah wanita-wanita dengan “hati yang jahat”. Kalo hati mereka baik, kenapa harus masuk penjara? Tapi, saya benar-benar salah. Ketika saya berdoa bersama mereka, saya menyaksikan para wanita berdoa dengan kepenuhan iman. Sesuatu hal yang saya jarang lihat di luar penjara. Saya juga berbicara dengan seorang wanita, sebut saja namanya Maria. Dia telah berada di penjara selama lima tahun, dan karena sistem peradilan yang tidak efektif, persidangannya masih berlangsung, dan dia tidak tahu sampai kapan. Dia adalah ibu tunggal dengan lima anak. Dia kedapatan menggunakan narkoba, dan dia mengaku menggunakan narkoba karena ingin melarikan diri dari kenyataan hidup yang keras. Dia menangis ketika dia menceritakan kisahnya. Dan, saya bertanya kepadanya apa yang membuat dia bertahan dalam situasi yang mengerikan itu. Dia hanya menjawab, “Saya memiliki Tuhan di hati saya.”

Kita hidup dalam kondisi yang jauh lebih baik daripada Maria, tetapi apakah kita memiliki Allah di dalam hati kita? Apa yang memenuhi hati kita? Apakah kita mengisi hati kita dengan hal-hal yang saleh? Apakah kita membiarkan Tuhan berkuasa di hati kita?

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Merciful like the Father

7th Sunday in Ordinary Time [February 24, 2019] Luke 6:27-38

Last week, we listened to the core teaching of Jesus Christ, the Beatitudes. This is the set of conditions that leads a person to blessedness or true happiness. This Sunday, we discover the practical steps on how to achieve this genuine joy. Last week, we learned that Jesus’ Beatitudes is the reversal of worldly order of happiness. For the world, to become greedy rich, violently powerful, and sexually potent are the conditions for happiness. Jesus reverses the order and says that those who are generous, gentle, merciful, and chaste are the ones who are truly happy.

As the Beatitudes are the reversal of worldly order, so also Jesus’ practical teachings on how to achieve these Beatitudes. The world tells us to seek revenge, a tooth for a tooth, an eye for an eye, but Jesus teaches us to forgive, to bless those who curse us, and to pray for those who mistreat us. The world tells us to give something and expect something in return. It is business and investment. But, Jesus instructs us to give in the generosity of heart, without counting the cost, without expecting something in return. The world tells us to love people who love us back and to hate people who hate us, but Jesus preaches that we shall love our enemies and do good to who hate us.

Jesus’ instructions are easier said than done, and in fact, they go against the natural tendencies we have. We may forgive people who do petty and unintentional mistakes, like someone who steps on our foot. However, how are we going to love someone who bullies us, lowers our self-esteem, and causes us depression? How are we going to forgive someone betrays our trust, steals from us, and makes use of us for their personal interest? How are we going to accept someone who sexually and physically abuses us? How are we going to do good to someone who murdered a member of our family? How are we going to forgive someone who never asks our forgiveness?

Human as we are, it is nearly impossible to follow Jesus’ teachings. Yet, it is not totally impossible because we are not animals who blindly follow instincts, but we are created in the image of God who is mercy. Jesus does not teach us the impossible because He knows who we truly are, the children of God. If God can be merciful to the wicked and the ungrateful, if He showers rain for the good and the bad, if He provides for the saints and sinners, we have the potential to imitate Him.

Last Sunday, January 24, in the middle of the Eucharist celebration, two bombs exploded inside and outside the Cathedral of Our Lady of Mount Carmel, July, Philippines. They killed more than 20 mass-goers and injured a hundred more people. Every victim has a story, and every soul has a family. Daisy Delos Reyes, Rommy Reyes and his wife Leah are several regular mass-goers who actively served in the Church. Their bodies were blown apart and deformed. It was so painful, and the people close to them cannot but be in a rage. However, hatred will not solve anything and vengeance never bring true peace. Our brothers and sisters in Jolo were shattered, but they rise from the ashes and rebuild their Church and faith.

Quoting Ed Sheeran, an English singer and songwriter, in his song “Photograph”

“Loving can hurt, loving can hurt sometimes

But it’s the only thing that I know

When it gets hard, you know it can get hard sometimes

It is the only thing that makes us feel alive”

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Berbelas Kasih seperti Bapa

Minggu ke-7 dalam Masa Biasa [24 Februari 2019] Lukas 6: 27-38

Hendaklah kamu berbelas kasih, sama seperti Bapamu adalah berbelas kasih (Lk. 6:36)

father and child 2Minggu lalu, kita mendengarkan ajaran Yesus Kristus tentang Sabda Bahagia. Ini adalah serangkaian kondisi yang menuntun seseorang menuju hidup berkat atau kebahagiaan sejati. Minggu ini, kita menemukan langkah-langkah praktis tentang cara mencapai kebahagiaan sejati ini. Minggu lalu, kita belajar bahwa Sabda Bahagia Yesus adalah kebalikan dari tatanan kebahagiaan duniawi. Bagi dunia, menjadi tamak akan kekayaan, berpengaruh, terkenal, dan kuat secara seksual adalah syarat untuk kebahagiaan. Yesus membalik tatanan ini dan mengatakan bahwa mereka yang murah hati, berbelas kasih dan murni hatinya adalah mereka yang benar-benar bahagia.

Karena Sabda Bahagia adalah kebalikan dari tatanan duniawi, demikian juga ajaran praktis Yesus tentang bagaimana mencapai Sabda Bahagia ini. Dunia memberi tahu kita untuk membalas dendam, gigi ganti gigi, mata ganti mata, tetapi Yesus mengajarkan kita untuk mengampuni, memberkati orang-orang yang mengutuk kita, dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Dunia memberi tahu kita untuk memberikan sesuatu dengan mengharapkan balasannya. Ini bisnis dan investasi. Tetapi, Yesus memerintahkan kita untuk memberi dalam kemurahan hati, tanpa menghitung biayanya, tanpa mengharapkan imbalan. Dunia memberitahu kita untuk mencintai orang yang mencintai kita dan membenci orang yang membenci kita, tetapi Yesus mengajarkan bahwa kita mengasihi musuh kita dan berbuat baik kepada siapa yang membenci kita.

Instruksi Yesus sangat sulit karena pada kenyataannya, itu bertentangan dengan kecenderungan alami yang kita miliki. Kita mungkin memaafkan orang yang melakukan kesalahan kecil dan tidak disengaja, seperti seseorang yang menginjak kaki kita. Namun, bagaimana kita akan mangasihi seseorang yang menindas kita, menurunkan harga diri kita, dan menyebabkan depresi? Bagaimana kita akan memaafkan seseorang yang mengkhianati kepercayaan kita, mencuri dari kita, dan memanfaatkan kita untuk kepentingan pribadi mereka? Bagaimana kita akan menerima seseorang yang melakukan pelecehan seksual dan fisik terhadap kita? Bagaimana kita bisa berbuat baik kepada seseorang yang membunuh anggota keluarga kita? Bagaimana kita akan memaafkan seseorang yang tidak pernah meminta pengampunan kita?

Manusia seperti kita, hampir mustahil untuk mengikuti ajaran Yesus. Namun, itu tidak sepenuhnya mustahil karena kita bukan binatang yang secara membabi buta mengikuti naluri, tetapi kita diciptakan menurut citra Allah yang berbelas kasihan. Yesus tidak mengajarkan kita hal yang mustahil karena Dia tahu siapa kita sebenarnya, anak-anak Allah. Jika Allah bisa berbelas kasih kepada yang jahat dan yang tidak tahu berterima kasih, jika Ia menurunkan hujan untuk yang baik dan yang buruk, jika Ia menyediakan bagi orang kudus dan orang berdosa, kita juga bisa menjadi seperti Dia.

Beberapa Minggu lalu, 24 Januari, di tengah perayaan Ekaristi, dua bom meledak di dalam dan di luar Katedral Our Lady of Mount Carmel, Jolo, Filipina. Aksi ini menewaskan lebih dari 20 jemaat dan melukai seratus orang lebih. Setiap korban memiliki cerita, dan setiap jiwa memiliki keluarga. Daisy Delos Reyes, dan juga Rommy Reyes dan istrinya Leah adalah beberapa orang yang secara rutin menghadiri misa dan aktif melayani di Gereja. Tubuh mereka hancur berantakan dan tak dikenali. Itu sangat menyakitkan, dan orang-orang yang dekat dengan mereka tidak bisa tidak marah. Namun, kebencian tidak akan menyelesaikan apa pun dan pembalasan dendam tidak pernah membawa kedamaian sejati. Saudara dan saudari kita di Jolo hancur, tetapi mereka bangkit dari reruntuhan dan membangun kembali Gereja dan iman mereka. Memang, itu tidak mudah, tetapi itu karena Bapak kita adalah Allah yang berbelas kasih.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Blessedness and Woes

Sixth Sunday in Ordinary Time [February 17, 2019] Luke 6:17.20-26

“But woe to you who are rich, for you have received your consolation. (Lk. 6:24)”

indiaispoorWe listen today the Beatitude, but unlike the famous Beatitude from the Gospel of Matthew, we have today from the Gospel of Luke. Unlike from Matthew who has eight sayings of blessedness, Luke has four blessedness and for four “woes”. The most striking difference is while Matthew seems to emphasize “the poor in spirit”, Luke wants us to understand poverty in a more literal sense.

We want to have a happy life, and we do not like to have a difficult and poor life. It is just basic in our human nature. If we study diligently, we expect that we have a good result in our education. If we work hard and labor honestly every day, we wish that we will be rewarded with success. If we live our lives with passion and dedication, we look forward to acquire a fulfilling life.

However, in today’s Gospel, we listen that Jesus is telling us that the blessed one are the poor, the hungry, the weeping, and the persecuted, and for those who are rich, filled, and laughing, “woe” is their lot. Is Jesus pro-poor and anti-rich? Does Jesus want us to suffer, famish, and become malnourished? Does Jesus like that we are justly rewarded for our hard work and labor? Is Jesus hyper melancholic man, who sulk in sadness, and does not know how to enjoy life?

These are tough yet valid questions, and to answer these, we need to go back to the time of Jesus and discover the context behind the saying of Jesus. In the first century A.D. Palestine, the majority of the people, including Jesus Himself, were poor, hungry and oppressed. They were poor not because they were lazy but because they were living under a terrible time to live. Palestine was colonized by the Romans, and it was a common practice to levy a heavy tax on ordinary Israelites. Only some nobilities, few landowners, a handful of rich businessmen and Israelites who were working for the Romans, like the tax collectors, were enjoying a better life. Ordinary Israelites did not only have to face the Romans, but they had to suffer from the abuses from their fellow yet greedy and opportunistic Israelites who wished nothing but enrich themselves. It was a terrible time to live.

The message of Beatitude was more making sense now. Jesus promises hope and consolation for those who are poor and suffering due to injustice, and He woes those who are rich through dishonest and oppressive means. Thus, we know now that by His Beatitudes and Woes, Jesus does not hate all the rich guys, but greed and injustice that poison people’s hearts both the rich and the poor. When we have a good life because of our hard work and honest effort, then we praise the Lord. It is a blessing! Yet, Jesus is also reminding us that in good time, we must not be greedy, but remain humble and even to have concern for our brothers and sisters who are poor, hungry, and weeping because of injustice.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP