Petrus dan Matius

Minggu Bisa Ketiga [A]

25 Januari 2026

Matius 4:12-23

Saat ini kita menjalani Tahun Liturgi A, dipandu oleh Injil Matius. Salah satu ciri khas Injil ini adalah penghargaannya yang tinggi terhadap Simon Petrus. Namun, mengapa demikian?

Contohnya adalah kisah pengakuan Petrus (Mat 16:13-20; Par: Mar 8:27-30; Luk 9:18-20). Meskipun Injil-injil lain menceritakan bahwa Simon dengan benar mengidentifikasi Yesus sebagai Mesias, hanya Matius yang menyertakan berkat unik yang diberikan Yesus kepadanya: nama baru “Kephas” (Batu) dan wewenang kunci Kerajaan Allah. Contoh lain adalah kisah Yesus berjalan di atas air (Mat 14:22-33). Meskipun peristiwa ini juga dicatat oleh Markus (6:45-52) dan Yohanes (6:15-21), hanya Matius yang mengungkapkan cerita Petrus yang secara ajaib berjalan di atas air, meskipun hanya beberapa langkah sebelum tenggelam dan diselamatkan oleh Yesus.

Mengapa Matius menggambarkan Petrus dalam pribadi yang luar biasa? Jika saya boleh berspekulasi, sejatinya Simon dan Matius sudah saling mengenal jauh sebelum Yesus memanggil mereka, karena keduanya berasal dari Kapernaum. Danau Galilea merupakan milik Kekaisaran Romawi, dan para nelayan diwajibkan membayar pajak yang berat untuk menangkap ikan di sana. Kita dapat membayangkan: selama bertahun-tahun, Simon si Nelayan berdiri di hadapan Matius si Pemungut Cukai. Simon, yang berbau ikan dan keringat, dengan marah menyerahkan uang hasil jerih payahnya kepada Matius, sang kolaborator Romawi, dan pengkhianat rakyatnya. Ada kebencian dan permusuhan di antara mereka.

Matius mungkin kaya raya, mungkin memiliki properti besar, namun dia dibenci oleh banyak orang, dan beberapa mungkin bahkan ingin dia mati. Dalam hatinya, Matius kemungkinan besar tidak menemukan kedamaian, dan hidup dalam ketakutan dan isolasi. Jadi, ketika Matius akhirnya berdiri untuk mengikuti Yesus, dia sejatinya memasuki kandang singa. Dia tidak hanya meninggalkan meja pajaknya, tetapi juga dia bergabung dengan sekelompok pria yang membencinya, terutama para nelayan Galilea.

Namun, bagaimana dia bisa bertahan dalam kelompok itu? Mengapa Matius akhirnya menulis dengan begitu hormat tentang Simon? Saya percaya ini karena Simon Petrus, sang pemimpin para rasul, memilih untuk memaafkannya, meneladani apa dilakukan Yesus. Petrus mau menerima Matius sebagai saudara dan rekan kerjanya. Mungkin Simon bahkan mendorong para rasul lainnya untuk menerima Matius karena Yesus telah memanggilnya. Dalam mengikuti Kristus, Matius menemukan bukan hanya damai dan pengampunan dosa, tetapi juga persahabatan sejati dan keluarga baru. Oleh karena itu, penghormatan mendalam yang ditunjukkan Matius dalam Injilnya tidak hanya berasal dari peran Petrus sebagai pemimpin yang ditunjuk Yesus, tetapi juga dari persahabatan pribadi mereka.

Teori ini mungkin hanya dapat dibuktikan ketika kita bertemu mereka di surga, tetapi pelajaran ini penting bagi kita semua. Yesus memanggil kita secara pribadi, tetapi bukan terisolasi. Dia memanggil kita ke dalam sebuah keluarga. Mudah untuk mencintai Yesus yang kita temui dalam doa; jauh lebih sulit untuk mencintai “Matius” atau “Petrus” yang duduk di samping kita di bangku gereja. Tidak jarang kita gagal mencintai sesama kita, menolak untuk mengampuni atau menyambut mereka. Mungkin tanpa sadar, kita memegang dendam, yang berkontribusi pada keputusan mereka untuk meninggalkan Gereja. Namun, jika Petrus dapat memeluk pria yang pernah berbuat jahat padanya, tentu kita dapat menerima mereka yang sulit kita cintai. Jangan sampai kita menjadi alasan seseorang merasa tidak diterima di rumah Bapa kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan refleksi:

Siapakah “pemungut cukai” dalam hidupku, orang yang paling sulit aku maafkan atau sambut dalam keluargaku, komunitas, dan Gereja? Apakah aku menggunakan aktivitas keagamaan dan devosiku sebagai tameng untuk menghindari tugas mencintai saudara-saudariku? Bagaimana caraku membawa orang-orang lebih dekat kepada Yesus?

Peter and Matthew

3rd Sunday in Ordinary Time [A]

January 25, 2026

Matthew 4:12-23

We are currently journeying through Liturgical Year A, guided by the Gospel of Matthew. A striking feature of this Gospel is the high regard it holds for Simon Peter. But why is this so?

The fresco of St. Matthew the Evangelist in church Chiesa di Santa Maria in Aquiro

A good example is the account of Peter’s confession (Mt 16:13-20; Par: Mar 8:27-30; Luk 9:18-20). While the other Gospels mention Peter correctly identifying Jesus as the Messiah, only Matthew includes the unique blessing Jesus bestows upon him: the new name “Cephas” (Rock) and the authority of the keys to the Kingdom. Another instance is the story of Jesus walking on the water (Mt 14:22-33). While this event is also recorded by Mark (6.45-52) and John (6.15-21), only Matthew reveals Peter’s miraculous walk on the waves—even if he did take only a few steps before sinking and needing Jesus to save him (Mat 14:22-33).

Why does Matthew paint Peter in such a heroic light? If I may speculate, it is possible that Simon and Matthew were acquainted long before Jesus called them, as both were both from Capernaum. Since the Sea of Galilee was the property of the Roman Empire, fishermen were forced to pay heavy taxes to fish there. We can easily imagine: for years, Simon the Fisherman stood before Matthew the Tax Collector. Simon, smelling of fish and sweat, angrily handing over his hard-earned coins to Matthew, the collaborator, the traitor to his people. There was bad blood between them.

Matthew may have been wealthy, perhaps owning a large estate, but he was likely despised by many—some may have even wanted him dead. Deep down, Matthew likely found no peace, living in constant fear and isolation. So, when Matthew finally stood up to follow Jesus, he was walking into a lion’s den. He wasn’t just leaving his tax booth; he was joining a band of men who had every reason to despise him—especially the fishermen of Galilee.

How did he survive in that group? Why even did Matthew eventually write so highly of Simon? I believe it was because Simon Peter, the leader, chose to forgive him, like Jesus had. Peter must have looked past the history of taxes and extortion and embraced Matthew as a brother. Matthew found not just forgiveness of sins in Jesus, but a genuine friend in Peter. Perhaps Simon even encouraged the other apostles to accept Matthew because Jesus had called him.

In following Christ, Matthew found not only peace and the forgiveness of sins but also genuine friendship and a new family. Thus, the deep respect Matthew shows in his Gospel flows not only from Peter’s role as the leader Jesus appointed but also from their personal friendship.

This theory may only be proven when we meet them in heaven, but the lesson is urgent for us today. Jesus calls us personally, but never to isolation. He calls us into a family.

It is easy to love the Jesus we meet in prayer; it is much harder to love the “Matthew” or the “Peter” sitting next to us in the pew. It is not uncommon for us to fail to love our neighbors, refusing to forgive or welcome them. Perhaps unconsciously, we hold onto resentment, contributing to their decision to leave the Church. Yet, if Peter could embrace the man who once taxed him, surely, we can welcome those we find difficult. Let us not be the reason someone feels unwelcome in the Father’s house.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Who is the ‘tax collector’ in my life, the one person in my family, community and Church I find hardest to forgive or welcome? Am I using my religious activities and devotion as a shield to avoid the messy work of loving the people sitting next to me? How do I bring people closer to Jesus?

Jesus the Lamb of God

Second Sunday in Ordinary Time [C]

January 18, 2026

John 1:29-34

Today, John the Baptist identifies Jesus as “the Lamb of God who takes away the sin of the world.” For us as Catholics, this title is one of the most familiar, for we proclaim it at every Mass moment before receiving Holy Communion. But do we understand what it means? Why must we make this specific acclaim before approaching the altar?

To grasp the weight of this title, we must look back to the Old Testament. The lamb was the quintessential sacrificial animal of Israel. It was a lamb that served as the sacrifice of the Passover, the instrument through which God saved Israel from death and liberated them from the slavery of Egypt. The lamb was also central to the worship of the Sanctuary: in the “Tamid,” the daily offering (Ex 29:39); the “Olah,” the burnt offering (Lev 1:10); the “Shelamim,” the peace offering (Lev 3:7); and the “Hattat,” the sin offering (Lev 4:32).

We might ask, “Why the lamb?” The reason is partly practical. Sheep were abundant in the ancient world, but unlike other livestock, the lamb offers the least resistance when faced with death. It does not fight; it does not scream. This silence inspired the prophet Isaiah to describe the Suffering Servant: “Like a lamb that is led to the slaughter, and like a sheep that before its shearers is silent, so he opened not his mouth.”

Yet, Jesus is no ordinary lamb. He is the Lamb of God. The Greek phrase ho amnos tou Theou implies not only a lamb belonging to God but a lamb provided by God. Jesus is the perfect victim, prepared not by human hands, but by the Father. He is the fulfillment of Abraham’s prophecy to Isaac: “God himself will provide the lamb.” Because He is of God, He is the only offering truly acceptable to God.

Jesus, therefore, is the Lamb of God because He is the total fulfilment of every ancient sacrifice.

  • Like the Passover Lamb, He is slain and consumed so that we might be spared from eternal death.
  • Like the Tamid, He is offered daily in the Eucharist.
  • Like the Olah, He is given totally in obedience to the Father.
  • Like the Shelamim, He is our peace (Eph 2:14).
  • Like the Hattat, He becomes the offering that cleanses us of sin (2 Cor 5:21).

This is why we cry out, “Lamb of God… have mercy on us.” We are acknowledging that without His perfect sacrifice, we could not be saved from our sins. And finally, when we pray, “Grant us peace,” we confess that without Jesus—our true Peace Offering—there can be no reconciliation between us and the Father.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for reflection:

“How do we prepare ourselves to worthily receive the sacrifice of Jesus in the Eucharist? How do we participate in the Mass? Do our actions during the liturgy bring us closer to Jesus, or do they distract us? Finally, how do we offer our lives to God through our daily activities?”

Yesus, Anak Domba Allah

Minggu Biasa Kedua [A]

18 Januari 2026

Yohanes 1:29-34

Hari ini, Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa Yesus  sebagai “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Bagi kita umat Katolik, gelar ini adalah salah satu yang paling familiar, karena kita mengucapkannya setiap Misa sebelum menerima Komuni Kudus. Namun, apakah kita memahami artinya? Mengapa kita harus mengucapkan pengakuan ini sebelum menerima komuni?

Untuk memahami makna gelar ini, kita harus kembali ke Perjanjian Lama. Domba adalah hewan kurban yang paling khas di Israel. Domba digunakan sebagai kurban Paskah, yang melalui kurban ini, Allah menyelamatkan Israel dari kematian dan membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Domba juga menjadi pusat ibadah di Bait Allah: sebagai “Tamid,” persembahan harian (Kel 29:39); “Olah,” persembahan bakaran (Im 1:10); “Shelamim,” persembahan damai (Im 3:7); dan “Hattat,” persembahan dosa (Im 4:32).

Kita mungkin bertanya, “Mengapa domba?” Alasannya sebagian praktis. Domba melimpah di zaman kuno, tetapi berbeda dengan ternak lain, domba memberikan perlawanan paling sedikit saat menghadapi kematian. Domba tidak melawan; tidak juga berteriak. Kesunyian ini menginspirasi Nabi Yesaya untuk menggambarkan figur “Hamba yang Menderita,” … “Seperti domba yang dibawa ke pembantaian, dan seperti domba yang diam di hadapan pemotong bulu, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya (Yes 53:7).”

Namun, Yesus bukanlah domba biasa. Dia adalah Domba Allah. Frasa Yunani “ho amnos tou Theou (ὁ ἀμνὸς τοῦ θεοῦ)” tidak hanya berarti domba milik Allah, tetapi juga domba yang berasal dari Allah. Yesus adalah korban yang sempurna, disiapkan bukan oleh tangan manusia, tetapi oleh Bapa sendiri. Dia menjadi penggenapan nubuat Abraham kepada Ishak, saat Ishak bertanya dimanakah hewan untuk kurban, “Allah sendiri akan menyediakan domba (Kej 22:8).” Karena Dia adalah dari Allah, Dia adalah satu-satunya persembahan yang benar-benar berkenan bagi Allah.

Yesus, oleh karena itu, adalah Anak Domba Allah karena Dia adalah pemenuhan sempurna dari setiap korban Perjanjian Lama.

  • Seperti Anak Domba Paskah, Dia disembelih, darahnya dicurahkan dan dagingnya dimakan agar kita terhindar dari kematian kekal dan perbudakan dosa.
  • Seperti “Tamid”, Dia dipersembahkan setiap hari dalam Ekaristi.
  • Seperti “Olah”, Dia memberikan diri sepenuhnya dalam ketaatan kepada Bapa.
  • Seperti “Shelamim”, Dia adalah sarana pendamaian kita dengan Bapa (Ef 2:14).
  • Seperti “Hattat”, Dia menjadi persembahan yang membersihkan kita dari dosa-dosa (2 Kor 5:21).

Itulah mengapa kita berseru, “Domba Allah… kasihanilah kami.” Kita mengakui bahwa tanpa kurban-Nya yang sempurna, kita tidak dapat diselamatkan dari dosa-dosa kita. Dan akhirnya, ketika kita berseru, “Berikanlah kami damai,” kita mengaku bahwa tanpa Yesus—kurban damai sejati kita—tidak ada rekonsiliasi antara kita dan Bapa.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk refleksi:

“Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menerima kurban Yesus dalam Ekaristi dengan layak? Bagaimana kita berpartisipasi dalam Misa? Apakah tindakan kita selama liturgi mendekatkan kita pada Yesus, ataukah justru mengalihkan perhatian kita? Akhirnya, bagaimana kita mempersembahkan hidup kita kepada Allah melalui aktivitas sehari-hari kita?”

Mengapa Yesus Dibaptis?

Pembaptisan Tuhan [A]

11 Januari 2026

Mat 3:13-17

Salah satu pertanyaan yang sering membingungkan kita adalah: mengapa Yesus perlu dibaptis oleh Yohanes Pembaptis? Yohanes sendiri menyatakan bahwa baptisannya adalah tanda pertobatan. Mereka yang datang kepadanya harus terlebih dahulu mengakui dosa-dosa, sehingga baptisan air menjadi tanda dari penolakan terhadap dosa dan perubahan hidup. Namun, kita tahu bahwa Yesus itu tanpa dosa [Ibr 4:15; 1 Pet 2:22]. Lalu, bagaimana kita memahami baptisan Yesus?

Domenico Ghirlandaio, The Baptism of Christ, 1486-90

Pertanyaan yang sama juga telah membingungkan banyak teolog besar sepanjang sejarah. Meskipun tidak mungkin mencantumkan setiap tafsiran di sini, Santo Proklus, Patriark Konstantinopel abad ke-5, memberikan wawasan yang mendalam. Dalam khotbahnya berjudul, “Holy Theophany,” ia mengajak kita untuk menyaksikan sebuah paradoks, “Mari datang dan lihatlah mukjizat baru dan mengagumkan: Matahari Keadilan membasuh diri di Sungai Yordan, api terendam dalam air, Allah dikuduskan melalui pelayanan manusia.” Pada dasarnya, Santo Proklus melihat baptisan Yesus bukan sebagai kebutuhan untuk pengampunan, tetapi sebagai “mukjizat kerendahan hati.”

Ketika orang Israel datang kepada Yohanes untuk dibaptis, itu tentu merupakan tindakan kerendahan hati, mengakui di hadapan Allah akan dosa-dosa mereka dan kesediaan untuk bertobat. Namun, ketika Yesus yang ilahi dibaptis oleh Yohanes yang manusia, hal ini melampaui kerendahan hati biasa; itu adalah kerendahan hati yang luar biasa, bahkan bersifat adikodrati. Santo Proclus mengajarkan bahwa meskipun kerendahan hati yang mengagumkan ini sudah ada sejak kelahiran Yesus, pembaptisan berbeda dari Natal. Kelahiran adalah mukjizat yang tersembunyi, tetapi Pembaptisan adalah peristiwa publik yang disaksikan oleh banyak orang, di mana Allah Bapa secara terbuka menyatakan bahwa Ia berkenan dengan tindakan pengosongan diri Putra-Nya.

Hal ini memberikan pelajaran penting bagi kita semua: melalui kerendahan hati ilahi, kita menerima keselamatan dan dikuduskan. Dalam kerendahan hati-Nya, Putra Allah menjadi manusia dan menempatkan diri-Nya di bawah Yusuf dan Maria. Dalam kerendahan hati-Nya, Yesus dibaptis oleh Yohanes, menjadi satu dengan orang-orang yang Dia akan selamatkan. Dalam kerendahan hati-Nya, Kristus dengan sabar menanggung salib, menerima kematian sebagai korban yang sempurna untuk penebusan kita. Yesus mencintai Bapa dengan sempurna; dari kasih yang mendalam ini, kerendahan hati lahir; dari kerendahan hati yang luar biasa ini, ketaatan terlahir; dan melalui ketaatan Yesus sepanjang hidup-Nya, kita diselamatkan.

Santo Filipus Neri dikenal sebagai rasul orang-orang Roma. Sekali peristiwa, Paus pernah meminta dia untuk menyelidiki seorang biarawati yang dikabarkan menerima penglihatan dari Tuhan dan melakukan mukjizat. Dalam perjalanan ke biara tersebut, hujan turun dengan deras, dan jalan-jalan menjadi berlumpur. St. Filipus itu terus melanjutkan perjalanannya, meskipun pakaiannya basah kuyup dan sepatunya berlumpur. Setibanya di sana, biarawati itu menyambutnya dengan gembira, ingin berbagi penglihatannya dengan seorang imam yang dikagumi di kota Roma. Namun, hal pertama yang diminta Santo Filipus adalah agar biarawati itu membantunya melepas sepatunya yang kotor penuh lumpur. Biarawati itu marah, menegurnya, dan menyatakan bahwa permintaan seperti itu terlalu menghina bagi seorang wanita rohani seperti dirinya.

Santo Filipus segera kembali ke Vatikan. Ia melaporkan kepada Paus, “Bapa Suci, dia bukan seorang yang kudus.” Ketika Paus bertanya bagaimana ia bisa mencapai kesimpulan itu begitu cepat, Filipus menjawab, “Ia tidak memiliki kerendahan hati. Dan di mana tidak ada kerendahan hati, tidak ada kekudusan.”

Seperti yang Yesus ajarkan kepada kita hari ini, mari kita memohon kepada Tuhan untuk keutamaan yang sama, agar kita dapat mengikuti kerendahan hati-Nya dan benar-benar tumbuh dalam kekudusan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apakah saya cenderung memisahkan diri dari orang-orang yang saya anggap “lebih rendah”? Apakah saya memandang kerendahan hati sebagai kelemahan yang merusak reputasi saya, atau apakah saya melihatnya sebagai kekuatan ilahi yang harus saya praktikan? Jika saya kesulitan untuk taat kepada Tuhan atau otoritas Gereja, apakah sebenarnya karena saya tidak memiliki kerendahan hati dan kasih?

Why Jesus Baptized?

Baptism of The Lord [A]

January 11, 2026

Mat 3:13-17

One question that often baffles some of us is: why did Jesus need be baptized by John the Baptist? John himself proclaims that his baptism is a sign of repentance. Those who come to him must first acknowledge their sinfulness and unworthiness, making the baptism of water a visible sign of turning away from sins. Yet, we know that Jesus is sinless [Heb 4:15; 1 Pet 2:22]. How do we understand Jesus’ baptism?

The same question has also puzzled many great Christian thinkers through the ages. While it is impossible to list every interpretation here, St. Proclus, a 5th-century Patriarch of Constantinople, offers a profound insight. In his homily in “Holy Theophany,” he invites us to witness a paradox, “Come then and see new and astounding miracles: The Sun of righteousness washing in the Jordan, fire immersed in water, God sanctified by the ministry of man.” In essence, St. Proclus saw the baptism of Jesus not as a necessity for forgiveness, but as a “miracle of humility.”

When an Israelite came to John to be baptized, it was certainly an act of humility, an acknowledgment before God of their sinfulness and a willingness to repent. However, when the divine Jesus is baptized by the human John, it goes beyond ordinary humility; it is an extraordinary humility, miraculous in nature. St. Proclus teaches that while this astonishing humility was present at Jesus’ birth, the Baptism differs from Christmas. The Nativity was a hidden miracle, but the Baptism was a public event, witnessed by the multitudes, where God the Father openly declared He was pleased with His Son’s act of self-emptying.

This offers a vital lesson for all of us: it is through divine humility that we receive salvation and are sanctified. In His humility, the Son became man and placed Himself under the care of Joseph and Mary. In His humility, Jesus was baptized by John, becoming one with the people He came to save. In His humility, Christ patiently endured the cross, accepting death as the perfect sacrifice for our redemption. Jesus perfectly loves the Father; from this profound love, humility is born; from this extraordinary humility, obedience is engendered; and through Jesus’ obedience throughout His life, we are saved.

We see the necessity of this virtue in the life of St. Philip Neri, a well-loved saint of Rome. The Pope once asked him to investigate a nun who allegedly received visions from the Lord and performed miracles. On his way to her convent, rain poured down heavily, turning the streets to mud. The holy man continued his journey, though his clothes were drenched and his boots caked in mud. Upon his arrival, the nun greeted him, excited to share her visions with such a famous priest. However, the first thing St. Philip asked was for her to help him remove his soiled boots. She was infuriated, scolding him and declaring that such a request was too demeaning for a spiritual woman like her.

St. Philip immediately returned to the Vatican. He reported to the Pontiff, “Holy Father, she is not a saint.” When the Pope asked how he could reach such a conclusion so quickly, Philip replied, “She has no humility. And where there is no humility, there can be no sanctity.”

As Jesus teaches us this lesson today, let us ask the Lord for this same gift, that we may follow His example and truly grow in holiness.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Do I tend to separate myself from others I consider “lesser” or “sinful”? Do I view humility as a weakness that damages my reputation, or do I view it as a divine strength that I should actively seek? If I find it hard to be obedient to God or lawful authority, is it actually because I am lacking the humility and love that must come first?

Raja di Salib

Hari Raya Tuhan Yesus Kristus, Raja Semesta Alam

23 November 2025

Lukas 23:35-43

Seiring dengan berakhirnya tahun liturgi, Gereja mengajarkan sebuah kebenaran yang mendalam: Yesus Kristus adalah Raja. Namun, apa arti hal ini?

Hidup Yesus sepertinya bertolak belakang dengan setiap konsep duniawi tentang seorang raja. Dia bukanlah raja yang memimpin pasukan yang kuat atau mengendalikan sumber daya yang luas. Sungguh, Dia tidak memiliki tentara maupun emas. Bahkan, Dia wafat dengan cara yang paling memalukan, dipaku di salib, dan diolok-olok sebagai raja palsu, mesias tak berguna! Sebagian besar murid-Nya telah melarikan diri, meninggalkan hanya beberapa wanita setia yang menyaksikan akhir tragis-Nya. Jadi, kita harus bertanya: raja seperti apakah Yesus ini?

Jawaban itu terungkap tepat di salib. Di sini, di tengah ketidakadilan dan ejekan, Yesus mendefinisikan ulang arti menjadi seorang raja. Bahkan dua penjahat yang disalibkan di samping-Nya awalnya ikut mengejek (Mrk 15:32). Namun, sesuatu yang luar biasa terjadi. Salah satunya mengalami perubahan hati dan berpaling kepada Yesus, berkata, “Yesus, ingatlah aku ketika Engkau datang ke dalam Kerajaan-Mu (Luk 23:42).” Di saat keputusasaan yang mendalam ini, “penjahat yang baik” mengakui Yesus sebagai raja sejati di takhta-Nya.

Apa yang menyebabkan perubahan dramatis ini? Kunci jawabannya terdapat dalam kata-kata pencuri itu kepada penjahat yang lain: “Tidakkah kamu takut kepada Allah, padahal kamu berada di bawah hukuman yang sama? Kami dihukum dengan adil, karena kami menerima apa yang pantas kami dapatkan atas perbuatan kami, tetapi orang ini tidak bersalah (23:40-41).” Dia tahu Yesus tidak bersalah.

Namun, lebih dari sekadar ketidakbersalahan Yesus, pencuri yang baik melihat sesuatu yang lebih dalam. Ia menyaksikan kasih yang mendalam dan bahkan tak terselami. Di tengah ketidakadilan, ia tidak mendengar kutukan atau kata-kata pahit dari Yesus. Sebaliknya, ia mendengar, “Bapa, ampunilah mereka; sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan (23:34).” Sementara dunia melemparkan amarah, kebencian, dan kekerasan kepada-Nya, Yesus tidak memperbesar hal itu dengan balas dendam. Ia menerimanya, membiarkannya berhenti pada-Nya, dan menjawab dengan kata-kata pengampunan.

Pencuri yang baik menyadari bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan untuk menimbulkan penderitaan, untuk memperkaya diri sendiri, atau untuk memperoleh lebih banyak kekuasaan, melainkan kekuatan untuk menanggung penderitaan dan mengubahnya menjadi kesempatan untuk mengasihi. Yesus, yang telah dilucuti dari segala kekuatan duniawi, menggunakan senjata terbesar: kasih dalam pengorbanan diri. Dia menunjukkan bahwa bahkan salib pun tidak dapat menghentikan-Nya untuk mengasihi—bahkan mengasihi mereka yang ingin menghancurkan-Nya.

Dan dalam momen pengakuan dan permohonan yang rendah hati—“ingatlah aku”—Sang Raja menunjukkan kuasa-Nya yang sejati. Yesus tidak hanya menjanjikan imbalan di masa depan; Dia menyatakan kenyataan saat ini: “Hari ini engkau akan bersama-Ku di Firdaus.” Yesus, sang Raja, mengubah momen tergelap seorang penjahat yang dihukum mati menjadi sebuah Firdaus.

Inilah kuasa Kristus, Raja kita. Ia mengundang kita, seperti pencuri yang baik, untuk menerima kuasa-Nya dan menghidupi hukum kasih. Ketika kita melakukannya, Dia mulai melakukan transformasi dalam diri kita, mengubah momen-momen penderitaan, kebingungan, dan dosa kita menjadi awal dari Firdaus, yang adalah Kerajaan-Nya.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk Refleksi:

•    Warga Kerajaan Allah adalah pembawa damai yang mencari keadilan tanpa kekerasan. Ketika orang lain menyakiti kita, apa respons kita? Apakah kita menghindar dari mereka, menginginkan mereka menderita, atau berusaha menyakiti mereka dengan cara yang sama? Atau apakah kita, seperti Raja kita, berdoa untuk pertobatan mereka?

•    Warga Kerajaan Allah adalah orang-orang yang murni hatinya. Apa yang memenuhi hati kita? Apakah kebencian, kepahitan, dan amarah? Atau apakah pengampunan, belas kasih, dan hal-hal ilahi?

The King on the Cross

The Solemnity of Our Lord Jesus Christ, King of the Universe
November 23, 2025
Luke 23:35-43

As the liturgical year draws to a close, the Church proclaims a startling truth: Jesus Christ is King of the Universe. But what can this mean?

Jesus’ life defies every worldly notion of kingship. He is not a king who commands powerful armies or controls vast resources. He possesses neither soldiers nor gold. In fact, He died the most humiliating death, nailed to a cross under the mocking accusation, “This is the King of the Jews.” Most of His disciples had fled, leaving only a few faithful women to witness His tragic end. So, we must ask: what kind of king is this?

The answer is revealed precisely at the cross. Here, in the midst of injustice and mockery, Jesus redefines kingship. Even the two criminals crucified beside Him initially joined in the taunts (Mk 15:32). But then, something extraordinary happens. One of them has a change of heart and turns to Jesus, saying, “Jesus, remember me when you come into your kingdom (Luk 23:42).” In this moment of utter despair, the “good thief” recognizes Jesus as a real king at His throne.

What caused this dramatic shift? The key lies in the thief’s own words to his companion: “Do you not fear God, since you are under the same sentence of condemnation? We have been condemned justly, for we are getting what we deserve for our deeds, but this man has done nothing wrong (23:40-41).” He knew Jesus was innocent.

Yet, more than just His innocence, the good thief saw something more. He witnessed a profound and unsettling grace. Amid the injustice, he heard no curse or bitter word from Jesus. Instead, he heard, “Father, forgive them; for they do not know what they are doing (23:34).” While the world hurled its anger, hatred, and violence at Him, Jesus did not amplify it with revenge. He embraced it, allowing it to stop with Him, and answered with a word of forgiveness.

The good thief realized that true power is not the ability to inflict suffering, to enrich oneself, to gain more power over oneself, but rather the strength to bear suffering and transform it into occasion of love. Jesus, stripped of all earthly power, wielded the greatest weapon of all: self-sacrificing love. He demonstrated that not even the cross could stop Him from loving—even loving those who sought His destruction.

And in that moment of recognition and humble request—“remember me”—the King exercises His true authority. Jesus doesn’t only promise a future reward; He proclaims a present reality: “Today you will be with me in Paradise.” Jesus, the King, transforms the darkest moment of a condemned criminal into the paradise.

This is the power of Christ our King. He invites us, like the good thief, to recognize His authority and embrace the law of love. When we do, He begins the same work of transformation in us, turning our own moments of pain, confusion, and sin into foretastes of His Kingdom.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for Reflection:

  • The citizens of God’s Kingdom are peacemakers who seek justice without vengeance. When others hurt us, what is our response? Do we avoid them, wish them harm, or seek to inflict the same pain? Or do we, like our King, pray for their conversion?
  • The citizens of the Kingdom are the pure in heart. What fills our inner world? Is it hatred, bitterness, and anger? Or is it forgiveness, compassion, and the things of God?

Pekerjaan sebagai Berkat

Minggu Biasa ke-33 [C]

16 November 2025

2 Tesalonika 3:7-12

Bekerja merupakan bagian esensial dari kehidupan manusia. Kita dapat mendefinisikannya sebagai aktivitas yang membutuhkan usaha untuk menyelesaikan suatu tugas, baik itu mengumpulkan makanan, membangun rumah, atau merawat orang lain. Namun, bekerja bukanlah hal yang unik bagi manusia. Di dunia hewan, kita melihat kerja keras yang luar biasa: lebah pekerja membangun, membersihkan, dan melindungi sarang mereka, mencari nektar, bahkan mengatur suhu sarang, sementara berang-berang membangun bendungan kompleks sebagai tempat tinggal aman dan tempat penyimpanan makanan selama musim dingin.

Meskipun kita dan hewan sama-sama bekerja, ada perbedaan mendasar. Sebagian besar hewan bekerja berdasarkan insting untuk memastikan kelangsungan hidup dan kelangsungan spesies mereka. Sementara, tujuan kita dalam bekerja bukan hanya sekedar demi kelangsungan hidup. Kita bekerja juga untuk berkembang dan membangun dunia yang lebih baik bagi diri kita sendiri dan anak-anak kita. Hal ini dimungkinkan karena anugerah unik yang kita miliki, yakni akal budi. Dengan akal budi, kita mampu memahami rahasia alam semesta, dan kemudian membangun alat, dan mengembangkan teknologi untuk memanfaatkan alam demi kebaikan bersama.

Akal budi ini adalah anugerah fundamental dari Allah, yang diberikan kepada kita sebagai makhluk yang diciptakan menurut citra-Nya. Melalui akal budi ini, kita diberi kuasa untuk berpartisipasi dalam karya penciptaan Allah sendiri. Dalam Kejadian 1:28, Allah memerintahkan Adam dan Hawa untuk “menaklukkan” bumi. Penaklukan ini bukan izin untuk merusak, melainkan panggilan untuk menjadi pengelola yang baik. Hal ini dijelaskan lebih lanjut di Kejadian 2:15, di mana Allah menempatkan Adam di taman “untuk melayani dan menjaga taman itu.” Tugas pria dan wanita adalah menggunakan akal budi yang diberikan Allah untuk mengolah dunia sesuai kehendak-Nya—untuk kebaikan semua orang, termasuk generasi mendatang, dan melindunginya dari keserakahan dan eksploitasi manusia.

Ketika kita bekerja dengan jujur dan tekun, kita benar-benar menjadi rekan kerja Allah dalam membangun dunia yang lebih baik. Dengan berpartisipasi dalam pekerjaan suci-Nya, usaha kita sendiri menjadi sarana pengudusan kita. Itulah mengapa Santo Paulus dengan tegas menegur orang-orang Tesalonika yang meninggalkan pekerjaan dan bergantung pada orang lain untuk penghidupan mereka (2 Tes 3:10). Kemalasan tidak memiliki tempat dalam rencana Allah; bahkan, ini termasuk di antara tujuh dosa pokok.

Namun, kesalahpahaman tentang tujuan kerja juga menimbulkan bahaya spiritual. Ketika pekerjaan menghabiskan sebagian besar waktu dan energi kita, kita dapat mulai mengidentifikasi diri sepenuhnya dengan profesi kita. Kita menghadapi risiko untuk percaya bahwa “kita adalah apa yang kita lakukan.” Kitapun hidup dalam ketakutan kehilangan pekerjaan, keunggulan kompetitif, atau kemampuan untuk mencapai kesuksesan. Terkadang, kita bahkan tenggelam dalam pekerjaan, bersembunyi di balik gelar “pekerja yang sukses” untuk menghindari tanggung jawab lain atau bahkan untuk menyembunyikan kegagalan kita sebagai seorang suami atau ayah.

Inilah kebijaksanaan mendalam dari istirahat Allah pada hari ketujuh (Kej 2:1-3). Allah tidak beristirahat karena lelah, tetapi untuk mencontohkan kebebasan yang harus kita klaim: kita tidak boleh menjadi budak pekerjaan kita. Identitas kita jauh lebih besar daripada profesi kita. Meskipun pekerjaan memberi makna pada hidup kita, itu bukanlah makna satu-satunya, dan tentu saja bukan makna akhir kita. Pada hari istirahat, kita diundang untuk meletakkan status, prestasi, dan kesuksesan kita, dan mengingat identitas utama kita sebagai anak-anak yang dikasihi Allah.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk Refleksi:

  • Bagaimana saya memandang pekerjaan dan profesi saya? Apakah itu panggilan, sekadar pekerjaan, atau sesuatu yang lain?
  • Ketika saya takut kehilangan pekerjaan, apa sumber sebenarnya dari ketakutan itu? Apakah itu kehilangan stabilitas finansial, atau ketakutan yang lebih dalam akan kehilangan arah dan identitas saya?
  • Apakah saya benar-benar mengamalkan hari istirahat, meletakkan pekerjaan untuk terhubung kembali dengan Allah dan orang-orang terkasih, atau apakah saya membiarkan pekerjaan mengganggu waktu kudus ini?

Work as Gift

33rd Sunday in Ordinary Time [C]

November 16, 2025

2 Thessalonians 3:7-12

Work is an essential part of being human. We can define it as an effortful activity aimed at accomplishing a task, whether that be gathering food, building a home, or caring for another person. Yet, work is not a uniquely human endeavor. In the animal kingdom, we see remarkable industry: worker bees build, clean and protect their hives, forage for nectar, and regulate the hive’s temperature, while beavers construct complex dams that provide safe shelter and store food during winter.

While we share this impulse for labor with the animal world, there is an essential difference. Most animals work by instinct to ensure their survival and the propagation of their species. Our purpose in work, however, transcends mere survival. We work not only to preserve our lives but to improve them and build a better world for ourselves and our children. This is possible because of the unique gift of intellect, which allows us to comprehend the mysteries of nature, build tools, and develop technologies to use nature for the common good.

This intellect is a fundamental gift from God, bestowed upon us as beings made in His image. Through it, we are empowered to participate in God’s own work of creation. In Genesis 1:28, God instructed our first parents to “subdue” the earth. This “subduing” is not a license for destruction but a call to stewardship. This is clarified in Genesis 2:15, where God placed Adam in the garden “to serve and to guard it.” It is the duty of men and women to use our God-given intellect to cultivate the world according to His will—for the benefit of all, including future generations, and as protection against human greed and exploitation.

When we work honestly and diligently, we truly become God’s co-workers in building a better world. By participating in His holy work, our own labor becomes a means of our sanctification. This is why St. Paul so sharply rebukes the Thessalonians who abandoned work and relied on others for their sustenance (2 Thes 3:10). Laziness has no place in God’s plan; in fact, it is counted among the seven deadly sins.

However, a misunderstanding of work’s purpose also poses a spiritual danger. When our work occupies the majority of our time and energy, we can begin to derive our entire identity from our profession. We risk believing that “we are what we do,” living in fear of losing our job, our competitive edge, or our ability to achieve and be successful. At times, we may even bury ourselves in work, hiding behind the title of a “successful professional” to escape other responsibilities or even to hide from our failures as a present spouse or a loving parent.

This is the profound wisdom of God’s rest on the seventh day (Gen 2:1-3). He did not rest because He was weary, but to model for us the freedom we must claim: we must not become slaves to our work. Our identity is far greater than our profession. While work gives our lives meaning, it is not our only meaning, and certainly not our ultimate one. On the day of rest, we are invited to lay aside our status, our achievements, and our successes, and to remember our primary identity as beloved sons and daughters of God.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for Reflection:

  • How do I view my work and profession? Is it a vocation, a mere job, or something else?
  • When I fear losing my job, what is the true source of that fear? Is it the loss of financial stability, or a deeper fear of losing my sense of purpose and identity?
  • Do I truly observe a day of rest, setting aside my work to recharge and reconnect with God and my loved ones, or do I allow work to encroach upon this sacred time?