The Lord of the Storms

The Lord of the Storms

12th Sunday in Ordinary Time [B]

June 20, 2021

Mark 4:35-41

In today’s Gospel, Jesus and His disciples crossed the sea of Galilea. The lake of Galilea was a body of fresh water in northern Israel. The lake provided a fish famously named after St. Peter and a connecting water highway to different towns around the lake. It has become the socio-economic center of Galilea. No wonder many people living here were fishermen, including some of Jesus’ disciples. Many of them spent their adult lives in and around the sea of Galilea. The lake was their home and their livelihood. However, there were times that the lake behaved in unpredictable ways and turned to be a place of great danger. Even Simon and James, the most seasoned fishermen, were powerless before the mighty storm. Their home soon may become their graveyard.

photocredit: emeliano arano

The disciples saw Jesus sleeping, and indeed, it was a weird scene to behold. Yet, the disciples instinctively woke their Master up and expressed their fear. Jesus responded to their call and ordered the wind and the sea to calm down. The sea and the wind immediately obeyed! Jesus proved Himself not just as the wonder-healer, but He is the Master of nature and creations. In the Old Testament, only God stands above the mighty waters. Only God can control and command the ocean because God is their creator. Seeing this phenomenal display of power, the disciples became more afraid. They were not only facing the storm, but they are encountering the Lord of the storms.

Often, we are like the apostles sailing through our familiar territory, yet we suddenly face unexpected and crushing storms. We believe that we are doing fine in our works or business, but surprisingly the pandemic hits us hard, and we are losing our financial stability. We used to have a great family and relatives, but suddenly, we must face a bitter reality that covid-19 kills one of our loved ones. We are having a wonderful and growing ministry and community, but now, we cannot gather and serve, and we are losing our direction.

We are afraid, and we are disoriented. Perhaps, we need to do what the apostles did: to call louder and cry harder to God. Yet, to our surprise, the Lord of all storms is just there with us in the same boat all along. He allows us to face mighty storms, to test our faith. Yet, He never leaves us but just appeared to be sleeping.

As a priest, the most challenging moment in my ministry is when I need to preach in a funeral mass for those people who die an untimely death. What should I say to the parents? What should I offer when God seems to be silent? What shall I bring when prayers seem unanswered? As I struggle with the mystery of suffering and death, Iike the pious Job, I ask the Lord for the answer. And just like to the disciples, Jesus’ response is, “Why are you afraid? Do you not yet have faith?” Through these times of crisis and trials, we are called to have even greater faith to see that even the most tremendous storms in our lives are under His command, and these take place as His providential care for us.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus, Tuhan dari Segala Badai

Minggu Biasa ke-12 [B]

20 Juni 2021

Markus 4:35-41

Dalam Injil hari ini, Yesus dan murid-murid-Nya menyeberangi danau Galilea. Danau Galilea adalah sebuah danau besar di Israel utara. Danau ini menjadi tempat berkembang biak ikan nila yang sering disebut sebagai ikan St. Petrus, Danau ini juga menjadi menghubung berbagai kota di sekitar danau tersebut. Karena hal-hal inilah, danau ini menjadi pusat sosial-ekonomi di Galilea. Tidak heran jika banyak orang yang tinggal di sini adalah nelayan, termasuk beberapa murid Yesus. Banyak dari mereka menghabiskan masa dewasa mereka di dan di sekitar danau Galilea. Danau pada dasarnya adalah rumah dan tempat mata pencaharian mereka. Namun, ada kalanya danau ini berperilaku tidak terduga dan berubah menjadi tempat bahaya besar. Bahkan Simon dan Yakobus, nelayan yang paling berpengalaman di antara para rasul, tidak berdaya menghadapi badai yang dahsyat itu. Danau yang adalah rumah mereka akan segera menjadi kuburan mereka.

Di tengah kepanikan para murid, mereka melihat Yesus yang tertidur. Namun, para murid secara naluriah membangunkan sang guru mereka dan mengungkapkan ketakutan mereka akan kematian. Yesus menanggapi panggilan mereka dan memerintahkan angin dan danau untuk tenang. Danau dan angin segera patuh! Yesus membuktikan diri-Nya bukan hanya sebagai penyembuh dan pelaku mujizat, tetapi Dia adalah Penguasa badai, alam semesta dan seluruh ciptaan. Dalam Perjanjian Lama, hanya Tuhan Allah yang berdiri di atas air yang perkasa [Kej 1:1-3]. Hanya Tuhan yang bisa mengendalikan dan memerintah lautan karena Tuhan adalah penciptanya [Maz 107]. Melihat kekuatan yang fenomenal ini, para murid justru menjadi lebih takut. Mereka tidak hanya menghadapi badai, tetapi mereka sedang berhadapan dengan Tuhan atas badai ini.

Seringkali, kita seperti para rasul yang sedang berlayar melalui wilayah yang kita kenal, namun tiba-tiba kita menghadapi badai yang tak terduga dan menghancurkan. Bisa dikatakn, sekarang kita berada di tengah-tengah badai pandemi Covid-19. Kita percaya bahwa kita baik-baik saja dalam pekerjaan atau bisnis kita, tetapi secara mengejutkan pandemi menghantam kita dengan keras dan kita kehilangan stabilitas finansial kita. Dulu kita memiliki keluarga dan kerabat yang dekat, namun tiba-tiba kita harus menghadapi kenyataan pahit bahwa covid-19 merenggut salah satu orang yang kita kasihi. Kita memiliki pelayanan dan komunitas di Gereja yang luar biasa dan berkembang, tetapi sekarang, kita tidak dapat berkumpul dan melayani, dan kita kehilangan arah.

Kita takut, dan kita bingung. Mungkin, kita perlu melakukan apa yang para rasul lakukan: berseru lebih keras kepada Tuhan. Namun, yang mengejutkan kita, Tuhan dari segala badai ini sebenarnya ada bersama kita di kapal yang sama menghadapi badai. Dia mengizinkan kita untuk menghadapi badai besar, untuk menguji iman kita. Namun, Dia tidak pernah meninggalkan kita, walaupun kadang tampak seperti sedang tidur.

Saat yang sulit dalam pelayanan saya sebagai seorang imam adalah ketika saya harus berkhotbah dalam misa pemakaman atau arwah bagi orang-orang yang meninggal secara tak terduga. Apa yang harus saya katakan kepada orang tua? Apa yang harus saya tawarkan ketika Tuhan tampaknya diam? Apa yang harus saya bawa ketika doa tampaknya tidak dijawab? Saat saya bergumul dengan misteri penderitaan dan kematian, seperti Ayub yang saleh, saya meminta jawaban dari Tuhan. Dan sama seperti para murid, jawaban Yesus adalah “Mengapa kamu takut? Apakah kamu belum memiliki iman?” Melalui masa krisis dan pencobaan ini, kita dipanggil untuk memiliki iman yang lebih besar lagi untuk melihat bahwa bahkan badai terbesar dalam hidup kita berada di bawah perintah-Nya dan ini terjadi sebagai pemeliharaan pemeliharaan-Nya bagi kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Mystery of the Kingdom of God

11th Sunday in Ordinary Time [B]
June 13, 2021
Mark 4:25-34

The Kingdom of God is arguably the core of Jesus’ gospel. At the beginning of Jesus’ public ministry, His first sentence was, “This is the time of fulfilment. The Kingdom of God is at hand. Repent, and believe in the gospel [Mar 1:15].” Jesus’ mission is certainly to express love, save us from our sins, and so we will be able to partake in the life of God. To achieve this mission, He was establishing the Kingdom of God. Since Jesus is God, we can say that the Kingdom of God is the Kingdom of Jesus. No wonders, we celebrate the solemnity of Christ the King because He is the head of the Kingdom of God.

Yet, the real question is, what is the Kingdom of God? We shall go back a little to the Old Testament. In 2 Samuel 7, David was planning to build the house of God, the Temple in Jerusalem, but God, through the prophet Nathan, told David that instead of David constructing God’s house, it was God who would build the house of David. God promised that God would establish the Kingdom of David’s son, and the throne of his Kingdom would reign forever. However, if we learn the history, we are aware that after Solomon, the Kingdom of David was divided and declining. The northern Kingdom was demolished in 721 BC by the Assyrian empire, and the southern Kingdom was destroyed in 587 BC by the Babylonian superpower. Many Israelites were exiled and deported far from their homeland. Where was the promise of God to David?

Thus, when Jesus came and preached the Kingdom, many Jews were asking, “Is this the promised Kingdom? Is He for the real deal or just another mad man?” To the public, Jesus did not give a straightforward answer but parables. These parables both hide and reveal the truth of the Kingdom of God. For those who hated Jesus, these parables were just bizarre stories. For those who expected Jesus to be the militaristic messiah, these parables were confusing. ‘The kingdom of God should be like a mighty cedar tree, not like a mustard!’ However, for those disciples who believed in Jesus, these parables revealed the great mystery of the Kingdom.

Introducing the Kingdom of God like a mustard seed indeed shocked the people who hoped for the empires like Egypt or Rome. Surprisingly, the Kingdom of Jesus indeed behaved like mustard. It began with Jesus and His small and imperfect companions, but it gradually and slowly filled the whole world. The Kingdom does not conquer other nations with military and political maneuvering, and, like its head, the Kingdom has been subjected to countless cruel persecutions. However, despite the setback and trials, the Kingdom continues to grow and become the most prominent human community on the earth.

As part of the Kingdom of God, this is excellent news. We do not have to believe that we are majestic oak tree or mighty cedar and think that we can do everything with our strength. Otherwise, when we fail, we will get depressed. Yet, if we consider ourselves nothing but mustard seeds, we allow trials and failures to be part of our lives and let God work wonders. That is how amazing our God is.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Misteri Kerajaan Allah

Minggu ke-11 pada Masa Biasa [B]
13 Juni 2021
Markus 4:25-34

Kerajaan Allah bisa dikatakan sebagai inti dari Injil Yesus. Di awal pelayanan Yesus, kalimat pertama-Nya adalah, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” [Mar 1:15].” Misi Yesus tentu saja untuk mengungkapkan kasih Allah, menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, sehingga kita dapat mengambil bagian dalam kehidupan Tuhan. Untuk mencapai misi ini, Dia mendirikan Kerajaan Allah. Karena Yesus adalah Allah, kita dapat mengatakan bahwa Kerajaan Allah adalah Kerajaan Yesus sendiri. Tidak heran, kita merayakan pesta Kristus Raja pada akhir masa liturgi, karena Dia adalah sungguh kepala Kerajaan Allah.

Namun, pertanyaan sebenarnya adalah apakah Kerajaan Allah itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita akan ke Perjanjian Lama. Dalam 2 Samuel 7, Daud berencana untuk membangun rumah Tuhan, Bait Allah di Yerusalem, tetapi Tuhan melalui nabi Natan, memberi nubuat kepada Daud bahwa alih-alih Daud yang membangun rumah Tuhan, Tuhanlah yang akan membangun rumah Daud. Tuhan berjanji bahwa Tuhan akan mendirikan kerajaan Daud, dan seorang anak Daud akan bertakhta akan memerintah selamanya. Namun, jika kita mempelajari sejarah, kita menyadari bahwa setelah Salomo, kerajaan Daud terpecah dan terus mengalami kemunduran. Kerajaan utara dihancurkan pada 721 SM oleh kekaisaran Asyur, dan kerajaan selatan dihancurkan pada 587 SM oleh negara adidaya Babel. Banyak orang Israel diasingkan dan dideportasi jauh dari tanah air mereka. Dimanakah janji Tuhan kepada Daud?

Jadi, ketika Yesus datang dan memberitakan Kerajaan, banyak orang Yahudi bertanya, “Apakah ini Kerajaan yang dijanjikan? Apakah Yesus ini benar atau hanya penyebar hoax?” Kepada publik, Yesus tidak memberikan jawaban langsung melainkan melalui perumpamaan. Perumpamaan ini menyembunyikan dan mengungkapkan kebenaran tentang Kerajaan Allah. Bagi mereka yang membenci Yesus, perumpamaan ini hanyalah cerita-cerita aneh. Bagi mereka yang mengharapkan Yesus menjadi Mesias dalam artian pemimpin militer atau politik, perumpamaan ini membingungkan. ‘Kerajaan Allah harus seperti pohon beringin yang perkasa, bukan seperti sesawi!’ Namun, bagi para murid yang percaya kepada Yesus, perumpamaan ini mengungkapkan misteri besar kerajaan Allah.

Memperkenalkan kerajaan Allah seperti biji sesawi pasti mengejutkan orang-orang yang mengharapkan kerajaan Allah seperti kerajaan Mesir atau kekaisaran Roma. Yang menakjubkan adalah, kerajaan Yesus benar-benar berperilaku seperti sesawi. Ini dimulai dengan Yesus dan murid-murid-Nya yang kecil dan tidak sempurna, tetapi secara bertahap dan perlahan memenuhi seluruh dunia. Kerajaan Allah ini tidak menaklukkan negara lain dengan manuver militer dan politik, dan pada kenyataannya, seperti sang Kepala, kerajaan ini telah mengalami penganiayaan kejam yang tak terhitung jumlahnya. Namun, terlepas dari penderitaan dan cobaan, kerajaan itu terus berkembang dan menjadi komunitas manusia terbesar di bumi ini.

Sebagai bagian dari kerajaan Allah, ini benar-benar kabar baik bagi kita. Kita tidak harus percaya bahwa kita adalah pohon beringin yang megah, dan berpikir bahwa kita dapat melakukan segalanya dengan kekuatan kita sendiri. Dengan pemikiran seperti ini, ketika kita gagal, kita akan tertekan dan kecewa. Namun, jika kita melihat diri kita seperti biji sesawi, kita membiarkan ujian dan kegagalan menjadi bagian dari hidup kita, dan membiarkan Tuhan mengerjakan keajaiban di dalam hidup kita, sama seperti Dia membangun kerajaan-Nya. Itulah betapa menakjubkannya Tuhan kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Fullness of Love

The Solemnity of the Body dan Blood of Christ [Corpus Christi] – B

June 6, 2021

Mark 14:12-16;22-26

The Solemnity of the Body and Blood of Christ or Corpus Christi is the estuary of all the great feasts we have celebrated. We started from the great Holy Week and culminated in the Easter Triduum. Forty days after Easter Sunday, we worship Christ, who ascended into Heaven, and then He sent the Holy Spirit among the disciples on the day of Pentecost. And, just last Sunday, we gave our most excellent adoration to the Holy Trinity. Now, we have Corpus Christi. But, why this feast?

photocredit: annie Theby

Guided by the Holy Spirit, the Church has recognized the importance of the solemnity of Corpus Christi. The entire economy of creation and salvation streams down to this mystery. God created the world so that the world may share in His love. However, men and women fell into sin and departed from God’s love. Yet, His love and mercy are infinitely bigger than our wickedness, and He commissioned His Son to take up human nature and live among us. Not only to become a human, but Jesus also offered Himself on the cross for our salvation. St. John perfectly summed up, “For God so loved the world, He sent His only begotten Son, so that everyone who believes in may not perish but may have eternal life [John 3:16].” However, it is not the end of God’s amazing love story! The risen Christ miraculously transformed into the Eucharist to become our daily bread. In the most blessed sacrament of the Eucharist, “the body and blood, together with the soul and divinity, of our Lord Jesus Christ and, therefore, the whole Christ is truly, really, and substantially contained [CCC 1374].”

For those without faith, this bread is just a white tasteless wafer, but for us, who are called to eternal life, the bread is no longer bread but the fullness of Christ. When Jesus is there, the Holy Trinity is there as well. When the Trinity is there, the entire angelic hosts and choirs of saints are there as well. Receiving the Eucharist is receiving the whole Heaven, the eternal life. This is the will of Christ Himself, “Amen, amen, I say to you, unless you eat the flesh of the Son of Man and drink his blood, you do not have life within you. Whoever eats my flesh and drinks my blood has eternal life, [Jn 6:53-54].”

The Eucharist is the proof of God’s love. It is not enough for God to become human, not enough for Him to die and rise for us, not enough for Him to open the gates of Heaven. He wants us to share His divine life and love now and here.

Yet, Heaven is meant to be shared. As Jesus shares His life and love in the Eucharist, we are invited to become little Eucharists in our daily lives. As Jesus nourishes us with His Body and Blood, do we nourish people with our body and blood? As parents, do we offer our bodies and blood to our children so that they may experience true heavens? Do we bring Heaven to our family and communities? Do we become the agent of love to our societies?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kepenuhan Kasih

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus [Corpus Christi] – B

6 Juni 2021

Markus 14:12-16; 22-26

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus atau dikenal dalam Bahasa Latin, ‘Corpus Christi’ adalah muara dari semua hari raya yang telah kita rayakan selama ini. Kita mulai beberapa bulan yang lalu, dari Pekan Suci dan mencapai puncaknya dalam Trihari Suci. Empat puluh hari setelah Minggu Paskah, kita memuliakan Kristus yang naik ke Surga, dan kemudian Dia mengutus Roh Kudus di antara para murid pada hari Pantekosta. Dan, Minggu lalu, kita memberikan pujian terbesar kita kepada Tritunggal Mahakudus. Sekarang, kita memiliki Corpus Christi. Tapi, mengapa hari raya dirayakan sekarang?

photocredit: Eric Mok

Dengan bimbingan Roh Kudus, Gereja telah mengakui betapa pentingnya kehadiran Yesus yang real di Ekaristi. Seluruh sejarah penciptaan dan keselamatan mengalir ke misteri ini. Tuhan menciptakan dunia agar dunia dapat berbagi dalam kasih-Nya. Sayangnya, pria dan wanita jatuh ke dalam dosa, dan menjauh dari kasih Tuhan. Namun, kasih dan kerahiman-Nya jauh lebih besar daripada kejahatan dan kelemahan kita, dan Dia mengutus Putra-Nya untuk mengambil kodrat manusia dan hidup di antara kita. Tidak hanya menjadi manusia, Yesus juga mempersembahkan diri-Nya di kayu salib untuk keselamatan kita. St. Yohanes dengan tepat menyimpulkan, “Karena begitu besar kasihAllah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakanAnak-Nyayang tunggal, supaya setiap orang yang percayakepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal [Yohanes 3:16].” Namun, ini bukan akhir dari kisah kasih Allah yang luar biasa! Kristus yang bangkit secara mujizat berubah menjadi Ekaristi, menjadi makanan kita. Dalam Sakramen Ekaristi mahakudus, tercakuplah “dengan sesungguhnya, secara real dan substansial tubuh dan darah bersama dengan jiwa dan ke-Allahan Tuhan kita Yesus Kristus dan dengan demikian seluruh Kristus.” – [KGK 1374]

Bagi mereka yang tidak beriman, roti ini hanyalah kerupuk putih yang hambar, tetapi bagi kita yang dipanggil untuk hidup yang kekal, roti itu bukan lagi roti, tetapi kepenuhan Kristus sendiri. Ketika Yesus ada di sana, Tritunggal Mahakudus juga ada di sana. Ketika Trinitas ada di sana, seluruh malaikat dan orang-orang kudus juga ada di sana. Menerima Ekaristi adalah menerima seluruh surga, hidup yang kekal. Inilah kehendak Kristus sendiri, “Sesungguhnya jikalau kamu tidak makan dagingAnak Manusiadan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.[Yoh 6:53-54].”

Ekaristi adalah bukti kasih Allah. Tidaklah cukup bagi Tuhan untuk menjadi manusia, tidak cukup bagi Dia untuk mati dan bangkit bagi kita, tidak cukup bagi Dia untuk membuka gerbang surga. Dia ingin kita berbagi kehidupan dan kasih ilahi-Nya sekarang dan di sini.

Namun, kita perlu ingat bahwa surga bukan hanya untuk kita sendiri. Saat Yesus membagikan hidup dan kasih-Nya dalam Ekaristi, kita diundang untuk menjadi Ekaristi kecil dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagaimana Yesus memelihara kita dengan Tubuh dan Darah-Nya, apakah kita memelihara orang-orang dengan tubuh dan darah kita? Sebagai orang tua, apakah kita mempersembahkan tubuh dan darah kita kepada anak-anak kita agar mereka dapat mengalami kepenuhan hidup yang sesungguhnya? Apakah kita membawa surga bagi keluarga dan komunitas kita? Apakah kita menjadi agen kasih bagi masyarakat kita?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Mystery

Trinity Sunday [B]
May 30, 2021
Matthew 28:16-20

The mystery of the Holy Trinity is at the heart of our Christian faith. The Church duly recognizes that this is the mystery of all mysteries and the mystery of God in Himself: One God in three divine persons. While acknowledging that it is fundamentally impossible to explain the Trinity in this short writing, this simple reflection may help us appreciate the beauty of this sacred mystery.


Firstly, we need to recognize that this is the mystery. The Trinitarian mystery is not like mystery movies where the audience is kept in suspense and guessing until the film’s end. The Trinitarian mystery is not mysterious, as if there are many secrets and an atmosphere of strangeness. Far from being mysterious, the Trinity has been preached and proclaimed publicly since the birth of the Church. The mystery of the Trinity is like the mystery of love. The mystery is very real, and yet we do not have the intellectual capacity to grasp it fully. Often, we do not understand why this pretty woman falls in love with this not so handsome guy, yet the love between the two is undeniable. The same with the mystery of the Trinity, we do not fully comprehend it, but it is fundamental in our faith and life.


Secondly, we need to see that we are invited to be part of that mystery of Trinity. This is what amazing about the true mystery. We may not fully understand it, but we are drawn to the mystery, and if we open our hearts, we will share in that mystery. Again, like the mystery of love, we often will not reach a solid logical analysis of the reasons behind a sacrificial mother’s love for her children. Still, we know that is true, and we are called to participate in that kind of radical love. It is the same as the mystery of the Trinity. St. Peter, our first pope, has declared that by the help of grace, we are to share God’s divine nature, the life of the Trinity [2 Pet 1:4]. St. Peter knew well the meaning of this mystery. Heaven is becoming part of this love that unites the Father, the Son, and the Holy Spirit.


Thirdly, we need to do our parts to enter that mystery. Being part of the mystery is exceptionally precious because we cannot earn it no matter what we do. It is freely given. Like love, it is entirely free but never cheap. We cannot force someone in return, yet when we receive the love, we need to do our part to grow into that love. Love is an utter gift to the other. It is the same with the mystery of the Trinity. God freely offers His friendship, but we need to do our parts to live and grow in this mystery.


We begin our lives in the Trinity when we were baptized in the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit, but do we live and grow in this mystery? When we make the sign of the cross, do we mean to become the sign of the Holy Trinity in our lives? We are blessed in the name of the Father, and Son, and the Holy Spirit, but do we genuinely turn to be a Trinitarian blessing for others?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sebuah Misteri

Trinity Sunday [B]
30 Mei 2021
Matius 28: 16-20

Misteri Tritunggal Mahakudus adalah inti dari iman Kristiani kita. Gereja sendiri mengakui bahwa inilah dasar dari semua misteri iman, sebuah misteri Tuhan di dalam diri-Nya sendiri, yakni: Satu Tuhan dalam tiga pribadi ilahi. Meskipun menyadari bahwa pada dasarnya saya tidak mungkin untuk menjelaskan Tritunggal dalam tulisan pendek ini, dengan refleksi sederhana ini, saya berharap dapat membantu kita semua menghargai keindahan misteri paling sakral ini.


Pertama, kita perlu menyadari bahwa arti dari kata misteri. Misteri Tritunggal tidak seperti film misteri yang penontonnya dibuat penasaran dan menebak-nebak hingga akhir film. Misteri Tritunggal tidaklah misterius seolah-olah terdapat banyak rahasia dan keanehan. Jauh dari kata misterius, Tritunggal telah diwartakan dan dijelaskan secara terbuka sejak lahirnya Gereja. Misteri Tritunggal seperti misteri kasih. Misteri kasih itu sangat nyata, namun kita tidak memiliki kapasitas intelektual untuk mengerti secara sepenuh. Seringkali, kita tidak mengerti mengapa seorang wanita cantik ini jatuh cinta pada pria yang tidak begitu tampan, namun cinta di antara keduanya tidak dapat disangkal. Sama halnya dengan misteri Tritunggal, kita tidak sepenuhnya memahaminya, tetapi itu nyata dalam iman dan hidup kita.


Kedua, kita perlu melihat bahwa kita diundang untuk menjadi bagian dari misteri Trinitas ini. Inilah yang menakjubkan tentang arti misteri yang sebenarnya. Kita mungkin tidak sepenuhnya memahaminya, tetapi kita diundang menjadi bagian dari misteri itu. Jika kita membuka hati kita, kita akan sungguh berbagi dalam misteri itu. Sekali lagi, seperti misteri kasih, seringkali, kita tidak akan mencapai analisis logis yang memuaskan tentang alasan di balik kasih seorang ibu yang berkorban untuk anak-anaknya, tetapi kita tahu itu benar dan kita dipanggil untuk berpartisipasi dalam kasih radikal semacam itu. Santo Petrus, paus pertama kita, telah menyatakan bahwa dengan bantuan rahmat-Nya, kita harus berbagi kodrat ilahi, kehidupan Tritunggal Mahakudus [lih. 2 Pet 1:4]. Inilah artian surga yang sesungguhnya, yakni menjadi bagian dari kasih yang mempersatukan Bapa, Putra, dan Roh Kudus.


Ketiga, kita perlu melakukan usaha kita untuk tumbuh di dalam misteri itu. Menjadi bagian dari misteri adalah rahmat karena apa pun yang kita lakukan, kita tidak bisa mendapatkannya. Itu diberikan secara cuma-cuma. Sama seperti kasih, mengasihi dan dikasihi sepenuhnya cuma-cuma, tetapi bukan berarti murahan. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintai kita, namun ketika kita menerima kasih, kita perlu melakukan bagian kita untuk tumbuh di dalam kasih itu. Jika tidak, kasih itu akan diambil dari kita, dan mungkin tidak pernah akan kembali. Sama halnya dengan misteri Tritunggal. Tuhan dengan bebas menawarkan persahabatan-Nya, tetapi kita perlu melakukan bagian kita untuk hidup dan bertumbuh dalam misteri ini.


Kita memulai hidup kita dalam Tritunggal ketika kita dibaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, tetapi apakah kita hidup dan bertumbuh juga dalam misteri ini? Ketika kita membuat tanda salib, apakah kita sungguh ingin menjadi tanda Tritunggal Mahakudus dalam dunia? Setiap kali kita diberkati oleh imam, Kita diberkati dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, tetapi apakah kita benar-benar berubah menjadi berkat Tritunggal bagi orang lain?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Leprosy

Sixth Sunday in Ordinary Time [B]

February 14, 2021

Mark 1:40-45

Leprosy in the time of Jesus is not only physically and mentally deadly, but also spiritually incapacitating. Leprosy or currently known as the Hansen’s disease is horrifying sickness because it does not kill the person slowly, but it gradually deforms and incapacitates the person. The bacteria cause terrible damage in peripheral nervous to the point that the person is no longer feeling the sensation, especially pain. Without this sensation, the person fails to recognize and avoid bodily injuries. Losing limbs is shared among the victims with advanced stages of leprosy.

Since the sickness was incurable and highly contagious in ancient time, it was a natural reaction for the people to exclude the infected persons from the community. We can imagine the effects of exclusion suffered by the victims. They were cut from the bare necessities, separated from their family and friends, and aware that they will die a horrible death. People could quickly become insane. This awareness that they would not survive outside society pushes the people with leprosy to gather and form their community. Thus, lepers’ colonies were deemed a practical solution to support one another in the face of the bleak reality of life.

In the Jewish context, skin diseases, especially leprosy, are about biological and mental problems, but it is a religious issue. The Book of Leviticus states that people with certain skin diseases, including leprosy, have to present themselves to the priest and have their bodies examined. The priest may declare that persons as unclean. After the verdict, the persons have to go out from the community, wear rent cloth, and let their hair dishevel. These become visible signs that they are with contagious diseases and unclean. Yet, if a person remains going closer to them, they shall shout, “Unclean! Unclean!” This is to make sure healthy and clean persons will not come nearer. Being declared unclean means the person is not fit for the religious service and cannot enter the holy ground like the temple. Thus, for a Jew who contracted leprosy, he was excluded physically and mentally and religiously. The sickness also cut them from God they serve and worship.

In the Gospel, we see the leper who took the initiative to approach Jesus, thus breaking the most fundamental prohibition to stay away from people and God. The leper’s request was not to be healed, but rather to be ‘clean.’ The deepest desire of this leper is not physical healing, but to worship his God. The real healing comes only when we can approach and worship the true God. Looking at his courage and deepest longing, Jesus was moved by pity and made him clean.

The leper in the Gospel teaches us a lot about the genuine desire for healing. Perhaps, many of us look for God because we wish to be cured of diseases, seek financial success, or free from other problems. Yet, we seldom desire to see God because we want to be healed spiritually, liberated from sins, and be one with Him. The Gospel teaches us that true healing is more than physical health and economic stability, but the union with God.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Photocredit: Claudio Schwartz

Kusta

Minggu Keenam dalam Masa Biasa [B]

14 Februari 2021

Markus 1: 40-45

Penyakit kusta pada zaman Yesus tidak hanya mematikan secara fisik dan mental, tetapi juga melumpuhkan secara rohani. Kusta atau yang sekarang dikenal dengan penyakit Hansen adalah penyakit yang mengerikan karena tidak hanya membunuh orangnya secara perlahan, tetapi lambat laun akan merusak wujud dan melumpuhkan orang tersebut. Bakteri kusta menyebabkan kerusakan yang parah pada jaringan saraf sehingga orang tersebut tidak lagi dapat merasakan sensasi, terutama rasa sakit. Tanpa sensasi ini, orang tersebut gagal mengenali dan menghindari cedera pada tubuh. Kehilangan anggota tubuh seperti jari adalah hal yang biasa terjadi pada penderita kusta stadium lanjut.

Karena penyakit ini tidak dapat disembuhkan dan sangat menular pada zaman dahulu, reaksi alami bagi para penduduk adalah untuk mengeluarkan orang yang terinfeksi dari komunitas. Bisa dibayangkan dampak pengusiran yang diderita para korban. Mereka terputus dari sumber kebutuhan dasar, dipisahkan dari keluarga dan teman-teman mereka, dan mereka sadar bahwa mereka akan meninggal dengan cara yang mengerikan. Penderita kusta bisa dengan mudah menjadi gila. Kesadaran bahwa mereka tidak akan bertahan hidup sendiri di luar masyarakat mendorong para penderita kusta untuk berkumpul dan membentuk komunitasnya. Oleh karena itu, koloni penderita kusta dianggap sebagai solusi praktis untuk saling mendukung dalam menghadapi kenyataan hidup yang suram.

Dalam konteks Yahudi kuno, penyakit kulit khususnya kusta tidak hanya merupakan masalah biologis, mental dan sosial, tetapi merupakan masalah agama. Kitab Imamat menyatakan bahwa orang dengan penyakit kulit tertentu termasuk kusta harus menghadap imam dan diperiksa tubuhnya. Kemudian, sang imam dapat menyatakan orang itu najis. Setelah putusan ini, orang tersebut harus keluar dari komunitas, memakai kain lusuh, dan membiarkan rambutnya acak-acakan. Ini menjadi tanda-tanda bahwa mereka mengidap penyakit menular dan najis. Namun, jika seseorang tetap mendekati mereka, mereka akan berteriak, “Najis! Najis!” Ini untuk memastikan orang yang sehat dan tahir tidak akan mendekat. [Im 13] Jika seseorang dinyatakan sebagai najis, ini berarti orang tersebut tidak layak untuk beribadah dan tidak diperbolehkan memasuki kawasan suci seperti Bait Allah. Jadi, bagi seorang Yahudi yang mengidap penyakit kusta, ia tidak hanya dikucilkan secara fisik dan mental, tetapi juga secara agama. Penyakit itu juga memisahkan mereka dari Tuhan yang mereka layani dan sembah.

Dalam Injil, kita belajar banyak dari sang penderita kusta. Kita melihat sang penderita kusta adalah orang yang berinisiatif untuk mendekati Yesus, dan dengan demikian, melanggar larangan paling mendasar untuk menjauh dari manusia lain dan Tuhan. Permintaan penderita kusta bukanlah untuk disembuhkan, melainkan untuk ‘menjadi tahir’. Keinginan terdalam dari penderita kusta ini bukanlah pertama-tama penyembuhan fisik, tetapi menjadi tahir agar bisa menyembah Tuhannya. Kesembuhan yang sejati datang hanya jika kita bisa mendekati dan menyembah Tuhan yang benar. Melihat keberanian dan kerinduannya yang terdalam, Yesus tergerak oleh belas kasihan dan membuatnya tahir.

Penderita kusta dalam Injil mengajar kita banyak hal tentang keinginan sejati untuk kesembuhan. Mungkin, banyak dari kita mencari Tuhan karena ingin sembuh dari penyakit, mencari kesuksesan finansial atau terbebas dari masalah lain. Namun, kita jarang ingin melihat Tuhan karena kita ingin disembuhkan secara rohani, dibebaskan dari dosa, dan menjadi satu dengan Dia. Injil mengajarkan kepada kita bahwa penyembuhan sejati lebih dari sekedar kesehatan fisik dan stabilitas ekonomi, tetapi persatuan dengan Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP