Panggilan dan Profesi

Minggu ke-4 Paskah [B]

21 April 2024

Yohanes 10:11-18

Profesi dan panggilan sepertinya dua hal yang serupa. Seorang perempuan merasa bahwa ia terpanggil untuk menyembuhkan orang lain dan memutuskan untuk menjadi seorang dokter. Setelah bertahun-tahun menjalani pelatihan, ia mulai bekerja di rumah sakit atau klinik, melayani pasien, dan akhirnya membantu menyembuhkan orang yang sakit dan juga menghidupi dirinya dan keluarganya. Dari contoh ini, tidak ada perbedaan yang signifikan antara profesi dan panggilan. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, dua hal ini pada dasarnya berbeda. Namun, apa saja perbedaannya? Dan bagaimana hal ini mempengaruhi iman dan kehidupan kita?

Sederhananya, profesi adalah apa yang kita lakukan, dan panggilan adalah siapa diri kita. Profesi adalah tentang ‘aksi’, dan panggilan adalah tentang ‘identitas’. Kita melakukan profesi untuk mencari nafkah, sementara panggilan adalah hidup kita. Profesi tetap ada selama kita bekerja atau dipekerjakan, tetapi ketika kita tidak lagi bekerja, kita kehilangan profesi tersebut atau beralih ke profesi lain. Namun, panggilan mendefinisikan siapa diri kita. Kita tidak kehilangan panggilan kita ketika kita berhenti bekerja; pada kenyataannya, panggilan kita memberikan identitas pada setiap tindakan kita. Beberapa panggilan hanya berhenti ketika kita mati, tetapi beberapa lainnya berlanjut hingga kekekalan.

Contoh terbaik yang kita miliki adalah Yesus, gembala yang baik. Yesus membedakan diri-Nya dengan ‘orang-orang upahan’ yang melakukan hal yang sama seperti gembala tetapi hanya untuk mendapatkan keuntungan. Dengan demikian, mereka akan memprioritaskan diri mereka sendiri, sehingga mereka lari dan meninggalkan kawanan domba ketika bahaya datang. Panggilan Yesus adalah sebagai gembala, oleh karena itu, domba-domba-Nya adalah bagian integral dari identitas Yesus. Seorang gembala bukanlah gembala tanpa domba-dombanya. Namun, tidak cukup hanya dengan menerima panggilan; kita harus menghidupi panggilan kita sepenuhnya. Seperti Yesus, tidak cukup hanya menjadi gembala biasa, tetapi Yesus memilih untuk menjadi gembala yang baik, gembala yang mengorbankan nyawa-Nya demi keselamatan domba-domba-Nya.

Ada beberapa jenis panggilan dalam Gereja Katolik. Pertama, panggilan kita adalah menjadi orang Kristen. Kemudian, ada yang dipanggil untuk hidup berumah tangga, sebagai suami dan istri, untuk berkeluarga, menjadi ayah dan ibu. Beberapa orang juga dipanggil untuk menjadi rohaniawan wanita dan pria, serta menjadi imam yang ditahbiskan. Semua itu merupakan panggilan karena panggilan-panggilan itu membentuk identitas, misi, dan kehidupan kita. Sebagai seorang bapa, dia tidak hanya melakukan hal-hal yang kebapakan; dalam segala hal yang ia lakukan, ia melakukannya sebagai seorang bapa. Hal yang sama juga berlaku untuk panggilan-panggilan lainnya.

Suatu hari, seorang umat datang dan menceritakan bahwa dia baru saja mengalami keguguran. Dia sangat sedih. Kehilangan bayi perempuannya sangat menyakitkan, dan tanpa seorang anak, dia percaya bahwa dia telah gagal menjadi seorang ibu. Kemudian, saya mengatakan bahwa dia tidak gagal, dan sekali dia menjadi seorang ibu, dia akan selalu menjadi seorang ibu. Meskipun ia kehilangan putrinya di dunia, ia masih memiliki putrinya di alam sana. Iman Katolik mengajarkan bahwa ia harus tetap mencintai putrinya meskipun dengan cara yang berbeda, yaitu dengan cara rohani. Panggilannya sebagai seorang ibu adalah abadi.

Kita semua memiliki panggilan, tetapi tidak cukup hanya dengan menerimanya. Seperti Yesus, gembala yang baik, kita harus memilih untuk menghidupi panggilan kita sepenuhnya.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Church and the Gospel

3rd Sunday of Easter [B]
April 14, 2024
Acts 3:13-15, 17-19

The first reading gives us St. Peter’s first preaching at the Pentecost. After the Holy Spirit descended upon the disciples, they began speaking about the great wonders God had performed in different languages. Some people who witnessed the event thought that they were drunk. However, St. Peter, as the leader of the apostles, denied this allegation and went further to preach the Gospel (see Acts 2). This was the first Gospel proclaimed by the Church. What is this Gospel, and what is its content?

Gospel (εὐαγγέλιον, euangelion) originally refers to the imperial announcement of great news that affects many lives in the Roman empire, like the ascension of the new emperor or the major war victories. Jesus adopted the term as He proclaimed the ‘Gospel of God’ (see Mar 1:14). Then, guided by the Holy Spirit, the Church, through her leaders, especially Peter, embraced the same vocabulary in his preaching.

The Gospel that the primitive Church proclaimed focuses on Jesus and what God of Israel did to Him. Peter said that out of ignorance, some Jewish leaders handed Jesus to the Roman authority to be crucified. By doing that, the author of life was denied and put to death. Yet, God raised Him from the dead. Through this great twist of events, God has fulfilled what he had announced through the prophets. The summary of the Gospel is the death and resurrection of Jesus Christ as the fulfillment of God’s plan (see also 1 Cor 15:1-6).

Yet, the good news does not stop there. Though the Jews, the Romans, and all of us, through our sins, have a share in the death of Christ, it does not mean that we are all forever condemned. In fact, through His death and resurrection, He has brought the grace of salvation. Yet again, to make this grace effective in our lives, we must open ourselves and accept it. How to do that? St. Peter explicitly says, “Repent and be converted!”

‘I repent’ in Greek is ‘μετανοέω’ (metanoeo), and this word suggests a transformation (meta) of mindset (nous). While ‘I convert’ in Greek is ‘ἐπιστρέφω’ (epistrepho), and this verb indicates a physical movement of turning back or away. Therefore, two words point both to internal renewal and external manifestation of repentance. To believe in the Gospel is not enough to mentally say, “I accept Jesus Christ in my heart” or “I believe in His resurrection,” but we continue to live in our sinful ways. On the other hand, if we perform many services and attend many prayers but do not enthrone Jesus in our hearts, it is mere showoff or even narcissistic.

This is the Gospel that the Church preaches, and since we are part of the Church, we are also responsible for sharing and living the Gospel. We announce to our families, friends, neighbors, and indeed all people. Yet, the Gospel is never a burden but rather a proof of love. If we love our brothers and sisters, then we desire the best for them, that is their salvation. Thus, preaching the Gospel is necessary to offer them this gift of salvation.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Gereja dan Injil

Minggu ke-3 Paskah [B]

14 April 2024

Kisah Para Rasul 3:13-15, 17-19

Bacaan pertama menceritakan pewartaan pertama Santo Petrus pada hari Pentekosta. Setelah Roh Kudus turun ke atas para murid, mereka mulai berbicara tentang karya-karya besar Tuhan dalam berbagai bahasa. Beberapa orang yang menyaksikan peristiwa itu mengira bahwa mereka sedang mabuk. Namun, Santo Petrus, sebagai pemimpin para rasul, menyanggah tuduhan ini dan menggunakan kesempatan itu untuk pemberitaan Injil (lihat Kisah Para Rasul 2). Inilah Injil pertama yang diberitakan oleh Gereja. Apakah Injil ini? Apa isinya? Apa dampaknya bagi kita sekarang?

Injil (εὐαγγέλιον, euangelion) pada mulanya merujuk kepada pemberitahuan kekaisaran tentang berita besar yang mempengaruhi nasib banyak orang di kekaisaran Romawi, seperti naiknya kaisar yang baru atau kemenangan besar dalam peperangan. Yesus menggunakan istilah ini ketika Ia memberitakan ‘Injil Allah’ (lihat Mar 1:14). Kemudian, dibimbing oleh Roh Kudus, Gereja, melalui para pemimpinnya, terutama Petrus, menggunakan kosakata yang sama dalam khotbahnya.

Injil yang diberitakan oleh Gereja perdana berfokus pada Yesus dan apa yang dilakukan oleh Allah Israel kepada-Nya. Petrus mengatakan bahwa karena ketidaktahuan, beberapa pemimpin Yahudi menyerahkan Yesus kepada penguasa Romawi untuk disalibkan. Dengan melakukan hal itu, Sang Pencipta kehidupan disangkal dan dihukum mati. Namun, Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Melalui peristiwa yang luar biasa ini, Allah telah menggenapi apa yang telah Dia nubuatkan melalui para nabi. Kesimpulan dari Injil adalah kematian dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai penggenapan dari rencana Allah (lihat juga 1 Kor. 15:1-6).

Namun, kabar baik tidak berhenti sampai di situ. Meskipun orang-orang Yahudi, Romawi, dan kita semua, melalui dosa-dosa kita, memiliki andil dalam kematian Kristus, itu tidak berarti bahwa kita semua akan dihukum selamanya. Bahkan, melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Dia telah membawa rahmat keselamatan. Namun sekali lagi, untuk membuat rahmat ini efektif dalam hidup kita, kita harus membuka diri dan menerimanya. Bagaimana caranya? Santo Petrus mengatakan, “Bertobatlah dan berpalinglah! (Kis 3:19)”

‘Saya bertobat’ dalam bahasa Yunani adalah ‘μετανοέω’ (metanoeo), dan kata ini menunjukkan sebuah perubahan (meta) pola pikir (nous). Sementara ‘Saya berpaling’ dalam bahasa Yunani adalah ‘ἐπιστρέφω’ (epistrepho), dan kata kerja ini menunjukkan gerakan fisik untuk mengubah haluan. Oleh karena itu, dua kata tersebut menunjuk baik pada pembaruan internal dan juga manifestasi eksternal dari pertobatan. Percaya kepada Injil tidak cukup hanya dengan mengatakan dalam hati, “Saya menerima Yesus Kristus di dalam hati” atau “Saya percaya kepada kebangkitan-Nya”, tetapi kita terus hidup dalam dosa. Di sisi lain, jika kita melakukan banyak amal dan menghadiri banyak doa tetapi tidak mentakhtakan Yesus di dalam hati kita, itu hanyalah pamer atau bahkan narsis.

Inilah Injil yang diberitakan oleh Gereja, dan karena kita adalah bagian dari Gereja, kita juga bertanggung jawab untuk mewartakan dan menghidupi Injil. Kita memberitakan Injil kepada keluarga, teman, sesama, dan tentu saja kepada semua orang. Namun, Injil tidak pernah menjadi sebuah beban, melainkan sebuah bukti kasih. Jika kita mengasihi saudara-saudari kita, maka kita menginginkan yang terbaik bagi mereka, yaitu keselamatan mereka. Dengan demikian, memberitakan Injil adalah penting untuk menawarkan kepada mereka karunia keselamatan ini.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Holiness and Mercy

2nd Sunday of Easter – Divine Mercy [B]

April 7, 2024

John 20:19-31

The second Sunday of Easter is also known as the Divine Mercy Sunday. Though the title is relatively recent (St. John Paul II established this celebration on April 30, 2000), the truth about divine mercy is essential part of God’s characteristics revealed in the Bible.  How do we understand divine mercy and how do we practice mercy to others?

Mercy is related to the word ‘rahamim,’ which is rooted in the word ‘Rahim’ meaning ‘womb.’ Thus, ‘rahamim’ implies a mother’s natural feelings and attitude toward her children. Our good mothers keep accepting and loving us as their children, despite our stubbornness and pains we gave them. Some mothers even will not hesitate to sacrifice themselves for their children’s lives.

Another perspective to understand mercy is its indispensable connection with justice. Justice is ‘to give someone’s due,’ while mercy is to give someone that is not his due (in positive way). Good fathers generally exemplify this point. A father is a figure of justice in the family. He imposes discipline to his children, and sometimes inflict punishments if his children fail to behave properly. Yet, a good father know that justice he establishes is also an act of mercy. Aside from the fact that father’s discipline tend to be more gentle, his tough education is actually a form of tough love that shapes his children’s characters. Failure to perform justice might result in his children’s bad attitudes, and bad personality is never good for our children’s future. Thus, justice in wider perspective is mercy.

Going deeper into the divine mercy in the Bible, we also discover the intimate connection between mercy and holiness. In Sinai, God instructed the newly established Israel to be holy as God is holy (see Lev 11:44-45; 19:2; 20:26). How to be holy like God? In Sinai, God gave His laws for Israel. These laws were to form Israel as God’s nation, and by observing these laws, they separated themselves from other nations. Therefore, to be holy, to be separated from others and for God, the Israel had to obey God-given laws.

However, in the Gospel of Luke, Jesus taught, “Be merciful as your Father is merciful (Luk 6:36).” Jesus deliberately translated holiness into mercy. In Luke 6, Jesus taught beatitudes and chartered new laws just like God had done in Sinai. However, Jesus’ laws are not to make His disciples ‘exclusively separated’ from other people, but rather to touch other with acts of mercy. Holiness definitely is separation from sins and for God, but being holy is also being merciful. Holiness is to allow others to experience the divine mercy in their lives. And as our neighbours are touched by mercy, they may come closer to God.

How do you experience divine mercy in our lives? How do we express mercy to others? Do we do justice as the foundation of our mercy? Do our acts of mercy lead us closer to God?

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kekudusan dan Kerahiman

Minggu ke-2 Paskah – Kerahiman Ilahi [B]

7 April 2024

Yohanes 20:19-31

Hari Minggu kedua Paskah juga dikenal sebagai Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Meskipun perayaan ini relatif baru (Paus Yohanes Paulus II menetapkan perayaan ini pada tanggal 30 April 2000), kebenaran tentang kerahiman (belas kasih) ilahi adalah bagian penting dari karakteristik Allah yang diwahyukan dalam Alkitab.  Bagaimana kita memahami kerahiman ilahi?

Kerahiman dalam bahasa Ibrani berkaitan dengan kata ‘rahamim’, yang berakar dari kata ‘Rahim’ yang berarti ‘kandungan’. Dengan demikian, ‘rahamim’ menyiratkan perasaan dan sikap alamiah seorang ibu terhadap anak-anaknya. Ibu yang baik tetap menerima dan mencintai anak-anaknya, terlepas dari sikap keras kepala dan rasa sakit yang mereka berikan kepada sang ibu. Beberapa ibu bahkan tidak akan ragu untuk mengorbankan diri mereka sendiri demi kehidupan anak-anak mereka.

Perspektif lain untuk memahami belas kasih adalah hubungannya yang tak terpisahkan dengan keadilan. Definisi sederhana keadilan adalah ‘memberikan seseorang apa yang menjadi haknya’, sedangkan kerahiman adalah memberikan sesuatu yang bukan haknya (secara positif). Ayah yang baik umumnya mencontohkan hal ini. Seorang bapa adalah figur keadilan dalam keluarga. Ia menerapkan disiplin kepada anak-anaknya, dan terkadang memberikan hukuman jika anak-anaknya tidak berperilaku baik. Namun, seorang ayah yang baik tahu bahwa keadilan yang ia tegakkan juga merupakan sebuah tindakan kerahiman. Selain karena disiplin yang diterapkan bapa cenderung lebih lembut, pendidikan yang tegas sebenarnya merupakan bentuk kerahiman yang membentuk karakter anak-anaknya. Kegagalan dalam menegakkan keadilan dapat berakibat pada karakter buruk anak-anaknya, dan kepribadian yang buruk tidak akan baik untuk masa depan anak. Dengan demikian, keadilan dalam perspektif yang lebih luas adalah kerahiman.

Mendalami belas kasih ilahi dalam Alkitab, kita juga menemukan hubungan yang erat antara belas kasih dan kekudusan. Di Sinai, Allah memerintahkan bangsa Israel yang baru saja dibentuk untuk menjadi kudus sebagaimana Allah itu kudus (lihat Im. 11:44-45; 19:2; 20:26). Bagaimana menjadi kudus seperti Allah? Di Sinai, Allah memberikan hukum-hukum-Nya untuk Israel. Hukum-hukum ini membentuk Israel sebagai bangsa Allah, dan dengan menaati hukum-hukum ini, mereka memisahkan diri mereka dari bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, untuk menjadi kudus, terpisah dari yang lain dan untuk Tuhan, bangsa Israel harus menaati hukum-hukum yang diberikan Tuhan.

Namun, dalam Injil Lukas, Yesus mengajarkan, “Hendaklah kamu berbelaskasihan seperti Bapamu berbelaskasihan (Luk 6:36).” Yesus dengan sengaja menerjemahkan kekudusan menjadi belas kasihan. Dalam Lukas 6, Yesus mengajarkan sabda bahagia dan membuat hukum baru seperti yang dilakukan Tuhan di Sinai. Namun, hukum-hukum Yesus bukan untuk membuat para murid-Nya ‘terpisah secara eksklusif’ dari orang lain, melainkan untuk menyentuh orang lain dengan tindakan belas kasih. Kekudusan tentu saja adalah pemisahan diri dari dosa dan untuk Tuhan, tetapi menjadi kudus juga berarti berbelas kasih. Kekudusan adalah memungkinkan sesama untuk mengalami belas kasihan ilahi melalui kita. Dan ketika sesama kita tersentuh oleh belas kasihan, mereka dapat menjadi lebih dekat dengan Allah.

Bagaimana kita mengalami kerahiman ilahi dalam hidup kita? Bagaimana kita mengungkapkan belas kasih kepada orang lain? Apakah kita melakukan keadilan sebagai dasar belas kasih kita? Apakah tindakan belas kasihan kita membawa kita lebih dekat kepada Allah?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Empty Tomb 

Easter Vigil – Easter Sunday [B]

March 31, 2024

Mark 16:1-7

Jesus is either everything or nothing at all. Why? Because He made an extraordinary claim that He is divine. C.S. Lewis responded to this claim with three possible answers, ‘Lunatic, Liar or Lord.’ Either Jesus was a delusional man believing that He was God, or Jesus was an evil man who wanted to deceive the world for His profit, or He is the Lord because what He claimed is true. If Jesus’ claim is true, then He deserves all our worship, our love and adoration. Yet, if Jesus’ claim is false, then He is just nobody who happened to be a lunatic or liar. Then, what is the evidence of His claim?

The answer is the resurrection of Jesus. And what is the proof of His resurrection? The empty tomb! Yes, this is the first evidence we have. If we read the four gospels, we will find a resurrection story with slight variations, but all agree with the reality of the empty tomb. If I were Jesus, I would have chosen a more dramatic and visible way of resurrection. I would have even appeared to Pilate and the chief priests to make a bold statement. Yet, Jesus chose to show an empty tomb and later appeared to the women. But, these women? These women were the same women who stood near the cross of Jesus, and they went back early in the morning to anoint the body of Jesus to give a proper burial to Jesus. These women exhibited their faithfulness and love to Jesus. 

The evidence for Jesus’ resurrection has been discussed extensively by many scholars, and I would not have enough time to cover it here. Jesus did not appear to Pilate or Annas and Caiaphas because they had decided to reject Jesus as a lunatic or liar. Thus, Jesus’ resurrection is nothing but useless. They even spread lies that the body was stolen. One scholar said, ‘For disbelievers, no proofs are ever sufficient.’

However, we are here, just like the women who visited the tomb early in the morning. We are here because we believe in Jesus, and we love Him. Jesus’ choice for an empty tomb, rather than a grandeur showoff of His resurrection, invites us to enter the empty tomb and make decisions for ourselves. Pope Francis once said that Jesus did not need to remove the stone to go out from the tomb, but for us to enter the tomb. Do we still love Jesus even when we only see emptiness? Are we still faithful even if we did not find the Lord?

Yes, we believe in Jesus, and yes, we love Him. Yet, faith, hope and love are not static, but rather something that grows. God allows us to experience crosses and even empty tombs because, through these events, we may grow in our faith and love. We must not forget that when we carry a cross, we may be like Simon of Cyrene, who carried the cross of Jesus. We must not forget that Jesus was few steps away from the empty tomb, waiting to bless us.

Celebration of Easter is not just a annual ritual, with different fancies symbols, but an invitation for us to renew and deepen our faith and love for God. Afterall, Jesus is everything to us. Blessed Easter!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Makam Kosong 

Malam Paskah – Minggu Paskah [B]

31 Maret 2024 

Markus 16:1-7 

Yesus adalah segalanya atau tidak sama sekali. Mengapa? Karena Dia membuat klaim yang luar biasa bahwa Dia adalah Allah. C.S. Lewis, seorang pujangga dari Inggris, menanggapi klaim ini dengan tiga kemungkinan jawaban, ‘Orang Gila, Pembohong, atau Tuhan’. Entah Yesus adalah orang gila yang percaya bahwa Dia adalah Tuhan, atau Yesus adalah orang jahat yang ingin menipuc dunia demi keuntungannya, atau Dia adalah sungguh Tuhan karena apa yang diklaimnya adalah benar. Jika klaim Yesus benar, maka Dia layak mendapatkan semua penyembahan, cinta dan pemujaan kita. Namun, jika klaim Yesus itu salah, maka Dia bukan siapa-siapa yang kebetulan adalah orang gila atau pembohong. Lalu, apa bukti dari klaim-Nya? 

Jawabannya adalah kebangkitan Yesus dari kematian. Namun, apa bukti dari kebangkitan Yesus? Ya, kubur yang kosong! Ya, ini adalah bukti pertama yang kita miliki. Jika kita membaca keempat Injil, kita akan menemukan kisah kebangkitan dengan sedikit variasi, tetapi semuanya setuju dengan kenyataan tentang kubur yang kosong. Jika saya adalah Yesus, saya akan memilih cara kebangkitan yang lebih dramatis dan terlihat. Saya bahkan akan menampakkan diri kepada Pilatus dan para imam kepala untuk membuktikan kebangkitan. Namun, Yesus memilih untuk menunjukkan kubur yang kosong dan kemudian menampakkan diri kepada para wanita. Tetapi, mengapa wanita-wanita ini? Perempuan-perempuan ini adalah perempuan-perempuan yang sama yang berdiri di dekat salib Yesus, dan mereka kembali pagi-pagi sekali untuk meminyaki tubuh Yesus untuk memberikan penguburan yang layak bagi Yesus. Para perempuan ini menunjukkan kesetiaan dan kasih mereka kepada Yesus.

Bukti-bukti kebangkitan Yesus telah dibahas secara ekstensif oleh banyak ahli, dan saya tidak memiliki cukup waktu untuk membahasnya di sini. Yesus tidak menampakkan diri kepada Pilatus atau Hanas dan Kayafas karena mereka telah memutuskan untuk menolak Yesus sebagai orang gila atau pembohong. Dengan demikian, kebangkitan Yesus tidak ada gunanya. Mereka bahkan menyebarkan kebohongan bahwa jenazahNya dicuri. Seorang ahli pernah berkata, “Bagi orang yang tidak percaya, sebanyak apapun bukti tidak akan pernah cukup.” Namun, kita ada di sini, sama seperti para wanita yang mengunjungi kubur di pagi hari. Kita berada di sini karena kita percaya kepada Yesus, dan kita mengasihi-Nya. 

Pilihan Yesus untuk memilih kubur yang kosong, daripada memamerkan kemegahan kebangkitan-Nya, mengundang kita untuk masuk ke dalam kubur yang kosong itu dan mengambil keputusan untuk diri kita sendiri. Paus Fransiskus pernah berkata bahwa Yesus tidak perlu memindahkan batu untuk keluar dari kubur, tetapi agar kita bisa masuk ke dalam kubur. Apakah kita masih mengasihi Yesus bahkan ketika kita hanya melihat kekosongan? Apakah kita masih setia meskipun kita tidak menemukan Tuhan? Ya, kita percaya kepada Yesus, dan kita mengasihi Dia. Namun, iman, pengharapan dan kasih bukanlah sesuatu yang statis, melainkan sesuatu yang bertumbuh. Allah mengizinkan kita untuk mengalami salib dan bahkan kubur yang kosong karena melalui peristiwa-peristiwa ini, kita dapat bertumbuh dalam iman dan kasih. Kita tidak boleh lupa bahwa ketika kita memikul salib, kita dapat menjadi seperti Simon dari Kirene, yang memikul salib Yesus. Kita tidak boleh lupa bahwa Yesus hanya beberapa langkah lagi dari kubur yang kosong, menunggu untuk memberkati kita.

Perayaan Paskah bukan hanya sebuah ritual tahunan, tetapi sebuah undangan bagi kita untuk memasuki misteri makam kosong, dan memperbaharui dan memperdalam iman dan cinta kita kepada Tuhan. Bagaimanapun juga, Yesus adalah segalanya bagi kita. Selamat Paskah!

 Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Being Truly Human

Palm Sunday of the Lord’s Passion [B]

March 24, 2024

Mark 14:1 – 15:47

Jesus’ defining moment just before His Passion is His agony in the garden of Gethsemane. This year, we are fortunate to hear from the Gospel of Mark because Mark is not shy to express the inner life of Jesus in this crucial time. For some, this is embarrassing because Jesus was expressing His great sorrow, and thus, Jesus is seen to be too human and weak. However, we believe that God inspired Mark to write God’s words, and thus, we are to learn something precious in Jesus’ desperate moment.

Jesus was aware of what would happen to Him. He would soon face the betrayal of his disciple, a clandestine arrest, unjust trials from His haters, dreadful torture, and humiliating and most painful death. Thus, Jesus who is not only fully divine but also fully human, was experiencing the full weight of human emotions. Mark gave us some important details. Jesus was ‘troubled and distressed’ and then expressed what He felt, “My soul is sorrowful even to the death.”

St. Irenaeus once said, ‘God’s glory is a man truly alive. Here, Jesus teaches us how to be truly human and, thus, become God’s glory. He avoided two dangerous extremes in dealing with His emotions. The first extreme is neglecting or suppressing His emotions. Jesus did not act tough and pretend to be ‘the stoic man’. He did not say, ‘I am okay’, ‘everything will be alright.’ Jesus named the emotions and was frank about it. The second extreme is not to be consumed by emotions. When the emotion is extremely strong, the emotions easily engulf us and, thus, control us. Though recognizing His feelings, Jesus did not yield to them. He stood His ground.

Jesus further gave us two ways to face these overwhelming emotions. The first one is to seek good companions. Jesus invited the three closest disciples in the garden, Peter, James and John. He expressed His grave sorrow and asked them to accompany Him in this crucial moment. Unfortunately, they fell asleep, but the three were there for Jesus in His agony. The second way is to pray. Jesus bent His knees and talked to His Father. Here, we have extremely rare content of Jesus’ prayer.

Jesus said, “Abba, Father, all things are possible to you. Take this cup away from me, but not what I will but what you will (Mk 14:36).” This prayer is short but extraordinarily rich. One can say that this prayer is a short form of Our Father. Here, Jesus expressed and offered His wish that He would have been spared from suffering and violent death, but He also recognized that it is His Father’s will that Jesus would offer Himself up as the sacrifice of love for the world. In this prayer, Jesus reaffirmed His mission and did not allow the emotions to blur His vision.

Gethsemane is the precious moment that Jesus teaches us to fulfil God’s will despite difficulties and, at the same time, to become truly human. It is not God’s will to destroy our humanity but rather to perfect it, and Jesus is our model of a perfect man.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Manusia Sejati

Minggu Palem Sengsara Tuhan [B]

24 Maret 2024

Markus 14:1 – 15:47

Momen yang menentukan bagi Yesus sebelum salib-Nya adalah sakratul maut di taman Getsemani. Tahun ini, kita bersyukur dapat mendengar versi Injil Markus karena Markus tidak ragu mengungkapkan kondisi batin Yesus pada saat yang genting ini. Bagi sebagian orang, hal ini memalukan karena Yesus mengungkapkan kesedihan-Nya yang mendalam, dan dengan demikian, Yesus terlihat terlalu manusiawi dan lemah. Namun, kita percaya bahwa ini adalah Firman Tuhan, dan dengan demikian, kita dapat belajar sesuatu yang berharga dari saat-saat genting Yesus ini.

Yesus menyadari apa yang akan terjadi pada-Nya. Dia akan segera menghadapi pengkhianatan dari murid-Nya, penangkapan, pengadilan yang tidak adil, penghujatan dari para pembenci-Nya, penyiksaan yang mengerikan, dan kematian yang sangat menyakitkan. Yesus yang tidak hanya sepenuhnya ilahi tetapi juga sepenuhnya manusiawi, mengalami beban penuh emosi manusiawi. Markus memberikan kita beberapa detail penting. Yesus ‘sangat takut dan gentar’ dan kemudian mengungkapkan apa yang Yesus rasakan, “Jiwaku sangat sedih seperti mau mati.”

St. Irenaeus pernah berkata, “Kemuliaan Allah adalah manusia yang sungguh-sungguh hidup.” Di sini, Yesus mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi manusia yang sesungguhnya dan dengan demikian menjadi kemuliaan Allah. Yesus mengajarkan kita untuk menghindari dua hal ekstrem yang berbahaya dalam menangani emosi. Ekstrim yang pertama adalah mengabaikan atau menekan emosi. Yesus tidak berpura-pura menjadi ‘orang yang kuat.’ Dia tidak berkata, ‘Saya tidak apa-apa’, atau ‘semuanya akan baik-baik saja’. Yesus mengartikulasikan emosi-emosi yang Dia rasakan, dan dengan demikian, Dia merangkul emosi dan kemanusian-Nya. Ekstrim kedua adalah tidak dikuasai oleh emosi. Ketika emosi itu sangat kuat, emosi dengan mudah menelan kita dan, dengan demikian, mengendalikan kita. Meskipun menyadari perasaan-Nya, Yesus tidak memberikan kendali pada perasaan itu. Dia tetap berdiri teguh.

Yesus kemudian memberikan dua cara agar tidak termakan oleh emosi yang meluap ini. Yang pertama adalah memiliki sahabat-sahabat yang baik. Yesus mengundang tiga murid terdekat-Nya ke taman, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes. Dia mengungkapkan kesedihan-Nya yang mendalam dan meminta mereka untuk menemani-Nya di saat-saat genting ini. Sayangnya, mereka tertidur, tetapi ketiganya ada di sana untuk menemani Yesus dalam masa sulit ini. Cara kedua adalah dengan doa. Dalam kesedihan, Yesus berbicara kepada Bapa-Nya. Di sini, kita mendengarkan isi doa Yesus yang sangat langka.

Yesus berkata, “Ya, Bapa, bagi-Mu segala sesuatu mungkin. Ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki (Mrk. 14:36).” Doa ini singkat tetapi luar biasa dalam. Bisa dikatakan bahwa doa ini adalah bentuk singkat dari doa ‘Bapa Kami’. Di sini, Yesus mengungkapkan dan mempersembahkan hasrat-Nya agar Dia terhindar dari penderitaan dan kematian yang kejam. Namun, Ia juga menyadari bahwa misi-Nya adalah untuk melaksanakan kehendak Bapa. Inilah kehendak Allah agar Yesus akan mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban kasih bagi dunia. Dalam doa ini, Yesus menegaskan kembali misi-Nya dan tidak membiarkan emosi mengaburkan visi-Nya.

Getsemani adalah momen berharga dimana Yesus mengajarkan kita untuk memenuhi kehendak Tuhan meskipun menghadapi kesulitan dan, pada saat yang sama, menjadi manusia yang sesungguhnya. Bukanlah kehendak Allah untuk menghancurkan kemanusiaan kita melainkan untuk menyempurnakannya, dan Yesus adalah teladan kita sebagai manusia yang sempurna.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Covenant

5th Sunday of Lent [B]

March 17, 2024

Jeremiah 31:31-34

 In the bible, the word covenant (in Hebrew בְּרִית (Berit), in Greek διαθήκη (diatheke)) is an agreement between individual, families, tribes or nations. It is commonly used to bind the overlord king and his vassals. The supreme lord was obligated to give protection in times of need, while the vassals must be loyal and pay tributes. At the individual level, a covenant forged a familial bond between the parties. They become brothers, and thus, they must protect and help one another. Or, when the covenant involves man and woman, they become husband and wife, a new family.

Though covenant is a complex reality and even still debated by scholars, one thing is sure: that covenant is an agreement about the ‘exchange of people’ rather than the ‘exchange of items.’ A radical change of their identities is expected for those who enter the covenant. 

The term covenant is a key to understanding the bible because God took the initiative to bind Himself to Israel through covenant. There are several moments where God formed a covenant with Israel, but the most famous one is the covenant at Mount Sinai through the mediation of Moses. The Lord said, “Now, therefore, if you will obey my voice and keep my covenant, you shall be my own possession among all peoples; for all the earth is mine, and you shall be to me a kingdom of priests and a holy nation (Exo 19:5-6).”

The covenant created Israel as a nation under God’s leadership. Thus, Israelites, as citizens of God’s nation, must obey and be faithful to one God alone, that is, the Lord, and follow His Laws. However, the covenant does not only form a king-people relationship but also a family. Often, Israelites are addressed as ‘sons of God’ (see Exo 4:22 and Deu 14:1). And what is even more intriguing is that a marriage relationship is also established through this covenant. Prophet Hosea famously describes the relationship between God and Israelites as husband and wife.

Prophet Jeremiah prophesized that there would be a new covenant (Jer 31:31, first reading). This is fulfilled in Jesus Christ. In the last supper, Jesus said, “This cup that is poured out for you is the new covenant in my blood (Luk 22:20).” One of the main purposes Jesus offered up himself at the cross is to forge and ratify this new covenant. Since the divine blood of Christ ratifies it, the covenant is everlasting and unbreakable.

Jesus offers us a covenant despite our unworthiness. Through faith and baptism, we enter the covenant, and our identity is radically transformed. The Lord is our God, and we become the people of the Kingdom of God. Yet, because of the same covenant, we are also His children, and we have a right to call God ‘our Father’. Moreover, a marriage is established. The Church is the spouse of Christ, and Christ loves His spouse so much to the point of giving His life for her. As the people of the new covenant, constantly renewed in the Eucharist, do we need to behave ourselves as obedient and loving children to our Father? Do we act as a faithful and loving spouse to Christ, our bridegroom?

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP